Tag Archive | sakinah

Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)


Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)

Keimanan yang kokoh menjadi perisai bagi setiap kader dakwah. Dan hal ini hendaknya menjadi sebuah kelaziman. Sehingga keimanan itu betul-betul bak perisai kuat untuk menahan lajunya serangan musuh yang senantiasa datang silih berganti. Perisai ini wajib selalu berada di tangan aktivis dakwah. Ia tak boleh lepas sekejappun apalagi hilang tak berketentuan arah. Keimanan yang diumpamakan perisai itu berawal dari kekuatan tauhid yang tertanam dalam sanubarinya. Tauhid yang kuat dan bersih dari berbagai penyimpangannya. Ia diasaskan dari kalimat yang baik (kalimatun thayyibah) yang terikat dalam jiwanya. Kalimat yang baik dari kekuatan tauhid ini lantaran persaksian dan komitmen loyalitasnya pada Sang Maha Perkasa. Hingga kalimat itu, Allah SWT umpamakan seperti pohon yang baik.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ . تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (Ibrahim: 24 – 25).

Pohon ini tiada duanya di muka bumi ini. Ia tumbuh subur dan berkembang pesat dan mampu melawan serangan hama dan penyakit. Sehingga ia menghasilkan buah yang tak pernah henti. Malah menumbuhkan pohon-pohon lainnya. Itulah pohon keimanan.

Disebut Syajaratul Iman (Pohon Keimanan) lantaran keimanan yang kokoh laksana sebuah pohon yang selalu memberikan manfaat yang amat banyak;

– Buahnya dapat dikonsumsi oleh setiap makhluk yang menginginkannya.

– Dahannya dapat menjadi sarang serta tempat bertengger burung-burung.

– Daunnya yang lebat menjadi tempat berteduh musafir yang lewat.

– Akarnya menyimpan persediaan air untuk bumi yang tandus.

Inilah pohon keimanan yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Beliau mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah SWT. menyerupakan pohon iman yang bersemi dalam hati dengan pohon yang baik. Akarnya menghunjam ke bumi dengan kokoh dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan buah setiap musim. Jika engkau renungkan perumpamaan ini tentulah engkau menjumpainya cocok dengan pohon iman yang telah mengakar kokoh ke dalam dan di dalam hatinya. Sedang cabangnya berupa amal-amal shalih yang menjulang ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan hasilnya berupa amal shalih di setiap saat menurut kadar kekokohannya di dalam hati. Kecintaan, keikhlasan dalam beramal, pengetahuan tentang hakikat serta penjagaan hati terhadap hak-haknya’.

Diantara para ulama penafsir Qur’an mereka berpandangan bahwa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits riwayat Ibnu Umar RA. Dalam kitab shahih. Ar Rabi’ Ibnu Anas mengatakan bahwa orang mukmin itu pokok amalnya menghunjam ke bumi sedang buah amalnya menuju langit lantaran keikhlasannya dalam beramal.

Ibnul Qayyim mengatakan, ‘Tidak ada perbedaan diantara ke dua pendapat itu karena makna yang dimaksud tamsil ini adalah sosok orang mukmin sejati. Sedang pohon kurma adalah sebagai gambaran yang menyerupainya dan dari diri orang mukminlah sebagai sosok yang diserupakannya’. Pohon-pohon keimanan ini tumbuh dan berkembang bahkan menumbuhkan pohon lainnya.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam kitabnya Ar Raqa’iq menggambarkan bahwa pohon-pohon itu bak laksana kumpulan tanaman taman nan indah. Setiap orang yang melihat pasti ingin berteduh didalamnya. Setiap melihat buah mesti tangan ingin menjamahnya. Pokoknya taman itu amat menarik hati. Pohon-pohon yang tumbuh di taman nan menawan itu adalah:

1. Syajaratut Tha’ah (Pohon Ketaatan)

Dari tempat kamu berteduh di bawah pohon iman itu kamu dapat mencium aroma wewangian bunga yang semerbak di dekatnya. Itu bersumber dari sebuah pohon yang disebut syajaratut tha’ah, yakni pohon ketaatan. Ia menjadi saksi terhadap keridhaan Allah saat dilimpahkan di hari turunnya ayat berikut:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (Al-Fath:18)

Orang yang berteduh di masa sekarang akan senantiasa mendapatkan ketenangan hati dan tidak mudah goyah karena faktor terhalangnya mendapatkan sesuatu atau tertinggal olehnya. Ia tetap tabah menunggu kemenangan yang akan diraihnya. Ia juga berada dalam arus gerakan Islam untuk selalu menunaikan tugas-tugas dan tanggung jawabnya. Ia setia dengan beban yang terpikul di pundaknya. Dengan sikap itu ia mampu meruntuhkan mercusuar kesesatan. Sedang ia telah menyatakan janji setia kepada Islam untuk mati sebagai tebusannya. Pohon ketaatan ini bersumber pada akar pengabdian yang utuh pada Sang Maha Pencipta. Sudah semestinya pohon ketaatan itu tumbuh subur di hati kader dakwah.

2. Syajaratut Tirhab (Pohon Penyambutan)

Pohon ini dinamakan pohon penyambutan. Ini untuk menyambut mereka-mereka yang sedang berjuang untuk mempertaruhkan hidupnya agar meraih kemuliaan di sisi Rabbnya. Jika Allah memilih untuk menimpakan musibah kepadamu sebagai jalan untuk meraih anugerah keridhaan-Nya. Dan kamupun mengalami cobaan berat hingga memaksamu berlindung di bawah syajaratut Tirhab, pohon penyambutan. Ini dilakukan untuk mencari ketenangan di bawah naungannya seraya menggerakkan pokoknya agar melimpahkan sebahagian dari berkahnya kepadamu. Dan engkau melakukan sikap sebagaimana yang dilakukan ibunda Maryam AS. Ketika bumi terasa sempit olehnya. Maka terdengarlah suara yang menyeru kepadanya:

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا . فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Maryam: 25 – 26).

Maka engkau mendapat makan dari buahnya yang telah masak dengan rasa puas tanpa berlebihan. Di sana engkau beroleh minuman yang segar dari sungai kecil yang mengalir di hadapanmu dengan mencidukkan kedua tanganmu kepadanya tanpa harus bersusah payah. Pohon ini berdiri pada pokoknya yakni kecintaan untuk menghariba kepada Rabbul Izzati. Dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan akan perjumpaannya. Bagi seorang kader dakwah mendekatkan diri untuk menghamba kepada Allah SWT menjadi keharusan. Agar ia senantiasa dalam kondisinya yang prima. Tidak lapar dan tidak pula kehausan. Ia dapat memenuhi hak dan kebutuhan hidupnya dalam memperjuangkan ajaran-Nya.

3. Syajaratul Wafa’ (Pohon Kesetiaan)

Kesetiaan adalah tanda kecintaan. Dan kecintaan merupakan prasyarat dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan kecintaannya. Nabi Muhammad SAW. mempunyai tanaman sendiri sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits, bahwa banyak pohon yang menyaksikan beberapa peristiwa dari perjalanan hidupnya yang mulia. Sebagai isyarat yang menunjukkan adanya hubungan ini. Terkadang sebagai gambaran untuk menyadarkan orang yang lalai. Diantaranya adalah syajaratul wafa’, pohon kesetiaan. Sebagai tanda adanya komunikasi di antara ruh-ruh yang selalu ingat. Pohon ini dapat mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada yang berhak menerimanya serta mengakui kebaikan yang diberikannya.

Ia adalah batang pohon kurma yang merintih saat ditingalkan. Jabir bin Abdullah RA. meriwayatkan, ‘Dahulu ada sebatang pohon kurma yang digunakan oleh Nabi SAW. untuk pijakan tempat berdirinya. Setelah dibuatkan mimbar untuk Nabi, kami mendengar dari batang kurma itu suara rintihan seperti rintihan unta yang sedang hamil besar. Hingga Nabi saw turun dari mimbarnya lalu meletakkan tangannya pada batang itu barulah batang pohon itu diam’. Batang pohon itu mengeluarkan suara rintihan seperti rintihan unta betina hamil besar. Peristiwa ini merupakan salah satu mukjizat Nabi SAW. Sebatang pohon yang diberikan penghormatan kepadanya lalu ia membalasnya. Manakala ditinggalkan ia merasa sedih sehingga kesedihannya itu melahirkan suara rintihan. Sekarang tiada seorangpun diantara kita melainkan di rumahnya terdapat kitab hadits. Seakan-akan Nabi saw berdiri di hadapannya mengajarkan urusan agama dan mengajarinya hukum-hukum syariat Islam. Maka sudah selayaknya bagi manusia seperti kita berterima kasih dan membalasinya dengan ketaatan dan kesetiaan pada ajaran yang dibawanya. Kita telah mendapatkan pelajaran yang amat bagus dari sebatang pohon kurma. Maka kita sebenarnya yang amat patut melakukan hal itu dan menterjemahkannya dalam sikap kita terhadap dakwah dan ajaran ini. Sepatutnya kita pun para kader dakwah merintih karena tidak dapat berbuat banyak untuk memberikan kontribusi pada dakwah ini sebagaimana orang-orang yang disebutkan Allah SWT. dalam kitab-Nya Allah berfirman:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. (At-Tauabh:92).

4. Syajaratut Tsabat (Pohon Keteguhan)

Keteguhan menjadi hal yang amat urgen dalam mengemban amanah mulia. Karena godaan dan rintangan akan selalu datang silih berganti. Karena itu bagi aktivis dakwah ia amat memerlukan pohon keteguhan. Engkau dapat berlindung dibawahnya di hari manusia berpecah belah karena kecenderungannya yang berbeda-beda. Engkau mencari selamat dengan meninggalkan semua golongan yang berpecah belah itu. ‘Sekalipun engkau harus menggigit akar pohon (yakni berpegang teguh pada prinsip meskipun hidup menderita)’.

Oleh karena itu berlindunglah pada pohon keteguhan ini untuk mengeraskan gigitannya. Seandainya engkau bayangkan keadaan yang sebenarnya tentulah hatimu menjadi ragu dan bergetar penuh kecemasan. Antara perasaan takut bila pegangannya mengendur lalu terbawa arus dan harapan untuk tetap bertahan demi mencapai keselamatan.

Akan tetapi sari pati cairan yang dikeluarkan oleh pohon itu membuat kamu segar karena mendapat minuman darinya. Sedang manusia saat itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Tenggorokanmu basah lagi sejuk, sehingga menambah keras gigitanmu terhadapnya, seakan-akan kamu menghisap keteguhan dan kekokohan darinya bagaikan bayi lapar yang sedang menyusu. Pohon keteguhan ini juga menjadi alat Bantu untuk menghadapi cobaan dan ujian komitmen dari berbagai rayuan dunia yang memikat. Dari pohon itu kader dakwah tidak akan goyah karena daya tarik material duniawi yang fana. Ia tidak seperti orang-orang yang lalai dari kesetiaannya karena tergoda oleh ikan-ikan yang bermunculan pada saat mereka harus menunaikan komitmen itu.

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik”. (Al-A’raf:163).

5. Syajaratul Unsi (Pohon Penghibur)

Pohon ini menjadi penghiburmu di saat kamu sendirian dan kelembabannya meringankan (membasahi) keringnya kesalahanmu. Pohon ini ditanam oleh Nabi saw, saat beliau melalui dua kuburan yang sedang diazab. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Nabi SAW. ‘Beliau mengambil sebatang pelepah kurma yang masih basah. Dan membelahnya menjadi dua bagian lalu menancapkan kepada masing-masing dari kedua kuburan itu satu bagian. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau lakukan itu?’. Rasulullah SAW. menjawab, ‘Mudah-mudahan azab diringankan dari keduanya selama kedua pelepah ini belum mengering’.

Buraidah Al Aslami RA. memahami hal ini sebagai tuntutan yang dianjurkan. Oleh karena itu ia berwasiat agar ditancapkan di atas kuburannya nanti dua batang pelepah kurma. Orang-orang pun mengikuti jejaknya dalam hal ini. Ada kalanya kita tidak dapat terlepas dari dosa-dosa kecil yang mencemari keikhlasan amal kita atau dari keterpaksaan mengejar sisa-sisa yang ada di tangan ahli dunia dari harta yang memperdayakannya. Yang biasa dibarengi dengan begadang yang merusak kesehatan dan dirundung oleh kegelisahan yang membuat diri kita tidak dapat tidur. Sehingga tubuh ini menjadi lemah untuk persiapan kerja di pagi hari. Barang kali dengan meluangkan waktu sejenak untuk berteduh di bawah pohon ini agar dapat meringankan beban hidupmu. Tentu hiburan bagi aktivis dakwah bukanlah dengan lantunan nasyid-nasyid dengan iringan bunyi musiknya atau juga bukan dengan tontonan yang melalaikannya. Akan tetapi hiburannya melalui dengan mengenang sejarah kehidupan umat terdahulu yang diabadikan kebaikannya serta mengingat akan janji balasan yang akan diberikan Allah SWT. pada orang-orang yang beriman. Sehingga dapat menggambarkan kenangan indah di hatinya akan kehidupan orang-orang yang telah berada di negeri cahaya yang penuh berkah.

6. Syajaratul Mufashalah (Pohon Pemisahan)

Pohon pemisahan ini menjadi saksi tentang sempurnanya akan kebersihan sarana yang digunakan oleh seorang muslim dalam mencapai tujuannya yang bersih. Demikian itu terjadi ketika ada seorang musyrik yang ingin bergabung memberikan bala bantuan kepada pasukan kaum muslimin dalam perjalanannya menuju medan perang Badar. Orang musyrik itu memberikan bala bantuan atas dasar fanatisme golongan untuk membela kaumnya. Ketika pasukan kaum muslimin sampai di sebuah pohon besar yang menjadi rambu jalan sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah RA. Lalu orang musyrik itu hendak bergabung. Maka Nabi menoleh kepadanya dan mengatakan, ‘Kembalilah kamu, aku tidak meminta bantuan dari orang musyrik’.

Maka ketetapan ini terus berlaku sebagai prinsip yang tidak pernah ada pengecualiannya. Kecuali hanya dalam kejadian-kejadian yang terbatas dan langka. Oleh karena itu prinsip ini tetap menjadi pijakan dalam amal dakwah kita agar tidak mengemis meminta-minta balas bantuan dari orang yang memusuhi dakwah. Apalagi potensi yang dimiliki umat masih melimpah ruah untuk didayagunakan.

7. Syajaratul Istighfar (Pohon Meminta Ampunan)

Pohon istighfar berupa pohon anggur yang banyak buahnya. Apabila ada seorang tamu yang mampir ke rumah pemiliknya maka ia akan memetik setangkai buah itu lalu disodorkan kepadanya untuk mencicipinya. Setelah itu tentu seseorang yang bertandang itu akan merasakan kepuasan yang teramat sangat. Kemudian pada hari yang lain. Isteri pemilik kebun anggur itu mengatakan kepada suaminya. ‘Cara seperti itu tidak etis kepada tamu, sebaiknya engkau ikut memakan separuh jamuanmu guna menyenangkan hatinya dan sekaligus sebagai pernghormatan padanya’. Suaminnya menjawab, besok aku akan lakukan hal itu. Keesokan harinya, setelah tamunya memakan separuh hidangan yang disajikan kepadanya. Lalu lelaki pemilik kebun itu ikut serta memakannya. Tatkala ia mencicipinya terasa anggur itu masam dan tidak enak untuk dimakannya. Ia pun meludahkannya dan mengernyitkan kedua alisnya keheranan atas kesabaran tamunya yang mau merasakan buah seperti itu. Namun tamu itupun menjawabnya. ‘Sesungguhnya aku telah memakan buah ini dari tanganmu sebelumnya selama beberapa hari dengan rasa manis tetapi sekarang ini aku tidak suka memperlihatkan kepadamu rasa tidak enak pada buah ini sehingga membuatmu menyesali pemberianmu yang lalu’.

Apa yang disebutkan di atas ini bukanlah kisah ngawur melainkan sebagai tamsil perumpamaan yyang dibuat untuk para dai yang mengusung dakwah ini. Karena itu dengarkanlah baik-baik. Hal ini merupakan ungkapan kisah yang dijabarkan kepadamu untuk mendekatkan kepahamanmu kepadanya agar mudah kamu cerna.

Tidak seorangpun di antara orang-orang yang ada disekitarmu yang terpelihara dari kesalahan dan benar selalu adanya. Oleh karena itu jika ada saudaramu yang berbuat kekeliruan maka janganlah kekeliruannya itu mendorongmu untuk mendiamkannya tidak mau bergaul lagi dengannya. Tidak sabar terhadapnya atau mendiskriditkannya. Bahkan jangan pula kamu mencelanya melainkan bersabarlah kepadanya. Dan tahanlah emosimu. Dan kamu harus memaafkannya dalam hatimu karena mengingat kebaikannya yang terdahulu dan perilakunya yang baik dan penghormatannya kepadamu. Karena barangkali dia dapat membantumu untuk bertaubat atau menolongmu saat kamu belajar sebagai pelayan pendamping atau teman begadangmu atau dia mengajarkan kepadamu suatu bidang pengetahuan yang diajarkan Allah kepadanya dan hal-hal baru yang belum kamu ketahui.

8. Syajaratuz Zuhud (Pohon Zuhud)

Jika engkau telah beroleh faedah dan menebarkan keadilan maka sudah saatnya bagimu untuk membaringkan diri di bawah sebuah pohon yang ramping lagi banyak buahnya dan bunganya. Keindahannya memukau pandangan orang yang melihatnya dan membuat orang yang menikmati keindahannya berdecak kagum karena selera penanamnya begitu tinggi.

Itulah pohon zuhud. Yaitu pohon yang bersemi di dalam hati. Jenisnya lain dari yang lain. Belum pernah ada seorang pun yang menanam hal yang semisal itu sehingga terlihat sangat indah. Penanamannya menggambarkan pohon itu bagai syair berikut:

Zuhud telah menanamkan pohon dalam kalbuku

Sesudah membersihkannya dari bebatuan dengan susah payah

Dia menyiraminya sesudah menancapkannya ke bumi dengan air mata yang dialirkan

Manakala di melihat burung-burung perusak tanaman terbang mengelilingi pagarnya

Dia mengusirnya

Aku tidur di bawah naungan yang rindang dengan hati yang senang

Dan mengusir semua yang mengganggunya

Kemudian aku berjanji setia kepada Tuhanku

Seperti itulah Bai’atur Ridwan dilakukan di bawah pohon untuk memberikan janji setia. Rasakanlah kamu menjadi salah seorang diantara mereka yang melakukan hal itu. Dan kamu bersama di tengah-tengah mereka. Dirimu dipenuhi oleh semangat bai’at janji setia sampai mati di jalan Allah SWT. demi membela ajaran ini tegak di muka bumi.

9. Syajaratul Hilm (Pohon Penyantun)

Imam Hasan Al Banna telah memahami seni menanam pohon keimanan ini. Karena itu ia menanamkan kepada kita pohon Kesantunan. Beliau menggambarkannya sebagai berikut: ‘Jadilah kamu seperti pohon yang berbuah. Manusia melemparinya dengan batu sedang ia melempari mereka dengan buahnya’.

Sesungguhnya ia telah memberikan gambaran yang baik dan masukan yang berfaedah. Karena sesungguhnya kebanyakan manusia cepat cenderung kepada kejahilan sehingga mendorong mereka untuk mendustakan para da’i dan menyakiti mereka dengan cara batil. Seandainya seorang da’i bersikap jahil seperti orang jahil itu dan membalas keburukan dengan keburukan semisal, niscaya akan lenyap dan pudarlah nilai-nilai kebajikan itu. Sebenarnya sikap yang harus diambil seorang da’i adalah berlapang dada, mengharapkan pahala Allah dan memohon ampunan bagi kaum yang tidak mengerti itu.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid menandaskan bahwa pohon keimanan itu mesti diberi pupuk dan disiraminya disetiap waktu. Dirawatnya dengan baik agar tidak dimakan hewan yang mendatanginya atau dihinggapi hama penyakit. Ia pun perlu diselamatkan dari tangan jahil manusia yang sering usil untuk memetik buahnya sebelum masanya. Ia perlu penjaganan yang ekstra agar pohon-pohon itu memberikan buahnya bagi dakwah ini. Itulah Tsamaratud Da’wah (Buah Dakwah). Yakni kader-kader dakwah yang militan yang menyediakan dirinya untuk melayani dakwah ini dan berkhidmat terus demi tegaknya ajaran ini. Bila pertumbuhan kader ini terus tumbuh dari berbagai segmen dan usia secara seimbang maka dakwah ini akan mengalami tingkat produktifitas yang amat tinggi. Intajiyatud Da’wah (Produktivitas Dakwah). Dengan begitu mewujudkan misi utama dakwah ini untuk mencapai perubahan nilai dan norma akan semakin terrealisir.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya:107).

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan peranglah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al-Anfal:39).

Sentuhan Hangat untuk Kader Dakwah


Sentuhan Hangat untuk Kader Dakwah

Bahwa para kader dakwah juga manusia. Mereka bukan robot. Mereka juga sudah sibuk dengan pekerjaan kantor, keluarga, dan masalah masalah lainnya. Tapi dakwah adalah suatu keniscayaan , karena nahnu du’at qobla kulli syaiin. Karena keutamaannya yang besar. Kita berdakwah bukan agar kita menjadi terkenal. Bukan karena material duniawi. Tapi kita berdakwah karena karena Allah SWT. Bukan karena siapa siapa. Dan dalam dakwah kita tidak di gaji. Tapi kita mengharapkan ridho Allah sWT. “Sesungguhnya Aku memberimu makan hanya karena mengharapkan wajah Allah SWT. Kami tidak menginginkan dari mu balasan ataupun terima kasih…..”
Namanya juga manusia kadang bosan. Kadang jenuh. Kadang futur. Tapi,kita ini berada dalam satu jama’ah yang saling menasehati satu sama lain. Jika ada saudaranya yang futur, kita ingatkan, kita motivasi, kita beri semangat. Begitu juga sebaliknya. Kadang kita perlu berfikir bersama agar bisa menghilangkan kejenuhan kita , kelelahan kita dalam berdakwah. Seakan akan hanya kerja kerja kerja, dakwah dakwah dakwah….kapan waktu kita buat keluarga kita? kapan waktu kita untuk istri dan anak kita ? tapi justru karena itu maka kita harus ber’amal jama’i. jangan sampai ada satu ikhwah yang terlalu banyak kesibukannya sedangkan ada ikhwah lain yang sangat luang waktunya. Mari kita bersama,membagi amanah dakwah ini. Sehingga kita semua mendapatkan manfaatnya. Kita semua mendapatkan pahalanya. Kita semua mendapatkan kenikmatannya. Jangan sampai kita mengatakan kepada ikhwah kita, pergilah engkau berdakwah, kami tenang tenang disini, seperti kaumnya Nabi Musa.
Allah SWT berfirman :
Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasuki negeri itu, selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah engkau bersama Tuhan engkau dan berperanglah engkau berdua sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini !” (5:24)
Ikhwah Fillah,
Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Begitu juga dakwah. Semakin beratnya beban dakwah, seharusnya kita bisa meningkatkan kemampuan kita. Itu semua tergantung dari kemauan kita. Tergantung dari diri kita.

الإرادة القوية تبذل من الجهد ما يتحدى المصاعب والآلام. وأن الإرادة الضعيفة عاجزة حتى مع وجود الوسائل والإمكانيات.”

“Kemauan yang kuat akan mengerahkan seluruh kesungguhan, walau menghadapi banyak kesulitan penderitaan. Sebaliknya, kemauan yang lemah menjadi tak berdaya meskipun sarana dan waktu tersedia

Sesungguhnya perasaan tak berdaya dan tidak punya kemampuan yang selalu diucapkan berulang kali oleh para dai hanya akan meredupkan kekuatan Islam dan lambatnya laju kendaraan dakwah. Bila seorang dai tidak berani membangun dakwahnya tanpa ada perasaan takut, hal itu akan menghancurkan dakwahnya. Bila seorang dai tidak tahan menghadap kritikan, ia tidak akan pernah maju. Ia tidak akan sampai pada kemampuan memberikan arahan (taujih) dan perubahan (taghyir).

Ikhwah Fillah,
Konflik dan perbedaan pendapat dalam berjama’ah adalah suatu yang tidak dapat dihindari. Tapi,bagaimana kita bisa memanage konfik. Meredam dan meminimalkan konflik. Bagaimana kita bisa menjaga Hati kita, perasaan kita , dan juga bagaimana kita menjaga perasaan orang lain. Orang mukmin itu bagaikan satu tubuh. Jika sebagian terasa sakit, maka sakit pula yang lain. Saling ta’aruf. mengenal dan memahami watak ikhwah lain. Agar gesekan gesekan itu tidak sampai memercikan api yang akan membumi hanguskan ukhuwah kita.
Ikhwah FIllah,
Memang kita tidak akan menemukan kenyamanan dalam berdakwah, tapi paling tidak bagaimana ketika berdakwah itu menjadi sebuah kenikmatan, Tidak stress. Karena ketika stress ini memuncak,maka yang ada hanyalah gesekan, emosi, kekasarannya, dsb. Maka perlu untuk me manaje tingkat stress dalam jama’ah dakwah.
Ikhwah Fillah,
Allah SWT berfirman :

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah: 41)

Maksud dari firman Allah swt.: انفروا خفافاً وثقالاً, sama saja apakah kalian dalam keadaaan ringan untuk pergi berjihad atau dalam keadaan berat. Keadaan ini mengandung beberapa pengertian. Pertama, ringan, karena bersemangat untuk keluar berjihad; berat, karena merasa sulit untuk berangkat. Kedua, ringan, karena sedikit keluarga yang ditinggalkan; berat, karena banyaknya keluarga yang ditinggalkan. Ketiga, ringan, ringan persenjataan yang dibawa; sebaliknya berat, karena beratnya persenjataan yang dibawa. Keempat, ringan, karena berkendaraan; berat, karena berjalan kaki. Kelima, ringan, karena masih muda; berat, karena telah uzur usia.Keenam, ringan, karena bobot badan yang kurus; berat, karena kelebihan bobot berat badan. Ketujuh, ringan, karena sehat dan fit; berat, karena sakit atau kurang enak badan. Jadi, mencakup seluruh aspek.

Kebanyakan para sahabat dan tabi’in memahami ayat itu dengan pengertian yang mutlak. Mujahid berkata, “Sesungguhnya Abu Ayub turut menyaksikan Peperangan Badar bersama Rasulullah saw., dan ia belum pernah absen dari peperangan. Ia berkata, ‘Allah telah berfirman:انفروا خفافاً وثقالاً, maka itu artinya aku dapati diriku dalam keadaan ringan atau berat’.” Dari Shofwan bin Amr, ia berkata, “Ketika aku menjadi Gubernur Hums (Syria), aku menjumpai seorang bapak tua warga Syria yang telah turun kedua alisnya. Ia berada di atas kendaraannya bersiap-siap hendak ikut berperang. Lalu aku berkata kepadanya, ‘Wahai Paman, engkau dimaklumi oleh Allah untuk tidak ikut berperang.’ Seraya mengangkat kedua alisnya, bapak tua itu berkata, ‘Hai Nak, Allah telah menyuruh kita keluar baik dalam keadaan ringan maupun berat. Ketahuilah, sesungguhnya Allah selalu menguji orang yang dicintainya.’”

Diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhry, suatu ketika Said bin Al-Musayyib r.a. keluar untuk berperang, sedangkan salah satu matanya tidak dapat melihat. Lalu ia berkata, “Allah meminta kita untuk keluar berperang, baik terasa ringan atau berat. Jika aku tak berdaya untuk berjihad, maka berarti aku telah memperbanyak pasukan musuh dan aku hanya menjaga harta bendaku.” Juga ketika Al-Miqdad bin Al-Aswad dikatakan kepadanya pada saat beliau hendak berperang, “Engkau dimaklumi.” Lalu ia berkata, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kita surah Al-Bara’ah: pergilah dalam keadaan ringan ataupun berat.” Walaupun akhirnya ayat ini di mansukh oleh ayat Laysa alal a’maa harojun wa laa ‘alal a’rooji harojun wa laa ‘alal mariidhi harojun,

Ikhwah FiLLah,

Inilah sentuhan hangat ini. Untuk ana pribadi. Untuk antum semua. Semoga kita semua terus menerus di berikan taufiq oleh Allah SWT untuk terus berada di jalan dakwah ini. Hidup di atas jalannya dan kelak di wafatkan di ats jalannya pula. Jangan pernah berhenti. Jangan pernah melemah. Jangan pernah mengeluh. Teruslah berjalan hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah bergerak. Bagi kita hanyalah ikhtiar. Hanyalah secuil usaha. Bagi Allah SWT kembalinya semua urusan. KepadaNya kita bertawwakal. Dia Yang Maha Berkehendak. Mari kita sholeh kan diri kita, karena Allah SW akan menjaga orang orang yang sholeh. Mari kita terus menerus berbuat kebaikan, karena Allah SWt bersama orang orang yang bertaqwa dan orang orang yang berbuat kebaikan. Terus berdo’a kepada Allah SWt untuk diri kita, keluarga kita, untuk qiyadah dakwah kita, untuk jama’ah kita, untuk dakwah kita, karena Allah SWT menyuruh kita berdo’a dan Dia akan menjawab do’a do’a kita. Wa man nashru illaa min ‘indiLLah…dan tidak lah pertolongan itu melainkan dari sisi Allah SWT. Mari kita jauhi hal hal yang menunda pertolongan dari Allah SWt, antara lain saling berselisih, perbuatan maksiat, dan kecintaan kepada dunia.

Allah SWT berfirman ” Dan sungguh, Allah telah memenuhi janjiNya kepada mu, ketika kamu membunuh mereka dengan izinNya ( pada perang uhud ), sampai pada saat kamu lemah, dan berselisih dalam urusan itu, dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepada mu apa yang kamu sukai, di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat ” ( QS 3 : 152 )

Ikhwah Fillah,

Izzah itu adalah milik Allah , RasulNya dan orang orang yang beriman. Izzah itu bukan dari merk baju apa yang kita pakai. Jam tangan merk apa yang kita pakai. Tapi, Izzah itu milik orang orang beriman yang mengikhlaskan amalnya kepada Allah SWT. Yang orientasinya adalah akhirat. Yang zuhud terhadap dunianya. Izzah itu muncul dari kesederhanaan, dari keimanan yang kuat, dari kebersihan hati.

Mari kita perbanyak istighfar kepada Allah SWT dan menjadikannya wirid harian kita. Karena, kita sebagai manusia pasti akan melakukan kesalahan dan dosa.

Wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillahi robbil ‘aalamiin.

Selembar Daun Terakhir Renungan Untukmu Kader Dakwah..


Selembar Daun Terakhir

Renungan Untukmu Kader Dakwah..
Oleh Ahmad Surodilogo
 
Bedah Buku : Prinsip dan Penyimpangan Gerakan Islam. Karya : Dr. Mustafa Masyhur. Penerbit : Robbani Press. Cetakan ke 10. Tahun : 2008.
Malam ini saya gelisah, susah untuk segera tidur. Barusan selesai aktivitas ‘melingkar’ bersama ikhwah, masih dalam proses bedah buku mungil “Prinsip dan Penyimpangan Gerakan Islam’ karya Dr. Mustafa Masyhur. Malam ini masuk bab “Bentuk-bentuk Penyimpangan Dakwah”, pada poin pertama yaitu Penyimpangan Tujuan.
Buku ini sungguh sudah sangat lama ditulis oleh Dr. Mustafa Masyhur, akan tetapi —sebagaimana komentar al akh pembahas malam ini— seakan-akan baru saja ditulis, atau bahkan sengaja ditulis untuk saat ini. Masyaallah.
Kalimat pertama yang Dr. Mustafa Masyhur tuliskan pada sub bab ini adalah, “Penyimpangan tujuan termasuk salah satu penyelewengan paling berbahaya yang harus dihindari” (halaman 19). Tujuan dakwah semata-mata hanya untuk Allah, jangan sampai diselewengkan untuk hal-hal lain. Maka, beliau menyatakan, “Dakwah memerlukan pelurusan niat dan dan pemantapan yang terus menerus”. Mengapa demikian? Karena, “Jiwa manusia sering dipengaruhi hawa nafsu” (halaman 20).
Yang sangat perlu digarisbawahi dalam memahami poin penyimpangan tujuan ini adalah, bahwa penyimpangan tidak harus berarti mengarahkan dakwah secara total kepada tujuan-tujuan duniawi, atau menyelewengkan secara total dari jalan Allah. Tetapi, sebagian saja atau sedikit saja, niat ditujukan kepada selain Allah, itu sudah merupakan penyimpangan (halaman 21). Sebab kondisinya bisa jadi tidaklah secara ekstrem menyimpang dengan jalan mengajak keluar dari agama dan syariat Allah. Namun ada bagian-bagian yang mulai tidak sesuai dengan prinsip syariat Allah.
Persoalan niat adanya di dalam hati, di dalam jiwa. Demikian tersembunyi, maka sangat sulit diketahui. Namun ketika dampak penyimpangan sudah mulai tampak, jama’ah mulai dirusak, minimal dengan memunculkan keburukan bagi jama’ah, maka penyimpangan mulai tampak mengemuka. Wajar jika beliau menyatakan, penyimpangan tujuan sangatlah berbahaya, “Terutama jika yang bersangkutan mempunyai posisi yang menentukan” (halaman 22).
Mungkin penyimpangan akan memiliki dampak yang kecil saja bagi jama’ah dakwah, apabila hal itu terjadi pada anggota biasa yang tidak memiliki posisi atau pengaruh. Akan tetapi jika penyimpangan terjadi pada tokoh yang mempunyai posisi penting, dampaknya akan sangat luas. Oleh karena itu, jama’ah harus bertindak tegas kepada mereka agar bisa menghindarkan penyimpangan. “Mereka harus dikeluarkan dari barisan (shaf), kecuali jika mereka bertaubat dengan membersihkan hati dan mengikhlaskan diri kepada Allah” (halaman 22).
Di antara penyakit hati yang bisa menyimpangkan tujuan adalah, bila seseorang merasa dirinya lebih berpengalaman, merasa lebih cerdas, lebih baik analisanya terhadap setiap persoalan. Ia merasa lebih mengerti tentang seluk-beluk politik dan strategi menghadapi lawan. Ia menghina dan meremehkan orang lain, meskipun orang-orang yang dihina itu sudah banyak berjasa terhadap dakwah (halaman 30).
“Orang-orang seperti itu apabila mendapatkan keberhasilan dalam dakwah akan mengatakan, bahwa keberhasilan itu adalah karena kehebatan dirinya”, tulis beliau (halaman 30).
Ada pula penyakit “ego sentris” dalam dakwah. Mereka yang mengidap penyakit ini lebih suka merekrut orang untuk menjadi pengikutnya sendiri, bukan untuk menjadi pengikut jama’ah dakwah. “Hanya manusia-manusia setipe sajalah yang mau mendekatinya” (halaman 31). Beliau mengingatkan agar kita tidak mengikatkan diri kepada orang yang seperti ini, walaupun ia memiliki kehebatan. “Itu adalah sikap ular, dan ular sangat sulit dikendalikan bisanya” (halaman 31).
Sayangnya, orang yang sudah terjangkit penyakit ego sentris tersebut, tidak pernah mau mengakui bahwa dirinya berpenyakit. Akibatnya, penyakit semakin parah (halaman 31). Orang-orang tersebut membenarkan sikap ambisi pribadinya dengan dalih kemaslahatan dakwah atau umat. Seakan-akan itu adalah untuk kemaslahatan dakwah, bukan untuk diri pribadinya. Bahkan mereka menuduh orang lain terlalu picik (undercapacity) dalam menilai kemaslahatan dakwah (halaman 31).
Lalu apa kewajiban kita? Menurut Dr. Mustafa Masyhur, “Kita berkewajiban menyadarkan orang lain agar tidak mengikuti orang-orang yang menyimpang tersebut” (halaman 31). Ini kewajiban terhadap orang-orang lain agar tidak mengikuti penyimpangan.
Bagaimana dengan mereka yang sudah jelas-jelas menyimpang? Beliau memberikan isyarat yang sangat jelas, “Perlu diketahui, keberadaan mereka yang menyimpamng di dalam shaf setelah tidak mau diperbaiki, lebih membahayakan ketimbang melakukan pembersihan shaf” (halaman 32).
Mentolerir keberadaan orang-orang menyimpang yang tidak mau kembali kepada kebaikan ini, hanya akan semakin menambah parah penyimpangan. Menurut beliau, sikap sebagian ikhwah yang dengan niat baik mentolerir mereka, tidaklah dapat diterima. Sikap toleran ini didasarkan kepada kekhawatiran akan terjadinya perpecahan, dan takut kehilangan potensi mereka (halaman 32). Padahal dengan keberadaan mereka di dalam shaf, membuat bukan hanya mereka yang dinilai menyimpang, tetapi shaf juga sudah menyimpang.
Pembahasan mengenai penyimpangan tujuan ini, beliau akhiri dengan menukilkan pernyataan Sayyid Quthub rahimahullah:
“Satu demi satu anggota jama’ah diserang kerontokan. Mereka akan gugur seperti daun kering yang jatuh dari pohon besar. Musuh menggenggam salah satu ranting pohon disertai anggapan, bahwa dengan tercabutnya ranting tersebut akan dapat menghancurkan seluruh bagian pohon itu. Apabila telah tiba saatnya, dan ranting pun dicabut, maka keluarlah dari genggamannya seperti kayu kering, tidak mati dan tidak pula hidup. Sedangkan pohon tersebut tetap utuh seperti semula” (halaman 32).
Demikian Dr. Mustafa Masyhur mengakhiri pembahasan sub bab Penyimpangan Tujuan. Petugas presentasi pun sudah selesai menyampaikan isi bagian ini. Tapi rupanya saya belum selesai juga, sampai pun forum melingkar usai jam 23.30 tadi, saya tetap belum selesai.
“Satu demi satu anggota jama’ah diserang kerontokan. Mereka gugur seperti daun kering yang jatuh dari pohon besar”, terngiang-ngiang nyata ungkapan Asy Syahid Sayyid Quthub ini. Saya membayangkan pohon meranggas tanpa daun, sebab daun sudah berguguran. Namun selalu tumbuh daun baru. Rontoknya daun tidak mematikan pohon, sama sekali.
Ini yang membuat saya merasa belum selesai. Takut jika ikut rontok bersama daun-daun yang rontok. Kalaupun semua daun ingin rontok, biarlah saya menjadi “selembar daun terakhir yang mencoba bertahan di ranting”.
 ********
Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku, apa saja – aku selembar daun terakhir yang ingin
menyaksikanmu bahagia ketika sore tiba.
– Sapardi Djoko Damono –

Tawadhu dan Keberkahan Dakwah


Tawadhu dan Keberkahan Dakwah

salim segaf2

1. Mari kita berharap keberkahan Allah pada dakwah ini. Keberkahan itu datangnya dari keyakinan kita kepada Allah, bahwa semua kekuasaan/kemenangan/kekalahan itu terjadi atas kehendak Allah. Kita tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa konspirasi musuh menyebabkan kekalahan kita. Mau konspirasi apapun kalau Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Mari kita melihat amal ini dengan pendekatan dakwah

2. Evaluasi kita : kita tergiring secara tidak sadar menjadikan politik sebagai panglima. Lalu dakwah dan kaderisasi kita lupakan. Tolonglah slogan OBAH KABEH MUNDAK AKEH itu jangan dimaknai AKEH kursi dan suaranya. Tapi akeh dan mundak keberkahannya. dan itu dengan tetap menjadikan dakwah sebagai misi utama kita. Kursi itu bukan tujuan kita. Kalau kita pantas menerimanya Allah akan berikan. Saya membayangkan andai seluruh anggota dewan kita di indonesia ini di sebar merata ke desa desa yang ada di seluruh negeri. Lalu berdakwah, membina masyarakat dan kita punya kemampuan untuk itu. Insya allah keberkahan akan turun dengan cara itu. Tidak ada urusannya dapat kursi atau tidak.

3. Evaluasi kita : kita sering membuat target target yang sebenarnya tau itu diluar kemampuan kita. Lalu kita terjebak dengan cara cara yang jauh dari keberkahan untuk memaksakan mencapai target itu. Mengumpulkan dana dana syubhat. Bergantung pada konglomerat anu. konglomerat itu. Proyek ini itu.dst. Sekian suara harganya sekian M. Lalu dimana nilai keberkahan dakwah ini? begitu juga dengan perilaku politik kita yang kadang menyalahi sunnatullah. Begadang sampai hampir pagi menjaga suara. Toh tetap jebol juga. Apakah kita ini lebih sibuk dari Rasulullah? beliau selalu tertib dalam hal tidur dan bangun pagi. Di malam hari beliau serahkan dakwah di tangan Allah. Beliau tidur dan qiyamullail. Sesekali bolehlah begadang. Tapi kalau menjadi politic style kita itu sudah salah.

4. Allah hanya ingin kita ini bekerja semaksimal kemampuan kita. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Tidak perlu memaksakan pola pola dan cara cara yang diluar kemampuan kita. Jokowi itu sebenarnya contoh dari Allah, bahwa ketika Allah berkehendak, dengan dana pencitraan orang bisa mendapatkan kekuasaan dan Allah juga yang berkuasa menjatuhkannya. Jadi, mari kita semakin tawadhu’ dihadapan Allah. Semakin kita tawadhu’ dan merasa butuh pertolongan-Nya, maka pertolongan akan mendekat. Jangan terlalu ngoyo menampakkaan bahwa kita ini punya kekuatan. Semakin kita berpikir kita punya kekuatan, lalu melupakan Allah, maka justru pertolongan semakin menjauh. (dalam konteks ini, Ust salim menyebut stagnannya suara PKS dari PEMILU ke PEMILU)

5. Itulah sebabnya para ulama mengajari kita doa : Allahummarzuqnaa ma’rifatan yas habuha bil adabi. Ya Allah beri kami ma’rifat kepadamu, yang diiringi dengan adab terhadap-Mu. Kita mengenal Allah tapi kita tidak punya adab dan sopan santun terhadap-Nya. Lalu kita merasa sudah punya kekuatan.dan mulai melupakan-Nya. Ini namanya kita tidak beradab dan sopan santun terhadap Allah.

6. Jangan juga gara gara jabatan politik lantas life style dan perilaku kita berubah. Terbiasa dilayani. Kesenggol dikit marah marah dimana mana seolah ingin menunjukkan kita ini kuat. Kita lupa berapa ton nikmat Allah yang sudah kita makan melalui mulut kita. Mari jadi orang yang biasa biasa saja. dan mengingat bahwa semua ini pemberian Allah yang tidak akan kekal.

7. Pada akhirnya mari memperbanyak dzikrullah. Imam ali berkata :: inna lillahi fil ardhi aaniyatun wa huwa al qolbu. Sesungguhnya Allah itu memiliki tempat di bumi, yaitu dalam hati kita. kita ini standar nya ma’tsurot sughro. Itupun masih suka nanya : ada yang lebih sughro lagi nggak tadz? insya Allah dengan dzikir yang banyak itu keberkahan akan turun.

Wallahu Al musta’aan. (mujahidullah)

Source : pksabadijaya.org

Nasihat Terakhir Ustad Asfuri Bahri


Nasihat Terakhir Ustad Asfuri Bahri

Dari Ust. Asfuri Bahri utk kita semua…Semoga Allah selalu merahmati beliau

:: Mulailah Perjalanan Ini ::

Sumayyah…
Yasir…
Mush’ab…
Anas bin Nadhir…
Hamzah bin Abdul Muthallib…
Abdullah bin Jahsy…
Sa’ad bin Robi’…
Amar bin Jamuh…

Mereka semua belum sempat menyaksikan kejayaan Islam..

Mereka belum menyaksikan ekspansi Umar dan kemenangan Khalid…

Mereka juga belum mengalami zaman Rib’i bin Amir yang meninggikan agamanya di hadapan Rustum, panglima Persia.

Mereka juga tidak menyaksikan Harun Arrasyid saat ia berkata, “Wahai awan, turunkan hujan dimanapun yang kau mau, panennya pasti akan sampai kepadaku.”

Mereka telah memulai perjalanan dan mati di permulaannya serta belum sampai di penghujungnya. Juga tidak mengalami panen dari apa yang telah mereka mulai. Dan Allah telah ridha kepada mereka.

Jangan bertanya tentang ujung perjalanan…

Yang penting anda menjadi hamba sejati untuk Rabb Subhanahu wa Ta’ala, benar dan jujur. Komitmen manjalani perintah-Nya dan Mujahid di jalan-Nya….

Mengerahkan segenap waktu, upaya, potensi, harta, dan pikiran anda demi memenangkan Islam dan kaum Muslimin.

Tidak masalah bagimu setelah itu, apakah anda mati di permulaan atau di pertengahannya…

Lalu anda termasuk yang disinggung Allah dengan firman-Nya

{مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا}

“Diantara orang-orang beriman ada para ‘lelaki’ yang membenarkan apa yang mereka janjikan kepada-Nya. Diantara mereka ada yang telah menemui ajalnya dan diantara mereka ada yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah janji mereka sama sekali.”

Yang penting kita berjalan di jalan yang diridhai Allah dan selalu memohon kiranya Allah menerima amal anda. Tujuannya adalah meninggal dalam keadaan iman, takwa, jihad, dan dakwah. Bukan untuk memetik hasil dan buahnya…

Allah pasti menjaga agama-Nya dan memenangkan para wali-Nya pada setiap zaman dan tempat dengan cara yang ditentukan-Nya…

Mari kita perbaiki dan perbarui niat ini pada setiap perbuatan, setiap saat, bahkan setiap detik…

*Kita tidak tahu kapan akan berlalu tinggalkan dunia fana ini…*

*Dari Ustadz Asfuri Bahri*

Etika Debat dalam Islam


Etika Debat dalam Islam

 

Debat dalam bahasa Arab disebut jadal. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Ghazali member definisi jadal sebagai keinginan untuk saling mengalahkan dan menjatuhkan seseorang dengan menyebutkan kekurangannya. Dengan demikian, tidak jarang debat memunculkan banyak sisi negatif. Misalnya saja, menumbuhkan emosi orang tertentu, lantaran tidak menerima kritik orang lain terhadap dirinya. Dan yang lebih parah, bila forum debat sudah menjadi arena debat kusir yang tak jelas ujung pangkalnya, sehingga semakin jauh dari kebenaran. Itu sebabnya, debat sering dikaitkan dengan salah satu sebab penyimpangan. Banyak umat terdahulu yang tersesat setelah mereka mendapat petunjuk, lantaran perdebatan mereka tentang kebenaran. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Tidaklah sekelompok kaum menjadi sesat kembali setelah memperoleh petunjuk, kecuali mereka melakukan jadal.” Selanjutnya beliau membacakan surat az Zukhruf yang artinya “Mereka tidak member perumpamaan itu padamu melainkan dengan maksud membantah saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (HR Ahmad dan Turmudzi, hadits hasan shohih).

Karenanya, Rasulullah SAW melarang umatnya untuk terlibat dalam perdebatan. “Saya adalah pemimpin rumah di bawah naungan surge, bagi orang yang meninggalkan debat sekalipun dalam posisi yang benar…” (HR Abu Dawud, dan dicantumkan dalam silsilah hadits shohih oleh Nashiruddin al Abani I/47).

Namun, tidak semua jadal bernilai negative. Jadal pernah disebutkan dalam al Quran sebagai salah satu media dakwah yang cukup efektif. Allah SWT berfirman, “Serulah (mereka) ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik serta bantahlah(jadal) mereka dengan bantahan yang lebih baik.” (QS. An Nahl: 125). Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Janganlah kalian membantah ahlul kitab kecuali dengan bantahan yang lebih baik…” (QS. Al Ankabut: 46).

Islam telah menggariskan sejumlah rambu yang dapat memelihara perdebatan agar tidak keluar dari jalur yang benar.

Pertama, dengan memelihara etika Islam dalam memberi nasehat. Beberapa etika Islam dalam hal ini, misalnya memberi nasehat harus dilakukan dengan rahasia dan tidak di depan orang banyak, menggunakan cara yang sesuai dan waktu yang tepat, harus didorongan dengan niat untuk membenarkan dan mengubah ke arah yang lebih baik, ikhlas karena Allah, menyandarkan semua kemampuan kepada kehendak Allah, dan sebagainya. Bila adab-adab ini dilanggar, maka pemberian nasehat justru berakibat pada timbulnya sikap bangga terhadap dosa atau kesalahan pada diri orang yang dinasehati. Orang tersebut bahkan berupaya untuk terus mengungkapkan bantahan dan perdebatan, agar bebas dari kesalahan, dan cenderung tidak mau menerima nasehat.

Kedua, melenyapkan ambisi selalu ingin menang dan tak mau kalah. Ambisi seperti ini akan menjadikan seseorang tidak mempan dengan segala kritik. Inilah diantara hikmah firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (QS. An Nisa:135).

Ketiga, membentengi diri dengan al Quran dan sunah sebelum mendalami pengetahuan tentang teknik perdebatan. Ilmu tentnag teknik perdebatan dan diskusi, antara lain ilmu mantiq dan filsafat. Mendalami teknik perdebatan dan diskusi memang bisa mendorong seseorang terjerumus dalam perdebatan yang negative. Apalagi, bila hal itu dilakukan sebelum ia memiliki basic moral yang baik terhadap al Quran dan sunah. Itu sebabnya, sebagian ulama melarang mempelajari ilmu filsafat dan mantiq. Di antara mereka ada yang membolehkannya, yaitu Saifuddin al Amidi. Beliau mengemukakan alasan bahwa manusia memiliki potensi akal sebagai anugerah Allah. Potensi itu dapat digunakan sebagai neraca pertimbangan berbagai masalah, membedakan antara yang haq dan yang bathil, yang bermanfaat dan berbahaya.

Di antara ulama yang melarang adalah al Hafizh Abu Amr Ma’ruf Ibnu Sholah. Menurutnya pelarangan disebabkan ilmu-ilmu tersebut akhirnya akan mengantarkan seseorang pada sikap ragu dan bahkan boleh jadi sampai pada tingkat pengingkaran terhadap kebenaran yang sudah ada.

Selain mereka, ada pula diantara ulama yang bersikap mutawasshith (pertengahan). Seorang Muslim dibolehkan mempelajari ilmu filsafat dan matiq dengan catatan telah memiliki benteng al Quran dan sunah. Dan dilarang bagi mereka yang tidak memiliki kriteria tersebut. Pendapat seperti ini dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah.

Keempat, menghindari sikap ujub dan takabur. Karena sikap inilah yang menyebabkan orang terjerumus dalam debat kusir. Orang yang menderita ujub dan takabur, cenderung menempuh cara untuk menarik perhatian orang. Miraa’ atau jadal merupakan salah satu cara yang ditempuh. Cara inilah yang pernah dilakukan oleh iblis tatkala menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Ketika Allah SWT berfirman, “Apa yang menghalangimu untuk sujud kepada yang Aku ciptakan, apakah engkau takabur atau merasa lebih tinggi?” (QS. Shaad: 75).

Saat itulah iblis menjawabnya dengan konteks kalimat yang menjurus kepada jadal atau perdebatan. Kata iblis, “Saya lebih baik daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api sedang Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Shaad: 76).

Inilah salah satu hikmah di balik firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Ghafiir: 56).

Kelima, mengisi hati dengan ma’rifatullah dan taqwa. Hati yang senyap dari ma’rifatullah dan taqwa adalah hati yang kosong dari kesadaran atau rasamuroqobatullah (pantauan Allah). Kondisi hati tersebut (hati yang kosong) akan menyebabkan masuknya ambisi dunia serta was-was setan yang selalu merongrong agar melakukan kejahatan. Dari sinilah, seseorang disibukkan dengan pekerjaan sia-sia, salah satu diantaranya adalah debat. Karenanya Allah SWT menyeru kepada hambanya agar memerangi kekosongan hati dengan melakukan variasi ibadah, sehingga hati tidak bosan atau jenuh dan mendorong seseorang terjerat dalam perdebatan yang sia-sia. Allah berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7-8).

Al Hafizh Ibnu Katsir memberi komentar terhadap dua ayat tersebut sesuai atsar para salah; “Bila engkau selesai mengerjakan kesibukan urusan dunia, dan engkau telah putuskan ikatan-ikatannya, maka sungguh-sungguh dan giatlah melakukan ibadah dengan pikiran yang kosong.” Seperti ungkapan mujahid rahimahullah dalam ayat ini: “Bila engkau selesai mengerjakan urusan dunia, maka berdirilah melakukan sholat dan bersungguh-sungguh kepada Tuhanmu.”

( mh )

Tahun Baru Hijriyah Dan Revitalisasi Semangat Kebangkitan Umat


Tahun Baru Hijriyah Dan Revitalisasi Semangat Kebangkitan Umat

 
Sejarah penetapan awal penanggalan dalam kalender Islam dilatari oleh sebuah momentum sejarah yang sangat monumental. Pertimbangan atas keputusan penetapan awal penanggalan Islam adalah sebuah pilihan yang diwarnai oleh semangat kebangkitan, jauh dari sikap pengkultusan terhadap sosok figure seseorang. Maimun bin Mahran ra meriwayatkan, pada suatu hari khalifah Umar bin khattab ra. mendapat sebuah surat penting dari sahabat yang di dalamnya hanya tercantum bulan sya’ban. Sehingga beliau menanyakan : “bulan Sya’ban yang mana yang dimaksud ?” saat itu tak ada satupun yang bisa menjelaskan.

Beberapa kali pula Umar bin Khotthob mendapati surat-surat pemerintahan maupun diplomatik yang tidak terdapat angka tahunnya. Beliaupun menginisiasi untuk menetapkan awal penanggalan Islam. Kemudian dikumpulkanlah para sahabat untuk membicarakan hal tersebut dan lahirlah keputusan untuk memulai perhitungan awal tahun yakni ketika terjadinya peristiwa Hijrah dari Mekah ke Yatsrib (Madinah) berdasarkan saran yang disampaikan oleh sayyidina Ali RA. Begitulah latar historis yang melandasi penetepan awal perhitungan tahun 1 Hijriyah. Bukan dilatari oleh alasan kelahiran Nabi atau wafatnya Nabi. Menyadari keagungan sejarah “hijrah” ini maka tidak khilaf apabila umat Islam menetapkan tahun barunya dengan merujuk pada sejarah hijriyah. Hal ini memiliki arti bahwa lembaran baru Islam tidak dibuka dengan keagungan seorang tokoh semisal dengan memperingati kelahiran Nabi. Akan tetapi, Islam mengawali setiap lembaran barunya dengan semangat kelahiran peradaban baru Islam di Madinah.

Perlu dipahami bahwa hijrah Rasulullah dan para sahabat ke Madinah pada waktu itu sama sekali bukan karena keinginan untuk sengaja meninggalkan tanah airnya, akan tetapi karena perintah dari Allah SWT sebagai bagian dari strategi dakwah dan sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk melaksanakan ajaran-Nya. Setelah hijrah terbentuklah masyarakat Madinah yang penuh dengan kedamaian, ketenangan, persamaan, kesejahteraan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Firman Allah SWT dalam Alquran, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjuang di jalan Allah, merekalah (orang-orang yang) mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah [2]: 218)

Hijrah makani atau perintah untuk melakukan hijrah dalam arti berpindah secara fisik demi untuk menyelamatkan masa depan Islam yang sedang terancam sudah tidak ada lagi setelah pembebasan kota suci Mekkah 14 abad yang silam. Tetapi hijrah dalam pengertian maknawi, seperti hijrah dari kehiduan yang jahili menuju kehidupan yang madani, hijrah dari sifat malas dan putus asa kepada ketekunan berusaha, hijrah dari perilaku curang dan korup kepada perilaku adil dan jujur, hijrah dari kemaksiatan kepada ketakwaan, serta hijrah dari perangkap kemiskinan yang mendekatkan kepada kekufuran menuju kehidupan yang layak dan bermartabat, tetap relevan sepanjang masa. Berbagai peristiwa dan kondisi memprihatinkan yang bagai benang kusut terjadi dalam kehidupan bangsa kita pada saat ini, hanya dapat diatasi dengan mengimplementasikan ajaran dan nilai-nilai hijrah.

Selain itu pula, perintah Rasulullah untuk mendirikan mesjid Nabawi sesaat ketika beliau tiba di Madinah dapat dimaknai sebagai sebuah pesan bahwa saatnya untuk menggalakkan ibadah serta amal atau kerja jama’I yang akan menggerakkan pembangunan tatanan baru masyarakat muslim di Madinah. Tatanan masyarakat baru dan diklaim oleh para pakar sejarah sebagai tatanan masyarakat paling modern di zamannya. Kemudian pula, tindakan Rasulullah yang telah mempersatukan kaum Anshar dan Muhajirin dalam satu ikatan persaudaraan yang begitu Indah dapat dimaknai sebagai sebuah pesan bahwa persatuan ummat Islam menjadi modal penting dalam rangka perjuangan memenangkan agama Allah di muka bumi. Bila hati ummat Islam tercerai berai tanpa ikatan, maka sebanyak apapun jumlahnya untuk memenangkan risalah Agama ini di muka bumi menjadi perkara yang mustahil. Ummat Islam bukannya saling menguatkan satu sama lain tetapi justeru sebaliknya saling menjatuhkan, sebagaimana peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Mesir, Syria, Palestina, Afghanistan dan Irak. Olehnya, yang harus melandasi persaudaraan di antara ummat Islam yaitu cinta karena Allah, bukan karena alasan fisik belaka apalagi karena di dorong oleh alasan harta dan kekuasaan.

Sebagai kesimpulan, kita perlu menyadari sepenuhnya bahwa untuk mengembalikan izzatul Islam wal muslimin maka kita wajib merevitalisasi formula kebangkitan yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah dalam momentum hijrah tersebut. Ibadah harus melandasi setiap amal dan kerja jama’ah kita dan keabadian persaudaraan ummat Islam hanya dapat dibangun di atas cinta karena Allah. Formulasi cinta, kerja, dan harmonisasi yang terbangun ditengah ummat niscaya akan kembali mengantarkan ummat Islam ke jalan kebangkitan yang dicita-citakannya. Wallahul musta’aan.

Pesan hijrah bernilai abadi karena setiap Muslim dituntut untuk mengupayakan kehidupan diri dan masyarakat di sekitarnya menjadi lebih baik dalam pergantian hari dan tahun.

Oleh karena itu, menyambut pergantian tahun Hijriyah perlu disertai dengan kesadaran yang kuat untuk melakukan upaya-upaya konkret dalam membangun kualitas umat dalam berbagai bidang, termasuk upaya menanggulangi kemiskinan. Esensi hijrah adalah perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dan positif, menyingkirkan segala keburukan dan kerusakan serta menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan umat dan bangsa.

Menurut cerita dari Maimun bin mahran ra, pada suaru ari khalifah Umar bin khattab ra. Mendapat sebuah surat penting dari sahabat yang di dalamnya hanya tercantum bulan sya’ban. Sehingga beliau menanyakan : “bulan Sya’ban yang mana yang dimaksud ?” saat itu tak ada satupun yang bisa menjelaskan. Atas dasar hal itulah khalifah Umar bin Khattab ra. Mengumpulkan sejumlah tokoh untuk merumuskannya.

Khalifah Umar ra menetapkan tahun Hijriyah pada tanggal 8 Rabiul Awal tahun ke-17 Hijriyah (638). Adapun penetapan bulan Maharam sebagai awal tahun Hijriyah, karena pada bula itulah Rasulullah saw bertekad untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah).sebelumnya, yaitu pada musim haji wada (621-622 M)

Disampaikan pada Risalah Maghrib RRI Gorontali Edisi 3 November 2013/1 Muharam 1435 H

Nanang Masaudi