Tag Archive | pks

Tiga Sifat dalam Menghadapi Rintangan Dakwah


Allah Ta’ala berfirman,
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآَتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: ‘Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir‘. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran: 146-148).

560054_10150838361573757_1073741846_n
Medan dakwah bukanlah hamparan permadani yang berhiaskan bunga-bunga di sekitarnya. Akan tetapi, jalan dakwah diliputi berbagai rintangan yang akan menghalangi orang yang menempuhnya. Dakwah adalah sebuah perjalanan panjang yang takkan pernah sepi dari rintangan dan cobaan bagi mereka yang melaluinya. Usianya lebih panjang dari penyeru dakwah itu sendiri. Meniti jalan dakwah memang tidak semulus laiknya melintasi jalan tol. Selalu ada aral, tantangan, dan berbagai bentuk ujian lainnya. Para rasul dan nabi yang telah merintis dan melaluinya telah memberikan banyak pelajaran (ibrah) bagi mereka yang meneruskan estafet dakwah ini.

Rintangan dan ujian dalam berjuang di jalan dakwah adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Ia pasti akan menghampiri, jangan pernah berhenti, karena para nabi dan pengikutnya tak pernah berhenti ataupun melemah karena rintangan dan ujian.

Dalam ayat tersebut disebutkan banyak nabi, karena memang memang fitrah dakwah islam sejak dulu selalu ada tantangan. Nabi Nuh AS telah menghadapi cacian kaumnya, Nabi Ibrahim AS dibakar dalam nyala api, Nabi Isa AS dimusuhi, Nabi Yusuf dimasukkan sumur, bahkan Nabi Muhammad SAW mendapat ancaman dibunuh setelah seringkali mendapat cacian, hinaan, dan penyiksaan. Tak ada satu pun dari mereka yang bergeming ataupun lemah lalu berhenti dalam dakwahnya, kecuali tetap kokoh dan semakin gigih dalam mengajak untuk menyembah Allah SWT semata.

Ayat di atas memberikan pelajaran dalam perjuangan. Dalam perjuangan para nabi akan selalu disokong pengikutnya yang bertaqwa, kader militan bukan meletan, mereka tidak pernah berputus asa, menjadi lemah ataupun berhenti dalam dakwah atas cobaan yang menimpanya. Dalam ayat tersebut, terdapat tiga sifat yang menjadi duri di jalan dakwah, sifat yang harus diwaspadai oleh para dai dan kader penyeru kebenaran sehingga mereka tidak terjatuh dalam golongan orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah.

A. Sifat Wahn (famaa wahanu)

Sifat ini dapat diartikan seperti dalam sebuah hadits ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang sebuah sebuah penyakit wahn. Wama alwahn ya Rasulallah? Rasulullah menjawab, ”Hubbuddunya wa karohiyatul maut.” Wahn adalah sifat cinta dunia dan takut mati. Sifat wahn banyak membuat para penyeru dakwah berguguran, boleh jadi karena tidak kuat atas siksaan, ataupun godaan dunia yang melenakan. Seorang yang telah memasuki arena dakwah dalam pertarungan hak dan kebatilan akan dihadapkan dengan hal ini. Sekali lagi sejarah telah menceritakan itu. Bukankah ketika Rasulullah pernah mendapatkan tawaran menggiurkan untuk meninggalkan dakwah Islam tentunya dengan imbalan. Imbalan kekuasaan, kekayaan atau wanita. Tetapi dengan tegar beliau menampik dan berkata dengan ungkapan penuh keyakinannya kepada Allah SWT.

Demi Allah, wahai pamanku seandainya mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini. Niscaya tidak akan aku tinggalkan urusan ini sampai Allah SWT. memenangkan dakwah ini atau semuanya akan binasa’.

Demikian pula para sahabatnya ketika menjumpai ujian dan cobaan dakwah mereka tidak pernah bergeser sedikit pun langkah dan jiwanya. Malah semakin mantap komitmen mereka pada jalan Islam ini. Ka’ab bin Malik pernah ditawari Raja Ghassan untuk menetap di wilayahnya dan mendapatkan kedudukan yang menggiurkan. Tapi semua itu ditolaknya sebab hal itu justru akan menimbulkan mudarat yang jauh lebih besar lagi.

B. Sifat Lemah (wama dho’ufu)

Dakwah ini juga senantiasa menghadapi musuh-musuhnya di setiap masa dan zaman sesuai dengan kondisinya masing-masing. Tentu mereka sangat tidak menginginkan dakwah ini tumbuh dan berkembang. Sehingga mereka berupaya untuk memangkas pertumbuhan dakwah atau mematikannya. Sebab dengan tumbuhnya dakwah akan bertabrakan dengan kepentingan hidup mereka.

Pada masa Khalifah Al Mu’tsahim Billah tentang fitnah dan ujian ‘khalqul Qur’an’. Imam Ahmad bin Hambal sangat tegar menghadapi ujian tersebut dengan tegas ia menyatakan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk sebagaimana yang didoktrin oleh Khalifah. Dengan tuduhan sesat dan menyesatkan kaum muslimin Imam Ahmad bin Hambal menerima penjara dan hukum pukulan dan cambukan. Dengan ketsabatan beliau kaum muslimin terselamatkan aqidah mereka dari kesesatan.

Demikian pula kita merasakan ketegaran Imam Hasan Al Banna dalam menghadapi tribulasi dakwahnya. Ia terus bersabar dan bertahan. Meski akhirnya ia pun menemui Rabbnya dengan berondongan senjata api. Dan Sayyid Quthb yang menerima eksekusi mati dengan jiwa yang lapang lantaran aqidah dan menguatkan sikapnya berhadapan dengan tiang gantungan. Beliau dengan yakin menyatakan kepada saudara perempuannya, ‘Ya ukhtil karimah insya Allah naltaqi amama babil jannah. Duhai saudaraku semoga kita bisa berjumpa di depan pintu surga kelak’.

Inilah pelajaran penting dari dakwah bahwa sifat tsabat adalah sebuah keharusan yang harus dimiliki bagi pengembannya.

C. Sifat Menyerah/Berdiam Diri/ sifat istikan (wamastakanu)

Fitnah mungkin akan bertubi-tubi menyerang jama’ah dakwah. Cibiran, makian, hingga ancaman pembunuhan  bisa saja diterima akan tetapi mereka tidak pernah berdiam diri, para dai terus bergerak di tengah kesulitan dan cobaan. Seorang dai sejati tidak pernah menunggu panggilan untuk dakwah. Dia akan berkontribusi memperbaiki dirinya, keluarganya, tetangga sekitanya dan umat secara umum. Bagaimana mungkin ia akan bisa berdiam sedangkan kemungkaran berada di sekelilingnya. Ketika dakwah belum juga menampakkan hasilnya, maka tidaklah membuat dai kemudian berdiam diri, karena yang dituntut darinya bukanlah hasil. Namun yang dipinta darinya hanyalah amal, sedangkan hasil adalah urusan Allah SWT semata.

Ketiga sifat tersebut, wahn, dhoif, dan istikan hendaklah mesti dihindari dan dibuang jauh-jauh dari kamus para dai. Maka dari itu untuk menjaga kualitas ruhiyah agar tetap tsabat para pejuang dakwah hendaklah tidak bosan-bosan untuk mengulang-ulang doa yang diucapkan oleh para nabi dan pengikutnya.

”Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS Ali Imran [3]: 147)

Sebab apa berdoa, karena kita ini sebenarnya hamba yang lemah, yang mungkin saja tergelincir dalam ketidaktahuan, tergelincir dalam dosa maksiat, maka marilah meminta pada allah agar mengampuni kealpaan kita dan meneguhkan kita dalam jamaah islam, meneguhkan kita dalam beramal sholeh.

Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran: 148).

Semoga Allah SWT menguatkan langkah kita dalam menapaki jalan dakwah yang terjal  ini dan mengumpulkan kita di surgaNya. Amin.

disarikan dari berbagai sumber

al-intima.com

dakwatuna.com

Perjalanan Beraroma Semerbak


Tulisan sebelumnya Ketika Kami Membangun Kebersamaan

Indahnya Kebersamaan Di Jalan Da’wah

Rasulullah saw bersabda: “tiga hal yang bisa menghalangi kedengkian dalam hati seorang muslim yaitu keikhlasan beramal karena Allah, menasihati pemimpin kaum muslimin dan berpegang pada jama’ah muslimin.” (HR.Turmudzi)

Dalam hadits ini, rasul mengatakan bahwa sikap berusaha untuk tetap berada bersama komunitas muslimin akan bisa membersihkan hati dari kedengkian dan kebencian. Dalam hidup ini , setiap orang mempunyai kelompok dan jama’ahnya sendiri-sendiri. Dan setiap kelompok mempunyai simbol dan syiarnya sendiri-sendiri. Tapi setiap orang,jika tidak diikat dan dihimpun oleh al haq maka ia akan tercerai berai.

 

Kewajiban Memang Lebih Banyak Dari Waktu

Dalam hukum islam betapa pentingnya penggunaan waktu dengan baik dan islam telah menekankan agar kita tidak tasahul (meremehkan)dan melanggar batas-batas penggunaan waktu. Perhatikanlah firman Allah swt:

“Sesungguhnya shalat itu atas kaum mukminin berupa kewajiban yang telah ditentukan waktunya.” (QS. An Nisaa :103)

Disinilah terdapat hikmah yang amat dalam mengapa Allah swt dan rasulullah saw menyebutkan secara khusus penekanan waktu diantara sekian banyak tuntutan kewajiban seorang muslimin. Kami pun menyadari bahwa kewajiban lebih banyak ketimbang waktu yang tersedia.

ü Memetik Buah Manfaat Dari Kelebihan Saudara

Salah satu hikmah paling berharga dari persentuhan intensif kami dengan sesama di jalan ini adalah kami semakin mampu memperoleh tenaga dari kelebihan masing-masing saudara. Di jalan ini , kami merasakan pantulan cermin yang begitu jelas dan kuat dari mereka. Kami bercermin dari keistimewaan itu, dan mencoba menghayati sabda rasulullah saw tentang pintu-pintu surga. Dalam hadits shahi yang disebutkan “surga mempunyai delapan pintu. Barangsiapa yang termasuk golongan ahli shalat ia akan dipanggil dari pintu shalat…” (Muttafaq ‘Alaih)

Atmosfir Keshalihan Dari Saudara Shalih

Disinilah kami bisa berjumpa dan berinteraksi secara baik dengan orang-orang shalih,baik mereka yang berusia muda maupun yang sudah sepuh. Pertemuan kami dengan mereka ternyata membawa pengaruh ruhaniyah yang begitu kuat. Kami bisa merasakan suplay energi yang besar saat kami bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Sebagaimana yunus bin ubaid yang mengakui kenikmatan besar ketika melihat al hasan al bashri rahimahullah. Ia mengatakan “seseorang bila melihat manfaat dari dirinya,meski orang itu tidak melihat al hasan al bashri beramal dan mengeluarkan ucapan apapun.” (Risalah Al Mustarsyidin,Abi Abdillah Al Haris Al Muhasibi, Hal. 60)

Amal Shalih Yang Tersembunyi

Dalam kebersamaan dan keseringan interaksi seperti itu kami mendapatkan pelajaran lain di jalan ini bahwa ketersembunyian terkadang tetap diperlukan. Karena kebersamaan dan kedekatan yang terus menerus bisa saja menghamparkan jebakan lain yang bisa menodai kebersamaan itu sendiri. Itulah yang dikatakan imam ibnul qayyim rahimahullah bahwa berkumpulnya orang-orang beriman tetap menyimpan marabahaya yang harus diwaspadai. Pertama tatkala dalam perkumpulan itu satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan. Kedua,ketika dalam perkumpulan itu pembicaraan dan pergaulan antar mereka menjadi kebutuhan. Ketiga,ketika pertemuan mereka menjadi keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan. (Al Fawa-Id,60)

Amal Shalih Yang Harus Tetap Ditampilkan

Jika ada seseorang terhalang melakukan kebaikan dengan alasan khawatir riya,maka keterhalangannya tidak bisa diterima karena beberapa alasan. Pertama amal-amal shalih yang diperintahkan Allah swt tidak boleh terhalang karena kekhawatiran riya. Kedua prinsip yang dipegang para salafushalih adalah penilaian atas yang lahir,tidak menghukumi yang tidak terlihat. Ketiga keraguan menampilkan dan melakukan amal-amal shalih karena riya,akan menambah tekanan bagi orang yang melakukan amal shalih. Keempat tuduhan dan anggapan bahwapelaku kebaikan adalah riya, adlah perilaku orang-orang munafiqin. Sikap ini dijelaskan secara nyata dalam firman Allah swt pada surat At Taubah ayat 79.

Membina Orang Lain Sama Dengan Membina Diri Sendiri

Ketika sudut pandang da cara berpikirnya sudah terpola dengan sudut pandang akidah islam. Itulah kebahagiaan yang kami rasakan di jalan ini. Ketika ini terjadi kami berdo’a agar Allah swt menjadikan amal ini sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw, “jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantara dirimu,maka itu lebih baikbagimu daripada engkau memiliki unta merah.” (HR. Bukhari) Tapi di sisi lain ternyata interaksi kami dalam jalan da’wah dan upaya kami mengkader serta membina para objek da’wah,mengharuskan kami untuk terus bercermin dan berhati-hati.

Berpikir Negatif Melemahkan Dan Menghancurkan Semangat

Sudut pandang yang melihat bahwa kondisi sudah sangat rusak atau seseorang sudah terlalu banyak melakukan kesalahan sehingga sulit untuk dirubah adalah sudut pandang yang melemahkan dan mematikan semangat da’wah itu sendiri. Rasulullah saw bersabda,” barangsiapa yang mengatakan bahwa manusia ini telah hancur,maka sebenarnya dia telah menghancurkan mereka. (HR. Muslim) Para salafushalih sangat jarang membicarakan kekurangan sahabat dan orang-orang yang mereka kenal. Tentu bukan karena mereka orang-orang suci yang tidak mempunyai catatan negatif,tapi seperti itulah salah satu wujud persaudaraan para salafushalih. Dan karena sikap mereka itulah yang memotivasi keyakinan kami serta mendorong semangat da’wah kami..

Dari Buku : Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami

Ketika Kami Membangun Kebersamaan


Tulisan sebelumnya Mengapa Berada di Jalan Da’wah?

Menjadi Batu Bata Dalam Bangunan Ini

Rasulullah SAW bersabda,”Perumpamaan aku dengan nabi sebelumku,ibarat seorang lelaki membuat sebuah bangunan yang diperindah dan dipercantik seluruhnya,kecuali satu tempat untuk batu bata di salah satu sudutnya. Ketika orang-orang mengelilinginya,mereka kagum dan berkata, seandainya ada batu bata diletakkan disitu. Maka akulah batu bata itu,dan aku adalah penutup para nabi.”

Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam Fath Al Bari,menyatakan hadits tersebut mengandung makna yang jelas bahwa Muhammad Rasulullah SAW adalah nabi terakhir dari sekian banyak para nabi sebelumnya. Demikianlah pada dasarnya da’wah ini adalah sebuah estafeta perjuangan. Sebagaimana da’wah yang diserukanpara nabi terdahulu ,dilanjutkan dan disempurnakan dengan da’wah yang diperjuangkan Rasulullah SAW. Menurut Dr. Said Ramadhan Al Buthy, penulis Fisqush Sirah,Dirasat Manhajiah Ilmiah Li Siraitil Mustafa Alaihish shalatu was salam,menguraikan bahwa hubungan antara da’wah nabi muhammad SAW dengan da’wah para nabi terdahulu,berlangsung di atas prinsip ta-kiid (penegasan) dan tatmiim (penyempurnaan). Da’wah para nabi berlandaskan dua asas yaitu akidah (akhlak) dan syariat.

Keberadaaan kami di jalan ini adalah karena kehendak kami untuk ambil bagian dalam bangunan besar ini. Maka sebagaimana proses membangun sebuah bangunan pada umumnya,tukang batu pasti akan memilah-milah batu bata mana yang akan ia tempatkan pada bangunannya. Tak semua batu bata diletakkan pada posisi yang tinggi dan tidak juga harus semuanya ada di bawah. Bahkan terkadang si tukang batu akan memotong batu bata tertentu jika dibutuhkan untuk menutup posisi batu bata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya.

“Sesungguhnya medan berbicara itu tidak semudah medan berkhayal. Medan berbuat tidak semudah berbicara. Medan jihad yang benar,tidak semudah medan jihad yang keliru. Terkadang sebagian besar orang mudah berangan-angan,namun tidak semua angan-angan yang ada dalam benak mampu diucapkan dengan lisan. Betapa banyak orang yang dapat berbicara ,namun sedikit sekali yang sanggup bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan dari yang sedikit itu banyak yang sanggup berbuat namun jarang yang mampu menghadapi rintangan-rintangan yang berat dalam berjihad…” (Hasan Al Bana).

Batu Bata yang Unik dan Khas

Sebagaimana para nabi dan salafus shalih memiliki kriteria istimewanya yang menghiasi perjalanan mereka dalam memperjuangkan agama Allah SWT. Lihatlah bagaimana kekhususan Rasulullah SAW,

“Aku diberi keistimewaan melalui kemenangan dengan tumbuhnya rasa takut di dalam diri musuh dalam jarak perjalanan satu bulan.”

“Aku diberi kekhususan dengan dijadikan untukku bumi sebagai masjid yang suci. Siapapun dari umatku yang memasuki waktu shalat hendaknya ia segera shalat.”

“Aku dibolehkan mengambil ghanimah (harta rampasan perang) dan tidak diperbolehkan kepada seorangpun sebelumku.”

Masih banyak kekhususan Rasulullah SAW,sebagaimana Abu Sa’id An Nisaburi Dalam kitab Syaraf Al Mushtafa.

Para sahabat rasul yang mulia juga memiliki kekhususan dan keunikan. Dalam sebuah sabdanya Rasulullah SAW mengatakan, “Abu Bakar Shiddiq ra adalah manusia paling penyayang. Umar Al Faruq ra adalah yang paling tegas dalam agama Allah. Utsman ra adalah yang paling tulus dalam sifat malunya. Ali Bin Abi Thalib ra adalah yang paling adil. Ubay Bin Ka’b adalah yang paling menguasai bacaan Al Qur’an. Mu’adz Bin Jabal yang paling mengetahui halal haram. Zaid Bin Tsabit yang paling mudah memberi pinjaman. Ketahuilah sesungguhnya setiap umat itu mempunyai delegasi kepercayaan. Dan orang yang paling dipercaya menjadi delegasi adalah Abu Ubaidah Bin Al Jarrah.” (Sunan Ibnu Majah, no. 154)

Untuk Menolong, Bukan Ditolong

 

Kami mempercayai bahwa kehidupan ini milik Allah SWT,milik kaum muslimin dan bukan milik kami sendiri. Semua yang digunakan untuk diri sendiri hilang tapi kebaikan yang diberikan kepada orang lain itulah yang abadi. Itulah yang dituliskan oleh Sayyid Quthb rahimahullah, “Innal laadzi ya ‘iisyu linafsihi, ya’iisyu shagiiran wa yamuutu shagiiran. Wal ladzii ya’iisyu li ummatihi ya’iisyu ‘azhiiman kabiiran wa laa yamtu abadan.” Sesungguhnya orang yang hidup untuk dirinya sendiri, ia akan hidup kecil dan mati sebagai orang kecil. Sedangkan orang yang hidup untuk umatnya, ia akan hidup mulia dan besar,serta tidak akan pernah mati.

Disini kami lebih merasakan makna kehidupan yang bersumber dari keberartian bagi orang lain melalui firman Allah SWT,

“Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah menolong kalian dan mengokohkan pijakan kaki kalian.” ( QS. Muhammad:9)

Di jalan inilah juga kami semakin terkesan degan hadits Rasulullah SAW,” Peliharalah (hak-hak) Allah, niscaya Ia akan memelihara engkau. Peliharalah (hak-hak) Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya mendukung kalian.”

Di jalan ini ,kami tidak melihat saudara yang kehidupannya terpuruk dan hancur akibat banyak mendermakan ilmu dan pikirannya untuk menda’wahkan masyarakat bila dilakukan dengan niat ikhlas dan kami juga tidak menyaksikan seseorang yang terlantar karena kesibukannya memperhatikan dan memikirkan da’wah. Akhirnya kami mengerti betapa banyak permasalahan yang secara rasio tidak mungkin terjadi karena pertologan dan bantuan Allah SWT.

 

Berjalan dengan Keseimbangan Ibadah dan Mu’amalah

Keseimbangan itu penting dalam praktik nilai-nilai islam. Sikap seimbang,dan proporsional adalah salah satu pelajaran dan pembinaan yang kami peroleh dari jalan da’wah. Jalan ini tidak memberatkan kami pada satu bidang atau satu bentuk amal shalih dengan mengabaikan bidang amal shalih yang lain. Kami tidak terjebak dalam ruang ubudiyah tanpa ruang mu’amalah. Karena pemahaman seperti ini, amal-amal kami tidak terpusat pada satu bentuk ibadah melainkan tersebar ke berbagai wilayah. Maka Allah SWT menyebutkan Rasulullah SAW dengan firman-Nya:

“Dan karena rahmat Tuhanmulah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Jika engkau bersifat keras hati niscaya mereka akan menjauhimu.” (QS. Ali Imran : 159)

Jalan da’wah menciptakan suasana yang mendukung kami memadukan amal-amal yang bersifat ubudiyah dan mu’amalah secara baik. Dan jaln da’wah telah membantu kami untuk menjadi manusia Muslim yang tidak hanya melakukan amal-amal ubudiyah secara baik,tapi juga mempunyai peran secara sosial yang baik juga.

Sebaik-baik Bekal adalah Taqwa

Ketika Allah SWT berfirman “wa tazawwaduu, fa inna khaira zaadit taqwa…”,firman Allah SWT ini memiliki makna tersirat bahwa manusia memiliki 2 bentuk perjalanan yaitu perjalanan di dunia dan perjalanan dari dunia. Perjalanan di dunia memerlukan bekal, baik berbentuk makanan,minuman,harta dan sebagainya. Sementara perjalanan dari dunia juga memerlukan bekal yaitu mengenal Allah,mencintai Allah,berpaling dari selain Allah. Dan semua perbekalan itu terhimpun dalam kata “taqwa”. Perbekalan perjalanan dari dunia lebih penting dari perbekalan perjalanan di dunia,karena beberapa hal dan terdapat dalam tafsir ar raazi, yaitu:

1. Perbekalan dalam perjalanan di dunia akan menyelamatkan kita dari penderitaan yang belum tentu terjadi,tapi perbekalan perjalanan dari dunia akan menyelamatkan kita dari penderitaan yang pasti terjadi.

2. Perbekalan dalam perjalanan dunia akan menyelamatkan kita dari kesulitan sementara,tapi perbekalan perjalanan dari dunia akan menyelamatkan kita dari kesulitan yang tiada habisnya.

3. Perbekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada kenikmatan dan pada saat yang sama mungkin saja kita juga mengalami rasa sakit,keletihan dan kepayahan. Sementara perbekalan perjalanan dari dunia akan membuat kita terlepas dari marabahaya dan terlindung dari kebinasaan sia-sia.

4. Perbekalan dalam perjalanan di dunia memiliki karakter bahwa kita akan melepaskan sesuatu dalam perjalanan,sedangkan perbekalan perjalanan dari dunia memiliki karakter kita akan lebih banyak menerima dan semakin dekat dengan tujuan.

5. Perbekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada kepuasan syahwat dan hawa nafsu. Sementara perbekalan untuk perjalan dari dunia akan semakin membawa kita pada kesucian dan kemuliaan. (Tafsir Ar Raazi, 5/168)

Bekal Taqwa, Termasuk Komitmen dengan Jama’ah Da’wah

Disini kami mengambil bekal-bekal ketaqwaan dari teman-teman di jalan da’wah. Kami mendapatkan hamparan jalan melakukan amal-amal shalih lebih bervariasi dan banyak di jaln ini. Karenanya,begitu penting makna keterikatan kami dengan jam’aah da’wah. Seperti perkataan ibnu abbas radhiallahu ‘anhu kepada al hanafi ; “yaa hanafi, al jama’ah.. al jama’ah… sesungguhnya kehancuran umat-umat terdahulu adalah karena mereka terpecah dari jama’ah. Tidaklah engkau mendengarkan firman Allah swt:

“dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah dan janganlah kalian terpecah belah.” (QS. Ali Imran : 103)

Kebersamaan Kami Terikat Lima Hal

Rasulullah SAW telah memberitahukan kami tentang tabi’at orang-orang yang mengikuti jalan perjuagannya. Tapi inilah jalan yang sudah kamipilih,untuk kami lalui dalam hidup dan menuju kebahagiaan hakiki di akhirat. Maka kami harus berusaha megikat diri dengan jalan ini degan saudara-saudara kami di jalan ini. Ada lima ikatan yang setidaknya mengharuskan kami tetap berada di sini:

1. Rabithatu al ‘aqidah (ikatan aqidah) yaitu tali ikatan aqidah islamiyah yang menyatukan kami dengan jalan ini dengan kesamaan imanlah yang menghimpun kami bersama saudara-saudara kami disini.

2. Rabithatu al fikrah (ikatan pemikiran) yaitu ikatan yang berdasarkan kesamaan cita-cita dan pemikiran dalam menyampaikan kami kepada keridhaan Allah swt.

3. Rabithatu al ukhuwwah (ikatan persaudaraan) yaitu ikatan persaudaraan karena Allah dengan kebersamaan kami berjalan dan memenuhi tugas di jalan ini.

4. Rabithatu at tanzhim (ikatan organisasi) yaitu ikatan yang merupakan perencanaan dan keteraturan yang mengatur langkah-langkah kami dalam jalan organisasi da’wah.

5. Rabithatu al ‘ahd (ikatan janji) yaitu di jalan da’wah ini kami mengikrarkan janji kepada Allah serta kepada saudara-saudara perjalanan untuk tetap seita dan mendukung perjuangan da’wah.

ü Afiliasi Formal (Intima Tanzhimi) Dan Afiliasi Non Formal (Intima Afawi)

Inilah yang kami pahami dari kaidah da’wah yang kami petik dari para guru da’wah ,”kam fiina wa laisa fiinaa, wa kam minnaa wa laisa minna.” Berapa banyak orang pada dasarnya berjuang untuk kepentingan da’wah yang juga akan kami perjuangkan akan tetapi ia tidak berada dalam institusi kami dan berapa banyak orang pula yang berada dalam institusi kami tapi tidak murni memperjuangkan kepentingan da’wah yang kami perjuangkan. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi kondisi ini yaitu bahwa afiliasi sejati seorang Muslim adalah afiliasinya kepada agama ini. Sebagaimana disebutkan Ustadz Sa’id Hawa rahimahullah, “afiliasi prinsip seorang muslim adalah afiliasinya kepada agama ini setelah runtuhnya khilafah islamiyah dan terpecahnya kaum muslimin ke berbagai wilayah maka afiliasi seorang muslim tidak bisa lagi disatukan pada satu khilafah tertentu. Namun seorang muslim harus menjadi bagian dari kelompok sebagaimana disebutkan aleh nash hadits, “akan selalu ada sekelompok dari umatku yang tetap menampilkan perjuangan terhadap al haq.” Menurut Sa’id Hawwa rahimahullah, afiliasi itulah yag menandakan seseorang telah menunaikan kewajiban zaman dan waktunya disaat ia hidup. (Jundullah Takhithan , 17, Sa’id Hawwa)

Yang Melemahkan Ikatan Dalam Amal Jama’i

Beramal jama’i memiliki seni interaksi sendiri yang harus dimiliki siapa saja yang ingin melakukannya. Ini bukan perkara mudah dan karenanya tidak semua orang bisa berada dalam bangunan amal jama’i untuk da’wah ilallah ini. Ada beberapa keadaan yang umumnya bisa melemahkan seseorang dalm beramal jama’i :

1. Masalah al fahm (pemahaman). Ada pendapat yang memandang bahwa amal jama’I termasuk ibadah nafilah yang boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan. Bahkan ada yang menganggap tidak sampai nafilah. Dalam situasi konflik kepentingan dan benturan ideologi yang mengelilingi umat islam saat ini,maka tak ada cara yang paling baik dilakukan adalah menolong agama Allah,kecuali amal jama’I yang teratur menjadi kewajiban bagi setiap muslim.

2. Ketakutan dan kekhawatiran. Maksudnya sikap meninggalkan amal jama’i bisa dilatarbelkangi adanya kekhawatiran amal-amal islam yang dilakukan secara terorganisir dan rapi

3. Motif ketertarikan terhadap individu,bukan kepada manhaj. Ada sebagian orang yang memandang para tokoh jama’ah da’wah dengan pandangan sangat ideal hingga tahap yang tidak logis. Memang,tidak sedikit orang yang bergabung dalam amal jama’i lantaran terpesona dengan sikap sejumlah tokonya dengan kekaguman yang luar biasa. Lalu bila orang yang diidolakan itu mengalami kelemahan ,ia menjadi sangat kecewa hingga meninggalkan amal da’wah.

Dalam hal ini tentu saja musharahah (keterusterangan) serta kejujuran menjadi penting bagi kami dan saudara-saudara kami. Sesungguhnya kepercayaan antara kami akan semakin terbentuk kuat dengan adanya keterusterangan ini.

Tsiqah Sebagai Maharnya

Ketsiqahan (kepercayaan/keyakinan) adalah analisir penting bagi kami karena tsiqah yang kuat membuat kami secara bersama-sama mampumembuahkan kerja-kerja da’wah yang baik. Mahar tsiqah di jalan ini harus ditunaikan bersama-sama antara kami dengan qa-id (pemimpin) kami di jalan ini. Perbedaannya, jika mahar dalam perkawinan hanya merupakan kewajiban sang suami sedangkan mahar tsiqah dalam jalan da’wah ini harus ditunaikan kedua belah pihak baik pemimpin maupun anggota. Guru kami hasan al banna rhimahullah mengistilahkannya dengan kalimat tsiqah mutabadilah atau tsiqah secara timbal balik antara anggota dan pemimpin dan sebaliknya. Prinsip yang kami pegang sesuai deang sabda rasulullah saw “berbahagialah seorang hamba yang memegang kendali kudanya, kusut masai rambutnya , dan berdebu kakinya. Jika ia bertugas dibelakang ia tetap di belakang. Ketika meminta izin ia tidak diberi izin dan ketika memberi bantuan tidak diperkenankan.” (HR. Bukhari)

ü Promosi Penempatan Di Jalan Da’wah

Kunci utama atau kriteria utama Rasulullah saw dalam memilih orang-orang yang dilimpahkan tanggungjawab pemimpin yaitu pertama menunaikan haknya (haqqiha) dan menjalankan tugasnya (adda al-ladzi alaihi fiiha). Pengalaman di jalan da’wah mengajarkan beberapa langkah strategis agar tercipta keselarasan antar kami dengan saudara-saudara di jalan ini:

1. Kami harus bertanya lebih dahulu kepada diri sendiri dan menjawab pertanyaan kami ini harus jujur. Kami harus merenungi dan mendapatkan secara jelas motif-motif itu dengan kejujuran .

2. Kami harus menunaikan tugas yang telah dibebankan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ketidakpuasan terhadap posisi tertentu membuat malas menunaikan tugas dan kewajiban.

3. Kami harus membiasakan untuk menunjukkan keahlian dan memperkenalkannya dengan baik kepada pemimpin dan saudara-saudara di jalan ini.

4. Terus terang kepada sesama saudara dan pimipinan tentang permasalahan yang ada kaitannya dengan da’wah.

5. Selalu berharap kepada Allah melalui do’a dalam shalat,sujud dan waktu-waktu mulia agar dikaruniakan amal shalih yang mendekatkan kita kepada-Nya.

Dari Buku : Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami

Bab II Ketika Kami Membangun Kebersamaan

Mengapa Berada di Jalan Da’wah?


Sesungguhnya jalan da’wah ini adalah kebutuhan kami sendiri. Rasa kebutuhan yang melebihi sekedar merasakan bahwa jalan ini merupakan kewajiban yang harus kami lakukan,karena kami melangkah di jalan ini merupakan bagian dari rasa syukur kami atas hidayah Allah SWT.
Jalan da’wah mengajarkan bahwa kami memang membutuhkan da’wah. Lalu kebersamaan dengan saudara-saudara di jalan ini semakin menegaskan bahwa kami hidup bersama di jalan ini agar berhasil dalam hidup dunia dan akhirat. Kami semakin mendalami pesan Rasulullah SAW,
“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk Allah,maka ia akan mendapat pahala yang sama seperti jumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka.” (HR. Muslim)

Tak ada makhluk Allah yang mendapat dukungan do’a seluruh makhluknya kecuali mereka yang mengupayakan perbaikan dan berda’wah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
“Sesungguhnya Allah,para malaikat,semut yang ada di dalam lubangnya,bahkan ikan yang ada di lautan akan berdo’a untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR.Tirmidzi)

Alasan lainnya adalah karena da’wah akan menjadi penghalang turunnya azab Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an,
“Dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kamu mempunyai alasan (pelepas tanggungjawab) kepada Tuhanmu,dan supaya mereka bertakwa.” (QS. Al-A’raf:164)
Allah SWT menjelaskan tiga kelompok manusia dalam masalah ini. Mereka adalah kelompok penyeru da’wah yang shalih,kelompok shalihin tapi tidak menyerukan da’wah dan orang-orang yang mengingkari da’wah. Kelompok orang-orang shalih yang telah berda’wah dan berupaya mewujudkan perbaikan,mengangkat alasan kepada Rabb mereka. Maka pada ayat selanjutnya Allah SWT berfirman:
“Maka tatkala mereka mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras,disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (QS. Al-A’raf:165)
Inilah yang disabdakan Raslullah SAW tatkala Zainab radhiallahu ‘anha bertanya kepadanya, “Apakah kita akan dihancurkan oleh Allah,sedangkan diantara kita ada orang-orang shalih?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya,jika keburukan itu sudah dominan.” (Muttafaq’alaih). Ada pula hadits rasulullah SAW yang lainnya,Abu Bakar radhiallahu ‘anhu mengatakan, ”Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran dan mereka tidak merubahnya dikhawatirkan mereka akan diratakan oleh Allah SWT dengan azab-Nya.” (HR.Ahmad dan Abu Daud)
Teman-teman Pilihan
Ar rafiq qabla thariiq memilih teman harus didahulukan sebelum memulai perjalanan. Itulah sebabnya para ulama juga turut menjelaskan bahwa keberadaan seorang teman menjadi salah satu diantara adab orang yang ingin menempuh perjalanan. Seperi dikatakan Imam Al Ghazali:”Hendaknya orang yang ingin berpergian memilih teman. Jangan ia keluar seorang diri. Pilih teman dahulu,barulah tempuh perjalanan.Hendaknya teman yang menemaninya dalam perjalanan  itu adalah orang yang bisa membantunya dalm menjalankan prinsip agama,mengingatkannya tatkala lupa,membantu dan mendorongnya ketika ia tersadar. Sesungguhnya orang itu tergantung agama temannya. Dan seseorang tidak dikenal kecuali dengan melihat siapa temannya..” (Ihya’ Ulumiddin, 2/202)
Apa yang dikatakan Imam Al Ghazali rahimahullah itu sebenarnya,mengambil intisari hadits Rasulullah SAW: “Andai manusia mengetahui apa yang akan dialami seseorang jika ia seorang diri,niscaya tak ada orang yang menempuh perjalanan malam seorang diri.”(Fath Al Bary,6/138)
Perjalanan dalam da’wah ini juga bisa dikiaskan dengan perjalanan dalm urusan lain yang memerlukan syarat-syaratnya sendiri. Dan salah satu syarat perjalanan itu adalah Ar rafiiq ash shaalih (teman yang baik).
 Kami dan Amal Jama’i
Amal Jama’i artinya merupakan suatu pekerjaan secara berjama’ah,tidak sendiri-sendiri,saling membantu untuk mencapai tujuan tertentu. Pekerjaan yang dimaksud adalah berda’wah untuk mewujudkan cita-cita Islam. Pemahaman ini berdasarkan banyak hal prinsipil sekali:
Pertama,dalam kitab Al Hall al Islamy,Faridhah wa Dharurah,DR.Yusuf Al Qaradhawi mengatakan, “Amal jama’I itu harus dilakukan. Karena ia termasuk di dalam perintah yang diwajibkan agama dan tuntutan realitas sekaligus. Sedangkan amal jama’I termasuk salah satu bentuk amal kebaikan dan ketaqwaan yang palig khusus,paling prinsipil dan paling penting.” Al Qur’anul Karim menyebutkan,
“Dan hendaklah (ada) diantara kalian umat yang menyerukan pada kebaikan, memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari yangmungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Ali Imran:104)
Dalam tafsir AlManar disebutkan,”yang benar adalah,terminology umat lebih spesifik daripada terminology jama’ah. Ummat mewakili keterpaduan berbagai kelompok yang memiliki anggoat,dimana anggotanya mempunyai ikatan yang menghimpun mereka dan kesatuan yang menyatukan mereka seperti anggota tubuh seseorang.”
Kedua,kaidah syar’iyah yang berbunyi,maa laayatimmu al waajib illa bihi fa huwa waajib. Bahwa sesuatu kewajiban yang tidak sempurna kewajiban tersebut kecuali dengan sesuatu itu,maka sesuatu itu hukumnya wajib.
Ketiga,realitas yang kami lihat sendiri bahwa manusia cenderung akan menjadilemah ketika bekerja seorang diri. Sebaliknya akan menjadi kuat dan berdaya ketika ia bersama-sama dengan yang lain.
Keempat, realitas pihak-pihak yang melakukan tekanan dan pertentangan dengan Islam,sipapun namanya dan apapun kelompoknya,semuanya melakukan aksi secara berkelompok,berpartai,berorganisasi. Tidak masuk akal jikakami harus menghadapi kekuatan structural yang menekan Islam itu dengan kekuatan orang per orang.itu artinya kami harus mempunyai struktur da’wah Islam yang kuat dan solid untuk menghadapi tekanan tadi. Itulah yang dikatakan Abu Bakar Shiddiq ra kepada Khalid bin Walid ra, “ Haarib hum bi mitsli maa yuhaaribuunaka bihi. As saifu bi as saif. Waa r rumh bir rumh…” Perangi mereka seperti apa yang mereka lakukan ketika memerangimu. Pedang dilawan dengan pedang. Tombak dilawan dengan tombak.”
Sampai disini,kamipun mendapatkan firman Allah SWT yang sangat sesuai untuk menjadi pijakan beramal jama’i.
“Adapun orang-orang kafir,sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu,niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS.Al Anfal:73)

Itulah sebabnya,tandzhim atau organisasi da’wah itu sangat diperlukan. Bekerja untuk islam mutlak memerlukan sebuah organisasi,perlu adanya pimpinan yang bertanggungjawab,membutuhkan adanya pasukan anggota yang taat,harus memiliki peraturan mendasar yang mengikat dan menata hubungan anatara pimipinan dan anggota,harus ada yang membatasi tanggung jawab dan kewajiban,menjelaskan tujuan dan sarana serta semua yang diperlukan oleh suatu aktifitas da’wah.

Perjalanan ini Mutlak Memerlukan Pemimpin

Di antara syarat perjalanan adalah keharusan adanya pemimpin. Pemimpin kami adalah orang yang dianggap memiliki kelebihan dalam permasalahan yang sangat dibutuhkan dalam menempuh perjalanan. Dan dalam da’wah,para pemimpin adalah mereka yang memiliki keistimewaan dalam akhlak,ukhuwwah,idariyah (manajemen),dan wawasan ilmunya. Sehingga Imam Al Ghazali juga mengatakan, ”Hendaknya suatu perjalanan dipimpin oleh orang yang paling baik akhlaknya,paling lembut dengan teman-temannya,paling mudah terketuk hatinya dan paling mungkin dimintakan persetujuannya untuk urusan penting. Seorang pemimpin dibutuhkan karena pandangannya yang beragam untuk menentukan arah perjalanan dan kemaslahatan perjalanan. Tidak ada keteraturan tanpa kesatuan pengaturan. Tidak ada kerusakan kecuali karena banyaknya pengaturan. Alam ini menjadi teratur karena Pengatur alam semesta ini adalah satu.” (Ihya Ulumiddin 2/202)
“Jika di alam ini ada banyak tuhan, selain Allah, niscaya akan rusaklah.” (QS. Al Anbiya:22)
Jalan ini, Miniatur Perjalanan Sesungguhnya
Jiwa toleran adalah salah satu pelajaran berharga yang kami petik dari jalan da’wah. Perhimpunan dan perkumpulan kami setiap pecan dalam waktu bertahun-tahun menyebabkan kami mengalami berbagai situasi dimana kami berlatih bersikap. Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW: ”Jika ada seseorang yang mencacimu dan menghinamu dengan sesuatu yang ia ketahui ada pada dirimu.,maka janganlah engkau kembali melakukan hal yang sama lantaran ada sesuatu yang engkau ketahui ada pada dirinya. Karena dengan demikian engkau akan mendapatkan pahala. Dan ia mendapatkan dosanya. Dan janganlah engkau mencaci seseorangpun.” (Al Ahaadits Shahihah,Al Albani no. 770)

Maka dijalan inilah, kami berulang menempa diri untuk bisa mengarahkan perselisihan tidak berakibat pada perpecahan. Kami belajar untuk bisa menerapkan wasiat Rasulullah SAW dalam sebuah hadits shahih :” Dibuka pintu-pintu surga setiap hari Senin dan kamis. Ketika itu diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu. Kecuali seseorang yang antara dirinya dengan saudaranya ada perselisihan. Dikatakan kepada orang tersebut: “Tunda dulu kedua orang ini sampai mereka berdamai.” (HR. Muslim)
Atau sabda Rasulullah SAW, “Tidak halal bagi seorang muslim meninggalkan saudaranya diatas tiga malam. Ketika bertemu,mereka saling menghindar. Dan yang paling baik dari kedua orang itu adalah yang memulai dengan salam.” (Shahih Al Jami’ Ash Shagir,7536).

Tiga Karakter Penempuh Perjalanan
Ibnul Qayyim Al Jauziah rahimahullah menyebutkan bahwa di jalan ini, setidaknya ada tiga kelompok manusia ,sebagaimana juga disebutkan dalam Al Qur’an. Mereka adalah kelompok zaalimun li nafsihi,kelompok muqtashid,dan kelompok saabiqun bil khairaat.

Kelompok zaalimun li nafsihi,adalah orang-orang yang lalai dalam mempersiapkan bekal perjalanan. Mereka enggan untuk mengumpulkan apa-apa yang bisa membuatnya sampai ke tujuan.
Kelompok muqtashid,adalah mereka mengambil bekal secukupnya saja untuk bisa sampai ke tujuan perjalanan. Mereka tidak memperhitungkan bekal apa yang harus dimiliki dan mereka bawa jika ternyata mereka harus menghadapi situasi tertentu,yang mrnyulitkan perjalanannya. Jika mereka sampai ke ujung perjalanan ini,mereka sebenarnya tetap merugi karena luput dari perniagaan yang bisa menguntungkan mereka karena barang dagangan mereka secukupnya saja.
Kelompok saabiqun bil khairaat yakni orang-orang yang obsesinya adalah untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Mereka membawa perbekalan dan barang dagangan lebih dari cukup karena mereka tahu hal itu akan memberi keuntungan besar baginya. Selain itu mereka juga tahu bahwa ditengah perjalanan ini,sangat mungkin mereka mengalami situasi  yang membutuhkan perbekalan tambahan. Di sisi lain mereka juga memandang kerugian yang sangat besar jika ia menyimpan sesuatu dari apa yang dimilikinya dan tidak dijual. ( Thariqul Hijratain, 236)

Kami dan saudara-saudara kami di jalan da’wah berusaha memiliki karakter kelompok kedua dan ketiga. Kami harus memiliki dan mengambil perbekalan yang mencukupi hingga perjalanan ini usai. Dan sebaik-baik perbekalan itu adalah: taqwa. Barangsiapa diantara kita yang minim ketaqwaannya,maka ia akan semakin melemahdan tidak mampu mengikuti perjalanan ini. Fatazawwaduu.. fa inna khaira zaadi ttaqwaa…

 

 

Dari Buku : Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami

Bab 1 Dari Sini Kami Memulai