Tag Archive | Nasehat

Haqqa Tuqaatih


Haqqa Tuqaatih
Oleh: Ust Solikhin Abu Izzuddin | Instagram: @solikhinzerotohero
Inspirasi dari Taujih Shubuh Dr.Mu’inudinillah Basri, M.A.
Bagaimana agar bisa istiqomah?

1. Iman. Ini sumbu yang harus selalu nyala di dalam dada, di dalam jiwa.

2. Taqwa. Yakni sebenar-benar taqwa. Seperti disediakan gunung emas, masing-masing silakan ambil emas, panggul dan bawa. Tentu semua ingin bawa sebanyak banyaknya. Namun karena tak mampu bawa semuanya, akhirnya dikurangi sedikit, dikurangi lagi, sampai batas yang mampu kita bawa. Itulah cara kita menegakkan perintah Allah, sampai kemampuan maksimal yang kita bisa.

3. Islamiyatul hayah, islamisasi hidup kita masing2 dengan tunduk patuh pada ketentuan Allah dan berikhtiar menciptakan kondisi yang kondusif untuk menjaga nilai-nilai iman.

Namun, tidak hanya itu saja, Allah memerintahkan kita, umat yang sudah dibangun melalui takwinul ummah (pembentukan umat) itu agar

1. BERPEGANG TEGUH KEPADA TALI AGAMA ALLAH dengan BERJAMAAH (3:103)

Mungkin seseorang secara pribadi kuat, unggul, dahsyat, hebat, namun kalau sendirian dia akan lemah dan rapuh. Ringkih. Maka dalam berjamaah kita belajar dari keikhlasan Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar bin Khaththab.

Ketika terjadi pemurtadan besar-besaran usai wafatnya Rasulullah saw, Abu Bakar hendak memerangi mereka yang murtad dan tidak bayar zakat, Umar tidak sepakat karena mereka masih bersyahadat.

Namun ketika Umar tersadar maka dia mengikuti jalan besar dan benar yang ditentukan Abu Bakar, “Alhamdulillah, Allah lapangkan dada Abu Bakar untuk menentukan pilihan yang benar.”

Umar yang melihat celah amal dan ide besar rela menyerahkan ide besarnya berupa pengumpulan Al Quran usai syahidnya 70 hufadz dalam perang Yamamah. Ide tersebut diikhlaskan, diberikan untuk kebesaran Islam, bukan kebesaran nama Umar. Inilah fatsoen berjamaah yang agung.

Sahabat, seringkih apapun kita, ketika bersama jamaah yang berpegang teguh di jalan Allah, maka kita akan dikuatkan oleh Allah. Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah bahkan naudzubillah, jangan sampai berambisi dengan nafsu, kedengkian, hasad, dan syahwatnya untuk membubarkan jamaah.

Jika kita melihat titik lemah dari jamaah dan qiyadah, justeru kita sumbangkan potensi yang kita punya untuk membesarkan dakwah, bukan membesarkan diri.

Ketika Abu Bakar hendak meminta Umar menjadi pengganti Rasulullah, Abu Bakar berupa, “Umar, engkau lebih kuat daripada diriku…”

Umar menolak, “Engkau, wahai Abu Bakar, lebih mulia daripada aku. Engkaulah yang ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk mengimami shalat. Biarlah kekuatanku kuberikan bergabung dengan kemuliaanmu…”

Masya Allah. Itulah keikhlasan sejati yang akan mengokohkan soliditas bangunan umat.

2. JANGAN BERPECAH BELAH. Auz dan Khazraj hampir saja terjerumus salah kehidupan jahiliyah yang hobi perang dan gemar berpecah belah. Isu utama Umat Islam hari ini bagaimana merangkai potensi di dalam dan membangun sinergi keluar. Jangan sampai ada ketidakpuasan kepada pimpinan atau keputusan lalu melakukan perusakan ke dalam dan demarketisasi keluar. Kalau kita mau bersabar tentu Allah akan anugerahkan kemenangan yang besar.

3. INGATLAH NIKMAT ALLAH KETIKA DI TEPI NERAKA LALU ALLAH SELAMATKAN KAMU.

Abdullah bin Hudafah as Sahmi diutus oleh Nabi saw untuk sebuah ekspedisi. Nabi saw menegaskan agar mentaati Abdullah bin Hudafah yang memimpin kalian.

Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)


Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)

Keimanan yang kokoh menjadi perisai bagi setiap kader dakwah. Dan hal ini hendaknya menjadi sebuah kelaziman. Sehingga keimanan itu betul-betul bak perisai kuat untuk menahan lajunya serangan musuh yang senantiasa datang silih berganti. Perisai ini wajib selalu berada di tangan aktivis dakwah. Ia tak boleh lepas sekejappun apalagi hilang tak berketentuan arah. Keimanan yang diumpamakan perisai itu berawal dari kekuatan tauhid yang tertanam dalam sanubarinya. Tauhid yang kuat dan bersih dari berbagai penyimpangannya. Ia diasaskan dari kalimat yang baik (kalimatun thayyibah) yang terikat dalam jiwanya. Kalimat yang baik dari kekuatan tauhid ini lantaran persaksian dan komitmen loyalitasnya pada Sang Maha Perkasa. Hingga kalimat itu, Allah SWT umpamakan seperti pohon yang baik.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ . تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (Ibrahim: 24 – 25).

Pohon ini tiada duanya di muka bumi ini. Ia tumbuh subur dan berkembang pesat dan mampu melawan serangan hama dan penyakit. Sehingga ia menghasilkan buah yang tak pernah henti. Malah menumbuhkan pohon-pohon lainnya. Itulah pohon keimanan.

Disebut Syajaratul Iman (Pohon Keimanan) lantaran keimanan yang kokoh laksana sebuah pohon yang selalu memberikan manfaat yang amat banyak;

– Buahnya dapat dikonsumsi oleh setiap makhluk yang menginginkannya.

– Dahannya dapat menjadi sarang serta tempat bertengger burung-burung.

– Daunnya yang lebat menjadi tempat berteduh musafir yang lewat.

– Akarnya menyimpan persediaan air untuk bumi yang tandus.

Inilah pohon keimanan yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Beliau mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah SWT. menyerupakan pohon iman yang bersemi dalam hati dengan pohon yang baik. Akarnya menghunjam ke bumi dengan kokoh dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan buah setiap musim. Jika engkau renungkan perumpamaan ini tentulah engkau menjumpainya cocok dengan pohon iman yang telah mengakar kokoh ke dalam dan di dalam hatinya. Sedang cabangnya berupa amal-amal shalih yang menjulang ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan hasilnya berupa amal shalih di setiap saat menurut kadar kekokohannya di dalam hati. Kecintaan, keikhlasan dalam beramal, pengetahuan tentang hakikat serta penjagaan hati terhadap hak-haknya’.

Diantara para ulama penafsir Qur’an mereka berpandangan bahwa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits riwayat Ibnu Umar RA. Dalam kitab shahih. Ar Rabi’ Ibnu Anas mengatakan bahwa orang mukmin itu pokok amalnya menghunjam ke bumi sedang buah amalnya menuju langit lantaran keikhlasannya dalam beramal.

Ibnul Qayyim mengatakan, ‘Tidak ada perbedaan diantara ke dua pendapat itu karena makna yang dimaksud tamsil ini adalah sosok orang mukmin sejati. Sedang pohon kurma adalah sebagai gambaran yang menyerupainya dan dari diri orang mukminlah sebagai sosok yang diserupakannya’. Pohon-pohon keimanan ini tumbuh dan berkembang bahkan menumbuhkan pohon lainnya.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam kitabnya Ar Raqa’iq menggambarkan bahwa pohon-pohon itu bak laksana kumpulan tanaman taman nan indah. Setiap orang yang melihat pasti ingin berteduh didalamnya. Setiap melihat buah mesti tangan ingin menjamahnya. Pokoknya taman itu amat menarik hati. Pohon-pohon yang tumbuh di taman nan menawan itu adalah:

1. Syajaratut Tha’ah (Pohon Ketaatan)

Dari tempat kamu berteduh di bawah pohon iman itu kamu dapat mencium aroma wewangian bunga yang semerbak di dekatnya. Itu bersumber dari sebuah pohon yang disebut syajaratut tha’ah, yakni pohon ketaatan. Ia menjadi saksi terhadap keridhaan Allah saat dilimpahkan di hari turunnya ayat berikut:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (Al-Fath:18)

Orang yang berteduh di masa sekarang akan senantiasa mendapatkan ketenangan hati dan tidak mudah goyah karena faktor terhalangnya mendapatkan sesuatu atau tertinggal olehnya. Ia tetap tabah menunggu kemenangan yang akan diraihnya. Ia juga berada dalam arus gerakan Islam untuk selalu menunaikan tugas-tugas dan tanggung jawabnya. Ia setia dengan beban yang terpikul di pundaknya. Dengan sikap itu ia mampu meruntuhkan mercusuar kesesatan. Sedang ia telah menyatakan janji setia kepada Islam untuk mati sebagai tebusannya. Pohon ketaatan ini bersumber pada akar pengabdian yang utuh pada Sang Maha Pencipta. Sudah semestinya pohon ketaatan itu tumbuh subur di hati kader dakwah.

2. Syajaratut Tirhab (Pohon Penyambutan)

Pohon ini dinamakan pohon penyambutan. Ini untuk menyambut mereka-mereka yang sedang berjuang untuk mempertaruhkan hidupnya agar meraih kemuliaan di sisi Rabbnya. Jika Allah memilih untuk menimpakan musibah kepadamu sebagai jalan untuk meraih anugerah keridhaan-Nya. Dan kamupun mengalami cobaan berat hingga memaksamu berlindung di bawah syajaratut Tirhab, pohon penyambutan. Ini dilakukan untuk mencari ketenangan di bawah naungannya seraya menggerakkan pokoknya agar melimpahkan sebahagian dari berkahnya kepadamu. Dan engkau melakukan sikap sebagaimana yang dilakukan ibunda Maryam AS. Ketika bumi terasa sempit olehnya. Maka terdengarlah suara yang menyeru kepadanya:

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا . فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Maryam: 25 – 26).

Maka engkau mendapat makan dari buahnya yang telah masak dengan rasa puas tanpa berlebihan. Di sana engkau beroleh minuman yang segar dari sungai kecil yang mengalir di hadapanmu dengan mencidukkan kedua tanganmu kepadanya tanpa harus bersusah payah. Pohon ini berdiri pada pokoknya yakni kecintaan untuk menghariba kepada Rabbul Izzati. Dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan akan perjumpaannya. Bagi seorang kader dakwah mendekatkan diri untuk menghamba kepada Allah SWT menjadi keharusan. Agar ia senantiasa dalam kondisinya yang prima. Tidak lapar dan tidak pula kehausan. Ia dapat memenuhi hak dan kebutuhan hidupnya dalam memperjuangkan ajaran-Nya.

3. Syajaratul Wafa’ (Pohon Kesetiaan)

Kesetiaan adalah tanda kecintaan. Dan kecintaan merupakan prasyarat dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan kecintaannya. Nabi Muhammad SAW. mempunyai tanaman sendiri sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits, bahwa banyak pohon yang menyaksikan beberapa peristiwa dari perjalanan hidupnya yang mulia. Sebagai isyarat yang menunjukkan adanya hubungan ini. Terkadang sebagai gambaran untuk menyadarkan orang yang lalai. Diantaranya adalah syajaratul wafa’, pohon kesetiaan. Sebagai tanda adanya komunikasi di antara ruh-ruh yang selalu ingat. Pohon ini dapat mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada yang berhak menerimanya serta mengakui kebaikan yang diberikannya.

Ia adalah batang pohon kurma yang merintih saat ditingalkan. Jabir bin Abdullah RA. meriwayatkan, ‘Dahulu ada sebatang pohon kurma yang digunakan oleh Nabi SAW. untuk pijakan tempat berdirinya. Setelah dibuatkan mimbar untuk Nabi, kami mendengar dari batang kurma itu suara rintihan seperti rintihan unta yang sedang hamil besar. Hingga Nabi saw turun dari mimbarnya lalu meletakkan tangannya pada batang itu barulah batang pohon itu diam’. Batang pohon itu mengeluarkan suara rintihan seperti rintihan unta betina hamil besar. Peristiwa ini merupakan salah satu mukjizat Nabi SAW. Sebatang pohon yang diberikan penghormatan kepadanya lalu ia membalasnya. Manakala ditinggalkan ia merasa sedih sehingga kesedihannya itu melahirkan suara rintihan. Sekarang tiada seorangpun diantara kita melainkan di rumahnya terdapat kitab hadits. Seakan-akan Nabi saw berdiri di hadapannya mengajarkan urusan agama dan mengajarinya hukum-hukum syariat Islam. Maka sudah selayaknya bagi manusia seperti kita berterima kasih dan membalasinya dengan ketaatan dan kesetiaan pada ajaran yang dibawanya. Kita telah mendapatkan pelajaran yang amat bagus dari sebatang pohon kurma. Maka kita sebenarnya yang amat patut melakukan hal itu dan menterjemahkannya dalam sikap kita terhadap dakwah dan ajaran ini. Sepatutnya kita pun para kader dakwah merintih karena tidak dapat berbuat banyak untuk memberikan kontribusi pada dakwah ini sebagaimana orang-orang yang disebutkan Allah SWT. dalam kitab-Nya Allah berfirman:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. (At-Tauabh:92).

4. Syajaratut Tsabat (Pohon Keteguhan)

Keteguhan menjadi hal yang amat urgen dalam mengemban amanah mulia. Karena godaan dan rintangan akan selalu datang silih berganti. Karena itu bagi aktivis dakwah ia amat memerlukan pohon keteguhan. Engkau dapat berlindung dibawahnya di hari manusia berpecah belah karena kecenderungannya yang berbeda-beda. Engkau mencari selamat dengan meninggalkan semua golongan yang berpecah belah itu. ‘Sekalipun engkau harus menggigit akar pohon (yakni berpegang teguh pada prinsip meskipun hidup menderita)’.

Oleh karena itu berlindunglah pada pohon keteguhan ini untuk mengeraskan gigitannya. Seandainya engkau bayangkan keadaan yang sebenarnya tentulah hatimu menjadi ragu dan bergetar penuh kecemasan. Antara perasaan takut bila pegangannya mengendur lalu terbawa arus dan harapan untuk tetap bertahan demi mencapai keselamatan.

Akan tetapi sari pati cairan yang dikeluarkan oleh pohon itu membuat kamu segar karena mendapat minuman darinya. Sedang manusia saat itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Tenggorokanmu basah lagi sejuk, sehingga menambah keras gigitanmu terhadapnya, seakan-akan kamu menghisap keteguhan dan kekokohan darinya bagaikan bayi lapar yang sedang menyusu. Pohon keteguhan ini juga menjadi alat Bantu untuk menghadapi cobaan dan ujian komitmen dari berbagai rayuan dunia yang memikat. Dari pohon itu kader dakwah tidak akan goyah karena daya tarik material duniawi yang fana. Ia tidak seperti orang-orang yang lalai dari kesetiaannya karena tergoda oleh ikan-ikan yang bermunculan pada saat mereka harus menunaikan komitmen itu.

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik”. (Al-A’raf:163).

5. Syajaratul Unsi (Pohon Penghibur)

Pohon ini menjadi penghiburmu di saat kamu sendirian dan kelembabannya meringankan (membasahi) keringnya kesalahanmu. Pohon ini ditanam oleh Nabi saw, saat beliau melalui dua kuburan yang sedang diazab. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Nabi SAW. ‘Beliau mengambil sebatang pelepah kurma yang masih basah. Dan membelahnya menjadi dua bagian lalu menancapkan kepada masing-masing dari kedua kuburan itu satu bagian. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau lakukan itu?’. Rasulullah SAW. menjawab, ‘Mudah-mudahan azab diringankan dari keduanya selama kedua pelepah ini belum mengering’.

Buraidah Al Aslami RA. memahami hal ini sebagai tuntutan yang dianjurkan. Oleh karena itu ia berwasiat agar ditancapkan di atas kuburannya nanti dua batang pelepah kurma. Orang-orang pun mengikuti jejaknya dalam hal ini. Ada kalanya kita tidak dapat terlepas dari dosa-dosa kecil yang mencemari keikhlasan amal kita atau dari keterpaksaan mengejar sisa-sisa yang ada di tangan ahli dunia dari harta yang memperdayakannya. Yang biasa dibarengi dengan begadang yang merusak kesehatan dan dirundung oleh kegelisahan yang membuat diri kita tidak dapat tidur. Sehingga tubuh ini menjadi lemah untuk persiapan kerja di pagi hari. Barang kali dengan meluangkan waktu sejenak untuk berteduh di bawah pohon ini agar dapat meringankan beban hidupmu. Tentu hiburan bagi aktivis dakwah bukanlah dengan lantunan nasyid-nasyid dengan iringan bunyi musiknya atau juga bukan dengan tontonan yang melalaikannya. Akan tetapi hiburannya melalui dengan mengenang sejarah kehidupan umat terdahulu yang diabadikan kebaikannya serta mengingat akan janji balasan yang akan diberikan Allah SWT. pada orang-orang yang beriman. Sehingga dapat menggambarkan kenangan indah di hatinya akan kehidupan orang-orang yang telah berada di negeri cahaya yang penuh berkah.

6. Syajaratul Mufashalah (Pohon Pemisahan)

Pohon pemisahan ini menjadi saksi tentang sempurnanya akan kebersihan sarana yang digunakan oleh seorang muslim dalam mencapai tujuannya yang bersih. Demikian itu terjadi ketika ada seorang musyrik yang ingin bergabung memberikan bala bantuan kepada pasukan kaum muslimin dalam perjalanannya menuju medan perang Badar. Orang musyrik itu memberikan bala bantuan atas dasar fanatisme golongan untuk membela kaumnya. Ketika pasukan kaum muslimin sampai di sebuah pohon besar yang menjadi rambu jalan sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah RA. Lalu orang musyrik itu hendak bergabung. Maka Nabi menoleh kepadanya dan mengatakan, ‘Kembalilah kamu, aku tidak meminta bantuan dari orang musyrik’.

Maka ketetapan ini terus berlaku sebagai prinsip yang tidak pernah ada pengecualiannya. Kecuali hanya dalam kejadian-kejadian yang terbatas dan langka. Oleh karena itu prinsip ini tetap menjadi pijakan dalam amal dakwah kita agar tidak mengemis meminta-minta balas bantuan dari orang yang memusuhi dakwah. Apalagi potensi yang dimiliki umat masih melimpah ruah untuk didayagunakan.

7. Syajaratul Istighfar (Pohon Meminta Ampunan)

Pohon istighfar berupa pohon anggur yang banyak buahnya. Apabila ada seorang tamu yang mampir ke rumah pemiliknya maka ia akan memetik setangkai buah itu lalu disodorkan kepadanya untuk mencicipinya. Setelah itu tentu seseorang yang bertandang itu akan merasakan kepuasan yang teramat sangat. Kemudian pada hari yang lain. Isteri pemilik kebun anggur itu mengatakan kepada suaminya. ‘Cara seperti itu tidak etis kepada tamu, sebaiknya engkau ikut memakan separuh jamuanmu guna menyenangkan hatinya dan sekaligus sebagai pernghormatan padanya’. Suaminnya menjawab, besok aku akan lakukan hal itu. Keesokan harinya, setelah tamunya memakan separuh hidangan yang disajikan kepadanya. Lalu lelaki pemilik kebun itu ikut serta memakannya. Tatkala ia mencicipinya terasa anggur itu masam dan tidak enak untuk dimakannya. Ia pun meludahkannya dan mengernyitkan kedua alisnya keheranan atas kesabaran tamunya yang mau merasakan buah seperti itu. Namun tamu itupun menjawabnya. ‘Sesungguhnya aku telah memakan buah ini dari tanganmu sebelumnya selama beberapa hari dengan rasa manis tetapi sekarang ini aku tidak suka memperlihatkan kepadamu rasa tidak enak pada buah ini sehingga membuatmu menyesali pemberianmu yang lalu’.

Apa yang disebutkan di atas ini bukanlah kisah ngawur melainkan sebagai tamsil perumpamaan yyang dibuat untuk para dai yang mengusung dakwah ini. Karena itu dengarkanlah baik-baik. Hal ini merupakan ungkapan kisah yang dijabarkan kepadamu untuk mendekatkan kepahamanmu kepadanya agar mudah kamu cerna.

Tidak seorangpun di antara orang-orang yang ada disekitarmu yang terpelihara dari kesalahan dan benar selalu adanya. Oleh karena itu jika ada saudaramu yang berbuat kekeliruan maka janganlah kekeliruannya itu mendorongmu untuk mendiamkannya tidak mau bergaul lagi dengannya. Tidak sabar terhadapnya atau mendiskriditkannya. Bahkan jangan pula kamu mencelanya melainkan bersabarlah kepadanya. Dan tahanlah emosimu. Dan kamu harus memaafkannya dalam hatimu karena mengingat kebaikannya yang terdahulu dan perilakunya yang baik dan penghormatannya kepadamu. Karena barangkali dia dapat membantumu untuk bertaubat atau menolongmu saat kamu belajar sebagai pelayan pendamping atau teman begadangmu atau dia mengajarkan kepadamu suatu bidang pengetahuan yang diajarkan Allah kepadanya dan hal-hal baru yang belum kamu ketahui.

8. Syajaratuz Zuhud (Pohon Zuhud)

Jika engkau telah beroleh faedah dan menebarkan keadilan maka sudah saatnya bagimu untuk membaringkan diri di bawah sebuah pohon yang ramping lagi banyak buahnya dan bunganya. Keindahannya memukau pandangan orang yang melihatnya dan membuat orang yang menikmati keindahannya berdecak kagum karena selera penanamnya begitu tinggi.

Itulah pohon zuhud. Yaitu pohon yang bersemi di dalam hati. Jenisnya lain dari yang lain. Belum pernah ada seorang pun yang menanam hal yang semisal itu sehingga terlihat sangat indah. Penanamannya menggambarkan pohon itu bagai syair berikut:

Zuhud telah menanamkan pohon dalam kalbuku

Sesudah membersihkannya dari bebatuan dengan susah payah

Dia menyiraminya sesudah menancapkannya ke bumi dengan air mata yang dialirkan

Manakala di melihat burung-burung perusak tanaman terbang mengelilingi pagarnya

Dia mengusirnya

Aku tidur di bawah naungan yang rindang dengan hati yang senang

Dan mengusir semua yang mengganggunya

Kemudian aku berjanji setia kepada Tuhanku

Seperti itulah Bai’atur Ridwan dilakukan di bawah pohon untuk memberikan janji setia. Rasakanlah kamu menjadi salah seorang diantara mereka yang melakukan hal itu. Dan kamu bersama di tengah-tengah mereka. Dirimu dipenuhi oleh semangat bai’at janji setia sampai mati di jalan Allah SWT. demi membela ajaran ini tegak di muka bumi.

9. Syajaratul Hilm (Pohon Penyantun)

Imam Hasan Al Banna telah memahami seni menanam pohon keimanan ini. Karena itu ia menanamkan kepada kita pohon Kesantunan. Beliau menggambarkannya sebagai berikut: ‘Jadilah kamu seperti pohon yang berbuah. Manusia melemparinya dengan batu sedang ia melempari mereka dengan buahnya’.

Sesungguhnya ia telah memberikan gambaran yang baik dan masukan yang berfaedah. Karena sesungguhnya kebanyakan manusia cepat cenderung kepada kejahilan sehingga mendorong mereka untuk mendustakan para da’i dan menyakiti mereka dengan cara batil. Seandainya seorang da’i bersikap jahil seperti orang jahil itu dan membalas keburukan dengan keburukan semisal, niscaya akan lenyap dan pudarlah nilai-nilai kebajikan itu. Sebenarnya sikap yang harus diambil seorang da’i adalah berlapang dada, mengharapkan pahala Allah dan memohon ampunan bagi kaum yang tidak mengerti itu.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid menandaskan bahwa pohon keimanan itu mesti diberi pupuk dan disiraminya disetiap waktu. Dirawatnya dengan baik agar tidak dimakan hewan yang mendatanginya atau dihinggapi hama penyakit. Ia pun perlu diselamatkan dari tangan jahil manusia yang sering usil untuk memetik buahnya sebelum masanya. Ia perlu penjaganan yang ekstra agar pohon-pohon itu memberikan buahnya bagi dakwah ini. Itulah Tsamaratud Da’wah (Buah Dakwah). Yakni kader-kader dakwah yang militan yang menyediakan dirinya untuk melayani dakwah ini dan berkhidmat terus demi tegaknya ajaran ini. Bila pertumbuhan kader ini terus tumbuh dari berbagai segmen dan usia secara seimbang maka dakwah ini akan mengalami tingkat produktifitas yang amat tinggi. Intajiyatud Da’wah (Produktivitas Dakwah). Dengan begitu mewujudkan misi utama dakwah ini untuk mencapai perubahan nilai dan norma akan semakin terrealisir.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya:107).

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan peranglah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al-Anfal:39).

Ukhuwah adalah syarat memasuki Syurga…


Ukhuwah adalah syarat memasuki Syurga…

Muqaddimah.
Ukhuwwah atau persaudaraan di dalam Islam merupakan jalinan yang menghubungkan sebahagian dengan sebahagian umat Islam yang lain . Ia merupakan ikatan rabbani , ikatan yang diikuti dan dibina atas dasar ketaatan kepada Allah yang mengikat hati-hati mereka dan ia merupakan ikatan keimanan yang paling kukuh sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi saw. yang bermaksud :“Sekuat-kuat ikatan iman ialah cinta dan berkasih-sayang kerana Allah dan marah juga kerana Allah” . (Hadith riwayat Imam Ahmad)

Di dalam ajaran Islam persaudaraan adalah suatu tunggak yang menjadi tunjang kepada pembinaan sebuah masyarakat Islam yang kukuh dan juga sebagai sendi yang menghubungkan anggota masyarakat. Harakah Islamiyyah sangatlah memerlukan agar ikatan persaudaraan yang dianjurkan oleh Islam ini diperkukuhkan sehingga ia menjadi seolah-olah satu bangunan yang tersusun rapi, satu anggota memperkuatkan satu anggota yang lain. Ianya umpama satu jasad yang apabila satu daripada anggota jasad itu merasai sakit, maka seluruh anggota yang lain turut menanggung penderitaannya.

Ukhuwwah Dalam Konteks Amal Islami

Bagi memastikan hak-hak dan kewajipan ukhuwwah ini dilaksanakan dengan sempurna dan berperanan dalam pembangunan jemaah, Islam telah menjelaskan cara-cara bagaimana hak-hak dan kewajipan tersebut dilaksanakan secara amali dengan memberi penekanan kepada tanggungjawab yang mesti dilaksanakan bukan hanya sekadar ucapan di bibir atau teori semata-mata.

1. Ukhuwwah (yang terjalin antara seorang mukmin dengan seorang mukmin yang lain) mestilah menjadi hubungan yang membawa mereka kepada ketaatan kepada Allah sebagai membenarkan sabda baginda Rasulullah saw yang bermaksud : “Sesiapa yang Allah ingin dikurniakan kebaikan kepadanya, nescaya Allah mengurniakan kepadanya seorang teman setia yang salih, jika sekiranya ia terlupa (lalai) teman itu menolong memberi peringatan, dan apabila (temannya itu) memperingatkannya, ia akan menolongnya.” Teman setia yang baik seperti inilah yang dimaksudkan oleh Saidina Umar Al-Khattab r.a yang mengatakan: “Engkau mestilah mencari saudara-saudara yang jujur dan hiduplah di kalangan mereka, kerana mereka itu adalah perhiasan di waktu senang dan bekalan di waktu kesusahan”.

2. Di sudut kejiwaan pula, ukhuwwah merupakan satu keperluan kerjasama, turut merasai keperluan-keperluan saudara-saudara yang lain dan berusaha memenuhi keperluan tersebut sebagai menyahut tuntutan sabda Rasulullah saw: “Jika sekiranya seorang dari kamu berjalan bersama saudaranya dengan tujuan memenuhi keperluannya (dan baginda menunjukkan isyarat dengan jari-jari baginda) amalan itu lebih utama dari ia beri’ktikaf selama dua bulan di dalam masjid ku ini”. (Hadith riwayat Al-Hakim dan ia mengatakan sanad-sanadnya sahih )

3. Persaudaraan juga adalah kerjasama di bidang kebendaan sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Sesiapa yang melapangkan seorang muslim dari satu kesusahan dunia nescaya Allah melapangkan untuknya satu dari kesusahan di akhirat. Sesiapa yang memudahkan seorang yang di dalam kesusahan nescaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat dan sesiapa yang menyembunyikan rahsia seorang muslim nescaya Allah akan memelihara rahsianya di dunia dan di akhirat. Dan Allah sentiasa menolong seseorang hamba selama ia menolong saudaranya”.

4. Ukhuwwah adalah tanggungjawab kemasyarakatan yang merangkumi kewajipan-kewajipan yang ringkas. Sehubungan dengan perkara ini Rasulullah saw bersabda: “Hak seorang muslim ke atas seorang muslim yang lain ada enam perkara:
(1) Apabila engkau bertemu dengannya hendaklah engkau memberi salam.
(2) Apabila ia menjemputmu maka penuhilah jemputannya.
(3) Apabila ia meminta nasihat hendaklah engkau memberi nasihat kepadanya.
(4) Apabila ia bersin dan bertahmid maka hendaklah engkau lengkapkan dengan bertasymit ( mengucapkan yarhamukaLlah ).
(5) Apabila ia sakit hendaklah engkau menziarahi.
(6) Apabila ia meninggal dunia hendaklah engkau mengiringi jenazahnya” . (Hadith riwayat Muslim)

5. Ukhuwwah juga bererti kemesraan, kasih sayang dan saling bantu-membantu. Berhubung dengan perkara ini Allah berfirman dalam surah al-balad ayat ke 17 yang bermaksud: “Selain itu dia termasuk dalam golongan orang yang beriman dan berwasiat satu sama lain supaya bersabar dan dengan berkasih sayang”. Rasulullah saw bersabda:“Janganlah kamu saling memutuskan silatur-rahim, janganlah kamu saling belakang-membelakangi, janganlah kamu saling benci-membenci dan janganlah kamu saling hasad-menghasad. Sebaliknya jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal (haram) bagi seorang muslim itu memulaukan saudaranya (yang mukmin) melebihi tiga hari”. Rasulullah saw juga bersabda: “Janganlah kamu memandang rendah terhadap sesuatu kebaikan, walaupun dengan cara bermanis muka ketika bertemu saudaramu ( kerana itu juga satu kebaikan). ( Hadis riwayat Muslim). Dalam hadis yang lain Rasulullah juga bersabda : “Setiap perkara kebaikan adalah sedekah. Sesungguhnya di antara perkara ma’ruf itu ialah bermanis muka ketika bertemu saudaramu dan menolong memenuhi bejana saudaramu dengan air”. (Hadis riwayat Al –Tirmidhi). Selain itu Rasulullah saw juga menjelaskan cara yang paling baik dan praktikal untuk merapatkan ukhuwwah ialah dengan memberikan hadiah. Sabda Nabi yang bermaksud: “Hendaklah kamu saling memberi hadiah kerananya kamu saling berkasih sayang dan akan jauhlah permusuhan”. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

6. Ukhuwwah menurut ajaran Islam ialah keghairahan dan setia kerana Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mempertahankan maruah kehormatan saudaranya nescaya Allah akan menjaga wajahnya dari seksaan api neraka di hari Qiamat”. (Hadis riwayat Al-Tirmizi). Seseorang Islam itu juga diingatkan supaya mendoakan untuk saudara seIslamnya. Ini penting kerana dalam satu hadis Nabi bersabda yang bermaksud: “Doa seseorang muslim untuk saudaranya di belakangnya adalah mustajab, terdapat malaikat yang dihantar khas untuk mendengarnya, lalu malaikat itu akan berkata setiap kali dia berdoa: Amin dan bagimu juga seperti yang kamu doakan untuk saudaramu”. Tambahan pula jika kita mempunyai kesilapan terhadap saudara kita, sudah tentulah kita perlu meminta ampun dari Allah untuknya. Menurut Al Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ulumiddin cara ini lebih baik dan praktikal dari kita pergi memberitahunya kesilapan kita terhadapnya lalu menambah kemarahannya kepada kita.

Penutup :
Demikianlah secara ringkas tanggungjawab yang terpikul atas bahu kita selaku umat Islam, lebih-lebih lagi dalam konteks kehidupan kita secara berjemaah sudah tentulah perkara seperti ini dipandang secara lebih serius. Inilah rahsia kejayaan Nabi, para sahabat dan golongan salaf sebelum kita, yang telah berjaya membangunkan tamadun yang tidak ada tolok bandingnya sepanjang sejarah kehidupan manusia. Mereka merupakan generasi Islam beriman yang unik yang menjadi model kepada semangat ukhuwwah dan kasih sayang sesama mereka.

Kita ingat dia (tarbiyah) atau melupakannya Monday


Refleksi untuk kader tarbiyah
Aktifitas tarbiyah seyogyanya dijalankan sepekan sekali bagi orang-orang yang tinggal dengan akses jalan dan kendaraan yang sudah dimudahkan. Berbeda dengan wilayah-wilayah pedalaman atau yang transportasi dan akses jalan terbatas, maka bisa menjadi maklum (ruksoh) kalau mereka melaksanakan halaqoh tarbiyah dua pekan sekali. Tetapi banyak juga dari mereka meski akses jalan dan kendaraan sulit, ia berusaha menjalankan aktifitas tarbiyah tetap sesuai manhaj yaitu satu pekan sekali. Subhanallah bukan….
Sekarang coba kita tanya pada diri. Seberapa komitmenkah kita dengan aktifitas tersebut?
Kita ingat dia (tarbiyah) atau kita melupakannya.
Aktifitas yang sejatinya sudah disepakati seminggu sekali dengan jam, hari dan tempat yg telah menjadi kesepakatan bersama dengan mudah kita khiyanati dengan tanpa bukti dan dalil syar’i.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Aktifitas yang sejatinya sudah disepakati seminggu sekali, sudah tak sabar kita untuk bertemu dengannya kembali, walau baru tiga hari lalu kita bertemu saudara-saudara kita dalam majelis halaqoh tarbiyah ini.
Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa merasa bersalah membiarkan sang murabbi menunggu hingga lamanya. Tak bisakah kita hadir tepat waktu atau konfirmasi jikalau kita telat atau tidak bisa hadir dalam agenda tarbawi.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha tepat waktu dan mendahului sambil membuka buku bacaan atau mushaf al-quran baik tilawah atau murajaah, sebagai siasat menunggu kehadiran murabbi dan saudara seperjuangan lainnya.
Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa merasa bersalah, tak hadir dengan tanpa kabar beritanya. Mungkin kita berfikir, memang siapa dia sampai sampai-sampai kita harus mengabarinya. Toh tugas orang tua (tugas kuliah) lebih penting dari pada menghadiri majelisnya.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha hadir dengan energi yang terbaik meski seharian kulaih, bisnis dan berorganisasi. Kita sudah merasa terikat dengan rukun halaqoh dalam jamaah ini, menjadikan mereka sebagai keluarga kami dan berusaha membatu kondisi dari teman-teman kami. Kita bangun majelis ini dengan ikatan cinta karna ilahi.
Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa bersalah tidak hadir dalam majelisnya dan malah asik dengan pekerjaan yg sejatinya bisa kita serahkan (delegasikan) pada orang lain atau bisa kita tunda sejenak aktifitas itu. Karna saya ketuanya lah, saya ini it dan sebagainya. Bahkan tak jarang kita membuat atau memilih aktifitas tandingan agar kita punya alasan untuk tidak hadir pada aktifitas pekanan tersebut.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Kita luangkan waktu untuk majelis ini, berusaha mengosongkan agenda pada malam yang sudah kita sepakati menjadi malam cinta dipekan ini. Berusaha menggesar rapat, syuro dan betemu dengan klien bisnis kami. Tugas kuliahpun berusaha diselesaikan sebelum dimulainya pertemuan cinta ini atau kita tunda dan lanjutkan setelah selesainya aktifitas lingkaran cinta ini. Karena kami rindu dengan majelis ini.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Kita masih belum menjadwalkan dalam agenda kita, bahwa halaqoh tarbiyah menjadi bagian dari daftar kegiatan kita. Yang ada kita hanya menunggu apakah ada pesan dari sang ustad/ ketua kelompok untuk bisa hadir dlam majelis tersebut. Tak ada inisiatif utk bertanya atau mengingatkan murabbi atau teman-teman satu kelompoknya. Jika tak ada pesan atau pengingat lainnya tak jarang kita berdalih lupa. Jangankan menanyakan informasi atau materi dimajelis tersebut, mananyakan kapan pertemuan selanjutnyapun kita pun masih sungkan..
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha memastikan jadwal kembali, kapan pertemuan cinta dalam pekan ini. Meski baru saja 3 hari lalu dilalui dan berusaha mengingatkan murabbi dan teman seperjuangan jika tak ada pesan yang singgah sebagai notifikasi halaqoh pekan ini. Kita bersemangat menghadirkan saudara kita dalam majelis halaqoh ini, meski bonus sms sdh tdk ada lagi dan meski pulsapun harus saatnya diisi.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Tarbiyah memang bukan segala-galanya tapi segala-galanya berawal dari tarbiyah. Berawal dari kesadaran kita mengkaji ilmu qauniyah dan qauliyah dengan itu tasqofah dan pemahaman kita insyaAllah bertamabah.
Ya Allah, sungguh Engkau tahu bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam kecintaan kepada-Mu, telah bertemu dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah-Mu, telah berjanji untuk membela syariat-Mu.
Maka eratkanlah Ya Allah, rabithahnya (ikatannya), abadikan kecintaannya, tunjukilah jalan-jalannya, isilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tak pernah padam, luaskanlah dada-dadanya dengan luapan iman kepada-Mu, keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkan dengan ma’rifat-Mu, matikanlah dalam syahadat di jalan-Mu.
Sungguh Engkau sebaik-baik Pelindung dan Penolong. “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun kerana mengasihi-Mu, bertemu untuk mematuhi (perintah)-Mu, bersatu memikul beban dakwah-Mu, hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk mendaulat dan menyokong syari’at-Mu.

Berkah Berjamaah


Berkah Berjamaah

Oleh : KH DR Ahzami Samiun Jazuli MA
*Disampaikan pada Ziarah Syuyukh, 13 Oktober 2018*
Ni’mat berjamaah adalah ni’mat yang harus kita syukuri setelah ni’mat iman dan Islam. Ada tiga alasan mengapa ni’mat berjamaah harus kita syukuri, yaitu:
1. Kita mendapatkan pemahaman Islam yang benar dan syamil di dalam tarbiyah. Jika berangkat bukan dari berjamaah, maka pemahaman Islam kita parsial, sepotong-sepotong, tidak utuh dan tidak menyeluruh. Kalau Islam kita karena sejak lahir, maka keislaman kita belum tershibghoh. Dalam tarbiyah kita diberi pemahaman dulu sebelum berjamaah.
Pemahaman materi ma’rifatullah, ma’rifatur Rasul, ma’rifatul Islam, alwala’ wal baro’ itu membentuk fikroh kita dalam pemahaman Islam yang syamil, utuh dan tersibghoh dengan warna Islam. Sehingga jika menghadapi masalah timbangannya jelas ukurannya berdasarkan timbangan Allah, bukan hawa nafsu.
2. Ni’mat Ukhuwah
Dalam jamaah kita merasakan persaudaraan yang indah, berada dalam liqo seperti berada di dalam taman syurga. Semangat saling menasehati, saling menolong karena Allah. Dimanapun kita berdiam, kita bisa menemukan jejaring persaudaraan yang saling bekerjasama dalam dakwah. Orang yang baru saja dikenal seolah-olah seperti saudara kandung yang lama tidak bertemu, bisa  langsung akrab dan saling bersinergi disebabkan karena berjamaah.
3. Tsiqoh
Pertemuan-pertemuan/liqo menjadi berkah karena adanya saling percaya (tsiqoh), sehingga menjadi keberkahan, tumbuh energi besar untuk membangun keluarga, masyarakat dalam rangka memperbaiki ummat. Maka kita membangun sekolah, membangun lingkungan yang dapat melahirkan generasi muslim yang beraqidah benar, berakhlaq mulia karena kita ingin membangun generasi yang lebih baik. Timbullah kantong-kantong masyarakat dan lembaga-lembaga yang kita dirikan yang memberi manfaat besar kepada ummat.
Kita harus mensyukuri ketiga nikmat ini, karena  Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7: ”Jika kamu bersyukur akan kami tambah, jika kamu kufur azab Ku amat pedih.”
Allah mengancam dengan azab. Bukan dengan pengurangan ni’mat. (Ngeri kan, bahaya kalau tidak mensyukuri ni’mat berjamaah, bisa Allah cabut ni’mat itu dan berganti dengan azab kesengsaraan dan penyesalan).
Mensyukuri ni’mat berjamaah adalah dengan menjaga dan memeliharanya dari kekacauan barisan dan keretakan yang bisa berakibat perpecahan.
Lalu apa yang menyebabkan orang lupa dengan ni’mat Allah?
Ini karena terhalang oleh penyakit hati, yaitu:
1. Merasa lebih tinggi (isti’la)
Ingat syetan tergelincir ke neraka karena merasa lebih baik dari Adam. Sifat merasa lebih senior, lebih berjasa, lebih cerdas, lebih pandai cari dana, lebih hebat, dan lebih berkapasitas.
Sebaliknya menuduh saudaranya under capacity, tidak pandai cari dana, tidak pandai orasi dan bernarasi, dan lain-lain. Sikap ini berbahaya dan bisa menggelincirkan.
Ingat kisah Nabi Musa ketika muridnya bertanya: “Adakah orang yang lebih berilmu dari engkau wahai Musa? Musa menjawab “tidak ada” Sepintas jawaban Musa ini ada benarnya, karena ia seorang nabi dan rasul, bahkan Ulul Azmi, senantiasa dalam bimbingan Wahyu. Tetapi apa yang terjadi? Allah hendak memberi pelajaran kepada Nabi Musa dengan memerintahkan Nabi Musa belajar dari seseorang yang tidak dikenal, orang yang tidak populer, namanya tidak disebut dalam Al-Qur’an, hanya disebut dalam hadits, yaitu Khidir agar Nabi Musa tahu bahwa ada orang yang lebih tinggi ilmunya daripada dirinya.
Berapa lama Nabi Musa belajar? Dalam S. Al-Kahfi Allah menyebut huqubah,  jamak dari haqibah. 1 hakibah = 80 tahun. Jika bentuk terendah dari jamak adalah 3 maka paling sedikit Nabi Musa belajar kepada Khidir selama 240 tahun untuk bersabar mengikutinya tanpa boleh bertanya sampai dijelaskan pada waktunya.
Sampai sekarang tidak diketahui status guru Nabi Musa apakah seorang wali atau seorang nabi. Tetapi ini menunjukkan orang berilmu tidak harus terkenal atau popular.
Pelajaran lain bisa kita petik dari kisah Rasulullah Muhammad SAW yang sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy yang berkedudukan, banyak pengikutnya, banyak hartanya. Dalam waktu yang bersamaan datang seorang buta dan miskin (Abdullah bin Ummi Makhtum) yang ingin masuk Islam dan membersihkan diri.
Dalam logika manusia, Rasulullah membidik dakwah para pembesar karena akan dapat banyak pengikut dan banyak hartanya untuk kemajuan dakwah, tetapi Allah mengajarkan bahwa menilai manusia itu bukan dari kedudukannya, atau hartanya, kecerdasannya, kepopulerannya, atau tampilan luarnya, tetapi dari kebersihan hatinya. Teguran Allah dengan menghadirkan seorang mad’u yang buta dan tidak terkenal.
Jadi dalam berjamaah harus totalitas untuk dakwah, bukan untuk tujuan lain (harta, kedudukan, popularitas). Jika ada tujuan atau kepentingan lain itu harus diperbaiki, diluruskan, dibersihkan dari niat-niat yang lain. Namun ketika dinasihati dan diluruskan malah membuat wadah baru, membuat tandingan, melemahkan barisan jamaah. Ini berbahaya karena menjaga persatuan adalah wajib dan jelas dalilnya.
Kalau sudah jelas dalilnya tak perlu ada ijtihad lain.
Semua dalil untuk berijtihad batal karena dalil alQur’an jelas dan tegas. Misalnya Q.S. Ali imron 103, tidak perlu ada penafsiran lain, tidak perlu ada ijtihad lain, karena akan menabrak dalil Al-Qur’an.
2. Ghurur (tertipu dengan diri sendiri)
Orang yang merasa dirinya lebih cerdas, lebih berjasa, lebih senior, akan terjebak dengan dirinya sendiri, dan setan akan membuatnya tergelincir.
Orang alim yang luas ilmunya bisa tergelincir disebabkan dia tertipu dengan kehebatan dirinya, disebabkan hawa nafsunya terkagum-kagum dengan dirinya.
Janganlah berdakwah karena (baca:untuk mengikuti) si fulan, karena si fulan bisa berubah. Berdakwahlah karena Allah, untuk Allah, bukan karena si fulan lebih pandai orasi, lebih pandai cari dana, dan lebih cerdas.
Kaum mu’tazilah tergelincir dengan kecerdasannya. Dia mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk Allah, padahal tidak ada dalil yang mengatakan Allah menciptakan Al-Qur’an. Yang jelas ada bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an.
Kalau dikatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka makhluk itu lemah, bisa salah bisa lupa. Sedangkan Al-Qur’an itu pasti benar, tidak ada keraguan padanya.
Di masa mazhab Abu Hanifah, ada seorang muridnya yang mengatakan luar biasa ini mazhab, tidak ada yang akan mengalahkannya. Jika ada ayat Al-Qur’an atau hadits yang bertentangan dengan pendapat Imam Abu Hanifah, maka ayat tersebut harus ditafsirkan ulang, ayat atau hadits tersebut harus di nasakh (diganti).
Sikap ini salah dan membahayakan karena tertipu dengan dirinya sendiri. Dan bisa menyebabkan orang menjadi taklid buta, tidak lagi menyandarkan pendapatnya kepada kitab Allah dan sunnah tetapi pendapat dan pemikiran orang yang dikaguminya.
Sebab-sebab taklid (ikut-ikutan tanpa tahu apa yg diikuti) adalah :
1. Jahil, karena itu belajarlah supaya tafaqquh fiddiin; jangan mengikuti nenek moyang.
2. Ghuluw. Jangan berlebihan dalam mencintai dan dalam membenci. Orang Yahudi berlebihan kepada Uzair. Orang Nasrani berlebihan kepada Isa as (menganggap Isa Tuhan). Mengagumi seseorang tokoh, ustadz sekedarnya saja.
Dunia adalah tempat ujian. Tidak ada yang abadi. Nabi Sulaiman as diuji dengan kekuasaan dan kekayaan. Nabi Sulaiman bersyukur.
Nabi Ayub diuji dengan kemiskinan dan penyakit, tetap bersabar. Allah berfirman : ni’mal abdu innahu awwaab (sebaik-baik hamba;  adalah yang taat kepada Allah).
3. Pembenaran (Tabrir)
Tabrir adalah seseorang yang merenung, memikirkan sesuatu, kemudian pendapatnya dicarikan dalil, supaya seolah-olah benar sesuai dengan Al-Qur’an itu adalah cara yang salah.
Yang benar adalah Al-Qur’an dulu, hadits dulu, baru pendapat ulama, istimbat hasil pikiran manusia.
Setiap ucapan bisa diterima atau ditolak kecuali Al-Quran. Karena Al-Qur’an wajib diterima. Bila hal ini dibalik, berbahaya. Merenung dulu, lalu memaksakan dalil-dalil sebagai pembenaran itu sama dengan membelakangi Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an dipakai untuk membenarkan pendapatnya.
Harusnya bersikaplah seperti Umar bin Khahtab. Ketika Umar membatasi mahar supaya meringankan para bujang untuk menikah, maka diprotes oleh shohabiyah Khaulah binti Tsa’labah: Mengapa engkau membatasi sesuatu yang Allah tidak membatasinya? Umar langsung beristighfar dan mengakui kesalahannya. Umar salah, dan wanita ini benar (padahal tujuan Umar baik, agar para bujang dan gadis cepat menikah tidak dibebani dengan biaya mahar yang mahal. Tetapi begitu diingatkan, Umar segera menerima, tidak mencari-cari dalil pembenaran)
Bagaimana solusinya?
1. Iltizam kepada jamaah
Hidup bukan untuk kenyamanan, tetapi sebagai ujian. Manusia diuji untuk mencapai derajat ahsanu amala (sebaik-baiknya amal). Jika mencari kenyamanan nanti di surga Allah. Orang yang diuji harus sabar. Sepasang suami istri jika ada masalah, apakah dia langsung bercerai? Apakah dijamin jika bercerai tidak ada masalah?
Hidup untuk mendapatkan keberkahan. Berkah ada di dalam berjamaah, ada suasana ta’liful qulub (ikatan hati), saling menasehati, dan saling menolong.
Apakah kita yakin jika kita keluar dari jamaah akan lebih baik, lebih sholeh, lebih taat kepada Allah, lebih ikhlash?
Dimanapun kita hidup ada masalah, bersabarlah menyelesaikan masalah, bukan membubarkan rumah tangganya lalu bikin rumah tangga baru.
Apakah orang yang sholat berjamaah, jika imamnya salah, bubar sholatnya, keluar dari barisan sholat? Tidak. Sholat tetap bisa dilanjutkan. Adapun kesalahan imam, tanggung jawab sang imam. Makmum tetap bisa menyelesaikan sholatnya.
2. Shidqu (jujur/benar)
Rasulullah bersabda: dua orang yang bertransaksi semoga diberkahi Allah jika dia jujur (perhatikan syarat keberkahan jika jujur, bukan jika cerdas).
Dalam kejujuran ada keberkahan. Menurut Imam Suyuti, seluruh kata Tabarok diisnadkan (disandarkan) kepada Allah. Keberkahan itu milik Allah, kita disuruh meminta keberkahan dari Allah. Bahkan kita diperintah berselawat dan memohon keberkahan untuk baginda Nabi. Artinya Nabi juga tidak punya keberkahan, tetapi diberi keberkahan oleh Allah.
Supaya kita mendapat keberkahan, harus beriman dan bertakwa (Q.S. Al-A’raf 96).
Qiyadah dan jundi yang ingin diberkahi harus dekat dengan Allah, pelihara ibadahnya, sholat berjamaah di masjid,  rajin mensucikan  diri, supaya terbebas dari fitnah, riya, kotoran dan dosa dari menzholimi saudaranya.
Dalam proses seleksi menaikkan jenjang seorang kader, syaratnya adalah  benar aqidahnya, baik akhlaknya, ketaatannya, ibadahnya, kemanfaatan dirinya bagi orang lain, dan siap menanggung beban baik, jadi jundi maupun qiyadah. Tidak ada syarat misalnya orangnya harus cerdas, harus kaya (pandai cari dana), pandai orasi.
Jamaah tidak butuh orang luar biasa, tetapi butuh orang biasa namun hidup total untuk dakwah. Qiyadah yang lemah akan kuat bersama jamaah. Jika lemah dalam hal kemampuan orasi, ada anggota jamaah yang pandai orasi. Kekurangan dana, akan Allah bukakan jalan dan rezeki dari keberkahan berjamaah.
Rasulullah yatim, sendirian ketika memulai dakwah, tetapi Allah bukakan jalan dan sarananya dengan dakwah, dengan harta Khodijah, Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat yang lain.
Keikhlasan dan kejujuran Sayyid Quthb dalam totalitas membela dakwah, sampai dipenjara dan mati di tiang gantungan, dia tidak mau meminta ampun kepada Gamal Abdul Nasser karena yakin membela kebenaran. Sayyid Quthb berkah namanya, harum ke seluruh penjuru dunia, lebih terkenal daripada ketika masih hidup. Buku-bukunya diterjemahkan ke berbagai bahasa menerangi jalan dakwah generasi setelahnya.
Itulah berkah.