Tag Archive | muhammad nursani

Anak Yang Tangguh


Anak Yang Tangguh
@Yasa Paramitha Singgih
d59bf-anak-orang-tuaAnak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama, sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang tangguh, disenangi, dan disegani banyak orang…
Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah. Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima…
Mereka sanggup beli barang-barang mewah. Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan…
Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota. Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana…
Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan. Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan…
Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja. Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah…
Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya. Tapi juga tidak merendahkan orang yg lebih miskin darinya…
Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi. Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas, kapasitas
dirinya, bukan dari barang yang dikenakan…
Mereka punya.. Tapi tidak teriak kemana -mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya…
Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan, etika tata krama…
Hal hal sederhana tentang kesantunan seperti :
🔹Pamit saat pergi dari rumah
🔹Permisi saat masuk ke rumah temen (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang ada di rumah itu),
🔹Saat masuk atau pulang kerja memberi salam kepada rekan, terlebih pimpinan
🔹Kembalikan pinjaman uang sekecil apapun,
🔹Berani minta maaf saat ada kesalahan
🔹Tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun…
Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya…
Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup…
Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika, tata krama
🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Selamat bersiap utk pekan terbaik mommies
#SmartMommyCommunity
#SalamPuanGroup

Kenapa Bunda Tak Boleh Memaksa Anak Makan? Ini Alasannya!


 

Dear Bunda,
Ketika anak-anak memasuki masa sulit makan, biasanya Bunda akan memaksa mereka makan dengan berbagai cara. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, tak jarang Bunda melontarkan paksaan dan ancaman agar anak mau menelan makanannya.

“Pemaksaan sampai ancaman ini seharusnya tidak boleh dilakukan kepada anak, karena akan memengaruhi perkembangan anak,” ungkap pakar nutrisi dan diet dari komunitas Sehati, Emilia Achmadi, MSc, kepada Kompas Female, saat talkshow sebuah merk susu di fX, Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurut Emilia, ada beberapa kategori yang tergolong sebagai bentuk pemaksaan kepada anak agar mereka mau makan (dan sebaiknya tidak dilakukan):

1. Memberi makanan sebagai hadiah
Dalam kategori ringan, orangtua akan memberikan berbagai iming-iming agar anak mau makan. “Misalnya, kalau mau makan maka mereka akan mendapat cokelat, es krim, dan aneka makanan lainnya,” tambahnya. Meskipun anak sebenarnya tidak mau makan, namun reward yang ditawarkan akan membuat mereka mau makan demi mendapatkan makanan yang disukainya.
Meski proses iming-iming ini akan membuat anak mau makan saat itu, namun akan selalu tertanam dalam pikiran anak bahwa setelah makan mereka akan bisa menyantap makanan apa saja yang mereka inginkan.
Parahnya lagi, mereka akan beranggapan bahwa makanan reward ini boleh dimakan sebanyak-banyaknya karena mereka sudah makan nasi. Efek yang paling parah, mereka tidak bisa mengontrol asupan makanan ke dalam tubuh, dan berakhir dengan obesitas.

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

2. Menakut-nakuti anak
Dalam kategori ini, orangtua akan mengancam anak-anaknya untuk mau makan. Biasanya mereka akan mengancam dengan berbagai hal yang tidak disukai anak. Padahal, keengganan anak untuk makan pasti ada sebabnya. Bisa jadi makanan yang disediakan kurang enak dan kurang menggugah seleranya. Namun, biasanya orangtua lebih mementingkan agar makanan yang bergizi ini disantap habis oleh sang anak.
“Yang tak kalah penting dari rasa dalam sepiring makanan adalah tampilannya, khususnya untuk anak. Dengan tampilan yang menggugah selera, anak pasti akan lebih bersemangat untuk makan,” ungkap Executive Chef The Dharmawangsa Hotel, Vindex Tengker, kepada Kompas Female, dalam kesempatan berbeda.
Proses menakut-nakuti agar anak mau makan ini bisa mengakibatkan dampak psikologis berupa serangan anoreksia dan bulimia pada anak. Karena “proses” makan yang mereka lakukan ini hanya dilakukan untuk menyenangkan orangtuanya saja, tanpa perlu dicerna lebih lanjut di dalam perutnya. Bukan tak mungkin anak akan memuntahkan kembali makanan tersebut ketika orangtuanya tidak memperhatikan mereka lagi.

3. Mengancam
Kategori yang paling parah adalah ketika orangtua mulai mengancam anak-anaknya agar mau makan. Misalnya jika anak tidak mau makan, Bunda tidak mau bicara dengannya, anak akan ditinggal sendirian, atau akan dipukul saat tak mau makan, dan lain sebagainya.
Proses ancaman ini ketika dilakukan dalam jangka waktu yang lama terbukti bisa menimbulkan trauma tersendiri dalam diri anak. “Mereka akan mengalami sentimen negatif pada makanan,” tukas Emilia.
Sentimen negatif ini akan berakibat pada adanya rasa takut terhadap makanan, sehingga ketika tiba saatnya makan mereka akan selalu terbayang pada ancaman yang diberikan orangtuanya. “Ada rasa depresi ketika melihat makanan, dan akhirnya makan hanya karena takut akan ancaman orangtuanya. Ini sangat berbahaya,” jelasnya.

Nah Bunda, masih ingin mengancam Si Kecil? Tetap berikan yang terbaik untuk Si Kecil ya Bunda

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Kedewasaan


Alwi Alatas

 

Perbedaan utama antara anak-anak dan orang dewasa adalah dalam hal kemandirian. Kemandirian ‎adalah sebagian dari kekuatan. Seorang anak masih berada dalam keadaan lemah dan belum mampu ‎untuk berdiri sendiri. Karena itu ia diasuh dan dibimbing oleh orang tuanya. Saat menjadi pemuda dan ‎dewasa, secara gradual ia masuk dalam fase kekuatan yang memungkinkan dirinya untuk mandiri dan ‎akhirnya tidak lagi bergantung pada orang tuanya. Ini merupakan siklus yang alami pada setiap ‎manusia. ‎

Seperti telah disebutkan pada artikel yang lain sebelum ini, al-Qur’an membagi siklus hidup manusia ‎dalam tiga bagian. Begitu pula yang disebut pada ayat berikut ini:‎

‎“… kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak (thiflan), kemudian (kamu dibiarkan hidup) ‎supaya kamu sampai kepada masa dewasa (tablughu asyuddakum), kemudian (dibiarkan kamu ‎hidup lagi) sampai tua (syuyukhan) ….” (QS 40: 67)‎

Ayat tersebut menggunakan terma “tablughu asyuddakum” untuk fase dewasa. Istilah ini digunakan ‎beberapa kali dalam al-Qur’an, di antaranya terkait penjagaan terhadap anak-anak yatim. Saat ‎menjelaskan tentang istilah ini pada ayat yang lain (QS 6: 152), Imam al-Thabari menjelaskan di dalam ‎Tafsir-nya bahwa kata asyudda merupakan jamak dari kata syaddun dan maknanya adalah kekuatan ‎‎(quwwah). Ia juga menafsirkan “tablughu asyuddakum” sebagai tercapainya puncak kekuatan pada ‎usia muda. Sebagian mufassir menakwilkan kata-kata ini sebagai terjadinya ihtilam atau mimpi basah ‎‎(Tafsir al-Thabari, vol. 12, hlm. 222-223). Dengan kata lain, usia muda atau usia dewasa menghadirkan ‎ke dalam dirinya puncak kekuatan, dan bersamaan dengan itu juga kemampuan untuk mandiri.‎

Masalahnya, mandiri dalam hal apa, sehingga dapat dikatakan seseorang itu sudah dewasa?‎

 

ayah-dan-anakdilapangan

Setelah direnungi secara mendalam, setidaknya ada empat aspek kemandirian yang menjadi pokok ‎perbedaan antara anak-anak dengan orang dewasa, yaitu adanya identitas diri, tujuan hidup atau visi, ‎kemampuan mengambil keputusan, serta rasa tanggung jawab. Seorang anak belum memiliki ‎kemandirian dalam keempat hal tersebut, sementara seorang yang dewasa (seharusnya) sudah ‎memilikinya. ‎

Identitas diri seorang anak masih ikut dengan orang tuanya, tujuan hidupnya masih berubah-ubah, ia ‎belum mampu untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan secara dewasa, dan belum mampu ‎untuk memikul tanggung jawab. Namun seiring dengan tumbuhnya si anak mencapai usia baligh dan ‎menjadi seorang pemuda, ia mulai memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mandiri dalam keempat ‎aspek tersebut. Berbeda dengan anak-anak, seorang yang dewasa sudah memiliki identitasnya sendiri, ‎mantap dengan tujuan hidup dan cita-citanya, mampu membuat keputusan secara dewasa, serta ‎mampu dan mau memikul tanggung jawab. ‎

Karena itu menjadi tugas orang tua dan para pendidik untuk membimbing anak-anak agar memahami ‎hal ini serta membantu mereka agar mampu mandiri dalam keempat aspek ini saat umurnya mencapai ‎usia dewasa, yaitu saat ia baligh atau berusia 15 tahun. Jika tidak demikian, maka ia akan tumbuh ‎menjadi seorang yang kekanak-kanakan, walaupun ia sudah mencapai fase usia dewasa dan sudah ‎memiliki potensi kekuatan dan kemandirian. Bukan hanya menjadi seorang yang kekanak-kanakan, ‎bahkan ia bisa memberontak dari orang tuanya, karena sudah terdorong untuk memiliki identitas ‎sendiri. Ia akan mudah terpengaruh oleh teman-temannya karena masih sangat labil dalam tujuan ‎hidupnya. Ia juga mungkin mengambil keputusan-keputusan yang buruk dan fatal serta menjadi ‎sangat tidak bertanggung jawab dalam hidupnya. ‎

Orang tua perlu membimbing serta melatih anak-anaknya untuk mencapai aspek-aspek kemandirian ‎ini. Kalau tidak, orang tua akan mengalami banyak kesulitan dan kesusahan saat anak tumbuh menjadi ‎remaja. Bukannya menjadi seorang berkarakter dewasa, anak tersebut akan menjadi seorang remaja ‎yang labil dan sulit diatur. Akhirnya ia menjadi seperti yang disebutkan Raja Ali Haji di dalam Gurindam ‎Dua Belas pasal ke-7:‎

Apabila anak tidak dilatih, ‎
Jika besar bapanya letih.‎

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

Kami akan membahas secara lebih detail masing-masing aspek-aspek kedewasaan dalam tulisan yang ‎lain. Namun pada artikel ini akan diberikan contoh dari sebuah kisah yang indah.‎

Kedewasaan Ismail

Nabi Ismail ‘alaihis salam tumbuh besar di kota Makkah. Ketika ia menjadi seorang pemuda, ayahnya ‎Ibrahim ‘alaihis salam menerima perintah untuk menyembelih anaknya itu. Ismail bersedia ‎menjalankannya, tetapi kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba. ‎

Jika kita merujuk pada Alkitab – dalam bagian yang dibahas ini kita boleh meriwayatkannya tanpa ‎membenarkan atau menolaknya – disebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendapatkan anak Ismail saat ia ‎berusia 86 tahun (Kejadian 16: 16) dan mendapatkan anak Ishak saat ia berumur 100 tahun (Kejadian ‎‎21: 5). Jadi ada selisih 14 tahun di antara keduanya. Orang-orang Nasrani meyakini bahwa Ishak yang ‎rencananya akan disembelih dan dikorbankan, tetapi kaum Muslimin meyakini bahwa Ismail-lah yang ‎akan dikorbankan. Menariknya, saat membahas tentang perintah penyembelihan terhadap Ishak, ‎Alkitab (Kejadian 22: 2) menyebutnya sebagai “anakmu yang tunggal itu”, sementara kita mengetahui ‎bahwa penyebutan itu hanya mungkin berlaku atas Ismail selama adiknya Ishak belum lahir, yaitu saat ‎Ismail berumur kurang dari 14 tahun. Tampaknya yang dimaksud oleh Alkitab terkait perintah ‎penyembelihan anak sebenarnya adalah Ismail yang ketika itu masih berusia remaja.‎

Al-Qur’an memiliki kisah tersendiri tentang penyembelihan ini, yang walaupun tidak menyebutkan ‎secara jelas nama Ismail tetapi para mufassir menjelaskan bahwa Ismail-lah yang dimaksudkan oleh ‎ayat tersebut. Ayat ini mengandung kisah kedewasaan yang indah.‎

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim ‎berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka ‎fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan ‎kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS 37: 102)‎

Ibn Katsir menyebutkan pendapat Ibn Abbas, Mujahid, dan beberapa yang lainnya bahwa kata-kata ‎‎“tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim” (falamma balagha ‎ma’ahu sa’ya) bermakna ketika ia menjadi seorang pemuda dan mampu bekerja sebagaimana ‎ayahnya. Pada masa lalu kemampuan ini dicapai pada usia belasan tahun, tak lama setelah masa baligh ‎‎– sekarang pun sebenarnya potensi itu bisa dicapai oleh seseorang pada usia yang kurang lebih sama. ‎Di dalam Tafsir al-Khazin (vol. 4, hlm. 22) ada disebutkan pendapat bahwa usia Ismail ketika itu adalah ‎‎13 tahun. Ada pula yang mengatakan 7 tahun, tapi tampaknya usia ini terlalu dini untuk dijadikan ‎acuan. Tafsir al-Qurthubi juga menyebutkan adanya pendapat bahwa Ismail ketika itu berusia 13 ‎tahun.* ‎

Di dalam ayat tersebut, nabi Ibrahim mendapat sebuah mimpi yang merupakan perintah dari Rabb-‎nya. Mimpi ini juga melibatkan Ismail. Ini adalah salah satu aspek kedewasaan: mimpi, visi, atau tujuan, ‎atau dalam konteks ini sesuatu yang belum terjadi dan akan diwujudkan pada waktu-waktu ‎berikutnya. Mimpi ini datang dari Allah dan harus dijalankan oleh Ibrahim dan Ismail. Mimpi itu ‎memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Ini adalah sebuah mimpi yang gila bagi ‎orang-orang yang tidak percaya pada kehidupan akhirat. Tidak ada orang yang memiliki mimpi atau visi ‎menyembelih anak sendiri dan tidak ada orang yang bermimpi (berkeinginan) untuk disembelih hingga ‎mati. Tetapi bagi seorang mukmin, tujuan sejati dan tertinggi adalah agar bisa sampai kepada Allah ‎dalam keadaan diridhai. Mimpi Ibrahim, walaupun berat untuk dilaksanakan, adalah jalan yang ‎membawa kepada tujuan tertinggi tadi.‎

Di samping mimpi, perintah ini juga berkenaan dengan tanggung jawab. Ini merupakan aspek ‎kedewasaan yang kedua. Baik Ibrahim maupun Ismail diminta untuk merealisasikan sebuah tanggung ‎jawab yang sangat berat. Tanggung jawab itu menyiratkan adanya pengorbanan, dan pengorbanan itu ‎sendiri bertingkat-tingkat. Dalam kaitan ini, kedua insan mulia ini diserahi satu beban tanggung jawab ‎terbesar yang mungkin dipikul oleh seseorang, yaitu mengakhiri hidup sendiri dan kehilangan belahan ‎jiwa. Rasanya tidak ada tanggung jawab yang lebih berat daripada itu.‎

Perintah itu untuk dilaksanakan, bukan untuk didiskusikan. Namun Ibrahim tidak langsung menarik ‎anaknya untuk disembelih. Ia menyampaikan mimpinya itu kepada sang anak dan memberi ‎kesempatan kepadanya untuk menyampaikan pendapat serta mengambil keputusan. Ini adalah aspek ‎kedewasaan yang ketiga, yaitu pengambilan keputusan secara dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa ‎Ibrahim menganggap Ismail sebagai pria dewasa, walaupun usianya ketika itu masih sangat belia. ‎Karena hanya orang yang dianggap dewasa yang biasanya diminta dan didengar pendapatnya. ‎

Sikap Ismail berikutnya sangat mengagumkan. Ia tidak menolak mimpi ayahnya. Sebaliknya ia ‎menerima mimpi tersebut, yang berarti ia mengambil mimpi itu sebagai bagian dari mimpinya sendiri. ‎Pada saat yang sama Ismail menerima beban tanggung jawab tersebut dan mempersilahkan ayahnya ‎untuk menjalankan tugasnya. Ismail dipersilahkan untuk memilih pendapatnya, dan inilah pilihan yang ‎ia buat. Ia tidak dipaksa oleh ayahnya untuk menerima keputusan secara sepihak, dan inilah keputusan ‎yang diambilnya. Ia memilih dan membuat keputusan secara dewasa, yaitu berdasarkan pilihan baik-‎buruk, bukan suka-tak suka. Tak ada yang suka dikorbankan dan disembelih, tetapi karena hal itu ‎dilakukan dalam rangka ketaatan pada Allah dan karenanya itu merupakan hal yang baik, maka Ismail ‎memilihnya.‎

Ismail kemudian menutup kata-katanya dengan menyatakan siapa dirinya. “Insya Allah kamu akan ‎mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Ini adalah aspek keempat dan terakhir dari ‎kedewasaan dalam pembahasan kita, yaitu identitas diri. Ismail menjadikan kesabaran sebagai ‎identitas dirinya dan ini menjelaskan mengapa ia sanggup mengambil tanggung jawab yang sangat ‎berat. Karena ia mengerti apa artinya menjadi orang yang sabar dan ia kelihatannya juga sudah melatih ‎dirinya menjadi seorang penyabar. Ia tidak merasa gamang atau ragu dengan status dan jati dirinya dan ‎karena itu ia mampu mengambil keputusan dengan penuh keyakinan. Pada akhirnya, semua itu akan ‎menghantarkannya kepada tujuannya yang paling tinggi, yaitu berjumpa dengan Tuhan-nya dalam ‎keadaan yang diridhai.‎

Kita mengetahui bahwa akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor domba. Ibrahim dan Ismail ‎lulus dalam ujian tersebut. Kisah mereka dikenang di dalam ibadah qurban yang dijalankan oleh kaum ‎Muslimin setiap tahun. Sebagian orang mengatakan bahwa di dalam Iedul Qurban sebenarnya kita ‎sedang ‘menyembelih’ sifat cinta dunia di dalam hati kita. Mungkin saat menyembelih hewan qurban ‎di hari Iedul Adha, kita juga bisa memaknai bahwa pada saat itu kita sedang menyembelih sifat ‎kekanak-kanakan di dalam diri kita sendiri dan selepasnya kita harus tampil sebagai seorang yang ‎benar-benar dewasa, karena sifat kedewasaan tidak selalu berkaitan dengan usia tertentu. ‎

Adapun bagi anak-anak kita, masa ‘penyembelihan’ terbesar di dalam hidup mereka terjadi di antara ‎masa-masa baligh dan usia 15 tahun. Saat mereka lulus dalam ujian tersebut, mereka akan muncul ‎sebagai manusia yang dewasa dan matang pada waktunya. Mereka akan muncul sebagai pemuda yang ‎mandiri dalam visi, identitas diri, tanggung jawab, serta pengambilan keputusan. Tapi jika tidak, maka ‎boleh jadi umur mereka atau bahkan hidup mereka sendiri yang akan tersembelih dan terkorbankan.‎

Jakarta,‎
‎9 Muharram 1438/ 10 Oktober 2016‎

‎* Saya berterima kasih kepada Muhammad Ghazi Alaydrus dan Muhammad Ardiansyah atas ‎bantuannya mencarikan rujukan di beberapa tafsir terkait ayat ini.‎

http://inpasonline.com/…/prinsip-dasar-pendidikan-kedewasa…/

 

 

=============================

GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://tokopedia.com/griyahilfaaz

==============================

5 Posisi Anak Bagi Orangtua dalam Al Quran


5 Posisi Anak Bagi Orangtua dalam Al Quran

Al Quran sebagai petunjuk jalan bagi setiap keluarga muslim. Bagi yang telah mempunyai keturunan. Atau mereka yang sedang menanti hadirnya keturunan. Atau yang sedang khusyu’ dalam munajat agar diberikan amanah indah itu. Atau yang sedang belajar untuk menapaki tangga menuju bahtera rumah tangga. Inilah Al Quran yang harus selalu menjadi tempat bertanya.

Al Quran menyampaikan bagi setiap keluarga muslim bahwa anak mempunyai 5 potensi bagi kehidupan orangtuanya. Potensi baik ataupun potensi buruk. Berikut ini ke 5 hal tersebut:

Pusat Busana Muslim Branded Berkualitas

Nibras, Mutif, Rahneem dll
GRIYA HILFAAZ
  1. Anak sebagai HIASAN HIDUP

Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imron: 14)

Anak disebut ayat ini sebagai satu dari kesenangan-kesenangan dunia. Setiap manusia pasti telah terhiasi hatinya dengan berbagai keindahan dunia tersebut. Hanya saja, Allah menawarkan tempat kembali yang lebih baik di sisi Nya.

Anak sebagai hiasan yang menghiasi hidup orangtuanya menjadi berwarna indah. Anak-anak ibarat pelangi. Warna mereka yang berbeda-beda membuat suasana rumah menjadi begitu indah dipandang mata. Kehadiran mereka selalu dinantikan. Terlihat jelas di pelupuk mata orangtuanya pelangi itu, apalagi saat pelangi itu ada di tempat yang jauh. Sehingga kerinduan pada anak-anak begitu membuncah.

Untuk itulah, para orangtua siap untuk melakukan apa saja dan membayar berapa saja untuk mendapatkan keturunan. Karena keindahan hidup berkurang ketika keturunan yang dinanti belum juga hadir.

Anak-anak memang indah. Keindahannya tak tergantikan oleh apapun. Gerak mereka, suara mereka, raut wajah mereka, tingkah polah mereka, tertawa mereka, tangis mereka. Ahh…semuanya indah.

 

  1. Anak sebagai COBAAN HIDUP

Allah berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al Anfal: 28)

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. At Taghabun: 15)

Anak juga menjadi cobaan hidup bagi orangtuanya. Seperti yang disampaikan dua ayat di atas. Sehingga orangtua diminta agar berhati-hati. Keindahan itu tidak boleh melalaikan. Kenikmatan kita memandanginya tidak boleh melalaikan dari tugas para orangtua menjadi hamba Allah yang baik.

Allah mengingatkan kembali kepada para orangtua:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs Al Munafiqun: 9)

Seberapa kuat kita menikmati keindahan pelangi. Bisa jadi, kita yang berhenti menikmatinya. Atau pelangi itu akan segera menghilang di antara warna langit lainnya. Jika tidak berhati-hati, saat kenikmatan itu telah pergi, kita baru sadar banyak kewajiban yang telah dilalaikan. Banyak hak orang lain yang terabaikan. Banyak potensi kebesaran orangtua terhenti karenanya. Dan akhirnya bisa kehilangan kesempatan meraih keindahan abadi dan haqiqi; Surga Allah. Sungguh kerugian yang besar.

 

  1. 3. Anak yang LEMAH

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Qs. An Nisa’: 9)

Orangtua diminta agar memperhatikan benar generasi setelahnya. Tidak boleh hadir generasi lemah sepeninggal orangtuanya. Perhatian besar orangtua untuk meninggalkan segala hal yang membuat mereka kuat adalah merupakan kewajiban. Ayat ini mengingatkan agar orangtua berhati-hati jika mati belum menyiapkan anak keturunan, sehingga mereka menjadi beban masyarakat dan zaman.

Kelemahan dalam masalah keimanan. Kelemahan dalam masalah pemahaman agama. Kelemahan ibadah dan akhlak.

Para orangtua harus menyiapkan agama anak-anaknya. Karena pasti Allah akan menanyakan amanah itu kepada para orangtua.

Kelemahan dalam masalah ekonomi. Kelemahan dalam kesejahteraan. Kelemahan fasilitas.

Para orangtua bertanggung jawab jika kelemahan ini menjadi alasan jauhnya anak-anak dari Allah. Sehingga meninggalkan anak-anak dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada meninggalkan mereka meminta-minta kepada orang.

Kelemahan ilmu pengetahuan. Kelemahan wawasan dalam hidup. Kelemahan dalam kemampuan untuk menjalani hidup.

Itu artinya para orangtua harus membekali mereka ilmu, semua sarana ilmu dan wawasan serta skill anak-anak. Kesalahan fatal, ketika orangtua sibuk menikmati hidup sendiri tetapi lalai menyiapkan ilmu, wawasan dan skill anak-anak mereka.

Kelemahan dalam fisik. Kelemahan dalam jiwa dan mental. Kelemahan yang mengakibatkan mereka hanya menjadi pecundang dan bukan seorang juara.

Orangtua harus menyiapkan fisik mereka sesehat mungkin. Menjaga mereka agar tetap bugar untuk melanjutkan perjuangan. Jiwa dan mental yang kokoh berhadapan dengan keadaan apapun. Mampu hidup dan bertahan dalam keadaan paling sulit sekalipun.

Dan semua jenis kelemahan adalah merupakan peringatan yang tidak boleh muncul pada kelahiran keturunan kita.

 

  1. Anak sebagai MUSUH

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs At Taghabun: 14)

Sangat mengerikan membaca ayat ini. Allah memerintahkan agar orangtua berhati-hati terhadap anak. Karena sebagian mereka adalah musuh. Jika anak telah menjadi musuh orangtuanya, maka hilanglah sebagian besar kebahagiaan rumah tangga. Karena hiasan itu kini hanya menjadi beban, penyebab ketakutan, kesedihan dan semua kesengsaraan hidup orangtua.

Anak yang nakal, durhaka, bodoh, menjatuhkan martabat keluarga. Saat itulah anak yang dulu diasuh siang dan malam, berubah menjadi musuh yang menyedihkan, menakutkan dan menyengsarakan.

 

 

  1. Anak yang BAIK & MENYEJUKKAN PANDANGAN MATA

Allah berfirman:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Qs. Ali Imron: 38)

Allah juga berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Furqon: 74)

Inilah anak yang diharapkan oleh setiap keluarga. Untuk itulah, ayat-ayat yang digunakan untuk membahas poin ini berupa doa dan ini berbeda dengan ayat-ayat sebelumnya. Doa adalah harapan dan munajat kepada Yang Menciptakan semuanya.

Anak yang baik. Anak yang menyejukkan pandangan mata. Anak yang menyenangkan hati orangtua.

Jelas ini adalah hasil panen jerih payah orangtua. Setelah sekian lama dalam kesabaran tiada berujung, orangtua berjuang berjibaku mendidik mereka. Saat usia telah senja, tulang telah rapuh, kepala telah menyala putih, banyak keterbatasan, saat perlu bersandar, anak-anak yang baik itu benar-benar menyejukkan pandangan mata, menentramkan hati. Ibarat oase di tengah gurun sahara. Ibarat air sejuk bagi musafir yang telah lemas karena dehidrasi. Anak yang berbakti. Anak yang mengerti hak orangtua. Anak yang bisa mengangkat derajat orangtunya kelak di Surga Allah.

 

Allah yang menciptakan anak-anak bagi kita. Dia menjelaskan dalam Al Quran bahwa anak-anak itu adalah hiasan hidup orangtua. Tetapi juga sebagai cobaan hidup bagi orangtua, agar diketahui apakah orangtua lalai dari kewajibannya berdzikir kepada Allah atau tetap baik.

Untuk itulah, orangtua diingatkan Allah jangan sampai anak-anak menjadi generasi yang lemah apalagi menjadi musuh. Tetapi harus menjadi anak-anak yang baik dan menyejukkan mata.

Sekaligus amanah dari Allah agar para orangtua menjaga amanah itu dan menjadikan mereka anak-anak yang kokoh dan kuat di zamannya.

Wallahu a’lam

 

budi
Ditulis oleh Budi Ashari

http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel–keluarga/anak-parenting/46-5-posisi-anak-bagi-orangtua-dalam-al-quran

[RIP] Rest in Peace


⚠️[RIP] Rest in Peace💔

➡️ Pertama: Mengucapkan RIP (Rest in Peace) atau “Beristirahatlah dalam Damai” untuk orang yang meninggal dunia adalah kebiasaan orang-orang kafir maka tidak boleh bagi seorang muslim. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

🌴 “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka.” [HR. Abu Daud dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Al-Irwa’: 1269]

➡️ Kedua: Ucapan tersebut tidak berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan tidak pula bermakna do’a. Adapun yang disyari’atkan adalah mengucapkan istirja’ (innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’un) dan mendo’akan agar si mayit mendapatkan ampunan, dengan do’a-do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, seperti do’a Nabi shallallahu’alaihi wa sallam untuk Abu Salamah radhiyallahu’anhu, sahabat beliau yang meninggal dunia,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِى سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِى الْمَهْدِيِّين وَاخْلُفْهُ فِى عَقِبِهِ فِى الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِى قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

🌴 “Ya Allah ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya di tengah orang-orang yang mendapatkan hidayah, gantikanlah sepeninggalnya untuk orang-orang yang ia tinggalkan, ampunilah kami dan dia wahai Rabbal ‘aalamiin, luaskanlah kuburannya dan terangilah dia padanya.” [HR. Muslim dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha]

➡️ Ketiga: Ucapan tersebut mengandung kebatilan, karena kita tidak tahu kondisi orang yang mati itu, apakah ia dalam keadaan mendapatkan nikmat ataukah azab kubur. Demikian pula setelah hari kebangkitannya, kita tidak tahu apakah ia termasuk penghuni surga atau neraka. Ini jika yang meninggalkan dalam keadaan muslim, kita tidak bisa mengklaim ia pasti beristirahat dengan tenang, sebab hanya Allah ta’ala yang mengetahuinya, kewajiban kita hanyalah mendo’akannya. Akan tetapi seorang muslim itu, kalaupun ia mendapatkan azab kubur dan neraka maka azabnya tidaklah kekal seperti orang-orang kafir.

➡️ Keempat: Jika si mayit itu mati dalam keadaan kafir maka orang-orang kafir adalah penghuni neraka, bagaimana bisa dikatakan: Beristirahatlah dalam damai…?!

✅ Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

🌴 “Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (Hindu, Budha dan lain-lain) akan masuk neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]

✅ Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

🌴 “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

✅ Allah jalla wa ‘ala juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

🌴 “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” [An-Nisa’: 48, 116]

➡️ Kelima: Demikian pula tidak disyari’atkan untuk mengucapkan bagi mayyit dengan ucapan, “Almarhum” (yang dirahmati), karena kita tidak dapat memastikan hal tersebut, yang disyari’atkan bagi kita adalah mendoakan seorang mukmin agar dirahmati, adapun orang kafir yang mati maka haram untuk didoakan rahmat dan ampunan. Disebutkan dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

المشروع أن يقال في حق الميت المسلم: رحمه الله، لا المرحوم

🌴 “Disyari’atkan untuk dikatakan bagi mayyit yang muslim adalah, “Rahimahullah” (semoga Allah merahmatinya), bukan “Almarhum” (yang dirahmati).” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/141 no. 4335]

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📲 Gabung Channel Telegram Ta’awun Dakwah: https://telegram.me/taawundakwah

🌐 Sumber: http://sofyanruray.info/ri

🔥DUA JENIS HUTANG⚡️


🔥DUA JENIS HUTANG⚡️

➡️Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

الدَّيْنُ دَيْنَانِ فَمَنْ مَاتَ وَهُوَ يَنْوِي قَضَاءَهُ فَأَنَا وَلِيُّهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَا يَنْوِي قَضَاءَهُ فَذَلِكَ الَّذِي يُؤْخَذُ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ يَوْمَئِذٍ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

👉“Hutang itu ada dua bentuk, barangsiapa yang mati dalam keadaan berniat melunasi hutangnya maka aku adalah walinya, dan barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak berniat melunasinya maka itulah yang akan diambil kebaikan-kebaikannya pada hari kiamat, yang ketika itu tidak bermanfaat lagi dinar dan dirham.” [HR. Ath-Thabrani dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jaami’: 3418]

 

Pusat Busana Muslim Branded Berkualitas

 

📋#Beberapa_Pelajaran:

1) Bahaya perbuatan zalim, orang yang berbuat zalim di dunia maka di akhirat kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi, atau sebaliknya apabila kebaikan-kebaikannya tidak mencukupi untuk membayar kezalimannya maka dosa-dosa mereka ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilempar ke neraka, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

👉“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak memiliki dinar dan harta”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

👉“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah seseorang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, zakat, namun dia pernah mencaci fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan dan memukul fulan. Maka diambil kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah ia zalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilempar ke neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

2) Termasuk perbuatan zalim yang besar adalah menunda-nunda pembayaran hutang dalam keadaan mampu membayar dan sudah jatuh tempo, apalagi yang tidak berniat bayar sama sekali.

3) Keadilan Allah subhanahu wa ta’ala dalam hadits ini jelas terlihat dari dua sisi:

✅ Pertama: Semua kezaliman kepada hamba-hamba-Nya akan dibalas pada hari kiamat.

✅ Kedua: Orang yang berhutang dan berniat bayar namun belum mampu untuk membayar sampai ia meninggal dunia maka tidak digolongkan sebagai orang yang zalim.

4) Harta yang dimiliki seseorang di dunia tidak sedikit pun dapat menyelamatkannya dari azab Allah ta’ala di akhirat kelak karena kezaliman yang ia lakukan di dunia.

5) Peringatan bagi ahli waris untuk segera membayar hutang mayyit apabila ia meninggalkan harta, dan kewajiban ini harus mereka tunaikan sebelum membagi harta warisannya.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

💾🌐Sumber: http://sofyanruray.info/dua-jenis-hutang/

Belajar Berterima Kasih


Fitri menerima mainan yang diulurkan Siska. “Terima kasih, ya!” mulut mungilnya berucap ringan. Wajahnya berbinar senang. Inilah kali pertama dia memegang mainan berharga mahal. Sebuah robot kecil yang digerakkan baterai. Bisa berjalan sendiri seraya mengeluarkan berbagai suara bergantian. Biasanya hanya mainan plastik lima ribuan yang diterimanya dari bapak atau kakak-kakaknya. Dia benar-benar terkejut!

Pun demikian halnya dengan Siska. Dia tidak menyangka mainan yang hampir dibuangnya itu masih sangat berharga bagi Fitri, teman barunya. Lagi pula, apa sih istimewanya memberikan mainan bekas? Tentu saja ucapan terima kasih itu mengejutkannya. Tapi dia suka, karena ucapan itu memberikan rasa nikmat di hatinya. Dia merasa baru saja melakukan sebuah perbuatan berharga. Dia sangat bahagia.

Memang, tidak semua anak terbiasa mengucapkan ‘terima kasih’ atas sebuah pemberian atau bantuan yang mereka terima dari orang lain. Meski sebenarnya pengucapannya tentulah merupakan tindakan terpuji, anak-anak toh belum tahu apa manfaatnya bagi mereka dan orang lain. Juga kenapa mereka harus melakukannya.

Kitalah sebagai orang tua yang harus membimbing dan mengarahkan mereka agar bisa berterima kasih. Sebab sikap anak-anak yang terkesan tidak menghargai bantuan atau pemberian orang lain dengan diamnya mereka, bukan berarti mereka tidak tahu berterima kasih. Mereka hanya tidak mengerti untuk apa mengatakannya. Juga kapan dan bagaimana menyatakan perasaan mereka. Mereka tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya.

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

Ungkapan terima kasih bisa mewakili perasaan rendah hati karena dibantu dan diberi perhatian. Mengesankan perasaan membutuhkan dan tahu membalas budi. Kemudian, mensyukurinya dengan menghargai dan menghirmati si pemberi. Hal ini akan mendatangkan kebahagiaan bagi si pemberi selama ucapan yang keluar dari lisan adalah kalimat tulus disertai wajah cerah berseri. Namun, jika yang terdengar adalah suara ketus yang terkesan meremehkan, tentu saja ucapan itu justeru menyakitkan hati pendengarnya.

Ucapan terima kasih yang ‘berjiwa’ –karena berasal dari hati yang ikhlas- inilah yang mesti kita ajarkan kepada anak-anak. Agar ucapan yang keluar dari lisan-lisan mereka bukanlah kata-kata kering yang verbalistik, tapi ungkapan hati yang simpatik. Agar pula perasaan dihargai, dibutuhkan dan disyukuri pemberiannya bisa membahagiakan si pemberi.

Pertama yang kita lakukan tentu saja adalah memberi contoh. Inilah metode terbaik sekaligus termudah yang bisa kita kerjakan. Usia anak-anak –terutama 2 sampai 3 tahun pertama- adalah usia peniruan model. Mereka akan mencoba apa yang diucapkan dan dilakukan orang lain di lingkungannya. Perilaku yang sebenarnya menunjukkan bahwa mereka sedang belajar seiring perkembangan kemampuan kognitif mereka.

Awalnya, kemampuan ini berpusat pada penguasaan bahasa, sehingga yang pertama kali mereka tiru adalah bahasa yang digunakan orang-orang di sekitar mereka.

Caranya bisa dengan mengucapkan terima kasih atau ‘jazaakumullah’ kepada mereka setiap kali mereka memberikan bantuan atau melakukan tindakan manis yang menyenangkan. Selain itu, kita bisa juga melakukannya dengan pengucapan yang jelas di depan mereka, baik saat kita atau mereka menerima pemberian, bantuan atau tindakan yang baik dari orang lain. Konsistensi orang tua dalam setiap pilihan tindakan mereka, jelas akan besar pengaruhnya bagi anak-anak.

Agar anak-anak memahami perasaan orang lain, kepekaan hati mereka harus dilatih. Kita bisa saja mengajak mereka memberikan ‘sesuatu’ kepada orang lain di sekitar mereka. Mengambilkan obat bagi nenek yang sakit, memberikan sepotong kue kepada kakak atau pekerjaan lain yang sejenis. Meski tampak sedrhana, aktifitas-aktifitas ini –dan ucapan terima kasih yang mengiringinya-, akan menjadi pengalaman yang mengesankan bagi mereka. Dan ini akan sangat membahagiakan.

Dari hal-hal seperti inilah mereka tahu betapa berharganya tindakan mereka bagi orang lain. Darinya pula mereka akan belajar betapa menyenangkannya diperlakukan secara simpatik dengan ucapan itu. Juga betapa tidak enaknya jika bantuan yang diberikan, diremehkan orang lain. Pemahaman ini merupakan dasar bagi mereka untuk bersikap sama kepada orang lain. Sebab, mereka banyak belajar dari pengalaman pribadi mereka.

Tentu saja akan baik sekali, jika kita ajak mereka melakukan kegiatan sosial. Semisal mengumpulkan pakaian, makanan atau mainan, untuk kemudian disumbangkan kepada yang membutuhkan. Bisa tetangga kanan kiri, pengemis, atau anak-anak panti asuhan. Darinya mereka akan belajar mensyukuri kenikmatan yang selama ini mereka rasakan. Sebab seringkali, anak-anak yang hidup berkecukupan, kurang bisa bersyukur atau mengucapkan ‘terima kasih’ atas apa yang mereka dapatkan.

Pengalaman melihat anak-anak lain yang kurang beruntung, Insya Allah akan mengembangkan kepekaan hati, sekaligus menyadarkan, betapa beruntungnya mereka.

Satu hal yang harus kita hindari adalah memaksa anak-anak untuk mengucapkan ‘terima kasih’. Hal ini hanya akan membuat mereka terluka sebab merasa harga diri mereka dinodai. Meski mungkin akan keluar juga ucapan itu, tentu saja adalah sebuah ucapan tak acuh dan dingin. Padahal, terima kasih yang tulus dan hangatlah yang diharapkan setiap manusia. Silakan mencoba! Wallahu A’lam.

TRIASMOROKURNIAWAN

 

https://triasmorokurniawan.wordpress.com/2012/03/27/belajar-berterimakasih/