Tag Archive | Mohammad Fauzil Adhim; parenting

 5 KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QURAN


5 KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QURAN

DR. Ahzami Sami’un Jazuli MA

(1) الفوز الحقيقي هو دخول الجنة و زحزح عن النار

Kemenangan Hakiki itu adalah masuk surga dan dijauhkan dari neraka.

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَڪُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ‌ۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imron: 185)

(2) الذنوب هو الهلاك

Dosa itu adalah sumber kehancuran.

أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّن قَرۡنٍ۬ مَّكَّنَّـٰهُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ مَا لَمۡ نُمَكِّن لَّكُمۡ وَأَرۡسَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡہِم مِّدۡرَارً۬ا وَجَعَلۡنَا ٱلۡأَنۡهَـٰرَ تَجۡرِى مِن تَحۡتِہِمۡ فَأَهۡلَكۡنَـٰهُم بِذُنُوبِہِمۡ وَأَنشَأۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِمۡ قَرۡنًا ءَاخَرِينَ

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal [generasi itu], telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS.Al-An’am: 6)

Siapapun, keluarga manapun, Jamaah atau partai apapun, apabila prosentase dosanya lebih dominan, maka tunggulah kehancuran.

Ya Ikhwah, ingatlah ungkapan Sayyidina Umar :

معصيتنا أخوف إلينا من أعدائنا

“Kemaksiatan kita lebih kita takuti daripada musuh-musuh kita.”

(3) من أهداف الحياة الزوجية إقامة حدود الله

Di antara Tujuan hidup berkeluarga adalah menegakkan hukum-hukum Allah.

فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُۥ مِنۢ بَعۡدُ حَتَّىٰ تَنكِحَ زَوۡجًا غَيۡرَهُۥۗ فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَآ أَن يَتَرَاجَعَآ إِن ظَنَّآ أَن يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِۗ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ٢٣٠

“Kemudian jika si suami menalaknya [sesudah talak yang kedua], maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya [bekas suami pertama dan isteri] untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang [mau] mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 230)

Contoh, istri boleh nambah yang penting tegak syari’at Allah.. Jangan sampai asal nambah tapi menambah masalah.

(4) الإيمان و الأخوة هما أغلى عندنا

Iman dan Ukhuwah adalah yang paling mahal bagi kita.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

(5) الاعتصام بحبل الله هو الأصل و التنازع هو الطارئ

Bersatu berpegang teguh dengan Tali Allah adalah Asal, adapun berbantah-bantahan atau berselisih adalah sesuatu yang emergency harus segera diakhiri.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ۬ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡہَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu [masa Jahiliyah] bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Haqqa Tuqaatih


Haqqa Tuqaatih
Oleh: Ust Solikhin Abu Izzuddin | Instagram: @solikhinzerotohero
Inspirasi dari Taujih Shubuh Dr.Mu’inudinillah Basri, M.A.
Bagaimana agar bisa istiqomah?

1. Iman. Ini sumbu yang harus selalu nyala di dalam dada, di dalam jiwa.

2. Taqwa. Yakni sebenar-benar taqwa. Seperti disediakan gunung emas, masing-masing silakan ambil emas, panggul dan bawa. Tentu semua ingin bawa sebanyak banyaknya. Namun karena tak mampu bawa semuanya, akhirnya dikurangi sedikit, dikurangi lagi, sampai batas yang mampu kita bawa. Itulah cara kita menegakkan perintah Allah, sampai kemampuan maksimal yang kita bisa.

3. Islamiyatul hayah, islamisasi hidup kita masing2 dengan tunduk patuh pada ketentuan Allah dan berikhtiar menciptakan kondisi yang kondusif untuk menjaga nilai-nilai iman.

Namun, tidak hanya itu saja, Allah memerintahkan kita, umat yang sudah dibangun melalui takwinul ummah (pembentukan umat) itu agar

1. BERPEGANG TEGUH KEPADA TALI AGAMA ALLAH dengan BERJAMAAH (3:103)

Mungkin seseorang secara pribadi kuat, unggul, dahsyat, hebat, namun kalau sendirian dia akan lemah dan rapuh. Ringkih. Maka dalam berjamaah kita belajar dari keikhlasan Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar bin Khaththab.

Ketika terjadi pemurtadan besar-besaran usai wafatnya Rasulullah saw, Abu Bakar hendak memerangi mereka yang murtad dan tidak bayar zakat, Umar tidak sepakat karena mereka masih bersyahadat.

Namun ketika Umar tersadar maka dia mengikuti jalan besar dan benar yang ditentukan Abu Bakar, “Alhamdulillah, Allah lapangkan dada Abu Bakar untuk menentukan pilihan yang benar.”

Umar yang melihat celah amal dan ide besar rela menyerahkan ide besarnya berupa pengumpulan Al Quran usai syahidnya 70 hufadz dalam perang Yamamah. Ide tersebut diikhlaskan, diberikan untuk kebesaran Islam, bukan kebesaran nama Umar. Inilah fatsoen berjamaah yang agung.

Sahabat, seringkih apapun kita, ketika bersama jamaah yang berpegang teguh di jalan Allah, maka kita akan dikuatkan oleh Allah. Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah bahkan naudzubillah, jangan sampai berambisi dengan nafsu, kedengkian, hasad, dan syahwatnya untuk membubarkan jamaah.

Jika kita melihat titik lemah dari jamaah dan qiyadah, justeru kita sumbangkan potensi yang kita punya untuk membesarkan dakwah, bukan membesarkan diri.

Ketika Abu Bakar hendak meminta Umar menjadi pengganti Rasulullah, Abu Bakar berupa, “Umar, engkau lebih kuat daripada diriku…”

Umar menolak, “Engkau, wahai Abu Bakar, lebih mulia daripada aku. Engkaulah yang ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk mengimami shalat. Biarlah kekuatanku kuberikan bergabung dengan kemuliaanmu…”

Masya Allah. Itulah keikhlasan sejati yang akan mengokohkan soliditas bangunan umat.

2. JANGAN BERPECAH BELAH. Auz dan Khazraj hampir saja terjerumus salah kehidupan jahiliyah yang hobi perang dan gemar berpecah belah. Isu utama Umat Islam hari ini bagaimana merangkai potensi di dalam dan membangun sinergi keluar. Jangan sampai ada ketidakpuasan kepada pimpinan atau keputusan lalu melakukan perusakan ke dalam dan demarketisasi keluar. Kalau kita mau bersabar tentu Allah akan anugerahkan kemenangan yang besar.

3. INGATLAH NIKMAT ALLAH KETIKA DI TEPI NERAKA LALU ALLAH SELAMATKAN KAMU.

Abdullah bin Hudafah as Sahmi diutus oleh Nabi saw untuk sebuah ekspedisi. Nabi saw menegaskan agar mentaati Abdullah bin Hudafah yang memimpin kalian.

Disiplin Tarbiah Dalam Gerak Kerja Dakwah Umum


Disiplin Tarbiah Dalam Gerak Kerja Dakwah Umum

Tulisan: Ustaz Mohamed Hamed Eliwa

Sesungguhnya termasuk dalam tujuan dakwah kepada Allah itu ialah menyebarkan kebaikan di kalangan manusia, amar makruf dan nahi mungkar, menggalakkan manusia melakukan kebaikan serta memberi amaran bagi manusia dari perkara keji dan mungkar. Di jalan dakwah ini, kita menghadapi

dua jenis amal dakwah:

1) Pembinaan dan takwin.

2) Propaganda dan pengenalan.

Usaha yang dicurahkan untuk kedua-dua garis (Takwin – Takrif) selamanya tidak akan terpisah, bahkan ia saling menyempurna antara satu sama lain.

Memandu Masyarakat

Imam Al-Banna membicarakan konsep ini ketika bercakap tentang maratibul amal (susunan amal) yang dituntut daripada seorang al-akh yang benar. Tajuk ini disebut selepas  tajuk ‘Dua Susunan Amal’, iaitu islah al-nafs dan takwin al-bait (baiki diri dan membentuk keluarga).

Kata Imam: “Dan memandu masyarakat dengan menyebarkan kebaikan padanya, memerangi perkara keji dan mungkar, menggalakkan melakukan kebaikan, amar makruf dan nahi mungkar, bersegera ke arah kebaikan, menarik pandangan umum masyarakat kepada fikrah Islamiyah serta sentiasa berusaha mewarnai fenomena-fenomena umum dengan fikrah tersebut….”. (Risalah Ta’alim)

Tidak syak lagi bahawa dakwah pada marhalah terbuka dalam  masyarakat mestilah bermula dari sifatnya sebagai dakwah dan tarbiyah yang praktikal. Individu-individunya mestilah bergerak menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat dengan kemuliaan akhlak – hasil tarbiyah dan nilai-nilai yang ditanam oleh dakwahnya – berdasarkan manhaj Islam. Bekalan seseorang tidak terpisah dari gerak kerjanya. Tarbiyah tidak terpisah dari dakwah dan khidmatnya kepada masyarakat.

Di sini kita tidak mahu berbincang tentang faedah bekerja dalam masyarakat umum serta faktor-faktor  pendorong ke arah itu, tetapi sebagaimana kerja bersama masyarakat punyai banyak faedah, ia juga

punyai disiplin yang mesti dipelihara pada batas-batasnya.

 

Disiplin Amal Dakwah Umum dan Propaganda

Ketika kita sibuk dengan aktiviti-aktiviti umum di pelbagai medan, kita mesti tunduk kepada disiplin tarbiah yang telah ditetapkan. Disiplin berkaitan bagaimana kita mempromosi program dan aktiviti kita supaya ia selari dan secucuk dengan projek pengaktifan dakwah, bagaimana cara sesuai untuk kita wara-warakan itu semua kepada masyarakat.  Semua disiplin berkaitan faktor-faktor yang mendorong usaha ini dan juga objektif pengiklanan kepada masyarakat dan juga hubungkait antara aktiviti kita dengan usaha selain daripada kita yang juga berada di medan amal umum:

  1. Kepentingan menghadirkan niat yang ikhlas semata-mata kerana Allah Ta’ala. Amal yang dilakukan diniatkan kerana Allah SWT demi mengharapkan keampunan dan keredhaanNya dan kita tidak akan sekali-kali menuntut balasan selain itu.
  2. Bahawa hakikat sebenar harakah umum dakwah di kalangan manusia adalah ibadat. Kita beribadat kepada Allah dalam semua pergerakan dan diam kita pada semua medan gerakan (ekonomi, social, politik, dakwah, pendidikan, kesihatan… dsb). Dari sini kita mestilah merasai makna beribadat dan ubudiyyah dalam kerja-kerja dakwa umum bersama masyarakat.
  3. Mesti berhati-hati supaya kerja yang dilakukan – zahir yang diperlihatkan kepada orang ramai – tidak dihinggapi penyakit riya’ atau sum’ah, lalu kerja menjadi punah. Maka rosak dan sia-sialah usaha tanpa pahala.
  4. Orang yang terdedah dalam kerja kemasyarakatan daripada individu kita mestilah terdiri dari kalangan mereka yang punyai sum’ah (reputasi) yang baik, profil dan perjalanan hidup yang cemerlang. Mereka punyai keistimewaan dengan taqwa, akhlak mantap, mampu mempengaruhi dan tidak terpengaruh dengan penyakit dan tingkahlaku jelek. Mereka adalah cerminan dakwah di hadapan khalayak manusia.
  5. Memelihara kesempurnaan adab dan kemuliaan akhlak ketika bersama masyarakat. Dalam bab ini, Imam Al-Banna mengatakan: “Hendaklah kamu berusaha agar sentiasa benar dan jangan melampaui batas. Berusahalah agar propaganda yang kamu laksanakan berada pada batas-batas adab dan akhlak yang mulia. Berusahalah dengan bersungguh-sungguh mengumpulkan hati dan menjinakkan ruh serta ingatlah setiap kali dakwah berjaya, ia adalah dengan sebab kelebihan Allah SWT jua. Firman Allah SWT:  “….bahkan (kalaulah sah dakwaan kamu itu sekalipun maka) Allah jualah yang berhak membangkit-bangkitkan budiNya kepada kamu, kerana Dia lah yang memimpin kamu kepada iman (yang kamu dakwakan itu), kalau betul kamu orang-orang yang benar (pengakuan imannya)”.
  6. Jangan sampai kerja dakwah, kerja kemasyarakatan dan propaganda tersebut membawa kepada perbalahan atau persaingan tidak sihat sehingga menyebabkan perjalanan dakwah tergendala atau melambatkannya dari mencapai matlamat.
  7. Perhatian khusus mestilah diberikan terhadap mereka yang berada pada posisi amal am dari segi tarbiah dan iman. Tabiat kerja  sedemikian amat berhajat kepada keprihatian tarbawi secara konsisten. Ini disebabkan tabiat kerja tersebut menuntut demikian; seperti terlibat dengan penganjuran majlis-majlis besar, pentas, mimbar, sentiasa diburu oleh cahaya flash kamera atau terserlah nama dan kerjanya di dada-dada akhbar dan kaca televisyen. Faktor pendorong kepada keperluan tersebut bertujuan bagi menjaga mereka dari terpengaruh dengan fitnah dan kebimbangan dari berlakunya sesuatu perubahan kepada jiwanya bilamana hilangnya perhatian di atas. Lantas hati nanti tergantung dengan dunia bersifat sementara, hawa nafsu yang terdorong ke jalan yang terseleweng dan akan menjauh dari objektif dan matlamat asal dakwah. Maka akan binasalah mereka –na’uzubillah- (Semoga Allah SWT memelihara ikhwah dan akhawat sekalian). Daripada Qatadah, daripada Anas, Nabi SAW bersabda: “Tiga perkara yang membinasakan: kedekut yang ditaati, nafsu yang diikuti dan rasa ujub dengan diri sendiri”. (Hadis Baihaqi dan dihasankan oleh Al-Albani)
  8. Kerja untuk masyarakat termasuk aktiviti propaganda dakwah bagi mencapai objektif itu seharusnya dibuat berlandaskan prinsip. Ia bukan untuk tindakbalas (reaksi balas) terhadap orang lain atau untuk memperlekehkan usaha lain (pertubuhan atau individu), atau bagi menzahirkan keinginan kita untuk tertonjol bahawa kita lebih baik dan lebih kuat daripada orang lain. Objektif kita mestilah jelas, iaitu sentiasa mengutamakan dakwah, menyebarluaskan kebaikan kepada manusia, memberi khidmat dan memperbaiki yang rosak. Sebelum itu semua mestilah didorong oleh matlamat agong kita iaitu mencapai darjat ubudiyyah sebenar semata-mata kerana Allah SWT
  9. Hendaklah kita semua konsisten dengan hikmah kebijaksanaan dalam dakwah dan propaganda kita. Hendaklah kita memperindahkan jalan dan mu’amalah kita kerana kita disuruh oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:

(ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ. [النحل:125].)

“Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik; sesungguhnya Tuhanmu Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalanNya, dan Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk”.

(وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْناً[البقرة:83

“dan katakanlah kepada sesama manusia perkataan-perkataan yang baik”.

Termasuk makna dari hikmah kebijaksanaan itu ialah mempamerkan dakwah kita ini dengan ‘approach’ terbaik dan memperelokkan seni komunikasi dengan mereka. Termasuk  juga menunjuk qudwah sesuai dengan apa yang kita seru kepadanya. Tidak berlaku apa yang kita cakap tak serupa bikin. Termasuk dari hikmah juga ialah kita mendahului dalam mempraktikkan apa yang kita seru kepadanya kerana:

(إذا كنت إمامي فكن أمامى)

“Bila kamu menjadi imam saya, maka hendaklah kamu berada di hadapan saya”.

Alangkah baiknya jika kita boleh menjiwai bahawa kita ini adalah pembawa kebaikan dan penghubung bagi ummah dan manusia semua mendapat hidayah Allah SWT. Tidak patut ada dalam diri kita rasa tinggi diri, bersikap kasar dan merasa lebih, malah perlu bersikap pro aktif dan sentiasa prihatin. Allah SWT berfirman:

(لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ [التوبة:12

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul dari golongan kamu sendiri (iaitu Nabi Muhammad s.a.w), yang menjadi sangat berat kepadanya sebarang kesusahan yang ditanggung oleh kamu, yang sangat tamak (inginkan) kebaikan bagi kamu, (dan) ia pula menumpahkan perasaan belas serta kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman”.

Tunjukkan sikap lemah lembut dan sopan santun serta berlapang dada. Allah SWT merahmati orang yang mengatakan: “Orang yang melapangkan dirinya (baik sangka) untuk orang lain bermakna dia memiliki dada yang lapang”.

Iaitu orang yang dengan rela hati bersusah payah menyeru manusia kepada dakwah dan ringan tulang berkhidmat untuk kesejahteraan masyarakat, sudah barang tentu dia adalah seorang yang punyai sikap berlapang dada yang  tiada tolok banding dan dia adalah seorang yang paling bersedia untuk menerima tanggungjawab.

10. Hendaklah kita sentiasa merenung diri sendiri setelah selesai melaksanakan program dan kerja kemasyarakatan berupa propaganda dan lainnya untuk bermuhasabah: “Apa pulangan yang diperolehi oleh dakwah kita dari kerja-kerja tersebut? Apa pula keuntungan yang kembali kepada kita sebagai individu yang bekerja? Adakah kita menjadi semakin dekat dengan Tuhan kita dari kerja ini? Adakah benar kita telah menyumbang faedah berguna untuk masyarakat dan umat kita? Apakah kesan positif dalam konteks takwin dan tarbiyah kita? Apakah usaha-usaha tersebut telah menambahkan sesuatu kemahiran atau pengalaman untuk dibawa ke masa depan? Dan lain-lain soalan yang boleh ditanya guna untuk menonjolkan kepentingan perbahasan seumpama ini dalam sudut-sudut – faedah dakwah dan tarbiyah daripada kerja umum.


اللهم ارزقنا الاخلاص في القول والعمل ، والسر والعلن ، وكلمة الحق في الرضا والغضب ، واجعلنا ممن عبادك الصالحين ، ومن جند دعوتك العاملين المخلصين .

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين .

Mari kita belajar dari SEMUT….


Mari kita belajar dari SEMUT….

Hadith di atas diriwayatkan oleh Al-Baihaqi

Renungan hari ini bersama pengajaran besar daripada ‘pengurusan’ yang ditunjukkan oleh semut. Ia nampak pelik dan ganjil bagaimana manusia yang Allah swt lebihkan mereka dalam pelbagai sudut tiba-tiba perlu juga belajar daripada semut yang daif.

Serangga yang dipanggil semut dianggap oleh manusia sebagai mengganggu lagi menyakitkan… kita kena belajar daripadanya ilmu yang tidak diperolehi daripada manusia!

Apakah tidak cukup lagi burung Belatuk untuk mengajar kita? Burung Belatuk sekurang-kurangnya burung yang memiliki keindahan tersendiri, saiz badan yang agak besar, bersuara merdu dan cantik dipandang…. Tetapi semut?

Sesungguhnya ia adalah semut, namun kebijaksanaannya mengurus dan bekerja mengandungi banyak hikmah, ia adalah semut di zaman Nabi Sulaiman alaihissalam yang dikehendaki Allah swt untuk mengajar kita.. Ya ! kebijaksanaannya terpancar daripada hikmat Nabi Sulaiman sendiri yang mengetahui bahasa-bahasa haiwan termasuk burung, serangga dan segala makhluk di zamannya.

Masakan tidak ya akhi! Allah swt telah menamakan satu surah yang sempurna dari surah-surah di dalam al-Quran yang mengandungi 93 ayat dengan namanya –Surah An-Naml-, cerita semut hanya terdapat dalam beberapa ayat dari surah ini.

Firman Allah Ta’ala di dalam Surah An-Naml ayat 17-19:

“Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tenteranya terdiri dari jin, manusia dan burung lalu mereka berbaris dengan tertib. Hingga ketika mereka sampai ke lembah semut, berkatalah seekor semut: “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak dipijak oleh Sulaiman dan bala tenteranya sedangkan mereka tidak menyedari.” Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa kerana (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku! Anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar mengerjakan kebajikan yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh.”

Ayuh kita belajar dari semut walaupun dari beberapa ayat di dalam al-Quran. Saya berpendapat ia amat mustahak untuk diperhatikan.

Pertama: Tekun dalam pekerjaan

Tidak syak lagi bahawa kualiti kerja dan tekun dalam pekerjaan amat penting dalam pengurusan kini. Sehingga kita dapati semua perkara yang berkait dengan pengurusan mesti bergandingan dengannya ketekunan. Dan yang dikatakan kesempurnaan kualiti itu ialah seseorang itu melaksanakan kerja dalam sebuah tanzim (organisasi) semaksima mungkin tanpa sedikitpun berlaku kesilapan, berdasarkan etika kerja yang telah disepakati –sekalipun tidak tertulis- mengikat antara semua individu yang ada di dalam tanzim dalam lingkungan yang saling melengkapi satu sama lain. Kesilapan seorang atau sebahagian akan memberi kesan negatif kepada yang lain. Benarlah apa yang disabdakan Nabi saw tentang kaitan hubungan tersebut di antara para mukminin dengan ‘satu jasad’ dalam toleransi dan kasih sayang dan ‘seperti binaan yang menyokong antara satu sama lain’ di dalam kekuatan dan keutuhan.

Kesimpulan itqan secara umum (tekun dlm kerja) dalam mana-mana organisasi dari semua individu di mana-mana tempat sekalipun; ialah tunduk dan patuh kepada perintah Allah Ta’ala.

Iaitu apa yang kita pelajari dari kisah semut; ia menunaikan tugas yang menjadi kewajipan dengan cemerlang –darjat itqan- Ketekunan itu membawa kepada terlaksananya objektif. Semut berkenaan telah memberi amaran kepada kaum kerabatnya pada waktu yang sesuai dan akhirnya menyelamatkan mereka semua daripada bencana yang bakal menimpa.

Kedua: Sedar, prihatin dan iltizam (komitmen)

Ketiga-tiga perkara ini penting bagi menjayakan satu-satu tugas sebagaimana yang ditunjukkan oleh semut tersebut. Tanpa sifat di atas tidak mungkin sesuatu tugas dapat disempurnakan. Bahkan kelekaan sedetik boleh mengakibatkan kemusnahan menyeluruh kepada anggota tanzim. Justeru menjadi kemestian bagi setiap anggota tanzim tekun dan ihsan melaksanakan tugasan yang diamanahkan sehabis kemampuan dengan penuh sedar dan prihatin. Dia sebenarnya berada pada satu sudut penting dari semua sudut tanzim, jangan sampai bahaya datang melalui sudut di bawah jagaannya.

Kecuaian daripada seorang atau beberapa individu dalam tanzim tidak hanya akan memudharatkan mereka yang berkenaan sahaja, malah ia akan mendatangkan kemudharatan dan kerugian kepada semua yang berada dalam tanzim. Lihatlah apa yang berlaku dalam peperangan Uhud apabila beberapa individu para sahabat mengingkari arahan Rasulullah saw; ia merupakan bukti betapa pentingnya keprihatinan dan komitmen yang padu perlu wujud dalam bertanzim.

Ketiga: Semangat dan kehendak yang kuat

Kita perlu faham bahawa setiap perkara besar yang ingin dilaksanakan perlu kepada semangat dan kehendak yang kuat bagi menjayakannya. Musuh utama dalam diri manusia ialah lemahnya semangat dan kehendak.

Berkata penyair:

Keazaman datang mengikut kadar kuat azam seseorang
Kemuliaan datang mengikut kadar mulianya seseorang
Perkara besar akan jadi kecil apabila orang itu jadikan ia kecil
Perkara kecil akan jadi besar apabila orang itu jadikan ia besar

Dari sini kita tahu bahawa apa yang dilakukan oleh semut berkenaan sebenarnya didorong oleh keikhlasan, komitmen dan semangat yang tinggi. Kalau tidak pasti ia akan mendiamkan diri, malas dan menyerah sahaja kepada taqdir…

Keempat: Keazaman yang kental/utuh

Apabila semangat mendorong melakukan persediaan, meletakkan perancangan dan mengambil sebab-sebab yang akan membawa kejayaan, maka keazaman bermakna menetapkan hati untuk meneruskan apa yang dirancang tanpa ragu-ragu saat perlaksanaan tanpa menghiraukan apapun halangan.

Berkata penyair Al-Mutanabbi:

Bila engkau ada pendapat maka milikilah keazaman
Kerana rosaknya pendapat bila adanya keraguan

Jelas dari pendirian yang diambil oleh sang semut bahawa ia bukan hanya memiliki semangat yang tinggi untuk memenuhi faktor kejayaan, malah ia giat melaksanakan usaha mencapai matlamat tanpa menghiraukan apapun halangan sekalipun terpaksa menggadai nyawanya sendiri. Keazaman kental seumpama ini jarang terdapat pada manusia banyak maupun mereka yang terlibat langsung dengan pengurusan. Bayangkan jika sang semut teragak-agak dalam tindakannya atau lambat membuat keputusan, maka ia tidak akan dapat laksanakan tugasnya, seterusnya menyelamatkan kaum kerabatnya daripada bahaya yang pasti. Saya akan terangkan lebih terperinci dalam konteks pengorbanan nanti.

Kelima: Pengorbanan dan tiada kepentingan diri

Tiada kerja tanpa ketekunan dan jihad, tiada jihad tanpa pengorbanan. Setiap matlamat atau hadaf (objektif) tidak syak lagi perlu kepada jihad dan pengorbanan pada jalannya. Pengorbanan ialah sama ada dengan masa atau harta benda atau yang paling tinggi ialah dengan nyawa.

Pengorbanan tersebut perlu kepada intima’ (penggabungan) yang tinggi, bahkan kaitan antara semua objektif individu dan tanzim perlu sejajar sampai ke tahap ‘peleburan’…paling tinggi yang menjadi cita-cita setiap tanzim terhadap anggotanya.

Sang semut sebagai salah seekor dari kaumnya yang ditaklifkan untuk melaksanakan tugas tertentu –meninjau dan mengeluarkan amaran- telah menunjukkan pengorbanan yang dahsyat demi kaumnya. Ia telah bergegas mengerahkan tenaganya berdepan dengan Nabi Sulaiman dan bala tenteranya. Ia bernasib baik kerana kata-katanya itu didengari oleh Nabi Sulaiman. Sang semut tadi boleh –kalau ia mahu- selamatkan diri sendiri tanpa bersusah payah berusaha memberi amaran kepada yang lain, namun ia tidak hanya mementingkan dirinya sahaja…. Ia terus segera mendapatkan kaumnya menongkah arus laluan bala tentera, bersabung nyawa kerana boleh jadi ia akan terkorban sebelum sampai ke tempat kaumnya berkumpul. Alangkah hebatnya pengorbanan Sang semut ! Nyawanya menjadi taruhan dan tiada langsung kepentingan diri sendiri…. Dari sini kita dapat belajar berpandukan kebijaksanaan yang Allah kurniakan kepada Nabi Sulaiman. Bukan sekadar baginda memahami bahasa haiwan, bahkan kebijaksanaan dari tindak tanduk haiwan pun dapat dimengerti oleh baginda alaihissalam.

Keenam: Peraturan dan pembahagian kerja

Dari kisah Sang semut ini kita dapat memahami betapa berdisiplinnya ia. Bukan sekadar berdisiplin dan pandai mentadbir bahkan dapat merancang untuk masa depan. Kisah tersebut menggambarkan bahawa di sana ada peraturan dan pembahagian kerja atau tanggungjawab yang ditentukan terdahulu… seolah-olah Sang Semut berkenaan telah ditaklifkan untuk ‘berkawal’. Al-Quran menyebutkan ia sekadar Sang Semut biasa, membuat tinjauan untuk mengeluarkan amaran dan peringatan agar kecelakaan dapat dielakkan mengikut perkiraan masa yang mencukupi… Ia bukan ketua.. “Berkata Sang Semut”… Ia telah berjaya menjalankan tugasnya seperti semut-semut yang lain juga. Semua semut-semut yang ada pada hari itu menjalankan tugas masing-masing secara berimbang serta saling menyempurna antara satu sama lain dalam lingkungan disiplin menyeluruh yang amat indah sekali. Sang Semut secara kolektif dilihat mempunyai disiplin yang amat indah…

Ketujuh: Mengurus kecemasan

Ini pelajaran yang amat berguna. Bagaimana menguruskan kecemasan atau kecelakaan? Yang terpenting dalam asas mengurus kecelakaan ini ialah mengelakkan dari berlaku sejak awal lagi. Ia tidak mungkin dapat dilakukan melainkan melalui scenario andaian atau kebarangkalian berlaku kecelakaan; soalnya apa akan jadi bila berlaku sekian?? Dalam konteks kisah Sang Semut di atas, kecelakaan yang bakal berlaku ialah kedatangan bala tentera dalam skala besar menuju ke arah ‘negara semut’ tanpa disengajakan…lalu akan membinasakan keseluruhan ‘negara semut’ tadi. Justeru meminimakan kadar kecelakaan adalah dituntut; namun ia tetap merupakan kecelakaan juga. Oleh itu apa yang boleh dilakukan ialah berusaha sehabis kemampuan untuk mengurangkan kemalangan iaitu dengan mewujudkan stesyen-stesyen amaran awal dan siaran amaran kecemasan sebelum berlaku dalam tempoh waktu yang sesuai untuk membuat persediaan….

Dalam situasi yang berlaku kepada Sang Semut di atas, ia telah memberi amaran awal berdasarkan andaian akan berlakunya kecelakaan secara pasti… hingga nyawanya menjadi taruhan –seperti yang dikisah sebelum ini- Di sana ada andaian bahawa Nabi Sulaiman dan bala tenteranya kemungkinan akan merempuh ‘negara semut’ dan ada andaian lain bahawa mereka akan melencong ke laluan lain.. Semua itu kebarangkalian yang akan berlaku. Sang Semut tidak membuat andaian yang ketiga, contohnya ia kata: “Insya Allah semua baik-baik saja, jangan bimbang kita semua akan selamat… ” Akan tetapi ia memutuskan untuk memberi amaran awal sehingga bahaya yang bakal menimpa dapat dielakkan dan kecelakaan dapat diringankan sedapat mungkin.

Kelapan: Bersegera (tidak bertangguh)

Semangat untuk segera bertindak di sini jelas dilihat pada usaha menunaikan tugas tanpa berlengah. Sang Semut tidak menunggu-nunggu atau berserah bulat-bulat tanpa apa-apa usaha atau menunggu yang lain melakukan tugas tersebut. Tiada dalam fikirannya ‘kenapa semestinya saya yang lakukan’…’yang lain buat apa?’ Tetapi ia bangun menjalankan tugas tanpa disuruh sebagaimana kata-kata Thorfah ibnul Abd dalam mu’allaqahnya:

Apabila kaum itu berkata: Siapa pemuda itu? Aku menjawab ..saya yang bertanggungjawab dan saya tidak gentar dan tidak akan berundur…

Kesembilan: Perlaksanaan

Bersegera menjalankan tugas merupakan kemuncak kepada fikrah untuk membuat persediaan menunaikan tugas, maka perlaksanaan ialah perkara yang akan membawa kepada daerah penyempurnaan.Kedua-duanya ‘segera dan laksana’ adalah spirit pengurusan yang telah ditunjukkan oleh Sang Semut dalam kisah di atas….

Kesepuluh: Merasai tanggungjawab

Keseluruhan kisah yang disebutkan di atas tidak akan berlaku jika tidak ada perasaan tanggungjawab dalam jiwa Sang Semut tersebut. Boleh jadi ia hanyalah duduk pada tahap paling bawah dalam pyramid tanzim (hairaki tanzim), tetapi ia amat sensitive terhadap tanggungjawab seolah-olah ia orang nombor satu bertanggungjawab terhadap kaum kerabatnya. Perasaan tanggungjawab seperti inilah yang amat diperlukan oleh mana-mana organisasi atau tanzim. Dalam kisah ini terdapat sentuhan-sentuhan yang amat berguna.. Sang Semut telah mengajar kita dengan pengajaran yang maha hebat pada pandapat saya. Saya akan berhenti di sini kerana setakat ini kemampuan yang Allah swt anugerahkan kepada saya. Moga-moga di sana terdapat banyak lagi pengajaran yang boleh dikutip, mahukah kita mengambil iktibar? Apakah tidak sayugia kita bekerja seperti Sang Semut?! Tidakkah anda tahu sekarang….mengapa terdapat satu surah di dalam al-Quran dinamakan dengan Surah An-Naml?

Kekuatan Tempatnya di Hati


Kekuatan Tempatnya di Hati

Kekuatan adalah kerja hati dan tiada sesuatupun yang dapat menguasai hati seorang manusia setelah Allah yang menguasai pemiliknya. Sebagaimana burung-burung yang terbang tinggi di angkasaraya dengan kepakan dua sayapnya, demikian pula manusia yang terbang menuju ketinggian dengan tekad dan cita-citanya bebas dari belenggu yang mengikat tubuhnya.

Ibnu Qutaibah pernah berkata: “Seorang yang merdeka takkan rela kecuali berada di ketinggian bagai bola api yang hendak dipadamkan oleh pemiliknya, namun ia enggan dan terus menjulang ke angkasa.”

Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauzi berkata: “Ketahuilah bahawa seorang hamba menempuh perjalanannya menuju Allah dengan hati dan semangatnya, bukan dengan tubuhnya. Sesungguhnya hakikat taqwa itu ada di dalam hati, bukan pada anggota tubuh. Allah swt berfirman: ‘Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagongkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya yang demikian itu timbul dari kekuatan hati.’ (Al-Hajj:32) dan firman-Nya lagi: ‘Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keredhaan) Allah swt, tetapi ketaqwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya.’ (Al-Hajj:37)
Rasulullah saw bersabda: ‘Ketaqwaan itu ada di sini (sambil menunjuk dada baginda).'”

Maka orang yang cerdas melintasi jalan panjang disertai dengan semangat, kemahuan yang kuat, cita-cita yang tinggi, tujuan yang murni dan niat yang ikhlas. Namun ada ramai orang malas yang melintasi jalan itu dengan penuh kelelahan, amal yang sangat sedikit dan perjalanan yang teramat berat. Mereka tidak tahu bahawa dengan tekad yang membaja dan cinta yang mendalam, kesulitan itu dapat disingkirkan dan perjalanan menjadi mudah dilalui. Melangkah maju menuju Allah hanya dapat dilakukan bila disertai dengan kemahuan yang kuat, kejujuran dan kebebasan.

Seorang yang memiliki kebebasan dan kemahuan kuat dapat membawa orang lain bersamanya. Petunjuk yang sempurna hanya Rasulullah saw. Baginda saw sentiasa menepati haknya pada kedua sudut ini. Kesempurnaannya sebagai manusia dan kemahuannya yang kuat membuat telapak kakinya bengkak kerana Qiyamullail yang baginda lakukan setiap malam. Puasa yang baginda sentiasa lakukan membuat para sahabat menduga bahawa baginda tidak pernah berbuka. Baginda berjihad pada jalan Allah, berinteraksi dengan para sahabat dan tidak menjauhkan diri dari mereka. Baginda tidak pernah meninggalkan amalan sunnahnya serta wirid hariannya. (al-Jawabul Kaafi, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

Ikhwah akhawat yang dikasihi sekalian… Bersabar dan Bergembiralah,Sesungguhnya Allah SWT Sentiasa Bersama Kita…


Ikhwah akhawat yang dikasihi sekalian… Bersabar dan Bergembiralah,Sesungguhnya Allah SWT Sentiasa Bersama Kita…

Nukilan: Sheikh Mohamed Hamed Elawa

Terjemahan: UsTACZ

الحمد لله رب العالمين ، القائل فى كتابه الكريم (إِنَّهُ مَن يَتَّقِوَيِصْبِرْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِين) يوسف 90 ، والصلاةوالسلام على نبيه الأمين القائل ، فى حديث صهيب (عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِإِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ ،إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَه) رواه مسلم  .

Bersyukur kepada Allah Tuhan Semesta Alam yang telahberfirman:

“Sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak akan mensia-siakan pahala orang-orang yang berbuatkebaikan”.

Selawat dan salam ke atas Nabi-Nya SAW yang jujur lagi amanah. Baginda telah bersabda di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Suhaib yang bermaksud:

“Ajaib sungguhurusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya membawa kebaikanbaginya. Dan yang demikian itu tidak dikurniakan kecuali bagi orang mukminsahaja di mana jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, maka itu baikbaginya. Jika dia diuji dengan kesusahan, dia bersabar, maka itu juga baikbaginya”.

Risalah ini aku titipkan daripada jantung hatiku kepadakalian semua, lantaran situasi yang telah kita lalui bersama itu. Saya secaraperibadi merasai kepahitan dan keperitannya, selepas melihat sendiri pengorbanan yang dilakukan olehikhwah dan akhawat ke arah pengislahan menyeluruh tanah air tercinta ini. Kita telah berusaha mendokongkebenaran bersama-sama semua warganegara yang prihatin.

Sekalung ucapan tahniah kita hadiahkankepada semua setelah keputusan pilihan raya diumumkan bahawa Allah SWT telahmengetahui apa yang tersirat di hati kita semua, Dia maha mengetahui tentangkeikhlasan hati ini. Allah SWT melihat gerak kerja kita, lalu Dia mendapatipadanya usaha dan pengorbanan yang baik lagi mulia. Semoga AllahSWT mengurniakan ganjaran yang setimpal dan kita meyakini bahawa Allah SWTtidak sekali-kali akan mensia-siakan amalan kita di dunia dan di akhirat. AllahSWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا) الكهف 30 .

“Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebaikan, Kamibenar-benar tidak akan mensia-siakan pahala orang yang mengerjakan perbuatanbaik itu”.

Di bawah ini saya titipkan beberapa nasihat dan berita yangmenggembirakan:

  1. Bergembiralah….bahawa Allah sentiasa bersama kita,kerana apa yang telah kita usaha dan korbankan adalah semata-mata untukmendapat keredhaan-Nya jua. Dari sini marilah kita yakini bahawa Allah akansentiasa bersama membantu dan menolong kita. Itulah perasaan yang dialami olehNabi SAW, dikongsi dan diluahkan kepada sahabatnya di Gua Hira’ bila Nabi SAWmendapati Abu Bakar RA bersedih dan diselubungi ketakutan.

Nabi SAW berkata kepada Abu Bakar RA; Allah berfirman:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَكَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاتَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِوَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواالسُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (التوبة40)

“Kalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad) makasesungguhnya Allah telahpun menolongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Mekah)mengeluarkannya (dari negerinya Mekah) sedang ia salah seorang dari dua(sahabat) semasa mereka berlindung di dalam gua, ketika ia berkata kepadasahabatnya: “Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersamakita”. Maka Allah menurunkan semangat tenang tenteram kepada (NabiMuhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera (malaikat) yang kamu tidak melihatnya.Dan Allah menjadikan seruan (syirik) orang-orang kafir terkebawah (kalah dengansehina-hinanya), dan Kalimah Allah (Islam) ialah yang tertinggi(selama-lamanya), kerana Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

  1. Bergembiralah….Sesungguhnya telah tetaplah ganjaran pahala tersebut insha Allah kerana Allahtidak menilai kita di atas hasil gerak kerja kita, akan tetapi Dia akanmenghisab kita atas apa yang kita lakukan dengan penuh ikhlas dan sabar.Firman-Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ( الزمر10)

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanyatanpa batas”.

Firman-Nya lagi:

وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ ، وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (آل عمران 57 )

“Dan adapun orang yang beriman dan melakukan kebajikan, makaDia  akan memberikan pahala kepada mereka dengan sempurna. Dan Allah tidakmenyukai orang zalim”.

Kita amat yakin bahawa semua ikhwah dan akhawat kita bekerjadengan ikhlas untuk mendapatkan keredhaan Allah dan membantu memenangkankebenaran. Imam Al-Banna telah berwasiat kepada kita, katanya:

لا يغرنك أن يحسبك الناس عاملا ، ولكن همك أن يعلم الله منك صدق ذلك ،فإن الناس لن يغنوا عنك من الله شيئاً

“Jangan kalian tertipu oleh sangkaan manusia bahawa kalianadalah orang yang bekerja, tetapi matlamat kalian ialah agar Allah SWTmengetahui bahawa kalian bersikap benar dalam melaksanakan kerja tersebut.Sesungguhnya manusia tidak dapat memberi apa-apa kepada kalian selain AllahSWT”.

  1. Bergembiralah… maka Allah sekali-kali tidakakan mensia-siakan hak mereka yang ikhlas bekerja kerana neraca timbanganlangit adalah lebih adil dari neraca timbangan dunia. Jika hak tersebut luput di dunia,maka ia pasti tidak akan luput di sana (padang mahsyar) di hadapan Tuhan RabbulJalil. Firman-Nya:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاتُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَابِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ (الأنبياء 47)

Maksudnya: ”Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat padahari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanyasebesar biji sawi, pasti Kami akan mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kamiyang membuat perhitungan.”

 

  1. Bergembiralah dan jangan kalian berputus-asa…kerana Allah-lah yang menguruskan hamba-hambaNya dan Dia Maha Mengetahui lagiMaha Mengasihani. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْرَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ (يوسف 87)

“Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya tidak akan berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yangkafir”.

Firman-Nya lagi:

قَالُواْ بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلاَ تَكُن مِّنَ الْقَانِطِينَ ،قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّآلُّونَ (الحجر 55 – 56)

“Mereka (malaikat) menjawab; Kami khabarkan berita gembirabuat kamu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk di kalangan orang yangberputus asa. Dia (Ibrahim) berkata; tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhan-Nya, kecuali orang-orang yang sesat”.

Imam Al-Banna berkata:

لا تيأسوا فليس اليأس من أخلاق المسلمين وحقائق اليوم أحلام الأمسوأحلام اليوم حقائق الغد ولازال في الوقت متسع ولازالت عناصر السلامة قوية عظيمةفي نفوس شعوبكم المؤمنة رغم طغيان مظاهر الفساد والضعيف لا يظل ضعيفاً طول حياتهوالقوي لا تدوم قوته أبد الآبدين يقول تعالى :(وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَىالَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُالْوَارِثِينَ ، وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ).

“Jangan kalian berputus asa kerana berputus asa itu bukanakhlak kaum muslimin. Hakikat hari ini adalah mimpi-mimpi semalam dan mimpihari ini adalah hakikat yang akan berlaku esok. Masih tetap ada lagi waktu dananasir-anasir yang baik masih utuh dan kuat dalam jiwa-jiwa bangsa para mukminsekalipun kerosakan bermaharajalela. Yang lemah tidak akan selama-lamanyamenjadi lemah sepanjang hidupnya, sebaliknya yang kuat tidak akanselama-lamanya kuat sepanjang hidupnya. Allah berfirman yang bermaksud:

“Dan Kami (Allah SWT) mahu mengurniakan (kekuatan) kepadaorang-orang yang lemah di muka bumi ini dan Kami akan jadikan mereka pemimpindan pewaris kepimpinan serta Kami akan menguatkan kekuasaan mereka di atas mukabumi ini”.

  1. Bergembiralah dan bersabarlah…. Sesungguhnyabersama kesusahan itu adanya kesenangan dan bahawa kemenangan itu mengiringi bersama kesabaran. Allah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ، إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(الشرح 5 – 6 )

Cuba perhatikan bahawa Allah telah menyebutkan di dalam ayat di atas secara‘bersama’ (المعية), Allah tidak menyebutnya secara ‘kemudian selepasitu’ (التبعية). Ia memberi ketenangan kepada hati kitabahawa kemenangan itu sebenarnya dekat dan bahawa kesenangan itu datang bersamakesusahan. Maka bergembiralah kalian semua dengan kemenangan yang amat dekatkerana waktu malam yang pekat hitamnya ialah sejurus sebelum masuknya waktufajar. Allah SWT merahmati penyair yang berkata:

إذا ضاقت بك الدنيا         ففكر في:(ألم نشرح)

فـعسر بـينيسرين          تأمَّـــــــــل فيهما تفــــــــرح .

“Apabila kamu rasa sempitnya dunia, maka fikirkanlah pada  ألم نشرح,

Maka kesusahan itu sebenarnya berada di antara duakesenangan,

Renung-renungkanlah pada kedua-duanya itu, nescaya kamu akanrasa gembira….”

  1. Bergembiralah dan laksanakanlah dakwah ini…Kita semua adalah pembawa risalah. Kita adalah rijal pembawa dakwahyang berkesinambungan. Medan dan bidang dakwah ini pelbagai; di antaranya adalah politik.Maka sebarkanlah dakwah kamu ini di kalangan manusia. Sebarkanlah kebaikan dankelebihan dakwah ini ke segenap lapisan masyarakat. Jangan kalian terkesandengan peristiwa-peristiwa yang mendatang ini. Sebarkanlah dakwah kalian dikalangan manusia di kampung, bandar, taman, masjid, sekolah, universiti dankelab-kelab (persatuan). Kita adalah duah (pendakwah) kepada Allah dan kitamembawa kebaikan untuk manusia. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَصَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ * وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلاالسَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَوَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ * وَمَا يُلَقَّاهَا إِلاالَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (فصلت 33 – 35) .

Maksudnya: “Dan siapakah yang  lebih baik perkataannyadaripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan danberkata,’Sunguh, aku termasuk orang muslim (yang berserah diri)?’ (33) Dantidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan carayang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan diaakan seperti teman yang setia. (34) Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akandianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkankecuali kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (35)”

  1. Bergembiralah dan hendaklah kalian mengambil perhatian di sepanjang jalan tarbiyah ini… Maka medan pembinaan dantarbiyah sentiasa menunggu kalian kerana sebagaimana kalian mengetahui bahawa “Tarbiyahdan Takwin merupakan jalan kita menuju kejayaan”. Maka hendaklah kalian semuamengambil berat soal-soal yang berkaitan dengan program-program tarbiyah sertapelbagai wasilahnya kerana ia adalah asas pembinaan individu dan rumah tangga.Ia juga adalah titik bermulanya ke arah pembinaan masyarakat dan daulah. AllahSWT merahmati Imam Syahid Hasan Al-Banna ketika beliau berkata:

كونوا أنفسكم تتكون بكم أمتكم

“Bentuklah jiwa-jiwa kalian, nescaya akan terbentuklah dengankalian ummah kalian”.

Ayuh-lah wahai ikhwan yang dikasihi… marilah sama-sama kitaberusaha memantapkan tarbiyah…

  1. Akhir sekali…. Yakinlah dengan Tuhan kalian,Dia-lah Allah yang sentiasa meliputi pengetahuan-Nya terhadap apa yang kalianlakukan. Sentiasalah melakukan ketaatan dan jadilah kalian semua rabbaniyyin.Kemudian yakinlah dengan jalan dakwah, kepimpinan dan manhaj kalian.Peliharalah ukhuwah kalian kerana ia adalah rahsia kekuatan dan asaskegemilangan. Kemudian teruskan bekerja dan jangan kalian berputus-asa. Tunggulahkelapangan dan kesenangan yang akan Allah kurniakan dalam masa terdekatdaripada hamba-hamba-Nya yang baik. Allah berfirman:

…وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ ،بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ ، وَعْدَ اللَّهِلَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُون (الروم4 : 6 ).

Maksudnya: “…Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman (4), kerana pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang. (5) (Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (6)

وآخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين

أخوكم /محمد حامد عليوة
8/5/2013

MANZILAH (MARTABAT) NAQIB DALAM ISLAM


MANZILAH (MARTABAT) NAQIB DALAM ISLAM

منزلة النقيب فى الإسلام

بقلم : ابي عبدالله

وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاَةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللّهَ قَرْضاً حَسَناً لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ

“Dan sesungguhnya ALLAH telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah KAMI angkat di antara mereka 12 orang naqib dan ALLAH berfirman: Sesungguhnya AKU beserta kalian. Sesungguhnya jika kalian mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-rasul-KU dan kalian bantu mereka dan kalian pinjamkan kepada ALLAH pinjaman yang baik[1] Sesungguhnya AKU akan menghapuskan dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan AKU masukkan ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antara kalian sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maidah, 5:12) [2]

MAKNA PADA BAHASA ( معنى اللغوي ):

(النقيب) dalam bahasa Arab sinonim dari العريف (yang lebih tahu / memahami) atas suatu kaum dan bahkan ia maknanya lebih tinggi dari itu[3] dikatakan dalam kalimat: ” ” نَقَب فلان على بني فلان فهو ينقُبُ نَقْبً او نقابة; berkata yang lainnya bahawa maknanya adalah : “الأمين الضامن على القوم” (yang amat dipercaya dan penjamin suatu kaum)[4] ; berkata sebahagian lagi bahawa maknanya ialah : “الشاهد على قومه” (saksi atas kaumnya) berdasarkan hadis dari Qatadah[5] ; berkata yang lainnya bahawa maknanya adalah كبير القوم ، القائم بأمورهم الذي ينقب عنها وعن مصالحهم فيها”” (tokoh & pemimpin kaum yang membela kepentingan a’dhanya dan membuat kemaslahatan urusan mereka)[6] ; berkata sebahagian : نقيب لانه يعلم دخيلة أمر القوم “” (disebut naqib kerana ia mengetahui selok-belok urusan kaumnya)[7].

TAFSIR AYAT ( تفسير الأية ) :

– Dan sungguh ALLAH telah mengambil perjanjian : Peringatan ALLAH SWT bahawa pada hakikatnya perjanjian tersebut adalah perjanjian dengan ALLAH SWT. Dan ALLAH SWT mengingatkan kaum mu’min agar mereka tidak melakukan sebagaimana yang telah dilakukan Bani Isra’il[8].

– Wa ba’atsna : Bahawa pengutusan & penugasan para naqib tersebut adalah juga pengutusan & penugasan dari sisi ALLAH SWT, sehingga nisbahnya adalah kepada ALLAH SWT.

– Itsna ‘asyara naqiban : Kerana demikianlah jumlah qabilah/kelompok yang ada, sehingga Bahawa setiap kelompok ada 1 naqib[9]. Iaitu : Syamun bin Zakawwan (Rubil), Syafath bin Hurriy (Syam’un), Kalib bin Yufanna (Yahwizh), Yaja’il bin Yusuf (Aten), Yusyi’ bin Nun (Afra’im), Falth bin Rafun (Benjamin), Judea bin Sudea (Zabalon), Judea bin Susa (Minsya bin Yusuf), Hamala’il bin Jaml (Daan), Satur bin Malkil (Asyar), Naha bin Wafsi (Naftali), Julail bin Mikki (Jaad)[10].

– Minhum : Bahawa para naqib tersebut diutus dari kelompok Bani Isra’il itu sendiri & bukan dari kaum yang lainnya.

– Inni ma’akum : Bahawa ALLAH SWT senantiasa bersama mereka dalam pertolongan & bantuan[11] juga pencukupan[12].

– La’in.. : Syaratnya adalah : (1) Para naqib tersebut menegakkan (bukan hanya melaksanakan) shalat, (2) Mengeluarkan zakat, (3) Beriman pada para Rasul & wahyu yang dibawanya[13], (4) Membantu para Rasul tersebut dari musuh2nya[14] & menegakkan Al-Haq[15], (5) Meminjamkan wang mereka demi kepentingan fisabiliLLAH[16] sang Rasul mereka tersebut yang sebaik-baiknya (yaitu ikhlas & halal[17]).

– La’ukaffiranna.. : Maka ganjarannya adalah : (1) Dihapuskan dosa-dosanya, (2) Dimasukkan ke dalam Jannah.

– Faman kafara ba’da dzalika : Barangsiapa yang mengingkari setelah perjanjian tersebut, maka sungguh ia telah sesat dari jalan yang benar[18] dan terjauhkan dari hidayah ALLAH SWT[19].

Berkata Asy Syahid Sayyid Quthb dalam tafsirnya[20] :

“Inni ma’akum.. Ini adalah janji yang amat besar, kerana barangsiapa yang ALLAH bersamanya maka tiada sesuatupun yang dapat mengalahkannya dan barangsiapa yang berusaha melawannya maka hakikatnya bagaikan debu yang tiada ertinya.. Dan barangsiapa yang ALLAH bersamanya maka tiada akan pernah sesat jalannya, kerana kebersamaan dengan ALLAH yang Maha Suci akan menunjukkan jalan.. Dan barangsiapa yang ALLAH bersamanya maka tiada akan pernah rosak atau celaka, kerana kedekatan kepada-NYA akan selalu mententeramkan dan membahagiakan.. Dan kesimpulannya maka barangsiapa yang ALLAH bersamanya maka akan dijamin, dicukupi & dibahagiakan, serta tiada lagi tambahan yang lebih tinggi dari kedudukan semulia ini..

Namun ALLAH – Yang Maha Suci — tidaklah menjadikan penyertaan-NYA kepada mereka begitu saja, dan IA tiada akan memberikan kemuliaan kepada seseorang tanpa memenuhi syarat-syaratnya. Syarat-syarat tersebut adalah janji Hamba untuk:

Menegakkan shalat, tiada cukup hanya dengan melakukan shalatnya saja, melainkan menegakkannya atas dasar hakikatnya iaitu hubungan yang abadi antara RABB dan ‘abd, beserta hubungan tarbiah & pendidikan sesuai dengan manhaj RABBani yang lurus, serta pemutusan dari kekotoran & kemungkaran, kerana rasa malu yang luar biasa saat berdiri di hadapan ALLAH SWT dengan membawa kekotoran & kemungkaran tersebut..

Lalu kemudian mengeluarkan zakat, sebagai pengakuan yang tulus akan nikmat-NYA dalam rezeki dan segala yang dimilikinya sebagai pemberian dari ALLAH dari berbagai benda & harta, serta ketaatan untuk mengeluarkan sebahagian dari hartanya untuk merealisasikan hak sosial sebagai salah satu dasar kehidupan masyarakat yang beriman yang ditegakkan atas dasar agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja..

Lalu menolong para Rasul, ternyata ia tidak hanya cukup dengan menyatakan beriman saja kepada mereka, melainkan harus ada amal nyata yang menunjukkan kebenaran iman tersebut pada mereka, iaitu dengan pembelaan kepada mereka, maka Din ALLAH tidak hanya cukup dengan i’tikad hati atau syi’ar ta’abbudi semata, melainkan manhaj yang nyata dalam kehidupan serta sistem yang mengatur seluruh hidupnya. Manhaj & sistem tersebut memerlukan pembelaan, dokongan & pengorbanan supaya ia dapat tegak, dan setelah tegak iapun perlu kepada penyeliaan dan penjagaan..

Kemudian IA – SubhanaHU wa Ta’ala — selain zakat juga menekankan adanya pinjaman yang baik, padahal IA adalah Pemilik harta kita & diri kita, tetapi IA dengan halusnya meminta pada hati-hati hamba-NYA yang amat peka & suci yang berkenan untuk menambah dari yang wajib untuk “memberikan pinjaman”, SubhanaLLAH DIA adalah Yang Maha Lembut lagi Maha Penyantun pada hamba-hamba-NYA, berbahagialah mereka yang menyambut seruan ini..”

NAQIB DALAM AS-SUNNAH ( النقيب فى السنة ) :

وعن جابر بن سمرة قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ” لا يزال الإسلام عزيزا إلى اثني عشر خليفة كلهم من قريش ” . وفي رواية : ” لا يزال أمر الناس ماضيا ما وليهم اثنا عشر رجلا كلهم من قريش ” . وفي رواية : ” لا يزال الدين قائما حتى تقوم الساعة أو يكون عليهم اثنا عشر خليفة كلهم من قريش ” . متفق عليه

Imam Bukhari & Muslim[21] menyebutkan hadits shahih dari Jabir bin Samurah – semoga ALLAH meridhoinya — berkata: “Tidak henti-hentinya Islam ini berjaya sehingga dipimpin oleh 12 orang Khalifah, seluruhnya dari Quraisy.” Dalam riwayat lain: “Tidak akan henti-hentinya urusan umat ini terbelakang sehingga mereka dipimpin oleh 12 orang. Semuanya dari Quraisy.[22]” Berkata Imam Ibnu Katsir[23] bahwa hadits ini merupakan kabar gembira tentang akan datangnya 12 orang khalifah yang shalih setelah Nabi SAW dan telah berlalu diantara mereka 5 orang, yaitu Khalifah yang empat dan Umar bin Abdul Aziz dan yang nanti keluar terakhir dari mereka adalah Al-Mahdi.

NAQIB DALAM AS-SIRAH ( النقيب فى السيرة ) :

Diriwayatkan dalam sirah bahwa saat Nabi SAW meminta perjanjian pada kaum Anshar pada hari ‘Aqabah, maka beliau SAW pun memilih 12 orang naqib, 3 orang dari kabilah ‘Aus yaitu: Usaid bin Hudhair, Sa’d bin Khaitsamah, Rifa’ah bin Abdil Mundzir; serta 9 orang dari kabilah Khazraj, yaitu : As’ad bin Zurarah, Sa’d bin Rabi’, AbduLLAH bin Rawahah, Rafi’ bin Malik, Barra’ bin Ma’rur, Ubadah bin Shamit, Sa’d bin Ubadah, AbduLLAH bin Amru dan Mundzir bin Amru[24] – semoga ALLAH SWT meridhoi mereka semua — ke-12 orang sahabat ini kemudian dikenal dengan gelar An-Naqib[25]

NAQIB DALAM ATSAR SALAFUS-SHALIH ( النقيب فى الأثر ) :

Selain para sahabat, beberapa ulama salaf juga disebut naqib, di antaranya Abul Barakat Al-Jawaniy An-Nasabah[26]; Syaikh Jamaluddin Abu AbduLLAH Muhammad bin Sulaiman Al-Maqdisiy Ibnun Naqib[27]; Abu Ja’far Muhammad bin AbduLLAH Al-’Alawy An-Naqib[28], dan yang disebut terakhir ini adalah salah seorang perawi hadis shahih riwayat Muslim berikut ini:

لا تحاسدوا ، ولا تباغضوا (1) ، ولا تناجشوا (2) ، ولا تدابروا (3) ، ولا يبع بعضكم على بيع بعض ، وكونوا عباد الله إخوانا ، المسلم أخو المسلم لا يظلمه ، ولا يخذله (4) ، ولا يحقره التقوى ههنا يشير إلى صدره ثلاث مرات بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم ، كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه.

PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL ( ما يستفاد منها ) :

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat kita simpulkan bahawa seorang naqib hendaklah :

1. Merupakan orang yang paling mengetahui & memahami para a’dha-nya (ahlinya), tidak disebut naqib jika ia tidak mengetahui secara mendalam a’dha-nya baik sifat-sifat, kebiasaan, permasalahan, kesukaan, keluarga, dsb.

2. Merupakan orang yang amat dipercaya oleh a’dha-nya, maka tidak disebut naqib jika ia merupakan seorang tidak dipercaya oleh a’dha-nya apalagi jika sampai dibenci oleh para a’dha-nya.

3. Merupakan penjamin serta penanggungjawab para a’dha-nya, maka seorang naqib hendaklah benar-benar bertanggungjawab atas para a’dha-nya, jika ia lurus maka luruslah a’dha-nya & jika ia menyimpang maka menyimpang jugalah para a’dha-nya[29].

4. Merupakan saksi atas a’dha-nya, baik di dunia maupun di yaumil qiyamah kelak, ingatlah bahwa setiap naqib akan ditanya tentang yang dipimpinnya di yaumil qiyamah kelak.

5. Merupakan pemimpin dan pemuka mereka dan orang terbaik diantara mereka[30], maka hendaklah ia benar-benar melaksanakan amanah tersebut untuk memimpin, membimbing & menunjuki mereka ke jalan yang lurus & benar serta mencintai mereka lebih dari dirinya sendiri.

6. Naqib telah melakukan perjanjian yang hakikatnya ia lakukan dengan ALLAH SWT, maka ALLAH SWT akan meminta tanggungjawab atas apa yang telah dilakukan oleh para Naqib dalam menjalankan perintah-NYA, dan jika mereka berkhianat maka mereka akan diazab sebagaimana para Naqib Bani Isra’il.

7. Bahwa ALLAH SWT senantiasa bersama para Naqib selama mereka menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, membela para Nabi dan berinfaq.

8. Dan para Naqib yang shadiq akan diampuni & dihapuskan dosa-dosanya oleh ALLAH SWT dan dimasukkan ke dalam Jannah yang mengalir sungai-sungai dibawahnya.

9. Sementara para Naqib yang kadzib akan disesatkan dari jalan yang lurus.

الله أعلم بالصواب …

Catatan Kaki:

[1] Maksudnya ialah : Menafkahkan harta untuk menunaikan kewajiban dengan hati yang ikhlas

[2] Ternyata dari 12 orang Naqib tersebut 10 orang diantaranya berkhianat, lih. Tafsir Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, juz VI/112

[3] Lih. Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an, Imam At-Thabari, juz X/110

[4] Lih. Majaz Al-Qur’an, Abu Ubaidah, juz I/156

[5] Lih, Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an, Imam At-Thabari, juz X/111

[6] Lih. Tafsir Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, juz VI/112

[7] Lih. Tafsir Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, juz VI/112

[8] Lih. Tafsir Al-Wasith, Syaikh At-Thantawi, I/1202

[9] Lih. Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an, Imam At-Thabari, juz X/110

[10] Lih. Thabari X/114; Ibnu Katsir III/103; Ibnu Habib dalam Al-Mihbar hal.464; Al-Qurthubi VI/113

[11] Lih. Tafsir Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, juz II/282

[12] Lih. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, Imam Ibnu Katsir, juz III/66

[13] Lih. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, Imam Ibnu Katsir, juz III/66

[14] Lih. Tafsir Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, juz II/282

[15] Lih. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, Imam Ibnu Katsir, juz III/66

[16] Lih. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, Imam Ibnu Katsir, juz III/66

[17] Lih. Tafsir Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, juz II/282

[18] Lih. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, Imam Ibnu Katsir, juz III/66

[19] Lih. Tafsir Lubab At-Ta’wil fi Ma’ani At-Tanzil, Imam Al-Khazin, juz II/249

[20] Lih. tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb, juz II/330

[21] Lih. Misykah Al-Mashabih, Al-Khatib At-Tibrizi

[22] Demikian dalam lafzah Muslim, lih. Shahih Muslim, IX/334 no. 1822

[23] Lih. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, Imam Ibnu Katsir, juz III/65

[24] Lih. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, Imam Ibnu Katsir, juz III/65

[25] Lih. Sunan Ibni Majah I/21; juga As-Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi V/91; Al-Mustadrak ‘ala Shahihain, Al-Hakim XI/475; Syu’abul Iman, Al-Baihaqi XIX/314, Shahih Ibnu Hibban, XXX/85; Siyar A’lam Nubala’, I/230, 266, 267, 270, 301;

[26] Lih. Tafsir Al-Bahrul Muhith, Imam Ibnu Hayyan, juz III/211

[27] Lih. Tafsir Al-Bahrul Muhith, Imam Ibnu Hayyan, juz VI/224, 352

[28] Lih. Syu’abul Iman, Imam Al-Baihaqi, XIV/175

[29] Sebab menyimpangnya Bani Isra’il & menolak berperang bersama Musa as (QS Al-Maidah, 5/24), adalah karena penyimpangan sebagian besar dari para naqibnya, lih. tafsir Fathul Qadir, Imam Asy-Syaukani, juz II/282

[30] Lih. Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an, Imam At-Thabari, juz X/113