Tag Archive | taujih

 5 KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QURAN


5 KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QURAN

DR. Ahzami Sami’un Jazuli MA

(1) الفوز الحقيقي هو دخول الجنة و زحزح عن النار

Kemenangan Hakiki itu adalah masuk surga dan dijauhkan dari neraka.

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَڪُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ‌ۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imron: 185)

(2) الذنوب هو الهلاك

Dosa itu adalah sumber kehancuran.

أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّن قَرۡنٍ۬ مَّكَّنَّـٰهُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ مَا لَمۡ نُمَكِّن لَّكُمۡ وَأَرۡسَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡہِم مِّدۡرَارً۬ا وَجَعَلۡنَا ٱلۡأَنۡهَـٰرَ تَجۡرِى مِن تَحۡتِہِمۡ فَأَهۡلَكۡنَـٰهُم بِذُنُوبِہِمۡ وَأَنشَأۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِمۡ قَرۡنًا ءَاخَرِينَ

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal [generasi itu], telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS.Al-An’am: 6)

Siapapun, keluarga manapun, Jamaah atau partai apapun, apabila prosentase dosanya lebih dominan, maka tunggulah kehancuran.

Ya Ikhwah, ingatlah ungkapan Sayyidina Umar :

معصيتنا أخوف إلينا من أعدائنا

“Kemaksiatan kita lebih kita takuti daripada musuh-musuh kita.”

(3) من أهداف الحياة الزوجية إقامة حدود الله

Di antara Tujuan hidup berkeluarga adalah menegakkan hukum-hukum Allah.

فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُۥ مِنۢ بَعۡدُ حَتَّىٰ تَنكِحَ زَوۡجًا غَيۡرَهُۥۗ فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَآ أَن يَتَرَاجَعَآ إِن ظَنَّآ أَن يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِۗ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ٢٣٠

“Kemudian jika si suami menalaknya [sesudah talak yang kedua], maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya [bekas suami pertama dan isteri] untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang [mau] mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 230)

Contoh, istri boleh nambah yang penting tegak syari’at Allah.. Jangan sampai asal nambah tapi menambah masalah.

(4) الإيمان و الأخوة هما أغلى عندنا

Iman dan Ukhuwah adalah yang paling mahal bagi kita.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

(5) الاعتصام بحبل الله هو الأصل و التنازع هو الطارئ

Bersatu berpegang teguh dengan Tali Allah adalah Asal, adapun berbantah-bantahan atau berselisih adalah sesuatu yang emergency harus segera diakhiri.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ۬ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡہَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu [masa Jahiliyah] bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Haqqa Tuqaatih


Haqqa Tuqaatih
Oleh: Ust Solikhin Abu Izzuddin | Instagram: @solikhinzerotohero
Inspirasi dari Taujih Shubuh Dr.Mu’inudinillah Basri, M.A.
Bagaimana agar bisa istiqomah?

1. Iman. Ini sumbu yang harus selalu nyala di dalam dada, di dalam jiwa.

2. Taqwa. Yakni sebenar-benar taqwa. Seperti disediakan gunung emas, masing-masing silakan ambil emas, panggul dan bawa. Tentu semua ingin bawa sebanyak banyaknya. Namun karena tak mampu bawa semuanya, akhirnya dikurangi sedikit, dikurangi lagi, sampai batas yang mampu kita bawa. Itulah cara kita menegakkan perintah Allah, sampai kemampuan maksimal yang kita bisa.

3. Islamiyatul hayah, islamisasi hidup kita masing2 dengan tunduk patuh pada ketentuan Allah dan berikhtiar menciptakan kondisi yang kondusif untuk menjaga nilai-nilai iman.

Namun, tidak hanya itu saja, Allah memerintahkan kita, umat yang sudah dibangun melalui takwinul ummah (pembentukan umat) itu agar

1. BERPEGANG TEGUH KEPADA TALI AGAMA ALLAH dengan BERJAMAAH (3:103)

Mungkin seseorang secara pribadi kuat, unggul, dahsyat, hebat, namun kalau sendirian dia akan lemah dan rapuh. Ringkih. Maka dalam berjamaah kita belajar dari keikhlasan Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar bin Khaththab.

Ketika terjadi pemurtadan besar-besaran usai wafatnya Rasulullah saw, Abu Bakar hendak memerangi mereka yang murtad dan tidak bayar zakat, Umar tidak sepakat karena mereka masih bersyahadat.

Namun ketika Umar tersadar maka dia mengikuti jalan besar dan benar yang ditentukan Abu Bakar, “Alhamdulillah, Allah lapangkan dada Abu Bakar untuk menentukan pilihan yang benar.”

Umar yang melihat celah amal dan ide besar rela menyerahkan ide besarnya berupa pengumpulan Al Quran usai syahidnya 70 hufadz dalam perang Yamamah. Ide tersebut diikhlaskan, diberikan untuk kebesaran Islam, bukan kebesaran nama Umar. Inilah fatsoen berjamaah yang agung.

Sahabat, seringkih apapun kita, ketika bersama jamaah yang berpegang teguh di jalan Allah, maka kita akan dikuatkan oleh Allah. Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah bahkan naudzubillah, jangan sampai berambisi dengan nafsu, kedengkian, hasad, dan syahwatnya untuk membubarkan jamaah.

Jika kita melihat titik lemah dari jamaah dan qiyadah, justeru kita sumbangkan potensi yang kita punya untuk membesarkan dakwah, bukan membesarkan diri.

Ketika Abu Bakar hendak meminta Umar menjadi pengganti Rasulullah, Abu Bakar berupa, “Umar, engkau lebih kuat daripada diriku…”

Umar menolak, “Engkau, wahai Abu Bakar, lebih mulia daripada aku. Engkaulah yang ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk mengimami shalat. Biarlah kekuatanku kuberikan bergabung dengan kemuliaanmu…”

Masya Allah. Itulah keikhlasan sejati yang akan mengokohkan soliditas bangunan umat.

2. JANGAN BERPECAH BELAH. Auz dan Khazraj hampir saja terjerumus salah kehidupan jahiliyah yang hobi perang dan gemar berpecah belah. Isu utama Umat Islam hari ini bagaimana merangkai potensi di dalam dan membangun sinergi keluar. Jangan sampai ada ketidakpuasan kepada pimpinan atau keputusan lalu melakukan perusakan ke dalam dan demarketisasi keluar. Kalau kita mau bersabar tentu Allah akan anugerahkan kemenangan yang besar.

3. INGATLAH NIKMAT ALLAH KETIKA DI TEPI NERAKA LALU ALLAH SELAMATKAN KAMU.

Abdullah bin Hudafah as Sahmi diutus oleh Nabi saw untuk sebuah ekspedisi. Nabi saw menegaskan agar mentaati Abdullah bin Hudafah yang memimpin kalian.

Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)


Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)

Keimanan yang kokoh menjadi perisai bagi setiap kader dakwah. Dan hal ini hendaknya menjadi sebuah kelaziman. Sehingga keimanan itu betul-betul bak perisai kuat untuk menahan lajunya serangan musuh yang senantiasa datang silih berganti. Perisai ini wajib selalu berada di tangan aktivis dakwah. Ia tak boleh lepas sekejappun apalagi hilang tak berketentuan arah. Keimanan yang diumpamakan perisai itu berawal dari kekuatan tauhid yang tertanam dalam sanubarinya. Tauhid yang kuat dan bersih dari berbagai penyimpangannya. Ia diasaskan dari kalimat yang baik (kalimatun thayyibah) yang terikat dalam jiwanya. Kalimat yang baik dari kekuatan tauhid ini lantaran persaksian dan komitmen loyalitasnya pada Sang Maha Perkasa. Hingga kalimat itu, Allah SWT umpamakan seperti pohon yang baik.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ . تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (Ibrahim: 24 – 25).

Pohon ini tiada duanya di muka bumi ini. Ia tumbuh subur dan berkembang pesat dan mampu melawan serangan hama dan penyakit. Sehingga ia menghasilkan buah yang tak pernah henti. Malah menumbuhkan pohon-pohon lainnya. Itulah pohon keimanan.

Disebut Syajaratul Iman (Pohon Keimanan) lantaran keimanan yang kokoh laksana sebuah pohon yang selalu memberikan manfaat yang amat banyak;

– Buahnya dapat dikonsumsi oleh setiap makhluk yang menginginkannya.

– Dahannya dapat menjadi sarang serta tempat bertengger burung-burung.

– Daunnya yang lebat menjadi tempat berteduh musafir yang lewat.

– Akarnya menyimpan persediaan air untuk bumi yang tandus.

Inilah pohon keimanan yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Beliau mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah SWT. menyerupakan pohon iman yang bersemi dalam hati dengan pohon yang baik. Akarnya menghunjam ke bumi dengan kokoh dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan buah setiap musim. Jika engkau renungkan perumpamaan ini tentulah engkau menjumpainya cocok dengan pohon iman yang telah mengakar kokoh ke dalam dan di dalam hatinya. Sedang cabangnya berupa amal-amal shalih yang menjulang ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan hasilnya berupa amal shalih di setiap saat menurut kadar kekokohannya di dalam hati. Kecintaan, keikhlasan dalam beramal, pengetahuan tentang hakikat serta penjagaan hati terhadap hak-haknya’.

Diantara para ulama penafsir Qur’an mereka berpandangan bahwa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits riwayat Ibnu Umar RA. Dalam kitab shahih. Ar Rabi’ Ibnu Anas mengatakan bahwa orang mukmin itu pokok amalnya menghunjam ke bumi sedang buah amalnya menuju langit lantaran keikhlasannya dalam beramal.

Ibnul Qayyim mengatakan, ‘Tidak ada perbedaan diantara ke dua pendapat itu karena makna yang dimaksud tamsil ini adalah sosok orang mukmin sejati. Sedang pohon kurma adalah sebagai gambaran yang menyerupainya dan dari diri orang mukminlah sebagai sosok yang diserupakannya’. Pohon-pohon keimanan ini tumbuh dan berkembang bahkan menumbuhkan pohon lainnya.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam kitabnya Ar Raqa’iq menggambarkan bahwa pohon-pohon itu bak laksana kumpulan tanaman taman nan indah. Setiap orang yang melihat pasti ingin berteduh didalamnya. Setiap melihat buah mesti tangan ingin menjamahnya. Pokoknya taman itu amat menarik hati. Pohon-pohon yang tumbuh di taman nan menawan itu adalah:

1. Syajaratut Tha’ah (Pohon Ketaatan)

Dari tempat kamu berteduh di bawah pohon iman itu kamu dapat mencium aroma wewangian bunga yang semerbak di dekatnya. Itu bersumber dari sebuah pohon yang disebut syajaratut tha’ah, yakni pohon ketaatan. Ia menjadi saksi terhadap keridhaan Allah saat dilimpahkan di hari turunnya ayat berikut:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (Al-Fath:18)

Orang yang berteduh di masa sekarang akan senantiasa mendapatkan ketenangan hati dan tidak mudah goyah karena faktor terhalangnya mendapatkan sesuatu atau tertinggal olehnya. Ia tetap tabah menunggu kemenangan yang akan diraihnya. Ia juga berada dalam arus gerakan Islam untuk selalu menunaikan tugas-tugas dan tanggung jawabnya. Ia setia dengan beban yang terpikul di pundaknya. Dengan sikap itu ia mampu meruntuhkan mercusuar kesesatan. Sedang ia telah menyatakan janji setia kepada Islam untuk mati sebagai tebusannya. Pohon ketaatan ini bersumber pada akar pengabdian yang utuh pada Sang Maha Pencipta. Sudah semestinya pohon ketaatan itu tumbuh subur di hati kader dakwah.

2. Syajaratut Tirhab (Pohon Penyambutan)

Pohon ini dinamakan pohon penyambutan. Ini untuk menyambut mereka-mereka yang sedang berjuang untuk mempertaruhkan hidupnya agar meraih kemuliaan di sisi Rabbnya. Jika Allah memilih untuk menimpakan musibah kepadamu sebagai jalan untuk meraih anugerah keridhaan-Nya. Dan kamupun mengalami cobaan berat hingga memaksamu berlindung di bawah syajaratut Tirhab, pohon penyambutan. Ini dilakukan untuk mencari ketenangan di bawah naungannya seraya menggerakkan pokoknya agar melimpahkan sebahagian dari berkahnya kepadamu. Dan engkau melakukan sikap sebagaimana yang dilakukan ibunda Maryam AS. Ketika bumi terasa sempit olehnya. Maka terdengarlah suara yang menyeru kepadanya:

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا . فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Maryam: 25 – 26).

Maka engkau mendapat makan dari buahnya yang telah masak dengan rasa puas tanpa berlebihan. Di sana engkau beroleh minuman yang segar dari sungai kecil yang mengalir di hadapanmu dengan mencidukkan kedua tanganmu kepadanya tanpa harus bersusah payah. Pohon ini berdiri pada pokoknya yakni kecintaan untuk menghariba kepada Rabbul Izzati. Dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan akan perjumpaannya. Bagi seorang kader dakwah mendekatkan diri untuk menghamba kepada Allah SWT menjadi keharusan. Agar ia senantiasa dalam kondisinya yang prima. Tidak lapar dan tidak pula kehausan. Ia dapat memenuhi hak dan kebutuhan hidupnya dalam memperjuangkan ajaran-Nya.

3. Syajaratul Wafa’ (Pohon Kesetiaan)

Kesetiaan adalah tanda kecintaan. Dan kecintaan merupakan prasyarat dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan kecintaannya. Nabi Muhammad SAW. mempunyai tanaman sendiri sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits, bahwa banyak pohon yang menyaksikan beberapa peristiwa dari perjalanan hidupnya yang mulia. Sebagai isyarat yang menunjukkan adanya hubungan ini. Terkadang sebagai gambaran untuk menyadarkan orang yang lalai. Diantaranya adalah syajaratul wafa’, pohon kesetiaan. Sebagai tanda adanya komunikasi di antara ruh-ruh yang selalu ingat. Pohon ini dapat mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada yang berhak menerimanya serta mengakui kebaikan yang diberikannya.

Ia adalah batang pohon kurma yang merintih saat ditingalkan. Jabir bin Abdullah RA. meriwayatkan, ‘Dahulu ada sebatang pohon kurma yang digunakan oleh Nabi SAW. untuk pijakan tempat berdirinya. Setelah dibuatkan mimbar untuk Nabi, kami mendengar dari batang kurma itu suara rintihan seperti rintihan unta yang sedang hamil besar. Hingga Nabi saw turun dari mimbarnya lalu meletakkan tangannya pada batang itu barulah batang pohon itu diam’. Batang pohon itu mengeluarkan suara rintihan seperti rintihan unta betina hamil besar. Peristiwa ini merupakan salah satu mukjizat Nabi SAW. Sebatang pohon yang diberikan penghormatan kepadanya lalu ia membalasnya. Manakala ditinggalkan ia merasa sedih sehingga kesedihannya itu melahirkan suara rintihan. Sekarang tiada seorangpun diantara kita melainkan di rumahnya terdapat kitab hadits. Seakan-akan Nabi saw berdiri di hadapannya mengajarkan urusan agama dan mengajarinya hukum-hukum syariat Islam. Maka sudah selayaknya bagi manusia seperti kita berterima kasih dan membalasinya dengan ketaatan dan kesetiaan pada ajaran yang dibawanya. Kita telah mendapatkan pelajaran yang amat bagus dari sebatang pohon kurma. Maka kita sebenarnya yang amat patut melakukan hal itu dan menterjemahkannya dalam sikap kita terhadap dakwah dan ajaran ini. Sepatutnya kita pun para kader dakwah merintih karena tidak dapat berbuat banyak untuk memberikan kontribusi pada dakwah ini sebagaimana orang-orang yang disebutkan Allah SWT. dalam kitab-Nya Allah berfirman:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. (At-Tauabh:92).

4. Syajaratut Tsabat (Pohon Keteguhan)

Keteguhan menjadi hal yang amat urgen dalam mengemban amanah mulia. Karena godaan dan rintangan akan selalu datang silih berganti. Karena itu bagi aktivis dakwah ia amat memerlukan pohon keteguhan. Engkau dapat berlindung dibawahnya di hari manusia berpecah belah karena kecenderungannya yang berbeda-beda. Engkau mencari selamat dengan meninggalkan semua golongan yang berpecah belah itu. ‘Sekalipun engkau harus menggigit akar pohon (yakni berpegang teguh pada prinsip meskipun hidup menderita)’.

Oleh karena itu berlindunglah pada pohon keteguhan ini untuk mengeraskan gigitannya. Seandainya engkau bayangkan keadaan yang sebenarnya tentulah hatimu menjadi ragu dan bergetar penuh kecemasan. Antara perasaan takut bila pegangannya mengendur lalu terbawa arus dan harapan untuk tetap bertahan demi mencapai keselamatan.

Akan tetapi sari pati cairan yang dikeluarkan oleh pohon itu membuat kamu segar karena mendapat minuman darinya. Sedang manusia saat itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Tenggorokanmu basah lagi sejuk, sehingga menambah keras gigitanmu terhadapnya, seakan-akan kamu menghisap keteguhan dan kekokohan darinya bagaikan bayi lapar yang sedang menyusu. Pohon keteguhan ini juga menjadi alat Bantu untuk menghadapi cobaan dan ujian komitmen dari berbagai rayuan dunia yang memikat. Dari pohon itu kader dakwah tidak akan goyah karena daya tarik material duniawi yang fana. Ia tidak seperti orang-orang yang lalai dari kesetiaannya karena tergoda oleh ikan-ikan yang bermunculan pada saat mereka harus menunaikan komitmen itu.

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik”. (Al-A’raf:163).

5. Syajaratul Unsi (Pohon Penghibur)

Pohon ini menjadi penghiburmu di saat kamu sendirian dan kelembabannya meringankan (membasahi) keringnya kesalahanmu. Pohon ini ditanam oleh Nabi saw, saat beliau melalui dua kuburan yang sedang diazab. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Nabi SAW. ‘Beliau mengambil sebatang pelepah kurma yang masih basah. Dan membelahnya menjadi dua bagian lalu menancapkan kepada masing-masing dari kedua kuburan itu satu bagian. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau lakukan itu?’. Rasulullah SAW. menjawab, ‘Mudah-mudahan azab diringankan dari keduanya selama kedua pelepah ini belum mengering’.

Buraidah Al Aslami RA. memahami hal ini sebagai tuntutan yang dianjurkan. Oleh karena itu ia berwasiat agar ditancapkan di atas kuburannya nanti dua batang pelepah kurma. Orang-orang pun mengikuti jejaknya dalam hal ini. Ada kalanya kita tidak dapat terlepas dari dosa-dosa kecil yang mencemari keikhlasan amal kita atau dari keterpaksaan mengejar sisa-sisa yang ada di tangan ahli dunia dari harta yang memperdayakannya. Yang biasa dibarengi dengan begadang yang merusak kesehatan dan dirundung oleh kegelisahan yang membuat diri kita tidak dapat tidur. Sehingga tubuh ini menjadi lemah untuk persiapan kerja di pagi hari. Barang kali dengan meluangkan waktu sejenak untuk berteduh di bawah pohon ini agar dapat meringankan beban hidupmu. Tentu hiburan bagi aktivis dakwah bukanlah dengan lantunan nasyid-nasyid dengan iringan bunyi musiknya atau juga bukan dengan tontonan yang melalaikannya. Akan tetapi hiburannya melalui dengan mengenang sejarah kehidupan umat terdahulu yang diabadikan kebaikannya serta mengingat akan janji balasan yang akan diberikan Allah SWT. pada orang-orang yang beriman. Sehingga dapat menggambarkan kenangan indah di hatinya akan kehidupan orang-orang yang telah berada di negeri cahaya yang penuh berkah.

6. Syajaratul Mufashalah (Pohon Pemisahan)

Pohon pemisahan ini menjadi saksi tentang sempurnanya akan kebersihan sarana yang digunakan oleh seorang muslim dalam mencapai tujuannya yang bersih. Demikian itu terjadi ketika ada seorang musyrik yang ingin bergabung memberikan bala bantuan kepada pasukan kaum muslimin dalam perjalanannya menuju medan perang Badar. Orang musyrik itu memberikan bala bantuan atas dasar fanatisme golongan untuk membela kaumnya. Ketika pasukan kaum muslimin sampai di sebuah pohon besar yang menjadi rambu jalan sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah RA. Lalu orang musyrik itu hendak bergabung. Maka Nabi menoleh kepadanya dan mengatakan, ‘Kembalilah kamu, aku tidak meminta bantuan dari orang musyrik’.

Maka ketetapan ini terus berlaku sebagai prinsip yang tidak pernah ada pengecualiannya. Kecuali hanya dalam kejadian-kejadian yang terbatas dan langka. Oleh karena itu prinsip ini tetap menjadi pijakan dalam amal dakwah kita agar tidak mengemis meminta-minta balas bantuan dari orang yang memusuhi dakwah. Apalagi potensi yang dimiliki umat masih melimpah ruah untuk didayagunakan.

7. Syajaratul Istighfar (Pohon Meminta Ampunan)

Pohon istighfar berupa pohon anggur yang banyak buahnya. Apabila ada seorang tamu yang mampir ke rumah pemiliknya maka ia akan memetik setangkai buah itu lalu disodorkan kepadanya untuk mencicipinya. Setelah itu tentu seseorang yang bertandang itu akan merasakan kepuasan yang teramat sangat. Kemudian pada hari yang lain. Isteri pemilik kebun anggur itu mengatakan kepada suaminya. ‘Cara seperti itu tidak etis kepada tamu, sebaiknya engkau ikut memakan separuh jamuanmu guna menyenangkan hatinya dan sekaligus sebagai pernghormatan padanya’. Suaminnya menjawab, besok aku akan lakukan hal itu. Keesokan harinya, setelah tamunya memakan separuh hidangan yang disajikan kepadanya. Lalu lelaki pemilik kebun itu ikut serta memakannya. Tatkala ia mencicipinya terasa anggur itu masam dan tidak enak untuk dimakannya. Ia pun meludahkannya dan mengernyitkan kedua alisnya keheranan atas kesabaran tamunya yang mau merasakan buah seperti itu. Namun tamu itupun menjawabnya. ‘Sesungguhnya aku telah memakan buah ini dari tanganmu sebelumnya selama beberapa hari dengan rasa manis tetapi sekarang ini aku tidak suka memperlihatkan kepadamu rasa tidak enak pada buah ini sehingga membuatmu menyesali pemberianmu yang lalu’.

Apa yang disebutkan di atas ini bukanlah kisah ngawur melainkan sebagai tamsil perumpamaan yyang dibuat untuk para dai yang mengusung dakwah ini. Karena itu dengarkanlah baik-baik. Hal ini merupakan ungkapan kisah yang dijabarkan kepadamu untuk mendekatkan kepahamanmu kepadanya agar mudah kamu cerna.

Tidak seorangpun di antara orang-orang yang ada disekitarmu yang terpelihara dari kesalahan dan benar selalu adanya. Oleh karena itu jika ada saudaramu yang berbuat kekeliruan maka janganlah kekeliruannya itu mendorongmu untuk mendiamkannya tidak mau bergaul lagi dengannya. Tidak sabar terhadapnya atau mendiskriditkannya. Bahkan jangan pula kamu mencelanya melainkan bersabarlah kepadanya. Dan tahanlah emosimu. Dan kamu harus memaafkannya dalam hatimu karena mengingat kebaikannya yang terdahulu dan perilakunya yang baik dan penghormatannya kepadamu. Karena barangkali dia dapat membantumu untuk bertaubat atau menolongmu saat kamu belajar sebagai pelayan pendamping atau teman begadangmu atau dia mengajarkan kepadamu suatu bidang pengetahuan yang diajarkan Allah kepadanya dan hal-hal baru yang belum kamu ketahui.

8. Syajaratuz Zuhud (Pohon Zuhud)

Jika engkau telah beroleh faedah dan menebarkan keadilan maka sudah saatnya bagimu untuk membaringkan diri di bawah sebuah pohon yang ramping lagi banyak buahnya dan bunganya. Keindahannya memukau pandangan orang yang melihatnya dan membuat orang yang menikmati keindahannya berdecak kagum karena selera penanamnya begitu tinggi.

Itulah pohon zuhud. Yaitu pohon yang bersemi di dalam hati. Jenisnya lain dari yang lain. Belum pernah ada seorang pun yang menanam hal yang semisal itu sehingga terlihat sangat indah. Penanamannya menggambarkan pohon itu bagai syair berikut:

Zuhud telah menanamkan pohon dalam kalbuku

Sesudah membersihkannya dari bebatuan dengan susah payah

Dia menyiraminya sesudah menancapkannya ke bumi dengan air mata yang dialirkan

Manakala di melihat burung-burung perusak tanaman terbang mengelilingi pagarnya

Dia mengusirnya

Aku tidur di bawah naungan yang rindang dengan hati yang senang

Dan mengusir semua yang mengganggunya

Kemudian aku berjanji setia kepada Tuhanku

Seperti itulah Bai’atur Ridwan dilakukan di bawah pohon untuk memberikan janji setia. Rasakanlah kamu menjadi salah seorang diantara mereka yang melakukan hal itu. Dan kamu bersama di tengah-tengah mereka. Dirimu dipenuhi oleh semangat bai’at janji setia sampai mati di jalan Allah SWT. demi membela ajaran ini tegak di muka bumi.

9. Syajaratul Hilm (Pohon Penyantun)

Imam Hasan Al Banna telah memahami seni menanam pohon keimanan ini. Karena itu ia menanamkan kepada kita pohon Kesantunan. Beliau menggambarkannya sebagai berikut: ‘Jadilah kamu seperti pohon yang berbuah. Manusia melemparinya dengan batu sedang ia melempari mereka dengan buahnya’.

Sesungguhnya ia telah memberikan gambaran yang baik dan masukan yang berfaedah. Karena sesungguhnya kebanyakan manusia cepat cenderung kepada kejahilan sehingga mendorong mereka untuk mendustakan para da’i dan menyakiti mereka dengan cara batil. Seandainya seorang da’i bersikap jahil seperti orang jahil itu dan membalas keburukan dengan keburukan semisal, niscaya akan lenyap dan pudarlah nilai-nilai kebajikan itu. Sebenarnya sikap yang harus diambil seorang da’i adalah berlapang dada, mengharapkan pahala Allah dan memohon ampunan bagi kaum yang tidak mengerti itu.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid menandaskan bahwa pohon keimanan itu mesti diberi pupuk dan disiraminya disetiap waktu. Dirawatnya dengan baik agar tidak dimakan hewan yang mendatanginya atau dihinggapi hama penyakit. Ia pun perlu diselamatkan dari tangan jahil manusia yang sering usil untuk memetik buahnya sebelum masanya. Ia perlu penjaganan yang ekstra agar pohon-pohon itu memberikan buahnya bagi dakwah ini. Itulah Tsamaratud Da’wah (Buah Dakwah). Yakni kader-kader dakwah yang militan yang menyediakan dirinya untuk melayani dakwah ini dan berkhidmat terus demi tegaknya ajaran ini. Bila pertumbuhan kader ini terus tumbuh dari berbagai segmen dan usia secara seimbang maka dakwah ini akan mengalami tingkat produktifitas yang amat tinggi. Intajiyatud Da’wah (Produktivitas Dakwah). Dengan begitu mewujudkan misi utama dakwah ini untuk mencapai perubahan nilai dan norma akan semakin terrealisir.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya:107).

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan peranglah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al-Anfal:39).

Mari kita belajar dari SEMUT….


Mari kita belajar dari SEMUT….

Hadith di atas diriwayatkan oleh Al-Baihaqi

Renungan hari ini bersama pengajaran besar daripada ‘pengurusan’ yang ditunjukkan oleh semut. Ia nampak pelik dan ganjil bagaimana manusia yang Allah swt lebihkan mereka dalam pelbagai sudut tiba-tiba perlu juga belajar daripada semut yang daif.

Serangga yang dipanggil semut dianggap oleh manusia sebagai mengganggu lagi menyakitkan… kita kena belajar daripadanya ilmu yang tidak diperolehi daripada manusia!

Apakah tidak cukup lagi burung Belatuk untuk mengajar kita? Burung Belatuk sekurang-kurangnya burung yang memiliki keindahan tersendiri, saiz badan yang agak besar, bersuara merdu dan cantik dipandang…. Tetapi semut?

Sesungguhnya ia adalah semut, namun kebijaksanaannya mengurus dan bekerja mengandungi banyak hikmah, ia adalah semut di zaman Nabi Sulaiman alaihissalam yang dikehendaki Allah swt untuk mengajar kita.. Ya ! kebijaksanaannya terpancar daripada hikmat Nabi Sulaiman sendiri yang mengetahui bahasa-bahasa haiwan termasuk burung, serangga dan segala makhluk di zamannya.

Masakan tidak ya akhi! Allah swt telah menamakan satu surah yang sempurna dari surah-surah di dalam al-Quran yang mengandungi 93 ayat dengan namanya –Surah An-Naml-, cerita semut hanya terdapat dalam beberapa ayat dari surah ini.

Firman Allah Ta’ala di dalam Surah An-Naml ayat 17-19:

“Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tenteranya terdiri dari jin, manusia dan burung lalu mereka berbaris dengan tertib. Hingga ketika mereka sampai ke lembah semut, berkatalah seekor semut: “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak dipijak oleh Sulaiman dan bala tenteranya sedangkan mereka tidak menyedari.” Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa kerana (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku! Anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar mengerjakan kebajikan yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh.”

Ayuh kita belajar dari semut walaupun dari beberapa ayat di dalam al-Quran. Saya berpendapat ia amat mustahak untuk diperhatikan.

Pertama: Tekun dalam pekerjaan

Tidak syak lagi bahawa kualiti kerja dan tekun dalam pekerjaan amat penting dalam pengurusan kini. Sehingga kita dapati semua perkara yang berkait dengan pengurusan mesti bergandingan dengannya ketekunan. Dan yang dikatakan kesempurnaan kualiti itu ialah seseorang itu melaksanakan kerja dalam sebuah tanzim (organisasi) semaksima mungkin tanpa sedikitpun berlaku kesilapan, berdasarkan etika kerja yang telah disepakati –sekalipun tidak tertulis- mengikat antara semua individu yang ada di dalam tanzim dalam lingkungan yang saling melengkapi satu sama lain. Kesilapan seorang atau sebahagian akan memberi kesan negatif kepada yang lain. Benarlah apa yang disabdakan Nabi saw tentang kaitan hubungan tersebut di antara para mukminin dengan ‘satu jasad’ dalam toleransi dan kasih sayang dan ‘seperti binaan yang menyokong antara satu sama lain’ di dalam kekuatan dan keutuhan.

Kesimpulan itqan secara umum (tekun dlm kerja) dalam mana-mana organisasi dari semua individu di mana-mana tempat sekalipun; ialah tunduk dan patuh kepada perintah Allah Ta’ala.

Iaitu apa yang kita pelajari dari kisah semut; ia menunaikan tugas yang menjadi kewajipan dengan cemerlang –darjat itqan- Ketekunan itu membawa kepada terlaksananya objektif. Semut berkenaan telah memberi amaran kepada kaum kerabatnya pada waktu yang sesuai dan akhirnya menyelamatkan mereka semua daripada bencana yang bakal menimpa.

Kedua: Sedar, prihatin dan iltizam (komitmen)

Ketiga-tiga perkara ini penting bagi menjayakan satu-satu tugas sebagaimana yang ditunjukkan oleh semut tersebut. Tanpa sifat di atas tidak mungkin sesuatu tugas dapat disempurnakan. Bahkan kelekaan sedetik boleh mengakibatkan kemusnahan menyeluruh kepada anggota tanzim. Justeru menjadi kemestian bagi setiap anggota tanzim tekun dan ihsan melaksanakan tugasan yang diamanahkan sehabis kemampuan dengan penuh sedar dan prihatin. Dia sebenarnya berada pada satu sudut penting dari semua sudut tanzim, jangan sampai bahaya datang melalui sudut di bawah jagaannya.

Kecuaian daripada seorang atau beberapa individu dalam tanzim tidak hanya akan memudharatkan mereka yang berkenaan sahaja, malah ia akan mendatangkan kemudharatan dan kerugian kepada semua yang berada dalam tanzim. Lihatlah apa yang berlaku dalam peperangan Uhud apabila beberapa individu para sahabat mengingkari arahan Rasulullah saw; ia merupakan bukti betapa pentingnya keprihatinan dan komitmen yang padu perlu wujud dalam bertanzim.

Ketiga: Semangat dan kehendak yang kuat

Kita perlu faham bahawa setiap perkara besar yang ingin dilaksanakan perlu kepada semangat dan kehendak yang kuat bagi menjayakannya. Musuh utama dalam diri manusia ialah lemahnya semangat dan kehendak.

Berkata penyair:

Keazaman datang mengikut kadar kuat azam seseorang
Kemuliaan datang mengikut kadar mulianya seseorang
Perkara besar akan jadi kecil apabila orang itu jadikan ia kecil
Perkara kecil akan jadi besar apabila orang itu jadikan ia besar

Dari sini kita tahu bahawa apa yang dilakukan oleh semut berkenaan sebenarnya didorong oleh keikhlasan, komitmen dan semangat yang tinggi. Kalau tidak pasti ia akan mendiamkan diri, malas dan menyerah sahaja kepada taqdir…

Keempat: Keazaman yang kental/utuh

Apabila semangat mendorong melakukan persediaan, meletakkan perancangan dan mengambil sebab-sebab yang akan membawa kejayaan, maka keazaman bermakna menetapkan hati untuk meneruskan apa yang dirancang tanpa ragu-ragu saat perlaksanaan tanpa menghiraukan apapun halangan.

Berkata penyair Al-Mutanabbi:

Bila engkau ada pendapat maka milikilah keazaman
Kerana rosaknya pendapat bila adanya keraguan

Jelas dari pendirian yang diambil oleh sang semut bahawa ia bukan hanya memiliki semangat yang tinggi untuk memenuhi faktor kejayaan, malah ia giat melaksanakan usaha mencapai matlamat tanpa menghiraukan apapun halangan sekalipun terpaksa menggadai nyawanya sendiri. Keazaman kental seumpama ini jarang terdapat pada manusia banyak maupun mereka yang terlibat langsung dengan pengurusan. Bayangkan jika sang semut teragak-agak dalam tindakannya atau lambat membuat keputusan, maka ia tidak akan dapat laksanakan tugasnya, seterusnya menyelamatkan kaum kerabatnya daripada bahaya yang pasti. Saya akan terangkan lebih terperinci dalam konteks pengorbanan nanti.

Kelima: Pengorbanan dan tiada kepentingan diri

Tiada kerja tanpa ketekunan dan jihad, tiada jihad tanpa pengorbanan. Setiap matlamat atau hadaf (objektif) tidak syak lagi perlu kepada jihad dan pengorbanan pada jalannya. Pengorbanan ialah sama ada dengan masa atau harta benda atau yang paling tinggi ialah dengan nyawa.

Pengorbanan tersebut perlu kepada intima’ (penggabungan) yang tinggi, bahkan kaitan antara semua objektif individu dan tanzim perlu sejajar sampai ke tahap ‘peleburan’…paling tinggi yang menjadi cita-cita setiap tanzim terhadap anggotanya.

Sang semut sebagai salah seekor dari kaumnya yang ditaklifkan untuk melaksanakan tugas tertentu –meninjau dan mengeluarkan amaran- telah menunjukkan pengorbanan yang dahsyat demi kaumnya. Ia telah bergegas mengerahkan tenaganya berdepan dengan Nabi Sulaiman dan bala tenteranya. Ia bernasib baik kerana kata-katanya itu didengari oleh Nabi Sulaiman. Sang semut tadi boleh –kalau ia mahu- selamatkan diri sendiri tanpa bersusah payah berusaha memberi amaran kepada yang lain, namun ia tidak hanya mementingkan dirinya sahaja…. Ia terus segera mendapatkan kaumnya menongkah arus laluan bala tentera, bersabung nyawa kerana boleh jadi ia akan terkorban sebelum sampai ke tempat kaumnya berkumpul. Alangkah hebatnya pengorbanan Sang semut ! Nyawanya menjadi taruhan dan tiada langsung kepentingan diri sendiri…. Dari sini kita dapat belajar berpandukan kebijaksanaan yang Allah kurniakan kepada Nabi Sulaiman. Bukan sekadar baginda memahami bahasa haiwan, bahkan kebijaksanaan dari tindak tanduk haiwan pun dapat dimengerti oleh baginda alaihissalam.

Keenam: Peraturan dan pembahagian kerja

Dari kisah Sang semut ini kita dapat memahami betapa berdisiplinnya ia. Bukan sekadar berdisiplin dan pandai mentadbir bahkan dapat merancang untuk masa depan. Kisah tersebut menggambarkan bahawa di sana ada peraturan dan pembahagian kerja atau tanggungjawab yang ditentukan terdahulu… seolah-olah Sang Semut berkenaan telah ditaklifkan untuk ‘berkawal’. Al-Quran menyebutkan ia sekadar Sang Semut biasa, membuat tinjauan untuk mengeluarkan amaran dan peringatan agar kecelakaan dapat dielakkan mengikut perkiraan masa yang mencukupi… Ia bukan ketua.. “Berkata Sang Semut”… Ia telah berjaya menjalankan tugasnya seperti semut-semut yang lain juga. Semua semut-semut yang ada pada hari itu menjalankan tugas masing-masing secara berimbang serta saling menyempurna antara satu sama lain dalam lingkungan disiplin menyeluruh yang amat indah sekali. Sang Semut secara kolektif dilihat mempunyai disiplin yang amat indah…

Ketujuh: Mengurus kecemasan

Ini pelajaran yang amat berguna. Bagaimana menguruskan kecemasan atau kecelakaan? Yang terpenting dalam asas mengurus kecelakaan ini ialah mengelakkan dari berlaku sejak awal lagi. Ia tidak mungkin dapat dilakukan melainkan melalui scenario andaian atau kebarangkalian berlaku kecelakaan; soalnya apa akan jadi bila berlaku sekian?? Dalam konteks kisah Sang Semut di atas, kecelakaan yang bakal berlaku ialah kedatangan bala tentera dalam skala besar menuju ke arah ‘negara semut’ tanpa disengajakan…lalu akan membinasakan keseluruhan ‘negara semut’ tadi. Justeru meminimakan kadar kecelakaan adalah dituntut; namun ia tetap merupakan kecelakaan juga. Oleh itu apa yang boleh dilakukan ialah berusaha sehabis kemampuan untuk mengurangkan kemalangan iaitu dengan mewujudkan stesyen-stesyen amaran awal dan siaran amaran kecemasan sebelum berlaku dalam tempoh waktu yang sesuai untuk membuat persediaan….

Dalam situasi yang berlaku kepada Sang Semut di atas, ia telah memberi amaran awal berdasarkan andaian akan berlakunya kecelakaan secara pasti… hingga nyawanya menjadi taruhan –seperti yang dikisah sebelum ini- Di sana ada andaian bahawa Nabi Sulaiman dan bala tenteranya kemungkinan akan merempuh ‘negara semut’ dan ada andaian lain bahawa mereka akan melencong ke laluan lain.. Semua itu kebarangkalian yang akan berlaku. Sang Semut tidak membuat andaian yang ketiga, contohnya ia kata: “Insya Allah semua baik-baik saja, jangan bimbang kita semua akan selamat… ” Akan tetapi ia memutuskan untuk memberi amaran awal sehingga bahaya yang bakal menimpa dapat dielakkan dan kecelakaan dapat diringankan sedapat mungkin.

Kelapan: Bersegera (tidak bertangguh)

Semangat untuk segera bertindak di sini jelas dilihat pada usaha menunaikan tugas tanpa berlengah. Sang Semut tidak menunggu-nunggu atau berserah bulat-bulat tanpa apa-apa usaha atau menunggu yang lain melakukan tugas tersebut. Tiada dalam fikirannya ‘kenapa semestinya saya yang lakukan’…’yang lain buat apa?’ Tetapi ia bangun menjalankan tugas tanpa disuruh sebagaimana kata-kata Thorfah ibnul Abd dalam mu’allaqahnya:

Apabila kaum itu berkata: Siapa pemuda itu? Aku menjawab ..saya yang bertanggungjawab dan saya tidak gentar dan tidak akan berundur…

Kesembilan: Perlaksanaan

Bersegera menjalankan tugas merupakan kemuncak kepada fikrah untuk membuat persediaan menunaikan tugas, maka perlaksanaan ialah perkara yang akan membawa kepada daerah penyempurnaan.Kedua-duanya ‘segera dan laksana’ adalah spirit pengurusan yang telah ditunjukkan oleh Sang Semut dalam kisah di atas….

Kesepuluh: Merasai tanggungjawab

Keseluruhan kisah yang disebutkan di atas tidak akan berlaku jika tidak ada perasaan tanggungjawab dalam jiwa Sang Semut tersebut. Boleh jadi ia hanyalah duduk pada tahap paling bawah dalam pyramid tanzim (hairaki tanzim), tetapi ia amat sensitive terhadap tanggungjawab seolah-olah ia orang nombor satu bertanggungjawab terhadap kaum kerabatnya. Perasaan tanggungjawab seperti inilah yang amat diperlukan oleh mana-mana organisasi atau tanzim. Dalam kisah ini terdapat sentuhan-sentuhan yang amat berguna.. Sang Semut telah mengajar kita dengan pengajaran yang maha hebat pada pandapat saya. Saya akan berhenti di sini kerana setakat ini kemampuan yang Allah swt anugerahkan kepada saya. Moga-moga di sana terdapat banyak lagi pengajaran yang boleh dikutip, mahukah kita mengambil iktibar? Apakah tidak sayugia kita bekerja seperti Sang Semut?! Tidakkah anda tahu sekarang….mengapa terdapat satu surah di dalam al-Quran dinamakan dengan Surah An-Naml?

Usrah & Dakwah oleh Al-Imam Hassan Al-Banna


Usrah & Dakwah oleh Al-Imam Hassan Al-Banna

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

LANDASAN

الَّذِینَ یُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَیَخْشَوْنَهُ وَلَا یَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا
“Orang-orang yang menyampaikan risalah Tuhannya (Allah) dan takut hanya kepadanya tidak kepada lainnya, cukuplah Allah sebagai Pengira segala Amal dan makhluknya.”
( Al-Ahzab:39)

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُم مِّن
جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِیرٌ لَّكُم بَيْنَ یَدَيْ عَذَابٍ شَدِیدٍ
Katakanlah ! Hanya sebuah wasiatku kepadamu, yalah, kamu akan menghadap kepada Allah berdua-dua dan sendiri sendiri. Kemudian renungkanlah dalam-dalam. Tidak ada sifat gila pada sahabat kamu itu (Muhammad). ía hanyalah seorang pembawa peringatan buat kamu di hadapan adzab yang pedih.

Katakanlah!
قُلْ مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَهُوَ عَلَى آُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Upah yang kuharapkan dari kamu adalah buat kamu. Balasan jasa buatku terserah kepada Allah, kerana ia menyaksikan segala sesuatu.

Katakanlah!

( قُلْ إِنَّ رَبِّي یَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَّامُ الْغُيُوبِ ( 48
Sesungguhnya Tuhanku yang Maha mengetahui perkara ghaib mewahyukan kebenaran kepadaku.

Katakanlah!

( قُلْ جَاء الْحَقُّ وَمَا یُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا یُعِيدُ ( 49
Telah datang kebenaran, dan kebathilan tidak bisa memulai sesuatu buat mengalahkan kebenaran dan tidak bisa mengembalikannya.

Katakanlah!

( قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَیْتُ فَبِمَا یُوحِي إِلَيَّ رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِیبٌ ( 50
Jika aku sesat, maka kesesatan itu buat diriku sendiri, dan jika aku terpimpin, maka itulah wahyu dan Tuhanku, sesungguhnya Ia Maha Mendengar yang dekat.
( Saba’: 46-50 )

ENAM PEGANGAN

1. Agama hanya akan dapat dirasakan oleh orang yang menegakkan ia dalam dirinya.

2. Bahagia dan sa’adah hanya akan dirasakan oleh orang yang membela keyakinan, kebenaran dan keadilan.

3. Kemenangan dan kejayaan hakiki hanya akan diberikan kepada para pejuang yang rela berkorban, kuat menahan penderitaan dan kepapaan.

4. Kesabaran dan ketahanan berjuang hanya akan diberikan kepada Mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah s.w.t.

5. Teguhlah dengan keyakinan dan perjuangan, kerana makna dan erti hidup terletak pada keyakinan dan perjuangan.

6. Belajarlah menfana’kan diri guna kepentingan Cita-Cita dan Agama.

Inilah perutusanku kepada saudara-saudara para Mujahidin di dalam “Ikhwan Muslimin” yang
beriman kepada kemuliaan Dakwah mereka, beriman kepada kesucian Fikrah (Falsafah Hidup) mereka, dan sungguh-sungguh berazam untuk sehidup dan semati dengan Dakwah serta Fikrah mereka; kepada hanya saudara-saudara tertentu inilah sahaja saya tujukan kata-kata yang ringkas ini iaitu kata-kata yang berupa arahan-arahan yang mesti ditunaikan, bukan mata pelajaran yang dihafal di bibir mulut.

Oleh itu marilah segera ke arah “bekerja” wahai saudara-saudara Sadiqun, dan segala amalan kamu itu akan diperlihatkan oleh Allah swt, RasulNya, dan oleh orang-orang Mukminin, dan kamu sekalian akan dikembalikan kelak kepada Tuhan yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi dan yang nyata lalu diterangkannya kepada kamu apa-apa yang telah kamu “Kerjakan”.
Sebenarnya; “Inilah jalanku, jalan yang lurus, maka hendaklah kamu mengikutinya dan janganlah kamu mengikut jalan-jalan yang lain kelak kamu akan terpesong dari jalan Allah swt; itulah amanat yang diwasiatkannya kepada kamu mudah-mudahan kamu terpelihara.”

Adapun selain daripada para “Mujahidin” tadi, maka untuk mereka sudahpun ada berbagai-bagai pelajaran, ceramah, kitab, rencana tulisan, tanda lambang, Jabatan, dan masing-masing dengan kesanggupannya, maka berlumba-lumbalah ke arah kebajikan sedang Allah menjanjikan kebaikan kepada setiap orang daripada kita.

DARIHAL “USRAH” Hassan al-Banna

1. Sesungguhnya Islam memandang sangat mustahak untuk membentuk ikatan-ikatan perpaduan penganut-penganutnya. Ikatan-ikatan ini dinamakan “Usrah” atau “Keluarga” Dengan terbentuknya apa yang dinamakan “Usrah” atau “Keluarga” seperti itu akan dapatlah dipimpin penganut-penganut Islam tadi ke arah contoh tauladan yang tinggi, dan dapatlah pula diperkuatkan ikatan-ikatan yang ada pada mereka, bahkan akan dapatlah dipertinggikan mutu “Ukhuwah” atau “Persaudaraan” di antara sesama mereka; iaitu dengan jalan membawa contoh tauladan dan persaudaraan itu dari peringkat bualan dan pandangan teori kepada peringkat perbuatan dan amalan.

Oleh itu, saudara sendiri juga hendaklah turut memandang berat serta bersedia untuk menjadi batu-bata yang sihat lagi berguna kepada bangunan keluarga binaan yang mulia ini; iaitu “Usrah Islamiah” atau “Keluarga Islam”.

2. Rukun ikatan “Usrah” ini tiga perkara yang mana hendaklah saudara memelihara serta
mengambil berat untuk bersungguh-sungguh menjayakannya supaya ikatan “usrah” tersebut tidaklah semata-mata menjadi suatu beban yang tidak mempunyai sebarang erti. Tiga rukun tersebut ialah:

(1) Ta’aruf [berkenalan]
(2) Tafahum [bersefahaman] dan
(3) Takaful [berseimbangan]

3. Erti Berkenalan: “Berkenalan” di antara satu sama lain ialah rukun yang pertama bagi pengertian “Usrah”. Oleh itu “ta’aruf” saudara-saudara hendaklah berkenal-kenalan serta berkasih-sayang dengan semangat cinta kepada Agama Allah, dan hendaklah saudara-saudara menyedari serta memahami hakikat “ukhuwwah” (persaudaraan) sejati di antara sesama saudara-saudara sendiri. Saudara-saudara hendaklah berusaha bersungguh-sungguh supaya jangan ada apa pun juga yang boleh mengerohkan perhubungan “ukhuwwah” itu. Ini boleh saudara-saudara lakukan dengan jalan sentiasa menjunjung titah perintah Allah swt dan hadith-hadith RasulNya saw, bahkan dengan jalan menjadikan firman-firman dan hadith-hadith itu perkara-perkara yang wajib diutamakan ke atas perkara-perkara yang lainnya.

4. Firman Tuhan:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
ertinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara”.
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا
ertinya: “(Dan berpeganglah dengan tali Allah swt semuanya dan janganlah kamu berpecah-belah)”.

5. Hadith Nabi:

المؤمن للمؤمن كالبنيان یشد بعضه بعضا
ertinya: “(Orang mukmin bagi orang mukmin itu laksana bangunan yang sebahagiannya memperkuatkan sebahagian
yang lain)”.
المسلم أخ المسلم لا یظلمه ولا يسلمه
ertinya: “(Orang muslim ialah saudara bagi muslim yang lain; ia tidak menzaliminya dan tidak juga membiarkannya dizalimi)”.
مثل الؤمنين قي توادّهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد
ertinya: “(Perbandingan orang-orang mukmin dalam kasih sayang mereka, dalam perasaan belas kasihan mereka, dan dalam rasa simpati mereka adalah laksana badan yang satu)”.

6. Malangnya ! Perintah-perintah Tuhan dan arahan-arahan RasulNya itu dalam zaman kebelakangan ini, selepas angkatan pertama dan zaman perkembangan Islam dahulu telah berubah menjadi hanya cakap-cakap kosong di kalangan orang-orang Islam sendiri dan ianya tidak lebih dari angan-angan sahaja. Tetapi, walaubagaimanapun apabila angkatan kita “Ikhwan Muslimin” muncul maka baharulah saudara-saudara sempat membuktikan erti hakikat “Ta’aa-ruf” atau “Berkenalan” tadi secara amalan, malah saudara-saudara ikhwan kita mencuba berkali-kali melaksanakan dasar “ta’aaruf” itu dikalangan masyarakat kita; saudara-saudara juga membuktikan keazaman yang kuat untuk menyatukan semula umat kita dengan berpandu
kepada semangat cinta kepada Allah swt dalam “Ukhuwah Islamiah”. Oleh itu, saya mengambil peluang mengucapkan tahniah sekiranya benar saudara-saudara sudah berazam begitu, malah saya berharap begitulah hendaknya yang saudara-saudara azamkan dan Allah jualah yang akan memberi taufiknya kepada saudar- saudara sekalian.

7. Bersefahaman: Rukun yang kedua bagi “Peraturan”, atau susunan “Usrah”, ini ialah “Ta-faa-hum” atau “Bersefahaman”. Oleh itu, saudara-saudara hendaklah selama-lamanya berpegang dengan “Kebenaran”; iaitu dengan jalan mengerjakan apa-apa yang diperintah Allah dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya dan saudara-saudara juga hendaklah memeriksa diri sendiri dengan sehalus-halusnya sama ada saudara-saudara benar-benar taat kepada perintah Allah swt atau pun terlibat ke dalam kederhakaan. Setelah memeriksa diri sendiri, saudara-saudara hendaklah pula nasihat menasihati di antara satu sama lain apabila kelihatan sesuatu yang “cacat” berlaku.

8. Dalam soal nasihat menasihati ini hendaklah saudara yang diberi nasihat itu bersedia serta sanggup menerima nasihat dan saudaranya tadi dengan sukacita dan gembira dan mengucapkan terimakasih di atas nasihatnya itu.
Saudara yang memberi nasihat itu pula janganlah berubah hati terhadap saudaranya yang “tersilap” tadi walau pun perubahan perasaan hati itu sejarak sehelai rambut sekalipun.

9. Nasihat-nasihat hendaklah diberi dengan cara yang baik dengan tidak memandang rendah terhadap saudara yang dinasihatinya itu. Orang yang memberi nasihat janganlah menganggap dirinya lebih mulia bahkan ia hendaklah memberi nasihat dengan cara tidak melahirkan terang-terangan akan kesilapan saudaranya itu kira-kira selama sebulan dengan tidak pun menceritakan segala kecacatan yang telah pun diperhatinya kepada “Ketuanya” (Ketua Usrah). Dia hendaklah menceritakan hal itu kepada “Ketua Usrah” jika ia rasa tidak berdaya memperbaikinya. Dalam apa hal sekalipun, iaitu janganlah sekali-kali merasai tawar
hati terhadap saudaranya yang “silap” tadi malah hendaklah ia tetap memberi kasih sayang terus menerus kepadanya sehinggalah Allah swt melakukan apa-apa perubahan yang dikehendakinya.

10. Dalam semua hal seperti yang dibentangkan tadi, saudara yang diberikan nasihat pula janganlah menunjukkan kedegilan dan sikap keras kepalanya malah ia janganlah berubah hati walau sejarak rambut sekali pun terhadap saudaranya yang memberi nasihat tadi; hendaklah difaham bahawa martabat “kasih sayang” kerana Allah itu adalah setinggi-tinggi martabat bagi pengertian “kasih sayang” di kalangan umat manusia, manakala “nasihat” itu pula adalah satu-satunya dasar yang amat penting di dalam Agama Islam.
Rasul bersabda- (ad dii-nun na-sii-hah) ertinya: (Agama itu adalah nasihat).

Oleh itu, perhatikanlah dalam-dalam, mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada kamu — perhatikanlah dalam-dalam akan pengajaran yang mulia di dalam hadith Rasul saw tadi, mudah-mudahan Allah selamatkan saudara-saudara di antara sesama sendiri, dan semoga Allah perkokohkan susunan saudara-saudara dengan berkat ta’at saudara-saudara kepadaNya; dan semoga Allah swt elakkan kita dan saudara-saudara semua daripada tipu-daya syaitan.

11. Berseimbangan: “Berseimbangan” atau (taka ful) ialah dasar memelihara nasib sesama sendiri supaya jangan ada orang yang terbiar atau terlantar; oleh itu saudara-saudara hendaklah mengamalkan dasar “takaful” ini dengan cara yang bersungguh-sunggul untuk bersama-sama menolong memikul bebanan sesama sendiri. Dasar “Berseimbangan” atau “takaful” ini merupakan tunjang iman dan intisari “ukhuwah” sejati. Untuk mengamalkan rukun “Berseimbangan” ini, saudara- saudara hendaklah sentiasa bertanya khabar sesama sendiri, ziarah menziarah, dan berganti ganti membuat kebajikan dengan jalan segera menolong di antara satu sama lain sedaya upaya. Perhatikan sabda Rasul saw:
لان یمشي احدكم في حاجة اخيه خيرله من ان یعتكف في مسجدي هذا شهرا
Ertinya: (Kalau seseorang dari kamu itu berjalan kerana hendak menolong saudaranya adalah lebih baik baginya daripada ia ber ‘iktikaf sebulan di masjidku ini).

Dalam suatu sabdanya yang lain, Rasul saw bersabda yang ertinya: (Barang siapa memberi kesukaan kepada keluarga sesebuah rumah orang muslim nescaya tidak lain yang dibalas Allah melainkan dengan syurga).

Mudah-mudahan Allah padukan saudara-saudara sekalian dengan pertolongannya sendiri; kerana Allah itulah sebaik-baik Pengawal dan sebaik-baik Pembantu.

12. Wahai Saudara-saudara Ikhwan:
Jika saudara-saudara faham maksud di dalam “kewajipan-kewajipan” di hadapan saudara saudara, dan di dalam “kerja-kerja” saudara-saudara, jika saudara-saudara mengerjakannya maka di situlah terletaknya segala sesuatu yang boleh menjayakan rukun-rukun “Ber-Usrah” tadi. Oleh itu, saudara-saudara hendaklah sentiasa menyemak tugas-tugas yang bercorak “tugas tolong-menolong” dan tiap-tiap ahli “ikhwan” hendaklah memeriksa dirinya sendiri untuk melaksanakan “kewajipan-kewajipan” tersebut.

13. Selain dan itu, hendaklah tiap-tiap “ikhwan” itu benar-benar menghadiri pertemuan-pertemuan yang telah dijadualkan walau bagaimana uzur sekalipun, kemudian hendaklah ia segera menunaikan kewajipannya untuk “Tabung Usrah” atau (Sun-duu-qul-Usrah) iaitu cawangan “Usrah” yang ia sendiri menjadi ahlinya sehingga dengan demikian hendaknya janganlah sampai ada ahli yang tidak menunaikannya.

Sebenarnya, apabila saudara dapat menunaikan kewajipan-kewajipan yang bersifat perseorangan, kemasyarakatan, dan kewangan seperti yang tertera tadi maka tidak syak lagi rukun-rukun “Usrah” kita ini akan terlaksana dengan jayanya. Akan tetapi, sebaliknya jika saudara-saudara mencuaikannya maka segala rukun dan peraturan tersebut sudah tentu akan beransur-ansur mundur dan akhirnya terus mati; dan dengan matinya “Peraturan Usrah” yang baik ini akan rugilah gerakan “Dakwah” kita ini serugi-ruginya. Perlu ditegaskan bahawa gerakan “Dakwah” kita ini amatlah dikehendaki dan menjadi tempat harapan bagi umat Islam seluruhnya.

14. Banyak juga di antara saudara-saudara “Ikhwan” kita bertanya: “Apakah yang hendak dibuat di dalam pertemuan-pertemuan kita tiap-tiap minggu selaku sebuah “Usrah” menurut susunan dan peraturan ini?”

Perkara ini mudah sahaja; kerana alangkah banyaknya kewajipan kita sedangkan masa kita terlalu sedikit; oleh itu pertemuan-pertemuan mingguan kita hendaklah dipenuhkan dengan perkara-perkara yang berikut:

15. Perkara (1): Membentangkan Kesulitan:
Tiap-tiap seorang “ikhwan” hendaklah membentangkan kesulitan-kesulitannya, kemudian saudara saudara yang lain turut mengambil berat untuk tolong mengatasi kesulitan-kesulitan itu; dan ini hendaklah dilakukan di dalam suasana “ukhuwah” yang sejati dan dengan niat yang sebenar-benar ikhlas kerana Allah. Dengan demikian dapatlah diperkuatkan lagi asas “saling percaya mempercayai” seperti mana juga dapat diperkukuhkan tali hubungan “ukhuwah”. Rasul saw bersabda:
المؤمن مرآة اخيه
Ertinya: (Orang mu’min itu cermin bagi saudaranya).

Dengan demikian kita berharap semoga tercapailah sedikit sebanyak hikmat yang tersaji di dalam hadith Rasul saw yang berbunyi:
مثل المومنين قي توادّهم وتراحمهم وتعاطقهم كمثل الجسد الواحد. اذا اشتكى منه
عضو تداعي له سائرالجسد بالسهروالحمي
Ertinya: (Perbandingan orang-orang mukmin dalam erti kata kasih sayang mereka, dalam ertikata belas kasihan mereka sesama mereka, dan dalam erti kata timbang rasa simpati mereka adalah laksana badan yang satu; iaitu apabila mana-mana anggota mengadukan hal maka turut menanggunglah seluruh badan dengan berjaga malam dan merasai demam).

16. Perkara (2): Bermuzakarah:
Hendaklah saudara bermuzakarah iaitu bertukar tukar fikiran mengenai urusan-urusan Islam; hendaklah menatap risalah-risalah arahan dan taklimat yang diedarkan oleh Pucuk Pimpinan kepada seluruh cawangan “Usrah”. Dalam satu-satu pertemuan “Usrah” janganlah ada sebarang pertengkaran atau bertikam lidah atau sikap menengking herdik kerana semuanya adalah dikira “haram” menurut Undang undang Usrah. Muzakarah hendaklah merupakan penerangan dan penjelasan dengan tidak melanggar batas-batas sopan santun yang sempurna dan dengan cara harga-menghargai fikiran yang datang semua pihak yang mengambil bahagian di dalam muzakarah itu. Apabila hendak ditutup satu-satu perbincangan, atau hendak dibuat keputusan mengenai apa-apa cadangan, atau hendak penjelasan lanjut mengenai cadangan yang sedang ditimbangkan itu, maka perkara itu hendaklah diserahkan kepada “Ketua Usrah” supaya beliau sempat terlebih dahulu mengemukakannya kepada “Pucuk Pimpinan”. Jangan dibuat
keputusan mengenai sesuatu perkara dengan cara terburu-buru. Tuhan mencela umat-umat manusia yang bersikap terburu-buru dengan firmanNya:
واذاجاءوهم امرمن الأمن اوالخوف اذاعوابه
Ertinya: (Dan apabila datang kepada mereka sesuatu perkara mengenai keamanan atau ketakutan maka mereka pun terus mencanangkannya).

Setelah Tuhan mencela mereka yang berperangai begitu maka Tuhan tunjukkan pula apa-apa yang semestinya dilakukan apabila tersua dengan suasana seperti itu.
Tuhan berfirman:
ولوردوه الي الرسول والي أولي الامرمنهم لعلمه الذین یستنبطونه منهم
Ertinya: (Kalaulah mereka kembalikannya kepada Rasul dan kepada Pihak Berkuasa dan antara mereka sendirii nescaya orang-orang yang menimbangnya itu menge tahui hakikatnya).

17. Perkara (3): Kajian Buku:
Hendaklah saudara-saudara mengadakan suatu kajian yang berfaedah mengenai sesebuah kitab yang bermutu. Apabila sudah membuat kajian begitu, maka hendaklah saudara-saudara angkatan Ikhwan beraleh pula untuk menjayakan erti “Ukhuwah” hatta dalam perkara-tunjuk “muka manis” sekalipun; dan alangkah banyaknya perkara-perkara yang berfaedah seperti itu yang mana tentulah tidak termuat oleh terlalu banyaknya di dalam kitab-kitab dan buku-buku. Perkara-perkara ini tentulah tidak dapat disedia sekali gus di dalam “Taklimat-Takimat” dalam perkara perkara seperti ini; iaitu seperti menziarah orang sakit; menolong orang-orang yang berhajat walaupun dengan hanya sekadar kata-kata yang baik; mencari dan bertanyakan hal tentang saudara-saudara yang tidak kelihatan bersama-sama kumpulan; dan menanggong bebanan saudara-saudara yang terputus rezeki. Semuanya itu dapat menambahkan lagi tali
“Ukhuwah” dan dapat melipatgandakan perasaan kasih sayang di dalam hati masing-masing.

18. Rencana Tambahan:
Untuk mengukuhkan ikatan persaudaraan di antara saudara-saudara “Ikhwan Muslimin”, maka mereka sendiri hendaklah memandang mustahak perkara-perkara yang berikut: –

(1) Mengadakan perkelahan yang bercorak kebudayaan untuk melawat ke tempat-tempat yang ber sejarah, gudang-gudang perusahaan, dan sebagainya.

(2) Mengadakan perkelah-kelahan riadzah pada tiap tiap bulan.

(3) Mengadakan perkelah-kelahan berdayong sampan.

(4) Mengadakan perkelah-kelahan ke bukit-bukit, ke padang-padang pasir dan ke ladang-ladang.

(5) Mengadakan bermacam-macam perkelahan dengan mengguna basikal.

(6) Berpuasa seminggu sekali atau dua minggu sekali.

(7) Sembahyang Subuh berjama’ah di masjid Sekurang-kurangnya seminggu sekali.

(8) Berikhtiar seboleh-bolehnya bermalam beramai ramai seminggu sekali atau dua minggu sekali.

KEWAJIPAN ANGKATAN IKHWAN

19. Pertama: Untuk Badan Saudara:-

(1) Hendaklah saudara segera berjumpa doktor untuk diperiksa kesihatan umum saudara. Jika didapati ada apa-apa penyakit maka hendaklah saudara segera berubat. Selain dan itu hendaklah saudara sentiasa mengambil berat tentang punca-punca kekuatan badan saudara dan cara-cara bagaimana memeliharanya dan segi kesihatan. Di samping itu hendaklah saudara menjauhkan diri daripada sebab-sebab yang boleh melemahkan kesihatan badan saudara.

(2) Hendaklah saudara menjaga kebersihan di dalam semua hal — iaitu samada dalam rumahtangga, pakaian, makan minum, tubuh badan, maupun tempat bekerja dengan sebersih-bersihnya; kerana Islam itu diasaskan di atas dasar “Kebersihan”.

(3) Hendaklah saudara tidak meminum kopi atau teh berlebih-lebihan dan apa-apa jua minuman penyegar seperti itu; malah seboleh-bolehnya cubalah jangan sama sekali menghisap rokok.

(4) Hendaklah saudara mengamalkan apa-apa jenis riadah badan walaupun dengan cara hanya sekadar berjalan-jalan kaki sahaja; dan hendaklah saudara menjadi ahli di dalam mana-mana “Pasukan Pengembara” jika umur saudara menasabah dengannya.

(5) Hendaklah saudara menjauhkan diri sama sekali daripada arak, minuman-minuman keras yang memabukkan, dan minuman-minuman yang boleh melemahkan kesihatan badan atau apa jua minuman yang merbahaya seperti itu.

20. Yang Kedua: Untuk Akal Saudara:-

(6) Hendaklah saudara dapat membaca dan menulis dengan baik. Hendaklah saudara belajar membaca dan menulis jika saudara belum dapat berbuat demikian. Hendaklah saudara sentiasa bermutala’ah dapat berbuat demikian. Hendaklah saudara sentiasa membaca akhbar-akhbar dan majalah-majalah. Hendaklah juga saudara mempunyai sebuah kutub-khanah khas untuk saudara sendiri walaupun kecil supaya saudara berpeluang mendalamkan ilmu pengetahuan dan kepandaian yang sudah ada pada diri saudara jika saudara adalah termasuk ke dalam mana-mana golongan iktisas dalam satu-satu bidang pengetahuan.
Saudara hendaklah juga memiliki pengalaman berkenaan urusan-urusan Ugama Islam kira-kira
membolehkan saudara menggambarkan hakikatnya dan menimbang samada cucuk atau tidak satu-satu perkara itu dengan tujuan-tujuan Dakwah’ kita.

(7) Hendaklah saudara dapat membaca Quran dengan betul: dan juga hendaklah saudara dapat mendengar serta memikirkan ertinya. Juga saudara dikehendaki mempelajari “Sirah” atau Perjalanan Rasulullah dan sejarah angkatan “As-sala-fus Saa-lih” atau yang sangat “mustahak” (essential) mengenai asas-asas “Aqidah asas-asas bagimana hukum-hukum itu bercabang, dan juga rahsia-rahsia Syari’at Tuhan.

21. Ketiga: Untuk Budi Pekerti Saudara:-

(8) Hendaklah saudara sentiasa di dalam keadaan segar mekar dan cergas, berperasaan halus, mudah berkesan sama ada terhadap sesuatu yang baik maupun terhadap sesuatu yang buruk; sama ada terhadap perkataan-perkataan maupun terhadap perbuatan.

(9) Hendaklah saudara sentiasa bercakap benar dan jangan sekali-kali berdusta; hendaklah saudara kuat kemahuan; dan janganlah teragak-agak di dalam sesuatu perkara, yang benar dan hendaklah saudara sanggup menyimpan rahsia; berani mengaku kesilapan sendiri. sanggup menyedari dan mengawas diri sendiri ketika marah.

(10) Hendaklah saudara bersikap berani; sanggup memikul bebanan; dan semulia-mulia keberanian itu ialah berani berterang-terang dengan perkara yang benar dan hendaklah saudara sanggup menyimpan rahsia; berani mengaku kesilapan sendiri, sanggup menyedari dan mengawal diri sendiri ketika marah.

(11) Hendaklah saudara bersikap gagah dengan cara sentiasa bersungguh di dalam sesuatu perkara. Kegagahan sikap seperti itu tidaklah pula sampai menghalang saudara dan bergurau dengan yang benar dan ketawa dengan senyum dan dengan tidak mengada-ngada.

(12) Hendaklah saudara menjauhkan diri daripada rakan-rakan yang jahat dan daripada kawan yang rosak seperti mana saudara juga hendaklah menjauhkan diri daripada tempat maksiat dan dosa.

22. Keempat: Untuk Saku Saudara:-

(13) Hendaklah saudara membuat apa juga kerja yang halal yang boleh mendatangkan rezeki sekalipun kalau saudara sudah kaya-raya; dan juga hendaklah saudara memilih kerja yang bersungguh dan mencubakannya seberapa daya upaya walaupun kerja itu sukar; bahkan hendaklah saudara bertekun sehingga berjaya di dalam satu-satu kerja.

(14) Janganlah saudara terlalu sibuk mencari kerja di pejabat-pejabat Kerajaan. akan tetapi janganlah pula saudara menolaknya jika peluang mendatang: dan janganlah lepaskan kerja yang sudah saudara dapat kecuali jika kerja itu henar-benar berlawanan dengan tugas-tugas Gerakan Dakwah kita.

(15) Hendaklah saudara sentiasa berjaga-jaga supaya dapat menunai tugas saudara dengan cukup amanah tentang kelicinan dan ketertihan pekerjaan itu; dengan sekali-kali tidak menipu; bahkah hendaklah saudara menunaikan kewajipan itu dengan tepat pada waktunya dan tepat pada masa janjinya.

(16) Hendaklah saudara menjauhkan diri dari permainanjudi walaupun apa jua pun coraknya, dan walau apapun jua tujuan yang ada di sebaliknya. Hendaklah juga saudara menjauhkan diri daripada cara-cara penghasilan haram walaupun di sebaliknya itu terdapat keuntungan yang segera.

(17) Hendaklah saudara menjauhkan diri daripada amalan riba di dalam apa jua mu’amalah jual-beli, malah hendaklah saudara membersihkan diri sama sekali dan sebarang aliran riba itu.

(18) Hendaklah saudara menyimpan sebahagian daripada wang saudara untuk masa kecemasan walaupun simpan itu sedikit sahaja, dan janganlah sekali-kali saudara-saudara terjerumus ke dalam perbelanjaan-perbelanjaan yang tidak mustahak.

(19) Hendaklah saudara memerangi tempat-tempat permainan kotor; jangan menghampirinya, dan hendaklah saudara menjauhkan diri daripada cara hidup bermewah-mewah, berlebih-lebihan dan membazir.

(20) Hendaklah saudara mengguna harta umum umat Islam itu kepada jalan-jalan yang menggalakkan perusahaan dan pembangunan ekonomi Islam. Hendaklah saudara berjaga-jaga supaya jangan sampai keciciran wang itu walau sekupang sekalipun ke tangan pihak yang bukan Islam walau dalam apa jua keadaan sekalipun. Hendaklah saudara jangan memakai melainkan barang-barang buatan tanah air saudara sendiri.

23.Yang Kelima: Untuk Orang Lain:-

(21) Hendaklah saudara berlaku adil dan benar dalam menjalankan sesuatu hukum walauapa pun jua perkaranya. Janganlah saudara lupakan kebaikan orang lain sebab saudara marah; dan sebaliknya pula, janganlah saudara memejam mata daripada kejahatan kejahatan mereka — itu sebab saudara sayang. Budi baik orang lain hendaklah dikenang walaupun ketika dalam keadaan permusuhan. Hendaklah saudara bercakap benar walaupun terhadap diri sendiri atau terhadap orang yang paling hampir dengan saudara sekalipun cakapan yang benar itu pahit maung akibatnya.

(22) Hendaklah saudara cergas dan terlatih dalam membuat perkara-perkara kebajikan am. Kecerdasan ini dapat diukur dengan perasaan gembira saudara ketika saudara dapat memberi khidmat kepada orang lain untuk mencapai maksud ini hendaklah saudara menziarahi orang-orang sakit, menolong orang-orang yang berhajat, menanggung bebanan orang-orang yang lemah dan melapangkan dada orang-orang yang ditimpa kemalangan atau bencana walaupun hanya sekadar dengan cakap-cakap yang “melegakan hati”. Tegasnya, hendaklah saudara segera melakukan kebajikan walau apajua pun coraknya.

(23) Hendaklah saudara bersifat belas-kasihan dan bertolak-ansur. Dalam hal ini hendaklah saudara memaaf dan mengampun kesilapan-kesilapan orang lain. Belas kasihan ini bukan sahaja terhadap sesama manusia akan tetapi juga terhadap makhluk haiwan. Hendaklah saudara bermu’amalah dengan orang lain secara yang baik; sentiasalah berkelakuan baik terhadap orang ramai dan hendaklah saudara memelihara sopan santun secana Islam dalam pengaulan sehari-hari — iaitu dengan cara menaruh perasaan belas kasihan kepada yang kecil dan menghormati yang tua, melapangkan tempat ketika di dalam mana-mana majlis
perhimpunan ramai. Janganlah saudara mengintai-ngintai atau mengumpat-ngumpat; jangan menceroboh bahkan hendaklah saudara terlebih dahulu meminta izin ketika hendak masuk ke satu-satu tempat dan begitu juga ketika hendak keluar dan sesuatu tempat.

(24) Hendaklah saudara meminta hak saudara dengan cara yang baik dan hendaklah menunai hak orang lain dengan sepenuhnya dengan tidak payah dituntut dan dengan tidak lengah-lengah lagi.

24. Yang Keenam: Untuk Gerakan Dakwah Saudara:-

(25) Hendaklah saudara melepaskan diri daripada berhubung dengan sebarang badan atau kumpulan yang tidak memberi faedah kepada pergerakan Dakwah kita terutama jika saudara disuruh berhubung dengan badan-badan atau kumpulan-kumpulan seperti itu.

(26) Hendaklah saudara sedaya upaya berusaha menghidupkan adat-adat yang bercorak Islam dan sebaliknya memerangi adat-adat dagang dalam semua lapangan hidup. Di antara adat-adat ini ialah cara-cara memberi hormat, bertutur bahasa, bahasa itu sendiri, sejarah, pakaian dan masa-masa bekerja (office hours).

(27) Hendaklah saudara tidak menonjolkan diri (iaitu memulau) apa jua mahkamah “bukan Islam”; iaitu dengan jalan saudara tidak berhakimkan kepadanya kecuali jika terpaksa; begitu juga saudara janganlah pergi ke kelab-kelab yang bukan Islam, akhbar-akhbar, kumpulan kumpulan, sekolah-sekolah dan badan-badan serta perbadanan-perbadanan yang menentang ideology Islam. Pemulauan ini hendaklah saudara lakukan dengan cara yang bersungguh-sungguh.

(28) Hendaklah saudara kenal siapa dia anggota anggota “Cawangan” yang saudara sendiri berada di dalamnya; saudara hendaklah kenal mereka itu tiap-tiap seorangnya dengan kenalan yang penuh dan di samping itu saudara pula hendaklah memperkenalkan diri saudara kepada mereka dengan sejelas-jelasnya sambil menunjukkan bahawa saudara benar-benar merasai kasih sayang, penghargaan, sanggup bertolong-tolongan; dan saudara hendaklah membuktikan bahawa saudara mengutamakan kepentingan mereka ke atas kepentingan diri saudara sendiri. Saudara janganlah tidak menghadiri majlis mereka itu kecuali dengan sebab-sebab yang sangat memaksa dan tidak dapat dielakkan sama sekali. Tegasnya, saudara hendaklah
membuktikan di dalam mu’amalah sehari-hari bahawa saudara betiar-benar mengutamakn mereka ke atas diri saudara sendiri dan menunjukkan kasih sayang saudara kepada mereka sepanjang masa.

(29) Hendaklah saudara menyumbangkan sedikit dan harta punya saudara untuk pergerakan Dakwah kita ini, dan janganlah lupa mengeluarkan zakat yang wajib. Seboleh-bolehnya hendaklah saudara menguntukkan sedikit dan harta punya saudara itu untuk menolong pengemis-pengemis dan orang-orang yang terputus rezeki walaupun pendapatan saudara sendiri amat kecil.

(30) Hendaklah saudara bekerja untuk menyiarkan seruan Dakwah Ideology kita ini pada segenap telok dan rantau; dan juga hendaklah saudara corakkan rumah tangga, keluarga dan sesiapa jua yang berhubung dengan saudara dengan corak keislaman. Hendaklah saudara memberitahu suasana yang mengelilingi diri saudara kepada Pucuk Pimpinan. Dan hendaklah saudara sentiasa berhubung rapat dengan Pucuk Pimpinan dan segi jiwa dan amalan malah saudara hendaklah terlebih dahulu meminta persetujuan mereka dalam setiap langkah yang penting di samping menganggap diri saudara sendiri sebagai seorang askar yang sentiasa di dalam keadaan “siap sedia” dan hanya menunggu perintah untuk bertindak.

25. Yang Ketujuh: Untuk Tuhan Saudara:-

(31) Hendaldah saudara jangan terputus dan mengawasi Allah tabaraka wa-ta’ala. Sentiasalah berniat ikhlas kerana Allah dalam sebarang pekerjaan. Saudara hendaklah sentiasa beringat-ingat serta bersedia untuk ke Akhirat; iaitu dengan jalan beramal dengan ibadat-ibadat yang Sunnah untuk menghampirkan diri kepada Allah; hendaklah saudara membanyakkan zikrullah dalam semua hal serta berdoa dengan doa-doa yang ma’thur yang pernah diamalkan oleh Rasulullãh dalam setiap keadaan.

(32) Hendaklah saudara mengamalkan wirid -wirid yang khas bagi Ikhwan Muslimin dan janganlah saudara mengecualikannya melainkan sebab satu-satu keadaan yang cemas dan memaksa.

(33) Hendaklah saudara memelihara kebersihan samada tentang perkara-perkara yang nyata maupun perkara perkara ma’anawi; dan seboleh-bolehnya hendak saudara sentiada berada di dalam keadaan berwudhu.

(34) Hendaklah saudara tahu sembahyang dengan betul dan menunaikannya pada waktu-waktunya yang ditentukan, dan seboleh-bolehnya hendaklah saudara selalu ke majlis dan berjama’ah di sana.

(35) Hendaklah saudara berpuada pada bulan Ramadan dengan baiknya.

(36) Hendaldah saudara menunai fardu Haji jika mampu; akan tetapi jika belum mampu, maka hendaklah saudara bekerja untuknya dari sekarang lagi.

(37) Hendaklah saudara sentiasa membaharui taubat dan isti’ghfar meminta ampun kepada Tuhan. Saudara hendaklah menjauhkan diri daripada segala dosa — bukan sahaja dosa-dosa besar tetapi juga hatta dosa-dosa kecil pun hendakdah saudara jauhinya.
Hendaklah saudara menjaga masa kerana masa itu adalah umur saudara; oleh itu hendaklah saudara menjauhkan diri daripada perkara-perkara subahat iaitu perkara-perkara yang samar-samar hukumnya supaya dengan menjauhkan diri danipadanya saudara tidak terjatuh ke dalam perkara-perkara yang haram.

(38) Hendaklah saudara melawan diri sendiri dengan sehebat-hebatnya supaya mudah saudara memimpin diri sendiri. Kawalilah mata dan perasaan hati sendiri, dan kuasailah desakan-desakan kemahuan semulajadi di dalam diri saudara dan halakanlah semuanya itu kepada perkara-perkara yang halal lagi baik. Elakkan diri daripada apa jua perkara yang haram walau apapun jua coraknya.

26. Dan Untuk Semuanya Tadi:-

(39) Hendaklah saudara sentiasa berada di dalam keadaan niat berjihad dan untuknya sedaya upaya.

(40) Sebelum tidur hendakiah saudara menguntukkan masa selama satu jam untuk menyoal diri sendiri tentang sejauh.mana dan sebanyak mana saudara menunaikan kewajipan ini? Jika saudara dapati jawapannya baik maka bersyukurlah kepada Allah; akan tetapi jika saudara dapati kekurangan maka pintalah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepadaNya, malah hendaklah saudara pinta pertolongan daripadaNya kerana Allah itu sebaik-baik Pengawal dan sebaik-baik Pembantu.

SEPULUH WASIAT

Bacalah — Renungilah — Kemudian Terus Beramal

(1) Apabila saudara mendengar azan, maka bangunlah sembahyang serta-merta walau bagaimana keadaan sekalipun.

(2) Bacalah al-Quran, atau tatapilah buku-buku, atau pergilah mendengar perkara-perkara yang baik ataupun amalkanlah zikrullah, dan janganlah sama sekali saudara membuang masa walau sedikit pun dalam perkara yang tidak berfaedah.

(3) Berusahalah seberapa daya upaya untuk bertutur dalam Bahasa Arab yang betul; kerana Bahasa Arab yang betul (itu adalah satu-satunya syiar Islam).

(4) Janganlah banyak bertengkar dalam apa-apa perkara sekalipun kerana pertengkaran kosong itu tidak memberi sebarang apa pun jua kebaikan.

(5) Janganlah banyak ketawa kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu sentiasa tenang lagi tenteram.

(6) Janganlah bergurau kerana umat yang sedang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh sungguh dalam setiap perkara.

(7) Janganlah saudara bercakap lebih nyaring daripada kadar yang dikehendaki oleh para pendengar kerana percakapan yang nyaring begitu adalah suatu resmi yang sia-sia malah menyakiti hati orang.

(8) Jauhilah daripada mengumpat-ngumpat peribadi orang, mengecam pertubuhan-pertubuhan, dan janganlah bercakap melainkan apa-apa yang boleh memberi kebajikan.

(9) Berkenal-kenalanlah dengan tiap-tiap saudara Ikhwan Muslimin yang saudara bertemu dengannya sekalipun ia tidak meminta saudara berkenalan; kerana asas gerakan Dakwah kita ialah berkasih sayang dan berkenal-kenalan.

(10) Kewajipan-kewajipan kita lebih banyak daripada masa yang ada pada kita; oleh itu tolonglah saudaramu sendiri tentang cara-cara bagaimana hendak mengguna masa dengan berfaedah dan jika saudara mempunyai tugas sendiri maka ringkaskanlah pelaksanaannya.

PESAN TERAKHIR

Wahai MUJAHID DAKWAH!

Puluhan tahun lamanya, pendengaran, pergaulan, ketekunan, kegiatan berjuang, kerana jerih payah dan pembantingan tulang yang tiada hentinya, engkau telah kaya dengan pengalaman.
Engkau sekarang telah jadi.
Engkau telah memiliki pengertian dan ukuran, engkau telah turut menentukan jarum sejarah seperti orang lain.
Engkau telah sampai pula ke batas sejarah, kini dan nanti.
Engkau telah memenuhi hidupmu dengan tekun dan sungguh, ikut memikul yang berat menjinjing yang ringan, membawa batubata untuk membangun gedung Ummat ini.
Engkau tebus semua itu dengan cucuran keringat dan airmata, kesengsaraan dan penderitaan.
Kawan hidupmu yang menyertaimu dalam segala suka dan duka, telah tak ada lagi.
Ia tak sempat menghantarmu sampai ke batas perhentian. Tengah jalan dia pulang, dan engkau
ditingga]kannya di daerah kesepian. Di atas kuburnya telah tumbuh rumput, daunnya subur menghijau. Bunga suci aku lihat tumbuh pula di atas pusara sepi itu.
Tangan siapa gerangan yang menanamnya, aku tak tahu.
Biarkan dia tumbuh menjadi. Akan tiba juga masanya bunga suci itu mekar-mengumtum.
Eva dan Sofia akan memetik dia kelak, akan mempersunting dia penghias sanggulnya.
Sudikah engkau menulis nisan-kenangan di atas kuburnya, sebagai tanda pembalas jasa, kerana dialah tolan penolong engkau di medan bakti?

Wahai MUBALIGH ISLAM!

Tanganmu telah ikut menulis sejarah.
Sejarah perjuangan Umat, sejarah menegakkan Cita dan Agama,
Benang yang engkau sumbangkan telah memperindah sulaman tarik dari Umat ini.
Engkau kini telah menemui bentukmu, sesuai dengan bakat dan kudratmu.
Engkau tidak lagi anak kemarin, tetapi anak kini dan akan pulang lagi meninggalkan bengkalai ini. Sebagai seroang Jurubicara Umat Islam, engkau telah mempunyai ukuran dan alat penilai; sampai di mana kita dan hendak ke mana lagi.
Pengalaman yang engkau perolehi dan perjalanan yang jauh, akan berguna
dan bermakna dalam mencari kemungkinan bagi langsungnya prijuangan Cita ke depan.
Keyakinan yang engkau miliki, jalan panjang yang engkau tempuh selarut selama ini, getir yang engkau derita, segala itu dapat engkau pakai untuk merumuskan bagaimana lagi perjuangan Umat Islam ke depan — setelah ini.
Paparkanlah semua itu kepada generasi muda yang akan mengganti engkau!
Ambillah kesimpulan dan kekeliruan dan kegagalan masa lampau.

Belajar dari masa lalu, terutama belajar dari kekeliruan dan kegagalan yang engkau alami sendiri, dan teman seiringmu juga.
Bukankah kerap engkau benar dalam pendirian tapi salah dalam perhitungan?
Benar dalam prinsip tapi keliru dalam cara? Kejujuran dalam perjuangan memesankan, agar kita mengakui terus terang kekeliruan dan kelemahan diri.
Yang demikian itu penting untuk menyusun paduan masa
datang, mengendalikan kehidupan Cita dan Agama.
Dalam kekeliruan, kita dapat mengambil makna dan guna.
Kita keliru kerana kita telah berbuat. Ruh-intiqadi yang engkau miliki, janganlah pula engkau pakai untuk melenyapkan segala harga dan nilai, dan angkatan lama yang telah berbuat itu. Mereka adalah anak dan zamannya, dan telah memenuhi tugasnya pula.
Cahaya dan pelita lilin yang lemah serta lembut itu perlu juga dihargai, kerana ia teiah berjasa memecahkan sudut-sudut yang gelap.

Wahai si JURU DAKWAH!

Kini engkau telah sampai ke tonggak sejarah.
Di atas pendakian sunyi tidak kesibukan, terletak
pesenggarahan lama, patilasan orang lalu setiap waktu.
Dan tempat itu hidup kenangan lama.
Masa lalu penuh keharuan dan kenangan.
Duri dan derita, dera dan kepapaan, keringat dan airmata.
Tapi ia indah dalam kenangan dan lukisan kalbu. Engkau pandanglah masa depan dengan Basyirah, dengan horizon yang tajam.
Memanjang jauh ke muka, sampai ke kaki langit.
Tahukah engkau, bahawa engkau hanyalah sebuah mata dan rantai sejarah yang panjang itu? Telah lalu beberapa kafilah dan kehidupan yang sayup, dan mereka telah berbuat sesuai dengan zamannya. Sungai airmata dan titisan darah sepanjang jalan yang membentang dan pangkal hingga ke hujung yang tidak kelihatan, adalah kalimat yang memberitakan, bahawa angkatan silam telah mengembangkan sayap kegiatan mereka dengan segala kesungguhan dan kepenuhan. Romantik dan heroik zaman silam masih menggemakan gentasuara di tengah sahara kekinian, meninggalkan pesan kehidupan yang penuh dan menyeiuruh kepada angkatan kemudian.
Daftar para Syuhada’ itu telah panjang, dan dalam perut bumi telah memutih tulang sebagai saksi kepada yang hidup, bahawa mereka telah datang dan telah pulang tidak sia-sia.
Dan celah-celah kuburnya kedengaran jua suara halus memuat amanat perjuangan kepada generasi kita yang masih hidup.
Dan lihatlah pula kafilah hidup yang sudah mendesak juga ke batas perhentian.
Masa kini rupanya “lah laruik sandjo” bagi mereka, dan waktu pamitan tak lama lagi.

Wahai si TUKANG SERU!

Entah berapa lagi banyak umur engkau yang masih tinggal, kita tak tahu.
Tahukah engkau, pekerjaan besar ini tidak akan selesai di tangan engkau?
Sejarah berjalan terus, lampau dan datang, kini dan nanti.
Tahukah engkau, bahawa dibelakang kalimat sejarah itu belum ada titik?
Masa yang akan datang penuh rahsia, tersimpan dalam kandungan ghaib, misteria gelap bagi kita. Masa silam dapat engkau baca dalam halaman sejarah; masa yang akan datang masih gelap tak ada yang tahu?
Tahukah engkau, kumandang zaman datang dapat juga kita ketahui dan puncak zaman sekarang?
Dalam kekinian mengandung juga roman zaman yang akan tiba.
Engkau kini berada di antara dua ufuk yang bertentangan, dua kutub yang tidak serupa. Engkau kini berada antara idealisme dan realisme dunia.
Idealisma yang engkau miiki dan realisme dunia yang engkau hadapi.
Antara kedua kutub itu engkau tetap dalam lensa sorotan.
Lensa sorotan sejarah yang berjalan terus dan sentiasa.
Sanggupkah engkau lalu di tengah-tengah dua kutub yang bertentangan ini?
Masih kuatkah kaki engkau berjalan di antara dua dunia yang saling bertentangan itu?

Wahai MUSAFIR yang sedang lalu!

Jalan ini masih panjang, rantau masih jauh!
Dengan Al-Quran di tangan kanan dan kain kafan di tangan kiri, teruskanlah perjalanan ini.
Berjalan dan melihat ke muka, menggunakan sisa umur yang masih ada.
Entah bila akan sampai ke tempat perhentian, engkau tak tahu, — aku pun tidak.
Di tengah laut lepas dan luas, pencalang ramping itu telah jauh ke tengah.
Awan menyerang kiri dan kanan, gelombang mengganas dan badai menghempas.
Pencalang ramping itu naik turun mengikut amukan air. Jurumudi mendapat ujian.
Berpirau melawan arus, pesan seorang pemimpin, dijadikan pedoman dalam hati.
Kemudi dan pimpinan bertanggungjawab atas keselamatan pelayaran ini.
Kini kita telah jauh berada di tengah. Pelabuhan tempat bertolak tiada kelihatan lagi, sedang ranah-tanah tapi belum jua tampak.

Wahai MUJAHID ISLAM!

Akhirnya pelayaran ini sampai juga ke pantai, berkat jurumudi yang piawai memegang pimpinan. Engkau dan Umat ini kini harus berjalan kaki, menggunakan tenaga diri sendiri.
Tak ada tolan penolong selain Dia semata, yang melindungi kita dan awal mula sampai hari ini.
Jalan masih panjang, rantau Cita masih jauh. Ufuk-ufuk baru kelihatan juga, tambah dijelang tambah jauh rasanya.
Kafilah itu lalu dan berjalan terus, menempuh laut sahara tiada bertepi.
Sunnah perjalanan alam membawa kata pasti: setelah malam kelam ngeri ini fajar pagi yang indah akan menyingsing.
Di atas asap yang tebal, terbentang langit cerah yang biru.
Gelap dan gelita alam, lapisan kabus tebal dan berat. Di halaman langit tak ada bintang.
Berfikirlah sejenak dan melihatlah ke atas ada sebutir terang mengirim sinar ke bumi.
Sebuah bintang itu jadilah, kerana ada pedoman bagi kafilah di tengah sahara luas.
Pelaut yang arif selalu mendapat alamat dan sebutir terang di halaman langit.

Wahai UMAT RISALAH!

Dengarlah suara Bilal bergema dari ufuk ke ufuk!
Dengarlah seruan azan bersahut-sahutan dari Menara ke Menara!
Renunglah suara Takbir berkumandang di mana-mana, memanggil Umat ini dengan kalimat sakti: Hayya ‘alas Solah! Hayya ‘ala! Falah! Marilah Sembahyang, marilah Menang!
Engkau pandanglah Umat Jama’ah itu berdiri bersaf-saf di belakang seorang Imam, Ruku’ dan Sujud bersama-sama. “Suatu pandangan dari udara atas dunia Islam pada saat sembahyang, akan memberikan pemandangan dan sejumlah lingkaran konsentrasi yang terdiri daripada kaum Muslimin, dengan jari-jarinya yang bertitik-pusat di Ka’bah di Mekah, dan yang terus mengambil tempat yang lebih luas, dan Sierra Leone sampai ke Kanton dan Toboisk sampai Tanjung Pengharapan”, — demikian Philip K. Hitti melukiskan kaum Muslimin
di kala menyembah Tuhannya. (1)

Engkau lihatlah mereka di dalam Masjid yang sudah tua tidak terurus, surau yang hampir roboh kerana tekanan masa, dengan sepi di tengah sawah; dengan pakaian yang compang-camping dan tenaga lemah, masih berdiri menegakkan Solat. Kaum Muslimin itu masih tetap melakukan ‘ibadah kepada Tuhannya, memanjatkan doa ke hadrat Ilahi semoga segera datang tangkisan ghaib dan udara menolong kaum yang lemah ini.
Wahai Tuhanku, kalau adalah di antara Umat ini yang berhak menerima Ridha dan
Ma’unahMu, — kalau adalah di antara Umat ini yang berhak menerima bantuanMu, mereka itulah dia! Merekalah yang berhak menerima gemilang sayang Mu dan arahan Rahim Mu: menegakkan yang lemah, mengangkat kaum yang tertindas!

Wahai UMAT DAKWAH!

Amanat perjuangan itu kini jatuh ke tangan kaum yang lemah Dhu’afa dan Fuqara; tenaga lemah dan dana tak ada. Di tangan kaum yang lemah itu tersimpan kekuatan Umat ini. Rahsia kejayaan dan kemenangan, bulat seluruhnya dalam genggaman mereka.
Innama tunsyaruna wa turzaquna bidlu ‘afaikum! (Hadis).
Kamu akan mendapat kemenangan hanya dengan bantuan kaum yang lemah di antara kamu.
Bimbinglah tangan Umat ini kembali, bawa mereka ke jalan yang benar!
Jangan dibiarkan Umat ini ditelan kesepian; jangan dibiarkan Umat ini ditakuti oleh hantu-kesangsian, tanpa pimpinan.
Hidupkan terus api idealisme dan kembangkan sentiasa optimisma dan enthousiasme. Sinarkan apatismedan fatalisme, lenyapkan defaitisme, menyerah kepada keadaan atau menjadi budak dan kenyataan!
Denyutkan kembali jantung Umat ini!
Wajarkan kembali aliran darah Tauhid mereka!
Tuhan telah menjanjikan kurnia dan bantuan kepada kaum yang lemah, kaum yang tertindas di bumi.
( إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ یَهْدِي مَن یَشَاء وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِینَ ( 56
“Dan Kami hendak menumpahkan budi atas mereka yang ditindas di bumi, dan Kami hendak menjadikan mereka Pemimpin, dan Kami hendak menjadikan mereka mewarisi bumi. Dan Kami hendak meneguhkan kekuasaan untuk mereka di bumi.”
Al Qashash: 516.

Wahai UMAT PILIHAN !

Kamu adalah kaum Muslimin, nama pilihan dan panggilan kehormatan yang diberikan Tuhan dan dahulu sampai hari ini.
Kamu bukanlah golongan “mustaslimin” kaum yang menyerah — kalah kepada kenyataan.
Sebagai Umat yang berIman, hadapi kenyataan hidup ini dengan kesedaran dan keinsafan, kewaspadaan dan keperwiraan.
Hadapilah kenyataan di bumi dengan ketenangan jiwa dan keyakinan hidup!
Hanya dengan ketenangan jiwa dan keyakinan hidup, hanya dengan Sakinah dan Muthamainah itulah kamu bermakna dan berguna hidup di tengah-tengah manusia di dunia.
Hanya dengan ‘Aqidah yang kuat dan qa’idah yang jelas, kamu dapat menempuh kehidupan ini.
Hanya dengan Wijhah hidup yang tegak dan khitah perjuangan yang cerah serta terang, kamu dapat membawa Umat ini ke tepi ufuk ke Ridhaan Ilahi. Tegakkan ‘Aqidah Islamiah dalam dada Umat, subur kan “Ibadah!”

Susun Umat ini dalam pola Jama’ah menurut tauladan Sunnah, akhini Firqah!
Jama’ah adalah kekuatan dan kesatuan; Firqah adalah kelemahan, remuk dan kehancuran.
Hamparkan kembali tikar Ukhwah Islamiah dan Ukhwah Imaniyah di kalangan Umat Islam ini, tanamkan Mahabbah dan Marhamah!

Wahai ANGKATAN KINI!

Tak lama lagi engkau akan kembali pulang, memberi laporan kepada Tuhan, mempertanggungjawabkan segala amal, jasa dan karyamu di dunia. Tinggalkan bengkalai ini kepada generasi muda yang akan datang mengganti.
Hidupkan dinamik dan militansi muda Islam, yang akan menggantikan kamu setelah kamu tak ada, yang akan meneruskan pekerjaan yang belum selesai ini. Janganlah kamu hendak hidup seperti pohon beringin besar, yang ingin hidup sepanjang abad, dan tidak memberi kesempatan kepada tunas-tunas baru tumbuh dan menguntum di sekeliling.
Risalah dan Amanah ini tidak akan selesai di tangan engkau sendiri.
Susun dan sediakan Tenaga Baru, yang berbakat dan berkarekter, yang akan melanjutkan perjuangan ini dengan segala keyakinan dan keperwiraan.
Tahukah engkau, salah satu sebab dan kelemahan Umat Islam ialah tiadanya atau kurangnya kader yang berwatak, kader pemikir dan pejuang yang sanggup menggantikan angkatan lama? Tulang dan tenagamu yang sudah semakin lemah, jatah umurmu telah semakin kurang memesankan kepadamu supaya mencari ganti di hari kini. Patah tumbuh hilang berganti; jangan ada “vacuum” pimpinan atau fatrah pedoman kelak terjadi di kalangan Umat Islam.

Wahai ANGKATAN BARU!

Siapkanlah dirimu untuk menggantikan angkatan tua, mereka akan pulang tak lama lagi. Janganlah engkau menjadi pemuda kecapi suling, yang bersenandung meratapi tepian yang sudah runtuh, mengenangkan masa silam yang telah pergi jauh.
Janganlah engkau membuat kekeliruan lagi seperti pernah dilakukan oleh angkatan yang engkau gantikan.
Teruskan perjalanan ini dengan tenaga dan kakimu sendiri.
Dada bumi cukup luas untuk menerima kehadiranmu.
Penuhilah segenap udara in i dengan kegiatan dan ketekunan, sungguh dan penuh.
Hadapilah tugas mahaberat ini dengan jiwa besar, dengan daya juang api semangat yang nyalanya kuat dan keras.
Pupuklah Ruhul-Jihad, semangat revolusioner, radikal dan progressif dalam jiwamu, dan bertindaklah sebagai laki-laki dengan perhitungan yang nyata dan pertimbangan yang matang.
Perkayalah dirimu dengan meneladan kepada masa silam, di mana ada yang rebah dan ada yang bangun, ada yang jatuh dan terus berdiri lagi.
Kamu tidak boleh menjadi “plagiator” dan angkatan lama, dan tidak boleh pula menepuk dada serta menidakkan segala harga dan nilai, jasa dan karya dan angkatan lama.
Mereka kaya dengan pengalaman, engkau kaya dengan cita-cita.
Padukanlah pengalaman angkatan lama dengan nyala citamu!

Sejarah ini telah lama berjalan bergerak dan berkembang.
Kamu hanyalah tenaga penyambung menyelesaikan bengkalai yang belum selesai.
Meneruskan pekerjaan besar, sundut bersundut, dan keturunan yang satu kepada keturunan yang lain, angkatan kemudian angkatan.
Kafilah hidup ini adalah ibarat gelombang di lautan; menghempas yang satu, menyusul yang lain; memecah yang pertama datang yang kedua.
Sedarilah posisi dan fungsimu dalam sejarah, dan lakukanlah tugas suci ini dengan pengertian, keyakinan dan kesabaran!

Insafilah kedaulatanmu sebagai Pemuda Angkatan Baru, yang hendak menggantikan manusia tua angkatan lama.
Tidaklah sama dan serupa antara kedua angkatan zaman itu, kerana sejarah berjalan sentiasa menurut hukum dinamika dan hukum dialektika.

Wahai UMAT QURAN!

‘Aqidah dan Wijhah hidupmu menyuruh engkau tampil ke depan, mengkutbahkan, “Suara Langit” di bumi.
Isilah fungsimu dengan kegiatan dan kesungguhan; jalankan Amanat ini dengan segala kepenuhan an ketekunan.
Dunia dan Kemanusiaan menunggu pimpinan dan bimbinganmu. Bumi menantikan “Cahaya Langit” yang mampu menyapu kegelapan.
Jaga dan peliharalah jangan sampai “jambatan” ini runtuh, agar hubungan Bumi dengan Langit tidak patah atau terputus.

(1) Qum, Fa anzir !
Bangkit dan berdirilah, susun barisan dan kekuatan. Barisan dan kesatuan Umat.
Canangkan seruan dan ancaman.
Seruan kebenaran dan ancaman kebinasaan jika menolak atau menentang kebenaran.
Gemakan sentiasa Kalam Ilahi, kumandangkan selalu suara dan seruan kebenaran.
Sampai peringatan ini ke kuping segala Insan!
Gempitakan kepada dunia dan kepada manusia ajaran agama Tauhid, ajaran Cita dan Cinta.

(2) Warabbaka fakabbir !
Besarkan Tuhanmu, di atas segala! Tiada kebenaran yang menyamai KebesaranNya.
Tiada kekuasaan yang menyamai KekuasaanNya.
Tiada urusan atau kepentingan yang lebih dan urusan dan kepentingan menjalankan perintahNya.
Kecil semuanya di hadapan Allahu Akbar.
Fana, lenyap dan binasa segala dalam ke BaqaanNya.
Tiada ketakutan selain dan lazab, siksaNya yang akan menimpa.
Tiada harapan selain dan ke RidhaanNya belaka.
Tiada kesulitan apabila ruh telah bersambung dengan Maha Kebesaran dan Maha Kekuasaan Tuhan yang Tunggal itu.

(3) Wathiabaka fathahhir !
Bersihkanlah dirimu, lahir dan batinmu! Hanya dengan kesucian ruh jua Amanah dan Risalah ini dapat engkau jalankan.
Risalah dan Amanah ini adalah suci. Dia tidak boleh dipegang oleh tangan yang kotor, jiwa yang berlumur dosa dan noda.
Hanyalah dengan kesucian ruh engkau dapat memikul tugas dan beban berat ini.
Sucikanlah dirimu, lahir dan batin, baru engkau ajar manusai menempuh tugas dan beban berat ini. Thahirum muthahir suci dan mensucikan, itulah peribadi Mukmin yang sejati.
Tangan yang berlumur darah maksiat tidak mungkin akan berbuat khairat kepada dunia dan manusia. Jiwa yang kotor dan penuh dosa tidak mungkin akan memberikan isi dan erti dunia dan manusia.

(4) Warrujza fahjur !
Jauhilah maksiat, singkiri mungkarat!
Dosa itu akan menodai dirimu, akan menghitamkan wajah riwayatmu.
Engkau tidak akan sanggup menghadap, jika mukamu tebal dan hitam dengan dosa dan maksiat. Namamu akan cemar dihadapan Rabbi, kalau laranganNya tidak engkau singkiri dan jauhi. Bersihkanlah keluargamu, jiran dan tetanggamu, masyarakat bangsamu dan maksiat dan mungkarat dan dosa dan noda.
Bangsa dan Negaramu akan karam-tenggelam dalam lembab kehancuran dan kebinasaan, jikalau maksiat dan mungkarat telah menjadi pakaiannya.
Makruf yang harus tegak dan mungkar yang harus roboh, adalah program perjuanganmu. A1-Haq yang mesti dimenangi dan bathil yang harus dibinasakan, adalah acara dan jihadmu.

(5) Wala tamnun tastakthir !
Janganlah engkau memberi kerana harapkan balasan yang banyak!
Jalankan tugas ini tanpa mengharapran balasan dan ganjaran dan manusia ramai.
Menjalankan tugas adalah berbakti dan mengabdi, tidak mengharapkan balasan dan pujian, keuntungan benda dan material.
Kekayaan manusia tidak cukup untuk “membalas” jasamu yang tidak ternilai itu. Bukankah tanpa engkau, masyarakat ini akan kering dan ketiadaan Iman, kepercayaan dan, pegangan?
Bukankah tanpa engkau, masyarakat ini lenyap ditelan kesepian, tiada suluh dan pelita? Bukankah tanpa engkau, hidup ini akan kerdil; hidup kehampaan dan segala kehampaan, kerana tiada Iman dan Agama?
Kalau tidak adalah “penyuluh-penyuluh” baru datang ke dunia seperti engkau, alam ini seluruhnya akan tenggelam dalam kegelapan, kesepian dan kehampaan.
Jalankan tugas ini kerana hanya mengharapkan ke Ridhaan Tuhanmu jua.

(6) Walirabbika fasybir !
Kerana Tuhanmu, hendaklah engkau sabar! Lakukanlah tugas dan kewajipan ini dengan segala
kesabaran dan ketahanan. Sabar menerima musyibah yang menimpa, ujian dan percubaan yang datang silih berganti. Sabar menahan dan mengendalikan diri, menunggu pohon yang engkau tanam itu berpucuk dan berbuah. Tidak putus asa dan hilang harapan atau kecewa melihat hasil yang ada kerana tidak seimbang dengan kegiatan dan pengorbanan yang diberikan. Hanya Ummat yang sabar yang akan mendapat kejayaan sejati dan kemenangan hakiki. Hanya Ummat yang sabar yang akan sampai kepada tujuan.

Haza dzikrun!

Inilah enam peringatan dan enam arahan!
Untuk Mujahid Dakwah. Syahibud Dakwah, si Tukang Seru.
Bukankah tanpa engkau, masyarakat ini lenyap ditelan kesepian, tiada suluh dan pelita? Bukankah tanpa engkau, hidup ini akan kerdil; hidup kehampaan dan segala kehampaan, kerana tiada Iman dan Agama?
Kalau tidak adalah “penyuluh-penyuluh” baru datang kedunia seperti engkau, alam ini seluruhnya akan
tenggelam dalam kegelapan, kesepian dan kehampaan.
Jalankan tugas ini kerana hanya mengharapkan ke Ridhaan Tuhanmu jua.

SYIKWA DAN JAWABI

SYIKWA

1.Dunia gelap dan gulita
Yang kuasa hanya patung dan berhala
Buatan tangan sipenyembah itu
Daripada kayu dan batu
Filsafat Yunani tak berpengaruh lagi
Hukum Rumawi telah bangkrup dan rugi
Hikmat benua Cina telah padam lena;
Tetapi bahu Muslimin kuat
Telah membungkar ilhad, dan seluruh jagat Telah memancarkan sinar baru, Tauhid dan Ijtihad

2. Diwaktu itu
Ya Ilahil kebun kebun didalam alam telah kehilangan nyanyi
Dan kembang tidak lagi menyebarkan harumnya
Kalau ada angin menderu, hanyalah pancaroba
Kalau suara terdengar hanyalah suara dan guruh tuhur;
Sampai datang utusan Tuhan dinegeri Mekah itu
Dia adalah ummi – telah mengajar isi bumi
Akan arti kehidupan langit
Dia telah menunjukkan kepada isi alam
Apa artinya fana’ dalam menuju yang baqa
Maka kamilah yang harum dalam kebun itu
Kami hapuskan tanda kegelapan malam
Dengan sinar cahaya subuh Sehingga Iman kami telah laksana kegilaan dan
orang yang asyik Kami hadapi seluruh kemanusiaan, Ya Tuhan dengan Nur
Dalam saat yang singkat, selonjak bola melayang Untuk mengenal Kebenaran, Cahaya dan Keindahan Dunia dikala itu telah penuh oleh bangsa-bangsa dan kerajaan Saljuki, Turani dan Cina Ada kerajaan Bani Sasan.
Ada peninggalan Ruma dan Yunan Maka kami kibarkan bendera Tauhid
Kami kumpulkan segala anak manusia dan turunannya demi turunan
Dalam satu kekeluargaan; Percaya akan diKau, mentauhidkan Engkau
Kami perbaiki yang rosak, kami tegakkan yang condong
Kami pun berjuang didarat dan dilaut Menggetar suara azan kami ditempat-tempat menyembah diEropah Berbekas sujud kening kami dipasir Sahara Afrika Kami tidak takut pada Kaisar, atau kekuasaan adikara, Atau kemarahan raja-raja, Kami pendengarkan kepada alam, seluruhnya
Kalimat Tauhid
3. Tak ada lagi kekayaan kami yang tinggal, Ya Rabbi
Kecuali satu, iaitu kemiskinan
Tak ada lagi kekuatan kami yang tinggal, Ya Rabbi
Kecuali satu, iaitu kelemahan; padahal
Jika Muslim tak ada lagi didunia
Dunia itu sendiri pun akan hilang hancur
Kami memohon Baqa didunia ini
Kerana ingin Fana, dalam cinta akan diKau
4. Kesetiaan Siddiq, keadilan Umar, musyaf Othman Taqwa Ali, kejujuran Salman
Keindahan suara Bilal didalam azan Semuanya masih tetap kami simpan, dihati yang am
Didalam keteguhan Iman dan penyerahan bulat bulat
Bangunkanlah Ya Rabbi kami kembali
Dengan itu suara genta yang pertama kali
Telah Engkau bangunkan Agama ini mulanya di puncak Faran
Maka terangilah hati siasyik ini dengan hembusan Iman
Bakar habis cintakan dunia
Dengan cetusan api cinta Mu

JAWABI SYIKWA

1.Telah kami hamparkan tikar kurnia
Tapi, siapakah yang datang bertanya?
Telah kami rentangkan jalan raya kemuliaan
Tapi, siapakah yang terlengkup untuk melaluinya
Sungguh cahayanya telah kami pancarkan dan Fitrat
Tetapi permata tidak menyambut sari cahaya dirinya
Seakan akan sejemput tanah ini, tidak terjadi Dari tanah Insaniah yang pertama di tempa…..
2. Benarkah kamu telah bersedia dizaman baru
Menjadi Abid Allah tentera Muhammad. Dan menjadi permata berlian menyinar cahaya dan
Agama ini?
Mana boleh, pelupuk mata mu telah berat
Buat menyambut cahaya subuh dengan takbir
salatmu dan rintihan hidup mu.
Seakan-akan perangaimu telah turut tidur dengan
pelupukmu
Apakah bedanya terang siang dengan gelap malam
Bagi orang yang tidur mendengkur ditengahhari?
Bukanlah Ramadhan tidak mengikut kemerdekaanmu
Tidak memutar belitkan kebudayaanmu.Wahai umat bercakap terus teranglah, inikah yang namanya setia Kepada sejarahmu yang lampau dari agamamu? Ujudnya suatu kaum adalah kerana ujud agamanya Agama pada suatu umat adalah tulang Punggung tempat ia berdaulat.
Kalau agamanya telah pergi Agamalah yang telah menyusun jadi satu barisan Kalau tak ada sandar menyandar, di antara bintang dan bintan.g
Tidaklah terbentang suasana indah di langit Maka bulan pun taklah akan sanggup memancar kan keindahan sinar
3. Lihatlah Mesjid Allah, yang meramaikannya hanyalah orang-orang miskin. Mereka hanya yang puasa, mereka yang sembahyang. Merekalah yang abid, merekalah yang berzikir Merekalah yang menutup malumu sekalian di hadapan mata dunia
Adapun yang kaya mabuk dalam kelalaian dan menolak seruan
Adalah suatu hal yang menghairankan Bahawa agama itu yang masih suci, masih teguh binaanya
Kerana nafas orang yang kafir Kekuatan semangat tak ada lagi dalam susunan katamu yang telah basi
Ajaran yang telah diberikan tidak lagi menarik hati
Kalaulah tidak ruh Bilal yang masih ada didalamnya
Azan itu sendiri pun telah kehilangan keindahannya
Mesjid mu telah mati kerana kekurangan saf-saf
Mihrab dikerut lawah kerana kematian Iman
Mimbarmu berlumut dan menimbulkan jemu
Khatib dihantarkan kesana dengan pedang dan pada kayu
Tetapi rumahmu? Rumahmu penuh dengan alat kebanggaan
Dengan pangkat dan gelar-gelar,
Tun tan sri, dato’ dan lain-lain
Aku tak berjumpa Muslim didalamnya
4. Aku harapkan pemuda inilah yang akan sanggup!
membangunkan zaman yang baharu memperbaru kekuatan Iman menyalakan pelita hidayat menyebarkan ajaran Khatimul Anbiya
Mencapkkan ditengah medan pokok ajaran Ibrahim api ini akan hidup kembali dan akan membakar janganlah mengeluh jua, hai orang yang mengadu janganlah putus asa, melihat lengang kebunmu cahaya pagi telah terhampar bersih dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu kumbang dan lebah telah mulai mendengung mengedar
dan Syuhada, telah mengelegak dimulut kuntum tak kah kau lihat langit, alangkah jernih tak kau lihat ufuk, burhan telah menyatakan diri hari yang baru telah pasti datang
dan syamsu akan datang dengan cahaya gemilang. Dan pandang pulalah kebumi
tidakkah engkau lihat satu kaum memetik buah dan yang lain menghapus tangan
memang banyak pohon kurma yang telah masanya berbuah
tetapi benih-benih yang baru bergerak di pelipis bumi, memecahkan
sendiri tempurungnya, melonjakkan tunas hendak melihat
cahaya dibumi, asal dianya sentiasa disiram dan disiram dengan ajaran asli Islam, dia akan tumbuh dan suburnya dan dunia mendapat nafas baru.
5. Khalaifafuladli akan diserahkan kembali ketanganmu
Bersedialah dan sekarang Tegaklah, untuk menetapkan ENGKAU ADA Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali
Engkau minyak athar itu, meskipun tersimpan dalam kuntum yang akan mekar.
Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu
Hembuskan panas napasmu diatas kebun ini
Agar harum-haruman narwastu meliputi segala
Dan janganlah dipilih hidup bagai nyanyian ombak hanya berbunyi ketika terhempas dipantai
Tetapi jadilah kamu air bah, mengubah dunia dengan amalmu
Kipaskan sayapmu di seluruh ufuk
Sinarilah zaman dengan nur imanmu Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu
Patrikan segala dengan nama Muhammad.

Dan tarikan nafas: IQBAL

Pesan Terakhir (Sajak oleh Syed Qutb)

Sahabat…
Andainya kematianku kau tangisi
Pusaraku kau sirami dengan air matamu
Maka di atas tulang belulangku yang dah luluh
Nyalakanlah obor untuk umat ini
Dan
Lanjutkanlah gerak merebut kemenangan

Sahabat,
Kematianku hanyalah suatu perjalanan
Memenuhi panggilan kekasih yang merindu
Taman-taman indah di syurga Tuhan
Terhampar menanti
Burung-burungnya berpesta menyambutku
Dan berbahagialah hidupku di sana

Sahabat,
Puaka kegelapan pastikan lebur
Fajarkan menyingsing
Dan alam ini kan disinari cahaya lagi
Relakanlah rohku terbang mendapatkan rindunya
Jangan gentar berkelana ke alam abadi
Di sana cahaya fajar memancar.

Sayyid Qutub-1966

Perspektif Al-FAHMU Yang Diperlukan Atas Setiap Ikhwah


Perspektif Al-FAHMU Yang Diperlukan Atas Setiap Ikhwah

 

DalamRukun Bai’ah yang sepuluh Imam Syahid Hasan Al-Banna meletakkan rukun Al-Fahmu pada urutan pertama dan menjadi asas kepada amal yang dilakukan oleh seorang ikhwah, jika al-fahmu dapat dikuasai maka seseorang ikhwah tidak akan sukar lagi untuk memahami Islam secara menyeluruh seperti yang difahami oleh gerakan Ikhwanul Muslimin dan memahami apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ikhwah dalam berbagai langkah dan kehidupannya bersama gerakan Ikhwanul Muslimin.

Banyak pihak yang mempersoalkan mengapa Imam Syahid Hasan Al Banna mendahulukan pemahaman dalam Arkanul Bai’ah ini. Ustaz Dr. Yusuf Al Qaradhawi menjelaskan bahawa urutan yang dibuat oleh Imam Syahid Hasan Al Banna sudah tepat kerana beliau tahu betul urutan keutamaan, mendahulukan apa yang harus didahulukan.

Urutan keutamaan dalam memperjuangkan Islam amat sayugia diperhatikan. Hal ini jelas, yang hampir tidak seorangpun di antara para pemikir di kalangan umat Islam yang memperselisihkannya. Dengan menentukan apa yang utama dalam melakukan kegiatan dakwah, tarbiyah dan gerakan ini yang keseluruhannya adalah merupakan unsur utama bagi setiap usaha memenangkan Islam. Atau penghidupan kembali manhaj Islam dalam diri manusia, akan terwujudlah kebangkitan dan kebangunan di seluruh wilayah Islam sebagaimana yang kita saksikan ketika ini.

Beliau menjelaskan fungsi pemahaman, pemikiran harus mendahului gerakan, gambaran yang benar merupakan pendahuluan dari perbuatan yang lurus. Kerana ilmu merupakan bukti keimanan dan jalan menuju kebenaran. Para ahli sufi juga menentukan tertib; ilmu akan membentuk sikap, sikap akan mendorong perbuatan. Sebagaimana kenyataan pakar psikologi yang menyatakan ada kaitan rapat antara pengetahuan, emosi dan perbuatan.

Prinsip Al Fahmu dengan 20 usulnya merupakan deklarasi bahawa Islam adalah solusi. Kerana Islam adalah solusi maka kaedah-kaedah yang ada dalam Al Fahmu ini akan menjadi kaedah dasar dalam melakukan segala aktiviti. Sama halnya yang telah diterangkan pada prinsip pertama dalam rukun Al-Fahmu ini tentang Syumuliatul Islam:

“Islam adalah sistem yang syamil (menyeluruh) mencakup seluruh aspek kehidupan. Ia adalah Negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang2, ilmu pengetahuan dan hukum, material dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, serta pasukan dan pemikiran. Sebagaimana ia juga aqidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih”

Usul pertama ini mengajarkan kepada kita bahawa aktiviti kita sehari-hari bukan hanya aktiviti semua yang tidak berlandaskan pada Islam. Setiap muslim harus menyedari, mengetahui, meyakini dan mengamalkan Islam sesuai dengan kebesaran Islam itu sendiri. Sehingga semua permasalahan kehidupan baik yang bersifat peribadi dan yang lebih besar daripada itu disandarkan pada peraturan Islam.

Tidak ada pemisahan antara agama dan negara, seperti ungkapan ,” berikanlah hak negara kepada raja, dan berikanlah, hak agama kepada Tuhan.” Tidak akan pernah ada sekularisme dan liberalisme dalam pemikiran dan aktiviti lainnya di muka bumi ini. Dan hal ini selari dengan firman Allah yang memerintahkan umat Islam untuk masuk ke dalam agama Islam secara menyeluruh.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Al-Baqarah:208)

Pembahasan mengenai Rukun Al Fahmu dan 20 Usul ini sudah banyak sekali bertebaran di buku-buku yang ditulis oleh para pewaris Dakwah Imam Syahid Hasan Al Banna. Inti dari landasan Syar’i aktiviti berlandaskan Rukun Al Fahmu dapat kita ketahui di akhir rukun Al Fahmu ini Imam Syahid Hasan Al Banna menutupnya dengan kata-kata:

“Apabila saudaraku Muslim mengetahui agamanya dalam kerangka usul-usul tersebut, maka ia telah mengetahui makna dari Syi’arnya : Al Qur’an adalah undang-undang kami dan Rasul adalah Teladan kami. Artinya kerangka aktiviti hidup kita di dunia harus selalu berada dalam pedoman Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Urgensi Al-Fahmu

Al-Fahmu dalam diri setiap ikhwah adalah suatu keniscayaan, sebab ia dapat membantu keselamatan amal, baiknya penerapan dan memelihara pelakunya dari ketergelinciran.

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Barangsiapa yang beramal tanpa didasari ilmu, maka unsur merosaknya lebih banyak daripada maslahatnya”. [Sirah wa manaqibu Umar bin Abdul Aziz, Ibnu Al-Jauzi; 250]

Orang yang ikhlas beramal tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar dan tidak mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya mungkin akan tersesat jauh. Rasulullah saw bersabda:

فقيه واحد أشد على الشيطان من ألف عابد

“Satu orang faqih itu lebih berat bagi syaitan daripada seribu ahli Ibadah” [At-Tirmidzi: 5/46. Nomor:2641]

Umar bin Al-Khattab juga berkata: “Kematian seribu ahli ibadah yang selalu shalat malam dan berpuasa di waktu siang itu lebih ringan daripada kematian orang cerdas yang mengetahui hal-hal yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah”. [Jami’ bayanil ilmi wal fadhlihi; Ibnu Abdul Barr: 1/26]

Rasulullah saw bersabda: “Semoga Allah memberi kecerahan pada wajah seseorang yang mendengar hadis daripadaku, lantas ia menghafalkannya hingga dapat menyampaikan kepada orang lain. Sebab kadang-kadang seseorang membawa suatu pemahaman (ilmu) kepada orang yang lebih faham. Dan kadang-kadang orang yang membawa sebuah ilmu bukan pula ulama.” [Abu Daud: 3/321. No. 3660 dan At-Tirmidzi: 5/33. No. 2656]

Allah SWT melebihkan seorang nabi yang lain kerana kedalaman pemahaman yang dianugerahkan kepadanya. Allah SWT berfirman: “Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu”. (Al-Anbiya:79)

Ibnu Abbas dimuliakan sekalipun masih muda usianya, melebihi kebanyakan tokoh-tokoh senior lainnya, kerana pemahaman yang baik yang dikurniakan Allah kepadanya. Sehingga, ia berhak menjadi anggota Majlis Syura Amirul Mukminin Umar bin Khattab di masa itu.

Oleh karena itu wahai saudaraku, berusahalah memiliki pemahaman yang benar dan cermat. Pemahaman yang mencapai dasar urusan dan menempatkan sesuatu pada tempatnya, tanpa berlebih-lebihan dan tanpa meremehkan. Juga pemahaman yang jernih lagi murni. Sebab, barangsiapa yang dikurniakan oleh Allah pemahaman yang benar, maka ia telah mendapatkan kurnia yang banyak, keutamaan yang besar terhindar dari ketergelinciran dan terjaga dari penyimpangan.

Ibnu Al-Qayyim berkata: “Benarnya pemahaman dan baiknya tujuan merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan, hamba tidak dikurnia nikmat yang lebih utama setelah nikmat Islam melebihi kedua nikmat tersebut. Dua nikmat itu merupakan dua kaki dan tulang punggung Islam. Dengan keduanya, hamba terhindar dari jalan-jalan orang-orang yang dimurkai (yaitu orang-orang yang buruk tujuannya), dan dari orang-orang yang sesat (yaitu orang-orang yang buruk pemahamannya), serta akan menjadi orang-orang yang diberi nikmat (yaitu orang-orang yang baik pemahaman dan tujuannya). Merekalah orang-orang yang terbimbing di jalan yang lurus, di mana kita semua diperintahkan memohon kepada Allah dalam setiap shalat agar dibimbing ke jalan mereka.

Benar pemahaman merupakan cahaya yang disemayamkan oleh Allah dalam hati hamba-Nya. Dengannya ia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk; yang hak dan yang batil; petunjuk dan kesesatan penyimpangan dan kelurusan..” [A’alamul Muwaqqi’in; Ibnu Al-Qayyim: 1/187]

Sepuluh Wasiat Untuk Para Murabbi Qudwah


Sepuluh Wasiat Untuk Para Murabbi Qudwah

Nukilan: Sheikh Mohamed Hamed Elawa

Terjemahan: UsTACZ

الحمد لله العلي الكبير اللطيف الخبير ،والصلاة والسلام على قدوة المربين وسيد الداعين إلى الله على بصيرة والمجاهدين فيه بإحسان ، وعلى آله وأصحابه ومن والاه  وبعد,

Firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (arab) yang ummiyyin (yang tidak tahu membaca dan menulis) seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaanNya), dan membersihkan mereka (dari iktikad yang sesat), serta mengajarkan mereka kitab Allah (al-Quran) dan hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum syariat). Dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata”.

(Surah al-Jumu’ah: 2)

Sesungguhnya Tuhannya telah mentarbiyahnya, maka DIA-lah sebaik-baik yang mentarbiyah. Lalu DIA menjadikan akhlaknya selari dengan al-Quran. Nabi SAW menjadi qudwah terbaik bagi para sahabat dan pengikutnya melalui tutur katanya, perbuatannya dan keadaan hal ehwalnya keseluruhannya. Begitu juga dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalat serta tingkahlakunya. Firman Allah SWT:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

(Sesungguhnya adalah bagi kamu pada diri Rasulullah SAW qudwah terbaik).

Dia (Rasulullah SAW) adalah sebaik-baik murabbi dari sudut rabbaniyyahnya; menggauli, bermuayasyah dengan mereka (para sahabat), mempersaudarakan antara mereka, memberi arahan dan tarbiyah yang terbaik buat mereka, mengagihkan tenaga kepakaran mereka secara bijaksana, lalu dengan itu mereka berubah daripada golongan awam biasa yang terpedaya menjadi pemimpin yang mampu mencipta kemenangan. Kenapa? Kerana Rasulullah SAW adalah murabbi qudwah yang amat prihatin dan berlemah lembut dengan mereka para pengikutnya. Firman Allah SWT:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul dari golongan kamu sendiri (iaitu Nabi Muhammad SAW), yang menjadi sangat keberatan kepadanya sebarang kesusahan yang ditanggung oleh kamu, yang sangat menginginkan kebaikan bagi kamu, dan dia pula menumpahkan perasaan belas serta kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman”.

(Surah at-Taubah: 128)

Kedudukan Tarbiyah Dalam Medan Dakwah

Tarbiyah dalam kontaks dakwah merupakan perkara utama dan terpenting. Ia menjadi petunjuk dan dikira sebagai perkara thawabit (prinsip tetap) dalam agenda pengislahan , perubahan, pembinaan dan pembentukan. Itulah dia jalan bagi pembentukan individu muslim. Individu yang terbentuk inilah yang akan membentuk rumahtangga muslim qudwah, seterusnya membentuk masyarakat muslim harapan dan kerajaan Islam harapan. Imam al-Banna Rahimahullah telah menfokuskan prinsip tarbiyah dan takwin ini dalam konsepnya yang syumul, katanya:

كوّنوا أنفسكم تتكوّن بكم أمتكم

“Bentuklah diri kamu, nescaya akan terbentuklah melalui kamu umat kamu”.

العمل مع أنفسنا هو أول واجباتنا ، فجاهدوا أنفسكم واحملوها على تعاليم الإسلام وأحكامه ، ولا تتهاونوا معها في ذلك بأي وجه من الوجوه

“Beramal dengan diri kita sendiri adalah kewajipan pertama kita, maka bermujahadahlah dengan diri kamu, bawalah ia mengikuti pengajaran Islam dan hukum hakamnya, jangan kamu meremehkannya dalam apa jua keadaanpun”.

Berkata Ustaz Mustafa Masyhur Rahimahullah:

لقد أثبتت الأحداث والأيام أنه بقدر الاهتمام بالتربية تتحقق الأصالة للحركة ، واستمراريتها ونموها ، ويكون التلاحم بين الأفراد ووحدة الصف …. ، وعكس ذلك إذا أهمل جانب التربية أو حدث فيه تقصير، يظهر الضعف والخلخلة فى الصف ، ويبرز الخلاف والفرقة ويتضائل التعاون ويقل الانتاج

“Sesungguhnya peristiwa-peristiwa dan hari-hari yang telah berlalu  membuktikan bahawa keaslian harakah berkait rapat dengan keprihatinan terhadap tarbiyah. Keprihatinan terhadap tarbiyah menjamin kesinambungan dan kesuburan harakah, dan ia juga menjadi unsur kesatuan di antara individu dan safnya…. Begitulah pula sebaliknya, bilamana sudut tarbiyah diabaikan atau berlaku kecacatan dalam aspek tarbiyah, maka akan lahir fenomena kelemahan di dalam saf, seterusnya ia boleh menyebabkan berlaku perselisihan, perpecahan, lemahnya kerjasama yang akhirnya membawa kepada berkurangnya produktiviti”.

Kedudukan Murabbi Di Medan Tarbiyah

Murabbi adalah paksi dalam operasi tarbiyah, ia juga satu rukun terpenting, bahkan ia adalah batu penjuru dalam binaan dakwah ini seperti perumpamaan yang dinyatakan Imam al-Banna ketika membincangkan soal usrah dan naqibnya:

هي قاعدة الأساس فى بناء دعوتنا ، ونقيبها هو حجر الزاوية فى هذا البناء

“Ia adalah kaedah asas dalam binaan dakwah kita, sementara naqib usrah adalah batu penjuru dalam binaan ini”.

Justeru harapan dan cita-cita tarbiyah dan takwin amat bergantung kepada peranan murabbi. Ia bergantung kepada sejauhmana murabbi menjiwai peranannya, menekuni usaha, mengesani qudwah dan muayasyah bersama ikhwannya, keprihatinannya terhadap dakwah dan risalahnya. Sesungguhnya operasi tarbiyah akan bertambah mantap dan mendalam kesannya jika usaha yang disebut di atas diperkasakan, tentunya setelah diberi taufiq dan bantuan daripada Allah SWT.

 

Di sini kami ingin menyenaraikan beberapa wasiat umum yang wajib dititikberatkan oleh murabbi qudwah agar peranan tarbawinya efektif. Wasiat ini merangkumi tiga sudut asas dalam binaan takwin murabbi. Antaranya yang berkaitan;

  1. Peribadi murabbi, jiwa dan pembinaannya.
  2. Peranan murabbi, kemahiran tarbawi.
  3. Peranan murabbi menguruskan ikhwannya, amal dakwah yang berkait dengan tugasnya sebagai murabbi.

Berikut adalah 10 wasiat bagi murabbi qudwah:

  1. Murabbi mestilah mengambilberat hal keadaannya bersama tuhannya. Dia mesti memperuntukkan masa bagi dirinya. Maka hendaklah dia memelihara dirinya, berusaha mensucikannya dengan penuh keyakinan yang benar dan memastikan ibadat yang dilaksanakan sah di sisi Allah SWT.

Maka dia mestilah memberi perhatian yang serius dalam semua perkara yang boleh meningkatkan rohnya serta memastikan dia sentiasa berada dekat dengan tuhannya kerana kejayaannya mentarbiyah ikhwannya amat bergantung kepada kejayaannya mentarbiyah dirinya.

 

Di antara wasiat Imam al-Banna ialah;

ميدانكم الأول أنفسكم ، فإذا انتصرتم عليها كنتم على غيرها أقدر، وإذا أخفقتم فى جهادها كنت على سواها أعجز، فجربوا الكفاح معها اولاً

“Medan pertama kamu ialah diri kamu sendiri. Maka apabila kamu berjaya pada medan pertama ini, nescaya kamu akan berjaya di medan yang lain, sebaliknya jika kamu lokek untuk berjihad dengan diri kamu, maka kamu akan lebih lemah di medan yang lain. Ayuh! Singsing lengan kalian untuk memenangi jihad bersama diri sendiri dahulu”…

Apabila seorang murabbi menganggap bahawa dia mampu mengubah ikhwannya sedang dia sebenarnya tidak mampu untuk mengubah dirinya sendiri, maka ia dikira sebagai kealpaan yang membinasakan.

Benarlah pepatah yang mengatakan;

لاتُحسم معارك الميدان قبل حسم معارك الوجدان

“Pertempuran di medan tidak boleh dicapai sebelum pertempuran di dalam jiwa diraih”.

وأول ميادين تربية النفس التربية الإيمانية, فهي المحرك لكل خير والدافع لكل رشد

Ketahuilah bahawa medan pertama tarbiyah diri ialah tarbiyah imaniyah. Ia adalah dynamo segala kebaikan dan menjadi faktor terkuat untuk melakukan sesuatu perkara.

Murabbi mesti tahu bahawa tarbiyah adalah bekalan dan pemberian. Sesungguhnya dia tidak akan mampu untuk sentiasa memberi untuk ikhwannya jika dia tidak memiliki bekalan yang berterusan.

Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Dan berbekallah kamu, maka sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu ialah taqwa”.

Binaan iman serta ta’abbud (ibadat) seorang murabbi adalah saham terpenting untuk

takwin sahsiah rabbaniyyah yang hatinya tertakluk dengan penciptanya (Allah SWT), dan tidak akan tertipu dengan hiasan dunia berupa kecantikan, pangkat dan gelaran. Iman itu jugalah yang membantunya memperbanyakkan ibadat, solat-solat sunat dengan khusyuk dan khudhu’, memperbanyakkan zikir dan doa, tilawah al-Quran dan

mentadabbur maknanya.

  1. Hendaklah akhi murabbi menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia, menjaga reputasi yang baik dan menjaga muamalah sesuai dengan qudwah yang telah ditunjukkan oleh kekasihNya Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian murabbi tersebut mampu membuka ruang/memberi kelapangan kepada ikhwannya dengan akhlaknya.

Di dalam hadis Nabi SAW bersabda:

إِنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ لِيَسَعَهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Sesungguhnya kamu tidak mampu memberi kelapangan kepada manusia dengan harta kamu, akan tetapi kelapangan itu boleh kamu lakukan hanya melalui senyuman dan akhlak yang baik”.

Antara akhlak asas yang perlu dimiliki oleh para murabbi ialah akhlak sabar, berlapang dada, lemah lembut, rahmah, rendah diri, suka memaafkan kesalahan.

Firman Allah SWT:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitar kamu. Kerana itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah keampunan buat mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal”.

(Surah Ali- Imran: 159)

 

Manusia menjadi tawanan perlakuan ihsan (baik) seseorang. Dan hati sentiasa menerima baik para muhsinin (orang baik) dan akan berada di sekitarnya. Lihat saja pengajaran dari kisah teman sepenjara Nabi Yusof alaihissalam, Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya kami lihat kamu adalah tergolong dari kalangan orang-orang yang baik (muhsinin)”.

Sebagaimana kita memberi kelapangan dengan akhlak, kita juga mentarbiyah mereka dengan akhlak secara praktikal melalui pandangan mereka terhadap kecantikan tindaklaku kita. Dengan demikian bolehlah kita simpulkan dengan suatu hakikat bahawa;

“Akhlak murabbi adalah ibadah yang mampu membawanya bertaqarrub kepada tuhannya, ia adalah jalan untuk mentajmi’ semua hati ikhwannya, dan merupakan medan untuk mentarbiyah ikhwannya serta mentakwin muridnya”.

  1. Hendaklah akhi murabbi itu berusaha bersungguh-sungguh menimba ilmu bermanfaat untuk dirinya dan dilimpahkan kepada ikhwannya. Kerana murabbi juga berfungsi sebagai ustaz (guru) dari sudut pengisian ilmu sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam al-Banna:

أستاذ بالإفادة العلمية

“Murabbi itu adalah ustaz (guru) dari sudut pengisian ilmu”.

Ilmu yang kita maksudkan bukan hanya ilmu yang dihafal dan menguasai beberapa buah buku –sekalipun ia dianggap penting- Namun yang lebih penting ialah bagaimana ilmu itu boleh dimanfaatkan sebagaimana sepatutnya. Justeru penekanan yang harus diberi kepada setiap bab dari ilmu tersebut ialah tentang kepentingannya di sudut amal tarbawi dan disiplinnya. Paling utama ialah bagaimana ilmu tersebut dipraktikkan. Memanfaatkan ilmu di sini bukan hanya teorinya semata-mata, tetapi ia harus melampaui kepada pengalaman amali yang merupakan terjemahan sebenar kepada hakikat ilmu tersebut.

  1. Hendaklah akhi murabbi berusaha sedaya upaya mengembangkan potensi dirinya sendiri. Antaranya berusaha memahirkan diri dengan beberapa ilmu kemahiran asas seperti; perancangan tarbawi, menyelesai masalah, pembentangan dan penyampaian, berdialog dan berbincang, mutaba’ah dan penilaian tarbawi, pembahagian tugas, menanam nilai, merubah tingkahlaku… dsb. Akhi murabbi juga harus menguasai manhaj marhalah yang dilaksanakannya, bagaimana mengoperasi manhaj agar mencapai objektifnya, bagaimana melaksanakan pelbagai wasail tarbiyah agar mencapai objektifnya masing-masing.

Di antara ilmu tambahan (penyempurna) bagi para murabbi ialah ilmu untuk mengenali sahsiah manusia; ciri-ciri dan cara bagaimana berinteraksi dengan setiap kategori itu, kemudian hendaklah dia menguasai tentang medan-medan amal dakwah dan peluang yang perlu dimainkan agar dia mampu memberi taujihat yang bersesuaian dengan kemampuan mereka (mutarabbi).

  1. Murabbi hendaklah berusaha melaksana dan memperdalamkan mu’ayasyah bersifat tarbawi bersama mutarabbinya sama ada secara fardi atau jamaie. Mu’ayasyah ini tentunya akan membantu untuk merealisasikan tiga rukun usrah (ta’aruf, tafahum dan takaful), memperkasakan hubungan hati dan penyatuan perasaan di antara anggota usrah dan sebagai persediaan membentuk bi’ah (suasana) yang membantu menyuburkan tarbiah. Justeru,  murabbi berpeluang berta’aruf secara dekat dengan mutarabbinya untuk memastikan potensi dan keupayaannya, secara tidak lansung dapat berperanan mengikut kesesuaiannya serta dapat mengenal pasti permasalahan dan kesukaran yang dihadapi selain berusaha mencari titik penyelesaiannya.

Demi merealisasikan mu’ayasyah di antara suasana keterbukaan yang terkawal dan pergaulan tarbawi yang berobjektif, mestilah dipelbagaikan wasilah, aktiviti dan metodologinya agar murabbi dapat melihat mutarabbinya di dalam situasi berbeza. Tujuannya agar mutarabbi mampu membentuk tarbiah yang efektif dan taujih yang diberikan hasil mu’ayasyah secara praktikal dalam realiti mutarabbi tersebut. Kesimpulannya boleh dikatakan bahawa; “Mu’ayasyah yang mendalam adalah asas tarbiah yang sebenar”.

  1. Murabbi hendaklah mentarbiah mutarabbinya di sudut iman dan ibadat melalui tazkiah (pembersihan) jiwa dengan ketaatan dan jenis ibadat yang mendekatkan diri kepada Allah untuk merealisasikan ubudiah kepada Allah. Semua itu mampu dicapai dengan mengikhlaskan hati kepada Allah, membetulkan niat dalam setiap perkataan dan amalan tanpa memandang kepada habuan, gelaran, pangkat dan sebagainya. Selain itu, mutarabbi dapat meningkatkan diri mereka serta menaikkan ruh jihad dan pengorbanan jiwa, harta dan masa di jalan Allah. Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 111:

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ

Maksudnya : “Sesungguhnya Allah membeli daripada orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka kerana bagi mereka ada balasan syurga”.

Kemudian memperdalamkan di dalam diri mereka perasaan tajarud terhadap dakwah dan fikrah mereka, iaitu Islam yang tulen kerana pengorbanan, jihad dan tajarud menuntut ruh jundi (ketenteraan). Maka menjadi tanggungjawab para murabbi mentarbiah mutarabbinya untuk mendengar dan taat di dalam situasi apa pun; susah, senang, cergas atau terpaksa dalam perkara bukan maksiat di samping membiasakan mereka menunaikan tugasan masing-masing dengan sempurna.

  1. Murabbi hendaklah berusaha menanamkan makna ukhuwah dan kasih sayang kerana Allah di antara ikhwah secara praktikal, bukan teori kerana ukhuwah adalah rahsia kekuatan seperti yang telah dinyatakan oleh Imam Al-Banna. Hendaklah murabbi berusaha menanam prinsip thiqah di jalan dakwah. Perkara paling asas ialah thiqah kepada qiadah, thiqah kepada manhaj, thiqah sesama ikhwah sepanjang jalan dakwah, thiqah kepada pertolongan Allah untuk memenangkan agama ini.

Murabbi juga hendaklah berusaha menanam pengharapan tinggi dengan bantuan Allah kepada hamba-hambaNya yang soleh, sentiasa memberi pencerahan tentang perjalanan dakwah ini dengan menekankan pentingnya thabat walaupun dilanda mehnah, ujian dan fitnah sama ada dalam situasi kesusahan dan kesenangan. Allah berfirman:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Maksudnya: “Dan Kami akan timpakan ke atas kamu ujian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah untuk kamu, dan kepada Kami jua kamu dikembalikan”.

Di antara kewajipan murabbi juga ialah menerangkan kepada ikhwan tentang penyelewengan fikrah dan harakah yang akan menjauhkan mereka dari jalan dakwah agar mereka berhati-hati kerana kebiasaannya penyelewengan tersebut bermula dari perkara yang kecil, kemudian bertambah sedikit demi sedikit dengan berlalunya masa.

  1. Hendaklah murabbi mengetahui potensi dan keupayaan ikhwahnya, lalu berusaha sedaya upaya mengagihkan peranan untuk memberi khidmat kepada dakwah serta mengajak mereka agar bergerak dan bekerja. Perkara itu boleh dilaksanakan melalui program secara praktikal. Murabbi qudwah sepatutnya tidak boleh menerima mereka yang tidak menjiwai kepentingan dakwah dan tidak bekerja untuk dakwah. Antara faktor yang boleh membantu murabbi ke arah itu ialah mempergiatkan pergaulan, mu’ayasyah serta memperkenalkan mereka medan dan bidang dakwah yang banyak.

Murabbi hendaklah memberi latihan amali bagaimana cara melaksanakan dakwah dengan betul di pelbagai medan; rumahtangga, jiran tetangga, keluarga terdekat, di tempat belajar, di tempat kerja dengan menfokuskan di medan yang sesuai dengan kemampuan dan situasi mereka. Umpamanya di kalangan remaja, pelajar atau menyebarkan dakwah atau melakukan kebajikan dan khidmat untuk masyarakat dan sebagainya, mengikut struktur jawatankuasa dan unit kerja di dalam Jemaah.

  1. Murabbi hendaklah menyediakan mutarabbinya biah (suasana) tarbawi yang akan menyuburkan tarbiah mereka mengikut manhaj marhalah. Untuk itu aktiviti yang dilaksanakan tidak seharusnya terhad dalam lingkungan usrah sahaja, akan tetapi mestilah menjangkau wasilah-wasilah lain yang tidak kurang pentingnya seperti daurah, nadwah, mukhayyam, katibah dan lain-lain secara jamaie. Penyediaan biah yang kondusif  bagi menyuburkan tarbiah ini hendaklah disusuli dengan mutaba’ah yang akan menilai pertumbuhan mereka berdasarkan manhaj marhalah sesuai dengan prinsip ‘Tarbiah Berdasarkan Objektif’. Justeru mereka yang terkehadapan akan dapat diperkasakan disamping mereka dapat memberi aspirasi kepada mereka yang lemah.

Melalui proses ini juga, murabbi hendaklah menyeimbangkan di antara dua metodologi tarbiah fardiah dan jamaiah berpaksi kepada prinsip ‘perbezaan peribadi’ dalam tarbiah tanpa mengabaikan aspek peningkatan jati diri dalam diri setiap mutarabbinya. Hal ini kerana,  ia adalah salah satu konsep tarbiah fardiah. Tarbiah fardiah itu termasuklah aspek ibadat, kemasyarakatan, dakwah dan sebagainya tetapi dalam lingkungan disiplin harakah dan tanzim.

  1. Murabbi hendaklah mengumpulkan hati ikhwahnya di sekitar dakwah serta thiqah pada jalannya (qiadah – manhaj – individu), disamping mentarbiah mereka agar terlaksana intima’ sebenar kepada dakwah secara (perasaan – fikiran – tanzim). Mutarabbi mesti ditarbiah agar memahami bahawa mereka adalah pendokong dakwah, justeru wajiblah mereka berfikir untuk dakwah, menasihati juga untuk dakwah dan menjunjung cita-cita dakwah. Demikian juga wajib para murabbi membakar semangat ikhwahnya agar sama-sama menyumbang pandapat, pemikiran untuk mengembangkan gerak kerja ini dengan menanamkan prinsip ‘Agama itu adalah nasihat’ secara beradab dan berdisiplin.

Murabbi hendaklah mentarbiah mereka bagaimana untuk bersyura (bermesyuarat) secara ilmiah dan praktikal bertunjangkan adab dan mekanisma yang betul. Kita berdoa kepada Allah SWT supaya DIA menolong memberi kemenangan kepada dakwah kita, menyebarkan fikrah kita, memberkati ukhuwah kita, memberi taufiq pimpinan kita, menghimpunkan kita semua di atas kalimah kita yang benar. Begitu juga kita berdoa kepada Allah SWT agar DIA mengikhlaskan niat kita, menerima amalan kita dan menjadikan semua amalan kita itu pada timbangan kebaikan di hari kiamat nanti… Allah berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا

Maksudnya: “Pada hari di mana kamu akan mendapati setiap jiwa memperolehi segala perkara yang dilakukan di dunia dahulu dihidangkan di hadapan masing-masing”.