Tag Archive | nabi muhammad

Tidak Perlu Ayah (jika hanya) untuk Cari Nafkah…


TidakPerlu Ayah (jika hanya) untuk Cari Nafkah…

ayahkawanterbaik-4Maaf, mungkin agak terdengar sombong jika kalimat ini terlontar dari mulut seorang isteri, atau bahkan seorang anak. Karena sesungguhnya, salah satu tugas seorang lelaki adalah menafkahi keluarganya, baik sebagai suami, sebagai Ayah maupun sebagai anak kepada orang tuanya yang sudah sepuh.

Namun faktanya, tak sedikit para lelaki yang menggadaikan kehormatannya lantaran tak menjalankan perannya mencari nafkah. Ini bukan soal besar kecil hasil yang didapat, tetapi soal menjalankan perannya dalam keluarga.

Tak sedikit pula yang perannya mencari nafkah justru tergantikan oleh isteri atau bahkan anaknya. Setidaknya kalaupun bukan tergantikan, ya sedikit tergeser lah. Coba lihat, banyaknya perempuan yang justru “terpaksa” bekerja lantaran peran suaminya dirasa kurang, dalam bahasa yang lebih lugas, uang belanja suami tak mencukupi. Maaf, saya tak bicara soal perempuan yang bekerja karena memang mereka senang dan bagian dari aktualisasi diri. Untuk yang satu ini, saya cukup menghargai.

Kenapa tiba-tiba sayamengangkat tema yang sangat sensitif ini?

Sabar. Bukan tema ini yang saya akan bahas, tetapi tentang peran Ayah yang sebenarnya bukan hanya soal nafkah. Karena kalau cuma soal nafkah, sorry bung, kini peran itu juga banyak dilakukan oleh perempuan (isteri atau ibunya anak-anak), dan bahkan oleh anak-anak. Lihat saja anak jalanan, orang tuanya ada, malah leyeh leyeh di bawah pohon sementara anaknya ngamen di lampu merah dengan resiko tertabrak, atau pelecehan.

Ini sebenarnya gara-gara saya tak sengaja mendengar sebuah percakapan sepasang suami isteri. “Ayah sudah lelah mencari nafkah, urusan sekolah anak-anak itu urusan ibu…” kata si Ayah ke ibunya anak-anak.

Di kesempatan lain, juga pernah dengar seperti ini, “Bu, tolong hargai Ayah, setiap Ayah pulang rumah selalu berantakan. Kamu ngapain aja sih? Ayah capek kerja seharian, sampai rumah lihat rumah berantakan begini…” tanpa peduli lagi pada kenyataan bahwa setiap jam rumah dirapihkan, dan hanya butuh waktu lima menit akan kembali berantakan oleh ulah anak-anak.

Terus? Kalau sudah mencari nafkah, Ayah nggak perlu direpotkan sama urusan pendidikan anak? Belajarnya anak, antar ke sekolah, rapat orang tua murid dan urusan lainnya.

Kalau sudah mencari nafkah, Ayah jadi haram pegang sapu? Bersih bersih rumah, bantu isterinya yang sejak bangun pagi sampai tengah malam sibuk dengan urusan rumah yang (memang) nggak ada habisnya?

Sederhananya, memangnya fungsi Ayah cuma cari nafkah?

Seringkali sosok Ayah ada di rumah, tetapi hanya fisiknya yang hadir, tidak jiwanya, tidak perannya.

Anak bertanya soal pelajaran, lalu dengan enteng berkata, “Tanya ibu sana, Ayah capek…” padahal sedang main gadget.

Sosok Ayah harus hadir secara utuh di rumah, bagi isterinya, bagi anak-anaknya, bagi keluarganya. Keluarga perlu warna seorang Ayah, karena peran Ayah sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin, bukan cuma sebagai pencari nafkah.

Sosok Ayah perlu hadir untuk memberi rasa aman, nyaman, ketenangan dan percaya diri seluruh anggota keluarga. Jangan sampai justru ada Ayah malah bikin nggak nyaman, hati-hati. “Tenang, ada Ayah…” kalimat ini suatu waktu mungkin keluar dari mulut bocah-bocah karena lelaki itu memang benar-benar bisa diandalkan. Tangguh.

Kehadiran Ayah sejatinya dirindukan, oleh isteri maupun anak-anaknya. Jangan abaikan pesan singkat dari anak misalnya, “Ayah jam berapa pulang?” Ada rindu tersirat dari kalimat itu.

Dua tiga hari Ayah tak pulang karena tugas kantor, suasana rumah jadi terasa sepi, isteri dan anak-anak merasa kurang aman dan nyaman. Jika masih seperti ini, tersenyumlah. Artinya sosok Ayah masih sangat dibutuhkan sebagai pelindung, pengayom dan pemberi rasa aman.

Hadirnya sosok Ayah juga menjadi contoh baik bagi anak lelaki, menjadi contekan bagi anak perempuan kelak mencari pasangan. Pernah kah anak perempuan Anda berkata, “Aku ingin punya suami kelak seperti Ayah” … Ah, indahnya kalimat itu terdengar.

Hadirnya seorang Ayah secara utuh, bukan soal seberapa banyak waktu yang dipunyai di tengah kesibukan bekerja. Sebab, nyatanya masih banyak Ayah yang bisa tetap “hadir” di keluarganya meski waktunya tak banyak. Ini soal peran, bukan soal waktu. Ini tentang kesadaran, bukan tentang seberapa sejahteranya sebuah keluarga. Peran ini, tak bicara soal pangkat, status sosial, apalagi soal besar kecilnya gaji sang Ayah.

Satu lagi, lelaki yang dipanggil Ayah ini pun bukan sosok yang bikin suasana rumah jadi tegang, serius melulu, kaku, apalagi angker. Anak-anak nggak hanya butuh Ayah sebagai orang tua, tetapi juga butuh sahabat bercerita, teman bermain, lawan berkelakar, atau “pacar” yang bisa digandeng ke tempat hiburan misalnya.

Ah terlalu panjang rasanya bahas peran Ayah. Bukan kapasitas saya juga bahas parenting disini, belum apa-apa, saya cuma seorang Ayah yang terus belajar untuk menjadi Ayah yang lebih baik.

Agar semoga sosok ini selalu dirindukan, ada dan tiadanya nanti. Tak tergantikan di hati seluruh anggota keluarga, sampai kapanpun, kapanpun.

Eh iya, nafkah dari Ayah tetap perlu kok. Ya kan bu? @bayugawtama

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

Every Child is Special


Saya ingat betul hari itu. Kamis siang sekitar pukul 11, saya lihat dia terduduk di lantai depan kelas 6A. Karena baru selesai rapat koordinasi mingguan, saya membawa beberapa berkas yang tadinya mau saya taruh dulu di atas meja ruangan saya, tapi raut muka anak itu membuat saya mengurungkan niat dan langsung menghampirinya.
Namanya Ibra. Tubuhnya sehat, tidak terlalu tinggi, rambutnya hitam pekat sedikit berombak, dan pakai kacamata. Kacamatanya besar dan sepertinya minusnya banyak karena lensa cukup tebal untuk anak seumur dia. Selalu pakai sepatu neon warna-warni. Tidak banyak bicara kalau belum kenal dekat, tapi kalau dia nyaman, dia bisa ramah sekali.
Tapi Ibra bukan anak yang paling populer di kelasnya. Dia susah menjawab pertanyaan di kelas dan tidak berminat ilmu eksakta; science dan math bukan minatnya tapi dia sangat, SANGAT pandai bercerita. Saya sangat terkesan dengan cara dia memilih kata-kata dalam tugas-tugas Bahasa dan tulisannya, baik dalam Bahasa Indonesia ataupun Inggris, sangat enak dibaca.

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

 

Sayangnya kita tinggal di negara yang sebagian besar masyarakatnya menilai seorang anak baru tergolong pintar jika berkemampuan mendapatkan nilai tinggi dalam ilmu-ilmu “IPA” seperti kimia dan matematika. Lupa, bahwa dunia tidak hanya berputar karena manusia pintar mengolah angka. Bayangkan jika tidak ada yang lihai dalam diplomasi antar negara atau tahu hukum tentang agama, jadi apa dunia? Kita sebagai masyarakat kurang mengapresiasi anak jika mereka tidak jago dalam fisika, misalnya. Padahal ya, kalau anda bukan insinyur, berapa kali sih anda sungguh-sungguh menggunakan E=mc2 dalam keseharian anda?
Anyway, jadi kzl kalo ngomongin sistem pendidikan Indonesia. Balik lagi ke Ibra.

Sampai di ujung lorong. Saya berhenti. Saya menghadap Ibra dan berkata: “Hey Ibra. Kok di lantai, Nak?”.
Ibra: “Disuruh keluar sama Pak Jati (guru matematika), Miss.”
Saya: “Oh… Can I sit with you?” Tanya saya sebelum duduk di lantai, sebelah Ibra. Dia terdiam, lalu mengangguk. Saya meluruskan rok, dan duduk.. “Jadi kenapa ceritanya kita duduk disini, Ibra?”
Ibra: “Aku nggak ngerjain homework, Miss.”
Saya: “Hmm… Kenapa kamu tidak mengerjakan tugasnya?”
Ibra: “Aku…. Aku nggak ngerti Miss.”
Saya: “Apa yang bisa kita lakukan kalo kita tidak mengerti sesuatu, Ibra?”
Ibra: “Bertanya?”
Saya mengangguk. “Jadi kenapa Ibra nggak tanya Pak Jati?”
Ibra: “Aku udah tanya, tapi masih nggak terlalu ngerti..”
Saya: “Dirumah kan bisa tanya Mama atau Papa, Nak? Minta bantu atau jelaskan, sudah?”
Raut mukanya berubah. “Aku jarang ketemu Papa di rumah. Setiap aku bangun, Papa sudah pergi, dan saat aku tidur, Papa masih kerja. Mama… Mama sibuk.”
Saya terdiam, lalu mengalihkan pembicaraan. Saya mau Ibra merasa nyaman. Kita bahas macam-macam; dia bercerita tentang liburannya, adiknya yang baru berumur 2, sampai tentang Tutu, si kucing peliharaannya di rumah. Pelan-pelan, saya tanya, kegiatan dia saat dia pulang sekolah, sampai ke akhirnya dia cerita ibunya “sibuk” apa.
“Aku udah coba Miss, tanya Mama tapi Mama malah suruh aku ngerjain sendiri. Mama bilang Mama sibuk.. .”
Saya: “Oh.. Mungkin Mama kerja ya?”
Ibra : “Mama aku nggak kerja, Miss. Mama online game di iPad..”
Saya: “…………I see.”
���
Percakapan dilanjutkan dengan mendengarkan perasaan Ibra selama sejam, sampai tahu-tahu sudah waktu makan siang. Darinya, saya tahu bahwa Mama selalu sama iPadnya, bahkan saat mereka sedang berkumpul di meja makan.
Mendengar cerita Ibra ini, otak saya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan… Bagaimana anaknya merasa berharga kalau mereka tidak menjadi keutamaan?
Kalau perhatian fisik saja tidak ada, apalah lagi kabar pengasuhan jiwanya?
Bagaimana mungkin ada rasa pede terhadap kemampuan sendiri jika tidak dari rumah tidak pernah disemangati?
Bukankah sekolah pertama anak adalah orang tuanya? Gimana anak mau mampu belajar dengan baik, berpikir kritis, atau menyelesaikan masalah dengan baik kalau yang seharusnya mendidik skills tersebut tidak menyempatkan waktu untuk mengajarkannya?
Teman-teman pembaca, mari belajar menentukan mana yang penting dalam hidup ini. Mana yang menjadi tanggung jawab, mana yang bisa ditunda, dan apalagi yang bisa diperbaiki. Semoga cerita ini mengingatkan ketika untuk fokus pada hal yang seharusnya dan memenuhi peran utama yaitu menjadi orang tua.
It’s never too late to do the right thing.
Be the best parent you can be right now.
May Allah make it easy for you.
Sending positive vibes selalu. �
#SilmyRisman

Share jika bermanfaat

=============================

GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://tokopedia.com/griyahilfaaz

Your Words shape your children’s World!


“Andreeeeiii…. Tobat deh, tuh liat deh naliin sepatu aja dari tadi gak bisa bisa… Bener bener deh.. lama banget!. Teriak bu Anton pada anak laki lakinya yang berusia 6 tahun yang masih berkutat menalikan sepatunya.
Kehilangan kesabarannya, bu Anton menghampiri anaknya dan mengatakan :”Ngiket tali sepatu aja nggak bisa bisa Dri, bagaimana coba nanti masa depanmu?”

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas
Andri memiringkan kepalanya dan menatap ibunya dengan pandangan heran tanpa kata kata lalu meneruskan mengikat tali sepatunya.

Mungkin dalam hatinya ia berkata :”Ya Allah mama.. ini kan urusan ngikat sepatu doang.. Masa depan masih jauh banget!”.
Tidak sengaja mungkin, tapi banyak sekali kalimat kalimat negatif terlontar dari mulut orang tua ketika menghadapi kenakalan, kelambatan atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan harapan, baik bernada meremehkan, merendahkan atau menjatuhkan terhadap anaknya.
Padahal banyak orang percaya bahwa kata kata orang tua itu bak sebuah doa..
Saya teringat pengalaman saya berpuluh tahun yang lalu ketika saya dan teman teman pelatih dari Yayasan Kita dan Buah Hati menyelenggarakan pelatihan Bagaimana ngomong dengan anak di daerah kumuh belakang Mall Mangga Dua Jakarta Pusat. Mula mula pelatihan ini hanya diminati beberapa orang saja..Di hari kedua, ruangan kecil sebelah rumah pak RT itu tak sanggup menampung ibu ibu yang berminat untuk ikut serta. Selama pelatihan itu banyak sekali ibu ibu yang menyesal bahkan menangis dan bertanya bagaimana caranya agar mereka dan anak mereka bisa berubah. Pasalnya selama ini karena hidup mereka susah penuh tekanan, ibu ibu ini sering kehilangan kesabarannya dalam menghadapi anak anak mereka. Mereka bukan saja berkata kasar, mencubit, memukul tapi juga mengatai ngatai anak mereka menggunakan kata kata yang mereka sebut “kebun binatang”. Seorang ibu mengadu sambil berurai air mata pada saya: “Emang bener bu, makin lama kelakuan anak saya makin bandel dan keras banget aja bu!”. Bagaimana bu, bantuin saya ….
Tak luput pula dari kenangan saya bagaimana ibu saya mengingat seorang ibu yang masih keluarga jauh kami agar menjaga dirinya supaya “mulutnya tidak terlalu tajam” pada anak lelakinya yang sudah remaja. “Nanti, kata ibu saya “Kalau hidup anakmu seperti kata katamu, kau juga yang akan menderita!” Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun..kami semua menyaksikan bagaimana ibu itu menderita karena susahnya penghidupan anaknya itu . Dia datang menemui ibu saya menangisi nasib anaknya. Ibu saya menganjurkannya untuk minta ampun pada Allah.

Parenting is all about wiring, bagaimana ujung ujung sinaps kita terkoneksi oleh pengalaman pengalaman hidup kita, termasuk kata kata dan sikap serta perilaku yang kita terima. Tak ubah seperti lampu lampu yang banyak dalam sebuah ruangan.Dibelakang lampu lampu itu pasti banyak kabel kabel yang menghubungkan satu lampu dengan lampu lainnya. Ada warna biru, hijau, kuning, merah, putih dan dibalut selotip. Tekan satu tombol, semua lampu menyala.

Begitulah, kebiasaan kebiasaan yang terbentuk sengaja atau tidak selama pengasuhan baik dari orang tua dan orang sekitar, akan keluar otomatis ketika seseorang itu menjadi orang tua pula nantinya, lepas dari tinggi rendahnya jenjang pendidikan dan kelas sosial.
Sebagai contoh adalah pengalaman yang sama yang saya peroleh dalam ruang praktek saya.
Seorang gadis remaja yang cantik dan lembut kelihatan sangat bingung, nyaris depresi duduk mematung didepan saya. Dari pembicaraan yang panjang ternyata dia tidak sanggup menggapai target yang diharapkan ibunya yang baginya terlalu tinggi. Dia lelah melompat dan melompat meraihnya ternyata tak pernah sampai, sehingga jiwanya terengah engah. Harapan ibu itu disampaikan dalam kalimat yang bagus dan nada rendah, tapi menekan dan nyelekitnya bukan main.. Semua upaya anak ini tak pernah berharga. Bak kata orang : “When the best is not enough!” Padahal kedua orang tuanya pasca sarjana lulusan Negara adidaya. Bahkan ketika suatu saat ibunya sangat kesal, ia sempat mengatakan pada anaknya :”Lihat tuh kamar anak gadis gak ada bedanya sama kandang ba**!”

Entah bagaimalah dulu nenek anak ini mengasuh ibunya.
Tidakkah dalam keseharian kita, kita menemukan hal serupa terjadi disekeliling kita? Dan kini,anak itu seperti ibu diatas telah menjadi orang tua atau pejabat publik,pimpinan dunia usaha atau lembaga. Tidakkah sesekali atau seringkali pengalaman lamanya otomatis muncrat dalam kesehariannya?. Kata kata kasar bahkan keji dan sikap sikap yang kurang terpuji?. Atau kita menemukan dan mengalami ada dilingkungan keluarga atau masyarakat seseorang yang sangat baik dan rendah hati, santun dan dermawan,atau bersikap terpuji bak negarawan? . Paling tidak kita mengetahui bagaimana “wiring” mereka.
Kalau anda bawahan orang yang kasar dan anda mau jadi mulia, maka maafkan sajalah. Yang sehat yang ngalah. Mau tak mau kita benarkan jualah pepatah lama: Buah Jatuh tak jauh dari pohonnya!”
Bagi kita yang penting adalah mewaspadai diri sendiri dalam berkata kata, karena kita tentu tak mau menderita dihari tua, ketika menyaksikan anak kita suatu hari nanti memarahi anaknya, cucu kita!.
Makna kata kata bagi anak.
Bila kata kata yang keluar dari ayah ibu, kakek nenek, paman bibi, guru dan orang penting lain sekitar anak, penuh kasih dan sayang, penerimaan, penghargaan dan pujian, maka jiwa anak menjadi sangat padat, kokoh dan bahagia. Keadaan ini yang membuat mereka merasa berharga dan percaya diri. Tapi bila sebaliknya, konsep diri tidak terbentuk dengan baik, hampa dan berongga. Dari mana anak bisa merasa berharga hatta didepan orang tuanya sendiri? Apalagi PeDe!.
Anak anak seperti ini akan tumbuh jadi pribadi yang sulit diajak kerjasama, melawan dan menyimpan berjuta emosi negatif dari sedih yang dalam , kecewa, bingung, takut, ingin menjauh dari orang tua, benci bahkan sampai dendam!
Bagaimanalah hubungan anak dan orang tua tersebut?. Jarak antara keduanya tak bisa dihitung dengan kilometer. Apa yang ditanam itulah yang dipetik dihari tua. Hanya anak dan orang tua itu saja yang faham bagaimana sesungguhnya makna dari hubungan mereka.Karena umumnya hal ini susah diungkapkan dengan kata kata, hanya hati yang merasa.
Perbaiki kata dalam bicara dan lempar anakmu kemasa depan secara emosional…
Otak kita, seperti juga tubuh kita berkembang dan berfungsi secara bertahap, pakai proses. Tentu saja perlu waktu. Tapi banyak orang tua lupa akan hal ini dan ingin semuanya berlangsung cepat. Jadi sering kali mereka bicara dengan anaknya seolah anak itu sudah besar dan mengerti apa yang dia katakan dan harapkan.
Saya tak hentinya bersyukur dianugrahi Allah orang tua yang bijak dan menjalankan aturan agama. Berkata dengan baik baik, memanggil dengan panggillan yang baik, penuh kasih dan perhatian.
Waktu kecil, saya sangat kurus, kulit sawo matang agak gelap dan asmatis pula, bayangkanlah!.
Apa yang diajarkan ayah dan ibu saya selalu bertahap dan dengan ajakan dan harapan tentang masa depan yang saya jangankan bisa membayangkannya, mengerti saja tidak.
Suatu hari ibu saya berkata pada saya:”Mau nggak Elly, mama ajarkan bagimana caranya masak dengan cepat?”. Lalu ibu saya bercerita tentang mengapa itu perlu, memberikan contoh dikeluarga kami ada ibu ibu yang sudah punya anak tapi tak mampu melakukan tugas dapur dan tata laksana rumah tangganya dengan baik. Lalu ibu saya melemparkan saya secara emosional kedepan dengan berkata seperti ini:”Nanti, insha Allah Elly akan punya suami yang hebat,pejabat pula. Sebagai perempuan kita ini nak harus bisa “diajak ketengah”(masuk dalam pergaulan menengah), tapi rumah dan dapur harus selesai!”. Saya tidak bisa membayangkannya.
Puluhan tahun kemudian, seperti orang lain juga, kami merangkak dari bawah dan sampai pada suatu titik, dimana sebagai staf dari pejabat tinggi Negara kami kebagian tugas untuk menerima tamu yang juga merupakan pejabat tinggi atau utusan Negara lain pada saat “open house” lebaran dirumah beliau.
Saya datang dan mencium lutut ibu saya, berterima kasih atas kata kata beliau dulu dan doanya. Saya tidak bisa datang dihari pertama lebaran karena saya mendampigi suami saya bertugas.Seperti yang dulu beliau sering ucapkan kepada saya, benar adanya:suami saya “membawa saya ketengah!”. Ibu saya membelai belai kepala saya dan menciumnya.
Mungkin bagi orang lain ini hal sederhana dan biasa saja, tidak begitu buat seorang Elly yang dulu kurus, hitam, dan asmatis pula. Lagi pula, kami berasal dari sebuah kampung di ujung Sumatra, yang namanya tak akan anda temukan di peta!. apa yang saya alami buat saya dan keluarga saya sesuatu yang luar biasa, tak terbayangan sebelumnya.
Didaerah kami itu, ada kebiasaan orang tua bila marah menyebut anaknya : “Bertuah!” yang artinya “Sakti, Keramat, Beruntung atau Selamat!”
Jadi kalau anaknya nakal sekali ayah atau ibunya akan berkata atau berteriak : “Ya Allah ini anaaaak, benar benar ‘bertuah’ engkau !”.
Seandainyalah kalau kita lagi marah sama anak kita, kita bisa mengucapkan kata yang serupa….
Belakangan saya membaca riwayat Imam Abdurrahman Sudais yang mungkin juga anda sudah tahu. Bagaimana ketika beliau kecil, juga suka iseng atau mungkin nakal. Ibu beliau tengah menyiapkan jamuan makan dan sudah mengatur dengan rapih makanan yang akan disantap. Tak disangka Sudais kecil mengambil pasir dan menaburkannya diatas makanan tersebut. Tapi mulianya sang ibu yang sangat kecewa itu : Beliau “menyumpahi” anaknya dengan kata :” Ya Allah semoga anakku ini menjadi imam Haramain!” (Kedua mesjid :Al Haram dan Nabawi)
Di negeri kita ini banyak kisa serupa.Saya menamatkan membaca buku Athirah yang mengisahkan riwayat hidup ibunya bapak wakil presiden Jusuf Kalla, yang sekarang filmya sedang tayang di bioskop.
Alkisah ibu Athirah ini sedang berkendara dengan pak JK dan mereka melewati rumah Gubernur Sulawesi Selatan. Ibu Athirah berkata (kurang lebih) pada anak lelakinya yang sangat setia ini :”Saya sebenarnya mengharapkan engkau tinggal dirumah itu!”. Kenyataannya, pak Kalla dapat jabatan yang lebih tinggi dari Gubernur.
Walaupun sebagai orang tua kita telah berusaha melakukan yang sebaik yang kita bisa untuk anak anak kita, tapi kita tetap manusia yang bersifat silap, salah, tidak tahu atau lupa!.
Sayapun juga begitu, tak luput dari semua itu.Saya melakukan banyak kesalahan sebagai seorang ibu. Lalu begitu sadar, saya sujud, mohon keampunan Allah .
Marilah kita lihat masa lalu kita lewat kaca spion saja agar tidak lupa, tapi yuk kita fokus ke masa depan. Kita minta ampun pada Allah untuk semua keliru dan salah yang kita lakukan sengaja atau tidak sengaja. Kini dan kedepan mari berikan anak kita pondasi yang kokoh untuk mampu tegar di tengah persaingan yang semakin seram saja.
Percayalah, semua anak akan Allah beri masa depan dan itu bak dinding yang hampa. Biarkanlah anak itu melukisnya sendiri.
Marilah kita terus menerus belajar mengendalikan kata kata karena: Your words shape your children’s world !
Bekasi ,2 Oktober 2016
#Elly Risman

SHARE JIKA BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
==============================

Jangan Tertipu dengan Pujian Orang Lain


Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqozhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq, Asy Syamilah)

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]

Busana Muslim Branded Berkualitas


Hilfaaz Collections


Abu Musa berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

”Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.”(Shahih): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 54-Bab Maa Yukrohu Minat Tamaduh. Muslim: 53-Kitab Az Zuhd, hal. 67]

Tentang Kesempurnaan


Kisah Penuh Hikmah Tentang Kesempurnaan.. Sempurna, Mungkinkah..?!

[Baca dan saksikan videonya dengan tenang sambil direnungkan]

Suatu hari, seorang murid bertanya kepada gurunya: “Wahai tuan guru, bagaimana cara agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam kehidupan ini..?”

Sang Guru menjawab: “Berjalanlah di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali ke belakang..!”

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, sang murid kembali dengan tangan hampa..

Lalu Sang Guru bertanya : “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun…???”

Sang murid menjawab: “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali lagi kebelakang..!”

Sambil tersenyum, Sang Guru berkata : “Ya, begitulah kehidupan wahai muridku..! Betapa sering manusia mengejar yang sempurna dengan meninggalkan yang terbaik untuknya dan pada akhirnya ia tidak mendapatkan semuanya.. Kesempurnaan yang hakiki hanya milik Allah. Kita harus belajar ikhlas menerima apa yang Allah berikan kepada kita. Dan kita harus yakin bahwa pilihan Allah untuk kita adalah yang terbaik bagi kita.. Belajarlah mensyukuri dan mengembangkan anugerah yang Allah berikan…”

Alhamdulillaah Wasysyukru Lillaah, Terima Kasih yaa Allah..!

Silahkan buka videonya pada link dibawah ini;

[Sumber Kitab “Mata Air Inspirasi” Karya Abdullah Hadrami]

TATA CARA PUASA ENAM HARI BULAN SYAWWAL


Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan masyru’ (disyari’atkan). Pendapat yang menyatakan bid’ah atau haditsnya lemah, merupakan pendapat bathil [Majmu’ Fatawa, Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz, 15/389]. Imam Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad menyatakan istihbab pelaksanaannya [Taudhihul Ahkam, 3/533].

Adapun Imam Malik, beliau rahimahullah menilainya makruh. Agar, orang tidak memandangnya wajib. Lantaran kedekatan jaraknya dengan Ramadhan. Namun, alasan ini sangat lemah, bertentangan dengan Sunnah shahihah.

Alasan yang diketengahan ini tidak tepat, jika dihadapkan pada pengkajian dan penelitian dalil, yang akan menyimpulkan pendapat tersebut lemah. Alasan terbaik untuk mendudukkan yang menjadi penyebab sehingga beliau berpendapat demikian, yaitu apa yang dikatakan oleh Abu ‘Amr Ibnu ‘Abdil Barr, seorang ulama yang tergolong muhaqqiq (peneliti) dalam madzhab Malikiyah dan pensyarah kitab Muwatha.

Abu ‘Amr Ibnu ‘Abdil Barr berkata,”Sesungguhnya hadits ini belum sampai kepada Malik. Andai telah sampai, niscaya beliau akan berpendapat dengannya.” Beliau mengatakan dalam Iqna’, disunnahkan berpuasa enam hari di bulan Syawal, meskipun dilaksanakan dengan terpisah-pisah. Keutamaan tidak akan tetap diraih bila berpuasa di selain bulan Syawal.

Seseorang yang berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah berpuasa Ramadhan, seolah-olah ia berpuasa setahun penuh. Penjelasannya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Bulan Ramadhan laksana sepuluh bulan. Sementara enam hari bagai dua bulan. Maka hitungannya menjadi setahun penuh. Sehingga dapat diraih pahala ibadah setahun penuh tanpa kesulitan, sebagai kemurahan dari Allah dan kenikmatan bagi para hambaNya.

Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, satu bulan seperti sepuluh bulan dan berpuasa enam hari setelah hari Idul Fitri, maka itu merupakan kesempurnaan puasa setahun penuh”.[Hadits shahih, riwayat Ahmad, 5/280; an Nasaa-i, 2860; dan Ibnu Majah, 1715. Lihat pula Shahih Fiqhis Sunnah, 2/134].

BILAMANA PELAKSANAANNYA?
Syaikh Abdul Aziz bin Baz, di dalam Majmu’ Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah (15\391) menyatakan, puasa enam hari di bulan Syawal memiliki dasar dari Rasulullah. Pelaksanaannya, boleh dengan berurutan ataupun terpisah-pisah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan pelaksanaannya secara mutlak, dan tidak menyebutkan caranya dilakukan dengan berurutan atau terpisah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahun” [HR Muslim].

Beliau rahimahullah juga berpendapat, seluruh bulan Syawwal merupakan waktu untuk puasa enam hari. Terdapat riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya enam hari dari bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahun [ash Shiyam, bab Istihbabish-Shaumi Sittati Ayyam min Syawwal, 1164].

Hari pelaksanaannya tidak tertentu dalam bulan Syawwal. Seorang mu`min boleh memilih kapan saja mau melakukannya, (baik) di awal bulan, pertengahan bulan atau di akhir bulan. Jika mau, (boleh) melakukannya secara terpisah atau beriringan. Jadi, perkara ini fleksibel, alhamdulillah. Jika menyegerakan dan melakukannya secara berurutan di awal bulan, maka itu afdhal. Sebab menunjukkan bersegera melakukan kebaikan [Majmu’ Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, 15\390].

Tausiyah Bimbingan Islam, [04.07.16 07:26]
Para ulama menganjurkan (istihbab) pelaksanaan puasa enam hari dikerjakan setelah langsung hari ‘Idhul Fitri. Tujuannya, sebagai cerminan menyegerakan dalam melaksanakan kebaikan. Ini untuk menunjukkan bukti kecintaan kepada Allah, sebagai bukti tidak ada kebosanan beribadah (berpuasa) pada dirinya, untuk menghindari faktor-faktor yang bisa menghalanginya berpuasa, jika ditunda-tunda.

Syaikh ‘Abdul Qadir bin Syaibah al Hamd menjelaskan : “Dalam hadits ini (yaitu hadits tentang puasa enam hari pada bulan Syawwal), tidak ada nash yang menyebutkan pelaksanaannya secara berurutan ataupun terpisah-pisah. Begitu pula, tidak ada nash yang menyatakan pelaksanaannya langsung setelah hari raya ‘Idul Fithri. Berdasarkan hal ini, siapa saja yang melakukan puasa tersebut setelah hari Raya ‘Idul Fithri secara langsung atau sebelum akhir Syawal, baik melaksanakan dengan beriringan atau terpisah-pisah, maka diharapkan ia mendapatkan apa yang dijanjikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, itu semua menunjukkan ia telah berpuasa enam hari pada bulan Syawwal setelah puasa bulan Ramadhan. Apalagi, terdapat kata sambung berbentuk tsumma, yang menunjukkan arti tarakhi (bisa dengan ditunda)” [Fiqhul Islam, 3/232].

Demikian penjelasan singkat mengenai cara berpuasa enam hari pada bulan Syawwal setelah puasa bulan Ramadhan. Mudah-mudahan dapat memotivasi diri kita, untuk selalu mencintai sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak lain akan mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.

BAGAIMANA JIKA MASIH MENANGGUNG PUASA RAMADHAN?
Para ulama berselisih pendapat dalam masalah, apakah boleh mendahulukan puasa sunnah (termasuk puasa enam hari di bulan Syawwal) sebelum melakukan puasa qadha Ramadhan.

Imam Abu Hanifah, Imam asy Syafi’i dan Imam Ahmad, berpendapat bolehnya melakukan itu. Mereka mengqiyaskannya dengan shalat thathawu’ sebelum pelaksanaan shalat fardhu.

Adapun pendapat yang masyhur dalam madzhab Ahmad, diharamkannya mengerjakan puasa sunnah dan tidak sah, selama masih mempunyai tanggungan puasa wajib.

Syaikh Bin Baz rahimahullah menetapkan, berdasarkan aturan syari’at (masyru’) mendahulukan puasa qadha Ramadhan terlebih dahulu, ketimbang puasa enam hari dan puasa sunnah lainnya. Hal ini merujuk sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahun”.

Barangsiapa mengutamakan puasa enam hari daripada berpuasa qadha, berarti belum mengiringkannya dengan puasa Ramadhan. Ia hanya mengiringkannya dengan sebagian puasa di bulan Ramadhan. Mengqadha puasa hukumnya wajib. Sedangkan puasa enam hari hukumnya sunnah. Perkara yang wajib lebih utama untuk diperhatikan terlebih dahulu [Fiqhul Islam, 3/232].

Pendapat ini pun beliau tegaskan, saat ada seorang wanita yang mengalami nifas pada bulan Ramadhan dan mempunyai tekad yang kuat untuk berpuasa pada bulan Syawwal. Beliau tetap berpendapat, menurut aturan syari’at, hendaknya Anda memulai dengan puasa qadha terlebih dahulu. Sebab, dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan puasa enam hari (Syawwal) usai melakukan puasa Ramadhan. Jadi perkara wajib lebih diutamakan daripada perkara sunnah [Fiqhul Islam, 3/232].

Sementara itu Abu Malik, penulis kitab Shahih Fiqhis Sunnah berpendapat, masih memungkinkan bolehnya melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal, meskipun masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan. Dasar argumentasi yang digunakan, yaitu kandungan hadits Tsauban di atas yang bersifat mutlak [Shahih Fiqhis Sunnah, 2/134].

Wallahu a’lam.

🌐 Sumber Artikel : https://almanhaj.or.id/2835-tata-cara-puasa-enam-hari-bulan-syawwal.html
————————————
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun X/1427/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]

Cintai Anak Yatim, Usaha Sukses


Berawal dari karyawan biasa, lalu pindah-pindah kerja karena bangkrut, kini ia sukses menjalankan usahanya sendiri

Lulus dari STM di Ciamis, Jawa Barat, Dede Achmad Mugiono mencoba mengadu nasib ke Kota Bandung. Di kota kembang ini ia diterima di sebuah pabrik garmen sebagai teknisi listrik. Pekerjaan ini ia lakoni selama 12 tahun, mulai dari karyawan biasa hingga kepala bagian.

Karena pabriknya bangkrut, Dede terpaksa berpindah-pindah kerja. Di perusahaan terakhir, Dede juga melihat akan mengalami hal yang sama. Hingga suatu hari bosnya berkata, “Dede, kamu ini sebenarnya orang pintar dan tidak pantas jadi karyawan.”

Ketika tempat kerjanya bangkrut, Dede mendapat pesangon Rp 1 juta dan tambahan dari bosnya Rp 1 juta. “Saya sadar jika uang segitu jika dibelanjakan akan habis dalam hitungan hari,” kenang Dede. Ia kemudian berfikir, uang Rp 1 juta itu ia gunakan untuk membayar uang muka motor sebagai modal usaha.

Dengan motor itu ia menawarkan jasa servis ke perusahan-perusahan garmen. Karena kegigihan dan layanan yang memuaskan, dalam waktu tidak lama ia sudah mempunyai 6 pelanggan pabrik garmen dengan total jumlah mesin jahit sekitar 200 biji. Penghasilan dari jasa servis itu cukup lumayan dan bisa untuk menopang hidupnya di Jakarta.

Suatu hari rekan kerjanya menawari kerja sama membuka usaha konveksi. Kerjasama ini sifatnya barter, si rekan ingin memanfaatkan ilmu dan pengalaman Dede dalam bisnis garmen.

Dede menyambut suka cita tawaran itu dan menaruh harapan besar dari usaha baru ini. Dengan modal Rp 50 juta, ia mulai membuka usaha konveksi dengan membeli mesin jahit dan bahan produksi. Mesin jahit tersebut tidak semua dijadikan alat produksi. Jika ada yang butuh, mesin itu dijual kembali.

Tidak lama, usaha Dede menuai sukses. Produknya mampu menembus Amerika. Namun di saat ia menikmati kesuksesan, sesuai kesepakatan awal, temannya akan menarik modal tersebut. “Saya sudah siap mandiri, bagaimana dengan Pak Dede? Kapan kira-kira Pak Dede siap?” ungkap sang rekan kala itu.

Tentu saja itu menjadi pukulan berat bagi Dede. Apalagi saat itu pesanannya mulai ada tanda-tanda menurun setelah tragedi runtuhnya menara WTC di Amerika tahun 2001. Tragedi itu secara langsung berimbas pada kegiatan perekonomian negeri Paman Sam, tidak terkecuali produk garmen.

Namun sang rekan masih berbaik hati dengan memberi kesempatan Dede selama tiga bulan lagi. Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyak sebagai modal ketika sang rekan betul-betul memutus kerjasama.

Kerja keras Dede membuahkan hasil. Ia berhasil memperoleh keuntungan Rp 7 juta. Uang tersebut ia gunakan membeli mesin jahit sebanyak 10 buah. Ia pun dengan berani mengontrak rumah sebagai tempat usaha sebesar Rp 5 juta pertahun. “Alhamdulillah, kontraknya tidak dibayar dimuka,” kenangnya.

Seiring dengan waktu, usaha konveksi dan jual beli mesin jahit Dede mulai berkembang. Karena merasa cukup modal, akhirnya tahun 2005 ia mendirikan CV Tunas Utama Mesin sebagai payung usaha. Dengan bendera ini, ia mulai bermain pada skala yang lebih besar.

Tahun 2007, ada sebuah pabrik garmen mengalami pailit. Pabrik tersebut banyak masalah dan sang pemilik kabur sebelum menyelesaikan urusan dengan karyawannya. Tidak ada perusahaan atau pemilik modal yang mau mengambil alih.

“Padahal sebenarnya pabrik tersebut masih punya aset ratusan mesin jahit senilai Rp 200 juta,” jelas Dede. Pihak menejemen sendiri ingin menjual mesin jahit tersebut secara borongan. Lagi-lagi tidak ada pihak yang berani atau tertarik untuk membelinya.

Dengan niat ingin menolong, Dede menawarkan diri untuk membelinya. Meskipun ia sendiri tidak mempunyai uang sebanyak itu. Ia hanya mempunyai uang Rp 25 juta dan sisanya dibayar dengan cara mencicil.

Di luar dugaan tawaran Dede disetujui oleh pihak menejemen. Dan hebatnya, dalam tempo satu bulan pembayaran bisa lunas.

Kini, usaha Dede terus berkembang. Jumlah karyawannya 8 orang. Omsetnya sudah mencapai ratusan juta rupiah tiap bulannya. Ketika ditanya, ia enggan menyebutkan secara pasti. Tapi yang jelas setiap bulannya Dede mampu mengangsur ratusan juta. “Nggak tahu ya berapa omsetnya, yang jelas tiap bulan saya membayar kewajiban kepada rekan bisnis Rp 400 juta,” jelasnya.

Sedekah Kulkas

Keberhasilan Dede dalam berbisnis ternyata dilandasi oleh semangatnya yang merasa tidak pernah rugi dalam berbisnis. Menurutnya, perkataan rugi berarti tidak yakin bahwa rezeki datangnya dari Allah atau ber-su’uzhan (berburuk sangka) kepada Allah. Baginya, berbisnis atau berdagang harus berprinsip selalu untung.

“Untung tidak diartikan secara materi (uang) semata, namun karena berdagang adalah diniatkan sebagai ibadah maka keuntungan tersebut bisa berupa pahala, hubungan silaturahim maupun kemudahan lainnya,” jelasnya.

Selain itu, Dede juga punya keyakinan bahwa dalam menjalankan bisnis tidak boleh melupakan zakat dan sedekah. Ini yang ia buktikan.

Suatu saat pada bulan Ramadhan, ia membaca di koran ada panti asuhan anak membutuhkan alat rumah tangga. Dede langsung teringat pada kulkasnya. Ia kemudian mensedekahkan kulkas tersebut kepada panti asuhan itu.

Setelah kejadian tersebut Dede banyak mendapat kemudahan dalam bisnisnya. Antara lain, ia mendapat order yang tidak terduga sebelumnya. Beberapa relasinya yang mempunyai hutang kepadanya, membayar dengan tunai. “Padahal saya sudah lupa utang mereka,” terangnya.

Sejak itu ia semakin yakin bahwa zakat, infak, dan sedekah pasti akan diganti oleh Allah dengan yang lebih banyak lagi.

Setelah kejadian itu, ia pun dengan senang hati meminjamkan rumahnya ke sebuah panti asuhan untuk beberapa tahun. “Kita harus yakin dengan janji Allah, bukan sekedar di akhirat, di dunia kita sudah bisa merasakan. Apalagi dengan menyantuni anak yatim, doa-doa mereka akan menjadi kekuatan bagi kita. Jadi jangan ragu untuk berbagi,” saran bapak empat anak ini.

Kedermawanan Dede tidak sekedar menjadi donatur sebuah panti asuhan saja, namun sudah beberapa tahun ini dirinya beserta istri juga tengah mengasuh beberapa anak yatim dan dhuafa. Setidaknya ada 40 anak asuh yang mereka santuni. Sebagian besar mereka masih tinggal bersama keluarganya. “Supaya mereka tidak terpisah atau tercabut dari kasih sayang keluarganya,” jelas Dede.

Selain itu, ia pun selalu berusaha melaksanakan ibadah sebaik mungkin. Dari hasil usahanya itu, ia bersama istrinya bisa menunaikan haji ke Baitullah. “Dengan banyak bersedekah, insya Allah usR 2012aha kita akan dilancarkan oleh Allah,” pungkasnya. *Ngadiman, Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah

//


SavedURI :Show URL