Tag Archive | rasa cinta

Ihsan dalam Beramal


Ihsan dalam Beramal

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Setiap muslim senantiasa dituntut berbuat ihsan dalam segala sesuatu. Rasulullah saw pernah bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu”. (HR. Muslim).

Tidak dapat tidak, semua aktifitas seseorang muslim dalam kehidupannya harus tercelup dalam nuansa ihsan. Baik dalam aktifitas ibadah mahdhah (ritual) seperti shalat, do’a, dzikir, tilawatil Qur’an, hajji; juga dalam ibadah-ibadah dalam arti yang umum, seperti berdagang, menuntut ilmu, bertetangga dan bekerja. Semuanya harus diwarnai sikap ihsan.

Dalam syariat Islam, ihsan memiliki dua makna, yaitu:

Kebersamaan dengan Allah swt.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw ketika ditanya Malaikat Jibril tentang makna ihsan. Beliau memberikan pengertian ihsan: “Engkau mengabdi kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia. Kalau engkau tidak dapat melihat Dia, maka sesungguhnya Dia melihat kamu”. (HR. Muslim).

Dari sabda Rasulullah saw tersebut, diharapkan dalam diri seorang muslim tumbuh sikap ma’iyatullah atau kebersamaan dengan Allah Ta’ala. Sikap merasa senantiasa dalam pengawasan Allah swt dalam seluruh sisi kehidupannya. Tidak ada satu sisi pun yang lalai dari pengawasan Rabbul ‘alamin.

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya, dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah ayat 7)

Ada perbedaan prinsip anatara mereka yang merasa senantiasa berada dalam pengawasan Allah swt dengan mereka yang tidak merasa ada pengawasan dari-Nya. Orang yang merasa hidupnya diawasi Allah swt akan senantiasa berjalan hati-hati dalam meniti hidup serta dakwahnya. Mengerjakan amalan shalih tidak hanya di hadapan keramaian, tetapi juga di kala sepi dan sendiri. Demikian pula sebaliknya, meninggalkan yang jahat dan maksiat pun di kala keramaian mau pun ketika sendiri. Sedang orang yang tidak merasa diawasi Allah swt akan berbuat sesuka hati dalam kehidupannya, merasa tenang ketika berbuat dosa dan memiliki rasa takut hanya terhadap aparat keamanan.

Kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra dengan penjual susu menjadi teladan abadi tentang tingginya nilai ihsan. Ketika ibu penjual susu memaksa anaknya—Laila—untuk mencampur susu dengan air biasa. Jawab Laila, “Tidak boleh bu. Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang akan dijual dengan air”.

“Tetapi semua orang melaksanakan hal itu nak, campur sajalah! Toh, Amirul Mukminin tidak melihat kita melakukan itu…”, kata sang ibu.

“Bu, sekalipun Amirul Mukminin tidak melihat kita, namun Rabb dari Amirul Mukminin pasti mengetahui.”

Masya Allah…Ucapan itu membuat Amirul Mukminin yang sedang mengintainya berderai air mata.

Alangkah mulianya jika setiap muslim menghiasi kehidupannya dengan jiwa ma’iyyatullah.

Berbuat baik karena Allah swt

Ihsan dapat pula bermakna berbuat baik karena Allah swt, sebagaimana perintah-Nya:

“…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash ayat 77).

Berbuat baik adalah akhlaq setiap makhluq Allah swt dia atas permukaan bumi ini. Berbuat baik ini meliputi pengertian memenuhi hak-hak orang lain dan memperhatikan adab-adabnya dalam setiap perilaku. Tidak masa bodoh, beku hati dan asal mau menangnya sendiri. Rasulullah saw memberikan panduan tentang apa yang disebut kebaikan. Ketika Wabishah bin Ma’bab ra bertanya tentang kebaikan, jawab beliau saw,

“Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya”. (dari Musnad Ahmad bin Hambal).

Rasulullah saw telah memberikan teladan yang mulia tentang sikap baiknya kepada sahabat-sahabat, kepada tetangga, isteri, anak cucu, bahkan terhadap musuh-musuh sekalipun. Beliau berpesan untuk berbuat baik bila membunuh, baik membunuh musuh-musuh Allah Ta’ala dalam peperangan mau pun terhadap binatang sembelihan.

“Maka apabila kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya”. (HR. Muslim).

Alangkah mulianya bila seorang muslim menghiasi hidupnya dengan senantiasa berbuat baik kepada sesamanya, kepada binatang, dan kepada alam semesta.

Sikap ihsan memiliki dimensi ma’iyyatullah dan berbuat baik karena Allah swt akan mendorong seorang muslim untuk senantiasa memasang niat baik untuk memulai segala aktifitasnya. Niat untuk melandasi segala katifitas karena Allah Ta’ala, niat untuk bekerja dengan serius dan senantiasa meningkatkan prestasi, serta niat untuk melaksanakan semua tugas-tugas hidup dengan sebaik-baiknya. Bila seorang muslim mempunyai niat yang sedemikian ini, tiada hasil yang akan didapatkannya kecuali kebaikan (ihsan) pula.

http://www.al-intima.com

Yang Harus Kita Lakukan di Hari-Hari Ini”


Assalaamu’alaikum wr wb

Alhamdulilah kita selalu dipertemukan dalam forum-forum seperti ini untuk merujuk kepada sumber-sumber asasi kita, Al Qur’an dan Assunnah, semoga kita selalu mendapatkan petunjuk.

Hari dan jam yang akan tentukan prestasi dakwah kita semakin dekat, hitung mundurnya semakin kecil. Di DPP ada banner hitung mundur sd 9 April 2014. Itu ibarat ajal yang telah ditentukan. Tempo yang telah disepakati.

Mumpung pasar masih buka, lewat tgl 9 April pasar sudah tutup, dagangan sudah tidak laku,  maka gunakan pasar ini sebaik-baiknya. Pasar  yang dimaksud adalah ladang perjuangan kita mumpung masih terbuka. Calon  pembeli masih ada. Barang yang kita jual  masih dilirik dan masih diperhatikan  orang. Jadi, kalau mau habis-habisan, waktunya sekarang ini. Jangan nanti kalau selesai tanggal 9 April. Kalau sudah lewat, hari pasaran nunggu 5 tahun lagi. Situasi ini harus difahami bahwa sekaranglah saatnya. Kita bicara partai, orang tidak akan bicara macam-macam. Kita mengkampanyekan diri, tidak dipandang aneh karena ini lagi pasarannya.

Yang harus kita persiapkan di hari pasaran ini ada 3 hal :

I. Di hari pasar ini yang harus dipastikan adalah isi hati kita

Bahwa yang mengisi hati ini adalah ikhlas lii’lai kalimatillah, ikhlas dalam menempuh dan meniti jalan Alloh SWT. Mari kita tata hati kita untuk konteks ini. Dan pastikan, inilah yang diketahui Alloh, meskipun  Alloh Maha Tahu. Maksudnya  kita lah yang memastikan itu, bahwa tak ada yang mengisi hati ini kecuali pujian untuk Alloh, untuk I’lai kalimatillah, perjuangan fi sabilillah, perjuangan untuk litakuuna kalimatullohi hiyal ulya.

Saat antum keluar rumah, mau apa? mau silaturahim cari suara, mau berkunjung ke saudara saya, teman saya, posisikan bahwa  ini adalah bagian dari cara kita menerjemahkan  proses menuju i’lai kalimatillah. Kenapa  harus begitu? Kita akan gagah memperjuangan apa yang mesti diperjuangkan di jalan Alloh ini, kalimatulloh ini, manakala kita punya keyakinan bahwa ada sekian banyak suara aspirasi yang kita perjuangkan. Kalau di belakang kita sedikit, mereka akan mengatakan dengan bahasa seperti bahasa Fir’aun, Innahu lasyirzhimatun qoliiluun... (Itu kan suara di pojok-pojok sana. Suara-suara pinggiran yang tidak perlu diperhatikan.)

Maka dari itu mari kita tata hati bahwa yang kita lakukan adalah dalam rangka I’laai kalimatillah.

Disamping tentang menata hati sedemikian rupa, Alloh SWT kaitkan isi hati  ini dengan banyak hal.

Dalam QS Maryam 96, Allah kaitkan isi hati ini, keikhlasan ini dengan respon dan sambutan publik.

Innalladziina aamanuu wa’amilushsholihaati sayaj’aluhumurrahmaanu wudda…

Dijadikan cinta kasih di antara hamba-hamba Alloh. Manakala hati kita baik, maqbul ‘indalloh, maka Alloh akan panggil Jibril, ”Wahai Jibril sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril pun mencintai dia, dan Jibril membuat pengumuman di langit, bahwa Alloh mencintai fulan, maka cintailah dia. Dan penduduk langit pun mencintai dia.” Kalau Alloh sudah mencintai dia, Jibril dan penduduk langit juga mencintai dia,maka orang itu di bumi ini di mana-mana diterima, direspon dan disambut.  Yudhou lahu qobuulu fil ardh.

Mungkin orang memilih kita walaupun kita banyak catatan, karena mesakke, kasihan. Tidak penting bagi kita, kita dipilih karena dicintai atau karena mesakke. Yang penting adalah dipilih. Yang bisa mengatur hati adalah Alloh. Karena itu sekali lagi, pertama kali di hari pasaran ini, yang CAD, yang AD, yang kader, yang simpatisan,  masing-masing kita menata hati, semua dalam rangka I’lai kalimatillah, fii sabilillah, litakuuna kalimatullohi hiyal ulya. Mungkin yang datang kepada mereka banyak, tapi yang penting adalah bagaimana Alloh mengatur hati orang untuk memastikan pilihannya kepada kita. Itu rahasiamya ada pada hati.

Dalam QS Al Anfal 70, Alloh mengaitkan kebersihan hati itu dengan 2 hal : pengganti yang lebih baik dan pengampunan dari Alloh SWT.

Yaa ayyuhanabiyyu qul liman fii aidiikum minal asro…….

Di hari perjuangan seperti  ini banyak yang hilang dari kita. Sama-sama hilang, maka kita tata bahwa hilangnya itu dengan kebersihan hati. Misal, pas ada keinginan untuk beli ini-itu, namun uangnya kita gunakan untuk menyumbang biaya pemilu. Mungkin waktu kita yang hilang, mungkin juga kesempatan-kesempatan kita yang hilang, karena digunakan untuk perjuangan itu.

Tapi manakala  in ya’lamillahu fii qulubikum khoiro.…. jika Alloh tahu di dalam hati kita itu kebaikan yang ada, maka Alloh akan mengganti semua yang hilang itu dengan yang lebih baik. Tidak disebutkan apa gantinya itu. Asas iman itu adalah iman bil ghoib. Kalau tak iman dengan yang ghoib, hilanglah iman itu. Yang penting adalah  iman. Apa yang lebih baik itu, wallohu a’lam.

Ayat ini turun berkaitan dengan Al Abbas bin Abdul Muthallib, paman Rasululloh SAW, yang sebenarnya muslim, tetapi dapat tugas khusus untuk tetap berada di kalangan kafir quraisy di Makkah, sebagai informan. Saat perang Badar, beliau terpaksa ikut rombongan orang kafir memerangi kaum muslim. Repotnya, yang tahu tugas khusus beliau sangat sedikit. Alhamdulillah, Abbas tidak terbunuh, hanya tertawan. Sampai keluar keputusan bahwa setiap tawanan kalau mau bebas, harus bayar tebusan. Abbas datang kepada Rasul, “Bukankan saya muslim, apakah bayar tebusan juga?”  Namun Rasul menjawab dengan jawaban standar : “Engkau kan tawanan, kalau ingin bebas, bayarlah tebusan.”

Abbas berkata, hartaku telah habis. (Rasul SAW tidak memberikan dana operasional untuk tugas khususnya di Makkah). Namun Rasul menyampaikan, “Bukankah sebelum perang Badar engkau menemui seorang wanita dengan rahasia di Makkah, dan menitipkan hartamu kepadanya, apabila engkau mati dalam perang, harta itu untuk diberikan kepada keturunanmu? Dan kalau masih hidup akan kau ambil lagi?”

Bisa dibayangkan, betapa berat perasaan Abbas. Bahkan yang rahasia pun telah dibuka oleh Alloh, hingga tak punya apa-apa lagi. Habis semua. Maka sebagai hiburan, Alloh SWT menurunkan Al Anfal ayat 90 ini. Allah akan mengganti kalau dia ikhlas dengan sesuatu yang lebih baik, dan akan diampuni. Maka Abbas pun percaya, iman bil ghoib, dan tidak bertanya-tanya lagi.

Di hari tuanya, Al Abbas ini menjadi sangat kaya. Milyuner. Ia berkata kepada generasi berikutnya, “Saya yakin, ini adalah wujud janji Alloh yang pertama. Dan saya masih menunggu janji yang kedua, yaitu ampunan.”

Suka atau tidak suka, banyak yang hilang dalam perjuangan ini. Tapi yang penting, hilangnya itu by design, bukan accident, dan ikhlas agar ada ganti yang lebih baik.

Dalam Al Fath 18

Alloh kaitkan masalah hati ini dengan sakinah, kemenangan, dan ghonimah.

Laqod rodhiyallohu ‘amil mu’miniina….   

Berdasarkan apa yang Alloh tahu itu, maka Alloh berikan 3 hal:

(1) Faanzalahuu sakinatan, turun ketenangan, ketentraman

Sakinah ada hubunganya dengan kata sikkin, pisau. Lihatlah ayam jago, yang ke mana-mana. Kalau sudah ketemu pisau, maka dia sakinah. Dimakan pun diam saja..

Contoh lain tentang sakinah, Waktu perang Hunain, 12 ribu pasukan muslimin melawan 4000 kafir hawazin. Saat melewati jalan yang sempit di antara dua bukit, tiba-tiba kaum muslimin dihujani panah, maka tercerai berai dan berlarian ke sana kemari. 12 ribu yang tadinya simbol keunggulan, maka di jalan sempit itu justru jadi masalah. Wa dhooqot ‘alaikumul ardhu bimaa rokhubat…   Tsumma anzalalloohu sakiinatahu ala rosuulihi wa ‘alal mukminin ( QS 9 : 25-26)…. Setelah sakinah turun, seakan-akan tak ingat lagi ada hujan panah saking tenangnya. Bahkan dalam siroh diceritakan, kuda-kuda pada lari menjauh dan susah digerakkan, setelah sakinah turun maka bisa diarahkan lagi, dan mereka turun dari kuda di jalan sempit itu, jalan kaki menyambut panggilan Rasululloh SAW.

Kalau tak ada sakinah, kita gampang panik.

Lihat baliho kompetitor saja panik… padahal Alloh yang atur siapa yang akan dipilih. Datang di satu tempat, keduluan orang lain, tak usah panik. Mereka punya harapan dari kedatangannya itu, namun kita pun berharap kepada Alloh.

Sakinah juga berkaitan dengan litaskunu ilaiha antara suami istri.

Tapi jangan terlalu sakinah, jadinya malah sukun, kebalikan dari harokat,  mati, diam.

(2) wa atsaabahu fathan qoriibaa, Alloh mengganjar mereka dengan kemenangan yang dekat.

(3) wamaghonima katsiirotan, bukan ghonimah biasa, namun ghonimah yang sangat banyak !

Lagi-lagi dikaitkan dengan kondisi hati. Karenanya yang perlu ditata pertama adalah masalah hati.

***

II. Mari mentadabburi As Sajdah 17, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi

Falaa ta’lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurroti a’yun

“Maka tidak seorangpun mengetahui apa yang disebunyikan untuk mereka yaitu ( bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan”

Pasti jiwa akan tahu, apa yang dirahasiakan dari mereka, segala  hal yang membuat jiwa  senang.

Dalam konteks kita, apa yang akan menyenangkan kita:

-semua kader bekerja, semua terlibat pemenangan. Itu menyenangkan. Akhirnya  dapat suara banyak, itu menyenangkan. Target kursi terpenuhi, itu menyenangkan.

Tapi semua  yang menyenangkan ini dikaitkan dengan jazaan bimaa kanuu ya’maluun. Sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan. Kita berkesempatan mendapat maa ukhfiya lahu, asalkan mau bekerja. Apalagi slogan kita: cinta kerja harmoni.

Rasul SAW bersabda,

“jika kiamat datang dan ada benih di tanganmu, dan masih ada kemampuan  untuk menanam, maka tanamlah, karena pada menanam itu ada pahala”

Andai antum tahu dan yakin jika jam 1 siang akan mati, dan jam 12 antum dapat tugas menanam kelapa, bagaimana?  Untuk apa? Sudah mau mati. Menunggu panen butuh bertahun-tahun. Tapi Rasul ajarkan, ini bahkan kiamat, yang tak ada hari lagi untuk menunggu hasil panen. Sudah sampai pada hari yang kholidiina fihaa… tapi diajarkan, tanam saja, karena dalam menanam itu ada pahala.

Maka kita pun bekerja apakah jadi suara apa tidak, entahlah, serahkan saja pada Alloh.

Rasul SAW pun memberi contoh : Rasululloh SAW punya tetangga seorang Yahudi. Dan anak si yahudi sering bermain bersama anak-anak muslim. Ternyata anak-anak pun tak luput dari perhatian Rasululloh SAW. Suatu ketika, si anak Yahudi tidak terlihat di antara anak-anak muslim. Maka Rasul SAW bertanya kepada anak-anak, dimana dia. Teman-temannya bilang, si anak Yahudi sedang sakit keras dan mungkin akan meninggal. Rasul pun menanggapi dengan serius. Rasul SAW terlihat panik dan tegang, lalu mengajak beberapa shahabat untuk menjenguk. Beliau dapati si anak sedang sakaratul maut. Maka beliau mentalqin, membaca 2 kalimat syahadat. Andai Rasul SAW politisi murni, pasti tak mau melakukan itu. Ini anak belum nyoblos. Kalaupun nyoblos, bahkan sudah mau mati.

Si anak menengok ke arah bapaknya. Mungkin bapaknya mikir juga, anaknya sedang jadi target dua kalimat syahadat, padahal sudah mau mati. Ini pasti Muhammad tidak sedang sekedar cari pengikut. Si bapak juga tidak menemukan tafsir materi. Pasti Muhammad menginginkan kebaikan untuk anaknya. Maka si bapak bilang, “Turuti saja Abul Qosim (Muhammad)”.  Si yahudi tak mau menyebut nama Muhammad, karena berarti dia mengakui kenabian Muhammad sebagaimana yang namanya  disebutkan dalam kitab suci mereka. Maka sang anak mengucap syahadat kemudian meninggal. Rasul SAW tampak  gembira dan bersabda “Segala puji bagi Alloh yang telah menyelamatkan anak ini dari neraka”.

Jadi, kerja saja lah. Komunikasi, datangi, semoga dengan kerja ini, dengan spirit Jazaa’an bimaa kanuu ya’maluun, insyaalloh Alloh akan berikan janjinya, memberikan qurrota a’yun, dengan syarat, kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja.

***

III. QS Al Baqoroh ayat 249-252

Falamma fashola thooluutu bil junudi…

Dari cerita Thalut ini, salah satu ujian dalam perjuangan adalah kita dihadapkan pada kekuatan lawan. Pasukan Thalut dihadapkan pada fakta bahwa kekuatan jalut dahsyat dan luar biasa. Orangnya gedhe-gedhe. Dalam cerita Israiliyat dikatakan saking gedhenya, ketika 12 orang mata-mata Israel tertangkap, mereka disuruh berjalan di lengan orang-orang nya Jalut. Ini cerita Israeliyat tidak untuk diimani, terkadang isinya aneh-aneh. Seperti cerita asal usul kucing versi israeliyat…

Yang mentalnya lemah, daya juangnya lemah akan berkata laa thoqotalana…. Kita juga begitu. Jumlah kita sedikit, uang sedikit, stiker sedikit, kalender kecil-kecil. Kenyataan bahwa lawan lebih hebat itulah ujian. Yang bisa membuat kita tegak adalah manakala kita punya stok ma’nawi yang kuat. Alloh yang atur semuanya. Maka kalkulasi kita jangan pada hebatnya musuh. Yang penting kerja, hasil terserah Alloh.

Coba bayangkan, apa hebatnya Maryam, saat diminta untuk menggoyang pohon kurma, apalagi hingga kurma berjatuhan. Seberapa  kuatkah… wa huzzii ilaiki bijidz’innakhlati tusaaqith alaiki ruthoban janiyya.. (QS 19 : 25).  Alloh bermaksud memberikan makanan yang tepat berupa ruthob, tapi untuk itu perlu usaha, berusaha menggoyang pohon. Pohonnya goyang apa tidak, itu tidak penting. Alloh lah yang menjatuhkan kurmanya. Yang penting digoyang saja.

Dalam melihat situasi begini, 3 hal yang perlu kita pastikan, sebagaimana saat pasukan Thalut melihat pasukan jalut: Kita berdoa kepada Alloh :

Robbanaa afrigh ‘alainaa shobron

Mohon  agar Alloh SWT memberikan, bahkan menumpahkan kesabaran kepada kita. Bahkan kalau kita ingin mendapatkan al falah (kemenangan), di akhir surat ali Imron disebutkan, bukan cuma shabar, tapi perlu mushabarah. Menurut tafsir Al Maududi, mushabarah artinya punya kesabaran yang mengungguli dan melebihi kesabaran para kompetitor. Kita minta kesabaran itu agar la’allakum tuflihun (diberi kemenangan).

Malam-malam mereka sosialisasi, pasang spanduk, dll itu kesabaran mereka. Kita perlu punya kesabaran yang lebih. Bahkan dikatakan oleh Al Maududi, jika kalian tak punya kesabaran 105% jangan harap mendapat kemenangan, kalau mereka punya 100%. Dalam berbagai hal kita kalah, kalau tak ditutup dengan daya juang tinggi yang lebih dari mereka, kita tak akan menang.

Itulah yang diminta oleh pasukan Thalut. Dalam bahasa lain, afrigh ‘alaina shobron : karuniai kami  konsistensi untuk terus bekerja.

Jangan berhenti, kendor dan nglokro.

Watsabbit aqdaamanaa

Kita harus bertahan dengan eksistensi kita. Tunjukkan kita masih ada. Jangan gara-gara yang lain begitu gegap gempita mengkampanyekan partai dan diri mereka, justru kita ngilang. Tunjukkan nahnu maujud. Kita masih ada, tidak ngilang, tidak sembunyi.

Wanshurnaa ….

Kita tetep melanjutkan upaya ekspansi kita

Manakala ini dipenuhi, dan itu yang kita mintakan kepada Alloh, maka fahazamuuhum biidznillah, bahkan waqotala dawudu jaluta… Pasukan thalut yang kecil mengalahkan tentara Jalut yang besar. Kata israiliyat, Jalut mati kena ketapel. Raksasa itu mati karena ketapel.

Mungkin tak seberapa yang kita berikan, tapi jadi suara. Di perang Badar, falam taqtuluuhum…..Tugas Rasul dan para shahabat adalah melempar. Rasul SAW begitu diserbu oleh kaum musyrikin,  Rasul SAW mengambil pasir dan dilempar ke arah mereka. Yang menjadikan pasir itu kena matanya musyrikin adalah Allah. Wamaa romaita idz romaita  walaakinnalloha romaa... Kena pasir seember di tubuh kita tidak apa-apa. Tapi kalau yang kena mata, 3 butir pun sudah menyakiti.

Jadi kita terus bekerja, datangi mereka, jelaskan ke mereka, ajak mereka. Jadi suara atau tidak, adalah Allah yang tentukan.

Intinya, teruslah bekerja. Kata hati kita, manakala Alloh tahu kita berhak  untuk menang, maka apapun yang kita lakukan, maka itu akan mentes dan diterima oleh masyarakat.

*Disampaikan Ust Musyaffa AR (Ketua Kaderisasi DPP PKS) dalam Election Update PKS DIY (Ahad, 15 Desember 2013)

Seni Memperhati


Seni Memperhatikan

 


Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pencinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati paling dalam, dari keinginan yang tulus untuk memberikan apa saja yang diperlukan orang yang kamu cintai untuk menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Perhatian adalah pemberian jiwa: semacam penampakan emosi yang kuat dari keinginan baik kepada orang yang kita cintai. Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk memperhatikan. Tidak juga semua orang yang memiliki kesiapan mental memiliki kemampuan untuk terus memperhatikan.

Memperhatikan adalah kondisi di mana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada di luar dirimu. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertuju kepada orang yang kamu cintai. Itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Mereka yang bisa keluar dari dalam dirinya adalah orang-orang yang sudah terbebas secara psikologis. Yaitu bebas dari kebutuhan untuk diperhatikan. Mereka independen secara emosional: kenyamanan psikologis tidak bersumber dari perhatian orang lain terhadap dirinya. Dan itulah musykilnya. Sebab sebagian orang besar lebih banyak terkungkung dalam dirinya sendiri. Mereka tidak bebas secara mental. Mereka lebih suka diperhatikan daripada memperhatikan. Itu sebabnya mereka selalu gagal mencintai.

Itulah kekuatan para pencinta sejati: bahwa mereka adalah pemerhati yang serius. Mereka memperhatikan orang-orang yang mereka cintai secara intens dan menyeluruh. Mereka berusaha secara terus-menerus untuk memahami latar belakang kehidupan sang kekasih, menyelidiki seluk beluk persoalan hatinya, mencoba menemukan karakter jiwanya, mendefinisikan harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan mengetahui kebutuhan-kebutuhannya untuk sampai kepada harapan-harapannya.

Para pemerhati yang serius biasanya lebih suka mendengar daripada didengarkan. Mereka memiliki kesabaran yang cukup untuk mendengar dalam waktu yang lama. Kesabaran itulah yang membuat orang betah dan nyaman menumpahkan isi hatinya kepada mereka. Tapi kesabaran itu pula yang memberi mereka peluang untuk menyerap lebih banyak informasi tentang sang kekasih yang mereka cintai.

Tapi di sini juga disimpan sesuatu yang teramat agung dari rahasia cinta. Rahasia tentang pesona jiwa para pencinta. Kalau kamu terbiasa memperhatikan kekasih hatimu, secara perlahan-lahan dan tanpa ia sadari ia akan tergantung dengan perhatianmu. Secara psikologis ia akan sangat menikmati saat-saat diperhatikan itu. Bila suatu saat perhatian itu hilang, ia akan merasakan kehilangan yang sangat. Perhatian itu niscaya akan menyiksa jiwanya dengan rindu saat kamu tidak berada di sisinya. Mungkin ia tidak mengatakannya. Tapi ia pasti merasakannya. ~ Anis Matta ~

Kenapa Bunda Tak Boleh Memaksa Anak Makan? Ini Alasannya!


 

Dear Bunda,
Ketika anak-anak memasuki masa sulit makan, biasanya Bunda akan memaksa mereka makan dengan berbagai cara. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, tak jarang Bunda melontarkan paksaan dan ancaman agar anak mau menelan makanannya.

“Pemaksaan sampai ancaman ini seharusnya tidak boleh dilakukan kepada anak, karena akan memengaruhi perkembangan anak,” ungkap pakar nutrisi dan diet dari komunitas Sehati, Emilia Achmadi, MSc, kepada Kompas Female, saat talkshow sebuah merk susu di fX, Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurut Emilia, ada beberapa kategori yang tergolong sebagai bentuk pemaksaan kepada anak agar mereka mau makan (dan sebaiknya tidak dilakukan):

1. Memberi makanan sebagai hadiah
Dalam kategori ringan, orangtua akan memberikan berbagai iming-iming agar anak mau makan. “Misalnya, kalau mau makan maka mereka akan mendapat cokelat, es krim, dan aneka makanan lainnya,” tambahnya. Meskipun anak sebenarnya tidak mau makan, namun reward yang ditawarkan akan membuat mereka mau makan demi mendapatkan makanan yang disukainya.
Meski proses iming-iming ini akan membuat anak mau makan saat itu, namun akan selalu tertanam dalam pikiran anak bahwa setelah makan mereka akan bisa menyantap makanan apa saja yang mereka inginkan.
Parahnya lagi, mereka akan beranggapan bahwa makanan reward ini boleh dimakan sebanyak-banyaknya karena mereka sudah makan nasi. Efek yang paling parah, mereka tidak bisa mengontrol asupan makanan ke dalam tubuh, dan berakhir dengan obesitas.

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

2. Menakut-nakuti anak
Dalam kategori ini, orangtua akan mengancam anak-anaknya untuk mau makan. Biasanya mereka akan mengancam dengan berbagai hal yang tidak disukai anak. Padahal, keengganan anak untuk makan pasti ada sebabnya. Bisa jadi makanan yang disediakan kurang enak dan kurang menggugah seleranya. Namun, biasanya orangtua lebih mementingkan agar makanan yang bergizi ini disantap habis oleh sang anak.
“Yang tak kalah penting dari rasa dalam sepiring makanan adalah tampilannya, khususnya untuk anak. Dengan tampilan yang menggugah selera, anak pasti akan lebih bersemangat untuk makan,” ungkap Executive Chef The Dharmawangsa Hotel, Vindex Tengker, kepada Kompas Female, dalam kesempatan berbeda.
Proses menakut-nakuti agar anak mau makan ini bisa mengakibatkan dampak psikologis berupa serangan anoreksia dan bulimia pada anak. Karena “proses” makan yang mereka lakukan ini hanya dilakukan untuk menyenangkan orangtuanya saja, tanpa perlu dicerna lebih lanjut di dalam perutnya. Bukan tak mungkin anak akan memuntahkan kembali makanan tersebut ketika orangtuanya tidak memperhatikan mereka lagi.

3. Mengancam
Kategori yang paling parah adalah ketika orangtua mulai mengancam anak-anaknya agar mau makan. Misalnya jika anak tidak mau makan, Bunda tidak mau bicara dengannya, anak akan ditinggal sendirian, atau akan dipukul saat tak mau makan, dan lain sebagainya.
Proses ancaman ini ketika dilakukan dalam jangka waktu yang lama terbukti bisa menimbulkan trauma tersendiri dalam diri anak. “Mereka akan mengalami sentimen negatif pada makanan,” tukas Emilia.
Sentimen negatif ini akan berakibat pada adanya rasa takut terhadap makanan, sehingga ketika tiba saatnya makan mereka akan selalu terbayang pada ancaman yang diberikan orangtuanya. “Ada rasa depresi ketika melihat makanan, dan akhirnya makan hanya karena takut akan ancaman orangtuanya. Ini sangat berbahaya,” jelasnya.

Nah Bunda, masih ingin mengancam Si Kecil? Tetap berikan yang terbaik untuk Si Kecil ya Bunda

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

Ayah Akhir Zaman


Beberapa hari kebelakangan ini, banyak hal penting yang terjadi di negeri kita, dari yang issue penggandaan uang, pelecehan Al Qur’an, hingga logika aneh yang pada akhirnya banyak menjadi meme di dunia maya.

 

 

Tanpa mengulang detail kejadian yang terjadi, tentunya kita sadar bahwa sebagai orang tua kita menghadapi satu era akhir zaman yang penuh dengan fitnah (ujian). Menghadapi akhir zaman, anak-anak perlu immune terhadap beberapa penyakit masyarakat, yang pada penyebabnya ada pada masalah aqidah perlu diperkuat. Bisa dibayangkan ujian apa yang akan terjadi di masyarakat ketika kelak, karena kenyataannya anak-anak kita adalah khalifah akhir zaman, yang akan menghadapi ujian lebih besar dibandingkan dengan zaman kita.ayah-dan-anakdilapangan

Berbicara tentang ujian akhir zaman dan pentingnya persiapan akidah anak-anak, harus dimulai dari kita para orang tua, khususnya ayah sebagai keluarga.

Persiapan aqidah perlu figur uswah yang diikuti, datang dari imam keluarga, kepala sekolah Madrasah rumah, ayah.

Bukankah hal ini dicontohkan oleh Allah yang mengutus para nabi dari bangsa manusia sehingga bisa diikuti gaya hidupnya, karena jika Allah berkehendak, Ia bisa mengutus para nabi dari bangsa Malaikat bukan manusia, tetapi agar memungkinkan untuk diikuti maka manusia menjadi utusan Allah.

Untuk pendidikan aqidah , hendaknya Al-Qur’an bukan hanya dihapalkan sebagai bagian dari kurikulum di rumah atau sekolah, tetapi dibahas, difahami, direnungi, serta diamalkan isi – isinya, kalau memang ayah kurang pede untuk mengajarkan isi kandungan Al Qur’an, maka silahkan datangi majlis ilmu, kajian tafsir, dan jangan lupa membawa oleh-oleh pelajaran yang tentunya sudah disederhankan untuk konsumsi anak-anak di rumah.

Jangan lupa untuk menggunakan fenomena sosial yang terjadi dan tidak bisa dielakkan oleh anak-anak, khususnya yang akan atau sudah menginjak usia baligh, untuk mengajarkan moral yang betul ke anak-anak, luruskan bila fenomena sosial tersebut perlu diluruskan, sehingga anak-anak tidak mengambil kesimpulan dari jalanan atau dari teman-teman mereka.

Ketika anak terekspos dengan issue seorang dukun yang mengaku bisa menggandakan uang, gunakan kesempatan ini untuk menerangkan bagaimana Jin bermain dengan sihir, dengan cara penggadaian aqidah si dukun.

Ketika ada issue pelecehan terhadap Al-Qur’an, jangan lupa ajarkan kepada anak-anak tentang kesucian Al Qur’an sebagai kalaamullah yang tidak pernah salah, dan mempunyai kebenaran yang absolut. Ingatkan, bahwa ketika Al Qur’an dilecehkan, maka jutaan umat muslim juga merasa terhina. Secara tidak langsung hal ini bisa menambah kecintaan anak-anak kepada Al Qur’an.
Pada akhirnya, sebagai ayah, kita mempunyai kewajiban bukan hanya mempersembahkan yang terbaik bagi keluarga kita, tetapi juga mendorong istri dan anak-anak kita ke level terbaik,
sebagaimana salah satu deskripsi ibaadurrahman (hamba – hamba Allah) yang ideal yang tersebut dalam surah Al Furqon 74

” Dan orang-orang yang berkata :” Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami, istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami (Qurrata a’yun) , dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa ”

Misi kita para lelaki adalah menjadikan istri dan anak kita sebagai qurrata a’yun, bukan hanya cantik, tampan di mata, tapi juga manis diperkataan dan budi bahasa, tinggi dalam akhlaq, wara’ dan menjaga diri dari yang haram. Sehingga menurut imam Thabari dalam tafirnya, efek penyejuk hati qurrata a’yun, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Bukan hanya menjadikan keluarga yang shalih, seorang pemimpin keluarga dituntut untuk meningkatkan diri, sehingga bukan saja menjadi seorang yang bertakwa, tetapi lebih dari itu, yaitu menjadi imam atau pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.
Para ayah sekalian, zaman boleh berubah, ujian boleh bertambah, tapi target yang kita tetapkan dalam pengasuhan anak tetaplah yang tertinggi.
Selamat berjuang wahai para ayah akhir zaman.

@faisalsundani
Faisal Sundani Kamaludin

#Fatherhood
#TarbiyahPubertas

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen
https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

CATATAN UNTUK BUNDA .


CATATAN UNTUK BUNDA
.
Berhentilah marah-marah soal keberantakan di rumah kita.
Selalu ada waktu untuk membersihkan rumah. Tetapi berapa sering sih dan berapa lama sih, aku bisa membuat kue dari lumpur atau membuat istana dengan membongkar kamar tidur?
.
Cintai dan kasihi aku, bahkan ketika aku berbuat kesalahan.
Aku berbuat seperti itu hanya pada umur ini. Ketahuilah apa kebutuhan dasarku di balik tiap perbuatanku. Mungkin kau melihat anak yang tidak mau memakai baju, padahal saat itu aku ingin menunjukkan bahwa aku sudah bisa sendiri. Kalau Bunda tahu apa kebutuhan dasarku, Bunda tidak akan memarahiku, tetapi Bunda malah bisa mengubah cara menghadapiku agar akhirnya aku bersedia memakai baju. Dan banyak hal lainnya. Jangan-jangan, saat Bunda marah kepadaku itu, sebenarnya Bunda frustrasi karena tidak memahami apa yang sebenarnya kubutuhkan.

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

Jangan menasehatiku ketika aku tantrum.
.
Percayalah kepadaku, aku tiak dapat mendengar, apalagi memahami apa yang kau katakan pada saat aku masih menjerit-jerit atau berteriak sambil menangis itu. Biarkan aku tenang terlebih dahulu.
.
Biarkan aku mengerjakannya sendiri.
Aku tahu, engkau dapat mengerjakannya dengan jauh lebih cepat dan lebih baik, tetapi kadang-kadang pengalaman adalah guru terbaik. Biarlah aku mengelaminya sendiri.
.
Bersabarlah.
Aku melakukan segala sesuatu dengan alasan tertentu, tetapi aku belum banyak mengetahui kata-kata untuk memberikan penjelasannya kepadamu.
.
Jangan berharap terlalu banyak dariku.
Aku ingin melakukan apa yang kau pinta, apa yang kau perintahkan dan membuatmu bahagia. Tetapi, aku masih kecil.
.
Penuhi janjimu.
Apa pun janji Bunda, walau sangat sepele kelihatannya, seperti membikinkan kue atau berjanji mendongeng seusai memasak, penuhilah. Ini semua tentang kepercayaan. Segala jenis hubungan, seperti hubungan Bunda dengan Ayah, juga berdasar kepercayaan, ya kan? Maka, hubungan Bunda denganku pun mestilah berpondasikan kepercayaan. Nanti, ketika aku sudah remaja, Bunda akan mengerti mengapa kepercayaan ini menjadi sangat penting.
.
Jangan terus-terusan bertanya apakah hari ini aku sudah jadi anak baik.
(Malah kadang-kadang Bunda bertanya “Hari ini kamu nggak nakal kan?”). Aku tidak tahu pasti apa maksud Bunda berkata seperti itu. Tetapi aku merasa tidak enak, bahkan aku merasa buruk sekali kalau aku tidak pernah menjawab pertanyaan Bunda itu.
Jangan biarkan aku beranggapan dirimu sempurna.
Aku akan menjadi pribadi yang lebih baik jika aku mengetahui bahwa aku bukanlah satu-satunya orang di dunia yang kadang-kadang berbuat kesalahan.
.
Tetapkan batasan yang jelas.
Aku jelas tidak bisa memakan sekotak penuh kue. Aku hanya ingin melihat dan mencoba apakah aku sanggup melakukannya. Ya, anak kecil seperti diriku ini suka sekali bereksperimen mencoba-coba segala sesuatu. Tunjukkan batasannya kepadaku dengan teguh, secara konsisten, agar aku merasa aman ada di dalam pagar yang jelas batasnya.
.
– Dono Baswardono –

Semoga bermanfaat buat bapak ibu semua

Share kepada yang lain agar lebih bermanfaat

=============================

GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://tokopedia.com/griyahilfaaz

==============================

TARBIYAH JINSIYAH (SEX EDUCATION)


TARBIYAH JINSIYAH (SEX EDUCATION)
*Ustadzah Herlini Amran, MA

Islam adalah agama yang sesuai dengan fithrah manusia. Islam memberikan panduan dalam setiap prilaku & perbuatan, ada yang bersifat petunjuk (preventif), kuratif ataupun yang bersifat rehabilitatif.
Islam memandang persoalan perilaku manusia adalah integralistik, bukan saja merupakan tanggung jawab suatu disiplin ilmu tertentu atau dalil tertentu, melainkan suatu proses rekayasa sosial yang lebih luas.

Tarbiyah Jinsiyah menurut konsep Islam adalah upaya mendidik nafsu syahwat agar sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga ia menjadi nafsu yang dirahmati Allah, dengan tujuan terbentuknya sakinah, mawaddah wa rahmah dalam sebuah rumah tangga yang mampu mendidik keturunannya untuk mentaati perintah Allah swt, sehingga manusia terbebas dari perbuatan zina.

Tarbiyah Jinsiyah menurut Islam merupakan bagian dari pendidikan akhlak, yang didasari dengan keimanan. Dengan iman yang mantap, seseorang akan rela melakukan segala perintah Allah dan RasulNya serta menghentikan segala larangannya.

Tarbiyah Jinsiyah & Sex education versi Barat

* Pendidikan seks pola Islam mengacu kepada pendidikan akhlak & adab yang berlandaskan kepada keimanan dan syariat/ aturan yang berasal dari Allah SWT.
* Sex Education versi Barat hanya mengajarkan “seksualitas yang sehat” meliputi: seks secara anatomis, fisiologis dan psikologis saja. Misal, cara mencegah kehamilan, tidak aborsi dsb.

Tarbiyah jinsiyah dimulai dari pendidikan dalam keluarga, sebelum keluarga itu menyerahkannya kepada para pendidik (sekolah umum) dan lingkungan. Dari orang tualah anak kita akan memahami dan memiliki wawasan apa yang disebut dengan syahwat.

Firman Allah SWT :”Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik ” (QS Ali Imran: 14)

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

 

Ada 15 Konsep Tarbiyah Jinsiyah yang harus diajarkan kepada anak kita..

1- Memperkenalkan konsep Aurat.

2- Memisahkan tempat tidur anak dan menjelaskan adab-adab kesopanan di rumah & diluar rumah.

3- Mendidik adab-adab isti’zan dalam rumah tangga. (QS An Nur:58)

4- Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan feminine pada anak perempuan.

5- Memperkenalkan konsep mahrom sekaligus adab pergaulan diantara mahrom dan non mahrom.

6- Mendidik agar selalu menjaga pandangan mata (ghoddul bashar).

7- Mengenalkan sanksi-sanksi
perzinahan dalam Islam.

8- Mendidik agar tidak melakukan
ikhtilath (campur baur/pergaulan
bebas) di antara laki-laki dan
perempuan.

9- Mendidik agar tidak melakukan
khalwat (berdua-duaan antara laki-laki
dan perempuan yang bukan mahrom).

10- Mendidik etika berhias sehingga
kaum muslimah tidak bertabarruj.

11- Mendidik konsep Thoharoh seperti
menjaga kebersihan mulut, alat
kelamin, cara wudhu, mandi dll.

12- Menjelaskan makna khitan, ihtilam dan
haid secara bijaksana.

13- Menjelaskan ayat-ayat al-Quran dan Hadis Nabi yang berhubungan dengan proses kejadian manusia, mulai dari nuthfah, alaqah, mudhghah (Morulla, Blastrulla, Gastrulla. Lihat QS Al Hajj:5 dll tentang prosess kejadian manusia), sampai terlahirnya seorang bayi dengan maksud mendekatkan diri pada Allah.

14- Mengajarkan Puasa sunnah, dengan puasa itu akan mempersempit jalannya syaitan, dan lebih bisa dalam menahan gejolak nafsu syahwat.

15- Etika kehidupan bersuami istri
secara Islam baru boleh di ajarkan kepada
mereka yang benar-benar akan menikah.

Wallahua’lam bis showab

Narated and rewrite by @madrasatunnisa

Share kepada yang lain agar lebih bermanfaat

=============================

GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://tokopedia.com/griyahilfaaz

==============================