Tag Archive | pergaulan bebas

Tawadhu dan Keberkahan Dakwah


Tawadhu dan Keberkahan Dakwah

salim segaf2

1. Mari kita berharap keberkahan Allah pada dakwah ini. Keberkahan itu datangnya dari keyakinan kita kepada Allah, bahwa semua kekuasaan/kemenangan/kekalahan itu terjadi atas kehendak Allah. Kita tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa konspirasi musuh menyebabkan kekalahan kita. Mau konspirasi apapun kalau Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Mari kita melihat amal ini dengan pendekatan dakwah

2. Evaluasi kita : kita tergiring secara tidak sadar menjadikan politik sebagai panglima. Lalu dakwah dan kaderisasi kita lupakan. Tolonglah slogan OBAH KABEH MUNDAK AKEH itu jangan dimaknai AKEH kursi dan suaranya. Tapi akeh dan mundak keberkahannya. dan itu dengan tetap menjadikan dakwah sebagai misi utama kita. Kursi itu bukan tujuan kita. Kalau kita pantas menerimanya Allah akan berikan. Saya membayangkan andai seluruh anggota dewan kita di indonesia ini di sebar merata ke desa desa yang ada di seluruh negeri. Lalu berdakwah, membina masyarakat dan kita punya kemampuan untuk itu. Insya allah keberkahan akan turun dengan cara itu. Tidak ada urusannya dapat kursi atau tidak.

3. Evaluasi kita : kita sering membuat target target yang sebenarnya tau itu diluar kemampuan kita. Lalu kita terjebak dengan cara cara yang jauh dari keberkahan untuk memaksakan mencapai target itu. Mengumpulkan dana dana syubhat. Bergantung pada konglomerat anu. konglomerat itu. Proyek ini itu.dst. Sekian suara harganya sekian M. Lalu dimana nilai keberkahan dakwah ini? begitu juga dengan perilaku politik kita yang kadang menyalahi sunnatullah. Begadang sampai hampir pagi menjaga suara. Toh tetap jebol juga. Apakah kita ini lebih sibuk dari Rasulullah? beliau selalu tertib dalam hal tidur dan bangun pagi. Di malam hari beliau serahkan dakwah di tangan Allah. Beliau tidur dan qiyamullail. Sesekali bolehlah begadang. Tapi kalau menjadi politic style kita itu sudah salah.

4. Allah hanya ingin kita ini bekerja semaksimal kemampuan kita. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Tidak perlu memaksakan pola pola dan cara cara yang diluar kemampuan kita. Jokowi itu sebenarnya contoh dari Allah, bahwa ketika Allah berkehendak, dengan dana pencitraan orang bisa mendapatkan kekuasaan dan Allah juga yang berkuasa menjatuhkannya. Jadi, mari kita semakin tawadhu’ dihadapan Allah. Semakin kita tawadhu’ dan merasa butuh pertolongan-Nya, maka pertolongan akan mendekat. Jangan terlalu ngoyo menampakkaan bahwa kita ini punya kekuatan. Semakin kita berpikir kita punya kekuatan, lalu melupakan Allah, maka justru pertolongan semakin menjauh. (dalam konteks ini, Ust salim menyebut stagnannya suara PKS dari PEMILU ke PEMILU)

5. Itulah sebabnya para ulama mengajari kita doa : Allahummarzuqnaa ma’rifatan yas habuha bil adabi. Ya Allah beri kami ma’rifat kepadamu, yang diiringi dengan adab terhadap-Mu. Kita mengenal Allah tapi kita tidak punya adab dan sopan santun terhadap-Nya. Lalu kita merasa sudah punya kekuatan.dan mulai melupakan-Nya. Ini namanya kita tidak beradab dan sopan santun terhadap Allah.

6. Jangan juga gara gara jabatan politik lantas life style dan perilaku kita berubah. Terbiasa dilayani. Kesenggol dikit marah marah dimana mana seolah ingin menunjukkan kita ini kuat. Kita lupa berapa ton nikmat Allah yang sudah kita makan melalui mulut kita. Mari jadi orang yang biasa biasa saja. dan mengingat bahwa semua ini pemberian Allah yang tidak akan kekal.

7. Pada akhirnya mari memperbanyak dzikrullah. Imam ali berkata :: inna lillahi fil ardhi aaniyatun wa huwa al qolbu. Sesungguhnya Allah itu memiliki tempat di bumi, yaitu dalam hati kita. kita ini standar nya ma’tsurot sughro. Itupun masih suka nanya : ada yang lebih sughro lagi nggak tadz? insya Allah dengan dzikir yang banyak itu keberkahan akan turun.

Wallahu Al musta’aan. (mujahidullah)

Source : pksabadijaya.org

Melawan Provokasi


Melawan Provokasi

 

“Engaku tahu gunjingan orang seputar istri Rasulullah?” tanya Abu Ayyub al Anshari kepada istrinya.

“Ya, dan semua itu dusta besar,” sahut istrinya tegas.

“Engkau sendiri, mungkinkah melakukan hal seperti itu?” desak Abu Ayyub.

“Tak mungkin aku melakukannya, demi Allah.”

“Dan Aisyah, demi Allah jauh lebih baik dari engkau,” sahut Abu Ayyub.

Dialog itu turut mewarnai suasana tegang di Madinah. Hari-hari itu Rasulullah tengah menghadapi beban berat. Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri tercinta beliau, diisukan berbuat serong dengan Shofwan bin Mu’athol.

Kisahnya bermula dari peristiwa perang Bani Musthaliq. Menjelang keberangkatan ke Bani Musthaliq, bulan Sya’ban tahun 5 hijriyah, seperti biasa Rasulullah SAW mengundi siapa istrinya yang diajak serta berperang. Hari itu, Aisyah dapat undian untuk menemani Rasulullah. Biasanya bila bepergian, Aisyah yang berbadan kurus itu naik ke atas sekedup (semacam tenda kecil) yang diletakkan di punggung unta.

Sepulang dari Ban Musthaliq, di sebuah tempat yang hampir dekat dengan Madinah, Rasulullah dan kaum muslimin menginap beberapa malam. Hingga suatu hari Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk meneruskan perjalanan. Saat itu, usai buang hajat, Aisyah kehilangan kalung permata Yaman. Saying, benda berharga itu tak ia temukan. Ia mencoba mencari lagi dan akhirnya ketemu. Namun, begitu kembali ke tempat singgah pasukan Islam, ia sudah tertinggal rombongan. Mereka yang mengangkat sekedup ke punggung unta tak tahu bahwa di dalamnya tak ada Aisyah.

Aisyah lantas menyelimuti dirinya dengan jilbabnya, kemudian berbaring. Ia berharap mereka akan kembali bila tahu dirinya tertinggal. Tak berapa lama, lewatlah Shofwan bin Mu’athol, menunggang unta. Ia tertinggal kafilah kaun muslimin karena suatu keperluan. Shofwan terkaget-kaget. Ia tahu bahwa itu Aisyah, sebab sebelum turun ayat yang mewajibkan pemakaian jilbab, Shofwan telah mengenali Aisyah.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, istri Rasulullah di sini? Apa yang menyebabkan engkau tertinggal?” ucap Shofwan spontan.

Tak sepatah kata pun diucapkan Aisyah. Shofwan segera menundukkan untanya. Aisyah pun naik dan Shofwan menuntun unta itu. Doa orang itu tak bisa menyusul rombongan kaum muslimin, hingga tiba di Madinah.

Kehadiran keduanya menjadi makanan empuk gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Segera saja ia melempar isu, bahwa istri seorang Nabi telah berbuat serong. Berita dusta itu menjalar bak api melahap padang ilalang kering. Beberapa orang termakan isu. Hamnah bin Jahsy (saudara kandung Zainab binti Jahzy, istri Rasulullah), Misthah (pembantu Abu Bakar), dan Hassan bin Tsabit turut memperkeruh suasana.

Suasana makin panas. Aisyah sendiri jatuh sakit sepulang dari perjalanan itu. Tragisnya, Aisyah tak tahu menahu tentang apa yang terjadi di luar. Ia tak mengerti bahwa ada peristiwa besar yang menyangkut dirinya, yang berputar dari mulut satu ke mulut yang lain. Yang dirasakan Aisyah, hanya Rasulullah sedikit berubah dari biasanya. Kasih lembutnya terasa kering. Hanya itu.

Sampai suatu hari Rasulullah berbicara di hadapan kaum muslimin di masjid. Dari atas mimbar ia memuji Allah, lantas menyatakan sikapnya.

“Wahai sekalian manusia. Kenapa orang-orang itu menyakiti keluargaku? Mereka berbicara tentang sesuatu yang sama sekali tidak benar. Demi Allah, aku tidak melihat keluargaku kecuali baik-baik selalu.”

Seorang sahabat Anshar, Usaid bin Hudhair dari suku Aus, menyela, “Wahai Rasulullah, bila orang-orang itu dari Aus, kami siap bereskan mereka. Dan bila mereka dari Khazraj, maka perintahkan kami untuk menyelesaikan urusan engkau. Demi Allah, mereka itu orang-orang yang layak dipenggal batang lehernya.”

Mendengar itu, Sa’ad bin Ubadah, yang berdarah Khazraj naik pitam. Ia segera menimpali.

“Demi Allah, kamu tak akan bicara seperti itu kecuali karena engkau tahu gembong masalah ini (Abdullah bin Ubay) dari Khazraj. Kalau saja ia dari kaummu, pasti bicaramu tak seperti itu.”

“Pendusta kamu ini, demi Allah. Kamu hanyalah munafik yang membela munafik,” balas Usaid.

Suasana kian panas. Beberapa orang nampak berlompatan. Keributan mulai muncul. Hampir saja orang-orang Aus dan Khazraj saling baku hantam. Rasulullah segera turun dari mimbar.

 ***

Hampir satu bulan masalah ini berjalan tanpa bisa dituntaskan kebenarannya. Rasulullah mencoba menggali kejujuran Aisyah. Ditemuilah istri tercintanya yang telah tinggal di rumah orang tuanya, Abu Bakar ash Shiddiq. Tak ada tegus sapa. Aisyah hanya menangis.

“Wahai Aisyah. Takutlah engkau kepada Allah. Bila engkau telah telah melangkah kepada keburukan, bertaubatlah. Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya.”

Air mata Aisyah makin deras. Tak ada kata yang mampu diucapkan. Ia berharap bapak-ibunya memberi jawaban. Lama ditunggu, keduanya tak juga buka suara.

“Tidakkah engkau berdua menjawab Rasulullah,” sahut Aisyah lemah sambil memandang kedua orang tuanya.

“Kami sendiri tak mengerti harus menjawab apa,” sahut Abu Bakar.

 ***

Ada banyak pelajaran berharga yang harus kita gali. Pertama, stabilitas sosial kaum muslimin akan selalu jadi incaran musuh-musuh Islam. Utamanya kalangan tokoh dan pemimpinnya. Segala cara akan dilakukan mereka untuk menghancurkan umat Islam. Bisa saja dengan memfitnah secara keji, tuduhan buta, sampa tindakan kekerasan sekali pun. Karenanya, umat Islam – apalagi dalam era seperti sekarang ini – tak boleh dengan mudah menelan opini dan isu yang berada di masyarakat. Sumber informasi harus jelas, dari segi autentitasnya maupun pembawanya (QS. Al Hujurat: 6). Kecerobohan sebagian sahabat yang termakan isu itu telah mengguncang kehidupan Rasul dan kuam muslimin.

Kedua, peran supremasi hokum dan ulama sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial umat Islam. Suku Aus dan Khazraj yang nyaris bentrok termakan provokasi kaum munafik bisa diatasi dengan kebenaran Aisyah yang ditetapkan melalui wahyu, dengan turunnya ayat 11 surat An Nuur. Karenanya, melalui tangan para ulama, seharunya al Quran dan sunah Rasul didudukkan fungsinya bagi penegakan hukum,khususnya pada saat kita banyak diterkam isu seperti hari-hari ini.

Ketiga, komunitas orang-orang yang mampu menahan diri seperti Abu Ayyub dan istrinya perlu ditumbuh-kembangkan. Di tengah masyarkat kita yang keropos, kita sangat perlu Usamah bin Zaid yang dengan jujur membela kebaikan keluarga Rasulullah. Kita butuh Burairah, pelayan Aisyah yang tahu betul keseharian Aisyah. Yang hanya bisa mengatakan, “Setahuku Aisyah tak lain seorang wanita yang baik. Aku bikin adonan roti, lalu aku minta ia menyimpannya. Rupanya ia tertidur di atas adonan itu dan datanglah kambing memakan adonan itu.”

Komunitas orang-orang yang bersih itu harus dibesarkan. Agar ada kekuatan yang bisa menetralisir isu dan opini kotor yang meracuni umat Islam. Sesudah itu, perlu dipikirkan wadah institusionalnya yang suaranya didengar dan wibawanya diakui. Hari ini tak akan kita jumpai Nabi baru, tidak juga wahyu baru. Tak mungkin kita menunggu surat-surat pembenaran dan pembelaan dari langit. Perlu kerja keras untuk menciptakan masyarakat muslim yang imannya kuat, berakhlak luhur dan anti-provokasi. Wallhu a’lam bishowab.

Sumber: Majalah Sabili

( mh )

Tujuh Modal Utama Gerakan Dakwah


Tujuh Modal Utama Gerakan Dakwah

KH. Hilmi Aminuddin

 

Kekuatan moral dan spiritual. Itulah yang akan menjadi modal pertama dan utama dalam setiap pergerakan. Mungkin saja landasan moral dan spiritual sebuah pergerakan salah atau batil, tetapi pasti punya semangat. Apatah lagi kita yang mempunyai landasan moral dan spiritual yang benar, yang berasal dari Allah SWT.

Kekuatan moral dan spiritual yang benar akan menghasilkan azzam (tekad) dan irodah qowiyyah (kemauan yang kuat)Bahkan orang akan muda selamanya dan bergairah terus jika bergerak atas landasan moral dan spiritual yang benar. Dan kita Alhamdulillah telah diberikan karunia itu oleh Allah SWT.

Modal yang kedua adalah modal intelektual. Allah sangat merangsang manusia lewat ayat-ayat Al-Qur’an yang berbunyi ‘afala ta’qilun, afala yatafakkarun. Otak yang terpakai oleh manusia hanya sekitar 5% dari volume otak kita. Kemudian kekuatan ini ditambahkan dengan kekuatan pendidikan/tarbiyyah.

Modal yang ketiga adalah modal ideology/idealisme, yang dengan adanya ini kita mempunyai visi dan misi. Ini juga merupakan karunia Allah kepada kita berupa pikiran yang baik, bisa mempunyai pandangan jauh ke depan walaupun dalam masa-masa sulit. Selalu menjadi barisan pelopor, barisan perintis dengan kejelasan ideologi ini.

Modal keempat adalah modal manhaj/metodologi. Allah tidak hanya memberikan perintah saja tetapi juga konsepsi dan landasan operasional. Shalat dan haji diperintahkan oleh Allah, tetapi dalam pelaksanaannya Allah mencontohkan melalui Rasulullah. Dalam berjuang dan berjihad pun harus mengikuti Rasul, tidak membeo, tetapi harus mengerti. Qudwah kepada Rasul merupakan kebutuhan, bukan hanya sekedar kewajiban, karena tanpa Rasul Islam tak bisa jalan. Rasulullah yang mencontohkan kepada kita dakwah dan jihad yang jelas, terarah, dan sistemik.

Modal kelima adalah modal kefitrahan. Dinul Islam adalah modal besar karena sesuai dengan fitrah manusia, tidak berbenturan dengan kultur manusia, binatang, dan ekosistem. Bahkan Allah menegaskan bahwa semuanya itu adalah jundi-jundi (tentara) Allah. Artinya, kita harus yakin bahwa pergerakan yang bertentangan dengan fitrah manusia adalah bertentangan dengan Allah. Karena semuanya bergerak dalam nuansa dan irama yang sama. Semuanya bertasbih kepada Allah. Karena itu, jika perjuangan Islam kompak dengan perjuangan alam / universe, maka perjuangan itu akan berhasil. Pohon, tumbuhan, binatang, cuaca, gejala alam, kesemuanya menjadi teman-teman perjuangan kita.

Jika berjuang tanpa fitrah alam, pasti akan gagal. Karena fitrah itu baku dan tetap sepanjang zaman. Ini adalah modal yang sangat besar walaupun kita tidak merasakannya, padahal bantuan Allah lewat alam/nature itu tinggi. Misalnya, bekerja dalam hujan tidak masuk angin, angin dan hujan jadi penyegar. Bahkan kesemuanya itu mengokohkan jika kita berstatus jundullah. Caranya, sesuaikanlah sifat jundiyyah kita dengan jundiyyah angin, binatang, pohon, dan lain-lain. Rasulullah sering dibantu oleh jundi alami ini (tumbuhan, binatang, cuaca, dan lain-lain). Bahkan karomah para sahabat dalam perang Qodisiyah ketika mereka menyeberang sungai mereka berkata: ‘Wahai air, kita sama-sama jundullah, bantulah saya karena sedang melaksanakan tugas’. Akhirnya air yang dalam dan deras itu menjadi dangkal dan tenang untuk dilewati.

Modal keenam adalah modal institusional. Kerja kita adalah kerja kolektif, yang banyak orang tidak memilikinya. Kita memperoleh banyak dukungan dari proses-proses jama’i ini. Seperti tawasshou bil haq dan tawasshou bish shobri. Itu hanya bisa dilakukan dengan jama’ah, karena tawasshou ini diperlukan dalam gerakan agar tidak tergelincir. Ba’duhum awliya u ba’din. Kritikan dan peringatan itu perlu. Itu semua hanya bisa dilakukan dalam proses institusionalisasi. Ketika tantangan dakwah berat dan sulit, ada tawasshou bish shobr sehingga menimbulkan daya tahan. Wama dho’ufu wa mastakanu, serta tawasshou bil marhamah. Ketika seseorang tersebut tidak sendirian, tetapi bersama-sama dengan banyak orang, potensinya tidak akan terpuruk.

Modal ketujuh adalah modal yang sifatnya material. Sebenarnya Allah telah banyak memberikan modal material ini kepada kita berupa alam semesta beserta segala isinya. Tetapi mungkin kita belum bisa mendayagunakannya. Bahkan dalam QS Al-Hajj 34, Allah berfirman bahwa ‘Telah Aku datangkan segala apa yang kamu butuhkan, wa in ta’uddu ni’matallah laa tuhsuha. Tetapi karena kezaliman dan ketidak proporsionalan kita, sehingga tidak memiliki daya inovatif dan kreatif untuk memanfaatkannya. Menyadari nikmat Allah itu penting. Bagaimana nikmatnya udara, sehari kurang lebih 350 kg kita memakai oksigen untuk tubuh kita, 1/5 nya dipakai oleh otak.

Kesadaran memiliki modal dasar itu penting demi irodah qowiyyah dan azzam. Kalau melihat perjalanan dakwah ke belakang, zaman tahun 80-an, zaman Benny Moerdani, bagaimana dakwah itu dikekang, diatur dan dikendalikan. Bahkan menafsirkan QS Al-Ikhlas saja diberangus, sampai akhirnya setelah dikejar-kejar, temanya diganti menjadi syarat sahnya wudhu. Justru di masa-masa sulit itulah dakwah berkembang dan berekspansi karena punya modal banyak.

Pada saat itu para muwajih tidak dijemput dengan mobil, tetapi banyak yang berjalan kaki karena keadaan ekonomi yang sulit. Cari tempat acara dauroh juga sulit. Halaqoh di kebun binatang, di taman, di lapangan, di kebun raya, tanpa whiteboard. Itu semua karena kita punya kesadaran bahwa kita kaya, yang menyebabkan kita selalu menjadi barisan perintis dan barisan pelopor. [ ]

Sumber: al-intima

BEBAN PSIKOLOGIS ANAK MONDOK USIA DINI


BEBAN PSIKOLOGIS ANAK MONDOK USIA DINI

Dia berdiam seorang diri menatap hamparan sawah sambil termenung. Sementara teman-teman lainnya asik bercengkrama di kamar asrama.

Aku lihat dia melihat ku duduk di atas tikar yang kami gelar karena kebetulan tidak kebagian saung dan dia berjalan menghampiri.
Ibu altaf, mamaku belum kesini. Padahal janjinya hari ini ke sini katanya dengan wajah murung.

Oh… mau telepon mama nanya jam berapa berangkat ke sini shalih? Tanyaku

Ia mengangguk dan wajahnya jadi sumringah.

Kupinjamkan HP, dan dia bercakap di depanku…

Mama jadi kesini jam berapa? Tanyanya….

Wajahnya tiba-tiba berubah, matanya berkaca-kaca.

Oh …. iya…. iya udah gak apa-apa… tapi nanti mama jenguk aku yaa?? Kapan ma??

Wajahnya terlihat semakin kecewa dan air matanya mulai jatuh, di serahkan hp yang masih tersambung.

Halo.. assalamualaikum… mama… gimana? Tanyaku…

Iya bu… tolong kasih pengertian anak saya yaa… saya gak bisa jenguk. Sebenernya sih kita emang gak mau sering jenguk, karena kita gak mau dia terlalu manja. Dia bulak-balik minta ijin pulang, cuma takutnya kalau dibawa pulang dia gak mau balik lagi ke pondok. Biarin aja lah nangis nangis dia sekarang, kasih kepercayaan aja sama pondok, nanti juga lama-lama biasa, kata sang bunda di ujung telepon sana.

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

Keningku mengernyit mendengar ucapan sang bunda, gak dijengukin aja bu, kasih pengertian anaknya? Kasihan bu anaknya sedih. Ku coba melobby hatinya

Enggak lah bu, biarin aja. Nanti juga lama-lama biasa, suaranya terdengar yakin diujung telepon.

Baiklah… bukankah setiap orang tua memiliki hak memilih cara mendidik anak-anaknya.

Ku tutup telepon, ku tarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Kutatap mata berurai air mata tanpa isak, hanya ditemani tatapan kosong entah memandang apa.

Mama belum bisa kesini nak… nanti kalau mama gak repot mama mu nanti ke sini. Sementara ini biarkan ibu altaf jadi mamamu buat mu yaa… boleh? Tanyaku…

Dia mengangguk lemah, air matanya semakin banjir, kali ini pundaknya hingga terguncang-guncang menahan isak. Sesak rasanya dada ini melihatnya, tapi kutahan dan tak ku ijinkan air mata ini jatuh.

Yaa sudah… keluarin aja sedihnya sampai puas.. boleh kok nangis..boleh kataku…kubiarkan dia menangis.

Aku kayak dibuang ibu altaf, orang lain di telepon, ditengok, diajak pulang, aku enggak. Aku sedih, gak ada tempat ngadu, gak ada tempat cerita, aku sendirian ucapnya ditengah isak.

Iyaa… sekarang yang nengok ibu altaf, nanti jadwal telepon yang nelepon ibu altaf ya nak.. kamu boleh cerita, boleh ngadu, sama ibu altaf, kataku menenangkan.

Dia menangguk.. perlahan tangis dan isaknya mereda.
Dia bercerita bagaimana dia merasa tertekan atas sikap teman-teman sekelasnya, merasa terintimidasi dengan sikap teman sekamarnya. Ia sedang merasa sedih karena merasa diperlakukan tidak adil. Aku hanya mendengarkan hingga ia selesai bercerita lalu memberi sedikit nasehat. Ia semakin terlihat tenang.

Makanan kesenanganmu apa? Tanyaku

Sop Iga.. jawabnya..

Ya udah nanti minggu depan In sya Allah ibu masakin yaa….

Ibu altaf bisa masak sop iga? Tanyanya…

Insya allah bisa… ibu altaf bisa masak apa aja, cuma enak apa enggaknya enggak tau, yang penting mateng dan gak beracun….kataku

Dia tersenyum….

Ibu altaf…. ibu pulang jam berapa?

Ibu belum tahu, kenapa?

Aku pingin ditungguin sampai pulang pramuka….

Oh gitu…….. In sya Allah… kalau pulang pramukanya gak kesorean masih ketemu ibu, tapi kalau kesorean ibu nanti kemalaman sampai rumah yaa… tapi in sya Allah ibu nanti minggu depan datang lagi tengokin kamu.

Wajahnya jadi sumringah….

Udah sana berangkat udah bel…. semangat yaa nak…

Dia tersenyum dan kembali bersemangat.

Melihatnya berlari-lari kecil membuatku terharu…sesederhana itu saja sebenarnya menyenangkan hatimu…

Bagiku intensitas kita berlomunikasi dan menjenguk anak-anak bukan soal percaya tidak percaya pada pihak pondok. Tapi soal kewajiban orang tua memenuhi hak psikologis anak yang masih jadi kewajiban orang tua.

Anak laki-laki usia 12-13 tahun belum usia baligh dimana dalam islam dianjurkan untuk dekat dengan orang tuanya.

Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang memisahkan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, sampai kapan?” “Sampai mencapai baligh bila laki-laki dan haidh bila perempuan,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Al Hakim dalam Mustadroknya. Al Hakim berkata bahwa hadits tersebut sanadnya shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim).

Hadits tersebut sebenarnya membicarakan tentang pengasuhan anak ketika terjadi suami-istri bercerai, siapakah yang berhak mengasuh anak tersebut.

Namun hadits itu juga mengandung faedah lainnya. Hadits tersebut berisi penjelasan bahwa sebaiknya anak tidak jauh dari ibu atau orang tuanya ketika usia dini. Karena usia tersebut, anak masih butuh kasih sayang orang tua, terutama ibunya.

Namun dikarenakan kondisi lingkungan dan berbagai media yang mengancam aqidah, itu sebabnya untuk mengurangi mudharat para orang tua banyak memilih memasukkan anaknya kedalam pesantren agar tertanam erat aqidahnya, tapi bukan berarti boleh melepaskan begitu saja hak anaknya untuk dekat dengan orang tua.

Dari Abu ‘Abdirrahman Al Hubuliy, dari Abu Ayyub, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan dia dan orang yang dicintainya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi no. 1283. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).

Maka untuk mengakomodir kewajiban orang tua menanamkan aqidah anak dan melindungi dari lingkungan yang berpotensi merusak ahlak, sebelum usianya baligh beberapa orang tua yang memiliki dasar pemahaman sesuai hadits ini akan menjaga kualitas komunikasi dan kedekatan dengan anak.

Banyak orang tua berpikir..aah lama-lama juga kebiasa…lama-lama juga betah tanpa mempertimbangkan hak psikologis dan batin anak. Menjadi betah di pondok karena sekedar terbiasa akan berbeda hasilnya dengan menjadi betah karena merasa pondok tak ubahnya rumah yang tetap terisi aroma kasih sayang orang tua karena proses adaptasi bertahap dengan pendampingan orang tua.

Pondok yang paling cocok dengan anak-anak diusia dini bukanlah pondok yang walaupun jauh dengan memiliki guru yang hebat dan fasilitas yang mantap, tapi pondok yang dekat dan tidak menjauhkan anak anak baik dari segi jarak maupun mental, agar chemistry kedekatan anak dan orang tua tetap terjaga.

Berapa banyak anak yang lulus pondok kualitas akhlak dan aqidahnya lebih buruk daripada yang tidak mondok?

Berapa banyak orang yang tahfidz Alquran namun gagal mengimplementasikan makna alquran sesungguhnya.

Berapa banyak anak yang lulus dari pondok kehilangan kelembutan cinta karena merasa kurang dicintai.

Berapa banyak anak yang justru hambar hubungannya dengan orang tua dan menjalankan kewajibannya pada orang tua hanya sekedar kewajiban tanpa cinta.

Walau bagaimanapun semua tergantung anaknya dan orang tuanya. Karena ustadz / ustadzah hanyalah fasilitator dan fasilitas hanyalah pendukung. Sedang dasar akhlak dan aqidah anak anak tetaplah kewajiban kita sebagai orang tua karena kita yang akan dihisab soal itu, bukan ustad/ustadzahnya.

Banyak orang tua mampu menjadikan anak-anak yang shalih, tapi tidak semua anak shalih ingat untuk selalu ingat mendoakan orang tuanya saat ada, apalagi setelah tiada. Karena antara ada dan tiada orang tua, mereka biasa merasa orang tuanya tidak ada di masa-masa ia membutuhkannya.

Semoga kita bisa jadi orang tua yang dirindukan surga karena doa anak-anak shalih kita. In syaa Allah..

Original : Ernydar Irfan

Share kepada yang lain agar lebih bermanfaat

=============================

GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://tokopedia.com/griyahilfaaz

==============================

5 Posisi Anak Bagi Orangtua dalam Al Quran


5 Posisi Anak Bagi Orangtua dalam Al Quran

Al Quran sebagai petunjuk jalan bagi setiap keluarga muslim. Bagi yang telah mempunyai keturunan. Atau mereka yang sedang menanti hadirnya keturunan. Atau yang sedang khusyu’ dalam munajat agar diberikan amanah indah itu. Atau yang sedang belajar untuk menapaki tangga menuju bahtera rumah tangga. Inilah Al Quran yang harus selalu menjadi tempat bertanya.

Al Quran menyampaikan bagi setiap keluarga muslim bahwa anak mempunyai 5 potensi bagi kehidupan orangtuanya. Potensi baik ataupun potensi buruk. Berikut ini ke 5 hal tersebut:

Pusat Busana Muslim Branded Berkualitas

Nibras, Mutif, Rahneem dll
GRIYA HILFAAZ
  1. Anak sebagai HIASAN HIDUP

Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imron: 14)

Anak disebut ayat ini sebagai satu dari kesenangan-kesenangan dunia. Setiap manusia pasti telah terhiasi hatinya dengan berbagai keindahan dunia tersebut. Hanya saja, Allah menawarkan tempat kembali yang lebih baik di sisi Nya.

Anak sebagai hiasan yang menghiasi hidup orangtuanya menjadi berwarna indah. Anak-anak ibarat pelangi. Warna mereka yang berbeda-beda membuat suasana rumah menjadi begitu indah dipandang mata. Kehadiran mereka selalu dinantikan. Terlihat jelas di pelupuk mata orangtuanya pelangi itu, apalagi saat pelangi itu ada di tempat yang jauh. Sehingga kerinduan pada anak-anak begitu membuncah.

Untuk itulah, para orangtua siap untuk melakukan apa saja dan membayar berapa saja untuk mendapatkan keturunan. Karena keindahan hidup berkurang ketika keturunan yang dinanti belum juga hadir.

Anak-anak memang indah. Keindahannya tak tergantikan oleh apapun. Gerak mereka, suara mereka, raut wajah mereka, tingkah polah mereka, tertawa mereka, tangis mereka. Ahh…semuanya indah.

 

  1. Anak sebagai COBAAN HIDUP

Allah berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al Anfal: 28)

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. At Taghabun: 15)

Anak juga menjadi cobaan hidup bagi orangtuanya. Seperti yang disampaikan dua ayat di atas. Sehingga orangtua diminta agar berhati-hati. Keindahan itu tidak boleh melalaikan. Kenikmatan kita memandanginya tidak boleh melalaikan dari tugas para orangtua menjadi hamba Allah yang baik.

Allah mengingatkan kembali kepada para orangtua:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs Al Munafiqun: 9)

Seberapa kuat kita menikmati keindahan pelangi. Bisa jadi, kita yang berhenti menikmatinya. Atau pelangi itu akan segera menghilang di antara warna langit lainnya. Jika tidak berhati-hati, saat kenikmatan itu telah pergi, kita baru sadar banyak kewajiban yang telah dilalaikan. Banyak hak orang lain yang terabaikan. Banyak potensi kebesaran orangtua terhenti karenanya. Dan akhirnya bisa kehilangan kesempatan meraih keindahan abadi dan haqiqi; Surga Allah. Sungguh kerugian yang besar.

 

  1. 3. Anak yang LEMAH

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Qs. An Nisa’: 9)

Orangtua diminta agar memperhatikan benar generasi setelahnya. Tidak boleh hadir generasi lemah sepeninggal orangtuanya. Perhatian besar orangtua untuk meninggalkan segala hal yang membuat mereka kuat adalah merupakan kewajiban. Ayat ini mengingatkan agar orangtua berhati-hati jika mati belum menyiapkan anak keturunan, sehingga mereka menjadi beban masyarakat dan zaman.

Kelemahan dalam masalah keimanan. Kelemahan dalam masalah pemahaman agama. Kelemahan ibadah dan akhlak.

Para orangtua harus menyiapkan agama anak-anaknya. Karena pasti Allah akan menanyakan amanah itu kepada para orangtua.

Kelemahan dalam masalah ekonomi. Kelemahan dalam kesejahteraan. Kelemahan fasilitas.

Para orangtua bertanggung jawab jika kelemahan ini menjadi alasan jauhnya anak-anak dari Allah. Sehingga meninggalkan anak-anak dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada meninggalkan mereka meminta-minta kepada orang.

Kelemahan ilmu pengetahuan. Kelemahan wawasan dalam hidup. Kelemahan dalam kemampuan untuk menjalani hidup.

Itu artinya para orangtua harus membekali mereka ilmu, semua sarana ilmu dan wawasan serta skill anak-anak. Kesalahan fatal, ketika orangtua sibuk menikmati hidup sendiri tetapi lalai menyiapkan ilmu, wawasan dan skill anak-anak mereka.

Kelemahan dalam fisik. Kelemahan dalam jiwa dan mental. Kelemahan yang mengakibatkan mereka hanya menjadi pecundang dan bukan seorang juara.

Orangtua harus menyiapkan fisik mereka sesehat mungkin. Menjaga mereka agar tetap bugar untuk melanjutkan perjuangan. Jiwa dan mental yang kokoh berhadapan dengan keadaan apapun. Mampu hidup dan bertahan dalam keadaan paling sulit sekalipun.

Dan semua jenis kelemahan adalah merupakan peringatan yang tidak boleh muncul pada kelahiran keturunan kita.

 

  1. Anak sebagai MUSUH

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs At Taghabun: 14)

Sangat mengerikan membaca ayat ini. Allah memerintahkan agar orangtua berhati-hati terhadap anak. Karena sebagian mereka adalah musuh. Jika anak telah menjadi musuh orangtuanya, maka hilanglah sebagian besar kebahagiaan rumah tangga. Karena hiasan itu kini hanya menjadi beban, penyebab ketakutan, kesedihan dan semua kesengsaraan hidup orangtua.

Anak yang nakal, durhaka, bodoh, menjatuhkan martabat keluarga. Saat itulah anak yang dulu diasuh siang dan malam, berubah menjadi musuh yang menyedihkan, menakutkan dan menyengsarakan.

 

 

  1. Anak yang BAIK & MENYEJUKKAN PANDANGAN MATA

Allah berfirman:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Qs. Ali Imron: 38)

Allah juga berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Furqon: 74)

Inilah anak yang diharapkan oleh setiap keluarga. Untuk itulah, ayat-ayat yang digunakan untuk membahas poin ini berupa doa dan ini berbeda dengan ayat-ayat sebelumnya. Doa adalah harapan dan munajat kepada Yang Menciptakan semuanya.

Anak yang baik. Anak yang menyejukkan pandangan mata. Anak yang menyenangkan hati orangtua.

Jelas ini adalah hasil panen jerih payah orangtua. Setelah sekian lama dalam kesabaran tiada berujung, orangtua berjuang berjibaku mendidik mereka. Saat usia telah senja, tulang telah rapuh, kepala telah menyala putih, banyak keterbatasan, saat perlu bersandar, anak-anak yang baik itu benar-benar menyejukkan pandangan mata, menentramkan hati. Ibarat oase di tengah gurun sahara. Ibarat air sejuk bagi musafir yang telah lemas karena dehidrasi. Anak yang berbakti. Anak yang mengerti hak orangtua. Anak yang bisa mengangkat derajat orangtunya kelak di Surga Allah.

 

Allah yang menciptakan anak-anak bagi kita. Dia menjelaskan dalam Al Quran bahwa anak-anak itu adalah hiasan hidup orangtua. Tetapi juga sebagai cobaan hidup bagi orangtua, agar diketahui apakah orangtua lalai dari kewajibannya berdzikir kepada Allah atau tetap baik.

Untuk itulah, orangtua diingatkan Allah jangan sampai anak-anak menjadi generasi yang lemah apalagi menjadi musuh. Tetapi harus menjadi anak-anak yang baik dan menyejukkan mata.

Sekaligus amanah dari Allah agar para orangtua menjaga amanah itu dan menjadikan mereka anak-anak yang kokoh dan kuat di zamannya.

Wallahu a’lam

 

budi
Ditulis oleh Budi Ashari

http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel–keluarga/anak-parenting/46-5-posisi-anak-bagi-orangtua-dalam-al-quran

Apakah Anda betul2 SIAP menjadi ENTREPRENEUR ?


Saya seringkali menemukan, orang2 yang pulang seminar Kewirausahaan dengan wajah berseri-seri, semangat berapi-api, nadanya tinggi meledak-ledak, serta matanya berbinar-binar penuh harapan baru.

Awalnya ia adalah seorang karyawan swasta, yang terkena “virus pengusaha”, dan melihat betapa bercahayanya kehidupan para Pengusaha Sukses. Tanpa ragu lagi ia pun langsung melihat tabungan, menentukan lokasi usaha, lalu buka cafe, dan langsung berbangga diri ke teman2nya yang masih bekerja, sekarang dirinya punya kebebasan waktu, dan telah berpindah kuadran.

Sebulan pertama, Cafe ditongkrongin terus, sambil menyambut teman2 yang datang memberi selamat untuk pembukaan cafenya.

Bulan kedua, pembeli datar2 saja, tidak banyak kemajuan.

Bulan ketiga sampai bulan kelima, mulai panik, berbagai cara marketing pun dicoba, mulai dari bagi brosur sampai banting harga dan ditulis besar2 di depan cafe dengan harga mentereng.

Bulan keenam, cafe tutup, ia pun putus asa, dan ga lama kemudian ribut2 di berbagai forum kewirausahaan seperti forum ini : “Hati2 tertipu seminar kewirausahaan, gw udah jadi korban nich !!” atau “Jangan percaya seminar2 wirausaha dech, ini gw gagal dan yang gw dapet cuma malu doank + setumpuk utang. Seminar cuma ngomong enak2nya doank, pembicara brengsek !!”

Klise ? Ya, betul sekali. Cerita klise seperti ini sering kita jumpai di sekitar kita. Lalu, siapakah yang salah ? Pembicara seminar ? ATau peserta seminarnya ?

Daripada ribut dan saling menyalahkan, mari kita telaah masalah ini dengan kepala dingin dan penuh pemikiran positif.

Pertanyaan utama dari permasalahan ini adalah :

Apakah setiap orang bisa menjadi Entrepreneur ? Ataukah Entrepreneur hanya bakat untuk orang-orang tertentu saja ?

Sebenarnya, ini semua adalah permasalahan cara berpikir dan cara bertindak. Saat Anda memutuskan ingin menjadi entrepreneur, apakah Anda sudah berpikir dan bertindak layakanya entrepreneur ? Atau jangan2 Anda hanya fisiknya saja yang sedang menjadi entrepreneur, tapi cara berpikir dan cara bertindak Anda masih layaknya seorang karyawan ?

Lho ?? Apa bedanya ??

Pertama-tama, perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa menjadi entrepreneur atau karyawan adalah murni pilihan, tidak ada yang lebih baik di antara keduanya. Pilihan ini adalah pilihan yang sangat adil, karena setiap orang sebenarnya bebas memilih asalkan memiliki CARA BERPIKIR dan CARA BERTINDAK yang TEPAT.

Menjadi Entrepreneur, tidaklah mudah seperti kelihatannya. Jangan pernah sekali-kali berpikir, bahwa menjadi Boss itu jauh lebih mudah daripada menjadi karyawan. Anda SALAH BESAR. Menjadi Boss / Entrepreneur, memiliki tanggung jawab yang besar, memerlukan pemikiran-pemikiran yang brilian, intuisi yang jitu, pandangan yang visioner, harus mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat, dan bla bla bla bla bla, alias masih banyak syarat lainnya.

Mungkin saat di seminar-seminar, Anda melihat :

Betapa suksesnya seorang Chairul Tanjung.
Namun apakah Anda tahu bagaimana perjuangan beliau saat merintis bisnis ? Apakah Anda siap hanya tidur 6 jam per hari tanpa punya banyak waktu untuk keluarga seperti Chairul Tanjung muda ?

Betapa suksesnya seorang Donald Trump.
Namun apakah Anda tahu bahwa ia pernah bangkrut, sampai2 pengemis di pinggir jalan pun lebih kaya dari dirinya ?

Betapa suksesnya Top Ittipat (CEO snack Tao Kae Noi).
Namun apakah Anda tahu bagaimana saat awalnya dia merintis bisnis ? Apakah Anda paham bagaimana rasanya hampir kehilangan rumah satu2nya karena terlilit hutang keluarga, namun sambil masih harus terus berjuang untuk membalik nasib ? Apakah Anda sanggup gagal berkali-kali seperti dia, dan tetap mesti bangkit berdiri walau rasanya sangat sakit dan tertekan (bahkan dihina), seperti yang dia alami ? Ya, dan itulah juga yang saya alami 4 tahun yang lalu, saya mengalami hampir persis seperti yang dialami Top Ittipat sebelum bisa menjadi seperti sekarang ini

Menjadi entrepreneur, itu artinya juga Anda sedang mengelola resiko, SETIAP SAAT, SETIAP WAKTU, dan Anda MESTI SURVIVE DALAM KEADAAN SESULIT APAPUN.

Karena itu, jangan pernah menjadi entrepreneur, bila Anda memang tidak siap dengan segala resikonya. Pahami dulu berbagai resikonya, dan siapkah Anda dengan segala konsekwensinya ?
Siapkah Anda bekerja keras sedangkan orang lain sedang enak2 nonton TV atau main game ?
Siapkah Anda mesti tetap berpikir jernih walau sedang dalam tekanan ? ATau dalam sedikit tekanan Anda sudah stress dan uring2an ?
Siapkah Anda mesti networking dan berkumpul dengan komunitas, saat orang lain sedang asik malam mingguan ?
Siapkah Anda bila membangun bisnis dan merasa miskin, karena belum bisa menggaji diri sendiri, sedangkan teman2 Anda sedang santai2 hang out menikmati gaji mereka ?
Siapkah Anda meninggalkan Comfort Zone Anda, dan berjuang untuk SURVIVE AS AN ENTREPRENEUR setiap saat ?

Nah, itulah bedanya, Entrepreneur dengan Karyawan. Bila Anda ingin menjadi Entrepreneur, bersiaplah dengan segala resiko dan konsekwensinya.

Ubahlah cara berpikir dan cara bertindak Anda layaknya Entrepreneur.

Entrepreneur tidak berpikir bahwa Laba Perusahaan = Gaji Gue. Entrepreneur mesti siap ngirit di masa awal merintis bisnis, untuk mengembangkan bisnisnya menjadi lebih besar lagi.

Entrepreneur tidak berpikir bahwa saat passive income, waktunya untuk main game, nonton tv, dan perbanyak terus family time. Entrepreneur mesti mengubah passive incomenya menjadi MASSIVE PASSIVE INCOME, barulah bisa menikmatinya.

Entrepreneur selalu berpikir bahwa WAKTU ITU ADALAH EMAS, karena mereka paham betul bahwa setiap waktu adalah ASET YANG SANGAT BERHARGA, karena itu tidak boleh dibuang2 sembarangan.

Entrepreneur tahu betul, bahwa dirinya sedang membangun KERAJAAN BISNIS, karena itu mereka selalu bersabar dan tidak selalu mengharapkan “hasil dalam waktu singkat”.

Entrepreneur tahu betul, bahwa setiap bisnis memiliki resiko, dan resiko itulah yang mesti mereka kelola, sehingga menjadi resiko yang minimal dengan peluang yang besar.

Menjadi Entrrepreneur itu sangatlah menyenangkan, hanya bila Anda memahami segala resiko dan konsekwensinya.

So, kembali lagi ke pertanyaan awal, Apakah Anda betul2 SIAP menjadi Entrepreneur ?

Pilihan di tangan Anda

 

Chandra Liang

SUMBER : http://www.kaskus.co.id

L A N G K A


✅Yang langka itu..
Istri yg tunduk patuh pada suami, yg senantiasa berseri2 saat dipandang , yg ridha terdiam saat suami marah. Tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara. Tercantik di hadapan suami. Terharum saat menemani suami beristirahat. Tak menuntut keduniaan yg tidak mampu diberikan suaminya. Yang sadar bahwa ridha-Nya ada pd ridha suaminya.

✅Yang langka itu..
Suami yang mengerti bahwa istrinya bukan pembantu. Sadar tak melulu ingin dilayani. Malu jika menyuruh ini itu krn tahu istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah. Yang tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang krn sadar itulah resiko hadirnya amanah² yg masih kecil. Yang sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya. Yang rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga krn rasa sayangnya thdp istrinya yg kelelahan.palestina small

✅Yang langka itu..
Anak lelaki yang sadar bahwa ibunya yg paling berhak atas dirinya. Yang mengutamakan memperhatikan urusan ibunya. Yang lebih mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anak²nya. Yang sadar bahwa surganya ada pd keridhaan ibunya.

✅Yang langka itu..
Orang tua yang sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya. yang selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tidak menyuruhnya kpd perkara munkar. Yang sadar bahwa keridhaan Allah bagi anaknya telah berpindah pd ridha suaminya.

✅Yang langka itu..
Seorang ibu Yang meskipun tahu surga berada di bawah telapak kakinya. Tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tsb saat anaknya ada kelalaian thdnya. Yang selalu sadar bahwa mungkin segala kekurangan pd anak²nya adalah hasil didikannya yg salah selama ini. Yang sadar bahwa jika dirinya salah berucap atau do’a keburukan maka malaikat akan mengaminkan do’anya.

✅Yang langka itu..
Anak yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dlm keheningan sepertiga malam terakhir. Meskipun sehari hari dlm kesibukan rumah tangganya. Dalam kesibukan usahanya. Dalam kesibukan pekerjaannya.

✅Yang langka itu..
Orang-orang yg saling memberikan nasehat dalam kebenaran dan kesabaran. yang saling memaklumi jika hal² di atas lupa atau lalai dilakukan sehingga saling memaafkan diantara mereka. Semoga rahmat Allah berada di antara mereka.

Dan semoga Allah dgn kemurahanNya memaafkan kesalahan² mereka

Semoga kita termasuk kelompok yg LANGKA itu..
Aamiin Ya Mujibassailin

Busana Muslim Branded Berkualitas


Hilfaaz Collections