Tag Archive | religion

Al Ikhlas


Al Ikhlas (serial 2; Untukmu Kader Dakwah )

Al Ikhlas

Yang kami maksud dengan al ikhlas adalah:
Seluruh ucapan, perbuatan dan perjuangan seorang aktivis muslim selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada Allah Ta’ala saja, serta memohon ridha-Nya semata, juga kebaikan ganjaran-Nya. Tidak ingin mengharap imbalan apapun, baik berupa harta, tahta, martabat dan kedudukan, tanpa melihat maju mundurnya perkembangan dakwahnya.

Dengan demikian, ia telah menjadi seorang jundi (prajurit) baik secara intelektual maupun aqidah, bukan seorang jundi yang mencari imbalan dan manfaat, seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al –Qur’an :

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-An’am:162).

Dengan demikian, seorang aktivis muslim selalu memahami doktrin “Allah tujuan kami” dan “Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala puja dan puji”.

(Hasan Al Banna)

“tak akan sampai kepada Allah daging dan darah qurban itu akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya ialah taqwa dari kamu” (QS. 22:37).
Banyak orang berharta dengan banyak hutang. Banyaklagi orang miskin dengan banyak hutang. Ada orang kaya amal dengan banyak tuntutan yang harus dilunasinya dihari pembalasan. Ada orang yang sangat sederhana dalam beramal, dengan ketulusan tiada tara. Pujian tak membuatnya bertambah gairah dan celaan tak menghambatnya dari meningkatkan amal kebajikan. Ia ada ditengah keramaian dan jiwanya sendiri menghadap Khaliqnya, tanpa berharap dan peduli terhadap penilaian manusia.
Tiga hal yang tak patut hati mu’min kering. 1. Ikhlas beramal karena Allah. 2. Tulus terhadap para pemimpin (dengan nasihat dan koreksi), 3. Setia kepada jama’ah Muslimin, karena do’a mereka meliput dari belakang mereka(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud & Tirmidzi)
Banyak hal yang Nampak sederhana, tetapi terabaikan, sementara obsesi sering menjadi symbol kebersamaan yang tak pernah terwujud atau takkan pernah berwujud, karena para pendukungnya tak pernah memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, kecuali sebagai status.
Hasan Al Bashri mencurahkan kebeningan hatinya dizaman yang rasanya begitu perlu penjernihan: “Tak ada lagi yang tersisa dari kenikmatan hidup, kecuali tiga hal: 1 Saudara yang kau selalu dapatkan kebaikannya; bila engkau menyimpang ia akan meluruskanmu. 2. Shalat dalam keterhimpunan (Jasad, hati dan fikiran), kau terlindungi dari melupakannya dank au penuh meliput ganjarannya, 3. Cukuplah kebahagiaan hidup dicapai, bila kelak ia tak seorangpun punya celah menuntutmu dihari kiamat.”
Ketika seseorang berusaha keras untuk beramal, tanpa berfikir, apa keuntungan yang bakal didapatnya, ia disebut mukhlis, artinya orang yang menyerahkan amalnya kepada Allah dengan sepenuh hati tanpa pamrih duniawai. Pada saat ia mendapatkan dorongan beramal tanpa ingat apapun kecuali ridha Allah, ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis. Ada orang yang hanya dengan melihatnya, itu cukup membuatmu ingat kepada Allah, bicaranya cukup menambah amalmu dan amalnya cukup membuatmu rindu akherat.
  
Hati Tanpa Jelaga
Hati bening seorang alim penaka gelas Kristal yang bening dan bersih, akan memancarkan cahaya ilmunya.  Sementara ada orang yang detik demi detik tutur kata, karya dan kehadirannya menjerumuskan ke jurang sengsara
Sulit untuk mendapatkan hati yang bening dan amal yang ikhlas tanpa kejujuran. Kejujuran yang sering diartikan dengan sekedar bicara benar, ternyata lebih dari itu. Ia adalah kejujuran terhadap Al Khaliq. Ia adalah kejujuran terhadap bisikan hati nurani. Pada akhirnya bukti kebenaran itu akan Nampak dalam sikap kejujuran mereka kepada Allah atas semua janji yang mereka buat. “sedikitpun tidak mengubah pendirian mereka, apakah mereka itu gugur terlebih dahulu atau menunggu” (QS 33:23)
Hakekat Shidq bahwa engkau tetap jujur dalam berbagai kondisi (sulit dan bahaya), padahal engkau hanya dapat selamat dari hal tersebut hanya dengan berdusta, demikian prinsip Junaid Al Baghdadi. Tentu saja tidak boleh bertentangan dengan penghapusan hukuman dusta dalam kondisi penyelamatan saudar beriman dari kezhaliman orang lain, mendamaikan dua saudara yang berseteru dan dusta dalam taktik bertempur”.
Apa yang membuat orang sekaliber Bal’am bisa kehilangan integritas diri, hanyut dalan pusaran lumpur dunia? Ada konflik yang tak disadarinya; melawan kehendak Allah yang sangat berkuasa untuk mengangkatnya setinggi-tinggi, tetapi ia sendiri yang mengikuti grativikasi dunia dan hawa nafsu yang menahan laju jelajahnya kea lam tinggi (akhlada ilal ardl wat taba’a hawah) (QS: 7:176). Betapa mengerikan kemiskinan hati bia melanda kaum berilmu. Mereka merasa rendah diri karena dunia yang tak berpihak, berseberangan dengan posisi tinggi dan jauh dari kedudukan basah. Mungkin ia lupa, kemiskinan itu bukanlah dosa, walau tidak menyenangkan. Mungkin karena pentingnya mengenal profil biang kerok ini. Sampai-sampai Al Qur’an membuka kisahnya dengan “Bacakan kepada mereka” dan menutupnya dengan “maka ceritakan kisah-kisah ini, semoga mereka berfikir” (QS 7:175-176)
Orang-orang yang Ringkih Jiwa
Bal’am bin Baura, Walid bin Mughirah, dan Abdullah bin Ubay adalah profil kaum berilmu yang tak berfaham. Yang pertama, jelas-jelas berseberangan dengan Nabi Musa as dan perjuangannya, lalu bermanis-manis dengan kubangan dunia, Fir’aun. Adakah perbedaan yang cukup gelap antara fir’aunisme kemarin dan Fir’aunisme hari ini, yang membuat Bal’am-bal’am kontemporer membelanya mati-matian?
Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan Walid yang diawal-awal laporan ilmiahnya tentang Al-Qur’an terang-terang menutup semua jalan bagi penolakan Al-Qur’an sebagai Kalam Allah? Kalau matera kita sudah tahu, kalau ucapan manusia kita sudah tidak asing, kalau puisi akulah pakarnya. Gemeretak gigi orang awam di Darun Nadwah rupanya lebih mengerikan baginya, sehingga di akhir presentasinya ia mengeluarkan konsklusi yang bertentangan dengan muqaddimah, “Al Qur’am adalah sihir, lihatlah ia sudah memisahkan anak dari orang tuanya dan budak dari tuanyya”sergahnya
Abdullah bin Ubay si batang balok yang tersandar (QS 63:4), menarik penampilannya dan manis mempesona tutur katanya. Kandidat pemimpin tertinggi Madinah pra hijrah ini yang telah berbunga-bunga hatinya melihat peluang besar menjadi lupa akan prinsip Al Fadlu liman shadaq (kemulian untuk yang jujur) dan terobsesi berat oleh pameo Al Fadlu liman sabaq (kemulian bagi yang lebih dahulu) berdasarkan makna senioritas, bukan kapasitas. Ia lupa bahwa sabaqiyah (senioritas) itu menjadi bermakna dengan shidiqiyah (ketulusan dan kejujuran). Tetapi penyakitnifaq merasukinya dan loyalitas tak dimilikinya. Yang ada hanya kepentingan dan kedengkian. Jadilah ia orang yang manis dimuka dan mengutuk dibelakang, beriman di mulut dan kafir dalam hati.
Pada ketiga tokoh ini sangat menonjol ambisi kekayaan, jabatan dan syuhrah(popularitas), tersurat ataupun tersirat. Dalam kamus mereka kehormatan tal lagi punya tempat dan kejujuran hanya impian orang-orang pander. Namun madzhab langka ini menjadi trend
Ikhlas dan Shidq
Mengagumkan bila dicermati hubungan ikhlas dan shidq. Ikhlasnya artinya menjaga diri dari perhatian makhluq dan shidq artinya menjaga dari perhatian nafsu. Seorang mukhlis tak puinya riya’ (pamer diri), demikian Abu Ali Ad Daqqaq mengurai.
Ka’ab bin Malik pantas mendapatkan bintang Shidq. Hukuman berat diterimanya dengan ikhlas. Ia sadar sedang berurusan dengan Allah, bukan dengan masyarakat yang sebenarnya sangat menghormatinya. Ia yakin Rasulullah Saw pasti akan percaya bila ia membuat-buat alas an absennya dari perang Tabuk. Tak kurang 50 hari berlalu dalam keterasingan yang berat. Kemana ia pergi tak seorangpun menyapa atau menjawab sapaannya. Raja Ghassan menawarkan suaka politik dan posisi dikerajaanya. Bagi Ka’ab, ini juga bala. Maka ia buktikan loyalitasnya dengan kejujuran yang mengagumkan (QS. 9.118)
Banyak ulama yang tak henti-hentinya mengkritik dan meluruskan pemerintah sementara sang amir tak pernah jemu memenjarakannya. Namun saat sang amir menggaungkan perintah jihad, mereka tampil didepan tanpa dendam pribadi. Jihad adalah ibadahku kepada Allah dan maksiat amir itu urusan amir dengan tuhannya. Kritik sudah kulancarkan. Demikian paradiqma para mukhlisin. Khalid bin Walid tegas menjawab pertanyaan heran, mengapa mau-maunya ia bertempur dibawah komando orang lain semetara ia dimakzulkan dari posisi panglima? Ia berjihad karena Allah, bukan karena Umar.
Betapa mengerikan keterasingan pengamal yang selalu saja dihantui apa kata orang. Sunyi terdampar digurun riya’, tersungkur dijurang ujub, segala ketakutan ada disana, kecuali takut kepada Allah.

 Al Amal


Al Amal (serial Untukmu kader Dakwah – 3)

 

 Al Amal

Yang kami inginkan dari al-amal adalah :

Buah dari ilmu dan ikhlas seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an Karim: “Dan katakanlah : “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat amal kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui  akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian amalkan” (QS At Taubah :105)

Adapun urut-urutan amalnya adalah :

  1. Mengoreksi dan memperbaiki diri
  2. Membentuk dan membina keluarga muslim
  3. Memberi petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah
  4. Membebaskan tanah air dari penguasa asing
  5. Memperbaiki pemerintahan
  6. Mengembalikan kepemimpinan dunia kepada ummat Islam
  7. Menjadi soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah Islamiyah ke seluruh penjuru dunia

Banyak orang merasa telah beramal, tetapi tak ada buah apapun yang ia petik dari amalnya, baik itu perubahan fisik, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan ketrampilan beramal. Bahkan tak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi mengira beramal baik. Karenanya Al-Qur’an selalu mengaitkan amal dengan keshalihan, jadilah amal shalih. Kata shalih tidak sekedar bermakna baik, karena untuk makna ini sudah tersedia istilah-istilah khusus, seperti hasan, khair, ma’ruf, birr(kebaikan) dan lain-lain. Sedangkan shalih adalah suatu pengertian tentang harmoni dan tanasuknya (keserasian) suatu beramal dengan sasaran, tuntunan, tuntutan dan daya dukung.amal disebut shalih bila pelakunya mengisi ruang dan waktu yang seharusnya diisi.

Seorang pendusta atau pengikar agama tidak selalu mengambil bentuk penghujat arogan terhadap agama itu. Ia dapat tampil sebagai pengamal yang dermawan atau bahkan pelaku shalat yang khusyu. Namun pada saat yang bersamaan Allah menyebut pendusta agama, karena ia menghardik si yatim dan tidak menganjurkan orang untuk member makan si miskin (QS 107:2-3) Allah telah mengajarkan kita bagaimana bersikap benar, bahkan kepada tetangga yang Yahudi atau Nasrani. Dakwah adalah kerja yang amat mulia, karenanya harus dilakukan dengan memenuhi dua syarat utama yaitu Al Ikhlas was shawab

Ikhlas karena dilakukan semata-mata untuk dan karena Allah. Shawab (benar) karena dilakukan berlandaskan sunnah Rasulullah Saw. Mungkin seseorang menampakkan dirinya berdakwah ke jalan Allah, tetapi ia telah berdakwah ke jalan dirinya, demikian catatan dan komentar syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid dan Al Allamah Abdullah bin Alawi al Haddad dalam Ad Da’watut Taammah.

Betapa banyak amal menjadi berlipat ganda nilainya oleh niat yang baik dan itu tak akan terjadi bila pelakunya tak punya ilmu tentang hal tersebut. Dan demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang beramal tanpa melandasinya dengan ilmu, maka bahayanya akan lebih banyak daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat jadinya anna (kelelahan) dan niat tanpa ikhlasnya jadinya habaa (debu-kesia-siaan) dan ikhlas tanpa tahqiq (realisasi) jadinya ghutsaa (buih)

Kita tak punya kekuatan apapun untuk melarang orang bekerja dalam lingkup amal Islami. Bahkan mereka yang menjalaninya dengan cara yang kita nilai merugikan perjuangan. Ya pada saatnya kita mendapat penyikapan salah dari masyarakat sebagai reaksi salah atas aksi salah yang dilakukan para aktivis Islami.Qadliyah (Problema) kaum Khawarij dan berbagai gerakan lainya menunjukan fenomena para pengamal, dari ikhlas minus fiqh, sampai yang oportunis dan pemafaat jargon.

Alkisah disuatu masa, seorang alim menyelamatkan seekor beruan yang terhimpit sebatang besar. Sebagai tanda terimakasihnya atas jasa sang syaikh, ia berikrar untuk menjadi pengawal yang setia. Dan memang ia buktikan itu. Suatu hari sang tuan tertidur kelelahan. Sesuai ikrarnya beruang menjaga tuannya dengan setia, agar tak mendapat bahaya atau gangguan. Yang menjengkelkannya yaitu lalat-lalat yang hinggap-pergi di wajah syaikh, membuat tidurnya tak nyaman. Ia angkat batu besar dan dihantamkannya ke seekor lalat yang hinggap didahi tuannya. Pecah kepalanya dan entah kemana larinya sang lalat jahanam itu.

Hama-hama Amal

Sebagaimana tumbuhan, amalpun terancam hama. Riya (beramal untuk dilihat), ujub (kagum diri), sum’ah (beramal untuk popular/didengar), mann(membangkit-bangkit pemberian) adalah hama yang akan memusnahkan amal. Seseorang aktivis yang berkorban dengan semua yang dimilikinya harus mengimunisasi amalnya agar disaat hari perjumpaan kelak tak kecewa karena amalnya menjadi haba-an mantsura (debu yang berterbangan)

mereka membangkit-bangkitkan kepadamu keislaman mereka (sebagai jasa). Katakanlah: janganlah kalian bangkit-bangkit keislaman kalian kepadaku, bahkan sesungguhnya Allah-lah yang telah member karunia besar kepadamu karena Ia telah membimbing kalian untuk beriman, jika kalian adalah orang-orang yang benar.” (qs 49:17)

Tidak serta merta rasa beban berat dalam beramal berubah menjadi kesukaan. Kata kuncinya terletak pada: pemaksaan, pembiasaan dan (akhirnya menjadi) irama hidup. Junaid albaghdadi mengatakan :”selama 40 tahun kusembah Allah, ditahun ke-40 itulah baru kutemukan lezatnya.”

Pelipatgandaan kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan para sahabat tidak dapat dikejar generasi manapun. Bayangkan, hanya dalam dua decade saja telah perubahan yang sangat mendasar pada pola sikap, pandangan hidup dan tradisi bangsa Arab dan bangsa-bangsa muslim lainnya. Kerja besar taghyir (perubahan) ini sukses seperti ungkapan Sayyid Quthb dalam maalim fit Thariq berkat komitmen mereka yang (1) menuntut ilmu bukan sekedar untuk mengoleksi ilmu, (2) putus dari jahiliyah kemarin dan menghayati hidup baru dalam Islam, tanpa keinginan sedikitpun untuk kembali ke kancah jahiliyah dan (3) bersiap siaga menunggu komandi Al –Qur’an seperti prajurit siap siaga menunggu aba-aba komandan.

Kerja Untuk Perubahan Masyarakat

Kecenderungan sufi murung, sudah Nampak sejak zaman Rasulullah Saw, namun selalu mendapat koreksi dari beliau. Suatu masa dalam suatu perjalanan pasukan kecil beliau, seorang mujahid terpesona oleh keindahan wahah (oase) ditengah padang pasir dengan rumpunan kurma, sebongkah lahan produktif dan sumber air yang cukup untuk seumur hidup.

Oh alangkah nikmatnya bila aku tinggal disni beribadah ke Madinah, sehingga aku bebas dari gangguan masyarakat atau mengganggu mereka. Rasulullah Saw segera mengoreksi: “Janganlah lakukan itu, karena kedudukan kalian dijalan Allah sehari saja, menandingi 70 tahun tinggal dan beribadah disini.”

Bahkan Imam Ali bin Abi Thalib ra mengecam para pengikutnya yang loyo dalam memperjuangkan kebenaran dan dan pendirian yang mereka yakini:

Oh alangkah mencengangkan keberanian

Mereka dalam melihat kebatilan

Dan lesu kalian dalam memperjuangkan hak

Oh ajaib nian ketika kalian jadi sasaran tembak

Kalian diserang dan tak balas menyerang

Allah ditentang dan kalian tenang

Hari ini ribuan surat kabar, radio dan televise dunia bekerja sama diberbagai kawasan untuk menyebar fasad (kerusakan). Menyedihkan nasib si miskin, yang mampu beli TV, tetapi tidak bisa makan. Hati mereka dibunuh sebelum jasad mereka dihancurkan senjata pamungkas. Kemana ribuan kader yang hanya menggerutu tanpa berbuat apapun kecuali gerutu? Apakah masyarakat depat berubah dengan gunjingan dari mimbar masjid? Hari ini rumah ummat kebakaran, tidakkah setiap orang patut memberi bantuan memadamkan api walaupun dengan segelas air; dengan pulsa perangko dan kertas surat yang dikirim kepada pedagang kerusakan dan menegaskan pengingkaran terhadap ulah mereka dengan siaran dan penerbitanfasad, sebelum mereka mengirim darah dan nyawa mereka kesana ketika usaha santun tak lagi membawa hasil?

Banyak usaha dilakukan. Sebagian menyentuh kulit tanpa isi. Sebagian memaksakan pekerjaan berpuluh tahun dalam waktu sekejap mata. Sebagian membangun symbol-simbol tanpa peduli subtansi dan tujuan untuk apa wahyu diturunkan. Mereka yang senantiasa tadabur Al Qur’an akan melihat keajaiban ungkapan. Ketika Allah mengisahkan kedunguan Ahli Kitab yang bangga dengan status zahir mereka, ia menyebutkan: “Mereka mengatakan, tak akan masuk syurga kecuali (yang berstatus) Yahudi atau Nasrani. Itulah angan-angan mereka”. Dan ketika Ia mengisahkan sikap keberagaman kaum beriman, disebut prestasi mereka: “Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah seraya berbuat Ihsan, maka baginya ganjarannya disisi Tuhannya dan tiada ketakuatan atas mereka, tiada pula mereka akan bersedih”. (QS Al Baqarah:111-112)

Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jama’ah berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah, namun saying mereka tidak meneladani keutamaan mereka. “Barang siapa lambat amalnya tidak akan cepat karena nasabnya” (HR Muslim)

Apa yang harus dikerjakan ?

Hanya pada saat kekikiran dituruti, hawa nafsu ditaati dan setiap orang kagum hanya kepada dirinya sendiri, maka ummat ini boleh mulai mendaftar koleksi orang-orang khassahnya dan meninggalkan awam yang tenggelam. Orang beramal dihari itu seperti 50 kali kerja kamu hari ini (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i)

Sebagai kerja dakwah memang kata, tetapi dapat dituding sebagai Cuma omong, seperti halnya penyiar dan reporter yang mengisi daftar profesi kerjanya dengan ngomong. Namun perlu dibedakan mana dakwah yang mencukupkan diri dan puas dengan member informasi seram kepada khalayak, atau meninabobokkan khalayak dengan mimpi-mimpi indah atau mengingatkan bahaya seraya member jalan keluar. Mampukah mereka tampil sebagai problem solver, ataukah cukup menjadi problem speaker, lalu peluang terbesarnya hanya jadi problem maker. Dan hari banyak juga orang kayak arena jadi problem trader.

 

 At Tadhhiyah (pengorbanan)


At Tadhhiyah (serial Untukmu kader Dakwah -5 )

Yang kami maksud dengan At Tadhhiyah (pengorbanan) adalah :

Pengorbanan jiwa raga, harta dan waktu serta segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan. Dan tidak ada kata jihad didunia tanpa adanya rasa pengorbanan. Anda jangan merasa bahwa pengorbanan Anda akan hilang begitu saja demi meniti jalan fikrah kami ini. Tapi itu tak lain adalah sebuah ganjaran yang melimpah dan pahala  yang besar, barang siapa yang tak mau berkorban dengan kami maka ia berdosa. Karena AllahTa’ala telah menegaskan hal itu dalam banyak ayat Al Qur’an. Dengan memahami ini maka  anda akan memahami doktrin “Mati dijalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi”

___________________________________________________

Ajruki’ala qadri nashabiki”

(ganjaranmu tergantung kadar lelahmu)

  1. Muslim dari Aisyah, ra

Kemauan Berkurban dan Sikap Jujur

Kemauan yang jujur akan terwujud dalam aplikasi yang berani menantang bahaya dan segala hambatan, seperti akar yang sehat menembus tanah yang keras dan bebatuan. Ketika kaum beriman dihadang berulang kali, yang muncul adalah keberanian dan keledzatan merespon tantangan. Dua kali berhasil dengan gemilang memukul mundur serangan kuffar Quraisy di Bandar dan Uhud dalam rentang waktu yang amat singkat . ternyata masih disusul dengan serangan sekutu yang tak seimbang (gabungan)  Yahudi, Quraisy, Gathafan dan Munafiqun). Mungkin kekuatan lain sudah shock, tetapi alih-alih dari itu semua, mereka serentak mengungkapkan sikap yang sama dan padu “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-nya dan benarlah Allah dan Rasul-Nya”  (QS Al Ahzab: 22)

Tidak seperti hewan yang digemukkan dengan memberikan makanan, ternyata iman dan amal shalih digemukkan dengan pengurbanan. Semakin sedikit tubuh mendapat respon bagi kenikmatan syahwatnya maka semakin besar ruh berkurban.

Manusia semacam Bal’am adalah sejenisnya makhluk yang tak henti-hentinya mengikuti tarikan grafitasi syahwat dan mulutnya selalu berliur oleh selera dunia. Berapapun ia diberi tetaplah ia menjulur, bagaikan anjing (QS. Al Araf: 175). Ia akan rela mengurbankan kehormatannya sebagai orang berilmu demi dunia yang tak pernah memuaskan dahaga. Pasanglah jam dan perhiasan mahal ditangan seharga 1 Miliar, lalu lemparkan sepotong tulang dengan sedikit saja daging dan lihatlah apakah anjing itu tetap tertegun melihat kilauan perhiasan yang sangat mahal ataukah akan berlari mengejar tulang? Ah jangankan perbandingan miliar dengan tulang betulan, bayang-bayang tulang yang dilihatnya dipermukaan telaga membuatnya terjerumus oleh baying-bayang tulang dimulut anjing lainnya yang tak lebih dari baying-bayang dirinya.

Jadi Orang Besar dengan Resiko Besar

Ibnu Abbas radhiyanllahu’anhu diminta waktunya sejenak oleh seorang untuk suatu urusan kecil. Datanglah kepadaku dengan urusan besar, urusan kecil berikan buat yang lain. Mengapa nabi Ibrahim selalu meminta lisan shidq dikalangan generasi berikutnya? Mengapa nabi Ismail dan Abu Bakar digelari si jujur? Apa jadinya bila nabi Ibrahim gagal meninggalkan Ummu Ismail dan Ismail alaihissalam di lembah tak bertanaman disisi rumah-nya yang dihormati (QS Ibrahim:37)? Apa jadinya bila Ismailalaihissalam yang beranjak remaja memanfaatkan kemanusiaan bapaknnya agar tak terjadi pengurbanan besar itu (QS Shaad : 102)? Jelas mereka akan menjadi orang yang tak pernah punya peran diatas panggung sejarah, Karena sejarah tak pernah mau mengabadikan orang-orang biasa yang perjalanannya datar tanpa tantangan. Kadang orang merasa ada dinamika dalam sejarah dan ia menontonnya tanpa berpikir ia sendiri mampu menjadi actor sejarah. Inilah thufailiyat (sifat kekanak-kanakan) yang betapapun usia fisik telah jauh diambang tua, namun fikiran pemiliknya tertinggal dimasa lalu yang lugu, mentah dan kekanak-kanakan.

Belakangan datang generasi yang tak merasakannya telah berkurban dizaman awal Islam, saat Muhajirin dan Anshar bahu membahu membangun masyarakat Madinah dan tidak menjadikan Islam sebagai wacana teoritik belaka. Mereka tak merasakan makan daun perdu padang pasir yang membuat luka kerongkongan dan remah mereka sama dengan kotorang kambing dan unta. Mereka tak merasakan blockade tiga tahun di Syi’b Abi Thalib, pergi meninggalkan tanah air atau disita harta dan dibunuhi keluarga mereka.

  Suatu hari datanglah Mush’ab bin Umair ke majelis Rasulullah SAW dengan pakaian bertambal, Beliau menangis mengenang masa-masa Mush’ab dimanjakan orang tuanya dalam jahiliyah. Beliau ingatkan para sahabat: “Bagaimana kamu, bila kelak pagi kamu berpakaian kebesaran dan petang mengganti dengan pakaian kebesaran lainnya, piring-piring makanan datang silih berganti dan kamu mulai memasang penutup dinding seperti Ka’bah dibalut sitar (kelambu)”.

Para sahabat bertanya : “Bukankah saat itu kami jadi lebih  baik, karena dapat sepenuh waktu beribadah dan tercukupi kebutuhan pokok?”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, kamu hari ini lebih baik daripada hari itu”

Pengurbanan dan Tabiat Dakwah

Ia adalah langkah kembali yang benar dan jalan menghindari eksploitasi pengurbanan manusia bagi kepentingan Fira’unisme, Hamanisme, Qarunisme dan Bal’amisme. Dan target ini sesungguhnya target da’wah itu sendiri, yaitu pembebasan. Ia perlindungan sejati bagi hamba-hamba tak berdaya, yang selama ini meniti bukit kurban mereka yang salah dengan lelah, membawa sen demi sen yang mereka peroleh dengan keringat dan darah, bagi monster periba yang kejam dan mati rasa, pemilik modal yang arogan dan sais kereta kebendaan yang ringkih, tua dan berat, dihela keledai-keledai protelar dengan jasad yang semakin kurus, dimangsa para kamerad elite yang tak bermalu, memimpin dengan fanatisme, dendam dan dusta.

Pengurbanan rakyat bodoh yang terus dibodohi oleh para pemimpin berbaju paderi dan kiai, yang memanfaatkan kultus individu dan keyakinan lugu mereka tentang kewalian dan adi kodrati, padahal sang pemimpin lebih dekat kepada ateisme daripada monoteisme, bahkan daripada politeisme sekalipun. Pengurbanan menjadi shalih bila dapat menghantarkan atau mempersembahkan supermasi tertinggi ditangan Allah dan termuliakannya  darah dan nyawa, kehidupan dan kematian hamba, karena tertutup sudah semua jalan bagi berjayanya para penipu, pemeras dan kalangan memperdayakan mayoritas mengambang.

Sesungguhnya pada generasi sebelum kamu, ada yang disisir dengan sisir besi yang menancap kebawah tulang, daging atau sarafnya. Semua itu tak mengalihkan mereka dari agama. Sungguh Allah akan sempurnakan urusan ini, sampai seseorang dapat pergi sendirian dari Shan’a ke Hadharamaut tanpa takut kepada siapapun kecuali Allah” (Al Buthy, Fiqh Sirah 106)

Hanya Untuk-Nya

Dalil yang paling terang bahwa misi tak membuka peluang bagi pengurbanan individu untuk kepentingan figur, adalah melimpahkannya teks-teks larangan kultus, sampai celaan yang sangat bagi seseorang yang senang orang lain berdiri menyambut kedatangnnya. Ketika Imam Ali bin Abi Thalib berkunjung ke suatu tempat, rakyat datang dengan sikap merunduk-runduk.”Alangkah ruginya kelelahan yang berunjung siksaan dan alangkah keberuntungan sikap ringan yang berbuah aman dari neraka” demikian nasihatnya.

Seseorang dapat menikmati kekaguman masyarakat terhadap kuantitas ibadah ritualnya dan ia menikmati ketentraman beribadah sambil melupakan tugas jihad lisan mencegah kemunkaran di masyarakat , penaka burung unta yang merasa telah aman karena berhasil menyembunyikan kepalanya ke dalam gundukan pasir, namun ia tak pernah aman akan tuntutan Allah. Suatu hari Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk menumpahkan adzab kepada penduduk suatu negeri. “ya Rabb, disana ada seorang shalih” lapor malaikat dan Allah sungguh telah tahu hal itu. “Justru mulailah dari dia, karena tak pernah wajahnya memerah karena-Ku (ketersinggungan karena kehormatan Allah dihinakan)” (HR Ahmad)

Mahar perjuangan yang mahal, tidak hanya menjadi tiket menuju kemenangan generasi ta’sis (perintis), tetapi juga bagi generasi sesudahnya. Dan mereka harus membayar dengan pengurbanan yang sama bentuk, format dan gaya yang berbeda. Bagi generasi yang tak terdesak oleh jihad qital (tempur) selalu terbuka pengurbanan dengan berbagai jalan: pengurbanan waktu, perasaan, harta, kesenangan diri, dan lain sebagainya.

Mukmin sejati takkan bergembira karena tertinggal dari kesertaan berkurban, betapapun udzur memberi mereka rukhshah (keringanan), namun “Mereka berpaling dengan mata yang basah menangis, karena mereka tak menemukan biaya (untuk biaya anggkutan perang).” (QS At Taubah: 92).

Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah


Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah

Oleh: Abu Maryam

Para da’i banyak yang merasa kecewa ketika tengah berdakwah, dikarenakan mereka telah merasa optimal memberikan penyampaian, namun tetap saja tidak mendapatkan respon yang positif dari mad’u. Perasaan kecewa ini muncul karena ketidakcermatan da’i dalam memperhatikan satu komponen penting dalam berdakwah, yaitu terkait proses kontemplasi yang dilakukan mad’u, dan itu membutuhkan waktu yang cukup.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal ini, adalah:

Pertama, sadari kita beda ‘dunia.’ Kita harus menyadari bahwa ‘dunia’ tempat berinteraksinya kita dengan mad’u terkadang berbeda, tepatnya tidak berada dalam lingkaran hidup yang Islami. Namun telah bercampur-baur dan terpengaruhi oleh nilai-nilai duniawi, umumnya mereka tumbuh di tengah efek dari materialistis, masyarakat yang ‘sakit’ atau bahkan atheis. Dan karakter seperti ini sudah menyebar banyak di tengah masyarakat, dan para da’i akhirnya berinteraksi dengan sosok yang cara berfikirnya serta kepribadiannya bertolak-belakang dengan mad’u-nya. Sehingga ketidak pahaman kerap menjadi penghalang dalam interaksi seorang da’i dengan obyek dakwahnya.

Karena itu butuh waktu yang panjang untuk mendakwahi mad’u yang seperti ini. Melakukan pendekatan, beradaptasi dengan dunia mereka, sehingga seakan tak ada lagi pembatas dan mad’u pun siap menerima dengan baik perkataan sang da’i.

Kedua, tak ada perkataan yang sia-sia. setiap kata yang terucap dari seorang da’i pada hakekatnya tidaklah pernah sia-sia, melainkan akan terus terngiang dalam fikiran mad’u. Apa yang ia dengar itu sedikit banyak akan merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Apa yang ditaushiyahkan oleh seorang da’i kepada mad’u-nya saat ini, akan menjadi investasi amal bagi dirinya di beberapa tahun kedepan. Seperti yang sering kita temukan, ketika berjumpa dan memberi pesan kebaikan kepada seseorang, ia terkadang mengatakan, “sepertinya saya pernah mendengar taushiyah seperti yang Anda sampaikan tadi.”

Ketiga, cerdas memilih waktu. Memilih waktu yang tepat dalam berdakwah merupakan hal yang sangat penting. Karena setiap orang memiliki waktu privasi, dan dalam kondisi seperti itu ia tidak ingin diganggu, dan tidak siap menerima arahan.

Maka dari itu, berdakwah sangat dipengaruhi dengan kondisi kedua belah pihak, baik da’i mau pun mad’u-nya, keduanya harus berada dalam kondisi yang siap, siap memberi dan menerima. Terutama bagi sang da’i, hendaknya memilih waktu yang tepat, sehingga mad’unya tidak merasa terbebani dan dapat menerima pesan kebaikan itu dengan hati lapang.

Keempat, tidak bertele-tele. Seorang da’i hendaknya tidak ‘berlama-lama’ dalam berbicara dihadapan mad’u, karena hal itu akan membuatnya jenuh dan bosan. Namun sebaliknya, dengan menyampaikan pembicaraan yang singkat padat dan berbobot, tentunya akan membuat para mad’u ketagihan, dan semangat untuk mengikutinya karena ingin mendapatkan yang lebih banyak lagi.

Kelima, jangan tergesa-gesa. Terburu-buru dalam mendakwahi mad’u tentunya tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Karena hal itu justru akan menghadirkan sebuah masalah, bisa jadi mad’u itu menolak, atau menerima tapi tanpa pemahaman. Kedua hal ini seyogyanya diwanti-wanti sebelum terjadi.

Efek dari ketergesa-gesaan dalam berdakwah ini diantaranya adalah mad’u yang menjadi terburu-buru dalam mengambil keputusan, akibatnya ia menolak ajakan sang da’i. Waktu yang singkat memposisikannya tidak secara utuh memahami dakwah itu disampaikan kepada dirinya. Dampak buruknya, ia tidak akan berhubungan lagi dengan dakwah, dan bukan perkara mudah untuk merubah keputusan seseorang. Hal ini terjadi dikarenakan da’i terlalu terburu-buru dalam berdakwah, ibarat memetik buah tapi belum pada waktunya.

Sedangkan bagi mad’u yang terburu-terburu dalam merespon ajakan dakwah, kedepannya mad’u akan terkaget-kaget karena dihadapkan dengan adanya taklif dan kewajiban yang belum pernah ia perkirakan sebelumnya. Sehingga ia merasa ada perang batin dalam jiwanya. Dan bisa berimbas hal negatif terhadap kepribadiannya, berbohong atau bahkan nifak. Seandainya dihadapnnya terdapat peluang untuk kembali memilih, bisa jadi mad’u tersebut tidak memilih untuk bergabung dalam dakwah.

Oleh karena itu, yang selayaknya dilakukan seorang da’i adalah tidak memaksa mad’u-nya terburu-buru dalam mengeluarkan keputusan, namun meminta kepada mad’u untuk berpikir secara perlahan sehingga keputusan yang diambil berdasarkan kemantapan yang lahir dari dalam dirinya. Wallahu al Musta’an

Disarikan dari kitab “Qawaidu ad-da’wah ila Allah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Dârul wafâ’, Manshurah, Mesir.

Kadang Kemenangan Datang Terlambat


Kadang Kemenangan Datang Terlambat

Sayyid Qutb

Kadang-kadang kemenangan itu terlambat datangnya terhadap orang-orang yang dizalimi dan diusir dari negerinya tanpa dasar kebenaran selain mereka berkata “Tuhan kami adalah Allah”. Keterlambatan ini disebabkan oleh suatu hikmah yang diinginkan Allah…

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan karena struktur umat Islam belum cukup matang, belum cukup sempurna, belum berhimpun semua kekuatannya, belum terorganisir baik dan bersatu seluruh jaringan, supaya diketahui seberapa puncak kekuatan amunisi dan kesiapan yang dimilikinya. Kalau ia mendapatkan kemenangan pada saat itu ia akan mudah rontok karena tidak mempunyai kemampuan menjaganya dalam waktu lama.

Kadang-kadang kemenangan terlambat datang hingga seluruh pejuang mencurahkan sagala kemampuan yang ia miliki, dan mengeluarkan apa saja yang ia punya. Maka tidak ada lagi yang tersisa dari barang yang mahal dan berharga kecuali sudah ia sumbangkan. Dia tidak hanya mencurahkan hal yang ringan lagi murahan di jalan Allah.

Kadang-kadang kemenangan itu terlambat datangnya supaya para pengusung kebenaran mencobakan seluruh kekuatan dan kemampuannya, hingga pada akhirnya ia sadar bahwa seluruh kekuatan itu tidak ada artinya tanpa sokongan dari Allah dan tidak akan mencukupi untuk memperoleh kemenangan. Kemenangan itu hanya akan turun bila seluruh kemampuan sudah dicurahkan kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan supaya semakin bertambah kedekatan orang-orang beriman dengan Allah ketika mereka menanggung kesulitan, kepedihan dan pengorbanan. Saat itu mereka tidak menemukan sandaran selain Allah. Dan mereka tidak menghadapkan segalanya kecuali kepada Allah satu-satunya di dalam kesusahan itu. Hubungan ini menjadi jaminan keistiqamahan mereka nanti setelah Allah memberikan kemenangan. Hingga mereka tidak akan membangkang dan melenceng dari kebenaran, keadilan dan kebaikan di saat kejayaan menyapa mereka.

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan karena umat yang beriman belumlah betul-betul melepaskan segalanya dalam berjuang dan mencurahkan apapun demi Allah dan demi dakwahnya. Ia berperang untuk mendapatkan harta rampasan perang, atau karena gengsi kehormatanya, atau supaya disebut pemberani di depan musuhnya. Allah menghendaki supaya jihad untuk-Nya satu-satunya. Bebas dari segala bentuk perasaan yang menyamarkannya.

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan karena di dalam kejahatan yang ditentang oleh umat yang beriman masih terdapat sisa-sisa kebaikan. Allah menghendaki ia betul-betul bersih dari kejahatan supaya dia betul-betul murni. Dan kejahatan itu menyingkir dengan sendirinya dalam kondisi hancur. Tidak ada sedikitpun dari kebaikan yang ikut binasa bersamanya.

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan karena kebatilan yang diperangi umat yang beriman belum tersingkap kepalsuannya dihadapan manusia dengan sempurna. Andaikan orang beriman mengalahkannya pada waktu itu, pasti akan ada pembantu dari orang-orang yang tertipu olehnya, yang belum yakin dengan kerusakanya dan belum yakin kalau dia mesti lenyap. Maka nanti ia akan tetap mengakar dalam jiwa-jiwa orang awam yang belum bisa menyingkap hakikat mereka. Sehingga Allah membiarkan kebatilan sampai betul-betul terbuka di depan manusia dan mereka tidak akan merasa kecewa dengan kehilangannya.

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan karena lingkungan belum kondusif untuk menerima kebenaran, kebaikan dan keadilan yang diperankan umat yang beriman. Andai diberi kemenangan pada waktu itu pasti ia mendapatkan penentangan dari lingkungannya sendiri, dan ia tidak akan bisa tenteram bersamanya.

Senantiasa pertarungan berlanjut hingga jiwa-jiwa betul-betul siap untuk menerima kebenaran dan meyakini bahwa kebenaran itu mesti berjaya..

Karena semua ini, dan demi yang lainnya dari hal-hal yang hanya diketahui Allah, kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan. Maka saat itu akan berlipat ganda jumlah pengorbanan, dan akan berlipat-lipat rasa pedih, pilu dan sakit, bersamaan dengan datangnya pembelaan Allah terhadap orang-orang beriman dan terwujudnya pertolongan bagi mereka pada akhirnya.

Allahumma ‘ajjil lana bin nashr.
Sumber: www.sinaimesir.net
*Alih bahasa: Ust. Zulfi Akmal, MA
http://www.al-intima.com 

Nasihat-nasihat “Sesat” Saat Curhat


Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi dan komunikasi manusia modern sangat luas dan bebas. Bukan hanya bertemu secara langsung, namun dengan leluasa bisa terhubung 24 jam sehari semalam dengan semua orang melalui teknologi. Persahabatan tentu banyak memberikan kebaikan dan nilai positif bagi manusia, karena pada dasarnya kita selalu saling membutuhkan satu dengan yang lain. Salah satu manfaat sahabat adalah sebagai teman curhat dan meminta nasehat.

Namun tidak jarang, persahabatan memberikan dampak negatif, terutama ketika menemukan sahabat yang sering menyampaikan nasehat nekat dan sesat. Di saat seseorang curhat, bukannya mendapatkan nasehat yang positif dan konstruktif, justru mendapat inspirasi dan motivasi untuk melakukan perbuatan jahat. Apalagi ketika terkait persoalan rumah tangga, salah-salah mendengar nasehat bisa jadi akan menimbulkan keputusan yang salah dan tidak tepat.

Kadang seorang suami menceritakan masalah keluarga kepada teman kerjanya, atau seorang istri curhat tentang problem keluarga kepada teman dekatnya. Pada kondisi teman curhat adalah orang yeng tepat, maka akan bisa memberikan nasehat yang juga tepat dan bermanfaat. Namun apabila curhat kepada orang yang salah, bisa memberikan nasehat yang salah dan menyesatkan. Belum lagi ketika teman curhat ini memiliki kepentingan dan keinginan pribadi tertentu, akan membuat semakin memberikan nasehat yang sangat subyektif.

Nasehat Nekat dan Sesat dari Sahabat

Ada sangat banyak contoh nasehat yang justru mengarahkan kepada kondisi yang lebih buruk dan lebih parah dari masalah semula. Di ruang konseling kami sering mendapat cerita dari para klien, bahwa mereka mendapat nasehat dari teman-temannya untuk melakukan tindakan tertentu. Sayangnya nasehat itu tidak mengajak mereka kepada kebaikan dan keutuhan rumah, justru sebaliknya. Berikut beberapa bentuk nasehat sesat yang didapatkan saat curhat kepada sahabat yang tidak tepat.

Kamu bodoh mau dibodohi pasangan kamu

“Bodoh benar kamu ini mau dibodohi pasangan kamu…..”

“Jangan mau dibodohi pasangan kamu…”

“Kamu ini benar-benar bodoh di hadapan pasangan kamu….”

Ungkapan-ungkapan seperti ini dari sahabat saat curhat, memberikan sugesti yang kuat, seakan-akan dirinya tengah dibodohi oleh pasangan. Seorang istri merasa dirinya tengah ditipu dan dibodohi oleh pasangan, sehingga ia bertekad tidak akan memaafkan kesalahan suami. Ia percaya perkataan sahabat-sahabatnya yang konsisten menyebut dirinya bodoh, maka ia pun merasa bodoh jika memaafkan suami. Padahal memaafkan adalah ciri orang bertaqwa, bukan ciri orang bodoh.

Seorang suami merasa benar-benar bodoh setelah mendengar nasehat dari sahabat, maka ia menjadi berpikiran sempit dan berniat menghajar sang istri yang telah membuat kesalahan. Di saat ia masih menimbang-nimbang apa yang akan dilakukan terhadap kesalahan istri, mendadak menjadi kalap setelah mendapat ‘pencerahan’ dari sahabat yang menyebutkan dirinya adalah suami bodoh. Hal ini membuat dirinya tidak berpikir panjang untuk mengambil keputusan, karena tidak ingin disebut bodoh dan tidak ingin menjadi bodoh.

Semestinya, suami atau istri yang tengah curhat didinginkan hatinya, ditampung kesedihannya, dihibur dengan kebijaksanaan. Bukannya dipanas-panasi dengan pernyataan kebodohan semacam itu. Satu hal yang harus dipahami adalah, dalam setiap konflik suami istri, selalu ada versi dari kedua belah pihak. Saat menerima curhat dari satu pihak, itu belum cukup untuk digunakan memahami apalagi mengambil kesimpulan dari masalah yang sesungguhnya sedang terjadi. Maka ungkapan yang membodohkan itu menjadi nasehat yang bisa menyesatkan bagi mereka yang mendengar dan mempercayainya.

Balas saja dengan selingkuh

“Suami kamu sudah selingkuh, jangan diam saja, balas dengan selingkuh…”

“Kamu laki-laki, kalau istri kamu bisa selingkuh, kamu pun bisa selingkuh…”

“Kamu biarkan saja dia selingkuh? Balas saja dengan selingkuh, biar dia kapok…”

Nasehat dari sahabat saat curhat, kadang menyemangati seorang laki-laki atau perempuan untuk melakukan balas dendam dengan melakukan kesalahan yang sama dilakukan pasangan. Misalnya ketika seorang suami selingkuh, maka istrinya berhak membalas dengan selingkuh. Jika seorang istri selingkuh, maka suaminya berhak membalas dengan selingkuh pula. Ini tentu sebuah nasehat yang sesat, karena menyuruh orang baik-baik melakukan penyimpangan dengan alasan balas dendam.

Semestinya suami atau istri dinasehati agar introspeksi diri, lalu mengajak pasangannya untuk bertaubat, membuat komitmen bagi perbaikan hubungan mereka di masa sekarang dan yang akan datang. Bukannya dikompori untuk melakukan balas dedam, disemangati untuk selingkuh, karena ini akan semakin membuat rusak keluarga yang tengah ada masalah, ditambah lagi menambah orang yang berbuat salah. Semula yang salah satu orang, lalu pasangannya dikompori melakukan kesalahan, jadilah semua menjadi sama-sama salah.

Nasehat untuk melakukan balas dendam seperti itu jelas-jelas sesat dan menyesatkan. Ajaran agama menyuruh kita untuk mudah memaafkan, sedangkan bagi pihak yang melakukan kesalahan hendaknya dibimbing untuk bertaubat. Jika balas dendam dilakukan oleh istri dengan alasan suaminya selingkuh, nanti suami akan membalas lagi dengan selingkuh berikutnya dengan alasan selingkuh yang dilakukan istrinya lebih parah dibanding yang dia lakukan pertama. Lalu istrinya akan membalas lagi dengan selingkuh lagi dengan alasan karena suaminya sudah selingkuh dua kali, maka iapun harus selingkuh dua kali. Kondisi seperti ini tidak ada selesainya jika dituruti, dan akan menyebabkan kerusakan moral dalam keluarga. Mereka menjadi keluarga rusak dan bejat karena mengikuti nasehat sesat.

Ngapain kamu masih mau bertahan?

“Aku heran, diperlakukan seperti itu oleh suami kamu, kok kamu masih mau bertahan hidup dengannya…”

“Ngapain kamu pertahankan istri seperti itu? Tinggalkan saja…”

“Untuk apa hidup berumah tangga dengan orang seperti itu? Tidak ada lagi gunanya…”

Dalam pandangan agama, pernikahan adalah ikatan sakral (mitsaqan ghalizha) yang harus dijaga keutuhannya. Tidak boleh diceraiberaikan ikatan itu dengan semena-mena tanpa alasan yang bisa diterima oleh pandangan agama. Oleh karena itu, mengompori suami untuk meninggalkan atau menelantarkan istri adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Sebagaimana memanas-manasi istri untuk lepas dan meninggalkan suami adalah tindakan yang tidak tepat dan tidak benar. Apalagi situasinya hanya sepihak, curhat hanya mendengarkan masalah dari satu versi saja, ini membuat pandangan yang tidak adil dan tidak berimbang.

Semestinya, dalam situasi konflik, yang harus dinasehatkan adalah agar suami dan istri saling mendekat, untuk mencari solusi secara dewasa dan bijaksana. Suami dan istri yang tengah menghadapi konflik diajak dan dinasehati untuk bisa bersabar menghadapi situasi sulit itu dan tetap mempertahankan keutuhan hidup berumah tangga. Nasehat yang mengajak untuk saling menjauh, meninggalkan, menelantarkan pasangan, bertentangan dengan nilai kesakralan sebuah ikatan pernikahan. Bertahan demi keutuhan keluarga, adalah sebuah pilihan dewasa, sambil mencari solusi terbaik atas masalah yang mereka hadapi.

Memilih untuk pergi dari pasangan karena marah, jengkel dan bermasalah, adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab dan tidak dewasa. Itu seperti keputusan anak kecil yang lari dari rumah setelah dimarahi ibunya. Sebagai orang dewasa, semua masalah harus diselesaikan dengan dewasa pula. Jika marah, jengkel dan kecewa, bicarakan baik-baik dengan pasangan. Cari solusi bersama pasangan, tetaplah bertahan walau kadang suasana tidak seperti yang diharapkan. Jika merasakan hal yang tidak menyenangkan dalam pernikahan ingatlah bahwa tujuan menikah bukan hanya untuk bersenang-senang. Maka tetaplah bertahan, sambil mencari jalan keluar dari permasalahan.

Tinggalkan saja dia, masih banyak laki-laki/perempuan lainnya

“Cari suami lagi saja, masih banyak kok laki-laki baik yang mau sama kamu…”

“Cari cewek sana, sangat mudah bagi kamu untuk mendapatkan istri baru…”

“Kayak gak ada orang lain saja, banyak tuh orang-orang yang suka sama kamu…”

Nasehat yang mengarahkan suami untuk mencari istri lain dengan meninggalkan istri yang ada, adalah provokasi yang membahayakan. Demikian pula nasehat yang mengajak istri untuk mencari suami lain dengan meninggalkan suami yang ada, adalah provokasi yang semakin merusak kebahagiaan hidup berumah tangga. Semestinya, di saat konflik suami dan istri dinasehati agar mencari solusi yang bisa manyatukan dan mengembalikan keharmonisan keluarga. Bukan dinasehati agar secepatnya mencari suami atau istri baru padahal masalah dengan pasangan belum menemukan titik penyelesaian.

Nasehat seperti itu potensial menimbulkan masalah baru. Masalah pokok dengan pasangan belum terselesaikan, namun sudah ditambah dengan masalah lagi karena suami mulai mencari istri baru, atau si istri mulai mencari suami baru. Bisa jadi kenyataannya memang seperti yang dikatakan para sahabat yang memberi nasehat tersebut, bahwa suami masih memiliki banyak fans yang akan mudah dijadikan istri; dan bahwa istri masih memiliki banyak pemuja yang akan mudah menjadikan dirinya sebagai istri. Namun nasehat itu tidak bisa diterima, karena semestinya suami dan istri dinasehati untuk berpikir keras mencari solusi demi bisa mengembalikan keutuhan keluarga.

Ketika banyak sahabat yang mengompori seorang suami untuk mencari istri baru, dirinya merasa mendapat legitimasi untuk melakukan nasehat itu. Akhirnya ia mulai berulah dengan aktif mencari gebetan yang nanti bisa dijadikan istri apabila sudah bercerai dengan istri yang sekarang. Demikian pula ketika banyak sahabat memanas-manasi seorang istri untuk mencari suami baru, dirinya bisa merasa mendapatkan legitimasi untuk mulai berdekat-dekat dengan laki-laki yang diharapkan akan menjadi suami barunya kelak ketika sudah resmi berpisah dari suami yang sekarang. Tindakan ini membuat semakin parahnya permasalahan, bukan menyelesaikan dan mendamaikan, justri menceraiberaikan.

Sesekali waktu carilah kesenangan di luar rumah

“Ada banyak kesenangan di luar rumahmu, sesekali carilah kesenangan…. Itu adalah hak kamu….”

“Kamu berhak bahagia… Jika suami kamu tidak bisa membahagiakan kamu, masih banyak kok kebahagiaan lain di luar rumah kamu…”

“Kalau istri kamu tidak bisa membahagiakan kamu, cari saja kebahagiaan dari perempuan lain di luar rumahmu….”

Nasehat semacam itu sangat jauh dari nilai kebaikan. Suami dan istri semestinya mencari kesenangan dan kebahagiaan bersama pasangan, bukan bersama orang lain yang tidak halal baginya. Memang benar ada banyak orang bisa dengan mudah diajak bersenang-senang, namun itu sama sekali tidak menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi dalam keluarga mereka. Justru akan semakin membuat masalah semakin meluas dan melebar, tidak ada batasnya. Kesenangan yang didapatkan dengan cara tidak halal, adalah kesenangan semu yang justru akan menghantarkan keluarga dalam kehancuran.

Ketika suami dikompori untuk mencari kesenangan lain di luar rumah, mungkin dirinya akan termotivasi untuk melampiaskan hasrat yang selama ini terpendam kepada perempuan lain yang tidak halal baginya. Bahkan mungkin akan ‘jajan’ dengan perempuan penghibur yang bekerja demi bayaran. Demikian pula ketika istri dikompori untuk mencari kesenangan lain di luar rumah, mungkin dia akan termotivasi untuk melakukan selingkuh dengan laki-laki lain sebagai pelampiasan hasratnya. Seakan-akan ini hanya untuk pelampiasan hasrat yang sudah lama tidak tersalurkan kepada pasangan karena sedang ada permasalahan.

Suami atau istri terdorong mencari penyaluran hasrat sesaat tanpa ikatan, karena hanya untuk mencari kesenangan dan pelampiasan. Seakan-akan ini adalah tindakan yang wajar dengan alasan “aku kan berhak bahagia”. Padahal tindakan seperti itu jelas menyimpang dan rusak, dampaknya akan semakin memperparah persoalan hidup berumah tangga. Nasehat yang mendorong munculnya tindakan seperti itu jelas sesat, maka jangan dipercaya dan jangan diikuti.

Cari Sahabat yang Tepat

Nah berbagai contoh nasehat dari sahabat yang didapatkan ketika sedang curhat tersebut, benar-benar bisa membawa kepada mudharat. Tidak memberikan manfaat untuk menjaga kebaikan dan keharmonisan keluarga, justru memprovokasi untuk mengambil sikap serta tindakan yang membahayakan. Hal ini semestinya disaring dan difilter dengan cermat oleh suami dan istri yang tengah menghadapi masalah, agar tidak mudah menerima nasehat sesat dan nekat dari sahabat-sahabat yang menjadi tempat curhat.

Pilih sahabat yang salih dan salihah, yang mengajak kepada kebaikan dan menjaga martabat. Jangan memilih sahabat yang mengajak melakukan perbuatan maksiat. Semua nasehat yang mengarahkan kepada perbuatan bejat, adalah nasehat sesat yang tidak boleh digunakan dalam mengambil keputusan. Keluarga adalah pondasi yang sangat berharga dalam kehidupan manusia, maka jangan menjadikannya sebagai bahan permainan dan bahan percobaan. Keluarga harus dijaga dengan segenap cinta, dirawat dengan segenap tenaga, diarahkan dengan segenap daya, agar tetap harmonis, bahagia dan memberikan ketenteraman dalam kehidupan.

Ada sangat banyak konselor, psikolog atau ulama terpercaya tempat curhat yang bermartabat. Yang bisa memberikan nasehat yang tepat dan membimbing suami serta istri menuju kebaikan dunia maupun akhirat. Jangan dengarkan nasehat sesat yang justru akan membawa kepada maksiat dan laknat.

Di dalam Citilink QG108, Jakarta — Yogyakarta 22 Agustus 2017

Cahyadi Takariawan

Penulis Buku Wonderful Family Series

Penulis Buku Serial “Wonderful Family”, Peraih Penghargaan “Kompasianer Favorit 2014”; Konsultan di “Rumah Keluarga Indonesia” (RKI) dan “Jogja Family Center” (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Temu Jiwa Sentuh Fisik


Temu Jiwa Sentuh Fisik

Anis Matta - Temu Jiwa Sentuh Fisik
Shalatnya panjang dan khusuk. Keluh dan resah mengalir dalam doa-doa. Hasrat dan rindu merangkak bersama malam yang kian kelam. Usai shalat perempuan itu akhirnya rebah di pembaringan. Cemasnya belum lunas. Lama sudah suaminya pergi. Untuk jihad, memang. Tapi cinta tetaplah cinta. Walaupun jihad, perpisahan selalu membakar jiwa dengan rindu. Maka ia pun rebah dengan doa-doa; “Ya Allah, yang memperjalankan unta-unta, menurunkan kitab-kitab, memberi para pemohon, aku memohon pada-Mu agar Engkau mengembalikan suamiku yang telah pergi lama, agar dengan itu Engkau lepaskan resahku. Engkau gembirakan mataku. Ya Allah, tetapkanlah hukum-Mu di antara aku dan khalifah Abdul Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami”.
Untungnya malam itu Khalifah Abdul Malik bin Marwan memang sedang menyamar di tengah pemukiman warga. Tujuannya, ya, itu tadi; mencari tahu opini warga soal pengiriman mujahidin ke medan jihad, khususnya istri-istri mereka. Dan suara perempuanlah itulah yang ia dengar.

Ini tabiat yang membedakan cinta jiwa dari cinta misi; pertemuan jiwa dalam cinta jiwa hanya akan menjadi semacam penyakit jika tidak berujung dengan sentuhan fisik. Disini rumus bahwa cinta tidak harus memiliki tidak berlaku.

Cinta jiwa bukan sekedar kecenderungan spritiual seperti yang ada dalam cinta misi. Cinta jiwa mengandung kadar sahwat yang besar. Dari situ akar tuntutan sentuhan fisik berasal. Mereka menyebutnya passionate love. Tanpa membawa semua penyakit. Sebagaimana hanya akan berujung kegilaan. Seperti yang dialami Qais dan Laila.

Ini mengapa kita diperintahkan mengasihi para pecinta; supaya mereka terhindar dari cinta yang seharusnya menjadi energi, lantas berubah jadi sumber penyakit. Maka sentuhan fisik dalam semua bentuknya adalah obat paling mujarab bagi rindu yang tak pernah selesai. Ini juga penjelasan mengapa hubungan badan antara suami istri merupakan ibadah besar, tradisi kenabian dan kegemaran orang shalih. Sebab, kata Ibnu Qayyim dan Imam Ghazali, ia mewariskan kesehatan dan jiwa raga, mencerahkan pikiran, meremajakan perasaan, menghilangkan pikiran dan perasaan buruk, membuat kita lebih awet muda dan memperkuat hubungan cinta kasih. Makna sakinah dan mawaddah adalah ketenangan jiwa yang tercipta setelah gelora hasrat terpenuhi,

Makna itu dapat dipahami Abdul Malik bin Marwan. Maka ia pun bertanya, “Berapa lama wanita bisa bertahan sabar?” “Enam bulan” jawab mereka. Kisah itu sebenarnya mengikuti pada temuan yang sama dimasa Umar bin Khattab. Dan di kedua kisah itu, kedua perempuan itu sama-sama melantunkan syair rindu dan hasrat, dan Abdul Malik bin Marwan mendengar bait ini;

air mata mengalir bersama larut malam
sedih mengiris hati dan merampas tidur
bergulat aku lawan malam
terawangi bintang hasrat rindu mendera-dera
melukai jiwa

Memang hanya puisi tempat jiwanya berlari. Melepas hasrat yang tak mau dilepas. Sebab rindu tetap saja rindu. Puisi tak akan pernah sanggup menyelesaikannya. Sebab memang begitulah hukumnya; hanya sentuhan fisik yang bisa mengobati hasrat jiwa.