Tag Archive | problem

Tak ada dendam diantara kita.


*Tak ada dendam diantara kita.*

Suatu hari, datanglah seorang mahasiswi IKIP yang memperkenalkan dirinya sebagai putri sulung dari Pramoedya Ananta Toer, menghadap Buya Hamka.

“Oh, anaknya Pram. Apa kabar bapakmu sekarang?” tanya Hamka ramah.

Anak perempuan Pram tersebut mengajak laki-laki seorang keturunan Cina.

Kepada Hamka, si perempuan kemudian memperkenalkan diri. Namanya Astuti. Sedangkan yang laki-laki bernama Daniel Setiawan.

Astuti menemani Daniel menemui Buya Hamka untuk masuk Islam, sekaligus mempelajari agama Islam. Daniel ingin menjadi seorang mualaf.

Menurut Astuti, selama ini, Daniel adalah seorang non muslim. Ayahnya, Pramoedya, tidak setuju jika anak perempuannya yang muslimah menikah dengan laki-laki yang berbeda kultur dan agama.

Setelah Astuti mengutarakan maksud kedatangannya, serta bercerita latar belakang hubungannya dengan Daniel, tanpa ragu sedikit pun, Hamka meluluskan permohonan keduanya.

Daniel Setiawan, calon menantu Pramoedya Ananta Toer, langsung dibimbing oleh Hamka membaca dua kalimat syahadat.

Hamka lalu menganjurkan Daniel untuk berkhitan dan menjadwalkan untuk memulai belajar agama Islam dengan Hamka. Dalam pertemuan dengan putri sulung Pramoedya dan calon menantunya itu,

Hamka sama sekali tidak menyinggung bagaimana sikap Pramoedya terhadapnya, beberapa tahun sebelumnya yang pernah menuduhnya maling. Melalui lembar Lentera di Harian Bintang Timoer, Pram menuduh Hamka plagiat.

Benar-benar seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara keduanya.

Tanpa dendam, Hamka justru memuji karya Pram, antara lain Keluarga Gerilya dan Subuh. Anak perempuan Pram itu akan menikah dan meminta bantuan Hamka untuk meng-islam-kan calon suaminya.

Permohonan ini disambut gembira oleh Hamka. Astuti, anak Pramoedya itu, lantas tak bisa menahan ledakan tangisnya karena sikap manis dari orang yang pernah “diganyang” ayahnya.

Alasan Pram mengutus calon menantunya menemui Hamka cukup unik.

“Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki yang seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka,” ujar Pram.

Kalian boleh berkesimpulan.

Secara tidak langsung, dengan Pramoedya mengirim calon menantunya ditemani anak perempuannya kepada Hamka, adalah bentuk permintaan maaf atas sikapnya yang telah memperlakukan Hamka selama ini.

Hamka juga telah memaafkan Pramoedya dengan bersedia membimbing dan memberi pelajaran agama Islam kepada sang calon menantunya.

***

Tanggal 16 Juni 1970, Buya dihubungi Kafrawi, Sekjen Departemen Agama. Pagi-pagi, sekjen ini datang ke rumah Buya. Kafrawi membawa pesan dari keluarga mantan Presiden Soekarno untuk Buya.

Pesan itu pesan terakhir dari Soekarno. Begini pesannya:

“Bila aku mati kelak. Minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Tanpa ragu, pesan yang dibawa utusan itu dilaksanakan oleh Hamka.

Hamka tiba di Wisma Yaso bersama penjemputnya. Di wisma itu telah banvak pelayat berdatangan. Penjagaan pun sangat kuat. Shalat jenazah baru akan dimulai menunggu kehadiran Buya.

Melihat jenazah Soekarno, sahabatnya di masa muda, air matanya mengalir. Ia kecup sang Proklamator, dengan doa. Ia mohonkan ampun atas dosa-dosa sang mantan penguasa. Dosa orang yang memasukkannya ke penjara dan disiksa setiap hari.

Di hadapan jasad Soekarno, dengan takbir, ia mulai memimpin sholat jenazah. Untuk memenuhi keinginan terakhir Soekarno.

Mungkin, ini isyarat permohonan maaf Soekarno pada Hamka. Isak tangis haru, terdengar di sekeliling.

Usai Shalat, selesai berdoa, ada yang bertanya kepada Buya.

”Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?”

”Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik,” jelas Buya tanpa ragu.

Buya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakitinya. Bagi Buya, dendam itu termasuk dosa.

Selama dua tahun empat bulan ia ditahan. Ia merasa semua itu anugerah dari Allah kepadanya.

Dengan masuk penjara, ia dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Quran 30 Juz Al Azhar yang monumental itu. Bila bukan dalam tahanan, ia tidak mungkin ada waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikannya.

Berkat kekejian PKI dan tangan besi Soekarno kepada Buya, kalian bisa membaca tafsir Al-Azhar dengan sempurna.

Orang-orang besar memang memiliki cara mereka sendiri untuk meminta maaf kepada mereka yang pernah dizalimi. Demikian sebaliknya yang pernah terdzalimi, mereka punya hati seluas samudera untuk memaafkan. (*)

—-

Catatan *Anab Afifi* dalam bukunya *AYAT-AYAT YANG DISEMBELIH*

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================
==============================

Kisah tentang Ridha


Di suatu malam seorang ayah membacakan cerita untuk anak perempuannya.
Setelah membacakan cerita, si ayah bertanya kepada anaknya : “Nak, apa kamu sayang Ayah?”
Si anak menjawab, “Tentu saja aku sayang Ayah”
Ayahnya tersenyum lalu bertanya, “Kalau begitu, boleh Ayah minta kalungmu?”
Lalu si anak menjawab, “Ayah, aku sayang Ayah, tapi aku juga sayang sama kalung ini”
Lalu Ayahnya berkata, “Ya sudah tidak apa-apa, Ayah hanya bertanya saja”
Si ayah lalu pergi.
Di malam berikutnya selama 3 hari berturut-turut, ayahnya menanyakan hal yang sama & si anak pun menjawab degnna kata-kata yang sama.
Si anak berpikir sambil memegang kalung imitasi kesayangannya itu, “Kenapa tiba-tiba Ayah mau kalung ini? Ini kalung yang paling aku sayangi, kalung ini pun pemberian Ayah juga”
Malam berikutnya, sang Ayah menanyakan hal yang sama, lalu si anak berkata, “Ayah, Ayah tahu aku sayang sama Ayah & juga kalung ini. Tapi kalau Ayah mau kalung ini, ya sudah aku berikan ke Ayah”
Si anak memberikan kalungnya & Ayahnya mengambilnya dengan tangan kiri, lalu Ayahnya memasukkan tangan kanannya ke saku kanan & mengambil kalung berbentuk sama namun emasnya asli.
Ayahnya mengenakannya pada leher anaknya, “Anakku, sebetulnya kalung ini sudah ada di saku Ayah sejak pertama kali Ayah meminta kalungmu, tapi Ayah menunggu kamu memberikan sendiri kalungmu itu & Ayah gantikan dengan yang lebih baik & indah”
Si anak menangis terharu.
Seringkali kita merasa Allah tidak adil. Dia yang memberikan tapi kenapa Dia juga yang mengambilnya, kadang kita selalu sakit hati, sedih dan kecewa, tapi tidakkah kita tahu, di saat Allah mengambil sesuatu yang berharga dari kita, ternyata Allah punya rencana lain. Dia mau menggantikannya dengan yang LEBIH BAIK lagi dari apa yang sudah kita miliki sekarang.
Jadi,
* Terimalah apapun yang kita alami (bersabar),
* Berilah apa yang harus kita berikan (beramal),
* Kembalikanlah apa yang diminta oleh Allah (ikhlas), dan
* Tetaplah bersyukur, maka rejekimu akan dilipat gandakan
smoga kita slalu merasa bersyukur dg apa yg sdh kita miliki

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas
SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

Cara Sehat Paling Mudah


Jika anda membaca judul diatas, mungkin sudah mulai bertanya tanya, bagaimana cara sehat paling mudah dan pastinya bisa terbebas dari berbagai penyakit? maunya gitu khan?

Pastilah…saya juga maunya begitu, namun apa bener tu bisa kayak gitu, sehat dengan mudah?

Sebenarnya sederhana kok, saya sering sampaikan dalam berbagai acara acara saya bagaimana cara sehatnya Rasululah, kenapa Rasulullah? karena beliaulah satu satunya manusia di muka bumi ini yang sehat jiwa dan raganya dan tidak sakit sakit seperti banyaknya manusia modern saat ini.

Hmm…ada apa nih dengan manusia modern? ada yang ga benar disana? jika saya membahasnya dari sisi kesehatan,manusia modern umumnya makannnya juga makan manusia modern, apa itu?  makanan olahan yang berlimpah yang dikonsumsi setiap saat, makanan beku, dan makanan yang banyak sekali mengandung berbagai macam perisa, penyedap dan lainnya.

 

Tidak boleh dikonsumsi? jelas tidak la, bisa bisa saya dikejar oleh produsen produsen makanan tersebut, namun cara hidup sehat ala Rasululah yang juga saya sebutkan dalam buku Jurus Sehat Rasululah karangan saya, sebenarnya sederhana kok, bisa anda kerjakan setiap saat, asal punya keinginan.

Beberapa hal berikut yang bisa kita contoh antara lain, saya nggak bisa sebutkan semua lo, karena terlalu banyak…namun mudah mudahan ini dapat membantu anda hidup jauh lebih baik dan lebih sehat , mau khan?

1. Perbaiki seluruh amal ibadah kita, mulai dari sholat, shalat sebagaiman shalatnya Rasululah, shalatlah tepat waktu, gerakan shalat, perbaikilah semua yang berhubungan dengan shalat, termasuk wudhu ya…

2. Tidurlah seperti tidur Rasululah, Rasulullah tidur selepas isya, untuk persiapan bangun tengah malam, jadi tidur beliau pun bagian dari ibadah khan ?

3. Mulailah untuk lebih banyak tersenyum, usahakan setiap bertemu dengan orang lain, kita menunjukan senyum yang terbaik, wajah yang menyenangkan, bahkan bersalamanpun coba deh salaman ala Rasulullah, tahu khan ?

4. Coba jadwalkan untuk silaturahim ke keluarga atau kerabat, baik dari orang tua kita, saudara, termasuk mengunjungi ulama, ke majelis ilmu mereka.

5. Mengajilah atau bacalah Aquran setiap hari, kalau 1 juz bisa ya alhamdulilah, namun jangan pernah seharipun dalam hidup kita tidak berkomunikasi dengan Allah via Alquran.

6. Bacalah wirid pagi dan petang setiap hari, karena itu akan jadi kekebalan iman kita.

7. Jangan biarkan lisan kita hanya diam tiada mengucap apa apa, usahakan setiap saat lisan kita basah dengan zikrullah.

8. Jangan pernah melewatkan setiap hari dalam kehidupan kita tanpa bersedekah, usahakan tangan anda sendiri yang menyerahkan bantuan atau sedekah tersebut.

masih banyakkkkk..saya nggak bisa sampein semua, namun beberapa sunnah diatas mulai anda kerjakan, insha Allah kesehatan anda akan jauh lebih baik, ada hubungannya? jelas ada, kata siapa? Kata Rasulullah..ada keberkahan dari apa yang saya sampaikan diatas, itu prinsipnya, terusss…yang bener bener berhubungan dengan fisik apa?

Gampang kok…saya sarankan mulailah makan dan minum ala Rasulullah,apa clue nya?

Rasulullah makan dan minumnya sangat sederhana, Sahabat beliau pun makan dan minum dengan sederhana, dan yang mereka makan saat itu juga makanan dan minuman yang masih banyak dalam keadaan belum banyak diolah, apalagi menggunakan berbagai bahan tambahan pangan yang berasal dari bahan kimia.

Minumlah lebih sering daripada makan, minum air putih ya, bukan air berwarna, minum sesering mungkin, jangan menunggu haus, namun, untuk makan, usahakan jangan terlalu sering makan, namun makanlah khususnya jika kita benar benar dalam keadaan lapar, dan jangan tidur dalam keadaan kenyang.

cukup? masih banyak sih…nanti kita sambung lagi…

Salam Sehat ala Rosul….

 

Zaidul Akbar

Inspirator Kesehatan Islam

Cara Sehat Paling Mudah

PROBLEM DAKWAH: INTERNAL SEBELUM EKSTERNAL


Yang dimaksud dengan istilah “Problem Dakwah” disini ialah: Sejumlah problem, permasalahan, hambatan, rintangan, tantangan, ujian dan cobaan yang ada, terjadi dan dihadapi, oleh para pendakwah atau kelompok dakwah Islam, dan yang menjadi hambatan-hambatan serta hadangan-hadangan serius di jalan dakwah mereka menuju tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

Banyak Bersyukurlah Walau Banyak Rintangan
Problem-problem di jalan perjuangan dakwah, mencakup dan meliputi dua macam. Pertama, problem-problem dakwah internal (مشكلات الدعوة الداخلية), yakni problem-problem, permasalahan-permasalahan, dan hambatan-hambatan dakwah yang bersumber dan berasal dari lingkup internal kaum muslimin sendiri. Dan kedua, problem-problem dakwah eksternal (مشكلات الدعوة الخارجية), yakni problem-problem, hambatan-hambatan, dan tantangan-tantangan dakwah yang bersumber dan berasal dari berbagai kalangan dan pihak ummat manusia di luar lingkup kaum muslimin.

Adanya problem, permasalahan, hambatan, tantangan, ujian, cobaan, dan semacamnya, baik internal maupun eksternal, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tabiat jalan perjuangan dakwah. Karena itu memang telah menjadi salah satu sunnatullah bagi setiap dakwah kebenaran. Bahkan juga merupakan sunnatullah dalam kehidupan di dunia ini secara umum. Sehingga sepanjang sejarah, setiap pembawa risalah dakwah kebenaran, baik dari kalangan para nabi dan rasul ‘alaihimus-salam, maupun dari kalangan para pengikut dan pelanjut perjuangan mereka, pastilah selalu menemui dan menghadapi bermacam ragam problem, persoalan, hambatan, tantangan, ujian dan cobaan, yang menghambat dan menghadang jalan perjuangan dakwah mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Waraqah bin Naufal kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam setelah Beliau menerima wahyu bertama: ”…tiada seorangpun yang datang membawa risalah seperti yang engkau bawa sekarang, kecuali pasti dimusuhi..!” (HR. Al-Bukhari).

Oleh karena itu, saat ditanyakan kepada seorang ulama salaf: Tidakkah beragam ujian dan cobaan memalingkan Anda dari jalan (Islam dan dakwah)? Beliaupun menjawab: Demi Allah, seandainya bukan karena ujian/cobaan, niscaya aku justru ragu terhadap jalan ini (jalan Islam dan dakwah yang kutempuh ini). Dan oleh karena itu pula, ada seorang tokoh dakwah kontemporer yang sampai menyatakan: Jika engkau berdakwah, dan jalanmu selalu mulus tanpa hambatan, rintangan, ujian, dan cobaan, maka segeralah menoleh ke belakang untuk memastikan, jangan-jangan ternyata bukanlah jalan dakwah yang sedang engkau tempuh dan lalui!
Karena kaidahnya, tiada jalan dakwah tanpa mihnah (ujian dan cobaan).

Maka, menyadari, mengakui, mengenali, memahami, dan peduli terhadap problem-problem di jalan dakwah dengan kedua macam dan sisinya (internal dan eksternal), adalah merupakan bagian tak terpisahkan dari cakupan dan tuntutan fikih dakwah yang sangat penting sekali. Seperti seseorang yang akan atau sedang menempuh sebuah perjalanan menuju suatu tujuan, dimana ia harus mengenali dengan cermat dan mengantisipasi dengan baik. segala problem, persoalan, hambatan, tantangan, ujian, cobaan dan semacamnya, yang mungkin terjadi, ditemui dan dihadapi dalam perjalanannya itu. Karena jika tidak, maka perjalanannya akan terhambat atau bahkan terhadang sama sekali, sehingga ia tidak akan sampai ke tujuan. Maka demikian pula dengan seorang dai atau sebuah kelompok dakwah, yang sedang menempuh perjalanan dakwah yang sangat panjang. Merekapun wajib menyadari, mengakui, mengenali, memahami dan menguasai secara memadai, setiap problem, permasalahan, hambatan, tantangan, ujian, cobaan dan semacamnya, yang mungkin terjadi dan bisa menghambat, menghalangi dan menghadangnya di jalan dakwah. Tujuannya adalah agar ia bisa menyiapkan diri sejak awal, mengantisipasi secara dini, dan selalu berupaya keras untuk mencari solusi-solusi yang diperlukan. Karena jika tidak, maka akan sulitlah baginya untuk bisa mencapai tujuan-tujuan besar dakwah yang dicita-citakannya.

Pada prinsip dan dasarnya, kedua macam dan jenis problem dakwah di atas, yakni internal dan eksternal, haruslah sama-sama mendapat perhatian dari para pegiat, aktivis dan pergerakan dakwah. Namun demikian, fokus dan prioritas utama haruslah tetap lebih diarahkan kepada perhatian dan upaya-upaya penanganan, penyelesaian dan pencarian solusi bagi problem-problem internal daripada problem-problem eksternal. Karena penyelesaian problem internal itu sendiri sebenarnya merupakan bagian langkah terpenting dari penanganan dan penyelesaian problem eksternal. Disamping itu, dan bahkan sebelum itu, arahan Al-Qur’an sendiri sangat menekankan hal itu. Perhatikanlah, misalnya, firman-firman Allah (yang artinya) berikut ini:

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali ‘Imraan: 165).
“Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja keburukan yang menimpamu, maka itu adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi” (QS. An-Nisaa’ [4]: 79).
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syuuraa [42]: 30).

Problem-problem, hambatan-hambatan dan tantangan-tantangan dakwah yang bersifat eksternal, tentu saja banyak dan beragam sekali. Namun secara umum bisa kita ilustrasikan dan ringkaskan dalam empat poin di bawah ini:
1. Berupa makar yang terus-menerus dan bertubi-tubi dari musuh-musuh Islam dan kaum muslimin (lihat: QS.Al-Anfaal [8]: 30; QS. Ar-Ra’d [13]: 42; QS. Ibrahim [14]: 46; QS. Saba’ [34]: 33; QS. Ath-Thaariq [86]: 15-17; Dan lain-lain).
2. Kerja sama mereka dalam membuat dan melaksanakan konspirasi terhadap Islam, dakwah Islam dan Ummat Islam (QS. Al-Anfaal [8]: 73; QS. An-Naml [27]: 48-53).
3. Keragaman cara dan strategi mereka dalam upaya-upaya menghambat, menghadang dan menghentikan setiap perjalanan serta laju dakwah Islam, dari kelompok, organisasi, pergerakan dan jamaah manapun.
4. Kekuatan, kecanggihan dan kemodernan sarana serta prasarana yang mereka pakai dan gunakan dalam membuat dan melaksanakan makar atau konspirasi mereka terhadap Islam, dakwahnya, pergerakannya dan kaum muslimin.

Dan untuk menghadapi semua problem, tantangan dan makar dari luar tersebut, Al-Qur’an memberikan dua kata kunci utama, yaitu: taqwa dan sabar. Meskipun di tataran aplikasi dan implementasinya, tentu saja dibutuhkan penjabaran yang panjang. Perhatikan misalnya firman-firman Allah (yang artinya) berikut ini:

“Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan mendatangkan kemadharatan sedikitpun kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan” (QS. Ali ‘Imraan: 120).
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab (Ahli Kitab) sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan” (QS. Ali ‘Imraan [3]: 186).
Dan setelah memaparkan berbagai ujian dan cobaan yang dialami Nabi Yusuf ‘alaihis-salaam, Allah-pun berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf [12]: 90).

Sementara itu, problem-problem internal tentu juga sangat banyak, beragam dan bertingkat-tingkat, yang bisa kita klasifikasikan ke dalam lima kelompok dan kategori. Pertama, problem-problem, permasalahan-permasalahan, dan hambatan-hambatan dakwah internal yang bersumber dan berasal dari kondisi internal diri setiap dai sendiri. Kedua, yang bersumber dan berasal dari kondisi internal setiap kelompok, golongan, organisasi, jamaah, dan pergerakan dakwah yang ada di tubuh kaum muslimin. Ketiga, yang bersumber dan berasal dari kondisi internal kalangan para dai dan kelompok dakwah secara umum. Keempat, yang bersumber dan berasal dari kondisi internal ummat Islam dalam lingkup ”rumah besar” Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Dan kelima, yang bersumber dan berasal dari kondisi internal kaum muslimin secara keseluruhan.

Dan yang harus dilakukan terhadap problem-problem internal tersebut secara umum meliputi minimal tiga langkah. Pertama, dengan menyadari, mengakui, mengenali dan memahami setiap problem internal dengan benar, tepat dan proporsional. Kedua, mengklasifikasikannya sesuai dengan kategori dan peringkat serta tingkat prioritasnya. Ketiga, mencarikan solusi, penanganan dan penyelesaian dengan mendahulukan dan mengutamakan yang lebih penting dan urgen berdasarkan urutan tingkat prioritasnya.
Andaipun tidak atau belum mampu menyelesaikan suatu problem dan permasalahan tertentu, namun setidaknya kita wajib memiliki kesadaran, pengakuan, pemahaman dan persepsi yang baik serta jelas, disamping penyikapan yang benar, tepat dan proporsional terhadapnya. Jadi minimal tidak bingung, lebih-lebih jangan sampai malah salah persepsi, salah sikap, salah langkah dan salah arah!

 

Ahmad Mudzoffar Jufri Full ·