Tag Archive | religion


9 Prinsip Dakwah dalam Surat Yassin (20-21)

Islamedia – Dakwah dijalan Alloh adalah sebuah pekerjaan mulia yang memiliki Prinsip-Prinsip yang telah ditetapkan oleh Sang Maha pemberi titah (Alloh SWT) agar perjalanan dakwah yang kita lakukan tepat sasaran.,dan tidak terjebak pada kepentingan sesaat (Pragmatisme).oleh karenanya Arahan yang telah ditetapkan oleh Alloh SWT dapat dijadikan sebagai batu pijakan yang kokoh bagi para kader dakwah untuk mensukseskan langkah-langkah dakwahnya.
وَجَاء مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

36.20. Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”.

اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ

36.21. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Didalam surat Yasin ayat 20 dan 21 terdapat 9 point tersirat tentang prinsip-prinsip dakwah tersebut :

1. Wa Jaa-a’ ( Dan Datanglah )

Sebuah keharusan bagi seorang Da’i untuk datang ( berdakwah), datang menuju tempat-tempat yang memiliki peluang untuk berdakwah,datang karena panggilan keimanan saat melihat kemunkaran merajalela, kapanpun dan dimanapun. Tekad yang selalu tertanam dalam jiwa mereka bahwa kedatangan (kehadiran ) mereka adalah untuk melakukan perubahan terhadap berbagai bentuk kebatilan (Kemunkaran). Dalam Surat Al-Isra : 81 Alloh berfiman :
وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً

17.81. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Dan juga dalam Surat Saba: 49 Alloh berfiman :
قُلْ جَاء الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ

34.49. Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi “.

Jika seorang da,i datang /tinggal disuatu tempat maka sudah menjadi kewajiban moral baginya untuk menjadi Agent of Change ( Agen Perubahan ) ditempat tersebut.

2. Min Aqshol Madiinah (Dari ujung Kota)

Menggambarkan tentang jauhnya perjalanan yang harus ditempuh dalam melakukan dakwah, Sehingga para dai harus bertadhiyah (berkorban) waktu ,tenaga , dan juga harta dalam perjalanan dakwahnya. meskipun perjalanan dakwah itu dilakukan hanya oleh segelintir orang saja dikarenakan perjalanan dakwah itu terasa amatlah jauh dan melelahkan, namun, walaupun jauh Seorang dai harus tetap melakukan dakwahnya tanpa mengandalkan orang lain. Sebagaimana Firman Alloh dalam Surat At-taubah : 42
لَوْ كَانَ عَرَضاً قَرِيباً وَسَفَراً قَاصِداً لاَّتَّبَعُوكَ وَلَـكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

9.42. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah : “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

3. Rojulun ( Seorang laki-laki)

Alloh tak menyebut status ,nama, jabatan orang (da’i) yang dimaksud didalam ayat ini , meskipun menurut asbabunnuzul ayat bahwa laki-laki yang dimaksud adalah habib An-nazar.Hal ini memaknai bahwa dakwah bisa dilakukan oleh siapa saja (seseorang) yang memiliki kesadaran ( Al-Wa’yul Harokah) bahwa watawaa shoubilhaq,watawaa shoubisshobr (saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran) adalah kewajiban Insan beriman.Lihat Al-Asr : 2-3
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

103.2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

103.3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

4. Yas’a (Bergegas-Gegas)

Berdakwah dengan penuh kesungguhan (Jiddiyatud Dakwah), tidak berlambat-lambat, atau berleha-leha terhadap agenda dakwah yang telah ditetapkan, atau dengan teganya kita berpangku tangan ketika melihat yang lain sibuk dan bergegas.Alloh berfirman dalam Surat Al-Mu’minun Ayat 61
أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

23.61. mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya .

Namun harus juga dibedakan antara bergegas/segera dengan Terburu-buru (Isti’jal), Bergegas adalah Gerak cepat , tepat, dan akurat (Terencana) sedangkan Isti’jal adalah tergesa-gesa tanpa perencanaan,yang tentunya hasilnya akan berbeda.5. Qoola (Ia Berkata)
Berkata dalam pengertian berupaya menyampaikan dakwah dengan lisan (kata-kata) disetiap ada kesempatan berbicara (pandai memanfaatkan momen).. Sehingga setiap Da’i harus melatih kemampuannya di dalam menyampaikan dakwah melalui kata-kata, sebagaimana Nabi Musa yang menginginkan memiliki kemampuan dakwah melalui kata-kata (Orator) , hal ini dapat di lihat dari Do’a yang dipanjatkannya kepada Alloh Azzawajalla. Sebagaimana yang Alloh firmankan dalam surat Thaha : 27-28
وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي

20.27. dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,

يَفْقَهُوا قَوْلِي

20.28. supaya mereka mengerti perkataanku,

6. Yaa-Qoumi (hai kaumku)
Adalah Audiens dakwah (Mad’uw) yang jumlahnya banyak dan bertebaran dimana –mana (yang belum tergarap), setiap orang yang jauh dari hidayah Alloh itulah sasaran dakwah kita untuk kita dekatkan mereka kepada Robbnya.Didalam Alqur’an Surat Almu’min : 38 Alloh berfirman :

وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ

40.38. Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.

7. Ittabi’ul Mursaliin ( Ikutilah Utusan-Utusan Itu)
Muatan dakwah yang mengajak Manusia agar menjadi pengikut Alloh dan Rasul ,bukan pengikut kita, untuk menghilangkan Kultus Individu (Figuritas), Prinsip ini menjadi begitu penting untuk diperhatikan seiring dengan maraknya majlis-majlis yang melahirkan kultus individu.Al Quran Surat Al ‘Imran : 79:
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَاداً لِّي مِن دُونِ اللّهِ وَلَـكِن كُونُواْ رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

3.79. Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani , karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

8. Ittabi’uu Manlaa yas’alukum ajro (Ikutilah orang yang tidak meminta balasan kepadamu)

Terkait dengan Shihatul Ittijah (Sehatnya Orientasi), karena tujuan utama dakwah adalah bertransaksi dengan Alloh SWT untuk mencari keridoanNya, Terlindung dari azabnya dan masuk kedalam Syurga yang dijanjikanNya Dengan demikian Seorang dai harus meluruskan niat dakwahnya hanya untuk mencari keredhoan Alloh, bukan untuk tujuan popularitas ataupun tujuan materi dll. Alloh berfirman dalam Al Quran surat As Saff ayat 10-11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

61.10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

61.11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

9. Wahum Muhtaduun (Dan Mereka adalah Orang yang Mendapat Petunjuk)
Artinya para Da’i ilalloh adalah orang –orang yang didalam dakwahnya selalu berpegang kepada manhaj yang benar ( Al-Qur’an dan Sunnah ) , dan mereka konsisiten berpegang kepadanya, Hujjah-hujjah (Argumentasi) yang dipergunakan adalah Qolalloh wa Qoola Rasuul.FirmanNya dalam Surat An-najm ayat 4:
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

53.4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Dalam Surat Yusuf Ayat 108

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

12.108. Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

Jika 9 Prinsip-Prinsip dakwah diatas di amalkan oleh setiap mu’min, maka tiada tempat yang sepi dari orang-orang yang berdakwah,menyeru manusia kejalan TuhanNya, semoga kita dapat melaksanakannya.
Wallohu A’lam
Ustadz Muhammad Ridwan

Kita ingat dia (tarbiyah) atau melupakannya Monday


Refleksi untuk kader tarbiyah
Aktifitas tarbiyah seyogyanya dijalankan sepekan sekali bagi orang-orang yang tinggal dengan akses jalan dan kendaraan yang sudah dimudahkan. Berbeda dengan wilayah-wilayah pedalaman atau yang transportasi dan akses jalan terbatas, maka bisa menjadi maklum (ruksoh) kalau mereka melaksanakan halaqoh tarbiyah dua pekan sekali. Tetapi banyak juga dari mereka meski akses jalan dan kendaraan sulit, ia berusaha menjalankan aktifitas tarbiyah tetap sesuai manhaj yaitu satu pekan sekali. Subhanallah bukan….
Sekarang coba kita tanya pada diri. Seberapa komitmenkah kita dengan aktifitas tersebut?
Kita ingat dia (tarbiyah) atau kita melupakannya.
Aktifitas yang sejatinya sudah disepakati seminggu sekali dengan jam, hari dan tempat yg telah menjadi kesepakatan bersama dengan mudah kita khiyanati dengan tanpa bukti dan dalil syar’i.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Aktifitas yang sejatinya sudah disepakati seminggu sekali, sudah tak sabar kita untuk bertemu dengannya kembali, walau baru tiga hari lalu kita bertemu saudara-saudara kita dalam majelis halaqoh tarbiyah ini.
Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa merasa bersalah membiarkan sang murabbi menunggu hingga lamanya. Tak bisakah kita hadir tepat waktu atau konfirmasi jikalau kita telat atau tidak bisa hadir dalam agenda tarbawi.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha tepat waktu dan mendahului sambil membuka buku bacaan atau mushaf al-quran baik tilawah atau murajaah, sebagai siasat menunggu kehadiran murabbi dan saudara seperjuangan lainnya.
Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa merasa bersalah, tak hadir dengan tanpa kabar beritanya. Mungkin kita berfikir, memang siapa dia sampai sampai-sampai kita harus mengabarinya. Toh tugas orang tua (tugas kuliah) lebih penting dari pada menghadiri majelisnya.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha hadir dengan energi yang terbaik meski seharian kulaih, bisnis dan berorganisasi. Kita sudah merasa terikat dengan rukun halaqoh dalam jamaah ini, menjadikan mereka sebagai keluarga kami dan berusaha membatu kondisi dari teman-teman kami. Kita bangun majelis ini dengan ikatan cinta karna ilahi.
Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa bersalah tidak hadir dalam majelisnya dan malah asik dengan pekerjaan yg sejatinya bisa kita serahkan (delegasikan) pada orang lain atau bisa kita tunda sejenak aktifitas itu. Karna saya ketuanya lah, saya ini it dan sebagainya. Bahkan tak jarang kita membuat atau memilih aktifitas tandingan agar kita punya alasan untuk tidak hadir pada aktifitas pekanan tersebut.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Kita luangkan waktu untuk majelis ini, berusaha mengosongkan agenda pada malam yang sudah kita sepakati menjadi malam cinta dipekan ini. Berusaha menggesar rapat, syuro dan betemu dengan klien bisnis kami. Tugas kuliahpun berusaha diselesaikan sebelum dimulainya pertemuan cinta ini atau kita tunda dan lanjutkan setelah selesainya aktifitas lingkaran cinta ini. Karena kami rindu dengan majelis ini.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Kita masih belum menjadwalkan dalam agenda kita, bahwa halaqoh tarbiyah menjadi bagian dari daftar kegiatan kita. Yang ada kita hanya menunggu apakah ada pesan dari sang ustad/ ketua kelompok untuk bisa hadir dlam majelis tersebut. Tak ada inisiatif utk bertanya atau mengingatkan murabbi atau teman-teman satu kelompoknya. Jika tak ada pesan atau pengingat lainnya tak jarang kita berdalih lupa. Jangankan menanyakan informasi atau materi dimajelis tersebut, mananyakan kapan pertemuan selanjutnyapun kita pun masih sungkan..
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha memastikan jadwal kembali, kapan pertemuan cinta dalam pekan ini. Meski baru saja 3 hari lalu dilalui dan berusaha mengingatkan murabbi dan teman seperjuangan jika tak ada pesan yang singgah sebagai notifikasi halaqoh pekan ini. Kita bersemangat menghadirkan saudara kita dalam majelis halaqoh ini, meski bonus sms sdh tdk ada lagi dan meski pulsapun harus saatnya diisi.
Kita ingat dia atau kita melupakannya
Tarbiyah memang bukan segala-galanya tapi segala-galanya berawal dari tarbiyah. Berawal dari kesadaran kita mengkaji ilmu qauniyah dan qauliyah dengan itu tasqofah dan pemahaman kita insyaAllah bertamabah.
Ya Allah, sungguh Engkau tahu bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam kecintaan kepada-Mu, telah bertemu dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah-Mu, telah berjanji untuk membela syariat-Mu.
Maka eratkanlah Ya Allah, rabithahnya (ikatannya), abadikan kecintaannya, tunjukilah jalan-jalannya, isilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tak pernah padam, luaskanlah dada-dadanya dengan luapan iman kepada-Mu, keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkan dengan ma’rifat-Mu, matikanlah dalam syahadat di jalan-Mu.
Sungguh Engkau sebaik-baik Pelindung dan Penolong. “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun kerana mengasihi-Mu, bertemu untuk mematuhi (perintah)-Mu, bersatu memikul beban dakwah-Mu, hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk mendaulat dan menyokong syari’at-Mu.

TAUJIH QIYADAH TAWADHU’ & KEBERKAHAN DAKWAH


TAUJIH QIYADAH

TAUJIH UST. SALIM SEGAF AL-JUFRI : TAWADHU’ & KEBERKAHAN DAKWAH

1. Mari kita berharap keberkahan Allah pada dakwah ini. Keberkahan itu datangnya dari keyakinan kita kepada Allah, bahwa semua kekuasaan/kemenangan/kekalahan itu terjadi atas kehendak Allah. Kita tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa konspirasi musuh menyebabkan kekalahan kita. Mau konspirasi apapun kalau Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Mari kita melihat amal ini dengan pendekatan dakwah.

2. Evaluasi kita : kita tergiring secara tidak sadar menjadikan politik sebagai panglima. Lalu dakwah dan kaderisasi kita lupakan. Tolonglah slogan OBAH KABEH MUNDAK AKEH itu jangan dimaknai AKEH kursi dan suaranya. Tapi akeh dan mundak keberkahannya. dan itu dengan tetap menjadikan dakwah sebagai misi utama kita. Kursi itu bukan tujuan kita. Kalau kita pantas menerimanya Allah akan berikan. Saya membayangkan andai seluruh anggota dewan kita di indonesia ini di sebar merata ke desa desa yang ada di seluruh negeri. Lalu berdakwah, membina masyarakat dan kita punya kemampuan untuk itu. Insya allah keberkahan akan turun dengan cara itu. Tidak ada urusannya dapat kursi atau tidak.

3. Evaluasi kita : kita sering membuat target target yang sebenarnya tau itu diluar kemampuan kita. Lalu kita terjebak dengan cara cara yang jauh dari keberkahan untuk memaksakan mencapai target itu. Mengumpulkan dana dana syubhat. Bergantung pada konglomerat anu. konglomerat itu. Proyek ini itu.dst. Sekian suara harganya sekian M. Lalu dimana nilai keberkahan dakwah ini? begitu juga dengan perilaku politik kita yang kadang menyalahi sunnatullah. Begadang sampai hampir pagi menjaga suara. Toh tetap jebol juga. Apakah kita ini lebih sibuk dari Rasulullah? beliau selalu tertib dalam hal tidur dan bangun pagi. Di malam hari beliau serahkan dakwah di tangan Allah. Beliau tidur dan qiyamullail. Sesekali bolehlah begadang. Tapi kalau menjadi politic style kita itu sudah salah.

4. Allah hanya ingin kita ini bekerja semaksimal kemampuan kita. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Tidak perlu memaksakan pola pola dan cara cara yang diluar kemampuan kita. Jokowi itu sebenarnya contoh dari Allah, bahwa ketika Allah berkehendak, dengan dana pencitraan orang bisa mendapatkan kekuasaan dan Allah juga yang berkuasa menjatuhkannya. Jadi, mari kita semakin tawadhu’ dihadapan Allah. Semakin kita tawadhu’ dan merasa butuh pertolongan-Nya, maka pertolongan akan mendekat. Jangan terlalu ngoyo menampakkaan bahwa kita ini punya kekuatan. Semakin kita berpikir kita punya kekuatan, lalu melupakan Allah, maka justru pertolongan semakin menjauh. (dalam konteks ini, Ust salim menyebut stagnannya suara PKS dari PEMILU ke PEMILU)

5. Itulah sebabnya para ulama mengajari kita doa : Allahummarzuqnaa ma’rifatan yas habuha bil adabi. Ya Allah beri kami ma’rifat kepadamu, yang diiringi dengan adab terhadap-Mu. Kita mengenal Allah tapi kita tidak punya adab dan sopan santun terhadap-Nya. Lalu kita merasa sudah punya kekuatan.dan mulai melupakan-Nya. Ini namanya kita tidak beradab dan sopan santun terhadap Allah.

6. Jangan juga gara gara jabatan politik lantas life style dan perilaku kita berubah. Terbiasa dilayani. Kesenggol dikit marah marah dimana mana seolah ingin menunjukkan kita ini kuat. Kita lupa berapa ton nikmat Allah yang sudah kita makan melalui mulut kita. Mari jadi orang yang biasa biasa saja. dan mengingat bahwa semua ini pemberian Allah yang tidak akan kekal.

7. Pada akhirnya mari memperbanyak dzikrullah. Imam ali berkata :: inna lillahi fil ardhi aaniyatun wa huwa al qolbu. Sesungguhnya Allah itu memiliki tempat di bumi, yaitu dalam hati kita. kita ini standar nya ma’tsurot sughro. Itupun masih suka nanya : ada yang lebih sughro lagi nggak tadz? insya Allah dengan dzikir yang banyak itu keberkahan akan turun.
Wallahu Al musta’aan.

(Taujih ini disampaikan dalam forum dengan para kader ba’da subuh hari

Renungan untuk kita semua


Hadiah untuk saudaraku, Idwan Agus Tuharea dan renungan untuk kita semua.

 

Sejarah silam…silih berganti….

Mengalir deras tiada penghalang
Bersama cahaya penyuluh
Muhammad rasul pilihan

Zaman berzaman silih berganti
Kini din mu ditinggal sepi
Tiada pembela tiada pengganti
Dahaga tiada terperi

Wahai pemuda dan juga pemudi
Sambutlah lambaian din mu yg suci
Tidakkah kalian simpati
Kekasih ditinggal sendiri

Wahai pemuda dan juga pemudi…
Telah lama din mu menanti…
Kembalilah….
Kembalilahh…
Menyambut…seruan din yang suci…

****

Nasyid yang selalu membuat mata berkaca2….
Ikhwah fillah….

Satu ayat yang harus selalu jadi semangat kita disaat berjuang dan pengingat di saat lemah…

Ayat yang selalu didengungkan oleh para murobbi pada binaannya dahulu….

Ayat yang disampaikan oleh al ustadz al kariem Hilmi Aminuddin di masjid komplek DPR saat bada menyolatkan jundiyyah fid da’wah, ustadzah Yoyoh Yusroh (Allahu yarham)…
Yang menderaikan air mata yang hadir….

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya),
(Al Ahzab: 23)

Kata “Rijal” yang jika di dampingi kata “muanasnya” akan bermakna laki2.

Namun jika tidak (berdiri sendiri), akan bermakna “orang2 yang punya kapasitas di atas rata2″. Begitulah kata tafsirnya.

Ya, diantara orang2 beriman itu ada orang2 yg punya kapasitas di atas rata2 yg benar janjinya pada Allah. Janjinya sebagai hamba,
Janjinya sebagai mukmin,
dan janjinya sebagai da’i dan jundi…

Diantara mereka ada para sahabat (radhiallahu ‘anhuma), tabi’in, mujahidin, asy syahid HAB, SQ, ….., ustadzuna Rahmat Abdullah, Ahmad Madani, Bijak, Yoyoh Yusroh, dan juga engkau saudaraku Idwan Agus Tuharea, yang telah mendahului kita. Menggadaikan jiwanya untuk memenuhi janjinya pada Rabbnya….

Namun, “waminhum man yantadzir, wamaa baddalu tabdiila”….
Diantaranya ada yang masih menunggu2.
Bukan menunggu mati, tapi menanti kehidupan sesungguhnya saat perjumpaan dengan Allahu Rabbul ‘Alamin.
Menanti dengan amal2 terbaiknya.
Menanti dengan harta2 terbaiknya.
Menanti dengan amal2 utamanya.
Menanti dengan ketaatan terpatuhnya.
Menanti dengan perjuangan terhebatnya.
Menanti dengan segala upaya menjaga dan membuktikan kebenaran janjinya pada Khaliqnya.

Menanti dengan menjadi hamba maka dia tunduk dan patuh.
Menanti dengan menjadi mukmin maka dia taat.
Menanti dengan menjadi da’i maka dia sibuk dalam dakwah.
Menanti dengan menjadi jundi maka dia berjuang bersama dalam barisan yang rapat dan kokoh….

“Maa baddalu tabdiila”
Tidak pernah berubah bahkan berpikir untuk merubah janjinya pun tidak….

Adakah kita termasuk “Man yantadzir. Wamaa baddalu tabdiila”
Adakah kita, yaa ikhwatal iiman fiid da’wah?

Uhibbukum fillah…
Arsal

Etika Debat dalam Islam


Etika Debat dalam Islam

 

Debat dalam bahasa Arab disebut jadal. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Ghazali member definisi jadal sebagai keinginan untuk saling mengalahkan dan menjatuhkan seseorang dengan menyebutkan kekurangannya. Dengan demikian, tidak jarang debat memunculkan banyak sisi negatif. Misalnya saja, menumbuhkan emosi orang tertentu, lantaran tidak menerima kritik orang lain terhadap dirinya. Dan yang lebih parah, bila forum debat sudah menjadi arena debat kusir yang tak jelas ujung pangkalnya, sehingga semakin jauh dari kebenaran. Itu sebabnya, debat sering dikaitkan dengan salah satu sebab penyimpangan. Banyak umat terdahulu yang tersesat setelah mereka mendapat petunjuk, lantaran perdebatan mereka tentang kebenaran. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Tidaklah sekelompok kaum menjadi sesat kembali setelah memperoleh petunjuk, kecuali mereka melakukan jadal.” Selanjutnya beliau membacakan surat az Zukhruf yang artinya “Mereka tidak member perumpamaan itu padamu melainkan dengan maksud membantah saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (HR Ahmad dan Turmudzi, hadits hasan shohih).

Karenanya, Rasulullah SAW melarang umatnya untuk terlibat dalam perdebatan. “Saya adalah pemimpin rumah di bawah naungan surge, bagi orang yang meninggalkan debat sekalipun dalam posisi yang benar…” (HR Abu Dawud, dan dicantumkan dalam silsilah hadits shohih oleh Nashiruddin al Abani I/47).

Namun, tidak semua jadal bernilai negative. Jadal pernah disebutkan dalam al Quran sebagai salah satu media dakwah yang cukup efektif. Allah SWT berfirman, “Serulah (mereka) ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik serta bantahlah(jadal) mereka dengan bantahan yang lebih baik.” (QS. An Nahl: 125). Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Janganlah kalian membantah ahlul kitab kecuali dengan bantahan yang lebih baik…” (QS. Al Ankabut: 46).

Islam telah menggariskan sejumlah rambu yang dapat memelihara perdebatan agar tidak keluar dari jalur yang benar.

Pertama, dengan memelihara etika Islam dalam memberi nasehat. Beberapa etika Islam dalam hal ini, misalnya memberi nasehat harus dilakukan dengan rahasia dan tidak di depan orang banyak, menggunakan cara yang sesuai dan waktu yang tepat, harus didorongan dengan niat untuk membenarkan dan mengubah ke arah yang lebih baik, ikhlas karena Allah, menyandarkan semua kemampuan kepada kehendak Allah, dan sebagainya. Bila adab-adab ini dilanggar, maka pemberian nasehat justru berakibat pada timbulnya sikap bangga terhadap dosa atau kesalahan pada diri orang yang dinasehati. Orang tersebut bahkan berupaya untuk terus mengungkapkan bantahan dan perdebatan, agar bebas dari kesalahan, dan cenderung tidak mau menerima nasehat.

Kedua, melenyapkan ambisi selalu ingin menang dan tak mau kalah. Ambisi seperti ini akan menjadikan seseorang tidak mempan dengan segala kritik. Inilah diantara hikmah firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (QS. An Nisa:135).

Ketiga, membentengi diri dengan al Quran dan sunah sebelum mendalami pengetahuan tentang teknik perdebatan. Ilmu tentnag teknik perdebatan dan diskusi, antara lain ilmu mantiq dan filsafat. Mendalami teknik perdebatan dan diskusi memang bisa mendorong seseorang terjerumus dalam perdebatan yang negative. Apalagi, bila hal itu dilakukan sebelum ia memiliki basic moral yang baik terhadap al Quran dan sunah. Itu sebabnya, sebagian ulama melarang mempelajari ilmu filsafat dan mantiq. Di antara mereka ada yang membolehkannya, yaitu Saifuddin al Amidi. Beliau mengemukakan alasan bahwa manusia memiliki potensi akal sebagai anugerah Allah. Potensi itu dapat digunakan sebagai neraca pertimbangan berbagai masalah, membedakan antara yang haq dan yang bathil, yang bermanfaat dan berbahaya.

Di antara ulama yang melarang adalah al Hafizh Abu Amr Ma’ruf Ibnu Sholah. Menurutnya pelarangan disebabkan ilmu-ilmu tersebut akhirnya akan mengantarkan seseorang pada sikap ragu dan bahkan boleh jadi sampai pada tingkat pengingkaran terhadap kebenaran yang sudah ada.

Selain mereka, ada pula diantara ulama yang bersikap mutawasshith (pertengahan). Seorang Muslim dibolehkan mempelajari ilmu filsafat dan matiq dengan catatan telah memiliki benteng al Quran dan sunah. Dan dilarang bagi mereka yang tidak memiliki kriteria tersebut. Pendapat seperti ini dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah.

Keempat, menghindari sikap ujub dan takabur. Karena sikap inilah yang menyebabkan orang terjerumus dalam debat kusir. Orang yang menderita ujub dan takabur, cenderung menempuh cara untuk menarik perhatian orang. Miraa’ atau jadal merupakan salah satu cara yang ditempuh. Cara inilah yang pernah dilakukan oleh iblis tatkala menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Ketika Allah SWT berfirman, “Apa yang menghalangimu untuk sujud kepada yang Aku ciptakan, apakah engkau takabur atau merasa lebih tinggi?” (QS. Shaad: 75).

Saat itulah iblis menjawabnya dengan konteks kalimat yang menjurus kepada jadal atau perdebatan. Kata iblis, “Saya lebih baik daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api sedang Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Shaad: 76).

Inilah salah satu hikmah di balik firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Ghafiir: 56).

Kelima, mengisi hati dengan ma’rifatullah dan taqwa. Hati yang senyap dari ma’rifatullah dan taqwa adalah hati yang kosong dari kesadaran atau rasamuroqobatullah (pantauan Allah). Kondisi hati tersebut (hati yang kosong) akan menyebabkan masuknya ambisi dunia serta was-was setan yang selalu merongrong agar melakukan kejahatan. Dari sinilah, seseorang disibukkan dengan pekerjaan sia-sia, salah satu diantaranya adalah debat. Karenanya Allah SWT menyeru kepada hambanya agar memerangi kekosongan hati dengan melakukan variasi ibadah, sehingga hati tidak bosan atau jenuh dan mendorong seseorang terjerat dalam perdebatan yang sia-sia. Allah berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7-8).

Al Hafizh Ibnu Katsir memberi komentar terhadap dua ayat tersebut sesuai atsar para salah; “Bila engkau selesai mengerjakan kesibukan urusan dunia, dan engkau telah putuskan ikatan-ikatannya, maka sungguh-sungguh dan giatlah melakukan ibadah dengan pikiran yang kosong.” Seperti ungkapan mujahid rahimahullah dalam ayat ini: “Bila engkau selesai mengerjakan urusan dunia, maka berdirilah melakukan sholat dan bersungguh-sungguh kepada Tuhanmu.”

( mh )

Melawan Provokasi


Melawan Provokasi

 

“Engaku tahu gunjingan orang seputar istri Rasulullah?” tanya Abu Ayyub al Anshari kepada istrinya.

“Ya, dan semua itu dusta besar,” sahut istrinya tegas.

“Engkau sendiri, mungkinkah melakukan hal seperti itu?” desak Abu Ayyub.

“Tak mungkin aku melakukannya, demi Allah.”

“Dan Aisyah, demi Allah jauh lebih baik dari engkau,” sahut Abu Ayyub.

Dialog itu turut mewarnai suasana tegang di Madinah. Hari-hari itu Rasulullah tengah menghadapi beban berat. Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri tercinta beliau, diisukan berbuat serong dengan Shofwan bin Mu’athol.

Kisahnya bermula dari peristiwa perang Bani Musthaliq. Menjelang keberangkatan ke Bani Musthaliq, bulan Sya’ban tahun 5 hijriyah, seperti biasa Rasulullah SAW mengundi siapa istrinya yang diajak serta berperang. Hari itu, Aisyah dapat undian untuk menemani Rasulullah. Biasanya bila bepergian, Aisyah yang berbadan kurus itu naik ke atas sekedup (semacam tenda kecil) yang diletakkan di punggung unta.

Sepulang dari Ban Musthaliq, di sebuah tempat yang hampir dekat dengan Madinah, Rasulullah dan kaum muslimin menginap beberapa malam. Hingga suatu hari Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk meneruskan perjalanan. Saat itu, usai buang hajat, Aisyah kehilangan kalung permata Yaman. Saying, benda berharga itu tak ia temukan. Ia mencoba mencari lagi dan akhirnya ketemu. Namun, begitu kembali ke tempat singgah pasukan Islam, ia sudah tertinggal rombongan. Mereka yang mengangkat sekedup ke punggung unta tak tahu bahwa di dalamnya tak ada Aisyah.

Aisyah lantas menyelimuti dirinya dengan jilbabnya, kemudian berbaring. Ia berharap mereka akan kembali bila tahu dirinya tertinggal. Tak berapa lama, lewatlah Shofwan bin Mu’athol, menunggang unta. Ia tertinggal kafilah kaun muslimin karena suatu keperluan. Shofwan terkaget-kaget. Ia tahu bahwa itu Aisyah, sebab sebelum turun ayat yang mewajibkan pemakaian jilbab, Shofwan telah mengenali Aisyah.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, istri Rasulullah di sini? Apa yang menyebabkan engkau tertinggal?” ucap Shofwan spontan.

Tak sepatah kata pun diucapkan Aisyah. Shofwan segera menundukkan untanya. Aisyah pun naik dan Shofwan menuntun unta itu. Doa orang itu tak bisa menyusul rombongan kaum muslimin, hingga tiba di Madinah.

Kehadiran keduanya menjadi makanan empuk gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Segera saja ia melempar isu, bahwa istri seorang Nabi telah berbuat serong. Berita dusta itu menjalar bak api melahap padang ilalang kering. Beberapa orang termakan isu. Hamnah bin Jahsy (saudara kandung Zainab binti Jahzy, istri Rasulullah), Misthah (pembantu Abu Bakar), dan Hassan bin Tsabit turut memperkeruh suasana.

Suasana makin panas. Aisyah sendiri jatuh sakit sepulang dari perjalanan itu. Tragisnya, Aisyah tak tahu menahu tentang apa yang terjadi di luar. Ia tak mengerti bahwa ada peristiwa besar yang menyangkut dirinya, yang berputar dari mulut satu ke mulut yang lain. Yang dirasakan Aisyah, hanya Rasulullah sedikit berubah dari biasanya. Kasih lembutnya terasa kering. Hanya itu.

Sampai suatu hari Rasulullah berbicara di hadapan kaum muslimin di masjid. Dari atas mimbar ia memuji Allah, lantas menyatakan sikapnya.

“Wahai sekalian manusia. Kenapa orang-orang itu menyakiti keluargaku? Mereka berbicara tentang sesuatu yang sama sekali tidak benar. Demi Allah, aku tidak melihat keluargaku kecuali baik-baik selalu.”

Seorang sahabat Anshar, Usaid bin Hudhair dari suku Aus, menyela, “Wahai Rasulullah, bila orang-orang itu dari Aus, kami siap bereskan mereka. Dan bila mereka dari Khazraj, maka perintahkan kami untuk menyelesaikan urusan engkau. Demi Allah, mereka itu orang-orang yang layak dipenggal batang lehernya.”

Mendengar itu, Sa’ad bin Ubadah, yang berdarah Khazraj naik pitam. Ia segera menimpali.

“Demi Allah, kamu tak akan bicara seperti itu kecuali karena engkau tahu gembong masalah ini (Abdullah bin Ubay) dari Khazraj. Kalau saja ia dari kaummu, pasti bicaramu tak seperti itu.”

“Pendusta kamu ini, demi Allah. Kamu hanyalah munafik yang membela munafik,” balas Usaid.

Suasana kian panas. Beberapa orang nampak berlompatan. Keributan mulai muncul. Hampir saja orang-orang Aus dan Khazraj saling baku hantam. Rasulullah segera turun dari mimbar.

 ***

Hampir satu bulan masalah ini berjalan tanpa bisa dituntaskan kebenarannya. Rasulullah mencoba menggali kejujuran Aisyah. Ditemuilah istri tercintanya yang telah tinggal di rumah orang tuanya, Abu Bakar ash Shiddiq. Tak ada tegus sapa. Aisyah hanya menangis.

“Wahai Aisyah. Takutlah engkau kepada Allah. Bila engkau telah telah melangkah kepada keburukan, bertaubatlah. Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya.”

Air mata Aisyah makin deras. Tak ada kata yang mampu diucapkan. Ia berharap bapak-ibunya memberi jawaban. Lama ditunggu, keduanya tak juga buka suara.

“Tidakkah engkau berdua menjawab Rasulullah,” sahut Aisyah lemah sambil memandang kedua orang tuanya.

“Kami sendiri tak mengerti harus menjawab apa,” sahut Abu Bakar.

 ***

Ada banyak pelajaran berharga yang harus kita gali. Pertama, stabilitas sosial kaum muslimin akan selalu jadi incaran musuh-musuh Islam. Utamanya kalangan tokoh dan pemimpinnya. Segala cara akan dilakukan mereka untuk menghancurkan umat Islam. Bisa saja dengan memfitnah secara keji, tuduhan buta, sampa tindakan kekerasan sekali pun. Karenanya, umat Islam – apalagi dalam era seperti sekarang ini – tak boleh dengan mudah menelan opini dan isu yang berada di masyarakat. Sumber informasi harus jelas, dari segi autentitasnya maupun pembawanya (QS. Al Hujurat: 6). Kecerobohan sebagian sahabat yang termakan isu itu telah mengguncang kehidupan Rasul dan kuam muslimin.

Kedua, peran supremasi hokum dan ulama sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial umat Islam. Suku Aus dan Khazraj yang nyaris bentrok termakan provokasi kaum munafik bisa diatasi dengan kebenaran Aisyah yang ditetapkan melalui wahyu, dengan turunnya ayat 11 surat An Nuur. Karenanya, melalui tangan para ulama, seharunya al Quran dan sunah Rasul didudukkan fungsinya bagi penegakan hukum,khususnya pada saat kita banyak diterkam isu seperti hari-hari ini.

Ketiga, komunitas orang-orang yang mampu menahan diri seperti Abu Ayyub dan istrinya perlu ditumbuh-kembangkan. Di tengah masyarkat kita yang keropos, kita sangat perlu Usamah bin Zaid yang dengan jujur membela kebaikan keluarga Rasulullah. Kita butuh Burairah, pelayan Aisyah yang tahu betul keseharian Aisyah. Yang hanya bisa mengatakan, “Setahuku Aisyah tak lain seorang wanita yang baik. Aku bikin adonan roti, lalu aku minta ia menyimpannya. Rupanya ia tertidur di atas adonan itu dan datanglah kambing memakan adonan itu.”

Komunitas orang-orang yang bersih itu harus dibesarkan. Agar ada kekuatan yang bisa menetralisir isu dan opini kotor yang meracuni umat Islam. Sesudah itu, perlu dipikirkan wadah institusionalnya yang suaranya didengar dan wibawanya diakui. Hari ini tak akan kita jumpai Nabi baru, tidak juga wahyu baru. Tak mungkin kita menunggu surat-surat pembenaran dan pembelaan dari langit. Perlu kerja keras untuk menciptakan masyarakat muslim yang imannya kuat, berakhlak luhur dan anti-provokasi. Wallhu a’lam bishowab.

Sumber: Majalah Sabili

( mh )

Tujuh Modal Utama Gerakan Dakwah


Tujuh Modal Utama Gerakan Dakwah

KH. Hilmi Aminuddin

 

Kekuatan moral dan spiritual. Itulah yang akan menjadi modal pertama dan utama dalam setiap pergerakan. Mungkin saja landasan moral dan spiritual sebuah pergerakan salah atau batil, tetapi pasti punya semangat. Apatah lagi kita yang mempunyai landasan moral dan spiritual yang benar, yang berasal dari Allah SWT.

Kekuatan moral dan spiritual yang benar akan menghasilkan azzam (tekad) dan irodah qowiyyah (kemauan yang kuat)Bahkan orang akan muda selamanya dan bergairah terus jika bergerak atas landasan moral dan spiritual yang benar. Dan kita Alhamdulillah telah diberikan karunia itu oleh Allah SWT.

Modal yang kedua adalah modal intelektual. Allah sangat merangsang manusia lewat ayat-ayat Al-Qur’an yang berbunyi ‘afala ta’qilun, afala yatafakkarun. Otak yang terpakai oleh manusia hanya sekitar 5% dari volume otak kita. Kemudian kekuatan ini ditambahkan dengan kekuatan pendidikan/tarbiyyah.

Modal yang ketiga adalah modal ideology/idealisme, yang dengan adanya ini kita mempunyai visi dan misi. Ini juga merupakan karunia Allah kepada kita berupa pikiran yang baik, bisa mempunyai pandangan jauh ke depan walaupun dalam masa-masa sulit. Selalu menjadi barisan pelopor, barisan perintis dengan kejelasan ideologi ini.

Modal keempat adalah modal manhaj/metodologi. Allah tidak hanya memberikan perintah saja tetapi juga konsepsi dan landasan operasional. Shalat dan haji diperintahkan oleh Allah, tetapi dalam pelaksanaannya Allah mencontohkan melalui Rasulullah. Dalam berjuang dan berjihad pun harus mengikuti Rasul, tidak membeo, tetapi harus mengerti. Qudwah kepada Rasul merupakan kebutuhan, bukan hanya sekedar kewajiban, karena tanpa Rasul Islam tak bisa jalan. Rasulullah yang mencontohkan kepada kita dakwah dan jihad yang jelas, terarah, dan sistemik.

Modal kelima adalah modal kefitrahan. Dinul Islam adalah modal besar karena sesuai dengan fitrah manusia, tidak berbenturan dengan kultur manusia, binatang, dan ekosistem. Bahkan Allah menegaskan bahwa semuanya itu adalah jundi-jundi (tentara) Allah. Artinya, kita harus yakin bahwa pergerakan yang bertentangan dengan fitrah manusia adalah bertentangan dengan Allah. Karena semuanya bergerak dalam nuansa dan irama yang sama. Semuanya bertasbih kepada Allah. Karena itu, jika perjuangan Islam kompak dengan perjuangan alam / universe, maka perjuangan itu akan berhasil. Pohon, tumbuhan, binatang, cuaca, gejala alam, kesemuanya menjadi teman-teman perjuangan kita.

Jika berjuang tanpa fitrah alam, pasti akan gagal. Karena fitrah itu baku dan tetap sepanjang zaman. Ini adalah modal yang sangat besar walaupun kita tidak merasakannya, padahal bantuan Allah lewat alam/nature itu tinggi. Misalnya, bekerja dalam hujan tidak masuk angin, angin dan hujan jadi penyegar. Bahkan kesemuanya itu mengokohkan jika kita berstatus jundullah. Caranya, sesuaikanlah sifat jundiyyah kita dengan jundiyyah angin, binatang, pohon, dan lain-lain. Rasulullah sering dibantu oleh jundi alami ini (tumbuhan, binatang, cuaca, dan lain-lain). Bahkan karomah para sahabat dalam perang Qodisiyah ketika mereka menyeberang sungai mereka berkata: ‘Wahai air, kita sama-sama jundullah, bantulah saya karena sedang melaksanakan tugas’. Akhirnya air yang dalam dan deras itu menjadi dangkal dan tenang untuk dilewati.

Modal keenam adalah modal institusional. Kerja kita adalah kerja kolektif, yang banyak orang tidak memilikinya. Kita memperoleh banyak dukungan dari proses-proses jama’i ini. Seperti tawasshou bil haq dan tawasshou bish shobri. Itu hanya bisa dilakukan dengan jama’ah, karena tawasshou ini diperlukan dalam gerakan agar tidak tergelincir. Ba’duhum awliya u ba’din. Kritikan dan peringatan itu perlu. Itu semua hanya bisa dilakukan dalam proses institusionalisasi. Ketika tantangan dakwah berat dan sulit, ada tawasshou bish shobr sehingga menimbulkan daya tahan. Wama dho’ufu wa mastakanu, serta tawasshou bil marhamah. Ketika seseorang tersebut tidak sendirian, tetapi bersama-sama dengan banyak orang, potensinya tidak akan terpuruk.

Modal ketujuh adalah modal yang sifatnya material. Sebenarnya Allah telah banyak memberikan modal material ini kepada kita berupa alam semesta beserta segala isinya. Tetapi mungkin kita belum bisa mendayagunakannya. Bahkan dalam QS Al-Hajj 34, Allah berfirman bahwa ‘Telah Aku datangkan segala apa yang kamu butuhkan, wa in ta’uddu ni’matallah laa tuhsuha. Tetapi karena kezaliman dan ketidak proporsionalan kita, sehingga tidak memiliki daya inovatif dan kreatif untuk memanfaatkannya. Menyadari nikmat Allah itu penting. Bagaimana nikmatnya udara, sehari kurang lebih 350 kg kita memakai oksigen untuk tubuh kita, 1/5 nya dipakai oleh otak.

Kesadaran memiliki modal dasar itu penting demi irodah qowiyyah dan azzam. Kalau melihat perjalanan dakwah ke belakang, zaman tahun 80-an, zaman Benny Moerdani, bagaimana dakwah itu dikekang, diatur dan dikendalikan. Bahkan menafsirkan QS Al-Ikhlas saja diberangus, sampai akhirnya setelah dikejar-kejar, temanya diganti menjadi syarat sahnya wudhu. Justru di masa-masa sulit itulah dakwah berkembang dan berekspansi karena punya modal banyak.

Pada saat itu para muwajih tidak dijemput dengan mobil, tetapi banyak yang berjalan kaki karena keadaan ekonomi yang sulit. Cari tempat acara dauroh juga sulit. Halaqoh di kebun binatang, di taman, di lapangan, di kebun raya, tanpa whiteboard. Itu semua karena kita punya kesadaran bahwa kita kaya, yang menyebabkan kita selalu menjadi barisan perintis dan barisan pelopor. [ ]

Sumber: al-intima