Tag Archive | orang tua

Kita ingat dia (tarbiyah) atau melupakannya Monday


Refleksi untuk kader tarbiyah
Aktifitas tarbiyah seyogyanya dijalankan sepekan sekali bagi orang-orang yang tinggal dengan akses jalan dan kendaraan yang sudah dimudahkan. Berbeda dengan wilayah-wilayah pedalaman atau yang transportasi dan akses jalan terbatas, maka bisa menjadi maklum (ruksoh) kalau mereka melaksanakan halaqoh tarbiyah dua pekan sekali. Tetapi banyak juga dari mereka meski akses jalan dan kendaraan sulit, ia berusaha menjalankan aktifitas tarbiyah tetap sesuai manhaj yaitu satu pekan sekali. Subhanallah bukan….
Sekarang coba kita tanya pada diri. Seberapa komitmenkah kita dengan aktifitas tersebut?
Kita ingat dia (tarbiyah) atau kita melupakannya.
Aktifitas yang sejatinya sudah disepakati seminggu sekali dengan jam, hari dan tempat yg telah menjadi kesepakatan bersama dengan mudah kita khiyanati dengan tanpa bukti dan dalil syar’i.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Aktifitas yang sejatinya sudah disepakati seminggu sekali, sudah tak sabar kita untuk bertemu dengannya kembali, walau baru tiga hari lalu kita bertemu saudara-saudara kita dalam majelis halaqoh tarbiyah ini.
Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa merasa bersalah membiarkan sang murabbi menunggu hingga lamanya. Tak bisakah kita hadir tepat waktu atau konfirmasi jikalau kita telat atau tidak bisa hadir dalam agenda tarbawi.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha tepat waktu dan mendahului sambil membuka buku bacaan atau mushaf al-quran baik tilawah atau murajaah, sebagai siasat menunggu kehadiran murabbi dan saudara seperjuangan lainnya.
Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa merasa bersalah, tak hadir dengan tanpa kabar beritanya. Mungkin kita berfikir, memang siapa dia sampai sampai-sampai kita harus mengabarinya. Toh tugas orang tua (tugas kuliah) lebih penting dari pada menghadiri majelisnya.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha hadir dengan energi yang terbaik meski seharian kulaih, bisnis dan berorganisasi. Kita sudah merasa terikat dengan rukun halaqoh dalam jamaah ini, menjadikan mereka sebagai keluarga kami dan berusaha membatu kondisi dari teman-teman kami. Kita bangun majelis ini dengan ikatan cinta karna ilahi.
Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa bersalah tidak hadir dalam majelisnya dan malah asik dengan pekerjaan yg sejatinya bisa kita serahkan (delegasikan) pada orang lain atau bisa kita tunda sejenak aktifitas itu. Karna saya ketuanya lah, saya ini it dan sebagainya. Bahkan tak jarang kita membuat atau memilih aktifitas tandingan agar kita punya alasan untuk tidak hadir pada aktifitas pekanan tersebut.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Kita luangkan waktu untuk majelis ini, berusaha mengosongkan agenda pada malam yang sudah kita sepakati menjadi malam cinta dipekan ini. Berusaha menggesar rapat, syuro dan betemu dengan klien bisnis kami. Tugas kuliahpun berusaha diselesaikan sebelum dimulainya pertemuan cinta ini atau kita tunda dan lanjutkan setelah selesainya aktifitas lingkaran cinta ini. Karena kami rindu dengan majelis ini.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Kita masih belum menjadwalkan dalam agenda kita, bahwa halaqoh tarbiyah menjadi bagian dari daftar kegiatan kita. Yang ada kita hanya menunggu apakah ada pesan dari sang ustad/ ketua kelompok untuk bisa hadir dlam majelis tersebut. Tak ada inisiatif utk bertanya atau mengingatkan murabbi atau teman-teman satu kelompoknya. Jika tak ada pesan atau pengingat lainnya tak jarang kita berdalih lupa. Jangankan menanyakan informasi atau materi dimajelis tersebut, mananyakan kapan pertemuan selanjutnyapun kita pun masih sungkan..
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha memastikan jadwal kembali, kapan pertemuan cinta dalam pekan ini. Meski baru saja 3 hari lalu dilalui dan berusaha mengingatkan murabbi dan teman seperjuangan jika tak ada pesan yang singgah sebagai notifikasi halaqoh pekan ini. Kita bersemangat menghadirkan saudara kita dalam majelis halaqoh ini, meski bonus sms sdh tdk ada lagi dan meski pulsapun harus saatnya diisi.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Tarbiyah memang bukan segala-galanya tapi segala-galanya berawal dari tarbiyah. Berawal dari kesadaran kita mengkaji ilmu qauniyah dan qauliyah dengan itu tasqofah dan pemahaman kita insyaAllah bertamabah.
Ya Allah, sungguh Engkau tahu bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam kecintaan kepada-Mu, telah bertemu dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah-Mu, telah berjanji untuk membela syariat-Mu.
Maka eratkanlah Ya Allah, rabithahnya (ikatannya), abadikan kecintaannya, tunjukilah jalan-jalannya, isilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tak pernah padam, luaskanlah dada-dadanya dengan luapan iman kepada-Mu, keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkan dengan ma’rifat-Mu, matikanlah dalam syahadat di jalan-Mu.
Sungguh Engkau sebaik-baik Pelindung dan Penolong. “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun kerana mengasihi-Mu, bertemu untuk mematuhi (perintah)-Mu, bersatu memikul beban dakwah-Mu, hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk mendaulat dan menyokong syari’at-Mu.

Selembar Daun Terakhir Renungan Untukmu Kader Dakwah..


Selembar Daun Terakhir

Renungan Untukmu Kader Dakwah..
Oleh Ahmad Surodilogo
 
Bedah Buku : Prinsip dan Penyimpangan Gerakan Islam. Karya : Dr. Mustafa Masyhur. Penerbit : Robbani Press. Cetakan ke 10. Tahun : 2008.
Malam ini saya gelisah, susah untuk segera tidur. Barusan selesai aktivitas ‘melingkar’ bersama ikhwah, masih dalam proses bedah buku mungil “Prinsip dan Penyimpangan Gerakan Islam’ karya Dr. Mustafa Masyhur. Malam ini masuk bab “Bentuk-bentuk Penyimpangan Dakwah”, pada poin pertama yaitu Penyimpangan Tujuan.
Buku ini sungguh sudah sangat lama ditulis oleh Dr. Mustafa Masyhur, akan tetapi —sebagaimana komentar al akh pembahas malam ini— seakan-akan baru saja ditulis, atau bahkan sengaja ditulis untuk saat ini. Masyaallah.
Kalimat pertama yang Dr. Mustafa Masyhur tuliskan pada sub bab ini adalah, “Penyimpangan tujuan termasuk salah satu penyelewengan paling berbahaya yang harus dihindari” (halaman 19). Tujuan dakwah semata-mata hanya untuk Allah, jangan sampai diselewengkan untuk hal-hal lain. Maka, beliau menyatakan, “Dakwah memerlukan pelurusan niat dan dan pemantapan yang terus menerus”. Mengapa demikian? Karena, “Jiwa manusia sering dipengaruhi hawa nafsu” (halaman 20).
Yang sangat perlu digarisbawahi dalam memahami poin penyimpangan tujuan ini adalah, bahwa penyimpangan tidak harus berarti mengarahkan dakwah secara total kepada tujuan-tujuan duniawi, atau menyelewengkan secara total dari jalan Allah. Tetapi, sebagian saja atau sedikit saja, niat ditujukan kepada selain Allah, itu sudah merupakan penyimpangan (halaman 21). Sebab kondisinya bisa jadi tidaklah secara ekstrem menyimpang dengan jalan mengajak keluar dari agama dan syariat Allah. Namun ada bagian-bagian yang mulai tidak sesuai dengan prinsip syariat Allah.
Persoalan niat adanya di dalam hati, di dalam jiwa. Demikian tersembunyi, maka sangat sulit diketahui. Namun ketika dampak penyimpangan sudah mulai tampak, jama’ah mulai dirusak, minimal dengan memunculkan keburukan bagi jama’ah, maka penyimpangan mulai tampak mengemuka. Wajar jika beliau menyatakan, penyimpangan tujuan sangatlah berbahaya, “Terutama jika yang bersangkutan mempunyai posisi yang menentukan” (halaman 22).
Mungkin penyimpangan akan memiliki dampak yang kecil saja bagi jama’ah dakwah, apabila hal itu terjadi pada anggota biasa yang tidak memiliki posisi atau pengaruh. Akan tetapi jika penyimpangan terjadi pada tokoh yang mempunyai posisi penting, dampaknya akan sangat luas. Oleh karena itu, jama’ah harus bertindak tegas kepada mereka agar bisa menghindarkan penyimpangan. “Mereka harus dikeluarkan dari barisan (shaf), kecuali jika mereka bertaubat dengan membersihkan hati dan mengikhlaskan diri kepada Allah” (halaman 22).
Di antara penyakit hati yang bisa menyimpangkan tujuan adalah, bila seseorang merasa dirinya lebih berpengalaman, merasa lebih cerdas, lebih baik analisanya terhadap setiap persoalan. Ia merasa lebih mengerti tentang seluk-beluk politik dan strategi menghadapi lawan. Ia menghina dan meremehkan orang lain, meskipun orang-orang yang dihina itu sudah banyak berjasa terhadap dakwah (halaman 30).
“Orang-orang seperti itu apabila mendapatkan keberhasilan dalam dakwah akan mengatakan, bahwa keberhasilan itu adalah karena kehebatan dirinya”, tulis beliau (halaman 30).
Ada pula penyakit “ego sentris” dalam dakwah. Mereka yang mengidap penyakit ini lebih suka merekrut orang untuk menjadi pengikutnya sendiri, bukan untuk menjadi pengikut jama’ah dakwah. “Hanya manusia-manusia setipe sajalah yang mau mendekatinya” (halaman 31). Beliau mengingatkan agar kita tidak mengikatkan diri kepada orang yang seperti ini, walaupun ia memiliki kehebatan. “Itu adalah sikap ular, dan ular sangat sulit dikendalikan bisanya” (halaman 31).
Sayangnya, orang yang sudah terjangkit penyakit ego sentris tersebut, tidak pernah mau mengakui bahwa dirinya berpenyakit. Akibatnya, penyakit semakin parah (halaman 31). Orang-orang tersebut membenarkan sikap ambisi pribadinya dengan dalih kemaslahatan dakwah atau umat. Seakan-akan itu adalah untuk kemaslahatan dakwah, bukan untuk diri pribadinya. Bahkan mereka menuduh orang lain terlalu picik (undercapacity) dalam menilai kemaslahatan dakwah (halaman 31).
Lalu apa kewajiban kita? Menurut Dr. Mustafa Masyhur, “Kita berkewajiban menyadarkan orang lain agar tidak mengikuti orang-orang yang menyimpang tersebut” (halaman 31). Ini kewajiban terhadap orang-orang lain agar tidak mengikuti penyimpangan.
Bagaimana dengan mereka yang sudah jelas-jelas menyimpang? Beliau memberikan isyarat yang sangat jelas, “Perlu diketahui, keberadaan mereka yang menyimpamng di dalam shaf setelah tidak mau diperbaiki, lebih membahayakan ketimbang melakukan pembersihan shaf” (halaman 32).
Mentolerir keberadaan orang-orang menyimpang yang tidak mau kembali kepada kebaikan ini, hanya akan semakin menambah parah penyimpangan. Menurut beliau, sikap sebagian ikhwah yang dengan niat baik mentolerir mereka, tidaklah dapat diterima. Sikap toleran ini didasarkan kepada kekhawatiran akan terjadinya perpecahan, dan takut kehilangan potensi mereka (halaman 32). Padahal dengan keberadaan mereka di dalam shaf, membuat bukan hanya mereka yang dinilai menyimpang, tetapi shaf juga sudah menyimpang.
Pembahasan mengenai penyimpangan tujuan ini, beliau akhiri dengan menukilkan pernyataan Sayyid Quthub rahimahullah:
“Satu demi satu anggota jama’ah diserang kerontokan. Mereka akan gugur seperti daun kering yang jatuh dari pohon besar. Musuh menggenggam salah satu ranting pohon disertai anggapan, bahwa dengan tercabutnya ranting tersebut akan dapat menghancurkan seluruh bagian pohon itu. Apabila telah tiba saatnya, dan ranting pun dicabut, maka keluarlah dari genggamannya seperti kayu kering, tidak mati dan tidak pula hidup. Sedangkan pohon tersebut tetap utuh seperti semula” (halaman 32).
Demikian Dr. Mustafa Masyhur mengakhiri pembahasan sub bab Penyimpangan Tujuan. Petugas presentasi pun sudah selesai menyampaikan isi bagian ini. Tapi rupanya saya belum selesai juga, sampai pun forum melingkar usai jam 23.30 tadi, saya tetap belum selesai.
“Satu demi satu anggota jama’ah diserang kerontokan. Mereka gugur seperti daun kering yang jatuh dari pohon besar”, terngiang-ngiang nyata ungkapan Asy Syahid Sayyid Quthub ini. Saya membayangkan pohon meranggas tanpa daun, sebab daun sudah berguguran. Namun selalu tumbuh daun baru. Rontoknya daun tidak mematikan pohon, sama sekali.
Ini yang membuat saya merasa belum selesai. Takut jika ikut rontok bersama daun-daun yang rontok. Kalaupun semua daun ingin rontok, biarlah saya menjadi “selembar daun terakhir yang mencoba bertahan di ranting”.
 ********
Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku, apa saja – aku selembar daun terakhir yang ingin
menyaksikanmu bahagia ketika sore tiba.
– Sapardi Djoko Damono –

Tuntunan Islam Dalam Mencegah Penyimpangan Seksual


Tuntunan Islam Dalam Mencegah Penyimpangan Seksual

Akhir-akhir ini pembicaraan mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) menjadi trending topik di berbagai media. LGBT hakikatnya merupakan bentuk penyimpangan seksual dan merupakan dosa besar. Tidak hanya dosa, ia juga merupakan penyakit masyarakat yang dapat mengundang datangnya azab Allah pada satu negeri. Umat-umat sebelumnya yang menghalalkan perbuatan keji ini, telah diazab dengan azab yang sangat keras. Seperti yang terjadi pada kaum nabi Luth ‘alaihi salam, Allah membalikkan tanah tempat mereka berpijak, menghujani mereka dengan batu-batu panas dan berbagai azab pedih lainnya. Sebuah adzab yang sangat dahsyat sebelum azab yang lebih besar di akhirat kelak.

Perilaku homoseksual bahkan lebih rendah dari sifat binatang. Jika kita mengamati hewan-hewan di sekitar kita, kita tidak akan mendapatkan seekor hewan jantan tertarik untuk mengawini hewan jantan lainnya. Ini karena fitrah yang Allah tetapkan pada setiap makhluk, bahwa jantan tercipta berpasangan dengan betina, begitu juga halnya dengan manusia, laki-laki tercipta berpasangan dengan wanita. Oleh karena itu, orang-orang yang mencoba menghalalkan LGBT atau mempromosikannya adalah orang-orang yang berpenyakit jiwa dan lebih sesat dari binatang. Perkara seperti inilah yang diamaksud Allah dalam al-Qur’an:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٧٩)

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Orang-orang yang tidak memiliki kecenderungan penyimpangan seksual namun mencoba melegalkan perbuatan keji ini, hakikatnya mereka sedang melawan fitrah mereka sendiri. Sebab jika ditawarkan kepada mereka, atau kepada anak-anak mereka untuk dinikahkan dengan sesama jenis mereka, niscaya mereka akan menolak dan tidak akan membiarkan anaknya terjatuh dalam perbuatan hina itu. Penolakan mereka menunjukkan ketidaksenangan mereka akan perbuatan itu, sebab kenyataannya ia memang merupakan penyimpangan dan menyalahi kodrat.

LGBT adalah penyakit berbahaya, dia dapat menular melalui hubungan interaksi masyarakat. LGBT berbahaya di masyarakat karena akan menimbulkan berbagai jenis penyakit kelamin dan penyakit kejiwaan. Allah telah menjanjikan azab yang pedih bagi pelakunya, sebab hal itu merupakan bentuk mengubah ciptaan-Nya serta ketidak syukuran atas penciptaan Allah terhadap dirinya.

Islam tidak hanya melarang sesuatu yang dapat membahayakan manusia, tapi juga datang dengan tuntunan yang baik, yang dapat mencegah mereka dari marabahaya tersebut. Diantara tuntunan islam agar terhindar dari penyimpangan seksualitas ini adalah:

1.Membekali diri dengan ilmu agama

Ilmu agama adalah benteng terbaik seorang muslim. Seseorang yang memilki ilmu agama akan mengetahui norma-norma yang baik, serta takut pada siksa Allah jika menyalahi ajaran-Nya. Begitu pula, seseorang yang mendekatkan dirinya pada Allah, pasti akan ditunjukkan jalan yang benar oleh-Nya.

2. Mengharamkan Pacaran

Pacaran tidak hanya perbuatan yang mendekatkan seseorang pada zina. Ia juga merupakan perbuatan yang memberikan sumbangsih besar dalam menyebarkan LGBT. Dalam kasus-kasus yang sering terjadi, ketika seorang wanita ditelantarkan oleh pacarnya, perasaan benci yang sangat besar pada laki-laki akan muncul pada dirinya, sehingga dia akan mencari wanita sebagai tempat melampiaskan perasaannya. Sebaliknya yang terjadi pada seorang pria ketika dia diselingkuhkan oleh pacarnya. Demikianlah ikatan cinta kasih yang tidak dilandaskan karena Allah, hanya akan menjadi penyakit yang merusak diri sendiri.

3. Memisahkan tempat tidur anak-anak saat berusia 10 tahun

Syariat islam mewajibkan pemisahan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan saat berusia 10 tahun. Hikmah dari syariat ini adalah mengajarkan anak-anak bahwa laki-laki dan perempuan memiliki sifat dan keistimewaan satu sama lain yang tidak sama, sehingga mereka tidak saling meniru sifat. Jika seorang anak wanita dibiasakan tinggal dengan kakaknya yang laki-laki, dia bisa terpengaruh oleh sifat-sifat kakaknya karena selalu mencontoh kakaknya. Begitu pula sebaliknya.

4. Tidak berpenampilan seperti lawan jenis

Syariat islam mengharamkan seorang muslim berpenampilan dengan penampilan lawan jenisnya, bahkan ia merupakan perbuatan terlaknat. Hal ini dilakukan agar setiap orang bisa menjaga fitrah-fitrahnya. Oleh karena itu, orangtua tidak diperbolehkan memakaikan anaknya dengan busana lawan jenisnya, karena akan berpengaruh pada sifat dan akhlaknya.

5. Menumbuhkan rasa kepercayaan dan keyakinan bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan

Menumbuhkan rasa kepercayaan dan keyakinan bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan adalah sesuatu yang sangat penting. Sejak usia dini atau anak-anak, Islam sudah mengajarkan perbedaan antara keduanya, sebab ketika setelah dewasa, seorang laki-laki akan menjadi pemimpin bagi perempuan, laki-laki akan menjadi suami seorang wanita. Ini merupakan adab penting yang berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia. Sebab populasi manusia tidak akan bertambah jika manusia hidup dengan sesama jenisnya.

6. Membedakan hak antara laki-laki dan perempuan

Laki-laki dan wanita memiliki sifat yang berbeda. Karena itu Islam membedakan hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka. Hal itu agar setiap mereka saling memiliki ketergantungan dan saling menyempurnakan. Sebab ada kebutuhan wanita yang bisa terpenuhi kecuali hidup bersama laki-laki, begitu pula sebaliknya.[]

Oleh Muhammad Ode Wahyu, SH.

Tawadhu dan Keberkahan Dakwah


Tawadhu dan Keberkahan Dakwah

salim segaf2

1. Mari kita berharap keberkahan Allah pada dakwah ini. Keberkahan itu datangnya dari keyakinan kita kepada Allah, bahwa semua kekuasaan/kemenangan/kekalahan itu terjadi atas kehendak Allah. Kita tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa konspirasi musuh menyebabkan kekalahan kita. Mau konspirasi apapun kalau Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Mari kita melihat amal ini dengan pendekatan dakwah

2. Evaluasi kita : kita tergiring secara tidak sadar menjadikan politik sebagai panglima. Lalu dakwah dan kaderisasi kita lupakan. Tolonglah slogan OBAH KABEH MUNDAK AKEH itu jangan dimaknai AKEH kursi dan suaranya. Tapi akeh dan mundak keberkahannya. dan itu dengan tetap menjadikan dakwah sebagai misi utama kita. Kursi itu bukan tujuan kita. Kalau kita pantas menerimanya Allah akan berikan. Saya membayangkan andai seluruh anggota dewan kita di indonesia ini di sebar merata ke desa desa yang ada di seluruh negeri. Lalu berdakwah, membina masyarakat dan kita punya kemampuan untuk itu. Insya allah keberkahan akan turun dengan cara itu. Tidak ada urusannya dapat kursi atau tidak.

3. Evaluasi kita : kita sering membuat target target yang sebenarnya tau itu diluar kemampuan kita. Lalu kita terjebak dengan cara cara yang jauh dari keberkahan untuk memaksakan mencapai target itu. Mengumpulkan dana dana syubhat. Bergantung pada konglomerat anu. konglomerat itu. Proyek ini itu.dst. Sekian suara harganya sekian M. Lalu dimana nilai keberkahan dakwah ini? begitu juga dengan perilaku politik kita yang kadang menyalahi sunnatullah. Begadang sampai hampir pagi menjaga suara. Toh tetap jebol juga. Apakah kita ini lebih sibuk dari Rasulullah? beliau selalu tertib dalam hal tidur dan bangun pagi. Di malam hari beliau serahkan dakwah di tangan Allah. Beliau tidur dan qiyamullail. Sesekali bolehlah begadang. Tapi kalau menjadi politic style kita itu sudah salah.

4. Allah hanya ingin kita ini bekerja semaksimal kemampuan kita. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Tidak perlu memaksakan pola pola dan cara cara yang diluar kemampuan kita. Jokowi itu sebenarnya contoh dari Allah, bahwa ketika Allah berkehendak, dengan dana pencitraan orang bisa mendapatkan kekuasaan dan Allah juga yang berkuasa menjatuhkannya. Jadi, mari kita semakin tawadhu’ dihadapan Allah. Semakin kita tawadhu’ dan merasa butuh pertolongan-Nya, maka pertolongan akan mendekat. Jangan terlalu ngoyo menampakkaan bahwa kita ini punya kekuatan. Semakin kita berpikir kita punya kekuatan, lalu melupakan Allah, maka justru pertolongan semakin menjauh. (dalam konteks ini, Ust salim menyebut stagnannya suara PKS dari PEMILU ke PEMILU)

5. Itulah sebabnya para ulama mengajari kita doa : Allahummarzuqnaa ma’rifatan yas habuha bil adabi. Ya Allah beri kami ma’rifat kepadamu, yang diiringi dengan adab terhadap-Mu. Kita mengenal Allah tapi kita tidak punya adab dan sopan santun terhadap-Nya. Lalu kita merasa sudah punya kekuatan.dan mulai melupakan-Nya. Ini namanya kita tidak beradab dan sopan santun terhadap Allah.

6. Jangan juga gara gara jabatan politik lantas life style dan perilaku kita berubah. Terbiasa dilayani. Kesenggol dikit marah marah dimana mana seolah ingin menunjukkan kita ini kuat. Kita lupa berapa ton nikmat Allah yang sudah kita makan melalui mulut kita. Mari jadi orang yang biasa biasa saja. dan mengingat bahwa semua ini pemberian Allah yang tidak akan kekal.

7. Pada akhirnya mari memperbanyak dzikrullah. Imam ali berkata :: inna lillahi fil ardhi aaniyatun wa huwa al qolbu. Sesungguhnya Allah itu memiliki tempat di bumi, yaitu dalam hati kita. kita ini standar nya ma’tsurot sughro. Itupun masih suka nanya : ada yang lebih sughro lagi nggak tadz? insya Allah dengan dzikir yang banyak itu keberkahan akan turun.

Wallahu Al musta’aan. (mujahidullah)

Source : pksabadijaya.org

Berjuanglah untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat


Berjuanglah untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat

 

Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri? Begitu banyakkah dosa dan noda? Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik…

Saudaraku …

Apa yang menghalangimu membela agamamu? Apa yang merintangimu beramal demi kejayaan Islam dan kaum muslimin? Dosa, noda, dan maksiat itu? Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu semakin bertambah. Itulah tipu daya setan atas anak Adam, mereka menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan dosa-dosanya sebagai alasan.

Saudaraku …

Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)

Hilangkan pula kebimbanganmu, karena kekasih hati tercinta, Nabi-Nya yang mulia –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam– telah bersabda:

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya itu akan menghapuskannya. (HR. At Tirmidzi No. 1987, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21354, 21403, 21487, 21536, 21988, 22059, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 296, 297, 298, juga Al Mu’jam Ash Shaghir No. 530, Ad Darimi No. 2833, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 178, katanya: “Shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Imam Adz DZahabi dalam At Talkhish. Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani menghasankannya dalam kitab mereka masing-masing)

Saudaraku …

Tidak usah berkecil hati dan jangan putus asa, sungguh agama mulia ini pernah dimenangkan oleh orang mulianya dan para fajir (pelaku dosa)nya. Semuanya mengambil bagian dalam gerbong caravan pejuang Islam. Imam Al Bukhari telah membuat Bab dalam kitab Shahihnya, Innallaha Yu’ayyidu Ad Diin bir Rajul Al Faajir (Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya melalui seseorang yang fajir). Ya, kadang ada pelaku maksiat, seorang fajir, justru dia melakukan aksi-aksi nushrah (pertolongan) terhadap agamanya, dibanding laki-laki yang shalih. Semoga aksi-aksi nushrah tersebut bisa merubahnya dari perilaku buruknya, dan dia bisa mengambil pelajaran darinya sampai dia berubah menjadi orang shalih yang berjihad, bukan lagi orang fajir yang berjihad.

Saudaraku … Ada Abu Mihjan!!

Kukisahkan kepadamu tentang Abu Mihjan Radhiallahu ‘Anhu. Ditulis dengan tinta emas para ulama Islam, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala pada Bab Sirah Umar Al Faruq. (2/448. Darul Hadits, Kairo), juga Usudul Ghabah-nya Imam Ibnul Atsir. (6/271. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit menahan diri dari khamr (minuman keras). Beliau sering dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild) padanya karena perbuatannya itu. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, dia adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.

Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhumelawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh. Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya dia pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.

Di dalam penjara, dia sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin. Apalagi dari dalam penjara dia mendengar suara dentingan pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali dia membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, dia sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya! Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang dia cita-citakan.

Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan: “Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.”

Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan.

Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata:

لا نجلدك على خمر أبدا فقال: وأنا والله لا أشربها أبدا

Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!”

Saudaraku ….

Sangat sulit bagi kita mengikuti dan menyamai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum. Tetapi, paling tidak kita masih bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki ghirah kepada perjuangan agamanya, dan ikut hadir dalam deretan nama-nama pahlawan Islam. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam deretan para pejuang agama-Nya, mengikhlaskan, dan memberikan karunia syahadah kepada kita. Amin.

Wallahu A’lam.

Sumber: ustadzfarid.com

( Farid Nu’man Hasan )