Tag Archive | muhammad nursani

TA’LIIFUL QULUUB (Menjinakkan hati-hati)…


TA’LIIFUL QULUUB (Menjinakkan hati-hati)…


“Ruh-ruh itu adalah tentera-tentera yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu) dan bersatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”.
 (HR. Muslim)Inilah karektor roh dan jiwa manusia, ia adalah tentera-tentera yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentera Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya. Allah berfirman yang artinya:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan rohani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)

Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi kerana Allah hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:

1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang

Kasih sayang adalah fitrah semulajadi dalam jiwa setiap manusia, siapapun memilikinya sesungguhnya ia memiliki segenap kebaikan dan siapapun yang kehilangannya sesungguhnya ia ditimpa kerugian. Ia menghiasi yang mengenakan dan ia menistakan yang menanggalkan. Demikianlah wasiat manusia yang agung akhlaknya.Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap bermuka-muka dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasihat menasihati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi. Hanya ketulusan cinta yang sanggup mengalirkan mata air kehidupan ini, maka saringlah mata airnya agar tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan nasihatnya dengan bahasa empati dan tumbuhkan penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan diri. Maka nescaya ia akan menyejukkan pandangan mata yang menanam dan menjengkelkan hati orang-orang kafir (QS.48: 29).

2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan

Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya dan akan layu kerana tertutup oleh cahaya-Nya. Maka bukalah pintu hatimu agar tidak tertutup oleh sifat kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit merasa cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan hatimu dengan sumber segala cahaya (Al-Quran) nescaya ia akan menyedarkan hati yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan. Hanya dengan cahaya, kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan memudar hingga tanpak jelas kebenaran dari kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasihat dari menelanjangi, memahamkan dari mendikte, objektivitas dari subjektivitas, ilmu dari kebodohan dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya dengan sinar cahaya-Nya, jendela hati ini akan terbuka. “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci”. (QS. 47:24)

3. Bersihkan dengan sikap lapang dada

Minima cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimanya adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al Banna. Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan berhadapan dengan beragam orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara” inilah pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi pedoman dalam kehidupan. Sikap berlapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta difahami, selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap berlapang dada yang benar bila kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logik orang lain dengan logik kita, maka berlapang dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekadar berkata-kata. “Tidak sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. ( HR. Bukhari Muslim)

4. Hidupkan dengan Ma’rifat

Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan berma’rifat kepada Allah dengan sebenar-benar ma’rifat. Ma’rifat bukanlah sekadar mengenal atau mengetahui secara teori, namun ia adalah pemahaman yang telah mengakar dalam hati kerana terasah oleh banyaknya renungan dan tadabbur, tajam oleh banyaknya zikir dan fikir, sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada sedikitpun waktu tersisa untuk menanggapi ucapan orang-orang yang jahil terlebih menguliti kesalahan dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa untuk menyebarkan informasi dan berita yang tidak akan menambah amal atau menyelesaikan masalah terlebih menfitnah atau menggosip orang. Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. “Di antara ciri kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”. ( HR. At Tirmidzi).

5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan

“Pasukan yang tidak punya tugas sangat berpotensi membuat kekacauan” inilah pengalaman medan para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi dalam kehidupan berjamaah ini. Kerinduan akan syahid akan lebih banyak menyedut tenaga kita untuk beramal dari berpangku tangan, lebih berkompetisi dari menyerah diri, menyibukkan untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk banyak berfikir hal-hal yang pokok dari hal-hal yang cabang. “Dan barang siapa yang meminta kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaupun ia meninggal di atas tempat tidurnya”. ( HR. Muslim)

“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah bersatu berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahay-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.

Amin…

Tahaluf Siyasi Dalam Islam; Perspektif Sirah Nabawi


Islam al-Din yang mudah difahami. Jangan dipersulitkan apa yang mudah,
termasuk hukum hakam dan persoalan tahaluf yang hangat diperdebatkan
sekarang. Rujukan kita ialah al-Quran, al-Sunnah, Ijma’ dan Qias.
Termasuk ke dalam al-Sunnah itu ialah memahami Sirah Nabawi yang
menjadi gambaran jelas kehidupan Rasulullah SAW dalam segenap sudut
geraklakunya. Jadikanlah diri kalian mereka yang celik Sirah. Jauhkan
diri kalian daripada kekeliruan dalam menentukan halatuju yang sudah
jelas ini.

Mari kita merenung hakikat yang saya sebutkan di atas dalam konteks
‘Tahaluf Siyasi Dalam Islam’ oleh TG Dr Haron Din Hafizhohullah…

‘Tahaluf Siyasi Islami’ adalah suatu polisi yang diasaskan oleh
Rasulullah s.a.w., dirangka suatu pelaksanaan dasar Islam dalam
masyarakat majmuk di zaman baginda.

Oleh kerana Islam lahir dan berkembang dalam sebuah negara yang
masyarakatnya (majmuk) berbilang bangsa dan agama, maka keperluan
untuk mewujudkan kerjasama di antara kaum dan agama, adalah sesuatu
yang tidak dapat dielakkan.

Ia pasti berlaku, jika tidak Islam akan tersisih dari arus penghidupan
dan tertinggal di belakang, tanpa dipedulikan.

Masyarakat Madinah sebagai contoh, adalah masyarakat yang terdiri
daripada masyarakat yang berbilang agama, iaitu Islam, Yahudi,
Nasrani, Majusi, Dahri, Wathani dan sebagainya.

Ia juga mempunyai pelbagai bangsa Arab, Balbar, kaum Yahudi, kaum
Nasrani dan sebagainya.

Jika itulah realitinya, maka bagaimana Islam boleh hidup bersefahaman,
dan mereka yang tidak Islam boleh menerima Islam.

Jika tidak ada tonggak yang menyatupadukan masyarakat, dalam sebuah
negara, maka di atas itu mestilah ada kerjasama yang disebutkan
sebagai tahaluf siyasi.

Rasulullah s.a.w. bertahaluf siyasi dengan Yahudi Bani Auf, tercatat
dalam perjanjian tahaluf, iaitu pada perkara pertama disebut:
“Kaum Yahudi Bani Auf adalah satu umat bersama dengan orang Mukmin.
Mereka bebas mengamalkan agama mereka sendiri dan orang Islam dengan
agama mereka. Begitu juga dengan orang-orang yang bersekutu dengan
mereka, termasuk juga diri mereka sendiri. Perkara ini juga untuk
Yahudi-Yahudi lain dan bukan untuk Bani Auf sahaja.”

Cuba renungkan perjanjian atau persefahaman yang Rasulullah s.a.w.
buat, bukan di antara orang Islam dengan Bani Auf sahaja, tetapi
dengan kesemua kaum Yahudi.

Ertinya jika dengan Yahudi pun Nabi s.a.w bertahaluf, maka anda harus
faham mengapa PAS bertahaluf dengan DAP.

Apa yang PAS lakukan adalah benar dan harus dari segi syarak, iaitu
bertahaluf dengan DAP.

Di dalam al-Quranul Karim, Allah berfirman (mafhumnya): “Allah tidak
melarang kamu daripada berbuat baik (bekerjasama) dan berlaku adil
kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agama (kamu), dan
tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah
mengasihi orang-orang yang berlaku adil.
“Sesungguhnya Allah hanyalah melarang kamu daripada menjadikan teman
rapat orang-orang yang memerangi kamu kerana agama (kamu), dan
mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu, serta membantu (orang
lain) untuk mengusir kamu. Dan (ingatlah), sesiapa yang menjadikan
mereka teman rapat, maka mereka itulah orangorang yang zalim.” (Surah
alMumtahanah, ayat 8 dan 9)

Jika jelas sebegitu, apakah anda masih tidak boleh terima? Yang
penting tindakan PAS tersebut adalah syarie dan boleh disokong
orang-orang Islam.

Namun demikian, tahaluf siyasi dalam Islam bukannya qat’ie atau yang
mesti diikut selama-lamanya. Ianya suatu keperluan di suatu masa,
selagi kepentingan Islam tidak benar-benar tergugat dan tidak mendapat
keuntungan daripada bertahaluf. Ertinya ia tidak selama-lamanya.

Jika keberuntungan kepada Islam terjejas, kedaulatan Islam tidak
terbela, maka tahaluf ini, dari segi hukumnya boleh disemak semula.
Wallahua’lam. ”

UsTACZ

BAGAIMANA MENANAMKAN HIMMAH YANG TINGGI/HIMMAH ‘ALIYAH


BAGAIMANA MENANAMKAN HIMMAH YANG TINGGI/HIMMAH ‘ALIYAH

Oleh : Sheikh Hasan Al-Bugisy
(Terjemahan)

Rasulullah s.a.w bersabda : ”Nama yang tepat bagi seorang muslim adalah Hammam dan Harist dan nama yang paling Allah cintai adalah Abdullah dan Abdurrahman “.
Al Hammam adalah niat yang kuat, sedangkan “Al Harits” adalah sosok dari hasil Himmah atau hammam iaitu bekerja untuk mendapatkan obsesi/keinginan tersebut. Jadi setiap manusia punya keinginan, namun tidak semua manusia memiliki keinginan “Himmah yang kuat”.

A.DEFINISI HIMMAH

Himmah tidak boleh dilihat secara dhohir kerana Himmah adalah masalah yang lahir dari hati dan akal fikiran manusia, bukan masalah amal. Dari segi bahasa Himmah bererti “An Niyyah“ (niat), “Iradah” (kehendak), “Al ‘azimah” (tekad). Dalam makna ini terdapat tiga kata yang berbeza iaitu berupa niat yang sifatnya biasa, kemudian iradah atau kehendak yang kuat lalu dilanjutkan dengan tekad untuk melaksanakan kehendak tersebut.

Allah SWT berfirman : “ Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda dari tuhannya ( QS. Yusuf : 24)

Dalam ayat ini boleh diertikan bahawa belum ada tindakan atau amal, tapi masih berupa Himmah, niat. Dalam ayat tersebut terdapat kata “wahamma biha” yang ertinya keinginan terhadapnya (wanita tersebut). Bukankah Nabi Yusuf a.s adalah seorang nabi, bagaimana mungkin dia memiliki Himmah kepada wanita tersebut ? Dalam kaedah bahasa Arab ada istilah “takdim wa takhir” (kalimat didahulukan dan diakhirkan). Jadi menurut kaedah ini bererti seandainya Nabi Yusuf a.s tidak mendapatkan petunjuk dari Allah SWT, pasti Nabi Yusuf a.s. juga berkeinginan terhadap wanita tersebut. Maka pada hakikatnya bahawa Nabi Yusuf a.s. tidak berkeinginan terhadap wanita tersebut kerana sebelumnya beliau telah mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.

Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesunggunya Allah telah menetapkan kebaikan-kebaiakan dan kejahatan-kejahatan kemudian menjelaskannya, maka barang siapa yang bermaksud berbuat kebaikan lalu belum sempat mengerjakannya, Allah mencatat di sisiNya sebagai satu kebaikan sempurna. Dan jika dia bermaksud berbuat kebaikan lalu dia mengerjakannya, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan dan akan dilipat gandakan sampai tujuh ratus lebih, hingga dilipatgandakan yang banyak sekali. Dan jika dia bermaksud berbuat kejahatan, tetapi dia tidak mengerjakannya, Allah mencatat baginya disisiNya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika bermaksud berbuat kejahatan dan melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kejahatan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah s.a.w. menjelaskan bahawa Himmah ada 2 iaitu :
1. Himmatul ‘Aliyah (Obsesi yang kuat)
2. Himmatud Daniyah (Obsesi yang rendah)

Sesungguhnya Allah SWT mencintai perkara-perkara yang mulia dan membenci perkara-perkara yang rendah atau hina. Allah SWT mencintai perkara yang tinggi / mulia baik dalam amal, agama, da’wah di jalan Allah SWT.. Allah SWT membenci perkara-perkara rendah, tidak bernilai dan hina, baik berupa perkara-perkara yang haram maupun yang harus.

B.‘ULUWWUL HIMMAH (OBSESI YANG TINGGI)

Seseorang dikatakan memiliki ‘uluwwul Himmah atau Obsesi yang tinggi iaitu ketika seseorang telah menganggap remeh segala perkara-perkara di bawah cita-citanya. Misalnya seorang Da’i yang bercita-cita untuk menyebarkan agama Allah SWT. Dia dikatakan memiliki Himmah yang tinggi, ketika dia telah menganggap remeh perkara-perkara selainnya, ketika dia tidak memperduli apapun tentangan dan pengorbanan yang harus dibayar mahal untuk memenuhi tujuan tersebut.

Diceritakan dalam riwayat da’wah Rasulullah s.a.w. ketika orang – orang Quraish mendatangi paman Rasulullah s.a.w, iaitu Abu Thalib dan memintanya supaya memujuk Rasulullah s.a.w. agar menghentikan da’wahnya. Setelah Abu Thalib menyampaikan perihal tersebut. Rasulullah s.a.w. berkata : “Wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan da’wah ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga aku binasa”. Kisah Rasulullah s.a.w. ini menunjukkan tingginya Himmah Rasulullah s.a.w. dalam memperjuangkan agama Allah ini. Baginda telah menganggap remeh semua perkara-perkara yang menghambat da’wah Islamiyah.

C. ‘DUNUWWUL HIMMAH (OBSESI YANG RENDAH)

Iaitu ketika jiwa lemah terhadap tingkatan perkara-perkara yang tinggi atau mulia dan lebih memilih redho pada perkara-perkara yang rendah. Jadi orang yang memiliki obsesi rendah ini adalah orang lemah, rendah yang tidak mau mencari masalah dan sayangnya majoriti kaum muslimin sekarang berada dalam tingkatan ini.

Diriwayatkan tentang panglima perang di masa pemerintahan seorang Gabenur Basrah yang bernama Al-Hajjaj. Al-Hajjaj memerintah panglimanya untuk memerangi orang-orang Khawarij yang jumlahnya lebih kurang 200 orang sedangkan panglima ini memiliki pasukan lebih kurang 1000 orang. Sungguh pertempuran yang tidak seimbang. Namun orang Khawarij terkenal sebagai orang-orang yang memiliki keberanian dan kejujuran. Orang Khawarij adalah orang yang tidak mudah putus asa dalam mewujudkan keinginannya. Hingga akhirnya dalam pertempuran itu ternyata pasukan Khawarij memenangi peperangan tersebut. Setelah peperangan selesai, dengan membawa kekalahan panglima kembali menghadap gabenor Al-Hajjaj. Al-Hajjaj bingung mengapa pasukan Khawarij yang jumlahnya sedikit mampu mengalahkan pasukan yang jumlahnya lebih banyak ? Ternyata panglima perangnya adalah orang yang memiliki Himmah rendah, yang lebih baik pulang dalam keadaan hidup, walaupun harus dicaci maki gabenor daripada mati walaupun terkenal dan terhormat. Dalam kisah ini menunjukkan lemahnya Himmah yang dimiliki oleh panglima perang ini. Dia lebih memilih hidup dalam kehinaan daripada mati dalam kemuliaan.

MANUSIA DAN HIMMAH

Setiap manusia secara umum memiliki keinginan atau Himmah, namun tiap-tiap seseorang memiliki tingkatan Himmah yang berbeza-beza sehingga dalam hidup terdapat perbezaan-perbezaan tingkatan amal.
Firman Allah SWT: “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeza-berbeza” (QS. Al Lail : 4)

Berdasarkan ayat ini, amalan manusia dibedakan dalam 2 hal iaitu :
1. ‘Imma lillah yaitu amal yang dikerjakan semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT
2. ‘Imma lighairihi yaitu amalan yang dikerjakan bukan karena Allah SWT.. Amalan seperti ini adalah amalan yang dilakukan oleh orang yang memiliki obsesi rendah.
‘Immalillah adalah amalan yang dimiliki oleh orang memiliki obsesi tinggi yang mengejar kemuliaan. Dan ini hanya dilakukan oleh orang yang memiliki iman yang teguh dan kuat mencari kemuliaan disisi Allah SWT.. Dalam ayat berikutnya Allah memberi jaminan kemudahan baginya.

Allah SWT berfirman :”Adapun orang yang memberikan hartanya (dijalan Allah) dan bertaqwa. Dan membenarkan adanya pahala yang baik (syurga), maka Kami kelak akan menyediakan baginya jalan yang mudah”. (QS. Al Lail : 5-7)

Adapun untuk orang-orang yang memiliki Himmah rendah, yang mengerjakan amalan bukan kerana Allah SWT, tapi kerana nafsu dan keinginan dunia maka Allah memberikan ancaman padanya.

Allah SWT berfirman : “Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyediakan baginya jalan yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa”. (QS. Al Lail : 8 – 11)

Itulah balasan bagi orang yang berpaling dari jalan Allah SWT yang melakukan amalan bukan kerana Allah SWT.. Dan apabila dia diberikan kemudahan oleh Allah SWT sesuai sunnatullah, namun dengan mudahnya berakhir dengan azab, kesengsaraan dan kebinasaan di sisi Allah SWT.

D. PEMBAHAGIAN MANUSIA MENURUT ULAMA

Dilihat dari kadar obsesi atau Himmah-nya, Ulama membahagi kelompok manusia dalam 4 keadaan:

1. ‘Adzhimul Himmah iaitu orang yang memiliki cita-cita yang sangat besar. Yang memiliki al- Kifayah (kapasiti), mempunyai kesempatan, kemampuan untuk mencapai cita-cita lalu berusaha untuk mendapatkannya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata : “Aku dahulu bercita-cita untuk mendapatkan kedudukan gabenor di Madinah, dan kini aku telah mendapatkannya. Kemudian aku berkeinginan untuk mendapatkan kedudukan sebagai Khalifah kaum muslimin di Madinah dan akupun telah mendapatkannya. Kini aku telah dapatkan semuanya, maka cita-citaku adalah untuk mendapatkan Syurga Allah SWT. kerana tidak ada kedudukan yang lebih tinggi setelahnya”.

Ibnu Mubarak ditanya : “Siapakah orang yang paling zuhud ? Beliau menjawab :
“Orang yang paling zuhud adalah Umar bin Abdul Aziz, kerana dia telah didatangi dunia, namun dia menolaknya.”

Inilah kisah Umar bin Abdul Aziz, beliau adalah contoh orang yang memiliki Himmah aliyah. Beliau adalah orang yang memiliki kredibiliti kerana keilmuannya, punya kesempatan kerana dia adalah keturunan Muawiyah.

2. Shoghirul Himmah iaitu orang yang memiliki kifayah, kemampuan dan kesempatan tetapi lebih memilih melakukan hal-hal yang remeh atau rendah.

Diriwayatkan tentang seorang khalifah selepas pemerintahan Muawiyah. Dia didatangi oleh petugas pos, dan berkata : “Wahai Amirul Mu’minin! Sesungguhnya kota di sana sedang diserang oleh musuh“. Mendengar laporan petugas pos ini khalifah tidak menanggapinya. Malah dia berucap “Da’ni wa sa’di”(memangnya aku fikirkan).
Konon ceritanya khalifah ini suka memelihara burung merpati. Ketika petugas pos melapor, khalifah sedang kehilangan 1 ekor burung merpatinya. Sehingga dia menganggap bahawa burungnya lebih berharga daripada keadaan rakyatnya. Kisah ini menunjukkan tentang keadaan orang yang memiliki kemampuan, kedudukan dan kesempatan baik, namun dia memilih melakukan hal yang rendah.

3. Orang yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan obsesi tinggi, tetapi berlagak memiliki kemampuan besar.

Datanglah seseorang menghadap Imam Ahmad lalu berkata: ”Wahai Imam Ahmad, ada seseorang yang sedang kemasukan jin”. Mendengar laporan orang ini Imam Ahmad menjawab : “Kembalilah, sampaikan kepada Jin bahawa Imam Ahmad menyuruhnya keluar”. Lalu orang ini kembali dan menemui orang yang kemasukan jin yang dia maksudkan. Sesampainya di sana dia berkata kepada jin bahawa Imam Ahmad menyuruhnya keluar. Mendengar perkataan orang ini, jin inipun akhirnya keluar. Lalu setelah Imam Ahmad meninggal, jin inipun datang lagi dan merasuki seseorang lagi. Kemudian kerana Imam Ahmad sudah meninggal, orangpun mendatangi orang yang dulu menemui Imam Ahmad dahulu dan dikatakan padanya kalau ada orang kerasutan jin. Mendengar penyampaian ini orang yang dulu menghadap Imam Ahmad menganggap kalau dulu Imam Ahmad mengusir jin hanya dengan menyuruh orang saja, maka diapun berbuat serupa. Dia menyuruh orang tersebut : “Kembalilah, katakan pada jin bahawa aku menyuruhnya keluar. Lalu pulanglah orang ini dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Namun setelah perintah itu dilakukan jin tersebut tidak juga keluar. Kemudian dia bertanya kepada jin. “Kenapa dulu ketika Imam Ahmad menyuruhmu keluar engkau langsung keluar, sedangkan sekarang ketika aku suruh engkau tidak mau keluar” Jin menjawab :” dulu aku takut kepada Imam Ahmad kerana ketakwaannya”.

4. Al bashiiru binafsihi iaitu orang yang tau diri, yang tidak memiliki kemampuan tinggi dan tidak menempatkan dirinya untuk melakukan hal yang besar.

E. BEBERAPA FENOMENA ORANG YANG PUNYA HIMMAH RENDAH

1. Berkaitan tentang keupayaan seorang muslim menuntut ilmu. Ketika dia tidak mau mempelajari hal-hal yang wajib dilakukan oleh muslim. Misalnya mempelajari tentang rukun-rukun sholat dan lain-lain.

2. Ketika orang menuntut ilmu bukan untuk mendapatkan manfaat dari ilmu, atau menuntut ilmu bukan untuk dida’wahkan tetapi hanya untuk mendapatkan ijazah ataupun pekerjaan semata.

3. Ketika orang menuntut ilmu supaya nampak hebat dalam berdebat, pandangan orang tertuju padanya.

4. Ketika seseorang yang baru menuntut ilmu dan baru mendapatkan hidayah, begitu mudah memberikan tahzir atau cap buruk pada ulama atau orang yang lebih berilmu di atasnya. Kerana sepatutnya seseorang apabila semakin berilmu semakin takut pada Allah.

5. Ketika seorang da’i yang berda’wah di jalan Allah SWT, kemudian mendapatkan tentangan berda’wah, dia berhenti. Kerana sepatutnya seorang da’i ketika mendapatkan da’wah harus tegas. Ketika agama memintanya meninggalkan kepentingan peribadinya dia bersedia.

6. Ketika kita takut kepada manusia iaitu :

. Takut jangan sampai orang lain tergolong menjadi musuh Islam, ketika kita berda’wah kita dicap sebagai orang yang fundamentalis, ekstrim atau bentuk kata-kata teroris lainnya. Padahal ucapan/cap/opini public yang diwara-warakan buruk tentang Islam adalah hal yang sengaja dilakukan oleh mereka agar kaum muslimin lemah.
• Berputus asa ketika dalam berda’wah tidak disambut baik oleh orang. Putus asa kerana orang menjauhi perjuangannya. Padahal semestinya kita sedar bahawa prinsip dasar kita dalam berda’wah adalah hanya menyampaikan agama Allah SWT, adapun orang mau menerima atau tidak adalah hak Allah SWT
Allahu A’lam

PENYEBAB TINGGI DAN RENDAHNYA HIMMAH

Iaitu perkara yang apabila seseorang meninggalkan atau menjauhi hal-hal yang menyebabkan rendahnya Himmah dan semangat itu dia akan mendapatkan pertolongan Allah SWT untuk tetap dalam himman yang aliyah.

1. Tabiat Manusia

Kerana Allah SWT telah menciptakan manusia sesuai dengan tabiatnya masing-masing oleh kerana itu hendaknya seseorang memahami tabiatnya dan memilih tempat-tempat yang tepat sesuai dengan tabiat yang dia miliki untuk mengembangkan potensi diri yang ada padanya, misalnya ada orang yang diberikan kemampuan untuk berfikir, maka hendaknya ia berusaha dalam meningkatkan semangatnya tersebut seperti mengurus pejabat, menulis, mengeluarkan idea-idea yang baik, kemudian menggambarkan tujuan-tujuan, menyusun program-program kerja dan lain-lain. Ada orang yang diberikan kemampuan untuk senang bergerak ke sana ke mari, kalau urusan di medan dialah yang sesuai, maka orang seperti ini mencari kerja-kerja yang memenuhi tabiatnya tersebut.

Rasulullah s.a.w. ketika melihat potensi-potensi para sahabat sesuai dengan tabiat yang mereka miliki, maka beliau memberikan semangat dan menempatkan para sahabat sesuai dengan potensinya.

Contohnya Abu Hurairah R.a diberi gelar atau disebutkan wadah dari ilmu, kerana Rasulullah s.a.w. melihat beliau kuat hafalannya dan sangat mudah menimba ilmu dan menerima hadist dari Rasulullah s.a.w. sehingga dikenali sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist.

Khalid Bin Walid r.a, misalnya, beliau ini bukan termasuk sahabat yang banyak menghafal dan bukan pula setaraf sahabat yang banyak meriwayatkan hadist dan penuntut ilmu, akan tetapi Rasulullah s.a.w, melihat beliau ini tangkas di medan peperangan dan mimilki kemampuan dalam berperang, sehinga Rasullullah s.a.w, demikian pula sahabat seperti Abu Bakar r.a, dan khalifah setelahnya mengangkat beliau sebagai panglima perang untuk melawan orang-orang kafir, bahkan beliau diberi gelar sebagai saif min suyufillah (pedang dari pedang-pedang Allah).

Demikian dengan yang lain, adapun Ali bin Abi Thalib r.a, dan Muadz bin Jabal r.a, mereka ini adalah orang-orang yang faham tentang halal haram dan faham dalam masalah qoda’/hukum-hukum maka sahabat tersebut terkenal dengan hukum-hukumnya tersebut kerana orang-orang yang bergelut dalam masalah ini seperti qodi atau hakim harus memiliki ketajaman dalam mempraktikkan daripada nash-nash yang ada tersebut. Sehingga Rasulullah s.a.w, betul-betul dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki para sahabat Maka hendaknya kita melihat tabiat masing-masing sehingga kita dapat memilih tugas yang sesuai dengan potensi yang dimiliki, supaya Himmah kita tetap terjaga.

2. Bagaimana bapak dan ibu mentarbiyah anak-anaknya di rumah

Rasulullah s.a.w, bersabda yang ertinya : “Tidaklah lahir seorang anak kecuali dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”

Jika kita melihat hadist tersebut, ini dalam perkara-perkara agama di mana orang tua sangat berpegaruh dalam pembinaan Himmah anak-anaknya. kalau orang tua senantiasa mengajarkan perkara-perkara yang tinggi, perkara yang memiliki keutamaan yang besar baik, maka insya Allah SWT anak akan terbentuk seperti didikan orangtuanya.

Tetapi sebaliknya jika orang tua senangtiasa mengajarkan hal-hal yang hina dan kurang bermamfaat maka anak tersebut akan terbentuk menjadi seperti itu pula. Banyak contoh di kalangan para sahabat, sebagai contoh Zubai ibnu Awwam r.a, di mana sahabat ini dijamin masuk syurga oleh Rasulullah s.a.w, . Beliau ini senantiasa mengajarkan anaknya berperang sampai dalam satu kondisi beliau sampaikan kepada anaknya bahwa siapa yang paling duluan masuk dalam pasukan musuh dan paling cepat kembali. Ini salah satu contoh sahabat yang membina anaknya dengan menanamkan Himmah Aliyah sehingga tidak heran kalau Ibnu Zubair menjadi seorang khalifah, karena sejak awal terlatih seperti itu contoh lain adalah kisah pada perang badar, ada dua anak kecil di antar para sahabat bertanya manakah yang bernama Abu Jahal, lalu berkata kami akan mencari Abu Jahal dan berusaha membunuhnya, dia yang mati atau kami yang terbunuh padahal mereka masih anak-anak, lalu mereka berhasil membunuhnya.

Ini karena mereka telah tertarbiyah sejak kecil. Kerana itu seorang penyair mangatakan “ibu itu adalah madrasah atau tempat belajar yang pertama”. Kalau ibu dipersiapkan dengan baik, maka akan lahir generasi yang baik.

Dalam situasi kita sekarang ini banyak orang tua tidak memperhatikan anaknya, membiarkan anaknya banyak bermain, mendengarkan musik, bergelut dengan urusan-urusan hina yang tidak bermanfaat, atau orang tua tidak memilihkan bagi mereka teman-teman yang baik dan tidak memerintahkan anaknya mengerjakan sholat sehingga mereka membesar dalam keadaan seperti itu. Oleh kerana itu, agar Himmah itu tetap ada maka hendaknya orang tua mentarbiyah anaknya di rumahnya.

3. Masyarakat yang baik

Apabila masyarakat itu adalah masyarakat yang solehah di dalamnya senantiasa dibina akhlak yang mulia maka darinya akan lahir orang yang baik pula. Juga sebaliknya apabila masyarakat memiliki biah (suasana)yang buruk, hidup dalam suasana yang kurang baik, maka akan hidup individu-individu yang buruk pula.

Contohnya Rasulullah s.a.w, menceritakan kepada para sahabat kisah seorang daripada Bani Israil yang telah membunuh 99 orang yang ingin bertaubat, mencari orang yang paling alim di dunia ini lalu ia ditunjukkan kepada orang yang ahli ibadah, lalu ahli ibadah tersebut menghukumi dengan perasaannya dan mengatakan tidak ada taubat lagi bagimu, maka dibunuh pula ahli ibadah tersebut sampai korbannya genap 100, dia tidak puas dengan jawaban ahli ibdah tersebut dan keinginannya masih kuat untuk bertaubat maka dia mendatangi alim yang lain dan bertanya apakah taubat saya masih diterima, saya telah membunuh 100 orang. Alim tersebut berkata apa yang menghalangi kamu untuk bertaubat, Allah SWT akan menerima taubatmu. Kemudian dia disuruh pindah dari kampungnya yang rosak ke kampung yang baik, lalu berangkatlah orang tersebut dan di tengah perjalanan dia meninggal, maka dengan rahmat Allah SWT iapun dicatat sebagai penghuni syurga.

Dari kisah ini dapat kita mengambil pelajaran bahawa biah ini dapat memproses orang tersebut, maka tanggungjawab kita bagi pejuang-pejuang dakwah untuk mengajak orang ikut dalam majlis-majlis ilmu, dan berlepas diri dari akhlak jahiliyah dan perkara-perkara yang buruk.

4. Dengan adanya para murabbi dan guru boleh diteladani

Yang mereka itu mampu menjadi qudwah bagi yang lain. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah s.a.w.

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab:21)

Dari ayat ini menunujukkan pentingnya keberadaan murabbi di tengah-tengah muridnya/mutarabbi sebagai orang yang memberikan contoh. Apabila mutarabbi betul-betul menimba ilmu dengan akhlak dari murabbi tersebut, maka akan terbentuk peribadi yang soleh. Bagaimana seorang murabbi betul-betul dapat memberikan contoh perbuatan sesuai dengan apa yang disampaikan. Sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah s.a.w, kepada sahabatnya sehingga beliau mendapat pujian sebagai seorang yang berakhlak mulia.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radiallahu anha, tatkala ditanya tentang bagaimana akhlaknya Rasulullah S.a.w, beliau menjawab : “Akhlak Rasulullah adalah al-Quran”. Sahabat dahulu adalah bagaikan Al Qur’an yang berjalan, sebab teori-teori yang ada dalam al Qur’an telah dipraktikkan oleh sahabat di setiap sudut hidupnya sampai Islam dimenangkan. Inilah pelajaran bagi murabbi untuk mempraktikkan teori-teori yang telah disampaikan kepada mutarabbinya.

Contoh lain ketika Rasululah s.a.w, berbicara tentang jihad, maka beliau adalah orang yang paling depan dalam peperangan, dan sangat berani. Suatu ketika di Madinah orang-orang mendengar sesuatu yang menakutkan, dan orang – orang sembunyi mencari di mana dan suara apa itu. Namun ternyata Rasulullah s.a.w, telah pulang dari tempat tersebut dengan kudanya tanpa pelana dan mengatakan bahawa tidak ada apa-apa bahaya. Ini menunjukkan keberanian Rosulullah s.a.w, beliau bukanlah seorang pengecut.

5. Tasyji’ atau Pembakar Semangat

Kebanyakan orang memiliki semangat tinggi namun kurang diarahkan pada perkara yang bagus.

Suatu ketika Ibnu Masud r.a, tatkala melewati seorang yang bernyanyi dengan suaranya yang indah, maka Ibnu Mas’ud r.a, berkata alangkah indahnya suaramu dan lebih bagus lagi seandainya engkau membaca al-Quran lalu pemuda ini kerana tertasyji’ oleh kata-kata Ibnu Mas’ud dia mulai membaca Al Qur’an dan akhirnya dia menjadi orang yang bersuara indah dalam membaca Al Qur’an. Lalu dia bertanya siapakah orang ini ? maka dijawab dia adalah Ibnu Mas’ud sahabat Rasulullah s.a.w.

Imam Syafi’i adalah seorang yang menguasai syair-syair, yang beliau kuasai dari para pakar-pakarnya. Suatu ketika, seseorang mendengar Imam Syafi’i sedang melantunkan syair-syair. Orang itu berkata : “Masakan engkau dari keturunan Quraish, hanya boleh menghafal syair-syair saja. Tidakkah engkau memulai menghafal Al Qur’an dan hadist-hadist Rasulullah s.a.w.” Mendengar kata-kata orang ini, Imam Syafi’i tertasyji’ untuk belajar kepada Imam Malik sampai beliau menjadi ulama besar, bahkan menjadi salah satu mahzab terbesar.

Dari riwayat ini boleh diambil contoh bahawa tasyji’ atau penyemangat itu bukan hanya dari orang-orang seperti Ibnu Mas’ud r.a, atau semisalnya tetapi boleh saja berasal dari orang-orang umum bahkan orang yang bermaksiat.

Adalah imam Ahmad, yang terkena fitnah tentang Al-Qur’an yang dianggap makhluk. Tatkala masuk di penjara bersama seorang peminum khamar tetapi peminum itu memberi semangat kepada Imam Ahmad, ertinya semangat itu boleh kita ambil dari manapun , apa kata orang tesebut: “Yaa Imam, saya ini masuk penjara kerana bermaksiat maka saya dicambuk tapi saya tetap sabar menahan siksaan, sedangkan anda wahai imam dipenjara dan disiksa kerana mempertahankan kebenaran, tentunya anda harus lebih kuat dari saya”. Sehingga Imam Ahmad berkata: “Perkataan itulah yang menjadikan saya semakin kuat untuk bertahan siksaan tersebut.”

6. Iman kepada Allah SWT

Setiap kali bertambah iman seseorang maka semakin bertambah Himmah seseorang. Iman ini akan mengajak kepada akhlak yang baik. Rasulullah s.a.w, bersabda : “Sesungguhnya aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia”

Allah SWT berfirman : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Ankabut:69)

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahawa Dia bersama orang-orang yang berbuat ihsan. Dan ihsan ini adalah kedudukan tertinggi dalam urutan agama ini, Islam, Iman dan Ihsan. Sebagaimana dalan hadist Jibril, ihsan iaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, meskipun engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Allah melihatmu. Maka ini adalah tingkatan yang tertinggi..
Maka barang siapa yang telah menyempurnakan keislamannya memenuhi keimanannya dengan sekuat tenaga maka hal ini adalah perkara yang sangat penting menyebabkan seseorang untuk mendapatkan Himmah ‘aliyah.

7. Membaca Sejarah Orang-Orang Yang Telah Berhasil Kerjayanya

Membaca sirah atau sejarah orang-orang besar yang telah berhasil dalam kerjayanya, samada dia seorang muslim ataupun non-muslim. Jika dia seorang muslim, tentunya dari para ulama-ulama yang telah berhasil. Dan sebenarnya perkara keberhasilan itu bukanlah suatu yang sulit, kerana perkara itu adalah perkara yang manusiawi, yang semua orang mampu meraihnya. Sehingga ini adalah persoalan mudah dan tidak dianggap sebagai persoalan yang tidak mungkin.

Kemudian dari kisah-kisah tersebut, kita juga boleh mempelajari uslub-uslub atau bagaimana tatacara mereka memperoleh keberhasilan tersebut, dan tidak memiliki Himmah yang rendah.

Hubungan antara Amal Tarbawi dan Amal Siyasi


Hubungan antara Amal Tarbawi dan Amal Siyasi


Oleh: Syeikh Muhammad Abdullah Al-Khathib (Anggota Maktab Irsyad Ikhwanul Muslimin)

Amal Siyasi Islami mempunyai dua titik tolak mendasar:

Pertama: Amal Siyasi Islami adalah amal sepanjang hayat, sebab, medan amal siyasi adalah keseluruhan amal kehidupan dan keduniaan semata, baik sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Dan ia tidak mempunyai hubungan dengan urusan-urusan agama murni, semisal ibadah, ritual dan aqidah, di mana medannya adalah amal dakwah dan bukan amal siyasi. Jadi, amal siyasi adalah amal madani, hanya saja, hukum-hukumnya dan berbagai pengorganisasiannya, sumbernya adalah syariat Islam; tercakup di dalam pengertian syariat Islam ini adalah keseluruhan nash-nash ilahiyah dan seluruh ijtihad-ijtihad aqli dan ilmi dari manusia

Kedua: Amal Siyasi Islami adalah bahagian yang tidak dapat dipisahkan dari amal Islami secara umum. Hal ini tercakup oleh Islam yang syumul dan kenyataan bahwa Islam adalah manhaj kehidupan yang lengkap. Dan hal ini merupakan aqidah seorang muslim, di mana keimanannya tidak sah, dan agamanya tidak sempurna kecuali dengan aqidah ini.

Berdasar kepada tabiat “double gardan” seperti ini, dapat dikatakan bahwa amal siyasi Islami tidak lain adalah amal siyasi madani yang:

• Di-shibghah dengan shibghah Islamiyah dan

• Iltizam (komitmen) dengan nilai dan prinsip-prinsip Islam.

Oleh kerana dasar inilah, maka:

1- Kejayaan amal siyasi Islami mewajibkan untuk mengikuti:

a. Manhaj Islam

b. Pokok-pokok dan dasar-dasar ilmu-ilmu politik semasa

c. Prinsip-prinsip amal siyasi pada umumnya, sebagaimana telah dijelaskan di atas

2- Komitmen yang sempurna dengan nilai, prinsip dan akhlak Islam yang mulia serta:

a. Syar’i dalam hal tujuan dan sarana

b. Haram mempergunakan sarana-sarana politik yang menyimpang, seperti: menipu, manuver dan konspirasi, menghalalkan cara-cara menyesatkan dan kemunafikan, tidak kredibel, prinsip “tujuan menghalalkan cara”.

c. Kemahiran dalam mengungkap dan membongkar cara-cara yang tidak bermoral.

Dasarnya adalah ucapan Umar: “Saya bukan penipu, akan tetapi tidak boleh ditipu”.

3- Kemestian memperhatikan hukum-hukum syar’i dan bertitik tolak dari mafahim Islamiyah yang benar dalam khithab siyasi, sikap dan berbagai tindakan politik seluruhnya, serta memperhatikan dengan sungguh-sungguh fakta-fakta dan berbagai situasi semasa, regional dan internasional.

Allah Berfirman:

الم. غُلِبَتِ الرُّومُ . فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ . فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ . بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

“Alif Lam Mim. Bangsa Romawi telah dikalahkan. di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang. dalam beberapa tahun (lagi), bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang), dan pada hari (kemenangan Romawi itu) bergembiralah orang-orang yang beriman. karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki, Dia Mahaperkasa, Mahapenyayang”. (Ar-Rum:1 – 5).

4- Memperhatikan kaedah-kaedah siyasah syar’iyyah, mengenal dan memahami realiti (fiqhul waqi’), situasi semasa, kemahiran mengaitkan antara nash dan penerapannya dalam realiti, muwazanah antara kaedah-kaedah Islam dan berbagai perkembangan baru yang menuntut adanya murunatul harakah (kelenturan gerak), serta tathawwur mustamir (pengembangan berterusan) dalam sikap juz`i dan marhali serta dalam sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan strategi.

5- Bertolak dari syumuliyatul Islam dan bahwasanya Islam mengatur segala urusan kehidupan, amal siyasi Islami harus menangani berbagai isu dan problem besar yang sedang dihadapi oleh tanah air kita, serta memandang semua itu sebagai bahagian yang tidak terpisah dari amal Islami…

khususnya masalah:

a. Reformasi politik.

b. Penghapusan segala bentuk korupsi, baik di bidang kewangan, birokrasi dan akhlak dan kebebasan awam.

c. Kestabilan pemerintahan.

d. Penegakan disiplin.

e. Publikasi perilaku peradaban Islami dalam berbagai interaksi kehidupan.

f. Keadilan dalam distribusi kekayaan nasional kepada publik yang miskin.

g. Mengarahkan sumber-sumber kewangan untuk memberikan keadilan kepada kelompok fuqara’ dan papa.

h. Penghapusan jurang pemisah antara kaya dan miskin.

i. Pewujudan prinsip kesempatan yang sama atas dasar kemampuan dan kelayakan, bukan atas dasar lainnya.

j. Menjaga harta awam dari penjarahan dan pemborosan serta memandangnya sebagai milik baitu malil muslimin, di mana setiap penduduk mempunyai hak yang ditetapkan atasnya dan bukannya milik negara atau penguasa yang boleh berbuat sekehendaknya, dan bahwasanya kekuasaan penguasa atas harta tersebut terikat dan bergantung kepada kemaslahatan kaum muslimin.

k. Masalah utama bangsa Arab dan Islam, utamanya masalah Palestin.

Dan bahwasanya solusi kita terhadap semua masalah ini haruslah memiliki keistimewaan shibghah Islamiyah yang jelas, yang berdiri di atas tsawabit yang qath’iy, tujuan dan maqashid Islamiyah dan dengan mempergunakan perangkat, instrumen dan sarana Islam, dan juga berdiri atas dasar ilmiah moden serta bukan merupakan copi paste dari solusi sekuler.

Hubungan Antara Tarbawi dan Siyasi

Hubungan antara tarbawi dan siyasi dapat disimpulkan bahwasanya hubungan di antara keduanya adalah hubungan tarabuth (saling terkait), takamul (saling melengkapi) dan tawazun (keseimbangan). Gambaran dan dimensi hubungan-hubungan ini tampak dalam penjelasan berikut:

1- Amaliyah tarbawiyah (proses tarbiyah) adalah amaliyah ta’sisiyah (proses pembentukan dasar) untuk:

a. I’dad wa takwin al-rijal wa bina’ al-kawadir al-tanzhimiyah (menyiapkan, membentuk dan membina kader-kader struktural).

b. Tazkiyatun nufus wal arwah (mensucikan jiwa dan rohani) agar mereka memiliki kemampuan untuk memikul beban amal siyasi maidani amali (kerja politik praktis lapangan)

c. Gharsu al-iltizam (menanamkan komitmen) dalam diri mereka, kehidupan, perilaku dan segala urusan mereka dengan sekumpulan nilai dan muwashafat khusus yang mengantarkan mereka untuk meningkatkan berbagai kemampuan mereka, memungsikan powernya dalam bentuknya yang sebaik mungkin.

d. Ta’hiluhum ilmiyyan wa amaliyan wa tadriban (meningkatkan kemampuan ilmiah, operasional dan keterampilan) mereka dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka.

Jika amaliyah tarbawiyah menjalankan fungsi takwin dan ta’hil-nya, maka hal ini akan tercermin dalam kualiti pelaksanaan dari sisi ijadah (bagus), itqan dan ihsan yang akan merealisasikan buah yang paling berkat serta hasil yang terbaik dengan jerih payah paling efisien serta penekanan sisi negatif sekecil mungkin. Namun jika pelaksanaan fungsi ini tidak bagus, maka takwin khuluqi nafsi (pembentukan akhlaq dan jiwa) akan melemah, atau jika perhatian kepada aspek ta’hil ilmi amali tidak diperhatikan, maka hasilnya akan berbalik seratus lapan puluh darjah.

2- Mukadimah bagi penegakan daulah Islamiyah yang merupakan tujuan terpenting dari dakwah kita tidak dapat direalisasikan kecuali dengan amal siyasi yang memiliki beragam bentuk dan melalui berbagai tahapan. Bentuk dan tahapan ini mempergunakan berbagai uslub (cara) untuk memunculkan ta’tsir siyasi (dampak politik) di samping ta’tsir da’awi (pengaruh dakwah), sebagaimana nasyath siyasi (aktiviti politik) sendiri dapat memberikan peranan da’awi dalam merekrut personel baru, peningkatan kualiti sosial secara umum, penyebaran wa’yu Islami serta perealisasian dan penegasan syumuliyatul Islam.

3- Jawaban atas pemberian perhatian secara berimbang antara amal tarbawi dan amal siyasi tanpa ada dominasi satu pihak atas pihak lainnya; sebab ajaran-ajaran Al-Qur’an, yaitu tazkiyatun nafs tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan iaitu politik, kerana inilah politik merupakan sebahagian dari Islam, dan menjadi kewajiban seorang muslim untuk memperhatikan aspek pemerintahan sebagaimana perhatiannya kepada sudut rohiyah.

Wallahu a’lam

TAUJIH QIYADAH TAWADHU’ & KEBERKAHAN DAKWAH


TAUJIH QIYADAH

TAUJIH UST. SALIM SEGAF AL-JUFRI : TAWADHU’ & KEBERKAHAN DAKWAH

1. Mari kita berharap keberkahan Allah pada dakwah ini. Keberkahan itu datangnya dari keyakinan kita kepada Allah, bahwa semua kekuasaan/kemenangan/kekalahan itu terjadi atas kehendak Allah. Kita tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa konspirasi musuh menyebabkan kekalahan kita. Mau konspirasi apapun kalau Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Mari kita melihat amal ini dengan pendekatan dakwah.

2. Evaluasi kita : kita tergiring secara tidak sadar menjadikan politik sebagai panglima. Lalu dakwah dan kaderisasi kita lupakan. Tolonglah slogan OBAH KABEH MUNDAK AKEH itu jangan dimaknai AKEH kursi dan suaranya. Tapi akeh dan mundak keberkahannya. dan itu dengan tetap menjadikan dakwah sebagai misi utama kita. Kursi itu bukan tujuan kita. Kalau kita pantas menerimanya Allah akan berikan. Saya membayangkan andai seluruh anggota dewan kita di indonesia ini di sebar merata ke desa desa yang ada di seluruh negeri. Lalu berdakwah, membina masyarakat dan kita punya kemampuan untuk itu. Insya allah keberkahan akan turun dengan cara itu. Tidak ada urusannya dapat kursi atau tidak.

3. Evaluasi kita : kita sering membuat target target yang sebenarnya tau itu diluar kemampuan kita. Lalu kita terjebak dengan cara cara yang jauh dari keberkahan untuk memaksakan mencapai target itu. Mengumpulkan dana dana syubhat. Bergantung pada konglomerat anu. konglomerat itu. Proyek ini itu.dst. Sekian suara harganya sekian M. Lalu dimana nilai keberkahan dakwah ini? begitu juga dengan perilaku politik kita yang kadang menyalahi sunnatullah. Begadang sampai hampir pagi menjaga suara. Toh tetap jebol juga. Apakah kita ini lebih sibuk dari Rasulullah? beliau selalu tertib dalam hal tidur dan bangun pagi. Di malam hari beliau serahkan dakwah di tangan Allah. Beliau tidur dan qiyamullail. Sesekali bolehlah begadang. Tapi kalau menjadi politic style kita itu sudah salah.

4. Allah hanya ingin kita ini bekerja semaksimal kemampuan kita. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Tidak perlu memaksakan pola pola dan cara cara yang diluar kemampuan kita. Jokowi itu sebenarnya contoh dari Allah, bahwa ketika Allah berkehendak, dengan dana pencitraan orang bisa mendapatkan kekuasaan dan Allah juga yang berkuasa menjatuhkannya. Jadi, mari kita semakin tawadhu’ dihadapan Allah. Semakin kita tawadhu’ dan merasa butuh pertolongan-Nya, maka pertolongan akan mendekat. Jangan terlalu ngoyo menampakkaan bahwa kita ini punya kekuatan. Semakin kita berpikir kita punya kekuatan, lalu melupakan Allah, maka justru pertolongan semakin menjauh. (dalam konteks ini, Ust salim menyebut stagnannya suara PKS dari PEMILU ke PEMILU)

5. Itulah sebabnya para ulama mengajari kita doa : Allahummarzuqnaa ma’rifatan yas habuha bil adabi. Ya Allah beri kami ma’rifat kepadamu, yang diiringi dengan adab terhadap-Mu. Kita mengenal Allah tapi kita tidak punya adab dan sopan santun terhadap-Nya. Lalu kita merasa sudah punya kekuatan.dan mulai melupakan-Nya. Ini namanya kita tidak beradab dan sopan santun terhadap Allah.

6. Jangan juga gara gara jabatan politik lantas life style dan perilaku kita berubah. Terbiasa dilayani. Kesenggol dikit marah marah dimana mana seolah ingin menunjukkan kita ini kuat. Kita lupa berapa ton nikmat Allah yang sudah kita makan melalui mulut kita. Mari jadi orang yang biasa biasa saja. dan mengingat bahwa semua ini pemberian Allah yang tidak akan kekal.

7. Pada akhirnya mari memperbanyak dzikrullah. Imam ali berkata :: inna lillahi fil ardhi aaniyatun wa huwa al qolbu. Sesungguhnya Allah itu memiliki tempat di bumi, yaitu dalam hati kita. kita ini standar nya ma’tsurot sughro. Itupun masih suka nanya : ada yang lebih sughro lagi nggak tadz? insya Allah dengan dzikir yang banyak itu keberkahan akan turun.
Wallahu Al musta’aan.

(Taujih ini disampaikan dalam forum dengan para kader ba’da subuh hari

Anak Yang Tangguh


Anak Yang Tangguh
@Yasa Paramitha Singgih
d59bf-anak-orang-tuaAnak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama, sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang tangguh, disenangi, dan disegani banyak orang…
Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah. Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima…
Mereka sanggup beli barang-barang mewah. Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan…
Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota. Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana…
Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan. Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan…
Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja. Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah…
Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya. Tapi juga tidak merendahkan orang yg lebih miskin darinya…
Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi. Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas, kapasitas
dirinya, bukan dari barang yang dikenakan…
Mereka punya.. Tapi tidak teriak kemana -mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya…
Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan, etika tata krama…
Hal hal sederhana tentang kesantunan seperti :
🔹Pamit saat pergi dari rumah
🔹Permisi saat masuk ke rumah temen (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang ada di rumah itu),
🔹Saat masuk atau pulang kerja memberi salam kepada rekan, terlebih pimpinan
🔹Kembalikan pinjaman uang sekecil apapun,
🔹Berani minta maaf saat ada kesalahan
🔹Tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun…
Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya…
Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup…
Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika, tata krama
🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Selamat bersiap utk pekan terbaik mommies
#SmartMommyCommunity
#SalamPuanGroup

Kenapa Bunda Tak Boleh Memaksa Anak Makan? Ini Alasannya!


 

Dear Bunda,
Ketika anak-anak memasuki masa sulit makan, biasanya Bunda akan memaksa mereka makan dengan berbagai cara. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, tak jarang Bunda melontarkan paksaan dan ancaman agar anak mau menelan makanannya.

“Pemaksaan sampai ancaman ini seharusnya tidak boleh dilakukan kepada anak, karena akan memengaruhi perkembangan anak,” ungkap pakar nutrisi dan diet dari komunitas Sehati, Emilia Achmadi, MSc, kepada Kompas Female, saat talkshow sebuah merk susu di fX, Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurut Emilia, ada beberapa kategori yang tergolong sebagai bentuk pemaksaan kepada anak agar mereka mau makan (dan sebaiknya tidak dilakukan):

1. Memberi makanan sebagai hadiah
Dalam kategori ringan, orangtua akan memberikan berbagai iming-iming agar anak mau makan. “Misalnya, kalau mau makan maka mereka akan mendapat cokelat, es krim, dan aneka makanan lainnya,” tambahnya. Meskipun anak sebenarnya tidak mau makan, namun reward yang ditawarkan akan membuat mereka mau makan demi mendapatkan makanan yang disukainya.
Meski proses iming-iming ini akan membuat anak mau makan saat itu, namun akan selalu tertanam dalam pikiran anak bahwa setelah makan mereka akan bisa menyantap makanan apa saja yang mereka inginkan.
Parahnya lagi, mereka akan beranggapan bahwa makanan reward ini boleh dimakan sebanyak-banyaknya karena mereka sudah makan nasi. Efek yang paling parah, mereka tidak bisa mengontrol asupan makanan ke dalam tubuh, dan berakhir dengan obesitas.

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

2. Menakut-nakuti anak
Dalam kategori ini, orangtua akan mengancam anak-anaknya untuk mau makan. Biasanya mereka akan mengancam dengan berbagai hal yang tidak disukai anak. Padahal, keengganan anak untuk makan pasti ada sebabnya. Bisa jadi makanan yang disediakan kurang enak dan kurang menggugah seleranya. Namun, biasanya orangtua lebih mementingkan agar makanan yang bergizi ini disantap habis oleh sang anak.
“Yang tak kalah penting dari rasa dalam sepiring makanan adalah tampilannya, khususnya untuk anak. Dengan tampilan yang menggugah selera, anak pasti akan lebih bersemangat untuk makan,” ungkap Executive Chef The Dharmawangsa Hotel, Vindex Tengker, kepada Kompas Female, dalam kesempatan berbeda.
Proses menakut-nakuti agar anak mau makan ini bisa mengakibatkan dampak psikologis berupa serangan anoreksia dan bulimia pada anak. Karena “proses” makan yang mereka lakukan ini hanya dilakukan untuk menyenangkan orangtuanya saja, tanpa perlu dicerna lebih lanjut di dalam perutnya. Bukan tak mungkin anak akan memuntahkan kembali makanan tersebut ketika orangtuanya tidak memperhatikan mereka lagi.

3. Mengancam
Kategori yang paling parah adalah ketika orangtua mulai mengancam anak-anaknya agar mau makan. Misalnya jika anak tidak mau makan, Bunda tidak mau bicara dengannya, anak akan ditinggal sendirian, atau akan dipukul saat tak mau makan, dan lain sebagainya.
Proses ancaman ini ketika dilakukan dalam jangka waktu yang lama terbukti bisa menimbulkan trauma tersendiri dalam diri anak. “Mereka akan mengalami sentimen negatif pada makanan,” tukas Emilia.
Sentimen negatif ini akan berakibat pada adanya rasa takut terhadap makanan, sehingga ketika tiba saatnya makan mereka akan selalu terbayang pada ancaman yang diberikan orangtuanya. “Ada rasa depresi ketika melihat makanan, dan akhirnya makan hanya karena takut akan ancaman orangtuanya. Ini sangat berbahaya,” jelasnya.

Nah Bunda, masih ingin mengancam Si Kecil? Tetap berikan yang terbaik untuk Si Kecil ya Bunda

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================