Tag Archive | tidak akan

Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)


Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)

Keimanan yang kokoh menjadi perisai bagi setiap kader dakwah. Dan hal ini hendaknya menjadi sebuah kelaziman. Sehingga keimanan itu betul-betul bak perisai kuat untuk menahan lajunya serangan musuh yang senantiasa datang silih berganti. Perisai ini wajib selalu berada di tangan aktivis dakwah. Ia tak boleh lepas sekejappun apalagi hilang tak berketentuan arah. Keimanan yang diumpamakan perisai itu berawal dari kekuatan tauhid yang tertanam dalam sanubarinya. Tauhid yang kuat dan bersih dari berbagai penyimpangannya. Ia diasaskan dari kalimat yang baik (kalimatun thayyibah) yang terikat dalam jiwanya. Kalimat yang baik dari kekuatan tauhid ini lantaran persaksian dan komitmen loyalitasnya pada Sang Maha Perkasa. Hingga kalimat itu, Allah SWT umpamakan seperti pohon yang baik.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ . تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (Ibrahim: 24 – 25).

Pohon ini tiada duanya di muka bumi ini. Ia tumbuh subur dan berkembang pesat dan mampu melawan serangan hama dan penyakit. Sehingga ia menghasilkan buah yang tak pernah henti. Malah menumbuhkan pohon-pohon lainnya. Itulah pohon keimanan.

Disebut Syajaratul Iman (Pohon Keimanan) lantaran keimanan yang kokoh laksana sebuah pohon yang selalu memberikan manfaat yang amat banyak;

– Buahnya dapat dikonsumsi oleh setiap makhluk yang menginginkannya.

– Dahannya dapat menjadi sarang serta tempat bertengger burung-burung.

– Daunnya yang lebat menjadi tempat berteduh musafir yang lewat.

– Akarnya menyimpan persediaan air untuk bumi yang tandus.

Inilah pohon keimanan yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Beliau mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah SWT. menyerupakan pohon iman yang bersemi dalam hati dengan pohon yang baik. Akarnya menghunjam ke bumi dengan kokoh dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan buah setiap musim. Jika engkau renungkan perumpamaan ini tentulah engkau menjumpainya cocok dengan pohon iman yang telah mengakar kokoh ke dalam dan di dalam hatinya. Sedang cabangnya berupa amal-amal shalih yang menjulang ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan hasilnya berupa amal shalih di setiap saat menurut kadar kekokohannya di dalam hati. Kecintaan, keikhlasan dalam beramal, pengetahuan tentang hakikat serta penjagaan hati terhadap hak-haknya’.

Diantara para ulama penafsir Qur’an mereka berpandangan bahwa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits riwayat Ibnu Umar RA. Dalam kitab shahih. Ar Rabi’ Ibnu Anas mengatakan bahwa orang mukmin itu pokok amalnya menghunjam ke bumi sedang buah amalnya menuju langit lantaran keikhlasannya dalam beramal.

Ibnul Qayyim mengatakan, ‘Tidak ada perbedaan diantara ke dua pendapat itu karena makna yang dimaksud tamsil ini adalah sosok orang mukmin sejati. Sedang pohon kurma adalah sebagai gambaran yang menyerupainya dan dari diri orang mukminlah sebagai sosok yang diserupakannya’. Pohon-pohon keimanan ini tumbuh dan berkembang bahkan menumbuhkan pohon lainnya.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam kitabnya Ar Raqa’iq menggambarkan bahwa pohon-pohon itu bak laksana kumpulan tanaman taman nan indah. Setiap orang yang melihat pasti ingin berteduh didalamnya. Setiap melihat buah mesti tangan ingin menjamahnya. Pokoknya taman itu amat menarik hati. Pohon-pohon yang tumbuh di taman nan menawan itu adalah:

1. Syajaratut Tha’ah (Pohon Ketaatan)

Dari tempat kamu berteduh di bawah pohon iman itu kamu dapat mencium aroma wewangian bunga yang semerbak di dekatnya. Itu bersumber dari sebuah pohon yang disebut syajaratut tha’ah, yakni pohon ketaatan. Ia menjadi saksi terhadap keridhaan Allah saat dilimpahkan di hari turunnya ayat berikut:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (Al-Fath:18)

Orang yang berteduh di masa sekarang akan senantiasa mendapatkan ketenangan hati dan tidak mudah goyah karena faktor terhalangnya mendapatkan sesuatu atau tertinggal olehnya. Ia tetap tabah menunggu kemenangan yang akan diraihnya. Ia juga berada dalam arus gerakan Islam untuk selalu menunaikan tugas-tugas dan tanggung jawabnya. Ia setia dengan beban yang terpikul di pundaknya. Dengan sikap itu ia mampu meruntuhkan mercusuar kesesatan. Sedang ia telah menyatakan janji setia kepada Islam untuk mati sebagai tebusannya. Pohon ketaatan ini bersumber pada akar pengabdian yang utuh pada Sang Maha Pencipta. Sudah semestinya pohon ketaatan itu tumbuh subur di hati kader dakwah.

2. Syajaratut Tirhab (Pohon Penyambutan)

Pohon ini dinamakan pohon penyambutan. Ini untuk menyambut mereka-mereka yang sedang berjuang untuk mempertaruhkan hidupnya agar meraih kemuliaan di sisi Rabbnya. Jika Allah memilih untuk menimpakan musibah kepadamu sebagai jalan untuk meraih anugerah keridhaan-Nya. Dan kamupun mengalami cobaan berat hingga memaksamu berlindung di bawah syajaratut Tirhab, pohon penyambutan. Ini dilakukan untuk mencari ketenangan di bawah naungannya seraya menggerakkan pokoknya agar melimpahkan sebahagian dari berkahnya kepadamu. Dan engkau melakukan sikap sebagaimana yang dilakukan ibunda Maryam AS. Ketika bumi terasa sempit olehnya. Maka terdengarlah suara yang menyeru kepadanya:

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا . فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Maryam: 25 – 26).

Maka engkau mendapat makan dari buahnya yang telah masak dengan rasa puas tanpa berlebihan. Di sana engkau beroleh minuman yang segar dari sungai kecil yang mengalir di hadapanmu dengan mencidukkan kedua tanganmu kepadanya tanpa harus bersusah payah. Pohon ini berdiri pada pokoknya yakni kecintaan untuk menghariba kepada Rabbul Izzati. Dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan akan perjumpaannya. Bagi seorang kader dakwah mendekatkan diri untuk menghamba kepada Allah SWT menjadi keharusan. Agar ia senantiasa dalam kondisinya yang prima. Tidak lapar dan tidak pula kehausan. Ia dapat memenuhi hak dan kebutuhan hidupnya dalam memperjuangkan ajaran-Nya.

3. Syajaratul Wafa’ (Pohon Kesetiaan)

Kesetiaan adalah tanda kecintaan. Dan kecintaan merupakan prasyarat dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan kecintaannya. Nabi Muhammad SAW. mempunyai tanaman sendiri sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits, bahwa banyak pohon yang menyaksikan beberapa peristiwa dari perjalanan hidupnya yang mulia. Sebagai isyarat yang menunjukkan adanya hubungan ini. Terkadang sebagai gambaran untuk menyadarkan orang yang lalai. Diantaranya adalah syajaratul wafa’, pohon kesetiaan. Sebagai tanda adanya komunikasi di antara ruh-ruh yang selalu ingat. Pohon ini dapat mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada yang berhak menerimanya serta mengakui kebaikan yang diberikannya.

Ia adalah batang pohon kurma yang merintih saat ditingalkan. Jabir bin Abdullah RA. meriwayatkan, ‘Dahulu ada sebatang pohon kurma yang digunakan oleh Nabi SAW. untuk pijakan tempat berdirinya. Setelah dibuatkan mimbar untuk Nabi, kami mendengar dari batang kurma itu suara rintihan seperti rintihan unta yang sedang hamil besar. Hingga Nabi saw turun dari mimbarnya lalu meletakkan tangannya pada batang itu barulah batang pohon itu diam’. Batang pohon itu mengeluarkan suara rintihan seperti rintihan unta betina hamil besar. Peristiwa ini merupakan salah satu mukjizat Nabi SAW. Sebatang pohon yang diberikan penghormatan kepadanya lalu ia membalasnya. Manakala ditinggalkan ia merasa sedih sehingga kesedihannya itu melahirkan suara rintihan. Sekarang tiada seorangpun diantara kita melainkan di rumahnya terdapat kitab hadits. Seakan-akan Nabi saw berdiri di hadapannya mengajarkan urusan agama dan mengajarinya hukum-hukum syariat Islam. Maka sudah selayaknya bagi manusia seperti kita berterima kasih dan membalasinya dengan ketaatan dan kesetiaan pada ajaran yang dibawanya. Kita telah mendapatkan pelajaran yang amat bagus dari sebatang pohon kurma. Maka kita sebenarnya yang amat patut melakukan hal itu dan menterjemahkannya dalam sikap kita terhadap dakwah dan ajaran ini. Sepatutnya kita pun para kader dakwah merintih karena tidak dapat berbuat banyak untuk memberikan kontribusi pada dakwah ini sebagaimana orang-orang yang disebutkan Allah SWT. dalam kitab-Nya Allah berfirman:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. (At-Tauabh:92).

4. Syajaratut Tsabat (Pohon Keteguhan)

Keteguhan menjadi hal yang amat urgen dalam mengemban amanah mulia. Karena godaan dan rintangan akan selalu datang silih berganti. Karena itu bagi aktivis dakwah ia amat memerlukan pohon keteguhan. Engkau dapat berlindung dibawahnya di hari manusia berpecah belah karena kecenderungannya yang berbeda-beda. Engkau mencari selamat dengan meninggalkan semua golongan yang berpecah belah itu. ‘Sekalipun engkau harus menggigit akar pohon (yakni berpegang teguh pada prinsip meskipun hidup menderita)’.

Oleh karena itu berlindunglah pada pohon keteguhan ini untuk mengeraskan gigitannya. Seandainya engkau bayangkan keadaan yang sebenarnya tentulah hatimu menjadi ragu dan bergetar penuh kecemasan. Antara perasaan takut bila pegangannya mengendur lalu terbawa arus dan harapan untuk tetap bertahan demi mencapai keselamatan.

Akan tetapi sari pati cairan yang dikeluarkan oleh pohon itu membuat kamu segar karena mendapat minuman darinya. Sedang manusia saat itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Tenggorokanmu basah lagi sejuk, sehingga menambah keras gigitanmu terhadapnya, seakan-akan kamu menghisap keteguhan dan kekokohan darinya bagaikan bayi lapar yang sedang menyusu. Pohon keteguhan ini juga menjadi alat Bantu untuk menghadapi cobaan dan ujian komitmen dari berbagai rayuan dunia yang memikat. Dari pohon itu kader dakwah tidak akan goyah karena daya tarik material duniawi yang fana. Ia tidak seperti orang-orang yang lalai dari kesetiaannya karena tergoda oleh ikan-ikan yang bermunculan pada saat mereka harus menunaikan komitmen itu.

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik”. (Al-A’raf:163).

5. Syajaratul Unsi (Pohon Penghibur)

Pohon ini menjadi penghiburmu di saat kamu sendirian dan kelembabannya meringankan (membasahi) keringnya kesalahanmu. Pohon ini ditanam oleh Nabi saw, saat beliau melalui dua kuburan yang sedang diazab. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Nabi SAW. ‘Beliau mengambil sebatang pelepah kurma yang masih basah. Dan membelahnya menjadi dua bagian lalu menancapkan kepada masing-masing dari kedua kuburan itu satu bagian. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau lakukan itu?’. Rasulullah SAW. menjawab, ‘Mudah-mudahan azab diringankan dari keduanya selama kedua pelepah ini belum mengering’.

Buraidah Al Aslami RA. memahami hal ini sebagai tuntutan yang dianjurkan. Oleh karena itu ia berwasiat agar ditancapkan di atas kuburannya nanti dua batang pelepah kurma. Orang-orang pun mengikuti jejaknya dalam hal ini. Ada kalanya kita tidak dapat terlepas dari dosa-dosa kecil yang mencemari keikhlasan amal kita atau dari keterpaksaan mengejar sisa-sisa yang ada di tangan ahli dunia dari harta yang memperdayakannya. Yang biasa dibarengi dengan begadang yang merusak kesehatan dan dirundung oleh kegelisahan yang membuat diri kita tidak dapat tidur. Sehingga tubuh ini menjadi lemah untuk persiapan kerja di pagi hari. Barang kali dengan meluangkan waktu sejenak untuk berteduh di bawah pohon ini agar dapat meringankan beban hidupmu. Tentu hiburan bagi aktivis dakwah bukanlah dengan lantunan nasyid-nasyid dengan iringan bunyi musiknya atau juga bukan dengan tontonan yang melalaikannya. Akan tetapi hiburannya melalui dengan mengenang sejarah kehidupan umat terdahulu yang diabadikan kebaikannya serta mengingat akan janji balasan yang akan diberikan Allah SWT. pada orang-orang yang beriman. Sehingga dapat menggambarkan kenangan indah di hatinya akan kehidupan orang-orang yang telah berada di negeri cahaya yang penuh berkah.

6. Syajaratul Mufashalah (Pohon Pemisahan)

Pohon pemisahan ini menjadi saksi tentang sempurnanya akan kebersihan sarana yang digunakan oleh seorang muslim dalam mencapai tujuannya yang bersih. Demikian itu terjadi ketika ada seorang musyrik yang ingin bergabung memberikan bala bantuan kepada pasukan kaum muslimin dalam perjalanannya menuju medan perang Badar. Orang musyrik itu memberikan bala bantuan atas dasar fanatisme golongan untuk membela kaumnya. Ketika pasukan kaum muslimin sampai di sebuah pohon besar yang menjadi rambu jalan sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah RA. Lalu orang musyrik itu hendak bergabung. Maka Nabi menoleh kepadanya dan mengatakan, ‘Kembalilah kamu, aku tidak meminta bantuan dari orang musyrik’.

Maka ketetapan ini terus berlaku sebagai prinsip yang tidak pernah ada pengecualiannya. Kecuali hanya dalam kejadian-kejadian yang terbatas dan langka. Oleh karena itu prinsip ini tetap menjadi pijakan dalam amal dakwah kita agar tidak mengemis meminta-minta balas bantuan dari orang yang memusuhi dakwah. Apalagi potensi yang dimiliki umat masih melimpah ruah untuk didayagunakan.

7. Syajaratul Istighfar (Pohon Meminta Ampunan)

Pohon istighfar berupa pohon anggur yang banyak buahnya. Apabila ada seorang tamu yang mampir ke rumah pemiliknya maka ia akan memetik setangkai buah itu lalu disodorkan kepadanya untuk mencicipinya. Setelah itu tentu seseorang yang bertandang itu akan merasakan kepuasan yang teramat sangat. Kemudian pada hari yang lain. Isteri pemilik kebun anggur itu mengatakan kepada suaminya. ‘Cara seperti itu tidak etis kepada tamu, sebaiknya engkau ikut memakan separuh jamuanmu guna menyenangkan hatinya dan sekaligus sebagai pernghormatan padanya’. Suaminnya menjawab, besok aku akan lakukan hal itu. Keesokan harinya, setelah tamunya memakan separuh hidangan yang disajikan kepadanya. Lalu lelaki pemilik kebun itu ikut serta memakannya. Tatkala ia mencicipinya terasa anggur itu masam dan tidak enak untuk dimakannya. Ia pun meludahkannya dan mengernyitkan kedua alisnya keheranan atas kesabaran tamunya yang mau merasakan buah seperti itu. Namun tamu itupun menjawabnya. ‘Sesungguhnya aku telah memakan buah ini dari tanganmu sebelumnya selama beberapa hari dengan rasa manis tetapi sekarang ini aku tidak suka memperlihatkan kepadamu rasa tidak enak pada buah ini sehingga membuatmu menyesali pemberianmu yang lalu’.

Apa yang disebutkan di atas ini bukanlah kisah ngawur melainkan sebagai tamsil perumpamaan yyang dibuat untuk para dai yang mengusung dakwah ini. Karena itu dengarkanlah baik-baik. Hal ini merupakan ungkapan kisah yang dijabarkan kepadamu untuk mendekatkan kepahamanmu kepadanya agar mudah kamu cerna.

Tidak seorangpun di antara orang-orang yang ada disekitarmu yang terpelihara dari kesalahan dan benar selalu adanya. Oleh karena itu jika ada saudaramu yang berbuat kekeliruan maka janganlah kekeliruannya itu mendorongmu untuk mendiamkannya tidak mau bergaul lagi dengannya. Tidak sabar terhadapnya atau mendiskriditkannya. Bahkan jangan pula kamu mencelanya melainkan bersabarlah kepadanya. Dan tahanlah emosimu. Dan kamu harus memaafkannya dalam hatimu karena mengingat kebaikannya yang terdahulu dan perilakunya yang baik dan penghormatannya kepadamu. Karena barangkali dia dapat membantumu untuk bertaubat atau menolongmu saat kamu belajar sebagai pelayan pendamping atau teman begadangmu atau dia mengajarkan kepadamu suatu bidang pengetahuan yang diajarkan Allah kepadanya dan hal-hal baru yang belum kamu ketahui.

8. Syajaratuz Zuhud (Pohon Zuhud)

Jika engkau telah beroleh faedah dan menebarkan keadilan maka sudah saatnya bagimu untuk membaringkan diri di bawah sebuah pohon yang ramping lagi banyak buahnya dan bunganya. Keindahannya memukau pandangan orang yang melihatnya dan membuat orang yang menikmati keindahannya berdecak kagum karena selera penanamnya begitu tinggi.

Itulah pohon zuhud. Yaitu pohon yang bersemi di dalam hati. Jenisnya lain dari yang lain. Belum pernah ada seorang pun yang menanam hal yang semisal itu sehingga terlihat sangat indah. Penanamannya menggambarkan pohon itu bagai syair berikut:

Zuhud telah menanamkan pohon dalam kalbuku

Sesudah membersihkannya dari bebatuan dengan susah payah

Dia menyiraminya sesudah menancapkannya ke bumi dengan air mata yang dialirkan

Manakala di melihat burung-burung perusak tanaman terbang mengelilingi pagarnya

Dia mengusirnya

Aku tidur di bawah naungan yang rindang dengan hati yang senang

Dan mengusir semua yang mengganggunya

Kemudian aku berjanji setia kepada Tuhanku

Seperti itulah Bai’atur Ridwan dilakukan di bawah pohon untuk memberikan janji setia. Rasakanlah kamu menjadi salah seorang diantara mereka yang melakukan hal itu. Dan kamu bersama di tengah-tengah mereka. Dirimu dipenuhi oleh semangat bai’at janji setia sampai mati di jalan Allah SWT. demi membela ajaran ini tegak di muka bumi.

9. Syajaratul Hilm (Pohon Penyantun)

Imam Hasan Al Banna telah memahami seni menanam pohon keimanan ini. Karena itu ia menanamkan kepada kita pohon Kesantunan. Beliau menggambarkannya sebagai berikut: ‘Jadilah kamu seperti pohon yang berbuah. Manusia melemparinya dengan batu sedang ia melempari mereka dengan buahnya’.

Sesungguhnya ia telah memberikan gambaran yang baik dan masukan yang berfaedah. Karena sesungguhnya kebanyakan manusia cepat cenderung kepada kejahilan sehingga mendorong mereka untuk mendustakan para da’i dan menyakiti mereka dengan cara batil. Seandainya seorang da’i bersikap jahil seperti orang jahil itu dan membalas keburukan dengan keburukan semisal, niscaya akan lenyap dan pudarlah nilai-nilai kebajikan itu. Sebenarnya sikap yang harus diambil seorang da’i adalah berlapang dada, mengharapkan pahala Allah dan memohon ampunan bagi kaum yang tidak mengerti itu.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid menandaskan bahwa pohon keimanan itu mesti diberi pupuk dan disiraminya disetiap waktu. Dirawatnya dengan baik agar tidak dimakan hewan yang mendatanginya atau dihinggapi hama penyakit. Ia pun perlu diselamatkan dari tangan jahil manusia yang sering usil untuk memetik buahnya sebelum masanya. Ia perlu penjaganan yang ekstra agar pohon-pohon itu memberikan buahnya bagi dakwah ini. Itulah Tsamaratud Da’wah (Buah Dakwah). Yakni kader-kader dakwah yang militan yang menyediakan dirinya untuk melayani dakwah ini dan berkhidmat terus demi tegaknya ajaran ini. Bila pertumbuhan kader ini terus tumbuh dari berbagai segmen dan usia secara seimbang maka dakwah ini akan mengalami tingkat produktifitas yang amat tinggi. Intajiyatud Da’wah (Produktivitas Dakwah). Dengan begitu mewujudkan misi utama dakwah ini untuk mencapai perubahan nilai dan norma akan semakin terrealisir.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya:107).

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan peranglah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al-Anfal:39).

Perseimbangan Antara Marhalah Takrif, Takwin Dan Tanfiz


Perseimbangan Antara Marhalah Takrif, Takwin Dan Tanfiz

Tulisan: Dr Mohyi Hamed (Anggota Maktab Irsyad)

Terjemahan: UsTACZ

Muqaddimah:

Sesungguhnya para pendokong dakwah mengetahui bahawa perjalanan amal dan langkah pelaksanaannya dikira sebagai perkara asasi dan petunjuk utama dakwah Ikhwan Muslimin (IM). Ia juga sebagai penyempurna yang penting bagi manhaj taghyir, iaitu dengan menentukan jalan dan langkah yang sepatutnya dilalui oleh kita sehingga mampu mencapai matlamat dan objektif yang menjadi faktor tertegaknya dakwah IM.

Mungkin ada orang tersalah dalam menentukan  jalan untuk sampai ke matlamat tersebut. Justeru wajiblah dipastikan dari masa ke semasa marhalah-marhalah dan wasilah-wasilahnya yang akan menyampaikannya kepada objektif dan cita-cita yang diharapkan itu. Para pendokong dakwah perlu sentiasa ingat tentang tiga marhalah dakwah yang telah ditentukan oleh Imam Hasan Al-Banna rahimahullah, iaitu: takrif, takwin dan tanfiz.

Seperti katanya rahimahullah:

“Adapun tadarruj (beransur-ansur) dan berpegang kepada tarbiah dan kejelasan langkah sepanjang jalan IM kerana disebabkan mereka beriktikad bahawa setiap dakwah tidak boleh tidak mesti ada tiga marhalah: marhalah di’ayah (propaganda), takrif (pengenalan), tabsyir (berita gembira) dengan fikrah, dan berusaha menyampaikannya kepada segenap segmen masyarakat. Kemudian marhalah takwin (pembentukan), pemilihan pengikut, penyediaan tentera, persiapan sof dari kalangan mad’u. Kemudian datang marhalah tanfiz (pelaksanaan), amal dan produktiviti. Kebanyakan marhalah ini biasanya berjalan serentak, selaras dengan kesatuan dakwah serta keutuhan hubungan ketiga-tiga marhalah tersebut. Maka da’ie bertindak menyeru, dalam masa yang sama dia memilih dan mentarbiah, dan dalam masa yang sama juga beramal dan melaksana.” (Risalah Muktamar Khamis)

Nabi Muhammad SAW merupakan da’ie yang sentiasa memberi amaran bagi kaumnya, baginda juga adalah murabbi yang amat bijak serta berupaya menyaring dan memilih para sahabatnya dan mentarbiah serta mempersiapkan mereka. Baginda juga adalah mu’allim dan mahaguru yang sentiasa mengajar perkara berkaitan agama mereka. Baginda juga adalah qaid (ketua) dan mujahid yang sentiasa berusaha  mengangkat martabat agama ini. Di atas manhaj nabawi inilah sahabat-sahabat radhiallahuanhum yang mulia lalui, para tabi’en dan tabi’e at-tabi’en serta para salafu as-soleh ridhwanullah alaihim. Oleh itu wajib bagi para pendokong dakwah meyakini bahawa tadarruj (beransur-ansur) dalam langkah adalah usul dan fiqh kepada amal dakwah IM. Begitu juga menuruti langkah-langkah yang telah dilalui oleh dakwah Islam yang pertama di atas jalan kekasih kita SAW; bermula dari iklan (isytihar) dengan dakwah ini, berjuang di sepanjang jalannya tanpa mengenal erti jemu, memilih jiwa-jiwa yang bersedia dengan dakwah ini, mempersaudarakan sesama mereka, mentamkinkan (memantapkan) iman di hati mereka, kemudian berjuang bermati-matian terus menerus tanpa henti bagi meninggikan kalimah Allah di muka bumi agar agama ini berkuasa di seluruh pelusuk alam sehingga tertegaknya Daulah Islamiyyah yang pertama, kemudian tertegaknya Khilafah Rasyidah, kemudian tersebarnya Hadhorah Islamiyyah Raidah (Peneraju Tamadun Islam) yang merupakan contoh yang menarik alam seluruhnya kepada Islam.

Kefahaman Yang Betul:

Sayugialah bagi pendokong dakwah memahami ketiga-tiga marhalah ini. Ia dalam banyak keadaan berjalan serentak. Marhalah takrif dan di’ayah adalah asas penyebaran fikrah seraya berusaha meyakinkan orang kepadanya. Marhalah takwin dan pemilihan ansar amat penting untuk membentuk sof yang mantap. Marhalah tanfiz merupakan usaha dan proses mengeluarkan hasil adalah perluasan sebenar dan ia adalah hasil yang normal berlaku setelah berlalunya marhalah sebelumnya. Justeru pendokong dakwah tidak seharusnya mengutamakan satu sudut dengan mengabaikan sudut yang lain. Betapa pentingnya perseimbangan ini, kerana bila sudut takrif lemah, ansar (pengikut) tak bertambah, lalu membawa kepada berlakunya kelemahan di sudut tanfiz dan objektif yang diharapkan akan gagal. Bila sudut tarbiah dan takwin lemah, akan lemahlah binaan peribadi dan pembentukannya, akan membawa kepada kelemahan pelaksanaan di sudut takrif, tanfiz, gerak kerja dan penghasilan yang akhirnya membawa kepada lambatnya tamkin (kekuasaan) dan kemenangan. Bila sudut tanfiz lemah, ia akan membawa kepada terlambatnya langkah dan marhalah yang memberi saham untuk tercapainya kemenangan dan tamkin bagi agama Allah. Keadaan yang hampir serupa boleh berlaku bila sudut tanfiz diutamakan berbanding takwin, maka binaan menjadi lemah dan ikatan menjadi rapuh, dan dakwah ini akan terdedah kepada bahaya. Bila sudut takwin diutamakan berbanding takrif dan tanfiz, akan berlaku kemunduran kepada dakwah, pengaruhnya terhadap jiwa manusia yang cinta kepada dakwah ini menjadi lemah. Perlu diketahui bahawa manusia yang ramai sebagai penyokong dakwah penting diberi perhatian kerana mereka adalah ‘kaedah asas’ untuk bergerak ke arah merealisasikan ‘kebangkitan Islam’. Begitu juga bila sudut takrif diutamakan berbanding takwin dan tanfiz membawa kepada berlakunya kelemahan pada fikrah, risalah dan dakwah kerana dakwah pada ketika itu akan berdepan dengan fenomena kurangnya pendokong dan mereka yang sanggup menanggung bebanannya.

Sesungguhnya pelaksanaan yang seimbang antara tiga marhalah dakwah dan tidak memberatkan satu marhalah ke atas marhalah lain amat mustahak diberi perhatian bagi mewujudkan kesempurnaan, kesinambungan dan keserasian yang dituntut antara pelbagai bidang dakwah ini. Alangkah indahnya kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh ISHAB khususnya berkenaan keseimbangan yang dituntut, katanya: “Kekanglah emosi yang meluap-luap dengan pandangan akal, terangilah lampu akal dengan api kejiwaan, ikatlah khayalan dengan hakikat dan realiti sebenar, singkapilah hakikat-hakikat itu dalam cahaya khayalan yang berkilauan. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyeru-mu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada-mu, dan ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”

(Surah Al-Anfal: 24)

Dan jangan kamu melawan undang-undang alam, sesungguhnya ia sentiasa menang, akan tetapi berusahalah agar ia dapat kamu gunakan, alihkan arusnya, dan manfaatkan sebahagiannya ke atas sebahagian yang lain, dan tunggulah saat kemenangan, ia sebenarnya tidak jauh.”

(Adakah Kita Kaum Yang Bekerja).

Keseimbangan Antara Tiga Marhalah Adalah Penting:

Oleh kerana itu, para pendokong dakwah hendaklah berusaha ke arah mewujudkan perseimbangan di antara ke tiga-tiga marhalah dengan tidak memberatkan yang satu ke atas yang lain atau dengan kata lain tanpa mengurangkan atau mengabaikan yang lain, kerana Allah telah menjadikan alam ini ada undang-undang dan sunnahnya (ketentuannya). Menjadi kewajipan ke atas pendokong dakwah mengikutnya, berusaha memanfaatkan sesetengahnya ke atas setengah yang lain dan jangan sekali-kali bertembung dengannya kerana sesungguhnya ia amat berkuasa. Umat yang berjuang amat berhajat kepada pembinaan jiwa, keutuhan akhlak serta mencerakinkan pengikutnya di atas akhlak kelelakian sebenar sehingga mampu berdiri teguh di tengah-tengah onak duri dan badai ombak yang mengganas.

Sesungguhnya kefardhuan utama dan peranan terpenting yang dikehendaki oleh dakwah IM ialah mentarbiah ummah supaya memiliki jiwa mulia, berakhlak terpuji lagi tinggi, beramal untuk menyuburkan perasaan kelelakian sebenar dalam jiwa ummah sehingga mampu mempertahankan kemuliaannya dan berupaya mengembalikan keagungannya serta pula sanggup menanggung halangan dan kesusahan demi mencapai  matlamat yang diharapkan. Di atas prinsip inilah terbinanya kebangkitan umat dan bangsa. Dan agar terlaksana semua itu, maka para pendokong dakwah dikehendaki menyebarkan fikrah umum ini ke tengah-tengah manusia dengan pelbagai pendekatan nasihat dan tunjuk ajar, memberi khidmat untuk masyarakat awam dengan mendirikan bangunan tertentu untuk dimanfaatkan oleh umum dan sebagainya seperti medium untuk menyampaikan ilmu sebagai saham untuk meningkatkan keiltizaman manusia kepada prinsip, akhlak, nilai-nilai Islam dalam bentuk amali dan pelaksanaan yang akhirnya memberi saham untuk proses membina dan membentuk bagi anasir-anasir soleh yang mampu menanggung bebanan dakwah tanpa syak dan teragak-agak. Semua yang disebut di atas akhirnya akan melahirkan kerja yang berterusan, perjuangan yang

berkesinambungan, jihad yang tidak mengenal erti penat untuk sampai ke destinasi yang dituju.

Sesungguhnya para pendokong dakwah berkemungkinan pada situasi tertentu berhadapan dengan beberapa pemikiran dan dakwah yang bertentangan dengan manhaj Jemaah yang berkat ini, khususnya melalui tiga marhalah yang berjalan secara seimbang, di atas alasan untuk lari dari cubaan dan halangan yang dihadapi oleh dakwah. Para pendokong dakwah hendaklah mengetahui bahawa pemikiran-pemikiran seperti ini tidak akan dapat melakukan pengislahan syumul yang diharapkan. Pengislahan sebenar mesti bermula dari mengislah individunya sendiri terlebih dahulu, kemudian rumahtangga Islam, menunjuk ajar masyarakat kepada ta’alim Islam dan ajaran-ajarannya, kemudian membebaskan tanahair, mengislah kerajaan-kerajaan sehingga memenuhi kehendak Islam sebenar, kemudian mengembalikan entiti antarabangsa umat Islam dan seterusnya menegakkan ustaziyyat al-alam (order baru dunia). Semua objektif-objektif besar ini menuntut para pendokong dakwah bergerak seiring dengan tiga marhalah tanpa mengabaikan keseimbangan kerana kesatuan amal, pertautan antara bahagian dengan bahagian yang lain memberi saham kepada kesinambungan kejayaan amal, kesuburan dan penyebarannya dalam segenap sudut kehidupan.

Para pendokong dakwah hendaklah mengetahui kewajipan-kewajipan asasi yang dituntut daripadanya untuk memastikan wujudnya keseimbangan, kesempurnaan antara tiga marhalah tersebut, antaranya:

Pertama: Marhalah Takrif

  1. Memahami serta menguasai prinsip-prinsip Islam dan melaksanakannya secara amali.
  2. Menyediakan mengikut situasi yang sesuai untuk melayakkan prinsip-prinsip, nilaian dan amalan agar dihayati oleh individu masyarakat di semua tempat dan lapisannya.
  3. Menggunakan bahasa yang sesuai untuk menyampaikan mesej dakwah ini agar sesuai dengan masyarakat awam berkenaan kefahaman Islam sebenar dan syumul, tanpa unsur melampau atau jumud bagi menyajikan kefahaman Islam wasati kepada seluruh umat Islam.
  4. Memperbaharui dan kreatif pada wasilah dan teknik yang efektif, berkesan dan sesuai bagi setiap lapisan masyarakat.
  5. Mewujudkan pelbagai takungan untuk menampung mereka yang bersimpati dengan dakwah Islam ini.
  6. Sentiasa berusaha mewujudkan penyelarasan dan kerjasama bersama para pekerja di medan dakwah Islamiah, berusaha ke arah menyatukan potensi berkhidmat untuk Islam.

 

Kedua: Marhalah Takwin

  1. Menjadi qudwah secara amali untuk mengislah jiwa serta melakukan peningkatan.
  2. Melakukan pemilihan dan penapisan anasir-anasir soleh untuk membawa dakwah ini.
  3. Mempersiapkan dan membentuk murabbi yang berjaya sebagai orang yang memiliki pengalaman dan pengaruh. Murabbi begini mampu untuk melakukan peningkatan, merubah tabiat berpandukan manhaj dan wasilah tertentu.
  4. Menggunakan wasilah dan pelbagai teknik tarbiah ikut kesesuaian dan berkesan untuk semua segmen masyarakat.
  5. Mengupayakan manhaj tarbiah bukan hanya sekadar ilmu dan teori, tetapi dipindahkan ke bentuk praktikal, akhlak dan kemahiran.
  6. Membentuk biah (suasana) tarbawi yang sesuai dan berkesan dalam membina sahsiah serta membentuknya.

Ketiga: Marhalah Tanfiz

  1. Membuat perancangan rapi untuk mencapai objektif dan cita-cita yang diharapkan dalam pelbagai medan dakwah.
  2. Mengagihkan kerja berdasarkan potensi dan pelbagai kelebihan dalam semua aktiviti dakwah.
  3. Mempelbagai dan memperbaharui secara berterusan dalam metode dan mekanisme amal dakwah, sesuai dengan situasi yang dilalui.
  4. Melahirkan qiadah berkesan untuk memimpin dan memandu masyarakat kepada Islam.
  5. Bekerja berterusan tanpa henti atau berundur atau berkendur.
  6. Perjuangan secara aman, usaha yang  berterusan, jihad yang bersungguh untuk merealisasikan cita-cita yang ditetapkan untuk pendokong dakwah ini.

Adapun selepas itu.. Maka sesungguhnya perjalanan yang seimbang antara tiga marhalah; takrif, takwin dan tanfiz adalah jalan yang akan membawa terlaksananya objektif-objektif yang diharapkan sekalipun memakan masa yang lama atau dirintangi pelbagai halangan kerana para pendokong dakwah mengetahui bahawa Daulah Islamiyah yang telah menghadapi faktor-faktor kejatuhan berkurun dulu tidak logik dapat dibangunkan dalam masa beberapa tahun. Perjuangan ini perlu kepada kesabaran, thabat dan taqwa kepada Allah SWT seperti firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.

(Surah Ali-Imran: 200)

نسأل الله التوفيق والسداد والرشاد.. اللهم آمين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

Posted by Tajul Arifin bin Che Zakaria

Sepuluh Wasiat Untuk Para Murabbi Qudwah


Sepuluh Wasiat Untuk Para Murabbi Qudwah

Nukilan: Sheikh Mohamed Hamed Elawa

Terjemahan: UsTACZ

الحمد لله العلي الكبير اللطيف الخبير ،والصلاة والسلام على قدوة المربين وسيد الداعين إلى الله على بصيرة والمجاهدين فيه بإحسان ، وعلى آله وأصحابه ومن والاه  وبعد,

Firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (arab) yang ummiyyin (yang tidak tahu membaca dan menulis) seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaanNya), dan membersihkan mereka (dari iktikad yang sesat), serta mengajarkan mereka kitab Allah (al-Quran) dan hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum syariat). Dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata”.

(Surah al-Jumu’ah: 2)

Sesungguhnya Tuhannya telah mentarbiyahnya, maka DIA-lah sebaik-baik yang mentarbiyah. Lalu DIA menjadikan akhlaknya selari dengan al-Quran. Nabi SAW menjadi qudwah terbaik bagi para sahabat dan pengikutnya melalui tutur katanya, perbuatannya dan keadaan hal ehwalnya keseluruhannya. Begitu juga dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalat serta tingkahlakunya. Firman Allah SWT:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

(Sesungguhnya adalah bagi kamu pada diri Rasulullah SAW qudwah terbaik).

Dia (Rasulullah SAW) adalah sebaik-baik murabbi dari sudut rabbaniyyahnya; menggauli, bermuayasyah dengan mereka (para sahabat), mempersaudarakan antara mereka, memberi arahan dan tarbiyah yang terbaik buat mereka, mengagihkan tenaga kepakaran mereka secara bijaksana, lalu dengan itu mereka berubah daripada golongan awam biasa yang terpedaya menjadi pemimpin yang mampu mencipta kemenangan. Kenapa? Kerana Rasulullah SAW adalah murabbi qudwah yang amat prihatin dan berlemah lembut dengan mereka para pengikutnya. Firman Allah SWT:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul dari golongan kamu sendiri (iaitu Nabi Muhammad SAW), yang menjadi sangat keberatan kepadanya sebarang kesusahan yang ditanggung oleh kamu, yang sangat menginginkan kebaikan bagi kamu, dan dia pula menumpahkan perasaan belas serta kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman”.

(Surah at-Taubah: 128)

Kedudukan Tarbiyah Dalam Medan Dakwah

Tarbiyah dalam kontaks dakwah merupakan perkara utama dan terpenting. Ia menjadi petunjuk dan dikira sebagai perkara thawabit (prinsip tetap) dalam agenda pengislahan , perubahan, pembinaan dan pembentukan. Itulah dia jalan bagi pembentukan individu muslim. Individu yang terbentuk inilah yang akan membentuk rumahtangga muslim qudwah, seterusnya membentuk masyarakat muslim harapan dan kerajaan Islam harapan. Imam al-Banna Rahimahullah telah menfokuskan prinsip tarbiyah dan takwin ini dalam konsepnya yang syumul, katanya:

كوّنوا أنفسكم تتكوّن بكم أمتكم

“Bentuklah diri kamu, nescaya akan terbentuklah melalui kamu umat kamu”.

العمل مع أنفسنا هو أول واجباتنا ، فجاهدوا أنفسكم واحملوها على تعاليم الإسلام وأحكامه ، ولا تتهاونوا معها في ذلك بأي وجه من الوجوه

“Beramal dengan diri kita sendiri adalah kewajipan pertama kita, maka bermujahadahlah dengan diri kamu, bawalah ia mengikuti pengajaran Islam dan hukum hakamnya, jangan kamu meremehkannya dalam apa jua keadaanpun”.

Berkata Ustaz Mustafa Masyhur Rahimahullah:

لقد أثبتت الأحداث والأيام أنه بقدر الاهتمام بالتربية تتحقق الأصالة للحركة ، واستمراريتها ونموها ، ويكون التلاحم بين الأفراد ووحدة الصف …. ، وعكس ذلك إذا أهمل جانب التربية أو حدث فيه تقصير، يظهر الضعف والخلخلة فى الصف ، ويبرز الخلاف والفرقة ويتضائل التعاون ويقل الانتاج

“Sesungguhnya peristiwa-peristiwa dan hari-hari yang telah berlalu  membuktikan bahawa keaslian harakah berkait rapat dengan keprihatinan terhadap tarbiyah. Keprihatinan terhadap tarbiyah menjamin kesinambungan dan kesuburan harakah, dan ia juga menjadi unsur kesatuan di antara individu dan safnya…. Begitulah pula sebaliknya, bilamana sudut tarbiyah diabaikan atau berlaku kecacatan dalam aspek tarbiyah, maka akan lahir fenomena kelemahan di dalam saf, seterusnya ia boleh menyebabkan berlaku perselisihan, perpecahan, lemahnya kerjasama yang akhirnya membawa kepada berkurangnya produktiviti”.

Kedudukan Murabbi Di Medan Tarbiyah

Murabbi adalah paksi dalam operasi tarbiyah, ia juga satu rukun terpenting, bahkan ia adalah batu penjuru dalam binaan dakwah ini seperti perumpamaan yang dinyatakan Imam al-Banna ketika membincangkan soal usrah dan naqibnya:

هي قاعدة الأساس فى بناء دعوتنا ، ونقيبها هو حجر الزاوية فى هذا البناء

“Ia adalah kaedah asas dalam binaan dakwah kita, sementara naqib usrah adalah batu penjuru dalam binaan ini”.

Justeru harapan dan cita-cita tarbiyah dan takwin amat bergantung kepada peranan murabbi. Ia bergantung kepada sejauhmana murabbi menjiwai peranannya, menekuni usaha, mengesani qudwah dan muayasyah bersama ikhwannya, keprihatinannya terhadap dakwah dan risalahnya. Sesungguhnya operasi tarbiyah akan bertambah mantap dan mendalam kesannya jika usaha yang disebut di atas diperkasakan, tentunya setelah diberi taufiq dan bantuan daripada Allah SWT.

 

Di sini kami ingin menyenaraikan beberapa wasiat umum yang wajib dititikberatkan oleh murabbi qudwah agar peranan tarbawinya efektif. Wasiat ini merangkumi tiga sudut asas dalam binaan takwin murabbi. Antaranya yang berkaitan;

  1. Peribadi murabbi, jiwa dan pembinaannya.
  2. Peranan murabbi, kemahiran tarbawi.
  3. Peranan murabbi menguruskan ikhwannya, amal dakwah yang berkait dengan tugasnya sebagai murabbi.

Berikut adalah 10 wasiat bagi murabbi qudwah:

  1. Murabbi mestilah mengambilberat hal keadaannya bersama tuhannya. Dia mesti memperuntukkan masa bagi dirinya. Maka hendaklah dia memelihara dirinya, berusaha mensucikannya dengan penuh keyakinan yang benar dan memastikan ibadat yang dilaksanakan sah di sisi Allah SWT.

Maka dia mestilah memberi perhatian yang serius dalam semua perkara yang boleh meningkatkan rohnya serta memastikan dia sentiasa berada dekat dengan tuhannya kerana kejayaannya mentarbiyah ikhwannya amat bergantung kepada kejayaannya mentarbiyah dirinya.

 

Di antara wasiat Imam al-Banna ialah;

ميدانكم الأول أنفسكم ، فإذا انتصرتم عليها كنتم على غيرها أقدر، وإذا أخفقتم فى جهادها كنت على سواها أعجز، فجربوا الكفاح معها اولاً

“Medan pertama kamu ialah diri kamu sendiri. Maka apabila kamu berjaya pada medan pertama ini, nescaya kamu akan berjaya di medan yang lain, sebaliknya jika kamu lokek untuk berjihad dengan diri kamu, maka kamu akan lebih lemah di medan yang lain. Ayuh! Singsing lengan kalian untuk memenangi jihad bersama diri sendiri dahulu”…

Apabila seorang murabbi menganggap bahawa dia mampu mengubah ikhwannya sedang dia sebenarnya tidak mampu untuk mengubah dirinya sendiri, maka ia dikira sebagai kealpaan yang membinasakan.

Benarlah pepatah yang mengatakan;

لاتُحسم معارك الميدان قبل حسم معارك الوجدان

“Pertempuran di medan tidak boleh dicapai sebelum pertempuran di dalam jiwa diraih”.

وأول ميادين تربية النفس التربية الإيمانية, فهي المحرك لكل خير والدافع لكل رشد

Ketahuilah bahawa medan pertama tarbiyah diri ialah tarbiyah imaniyah. Ia adalah dynamo segala kebaikan dan menjadi faktor terkuat untuk melakukan sesuatu perkara.

Murabbi mesti tahu bahawa tarbiyah adalah bekalan dan pemberian. Sesungguhnya dia tidak akan mampu untuk sentiasa memberi untuk ikhwannya jika dia tidak memiliki bekalan yang berterusan.

Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Dan berbekallah kamu, maka sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu ialah taqwa”.

Binaan iman serta ta’abbud (ibadat) seorang murabbi adalah saham terpenting untuk

takwin sahsiah rabbaniyyah yang hatinya tertakluk dengan penciptanya (Allah SWT), dan tidak akan tertipu dengan hiasan dunia berupa kecantikan, pangkat dan gelaran. Iman itu jugalah yang membantunya memperbanyakkan ibadat, solat-solat sunat dengan khusyuk dan khudhu’, memperbanyakkan zikir dan doa, tilawah al-Quran dan

mentadabbur maknanya.

  1. Hendaklah akhi murabbi menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia, menjaga reputasi yang baik dan menjaga muamalah sesuai dengan qudwah yang telah ditunjukkan oleh kekasihNya Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian murabbi tersebut mampu membuka ruang/memberi kelapangan kepada ikhwannya dengan akhlaknya.

Di dalam hadis Nabi SAW bersabda:

إِنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ لِيَسَعَهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Sesungguhnya kamu tidak mampu memberi kelapangan kepada manusia dengan harta kamu, akan tetapi kelapangan itu boleh kamu lakukan hanya melalui senyuman dan akhlak yang baik”.

Antara akhlak asas yang perlu dimiliki oleh para murabbi ialah akhlak sabar, berlapang dada, lemah lembut, rahmah, rendah diri, suka memaafkan kesalahan.

Firman Allah SWT:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitar kamu. Kerana itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah keampunan buat mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal”.

(Surah Ali- Imran: 159)

 

Manusia menjadi tawanan perlakuan ihsan (baik) seseorang. Dan hati sentiasa menerima baik para muhsinin (orang baik) dan akan berada di sekitarnya. Lihat saja pengajaran dari kisah teman sepenjara Nabi Yusof alaihissalam, Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya kami lihat kamu adalah tergolong dari kalangan orang-orang yang baik (muhsinin)”.

Sebagaimana kita memberi kelapangan dengan akhlak, kita juga mentarbiyah mereka dengan akhlak secara praktikal melalui pandangan mereka terhadap kecantikan tindaklaku kita. Dengan demikian bolehlah kita simpulkan dengan suatu hakikat bahawa;

“Akhlak murabbi adalah ibadah yang mampu membawanya bertaqarrub kepada tuhannya, ia adalah jalan untuk mentajmi’ semua hati ikhwannya, dan merupakan medan untuk mentarbiyah ikhwannya serta mentakwin muridnya”.

  1. Hendaklah akhi murabbi itu berusaha bersungguh-sungguh menimba ilmu bermanfaat untuk dirinya dan dilimpahkan kepada ikhwannya. Kerana murabbi juga berfungsi sebagai ustaz (guru) dari sudut pengisian ilmu sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam al-Banna:

أستاذ بالإفادة العلمية

“Murabbi itu adalah ustaz (guru) dari sudut pengisian ilmu”.

Ilmu yang kita maksudkan bukan hanya ilmu yang dihafal dan menguasai beberapa buah buku –sekalipun ia dianggap penting- Namun yang lebih penting ialah bagaimana ilmu itu boleh dimanfaatkan sebagaimana sepatutnya. Justeru penekanan yang harus diberi kepada setiap bab dari ilmu tersebut ialah tentang kepentingannya di sudut amal tarbawi dan disiplinnya. Paling utama ialah bagaimana ilmu tersebut dipraktikkan. Memanfaatkan ilmu di sini bukan hanya teorinya semata-mata, tetapi ia harus melampaui kepada pengalaman amali yang merupakan terjemahan sebenar kepada hakikat ilmu tersebut.

  1. Hendaklah akhi murabbi berusaha sedaya upaya mengembangkan potensi dirinya sendiri. Antaranya berusaha memahirkan diri dengan beberapa ilmu kemahiran asas seperti; perancangan tarbawi, menyelesai masalah, pembentangan dan penyampaian, berdialog dan berbincang, mutaba’ah dan penilaian tarbawi, pembahagian tugas, menanam nilai, merubah tingkahlaku… dsb. Akhi murabbi juga harus menguasai manhaj marhalah yang dilaksanakannya, bagaimana mengoperasi manhaj agar mencapai objektifnya, bagaimana melaksanakan pelbagai wasail tarbiyah agar mencapai objektifnya masing-masing.

Di antara ilmu tambahan (penyempurna) bagi para murabbi ialah ilmu untuk mengenali sahsiah manusia; ciri-ciri dan cara bagaimana berinteraksi dengan setiap kategori itu, kemudian hendaklah dia menguasai tentang medan-medan amal dakwah dan peluang yang perlu dimainkan agar dia mampu memberi taujihat yang bersesuaian dengan kemampuan mereka (mutarabbi).

  1. Murabbi hendaklah berusaha melaksana dan memperdalamkan mu’ayasyah bersifat tarbawi bersama mutarabbinya sama ada secara fardi atau jamaie. Mu’ayasyah ini tentunya akan membantu untuk merealisasikan tiga rukun usrah (ta’aruf, tafahum dan takaful), memperkasakan hubungan hati dan penyatuan perasaan di antara anggota usrah dan sebagai persediaan membentuk bi’ah (suasana) yang membantu menyuburkan tarbiah. Justeru,  murabbi berpeluang berta’aruf secara dekat dengan mutarabbinya untuk memastikan potensi dan keupayaannya, secara tidak lansung dapat berperanan mengikut kesesuaiannya serta dapat mengenal pasti permasalahan dan kesukaran yang dihadapi selain berusaha mencari titik penyelesaiannya.

Demi merealisasikan mu’ayasyah di antara suasana keterbukaan yang terkawal dan pergaulan tarbawi yang berobjektif, mestilah dipelbagaikan wasilah, aktiviti dan metodologinya agar murabbi dapat melihat mutarabbinya di dalam situasi berbeza. Tujuannya agar mutarabbi mampu membentuk tarbiah yang efektif dan taujih yang diberikan hasil mu’ayasyah secara praktikal dalam realiti mutarabbi tersebut. Kesimpulannya boleh dikatakan bahawa; “Mu’ayasyah yang mendalam adalah asas tarbiah yang sebenar”.

  1. Murabbi hendaklah mentarbiah mutarabbinya di sudut iman dan ibadat melalui tazkiah (pembersihan) jiwa dengan ketaatan dan jenis ibadat yang mendekatkan diri kepada Allah untuk merealisasikan ubudiah kepada Allah. Semua itu mampu dicapai dengan mengikhlaskan hati kepada Allah, membetulkan niat dalam setiap perkataan dan amalan tanpa memandang kepada habuan, gelaran, pangkat dan sebagainya. Selain itu, mutarabbi dapat meningkatkan diri mereka serta menaikkan ruh jihad dan pengorbanan jiwa, harta dan masa di jalan Allah. Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 111:

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ

Maksudnya : “Sesungguhnya Allah membeli daripada orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka kerana bagi mereka ada balasan syurga”.

Kemudian memperdalamkan di dalam diri mereka perasaan tajarud terhadap dakwah dan fikrah mereka, iaitu Islam yang tulen kerana pengorbanan, jihad dan tajarud menuntut ruh jundi (ketenteraan). Maka menjadi tanggungjawab para murabbi mentarbiah mutarabbinya untuk mendengar dan taat di dalam situasi apa pun; susah, senang, cergas atau terpaksa dalam perkara bukan maksiat di samping membiasakan mereka menunaikan tugasan masing-masing dengan sempurna.

  1. Murabbi hendaklah berusaha menanamkan makna ukhuwah dan kasih sayang kerana Allah di antara ikhwah secara praktikal, bukan teori kerana ukhuwah adalah rahsia kekuatan seperti yang telah dinyatakan oleh Imam Al-Banna. Hendaklah murabbi berusaha menanam prinsip thiqah di jalan dakwah. Perkara paling asas ialah thiqah kepada qiadah, thiqah kepada manhaj, thiqah sesama ikhwah sepanjang jalan dakwah, thiqah kepada pertolongan Allah untuk memenangkan agama ini.

Murabbi juga hendaklah berusaha menanam pengharapan tinggi dengan bantuan Allah kepada hamba-hambaNya yang soleh, sentiasa memberi pencerahan tentang perjalanan dakwah ini dengan menekankan pentingnya thabat walaupun dilanda mehnah, ujian dan fitnah sama ada dalam situasi kesusahan dan kesenangan. Allah berfirman:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Maksudnya: “Dan Kami akan timpakan ke atas kamu ujian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah untuk kamu, dan kepada Kami jua kamu dikembalikan”.

Di antara kewajipan murabbi juga ialah menerangkan kepada ikhwan tentang penyelewengan fikrah dan harakah yang akan menjauhkan mereka dari jalan dakwah agar mereka berhati-hati kerana kebiasaannya penyelewengan tersebut bermula dari perkara yang kecil, kemudian bertambah sedikit demi sedikit dengan berlalunya masa.

  1. Hendaklah murabbi mengetahui potensi dan keupayaan ikhwahnya, lalu berusaha sedaya upaya mengagihkan peranan untuk memberi khidmat kepada dakwah serta mengajak mereka agar bergerak dan bekerja. Perkara itu boleh dilaksanakan melalui program secara praktikal. Murabbi qudwah sepatutnya tidak boleh menerima mereka yang tidak menjiwai kepentingan dakwah dan tidak bekerja untuk dakwah. Antara faktor yang boleh membantu murabbi ke arah itu ialah mempergiatkan pergaulan, mu’ayasyah serta memperkenalkan mereka medan dan bidang dakwah yang banyak.

Murabbi hendaklah memberi latihan amali bagaimana cara melaksanakan dakwah dengan betul di pelbagai medan; rumahtangga, jiran tetangga, keluarga terdekat, di tempat belajar, di tempat kerja dengan menfokuskan di medan yang sesuai dengan kemampuan dan situasi mereka. Umpamanya di kalangan remaja, pelajar atau menyebarkan dakwah atau melakukan kebajikan dan khidmat untuk masyarakat dan sebagainya, mengikut struktur jawatankuasa dan unit kerja di dalam Jemaah.

  1. Murabbi hendaklah menyediakan mutarabbinya biah (suasana) tarbawi yang akan menyuburkan tarbiah mereka mengikut manhaj marhalah. Untuk itu aktiviti yang dilaksanakan tidak seharusnya terhad dalam lingkungan usrah sahaja, akan tetapi mestilah menjangkau wasilah-wasilah lain yang tidak kurang pentingnya seperti daurah, nadwah, mukhayyam, katibah dan lain-lain secara jamaie. Penyediaan biah yang kondusif  bagi menyuburkan tarbiah ini hendaklah disusuli dengan mutaba’ah yang akan menilai pertumbuhan mereka berdasarkan manhaj marhalah sesuai dengan prinsip ‘Tarbiah Berdasarkan Objektif’. Justeru mereka yang terkehadapan akan dapat diperkasakan disamping mereka dapat memberi aspirasi kepada mereka yang lemah.

Melalui proses ini juga, murabbi hendaklah menyeimbangkan di antara dua metodologi tarbiah fardiah dan jamaiah berpaksi kepada prinsip ‘perbezaan peribadi’ dalam tarbiah tanpa mengabaikan aspek peningkatan jati diri dalam diri setiap mutarabbinya. Hal ini kerana,  ia adalah salah satu konsep tarbiah fardiah. Tarbiah fardiah itu termasuklah aspek ibadat, kemasyarakatan, dakwah dan sebagainya tetapi dalam lingkungan disiplin harakah dan tanzim.

  1. Murabbi hendaklah mengumpulkan hati ikhwahnya di sekitar dakwah serta thiqah pada jalannya (qiadah – manhaj – individu), disamping mentarbiah mereka agar terlaksana intima’ sebenar kepada dakwah secara (perasaan – fikiran – tanzim). Mutarabbi mesti ditarbiah agar memahami bahawa mereka adalah pendokong dakwah, justeru wajiblah mereka berfikir untuk dakwah, menasihati juga untuk dakwah dan menjunjung cita-cita dakwah. Demikian juga wajib para murabbi membakar semangat ikhwahnya agar sama-sama menyumbang pandapat, pemikiran untuk mengembangkan gerak kerja ini dengan menanamkan prinsip ‘Agama itu adalah nasihat’ secara beradab dan berdisiplin.

Murabbi hendaklah mentarbiah mereka bagaimana untuk bersyura (bermesyuarat) secara ilmiah dan praktikal bertunjangkan adab dan mekanisma yang betul. Kita berdoa kepada Allah SWT supaya DIA menolong memberi kemenangan kepada dakwah kita, menyebarkan fikrah kita, memberkati ukhuwah kita, memberi taufiq pimpinan kita, menghimpunkan kita semua di atas kalimah kita yang benar. Begitu juga kita berdoa kepada Allah SWT agar DIA mengikhlaskan niat kita, menerima amalan kita dan menjadikan semua amalan kita itu pada timbangan kebaikan di hari kiamat nanti… Allah berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا

Maksudnya: “Pada hari di mana kamu akan mendapati setiap jiwa memperolehi segala perkara yang dilakukan di dunia dahulu dihidangkan di hadapan masing-masing”.

BAGAIMANA MENANAMKAN HIMMAH YANG TINGGI/HIMMAH ‘ALIYAH


BAGAIMANA MENANAMKAN HIMMAH YANG TINGGI/HIMMAH ‘ALIYAH

Oleh : Sheikh Hasan Al-Bugisy
(Terjemahan)

Rasulullah s.a.w bersabda : ”Nama yang tepat bagi seorang muslim adalah Hammam dan Harist dan nama yang paling Allah cintai adalah Abdullah dan Abdurrahman “.
Al Hammam adalah niat yang kuat, sedangkan “Al Harits” adalah sosok dari hasil Himmah atau hammam iaitu bekerja untuk mendapatkan obsesi/keinginan tersebut. Jadi setiap manusia punya keinginan, namun tidak semua manusia memiliki keinginan “Himmah yang kuat”.

A.DEFINISI HIMMAH

Himmah tidak boleh dilihat secara dhohir kerana Himmah adalah masalah yang lahir dari hati dan akal fikiran manusia, bukan masalah amal. Dari segi bahasa Himmah bererti “An Niyyah“ (niat), “Iradah” (kehendak), “Al ‘azimah” (tekad). Dalam makna ini terdapat tiga kata yang berbeza iaitu berupa niat yang sifatnya biasa, kemudian iradah atau kehendak yang kuat lalu dilanjutkan dengan tekad untuk melaksanakan kehendak tersebut.

Allah SWT berfirman : “ Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda dari tuhannya ( QS. Yusuf : 24)

Dalam ayat ini boleh diertikan bahawa belum ada tindakan atau amal, tapi masih berupa Himmah, niat. Dalam ayat tersebut terdapat kata “wahamma biha” yang ertinya keinginan terhadapnya (wanita tersebut). Bukankah Nabi Yusuf a.s adalah seorang nabi, bagaimana mungkin dia memiliki Himmah kepada wanita tersebut ? Dalam kaedah bahasa Arab ada istilah “takdim wa takhir” (kalimat didahulukan dan diakhirkan). Jadi menurut kaedah ini bererti seandainya Nabi Yusuf a.s tidak mendapatkan petunjuk dari Allah SWT, pasti Nabi Yusuf a.s. juga berkeinginan terhadap wanita tersebut. Maka pada hakikatnya bahawa Nabi Yusuf a.s. tidak berkeinginan terhadap wanita tersebut kerana sebelumnya beliau telah mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.

Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesunggunya Allah telah menetapkan kebaikan-kebaiakan dan kejahatan-kejahatan kemudian menjelaskannya, maka barang siapa yang bermaksud berbuat kebaikan lalu belum sempat mengerjakannya, Allah mencatat di sisiNya sebagai satu kebaikan sempurna. Dan jika dia bermaksud berbuat kebaikan lalu dia mengerjakannya, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan dan akan dilipat gandakan sampai tujuh ratus lebih, hingga dilipatgandakan yang banyak sekali. Dan jika dia bermaksud berbuat kejahatan, tetapi dia tidak mengerjakannya, Allah mencatat baginya disisiNya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika bermaksud berbuat kejahatan dan melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kejahatan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah s.a.w. menjelaskan bahawa Himmah ada 2 iaitu :
1. Himmatul ‘Aliyah (Obsesi yang kuat)
2. Himmatud Daniyah (Obsesi yang rendah)

Sesungguhnya Allah SWT mencintai perkara-perkara yang mulia dan membenci perkara-perkara yang rendah atau hina. Allah SWT mencintai perkara yang tinggi / mulia baik dalam amal, agama, da’wah di jalan Allah SWT.. Allah SWT membenci perkara-perkara rendah, tidak bernilai dan hina, baik berupa perkara-perkara yang haram maupun yang harus.

B.‘ULUWWUL HIMMAH (OBSESI YANG TINGGI)

Seseorang dikatakan memiliki ‘uluwwul Himmah atau Obsesi yang tinggi iaitu ketika seseorang telah menganggap remeh segala perkara-perkara di bawah cita-citanya. Misalnya seorang Da’i yang bercita-cita untuk menyebarkan agama Allah SWT. Dia dikatakan memiliki Himmah yang tinggi, ketika dia telah menganggap remeh perkara-perkara selainnya, ketika dia tidak memperduli apapun tentangan dan pengorbanan yang harus dibayar mahal untuk memenuhi tujuan tersebut.

Diceritakan dalam riwayat da’wah Rasulullah s.a.w. ketika orang – orang Quraish mendatangi paman Rasulullah s.a.w, iaitu Abu Thalib dan memintanya supaya memujuk Rasulullah s.a.w. agar menghentikan da’wahnya. Setelah Abu Thalib menyampaikan perihal tersebut. Rasulullah s.a.w. berkata : “Wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan da’wah ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga aku binasa”. Kisah Rasulullah s.a.w. ini menunjukkan tingginya Himmah Rasulullah s.a.w. dalam memperjuangkan agama Allah ini. Baginda telah menganggap remeh semua perkara-perkara yang menghambat da’wah Islamiyah.

C. ‘DUNUWWUL HIMMAH (OBSESI YANG RENDAH)

Iaitu ketika jiwa lemah terhadap tingkatan perkara-perkara yang tinggi atau mulia dan lebih memilih redho pada perkara-perkara yang rendah. Jadi orang yang memiliki obsesi rendah ini adalah orang lemah, rendah yang tidak mau mencari masalah dan sayangnya majoriti kaum muslimin sekarang berada dalam tingkatan ini.

Diriwayatkan tentang panglima perang di masa pemerintahan seorang Gabenur Basrah yang bernama Al-Hajjaj. Al-Hajjaj memerintah panglimanya untuk memerangi orang-orang Khawarij yang jumlahnya lebih kurang 200 orang sedangkan panglima ini memiliki pasukan lebih kurang 1000 orang. Sungguh pertempuran yang tidak seimbang. Namun orang Khawarij terkenal sebagai orang-orang yang memiliki keberanian dan kejujuran. Orang Khawarij adalah orang yang tidak mudah putus asa dalam mewujudkan keinginannya. Hingga akhirnya dalam pertempuran itu ternyata pasukan Khawarij memenangi peperangan tersebut. Setelah peperangan selesai, dengan membawa kekalahan panglima kembali menghadap gabenor Al-Hajjaj. Al-Hajjaj bingung mengapa pasukan Khawarij yang jumlahnya sedikit mampu mengalahkan pasukan yang jumlahnya lebih banyak ? Ternyata panglima perangnya adalah orang yang memiliki Himmah rendah, yang lebih baik pulang dalam keadaan hidup, walaupun harus dicaci maki gabenor daripada mati walaupun terkenal dan terhormat. Dalam kisah ini menunjukkan lemahnya Himmah yang dimiliki oleh panglima perang ini. Dia lebih memilih hidup dalam kehinaan daripada mati dalam kemuliaan.

MANUSIA DAN HIMMAH

Setiap manusia secara umum memiliki keinginan atau Himmah, namun tiap-tiap seseorang memiliki tingkatan Himmah yang berbeza-beza sehingga dalam hidup terdapat perbezaan-perbezaan tingkatan amal.
Firman Allah SWT: “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeza-berbeza” (QS. Al Lail : 4)

Berdasarkan ayat ini, amalan manusia dibedakan dalam 2 hal iaitu :
1. ‘Imma lillah yaitu amal yang dikerjakan semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT
2. ‘Imma lighairihi yaitu amalan yang dikerjakan bukan karena Allah SWT.. Amalan seperti ini adalah amalan yang dilakukan oleh orang yang memiliki obsesi rendah.
‘Immalillah adalah amalan yang dimiliki oleh orang memiliki obsesi tinggi yang mengejar kemuliaan. Dan ini hanya dilakukan oleh orang yang memiliki iman yang teguh dan kuat mencari kemuliaan disisi Allah SWT.. Dalam ayat berikutnya Allah memberi jaminan kemudahan baginya.

Allah SWT berfirman :”Adapun orang yang memberikan hartanya (dijalan Allah) dan bertaqwa. Dan membenarkan adanya pahala yang baik (syurga), maka Kami kelak akan menyediakan baginya jalan yang mudah”. (QS. Al Lail : 5-7)

Adapun untuk orang-orang yang memiliki Himmah rendah, yang mengerjakan amalan bukan kerana Allah SWT, tapi kerana nafsu dan keinginan dunia maka Allah memberikan ancaman padanya.

Allah SWT berfirman : “Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyediakan baginya jalan yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa”. (QS. Al Lail : 8 – 11)

Itulah balasan bagi orang yang berpaling dari jalan Allah SWT yang melakukan amalan bukan kerana Allah SWT.. Dan apabila dia diberikan kemudahan oleh Allah SWT sesuai sunnatullah, namun dengan mudahnya berakhir dengan azab, kesengsaraan dan kebinasaan di sisi Allah SWT.

D. PEMBAHAGIAN MANUSIA MENURUT ULAMA

Dilihat dari kadar obsesi atau Himmah-nya, Ulama membahagi kelompok manusia dalam 4 keadaan:

1. ‘Adzhimul Himmah iaitu orang yang memiliki cita-cita yang sangat besar. Yang memiliki al- Kifayah (kapasiti), mempunyai kesempatan, kemampuan untuk mencapai cita-cita lalu berusaha untuk mendapatkannya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata : “Aku dahulu bercita-cita untuk mendapatkan kedudukan gabenor di Madinah, dan kini aku telah mendapatkannya. Kemudian aku berkeinginan untuk mendapatkan kedudukan sebagai Khalifah kaum muslimin di Madinah dan akupun telah mendapatkannya. Kini aku telah dapatkan semuanya, maka cita-citaku adalah untuk mendapatkan Syurga Allah SWT. kerana tidak ada kedudukan yang lebih tinggi setelahnya”.

Ibnu Mubarak ditanya : “Siapakah orang yang paling zuhud ? Beliau menjawab :
“Orang yang paling zuhud adalah Umar bin Abdul Aziz, kerana dia telah didatangi dunia, namun dia menolaknya.”

Inilah kisah Umar bin Abdul Aziz, beliau adalah contoh orang yang memiliki Himmah aliyah. Beliau adalah orang yang memiliki kredibiliti kerana keilmuannya, punya kesempatan kerana dia adalah keturunan Muawiyah.

2. Shoghirul Himmah iaitu orang yang memiliki kifayah, kemampuan dan kesempatan tetapi lebih memilih melakukan hal-hal yang remeh atau rendah.

Diriwayatkan tentang seorang khalifah selepas pemerintahan Muawiyah. Dia didatangi oleh petugas pos, dan berkata : “Wahai Amirul Mu’minin! Sesungguhnya kota di sana sedang diserang oleh musuh“. Mendengar laporan petugas pos ini khalifah tidak menanggapinya. Malah dia berucap “Da’ni wa sa’di”(memangnya aku fikirkan).
Konon ceritanya khalifah ini suka memelihara burung merpati. Ketika petugas pos melapor, khalifah sedang kehilangan 1 ekor burung merpatinya. Sehingga dia menganggap bahawa burungnya lebih berharga daripada keadaan rakyatnya. Kisah ini menunjukkan tentang keadaan orang yang memiliki kemampuan, kedudukan dan kesempatan baik, namun dia memilih melakukan hal yang rendah.

3. Orang yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan obsesi tinggi, tetapi berlagak memiliki kemampuan besar.

Datanglah seseorang menghadap Imam Ahmad lalu berkata: ”Wahai Imam Ahmad, ada seseorang yang sedang kemasukan jin”. Mendengar laporan orang ini Imam Ahmad menjawab : “Kembalilah, sampaikan kepada Jin bahawa Imam Ahmad menyuruhnya keluar”. Lalu orang ini kembali dan menemui orang yang kemasukan jin yang dia maksudkan. Sesampainya di sana dia berkata kepada jin bahawa Imam Ahmad menyuruhnya keluar. Mendengar perkataan orang ini, jin inipun akhirnya keluar. Lalu setelah Imam Ahmad meninggal, jin inipun datang lagi dan merasuki seseorang lagi. Kemudian kerana Imam Ahmad sudah meninggal, orangpun mendatangi orang yang dulu menemui Imam Ahmad dahulu dan dikatakan padanya kalau ada orang kerasutan jin. Mendengar penyampaian ini orang yang dulu menghadap Imam Ahmad menganggap kalau dulu Imam Ahmad mengusir jin hanya dengan menyuruh orang saja, maka diapun berbuat serupa. Dia menyuruh orang tersebut : “Kembalilah, katakan pada jin bahawa aku menyuruhnya keluar. Lalu pulanglah orang ini dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Namun setelah perintah itu dilakukan jin tersebut tidak juga keluar. Kemudian dia bertanya kepada jin. “Kenapa dulu ketika Imam Ahmad menyuruhmu keluar engkau langsung keluar, sedangkan sekarang ketika aku suruh engkau tidak mau keluar” Jin menjawab :” dulu aku takut kepada Imam Ahmad kerana ketakwaannya”.

4. Al bashiiru binafsihi iaitu orang yang tau diri, yang tidak memiliki kemampuan tinggi dan tidak menempatkan dirinya untuk melakukan hal yang besar.

E. BEBERAPA FENOMENA ORANG YANG PUNYA HIMMAH RENDAH

1. Berkaitan tentang keupayaan seorang muslim menuntut ilmu. Ketika dia tidak mau mempelajari hal-hal yang wajib dilakukan oleh muslim. Misalnya mempelajari tentang rukun-rukun sholat dan lain-lain.

2. Ketika orang menuntut ilmu bukan untuk mendapatkan manfaat dari ilmu, atau menuntut ilmu bukan untuk dida’wahkan tetapi hanya untuk mendapatkan ijazah ataupun pekerjaan semata.

3. Ketika orang menuntut ilmu supaya nampak hebat dalam berdebat, pandangan orang tertuju padanya.

4. Ketika seseorang yang baru menuntut ilmu dan baru mendapatkan hidayah, begitu mudah memberikan tahzir atau cap buruk pada ulama atau orang yang lebih berilmu di atasnya. Kerana sepatutnya seseorang apabila semakin berilmu semakin takut pada Allah.

5. Ketika seorang da’i yang berda’wah di jalan Allah SWT, kemudian mendapatkan tentangan berda’wah, dia berhenti. Kerana sepatutnya seorang da’i ketika mendapatkan da’wah harus tegas. Ketika agama memintanya meninggalkan kepentingan peribadinya dia bersedia.

6. Ketika kita takut kepada manusia iaitu :

. Takut jangan sampai orang lain tergolong menjadi musuh Islam, ketika kita berda’wah kita dicap sebagai orang yang fundamentalis, ekstrim atau bentuk kata-kata teroris lainnya. Padahal ucapan/cap/opini public yang diwara-warakan buruk tentang Islam adalah hal yang sengaja dilakukan oleh mereka agar kaum muslimin lemah.
• Berputus asa ketika dalam berda’wah tidak disambut baik oleh orang. Putus asa kerana orang menjauhi perjuangannya. Padahal semestinya kita sedar bahawa prinsip dasar kita dalam berda’wah adalah hanya menyampaikan agama Allah SWT, adapun orang mau menerima atau tidak adalah hak Allah SWT
Allahu A’lam

PENYEBAB TINGGI DAN RENDAHNYA HIMMAH

Iaitu perkara yang apabila seseorang meninggalkan atau menjauhi hal-hal yang menyebabkan rendahnya Himmah dan semangat itu dia akan mendapatkan pertolongan Allah SWT untuk tetap dalam himman yang aliyah.

1. Tabiat Manusia

Kerana Allah SWT telah menciptakan manusia sesuai dengan tabiatnya masing-masing oleh kerana itu hendaknya seseorang memahami tabiatnya dan memilih tempat-tempat yang tepat sesuai dengan tabiat yang dia miliki untuk mengembangkan potensi diri yang ada padanya, misalnya ada orang yang diberikan kemampuan untuk berfikir, maka hendaknya ia berusaha dalam meningkatkan semangatnya tersebut seperti mengurus pejabat, menulis, mengeluarkan idea-idea yang baik, kemudian menggambarkan tujuan-tujuan, menyusun program-program kerja dan lain-lain. Ada orang yang diberikan kemampuan untuk senang bergerak ke sana ke mari, kalau urusan di medan dialah yang sesuai, maka orang seperti ini mencari kerja-kerja yang memenuhi tabiatnya tersebut.

Rasulullah s.a.w. ketika melihat potensi-potensi para sahabat sesuai dengan tabiat yang mereka miliki, maka beliau memberikan semangat dan menempatkan para sahabat sesuai dengan potensinya.

Contohnya Abu Hurairah R.a diberi gelar atau disebutkan wadah dari ilmu, kerana Rasulullah s.a.w. melihat beliau kuat hafalannya dan sangat mudah menimba ilmu dan menerima hadist dari Rasulullah s.a.w. sehingga dikenali sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist.

Khalid Bin Walid r.a, misalnya, beliau ini bukan termasuk sahabat yang banyak menghafal dan bukan pula setaraf sahabat yang banyak meriwayatkan hadist dan penuntut ilmu, akan tetapi Rasulullah s.a.w, melihat beliau ini tangkas di medan peperangan dan mimilki kemampuan dalam berperang, sehinga Rasullullah s.a.w, demikian pula sahabat seperti Abu Bakar r.a, dan khalifah setelahnya mengangkat beliau sebagai panglima perang untuk melawan orang-orang kafir, bahkan beliau diberi gelar sebagai saif min suyufillah (pedang dari pedang-pedang Allah).

Demikian dengan yang lain, adapun Ali bin Abi Thalib r.a, dan Muadz bin Jabal r.a, mereka ini adalah orang-orang yang faham tentang halal haram dan faham dalam masalah qoda’/hukum-hukum maka sahabat tersebut terkenal dengan hukum-hukumnya tersebut kerana orang-orang yang bergelut dalam masalah ini seperti qodi atau hakim harus memiliki ketajaman dalam mempraktikkan daripada nash-nash yang ada tersebut. Sehingga Rasulullah s.a.w, betul-betul dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki para sahabat Maka hendaknya kita melihat tabiat masing-masing sehingga kita dapat memilih tugas yang sesuai dengan potensi yang dimiliki, supaya Himmah kita tetap terjaga.

2. Bagaimana bapak dan ibu mentarbiyah anak-anaknya di rumah

Rasulullah s.a.w, bersabda yang ertinya : “Tidaklah lahir seorang anak kecuali dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”

Jika kita melihat hadist tersebut, ini dalam perkara-perkara agama di mana orang tua sangat berpegaruh dalam pembinaan Himmah anak-anaknya. kalau orang tua senantiasa mengajarkan perkara-perkara yang tinggi, perkara yang memiliki keutamaan yang besar baik, maka insya Allah SWT anak akan terbentuk seperti didikan orangtuanya.

Tetapi sebaliknya jika orang tua senangtiasa mengajarkan hal-hal yang hina dan kurang bermamfaat maka anak tersebut akan terbentuk menjadi seperti itu pula. Banyak contoh di kalangan para sahabat, sebagai contoh Zubai ibnu Awwam r.a, di mana sahabat ini dijamin masuk syurga oleh Rasulullah s.a.w, . Beliau ini senantiasa mengajarkan anaknya berperang sampai dalam satu kondisi beliau sampaikan kepada anaknya bahwa siapa yang paling duluan masuk dalam pasukan musuh dan paling cepat kembali. Ini salah satu contoh sahabat yang membina anaknya dengan menanamkan Himmah Aliyah sehingga tidak heran kalau Ibnu Zubair menjadi seorang khalifah, karena sejak awal terlatih seperti itu contoh lain adalah kisah pada perang badar, ada dua anak kecil di antar para sahabat bertanya manakah yang bernama Abu Jahal, lalu berkata kami akan mencari Abu Jahal dan berusaha membunuhnya, dia yang mati atau kami yang terbunuh padahal mereka masih anak-anak, lalu mereka berhasil membunuhnya.

Ini karena mereka telah tertarbiyah sejak kecil. Kerana itu seorang penyair mangatakan “ibu itu adalah madrasah atau tempat belajar yang pertama”. Kalau ibu dipersiapkan dengan baik, maka akan lahir generasi yang baik.

Dalam situasi kita sekarang ini banyak orang tua tidak memperhatikan anaknya, membiarkan anaknya banyak bermain, mendengarkan musik, bergelut dengan urusan-urusan hina yang tidak bermanfaat, atau orang tua tidak memilihkan bagi mereka teman-teman yang baik dan tidak memerintahkan anaknya mengerjakan sholat sehingga mereka membesar dalam keadaan seperti itu. Oleh kerana itu, agar Himmah itu tetap ada maka hendaknya orang tua mentarbiyah anaknya di rumahnya.

3. Masyarakat yang baik

Apabila masyarakat itu adalah masyarakat yang solehah di dalamnya senantiasa dibina akhlak yang mulia maka darinya akan lahir orang yang baik pula. Juga sebaliknya apabila masyarakat memiliki biah (suasana)yang buruk, hidup dalam suasana yang kurang baik, maka akan hidup individu-individu yang buruk pula.

Contohnya Rasulullah s.a.w, menceritakan kepada para sahabat kisah seorang daripada Bani Israil yang telah membunuh 99 orang yang ingin bertaubat, mencari orang yang paling alim di dunia ini lalu ia ditunjukkan kepada orang yang ahli ibadah, lalu ahli ibadah tersebut menghukumi dengan perasaannya dan mengatakan tidak ada taubat lagi bagimu, maka dibunuh pula ahli ibadah tersebut sampai korbannya genap 100, dia tidak puas dengan jawaban ahli ibdah tersebut dan keinginannya masih kuat untuk bertaubat maka dia mendatangi alim yang lain dan bertanya apakah taubat saya masih diterima, saya telah membunuh 100 orang. Alim tersebut berkata apa yang menghalangi kamu untuk bertaubat, Allah SWT akan menerima taubatmu. Kemudian dia disuruh pindah dari kampungnya yang rosak ke kampung yang baik, lalu berangkatlah orang tersebut dan di tengah perjalanan dia meninggal, maka dengan rahmat Allah SWT iapun dicatat sebagai penghuni syurga.

Dari kisah ini dapat kita mengambil pelajaran bahawa biah ini dapat memproses orang tersebut, maka tanggungjawab kita bagi pejuang-pejuang dakwah untuk mengajak orang ikut dalam majlis-majlis ilmu, dan berlepas diri dari akhlak jahiliyah dan perkara-perkara yang buruk.

4. Dengan adanya para murabbi dan guru boleh diteladani

Yang mereka itu mampu menjadi qudwah bagi yang lain. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah s.a.w.

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab:21)

Dari ayat ini menunujukkan pentingnya keberadaan murabbi di tengah-tengah muridnya/mutarabbi sebagai orang yang memberikan contoh. Apabila mutarabbi betul-betul menimba ilmu dengan akhlak dari murabbi tersebut, maka akan terbentuk peribadi yang soleh. Bagaimana seorang murabbi betul-betul dapat memberikan contoh perbuatan sesuai dengan apa yang disampaikan. Sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah s.a.w, kepada sahabatnya sehingga beliau mendapat pujian sebagai seorang yang berakhlak mulia.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radiallahu anha, tatkala ditanya tentang bagaimana akhlaknya Rasulullah S.a.w, beliau menjawab : “Akhlak Rasulullah adalah al-Quran”. Sahabat dahulu adalah bagaikan Al Qur’an yang berjalan, sebab teori-teori yang ada dalam al Qur’an telah dipraktikkan oleh sahabat di setiap sudut hidupnya sampai Islam dimenangkan. Inilah pelajaran bagi murabbi untuk mempraktikkan teori-teori yang telah disampaikan kepada mutarabbinya.

Contoh lain ketika Rasululah s.a.w, berbicara tentang jihad, maka beliau adalah orang yang paling depan dalam peperangan, dan sangat berani. Suatu ketika di Madinah orang-orang mendengar sesuatu yang menakutkan, dan orang – orang sembunyi mencari di mana dan suara apa itu. Namun ternyata Rasulullah s.a.w, telah pulang dari tempat tersebut dengan kudanya tanpa pelana dan mengatakan bahawa tidak ada apa-apa bahaya. Ini menunjukkan keberanian Rosulullah s.a.w, beliau bukanlah seorang pengecut.

5. Tasyji’ atau Pembakar Semangat

Kebanyakan orang memiliki semangat tinggi namun kurang diarahkan pada perkara yang bagus.

Suatu ketika Ibnu Masud r.a, tatkala melewati seorang yang bernyanyi dengan suaranya yang indah, maka Ibnu Mas’ud r.a, berkata alangkah indahnya suaramu dan lebih bagus lagi seandainya engkau membaca al-Quran lalu pemuda ini kerana tertasyji’ oleh kata-kata Ibnu Mas’ud dia mulai membaca Al Qur’an dan akhirnya dia menjadi orang yang bersuara indah dalam membaca Al Qur’an. Lalu dia bertanya siapakah orang ini ? maka dijawab dia adalah Ibnu Mas’ud sahabat Rasulullah s.a.w.

Imam Syafi’i adalah seorang yang menguasai syair-syair, yang beliau kuasai dari para pakar-pakarnya. Suatu ketika, seseorang mendengar Imam Syafi’i sedang melantunkan syair-syair. Orang itu berkata : “Masakan engkau dari keturunan Quraish, hanya boleh menghafal syair-syair saja. Tidakkah engkau memulai menghafal Al Qur’an dan hadist-hadist Rasulullah s.a.w.” Mendengar kata-kata orang ini, Imam Syafi’i tertasyji’ untuk belajar kepada Imam Malik sampai beliau menjadi ulama besar, bahkan menjadi salah satu mahzab terbesar.

Dari riwayat ini boleh diambil contoh bahawa tasyji’ atau penyemangat itu bukan hanya dari orang-orang seperti Ibnu Mas’ud r.a, atau semisalnya tetapi boleh saja berasal dari orang-orang umum bahkan orang yang bermaksiat.

Adalah imam Ahmad, yang terkena fitnah tentang Al-Qur’an yang dianggap makhluk. Tatkala masuk di penjara bersama seorang peminum khamar tetapi peminum itu memberi semangat kepada Imam Ahmad, ertinya semangat itu boleh kita ambil dari manapun , apa kata orang tesebut: “Yaa Imam, saya ini masuk penjara kerana bermaksiat maka saya dicambuk tapi saya tetap sabar menahan siksaan, sedangkan anda wahai imam dipenjara dan disiksa kerana mempertahankan kebenaran, tentunya anda harus lebih kuat dari saya”. Sehingga Imam Ahmad berkata: “Perkataan itulah yang menjadikan saya semakin kuat untuk bertahan siksaan tersebut.”

6. Iman kepada Allah SWT

Setiap kali bertambah iman seseorang maka semakin bertambah Himmah seseorang. Iman ini akan mengajak kepada akhlak yang baik. Rasulullah s.a.w, bersabda : “Sesungguhnya aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia”

Allah SWT berfirman : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Ankabut:69)

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahawa Dia bersama orang-orang yang berbuat ihsan. Dan ihsan ini adalah kedudukan tertinggi dalam urutan agama ini, Islam, Iman dan Ihsan. Sebagaimana dalan hadist Jibril, ihsan iaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, meskipun engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Allah melihatmu. Maka ini adalah tingkatan yang tertinggi..
Maka barang siapa yang telah menyempurnakan keislamannya memenuhi keimanannya dengan sekuat tenaga maka hal ini adalah perkara yang sangat penting menyebabkan seseorang untuk mendapatkan Himmah ‘aliyah.

7. Membaca Sejarah Orang-Orang Yang Telah Berhasil Kerjayanya

Membaca sirah atau sejarah orang-orang besar yang telah berhasil dalam kerjayanya, samada dia seorang muslim ataupun non-muslim. Jika dia seorang muslim, tentunya dari para ulama-ulama yang telah berhasil. Dan sebenarnya perkara keberhasilan itu bukanlah suatu yang sulit, kerana perkara itu adalah perkara yang manusiawi, yang semua orang mampu meraihnya. Sehingga ini adalah persoalan mudah dan tidak dianggap sebagai persoalan yang tidak mungkin.

Kemudian dari kisah-kisah tersebut, kita juga boleh mempelajari uslub-uslub atau bagaimana tatacara mereka memperoleh keberhasilan tersebut, dan tidak memiliki Himmah yang rendah.

NAQIB: Jantung dan Qudwah….


NAQIB: Jantung dan Qudwah….


Dalam tanzim jamaah muslimah, naqib ibarat tiang utama dalam struktur dan bangunan jamaah.Naqib juga merupakan jantung yang terus berdenyut yang memberi al-hayah (kehidupan), al-hayawiyah (spirit) dan al-harakah (gerakan).

Naqib adalah munaffidz (pelaksana) asasi bagi berbagai proses:

  1. Tarbawi (tarbiyah).
  2. Tanzhimi (struktur), dan
  3. Idari (management).

Pada saat yang sama, naqib ibarat nadi kepada harakah, padanya terdapat:

  1. Taujih/khithab qiyadi (pengarahan pemimpin), dan
  2. Amal tanfidzi (pelaksanaan amal).

Pada saat yang sama pula, naqib ibarat qanat (saluran) asasi antara qiyadah dan afrad. Melalui saluran inilah:

  1. Berbagai awamir (perintah) dan taujihat (pengarahan) turun, dan
  2. Berbagai berita dan iqtirahat (cadangan) naik.

Kerana inilah, sesungguhnya dengan membina naqib, membina qudrah (kemampuan)-nya dan membina berbagai karakternya, baik yang bersifat bawaan, maupun yang bersifat empiris merupakan pembinaan terhadap kemampuan berbagai marhalah jamaah dan terhadap kafa-ah-nya untuk ber-harakah dan melakukan intaj (produktiviti). Sesuai dengan kadar yang diperoleh oleh naqib, baik yang berupa sifat-sifat asasi, maupun tarbiyah yang berjaya, sesuai kadar itu pula terletak:

  1. Kekuatan bangunan tanzimi.
  2. Produktiviti ada’ idari (pelaksanaan management).
  3. Kejayaan amaliyah tarbawiyah (proses tarbiyah), dan
  4. Keberkatan ansyithah da’awiyah (berbagai aktiviti dakwah).

Mungkin posisi naqib dalam jamaah muslimah itu seperti titik pusat sebuah lingkaran, di mana posisi qiyadah berada di bahagian atas, posisi afrad berada di posisi bawah, sementara berbagai aktiviti yang berada di dalam lingkaran itu mesti melalui naqib yang menghubungkan antara qiyadah dengan afrad tadi. Tidak mungkin bahagian-bahagian dari lingkaran itu sampai kepada arah yang berlawanan, di manapun posisinya, kecuali melalui titik pusat (tengah) itu. Maksudnya: apapun arah sebuah kegiatan, baik dari qiyadah kepada afrad atau sebaliknya, maka naqib merupakan pusat kepada kegiatan itu, dan ia adalah pusat penyelaras kepada gerakan ini, dan darinyalah bertolak berbagai aktiviti.

Berikut ini adalah sebahagian dari aktiviti-aktiviti jamaah muslimah yang asasi -yang dalam gambaran di atas merupakan isi dari lingkaran- yang tidak boleh tidak naqib pasti menjadi pusat asasi dan pusat penghubungnya:

1. Al-‘Amaliyah At-Tarbawiyah (proses tarbiyah).

Hal ini mencakupi:

  1. Dirasah Mabadi’ Jama’ah (kajian prinsip-prinsip jamaah).
  2. Ta’allumul Fiqhid Da’awi (pembelajaran fiqih dakwah).
  3. Thuruqud Da’wah wal Ittishal (metode dakwah dan komunikasi).
  4. As-Siyasat Al-’Ammah lil Harakah (siyasat umum harakah).
  5. Lawaihul Jama’ah (undang-undang jamaah).
  6. Al-Mafahim At-Tarbawiyah (konsep-konsep tarbiyah).
  7. Al-‘Ilmu bitarikhid da’wah al-islamiyah (pengetahuan sejarah dakwah Islam).
  8. Ma’anil Badzli wat Tadh-hiyah (nilai-nilai infaq dan pengorbanan).
  9. Tahammulul Masyaq (daya tahan dalam memikul berbagai kesulitan).
  10. Membaca Al-Qur’an, dan mengkaji makna-maknanya.
    Semua itu berjalan sesuai dengan manhaj jamaah, dan ta’limat qiyadah yang tidak mungkin sampai kepada afrad kecuali melalui naqib.
  11. At-Tarbiyah bis-Suluk (tarbiyah dengan tingkah laku), dan
  12. Al-Qudwah al-‘Amaliyah (teladan amali), yang memang menjadi kewajibannya.

Pada satu sudut, seorang naqib mengambil qudwah (teladan) yang baik dari para qiyadah, pada saat yang sama ia adalah teladan bagi saudara-saudaranya di bawah.

Dengan demikian, ia menjadi pihak yang menerima kebaikan, sekaligus menjadi penyebar kebaikan tadi.

Kerana gerakan Ikhwan adalah haqiqatun shufiyah (hakikat kesufian), maka naqib merupakan asas hakikat ini.

Di depan para qiyadah ia adalah seorang murid yang belajar, mempraktikkan dan meneladani, dan di hadapan saudara-saudaranya ia adalah seorang syeikh yang menjadi teladan.

Dengan demikian, naqib merupakan inti tarbiyah sulukiyah, penukil tarbiyah ini dan tali pengait yang menyambungkan hubungan antara generasi dakwah.

Dan jamaah dengan izin Allah terbebas dari berbagai bid’ah tasawwuf, dan manhajnya yang salafi mu’tadil (salafi sederhana) sudah amat dikenal, dan hal ini telah disebutkan oleh Imam Asy-Syahid dengan jelas. Beliau meminjam istilah tasawwuf dalam rangka memberikan isyarat kepada tawajjuh tarbawi al-akhlaqi (orientasi tarbiyah akhlaqi) yang sangat memperhatikan tazkiyatul qulub wal arwah (pensucian hati dan ruhani).

***

2. Al-Ansyithah Al-Idariyah (berbagai aktiviti pengurusan).
Yang demikian ini kerana jamaah sebagai hizb dan tanzhim memiliki berbagai aktiviti yang beranika ragam:

  • Pengeluaran berbagai perintah dan penerapannya, dan
  • Pengambilan berbagai keputusan dan pelaksanaannya.

Sebagaimana lazimnya sebuah lembaga sosial kemanusiaan mempunyai pengurusan dan anggota, ada ketua dan ada anak buah, ada pimpinan dan ada pengikut. Demikian juga halnya dengan jamaah muslimah, para qiyadah-nya tercermin pada para pimpinan pengurusannya, sementara personel jamaah ibarat anggota sebuah lembaga yang menunaikan kewajiban-kewajibannya dalam menjalankan berbagai qararat (keputusan), melaksanakan berbagai rencana serta komitmen terhadap berbagai taujihat (arahan).

Mereka juga berkewajiban menyampaikan berbagai berita, mengamati berbagai fenomena dan menulis taqrir (membuat laporan).

Termasuk dalam hal ini pula bahawa masing-masing dari qiyadah dan anggota mempunyai berbagai hak dan kewajiban, di mana pihak yang satunya berkewajiban melaksanakan hak-hak itu. Adakalanya hal itu adalah kewajiban syar’i, dan boleh jadi pula hal itu adalah buah dari ibadah. Semua itu bergantung kepada berbagai kemaslahatan yang menjadi titik tujuan didirikannya tanzim yang membantu tercapainya kemaslahatan-kemaslahatan diniyah.

Dalam aktiviti idariyah ini harus ada titik tengah dan titik ordinasi yang menjadi penghubung antara pimpinan puncak dengan basis massanya. Titik tangah ini ada pada naqib yang merupakan pusat nadi mengalirnya harakah idariyah (gerakan management). Ia ibarat pengikut di hadapan qiyadah dan ia ibarat imam di hadapan afrad. Atau dengan bahasa lain, ia adalah pimpinan dan yang dipimpin sekaligus.

Masalah ini tetap akan berterusan sehingga saat nasyath idari (aktiviti pengurusan) berubah menjadi nasyath askari (aktiviti askari), atau tanfidz siyasi (pelaksanaan politik).

Jadi, Naqib adalah seorang jundi yang taat dan pada masa yang sama ia adalah qaid (pimpinan) yang mengeluarkan perintah kepada saudara-saudaranya di bawah.

***

3. Al-Ansyithah Ats-Tsaqafiyah (berbagai aktiviti tsaqafiyah).

Jamaah muslimah sebagai harakah salafiyah (gerakan salaf) mengimani bahawa al-‘ilmu asasul ‘amal (ilmu adalah asas amal).

Jadi, di dalam usrah terdapat madrasah tsaqafiyah mutakamilah (sekolah terpadu tempat mengasah wawasan). Melalui usrah jamaah muslimah bersemangat untuk mengadakan:

  • At-tastqif asy-syar’i (pengasahan wawasan syari’ah) dengan kepelbagaiannya, seperti:
  • Belajar Al-Qur’an dan melakukan kajian terhadapnya.
  • Ilmu hadis.
  • Kajian dasar-dasar fiqih.
  • Prinsip-prinsip aqidah, dan lain-lain.
  • At-tastqif bist-tsaqafah al-‘ammah (pengasahan wawasan umum), seperti:
  • Sejarah manusia.
  • Sejarah Islam.
  • Pelbagai skill kehidupan, dan lain-lain.

‘Amaliyah tsaqafiyah (proses pengasahan wawasan) ini –walaupun masih banyak tempat-tempat yang menjadi pilihan- namun, intinya, atau minima pelurusan dan penentuan alurnya dilakukan dalam ‘amaliyah tsaqafiyah yang diselenggarakan di dalam usrah. Hal ini mendorong –mau tidak mau- bagi:

Berjalannya fungsi naqib sebagai ustaz dan mu’allim di hadapan saudara-saudaranya.

Keharusan untuk selalu mendapatkan bekalan-bekalan secara berterusan dari para qiyadah da’wah dan para pemikirnya dalam menuntut ilmu, dan jadilah dia di hadapan mereka sebagai seorang siswa yang belajar.

Dengan demikian, secara automatik naqib juga menjadi:

Markaz wa jauhar al-‘amaliyah at-tarbawiyah (center dan inti dari proses tarbiyah),

Dia adalah titik sambung antara mengambil dan memberi.

Pihak yang secara istimrar (berterusan) berkewajiban menjadi siswa yang belajar yang terus menyerap ilmu dari pihak lainnya, dan pada saat yang sama..

Ia menjadi seorang yang aktif yang mampu memberi sebagai seorang mu’allim dan ustaz.

***

Salah satu kewajiban naqib yang sangat banyak itu, di samping perananya sebagai murabbi (pendidik), munazhzhim (pengorganisasian), dan mudir (pengurus), ia juga berperanan sebagai mu’allim (guru) yang menjalankan ‘amaliyatut-ta’lim ad-da’awi wal fikri (proses pengajaran dakwah dan fikrah) dalam ruang lingkup jamaah, melalui usrah atau di luar usrah melalui berbagai ceramah, kajian rutin dan pertemuan-pertemuan. Dan dia, saat menjalankan proses ini, bererti sedang menjalankan kewajiban syar’i yang sangat besar, sesuai dengan kemampuannya. Di hadapan saudara-saudaranya, ia adalah seorang guru, walaupun yang ia sampaikan hanya satu ayat dari Al-Qur’an, bagaimana halnya kalau dia menjadi guru pertama mereka dalam ilmu-ilmu syari’ah yang beraneka ragam itu. Ditambah lagi bahawa saudara-saudaranya juga mengambil daripadanya pelajaran fikr islami untuk pertama kalinya, bahkan, darinya terambil berbagai manhaj jamaah, pokok-pokoknya, prinsip-prinsip dakwah dan tradisi-tradisi dakwah. Kerana inilah, peranan naqib sangatlah besar dalam al-‘amaliyah at-ta’limiyah (proses pengajaran) dalam jamaah muslimah.

Kerana peranannya yang besar inilah, seorang naqib memerlukan pengetahuan dan komitmen terhadap pendekatan dalam al-‘amaliyah at-ta’limiyah (proses pengajaran) ini.

Justeru itu, kita boleh saja mengambil pelajaran dari aadabul muhaddits (pendekatan seorang ahli hadis) yang layak bagi seorang murabbi atau naqib, khususnya dalam usrah.

“… Seorang muhaddis (baca: murabbi atau naqib) berkewajiban meluruskan niat, membersihkan hatinya dari tujuan-tujuan duniawi … dan jangalah ia menolak melakukan tahdis atau proses periwayatan hadis (baca: tarbiyah dalam arti proses pembinaan) kepada seseorang dengan alasan seseorang itu tidak lurus niatnya, sebab, seseorang itu boleh diharapkan –melalui tahdis (baca: tarbiyah) kelurusan niatnya, dan hendaklah ia (muhaddits, baca: murabbi) bersemangat menyebar luaskan hadis (baca: bahan tarbiyah) dengan mengharapkan besarnya pahala yang akan diperoleh … hendaklah ia (muhaddits, baca: murabbi) membuka dan menutup majlisnya dengan hamdalah, shalawat kepada nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– dan doa yang tepat, hendaklah ia menyiapkan seorang pembaca Al-Qur’an yang bagus suaranya untuk membaca sedikit ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam meriwayatkan hadis (baca: menyampaikan bahan tarbiyah) janganlah melaluinya saja yang menyebabkan tidak difahaminya hadis (baca: bahan tarbiyah) itu atau sebahagiannya … dan hendaklah ia memohon kepada Allah –subhanahu wata’ala– agar mendapatkan taufiq (ketepatan), tasdid (pelurusan) dan taisir (kemudahan), dan hendaklah ia komitmen terhadap berbagai akhlaq dan pendekatan mulia, kemudian, hendaklah ia mengerahkan seluruh jerih payahnya dalam rangka menguasai hadis (baca: bahan tarbiyah) itu dan mengoptimumkan pemahamannya …”.

(Taqribun-Nawawi, sila rujuk pada tadribur-rawi syarah taqribun-nawawi, juz: 2 hal. 127 – 141)

Begitulah hendaknya seorang da’i dalam kapasitinya sebagai mu’allim boleh dikutip dari adabul muhaddits (pendekatan seorang ahli hadis) yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali –rahimahullah. Beliau menyebutkan bahawa adab seorang muhaddis adalah:

“… Bertujuan shidiq (benar), menjauhi dusta, meriwayatkan hadis yang masyhur serta meriwayatkan daripada orang-orang tsiqat (terpercaya) … tidak menyebutkan khilaf yang ada di antara sesama salaf, ma’rifatuz-zaman (mengenali zaman), menjaga diri agar tidak tersasul dan salah tulis, lahn (kesalahan baca ) dan tahrif (perubahan) … tetap komitmen dengan pekerti tawadhu’ dan sebahagian besar hadis yang diriwayatkannya membawa manfaat bagi kaum muslimin … dan tidak meriwayatkan hadis yang pada asalnya tidak diamalkan …”.

(Al-Adab fid-diin, karya Al Ghazali hal. 5)

Harap diperhatikan bahawa termasuk dalam pengertian al-hadis al-masyhur dalam perkataan Imam Al-Ghazali (dengan menggunakan metode qiyas (analogi) adalah segala hal yang bermanfaat dan dikenal oleh masyarakat, bukan:

  • Masalah-masalah yang pelik-pelik.
  • Hadis-hadis fitnah.
  • Mencari berita-berita yang meresahkan.

Termasuk dalam pengertian komitmen untuk tidak menyebutkan khilaf antara sesama salaf –meskipun hal ini merupakan tuntutan- adalah:

  • Menceritakan hal-hal yang masih khilaf.
  • Hadis-hadis fitnah.
  • Khilaf dan pertikaian antara sesama qiyadah da’wah.

Sedangkan yang dimaksud dengan ma’rifatuz-zaman adalah:

  • Memperhatikan al-wa’yu al-hadhari al-‘am (kesedaran peradaban umum).
  • Mengenali berbagai peristiwa yang sedang terjadi.
  • Mengikuti berbagai perkembangan berita politik dan sosial.

Seorang naqib hendaklah selalu mengingat bahawa dia adalah seorang mu’allim murabbi (guru yang mendidik) yang menjalani peranan sebagai ad-da’iyah al-qudwah (dai teladan), yang mentarbiyah dengan suluk (perilaku), sebagaimana mentarbiyah dengan kata-kata, bukan sekadar mentarbiyah dengan ilmu yang melaksanakan risalatul ‘ilmi (misi ilmu) tanpa disertai hararatur-ruh (kehangatan rohani) dan melepaskan kendali tadris (pengajaran) tanpa disertai hati.

Perlu diketahui bahawa al-’amaliyah at-tarbawiyah (proses tarbiyah) dalam jama’ah muslimah adalah ‘amaliyah tarbawiyah yang menuntut adanya iltizam biqawa’idi rabbaniyyatit-ta’lim (komitmen terhadap kaedah-kaedah ke-rabbaniyan dalam ta’lim yang di antara kandungannya adalah:

  • Ta’allumul mawazin wal qawa’id (mempelajari timbangan-timbangan dan kaedah-kaedah).
  • Al-Bidayah bil ahamm la bil ashal (memulai dengan yang terpenting, bukan yang termudah).
  • Tathbiqul mumarasat ash-shahihah wal badzli la jam’ul ma’lumat (pengamalan praktik yang benar dan semangat memberi bukan menginventasisasi informasi atau pengetahuan).
  • At-Tamassuk bil jawahir la bil qushur (berpegang teguh kepada inti bukan kulit).
  • Al-Iltizam bil auwlawiyat ‘inda tazahumidh-dharurat (komitmen dengan prioriti semasa terjadi desakan atau kepadatan berbagai keperluan semasa).
  • Daf’ul mafasid ‘ala maqadiri rutabiha (menolak kerosakan sesuai dengan tingkatannya).
  • Istihshalil mashalih hasba darajatiha (mengupayakan tercapainya berbagai kemaslahatan sesuai dengan derajatnya).
  • Mura’atul isti’dadat an-nafsiyah (memperhatikan potensi-potensi kejiwaan).
  • Akhdzul ‘ulum hasba maratibiha wa ahammiyyatuha (mengambil ilmu berdasarkan tingkatan dan urgensinya).
  • Dan lain-lain yang telah dijelaskan panjang lebar di tempat lain.

***

Tidak diragukan lagi bahawa termasuk akhlaq seorang da’i yang objektif, dalam kapasitasnya sebagai mu’allim murabbi hendaklah ia menisbahkan ilmu kepada yang memilikinya dalam rangka:

  • Menolak dugaan kesombongan.
  • Mengembalikan keutamaan kepada pemiliknya.
  • Memberikan irsyad (bimbingan) kepada para da’i untuk kembali kepada sumber-sumber ilmu.
  • Al-wafa’ (kesetiaan) kepada ahlul ‘ilmi.
  • Tatsbitul haqq (mengokohkan kebenaran), dan
  • Menolak dan menghindari bahaya hasad (irihati).

Dalam hal ini Al-Imam As-Suyuthi berkata:

“… Di antara keberkatan ilmu dan syukur kepadanya adalah menisbahkan ilmu kepada yang mengatakannya, demikianlah perkataan Al-Hafizh Abu Thahir As-Salafi … (kemudian Imam Suyuthi menukil perkataan Abu Ubaid yang mengatakan): Di antara bentuk mensyukuri ilmu adalah engkau mengambil manfaat dari sesuatu, jika ada sesuatu disebutkan kepadamu engkau berkata: “Tidak jelas bagiku masalah ini dan ini, dan saya tidak memiliki pengetahuan dalam hal ini, sehingga si fulan memberikan faedah dalam hal ini begini dan begini” inilah bentuk mensyukuri ilmu … kerana inilah engkau tidak melihat diriku menyebut sesuatu dalam tulisan-tulisan saya satu huruf pun kecuali dalam keadaan tersandarkan kepada yang mengatakannya dari para ulama’ dengan menjelaskan nama kitab yang menyebutkan hal itu …”.

(Al-Muzhir fi ‘ulumi al-lughah, karya As-Suyuthi, juz: 2 hal. 164)

Al-Imam Al-Fasi menukil sebahagian kalam ini setelah memberikan prolog demikian:

“… Tidak syak lagi bahawa termasuk dalam al-madarik al-muhimmah fi bab ast-tashnif (pemahaman penting dalam menulis kitab) adalah menisbahkan berbagai faedah dan masalah serta nukat (masalah penting yang tidak semua orang mampu melihat dan mengetahuinya) kepada para pemiliknya dalam rangka membebaskan diri dari mengakui sesuatu yang bukan miliknya dan dalam rangka menjauhkan diri dari labisi tsaubai az-zur (memakai dua baju kepalsuan) … inilah kaedah kami yang berhasil kami himpun …”.

(Qawa’id ast-tahdits, karya Al-Qasimi, hal. 40)

Kaedah atau akhlaq yang dulunya menjadi komitmen para ulama’ ini sekarang mulai meredup, dan sudah menjadi semacam kebanggaan saat seseorang menyebutkan berbagai masalah indah tanpa menisbahkannya kepada para pemiliknya, atau sudah menjadi kepelitan dan kekikiran ilmiah kepada para pemiliknya, atau umumnya kerana kebodohan terhadap kaedah ini. Kerana inilah menjadi sebuah kemestian untuk mengingatkan hal ini sebagai salah satu akhlaq murabbi (dan naqib) katika ia menjalani al-‘amaliyah at-ta’limiyah (proses pengajaran), baik ketika berbicara maupun ketika berdiskusi atau ketika menulis dan mengarang buku.

***

Sebagaimana naqib berperanan sebagai titik fokus dalam al-‘amaliyyah at-tarbawiyah, kerananya ia juga menjadi markazul ‘amaliyah at-ta’limiyah (pusat proses pengajaran) dalam jama’ah, yang bererti ia berperanan sebagai mu’allim (guru) bagi orang lainnya, pada saat yang sama, ia adalah muta’allim (siswa) bagi orang lainnya, baik yang dimaksud dengan “orang lain” ini adalah orang-orang yang berada di dalam group yang ia pimpin, ataupun orang-orang yang berada di bawah ke-amir-annya, ataupun para ulama’, da’i dan fuqaha yang sama sekali tidak ada ikatan tanzimi dengannya, bahkan mereka berasal dari luar jama’ah, dan “persiswaan” ini ada dalam salah satu cabang pengetahuan, atau salah satu bahagian dari syari’ah, bahkan sampaipun hanya dalam satu masalah tertentu saja, mengingat bahawa ijtihad memang boleh dibahagi-bahagikan. Intinya bahawa sang naqib atau murabbi belajar dalam satu bidang tertentu, atau salah satu ilmu dari orang-orang yang berada di bawah ke-amir-annya, dan tidak ada malu dalam ilmu dan semua dimudahkan kepada apa yang ia dicipta untuknya.

Di atas semua itu, sang naqib atau murabbi juga berkewajiban mencari pengetahuan dan mengambilnya manapun juga, selama ia telah yakin mampu mencegahnya dari penyimpangan pemikiran atau inhiraf aqidi (penyimpangan aqidah), atau al-iltiwa’ al-haraki (penyimpangan harakah). Bahkan, seorang naqib atau da’i yang berjaya dan kokoh, dari sela-sela belajarnya, sekaligus ia bisa menjadi guru dan murabbi terhadap guru dan syeikh-nya, atau teman-teman sebayanya, melalui:

  • Dialog konstruktif.
  • Dan diskusi yang berjaya.

Bahkan ia dapat mempengaruhi melalui perilakunya yang “beda” dan akhlaqnya yang mantap.

Ditambah lagi bahawa proses belajar dari para masyayikh dan ulama’ di luar jama’ah akan membuka kesempatan kepada para da’i untuk berinteraksi dengan mereka, mengulas fikrah mereka, bahkan menarik simpati orang lain terhadap mereka, mempengaruhi mereka dan pandangan-pandangan mereka, dan sekaligus mengambil manfaat dari majlis dan murid-murid mereka dalam hal penyebaran fiqih da’wah, penyebaran pemikiran haraki, persiapan perluasan dokongan awam kepada da’wah dan menarik simpati unsur-unsur yang mengarah ke sana.

Sesungguhnya, proses belajarnya sang naqib dan sebahagian da’i kepada para masyayikh dan ulama’ sangatlah penting, bukan saja kerana adanya:

  • Faedah-faedah ilmiah, dan
  • Interaksi dengan orang ramai, bahkan hal ini juga merupakan….

Bermanfaat untuk simpanan tenaga besar jamaah dalam proses ilmiah. Sebab, biasanya, para masyayikh itu lebih banyak mempunyai waktu, terlebih lagi bahawa mereka lebih itqan terhadap sebahagian ilmu, misalnya: tajwid, tafsir, fiqih, hadis dan ilmu-ilmu bahasa, yang boleh jadi itqan seperti itu tidak dimiliki oleh personel jama’ah. Dan jika ada sebahagian personel jama’ah yang menguasainya secara itqan, namun, kewajibannya yang sangat banyak akan menghalanginya untuk melakukan proses pengajaran.

Belajar kepada masyayikh di luar jama’ah juga akan berdampak kepada kasbuts-tsiqah (menggapai tsiqah) mereka secara pribadi dari satu sisi dan pada sisi lain, jama’ah juga akan mendapatkan shibghah ijtima’iyah yang akan mencegah terselewengnya jama’ah serta menjauhnya masyarakat umum dari jama’ah.

Belajar kepada masyayikh di luar jama’ah juga berdampak kepada adanya dukungan para masyayikh dan ulama’ itu kepada jama’ah, bahkan boleh jadi mereka juga akan bergabung dengan jama’ah yang bererti akan semakin menambah kokohnya jama’ah itu, serta mampu menolak berbagai isu dan syubhat, dan pada saat yang sama akan mencegah ekploitasi gerakan-gerakan bid’ah, dan tasawuf yang menyimpang atau salafi yang berlebihan untuk kepentingan dan tujuan mereka yang kemungkinan tidak sesuai dengan tujuan-tujuan amal islami yang lurus.

***

Akan tetapi, di sini ada sejumlah adab yang menjadi kewajiban para da’i untuk komitmen dengannya ketika ia duduk di hadapan orang-orang yang memberikan pengajaran kepadanya.

“… Hendaklah ia mengagungkan gurunya dan orang-orang yang ia mendengar darinya, sebab hal ini termasuk pengagungan terhadap ilmu dan sebab-sebab mendapatkan manfaat dari ilmu, hendaklah ia meyakini keagungan dan keunggulan gurunya, berusaha meraih ridhanya, dan janganlah berlama-lama dengannya yang sekiranya menjadikannya tidak enak hati. Hendaklah ia berkonsultasi dengannya dalam berbagai urusan dan kesibukannya dan bagaimana cara mengoptimalnya berbagai hal tadi. Dan jika ia mendengar satu hadits, hendaklah ia membertahukan orang lain, sebab, menyembunyikan hal itu adalah sifat tercela, yang tidak terjerumus kepadanya selain para penuntut ilmu yang bodoh, dan jika menyembunyikan ilmu dikhawatirkan menjadi ilmu yang tidak bermanfaat, sebab, termasuk keberkahan sebuah hadits adalah jika ia disampaikan kepada orang lain, dan mempublikasikannya adalah keberkahan. Dan berhati-hatilah jangan sampai rasa malu dan rasa besar menghalanginya untuk berupaya secara maksimal dalam belajar dan mengambil ilmu dari orang yang lebih rendah darinya, baik dalam hal nasab maupun usia maupun dalam hal lainnya. Hendaklah ia bersabar atas kekasaran urusan. Hendaklah ia memperhatikan yang penting dan janganlah menyia-nyiakan waktu dalam memperbanyak guru hanya sekedar memperbanyak saja…”.

(At-Taqrib, karya Imam An-Nawawi, silahkan periksa Tadrib Ar-Rawi fi Syarh Taqrib An-Nawawi juz: 2 hal. 145)

Demikian.

(Terjemahan Majalah Al-‘Ain, juz: 2, hal. 166- 172)

MALAS BERDAKWAH


MALAS BERDAKWAH

بسم الله الرحمن الرحيم

اَلْكَسَلُ اَلدَّعَوِيُّ

Malas Berdakwah

الشيخ: مراد بن أحمد القدسي

Syekh Murad bin Ahmad al-Qudsi

السلام عليكم ورحمة الله

مِنَ الْمَعْلُوْمِ أَنَّ الدَّعْوَةَ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ،

Telah diketahui bahwa berdakwah dalam arti mengajak manusia kepada Allah SWT termasuk amal ibadah yang sangat agung,

لِمَا ثَبَتَ فِيْ فَضْلِهَا مِنَ الْفَضَائِلِ وَالْأُجُوْرِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنَ النَّفْعِ لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ تَقْلِيْلِ الشُّرُوْرِ وَالْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ بَيَانِ فَسَادِ الْمُفْسِدِيْنَ وَتَبْيِيْنِ حَقَائِقِهِمْ لِلنَّاسِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ تَعْلِيْمِ النَّاسِ أُمُوْرَ الدِّيْنِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ إِقَامَةِ الْحُجَّةِ وَالْأَعْذَارِ إِلَى اللهِ.

Yang demikian ini karena:

  1. Banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaan dan pahala yang besar dalam berdakwah.
  2. Dakwah juga memberi banyak manfaat bagi kaum muslimin.
  3. Dakwah juga berfungsi meminimalisir keburukan dan kerusakan di muka bumi.
  4. Juga berfungsi untuk menjelaskan kerusakan pihak-pihak yang merusak dan menjelaskan berbagai fakta kepada manusia.
  5. Juga berguna untuk memberi pengajaran berbagai urusan agama kepada manusia.
  6. Dan tentunya, berdakwah merupakan satu bentuk penegakan hujjah dan alasan kepada Allah SWT.

وَفِيْ وَاقِعِنَا الْيَوْمَ نُشَاهِدُ ضَعْفًا وَتَوَانِيَ فِي الدَّعْوَةِ، وَعَدَمَ ابْتِكَارٍ فِيْ وَسَائِلِهَا، وَعَدَمَ مُمَارَسَةِ الدَّعْوَةِ بِشَكْلٍ دَائِمٍ وَمُسْتَمِرٍّ وَفَاعِلِيَّةٍ.

Sayangnya, menyaksikan kenyataan sekarang ini, kita menyaksikan adanya kelemahan dan sikap ogah-agahan dalam berdakwah, tiadanya kreatifitas, dan aktifitas dakwah yang terhenti dan atau tidak lagi efektif.

فَكَانَ الْحَدِيْثُ عَنْ هَذَا الْمَوْضُوْعِ “اَلْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ” وَفِيْهِ مَبَاحِثُ:

مَفْهُوْمُهُ

مَظَاهِرُ الْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ

أَسْبَابُهُ

آثَارُهُ

عِلَاجُهُ

Untuk inilah makalah ini hendak berbicara tentang kemalasan dalam berdakwah yang mencakup:

  1. Pengertian malas dalam berdakwah.
  2. Gejala dan tanda-tanda malas dalam berdakwah.
  3. Sebab-sebab malas dalam berdakwah.
  4. Dampak dan pengaruh malas dalam berdakwah.
  5. Terapi terhadap penyakit malas dalam berdakwah.
(1) مَفْهُوْمُهُ:

هُوَ ضَعْفُ الاِنْدِفَاعِ الذَّاتِيِّ وَالْجَمَاعِيِّ فِيْ مَجَالِ الْأَنْشِطَةِ الدَّعَوِيَّةِ الْمُخْتَلِفَةِ.

Pertama: Pengertian Malas dalam Berdakwah

Melemahnya motivasi baik bersifat personal maupun kolektif di berbagai bidang aktifitas dakwah.

(2) مَظَاهِرُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Kedua: Gejala dan Tanda-Tanda Malas Berdakwah

– اَلتَّأَخُّرُ عَنْ أَدَاءِ الْمُهِمَّةِ الْمُنَاطَةِ بِنَا

  1. Terlambat dalam mengerjakan tugas dakwah yang diberikan kepadanya

– عَدَمُ الْحِرْصِ عَلَى الدَّعْوَةِ أَوِ النَّدَمُ عَلَى فَوَاتِهَا

  1. Hilangnya semangat berdakwah, atau tidak adanya penyesalan atas hilangnya peluang dakwah

– عَدَمُ الْجِدِّيَّةِ وْالْفَاعِلِيَّةِ فِي الْمَنَاشِطِ الدَّعَوِيَّةِ

  1. Tidak bersungguh-sungguh dan tidak aktif dalam berbagai aktifitas dakwah

– اِخْتِلَاقُ الْأَعْذَارِ فِيْ حَالِ الْمُحَاسَبَةِ

  1. Membuat-buat alasan saat dievaluasi

– اَلتَّفَاعُلُ مَعَ الْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْأَنْشِطَةِ اَلْمَطْلُوْبَةِ

  1. Berinteraksi dengan batas minimal terhadap aktifitas yang diminta

– إِهْمَالُ الْأَنْشِطَةِ إِلَّا عِنْدَ اللَّوْمِ

  1. Mengabaikan berbagai aktifitas kecuali saat dicela

– فِي الْأَنْشِطَةِ الَّتِيْ لَا يَعْرِفُهَا الدَّاعِيَةُ لَا يَحْرِصُ بِالسُّؤَالِ عَنْهَا

  1. Terkait berbagai kegiatan yang tidak dikenal, tidak ada semangat untuk sekedar menanyakannya

– عَدَمُ الْحِرْصِ فِي التَّغْيِيْرِ إِلَى الْأَفْضَلِ فِي الْأَنْشِطَةِ غَيْرِ الْمُثْمِرَةِ وَالاِكْتِفَاءِ بِالْقَدِيْمِ الْعَتِيْقِ

  1. Tidak ada semangat untuk melakukan perubahan kepada yang lebih baik, padahal aktifitas yang dilakukan terbukti tidak produktif, dan berpuas diri dengan yang lama yang tidak produktif itu

– تَثْبِيْطُ الْآخَرِيْنَ عَنِ التَّفَاعُلِ مَعَ الْأَنْشِطَةِ.

  1. Menggembosi yang lain agar mereka tidak interaktif terhadap berbagai aktifitas dakwah

(3) أَسْبَابُ الْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ:

Ketiga: Sebab-Sebab Malas dalam Berdakwah

– اَلضَّعْفُ فِيْ مَعْرِفَةِ فَضَائِلِ الدَّعْوَةِ وَاسْتِشْعَارِ أَهَمِّيَّتِهَا

  1. Melemahnya pengetahuan terhadap keutamaan dan urgensi berdakwah

– غِيَابُ الْأَهْدَافِ الدَّعَوِيَّةِ أَوْ عَدَمُ الْوُضُوْحِ فِيْهَا

  1. Sirnanya tujuan-tujuan dakwah atau minimal ketidak jelasan tujuan-tujuan dakwah

– قِلَّةُ التَّكَالِيْفِ الْمُنَاطَةِ بِالدُّعَاةِ، فَيَجْعَلُهُ يَنْشَغِلُ بِالْمُبَاحَاتِ، مِمَّا يَجْعَلُهُ يَأْلَفُ هَذَا الْوَضْعَ، وَيُشْغِلُهُ عَنِ التَّحَرُّكِ فِيْ أُمُوْرِ الدَّعْوَةِ

  1. Minimnya tugas yang dibebankan kepada para aktifis dakwah, sehingga mereka tersibukkan oleh hal-hal mubah, lalu mereka menjadi terbiasa dengan keadaan ini, selanjutnya mereka lupa untuk bergerak dalam berbagai urusan dakwah

– حُدُوْثُ بَعْضِ النَّتَائِجِ السَّلْبِيَّةِ بَعْدَ أَدَاءِ الْأَعْمَالِ الدَّعَوِيَّةِ تُسَبِّبُ لِلْبَعْضِ إِحْبَاطًا أَوْ عُزُوْفًا عَنِ الْعَمَلِ

  1. Terjadinya hasil-hasil negative dari kerja-kerja dakwah, sehingga menyebabkan sebagian aktifis putus asa, atau ogah-ogahan untuk bekerja lagi

– قِلَّةُ الْمُشَارَكَةِ مِنَ الْكَثِيْرِ مِنَ الدُّعَاةِ، مِمَّا يُشْعِرُ النَّاشِطَ مِنْهُمْ بِثِقَلِ التَّكَالِيْفِ الَّتِيْ يَتَحَمَّلُهَا وَحْدَهُ، مِمَّا يَحْدُوْ بِهِ كَرَدِّ فِعْلٍ لِعَدَمِ التَّفَاعُلِ مِثْلَهُ وَمِثْلَ الْآخَرِيْنَ

  1. Sedikitnya partisipasi aktifis dakwah lainnya, sehingga yang masih aktif merasa keberatan beban, dan sebagai reaksinya, iapun mengikuti yang lain.

– تَعَجُّلُ قَطْفِ الثِّمَارِ يَجْعَلُ الْكَثِيْرَ – وَكَرَدَّةِ فِعْلٍ – يُفَضِّلُوْنَ الاِبْتِعَادَ عَنِ الْمُشَارَكَةِ وَالْعَمَلِ الْجَادِّ

  1. Terburu-buru untuk memetik hasil kerja dakwah, dan sebagai reaksinya, banyak yang memilih untuk menjauh dari partisipasi dakwah dan kerja-kerja serius

– ضَعْفُ الْجَانِبِ الْإِيْمَانِيِّ وَالْقَنَاعَاتِ فِي الدَّعْوَةِ، وَجَعْلُهَا كَأَنَّهَا وَظِيْفَةٌ تُؤَدَّى وَيَتَقَاضَى عَلَيْهَا مُكَافَأَةً أَوْ رَاتِبًا

  1. Melemahnya sisi keimanan dan qana’ah da’awiyah, serta menjadikan dakwah seakan-akan profesi yang menghasilkan uang

– اَلاِنْشِغَالُ بِالدُّنْيَا وَالْإِغْرَاقُ فِيْهَا عَلَى حِسَابِ الدَّعْوَةِ

  1. Tersibukkan oleh urusan dunia dan tenggelam di dalamnya dengan mengabaikan dakwah

– اَلْمَلَلُ مِنَ الرُّوْتِيْنِ اَلْمُتَكَرِّرِ وَعَدَمِ التَّجْدِيْدِ فِي الْمَنَاشِطِ، وَالنَّفْسُ بِطَبْعِهَا تُحِبُّ التَّجْدِيْدَ

  1. Bosan terhadap rutinitas dan tiadanya pembaharuan dalam berbagai aktifitas dakwah, padahal, jiwa manusia menyukai hal-hal baru

– اَلتَّأَثُّرُ بِالْكُسَالَى وَالْمُثَبِّطِيْنَ فِي الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى

  1. Terpengaruh oleh meraka yang malas dan oleh pihak-pihak yang menggembosi dalam berdakwah

– تَسَنُّمُ الْبَعْضِ قَافِلَةَ الدَّعْوَةِ قَبْلَ النُّضُوْجِ وَتَكْوِيْنِ الْقُدُرَاتِ الْكَافِيَةِ فِي النَّفْسِ لِتَحَمُّلِ أَعْبَاءِ الدَّعْوَةِ

  1. Ada yang “naik pangkat” dalam kafilah dakwah sebelum matang dan sebelum terbentuk berbagai kemampuannya untuk memikul berbagai beban dakwah

– اَلاِخْتِلَافُ وَالتَّفَرُّقُ وَكَثْرَةُ وِجْهَاتِ النَّظَرِ، مِمَّا قَدْ يُسَبِّبُ الاِبْتِعَادَ عَنِ الْعَمَلِ خَوْفًا مِنَ الزَّلَلِ، وَخَوْفًا مِنَ التَّصْنِيْفِ أَوِ الاِتِّهَامِ

  1. Adanya perbedaan, perpecahan dan berbagai sudut pandang, hal yang menyebabkan seorang aktifis dakwah menjauhi kerja dakwah karena takut salah, takut di-tashnif (dikelompokkan) atau takut terkena tuduhan

مِنَ الْأَسْبَابِ مِنْ قَادَةِ الدَّعْوَةِ

Sebab Malas Berdakwah Akibat dari Pimpinan

– ضَعْفُ الْمُتَابَعَةِ مِنْ قِبَلِ الْمَسْئُوْلِيْنَ، مِمَّا يَجْعَلُ الْأَفْرَادَ يَشْعُرُوْنَ بِعَدَمِ أَهَمِّيَّتِهِمْ أَوْ عَدَمِ تَنَبُّهِهِمْ عَلَى الْقُصُوْرِ أَوَّلًا بِأَوَّلٍ

  1. Lemahnya mutabaah para pimpinan, hal yang menjadikan setiap aktifis merasa dirinya tidak penting, atau tidak menyadari adanya kelemahan

– عَدَمُ التَّقْدِيْرِ وَالتَّشْجِيْعِ يَجْعَلُ الْبَعْضَ يَشْعُرُ بِأَنَّهُ سَوَاءٌ عَمِلَ أَوْ لَمْ يَعْمَلْ، فَالْأَمْرُ سِيَانِ

  1. Tidak adanya penghargaan dan motivasi, hal yang menyebabkan sebagian aktifis dakwah merasa bahwa antara dia bekerja dan tidak bekerja sama saja

– اَلتَّصَرُّفُ الْخَاطِئُ فِيْ إِعْدَادِ الْمَنَاشِطِ وَأَسَالِيْبِ تَفْعِيْلِهَا مِنْ قِبَلِ الْقَادَةِ، مِمَّا يَجْعَلُ الدُّعَاةَ لَا يَنْظُرُوْنَ إِلَى قُدْوَةٍ أَمَامَهُمْ يَقْتَدُوْنَ بِهِ.

  1. Adanya perilaku yang salah dari pimpinan dalam mempersiapkan berbagai aktifitas dan cara-cara efektifitasnya, hal yang menjadikan para aktifis dakwah tidak melihat adanya sosok teladan di hadapan mereka

(4) آثَارُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Keempat: Dampak dan Pengaruh Malas Berdakwah

– اَلتَّأَخُّرُ فِيْ إِنْجَازِ الْمُهِمَّاتِ الدَّعَوِيَّةِ، مِمَّا يَحْتَاجُ إِلَى جُهْدٍ أَكْبَرَ وَفِيْ وَقْتٍ أَطْوَلَ

  1. Keterlambatan dalam menyelesaikan berbagai tugas dakwah, sehingga memerlukan tambahan tenaga yang lebih besar dan waktu yang lebih lama

– اِخْتِلَاقُ الْأَعْذَارِ عِنْدَ الْمُحَاسَبَةِ مِمَّا يُؤَنِّبُ ضَمِيْرَ الدَّاعِيَةِ مُسْتَقْبَلًا

  1. Membuat-buat alasan saat dievaluasi, hal yang membuat nurani seorang aktifis dakwah terasa tergores di masa depan

– تَوَقُّفُ الدَّعْوَةِ عِنْدَ حَدٍّ مُعَيَّنٍ مِنَ الْوَسَائِلِ وَعَدَمُ ابْتِكَارِ وَسَائِلَ جَدِيْدَةٍ بِسَبَبِ أَنَّ الْوَسَائِلَ الْقَدِيْمَةَ لَمْ تُنَفَّذْ بَعْدُ

  1. Dakwah hanya terpaku pada sarana tertentu dan tidak ada inovasi memunculkan sarana dakwah baru, dengan alasan, sarana yang lama saja belum terlaksana

– سَعَةُ الْهُوَّةِ بَيْنَ الدُّعَاةِ وَبَيْنَ الْجِهَةِ الْمَسْئُوْلَةِ عَنْهُمْ بِسَبَبِ الْمُتَابَعَةِ وَالتَّقْوِيْمِ، مِمَّا يَفْتَحُ الْمَجَالَ لِلتَّرَاشُقِ بِالْكَلِمَاتِ اللَّامَسْئُوْلَةِ

  1. Adanya gap yang terlalu jauh antara aktifis dakwah dengan pimpinanya dikarenakan faktor mutabaah dan evaluasi, hal yang membuka celah untuk saling menyerang dengan tanpa tanggung jawab

– تَأَخُّرُ تَحْقِيْقِ النَّتَائِجِ الْمَرْجُوَّةِ مِنَ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى

  1. Terlambatnya perealisasian hasil yang diharapkan dari aktifitas berdakwah

– تَسَلُّطُ أَعْدَاءِ الدَّعْوَةِ عَلَى الدَّعْوَةِ وَالدُّعَاةِ، فَمَنْ لَا يُهَاجِمُ لَا بُدَّ أَنْ يُهَاجَمُ.

  1. Hegemoni musuh-musuh dakwah terhadap dakwah dan para aktifitsnya, sebab “siapa yang tidak menyerang pasti diserang”.

(5) عِلَاجُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Kelima: Terapi terhadap Kemalasan Berdakwah

1 – مِمَّا يَجْعَلُ الدَّاعِيَةَ يَتَفَاعَلُ مَعَ دَعْوَتِهِ: مَعْرِفَةُ مَا لَهُ مِنْ أَجْرٍ إِذَا قَامَ بِهَا، أَوِ التَّعَرُّفُ عَلَى أَهَمِّيَّةِ الدَّعْوَةِ.

وَأُجُوْرُ الدَّعْوَةِ تَكْمُنُ فِي الْآتِيْ:

  • Diantara hal-hal yang menjadikan seorang da’i aktif dalam berdakwah adalah mengetahui pahala yang akan didapatnya, atau mengetahui urgensi berdakwah.

Pahala-pahala berdakwah dapat dijelaskan sebagai berikut:

– أَنَّهَا مِنْ هَدْيِ الرَّسُوْلِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَتْبَاعِهِ، قَالَ تَعَالَى: {قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي} [يوسف: 108]

  • Bahwasanya dakwah itu adalah jalan hidayah para rasul dan para pengikutnya. Allah SWT berfirman: Katakanlah (wahai Muhammad): inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin (QS. Yusuf: 108).

– أَنَّ فَاعِلَهَا مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ قَوْلًا، قَالَ تَعَالَى: {وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ المُسْلِمِينَ} [فصلت:33].

  • Bahwasanya pelaku dakwah adalah orang yang paling baik perkataannya. Allah SWT berfirman: Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikandan berkata: Sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri) (QS. Fushshilat: 33).

– رَوَى التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ أُمَامَةَ: »إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوْتَ، لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ«. وَتَسَاءَلَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَنْ سَبَبِ دُعَاءِ هَؤُلَاءِ وَمِنْهُمُ النَّمْلَةُ وَالْحُوْتُ؟ فَأَجَابُوْا: قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ: “أَنَّ نَفْعَ الْعِلْمِ يَعُمُّ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْحُوْتَ، فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ عُرِفُوْا بِالْعِلْمِ وَمَا يَحِلُّ وَيَحْرُمُ، وَأَوْصُوْا بِالْإِحْسَانِ إِلَى كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِلَى الْمَذْبُوْحِ وَالْحُوْتِ، فَأَلْهَمَ اللهُ تَعَالَى اْلكُلَّ اَلاِسْتِغْفَارَ لَهُمْ؛ جَزَاءً لِحُسْنِ صَنِيْعِهِمْ”.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abu Umamah (RA): Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat, dan seluruh penghuni langit dan bumi, termasuk semut di dalam lubangnya, dan termasuk ikan di lautan, sungguh mereka mengucapkan shalawat kepada orang yang mengajatkan kebaikan kepada manusia.

Para ulama bertanya tentang sebab yang melatar belakangi do’a mereka, termasuk do’a semut dan ikan di lautan?

Ibnu Qudamah berkata: bahwasanya manfaat ilmu itu meliputi apa saja, termasuk ikan di lautan, sebab para ulama dikenal sebagai orang yang berilmu yang mengetahui apa yang halal dan apa yang haram. Merekalah yang selalu berpesan agar berbuat baik kepada segala sesuatu, termasuk kepada binatang yang disembelih dan kepada ikan, oleh karena itu, Allah SWT mengilhamkan kepada semuanya agar mereka beristighfar untuk para ulama’, sebagai balasan atas perbuatan mereka yang sangat baik.

رَوَى مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : »مَنْ دَعَا إِلَى الْهُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ«. رَوَى الْبُخَارِيْ مِنْ حَدِيْثِ سَهْلٍ: قَالَ الرَّسُوْلُ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِعَلِيٍّ: »لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ«.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah (RA): Siapa yang mengajak kepada jalan hidayah, maka untuknya pahala seperti yang didapat oleh orang-orang yang mengikutinya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Sahl, Rasulullah SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (RA): Sungguh, Allah SWT memberikan hidayah kepada satu orang disebabkan olehmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.

وَأَمَّا أَهَمِّيَّةُ الدَّعْوَةِ فَتَكْمُنُ فِي الْآتِيْ:

Adapun urgensi berdakwah, dapat dijelaskan sebagai berikut:

أ- أَنَّ فِيْهَا تَثْبِيْتَ الدَّاعِيَةِ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ وَمَا يُحَصِّلُهُ مِنْ أُجُوْرٍ عَظِيْمَةٍ مِنَ الدَّعْوَةِ.

  • Bahwa berdakwah itu memberikan tatsbit (keteguhan) kepada sang da’i untuk tetap berada di atas jalan yang lurus disamping pahala besar yang didapatkannya.

ب- لِأَنَّهَا الطَّرِيْقُ الْأَمْثَلُ فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ

  • Bahwa dakwah merupakan cara paling ideal dalam penegakan amar ma’ruf nahi munkar.

جـ- وَلِأَنَّهَا أَعْظَمُ طَرِيْقٍ لِبَيَانِ مُخَطَّطَاتِ الْأَعْدَاءِ دَاخِلِيًّا وَخَارِجِيًّا حَوْلَ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

  • bahwa berdakwah itu merupakan cara paling agung untuk menjelaskan konspirasi musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, baik musuh dari dalam maupun dari luar

د- وَلِأَنَّ فِيْهَا بَيَانَ الشَّرِيْعَةِ لِلنَّاسِ وَأَحْكَامِهَا، وَرَفْعَ الْجَهْلِ عَنْهُمْ، وَرُجُوْعَ النَّاسِ إِلَى الدِّيْنِ وَالْعَمَلِ بِهِ

  • Bahwa dengan berdakwah seorang da’i dapat menjelaskan tentang syari’at Islam dan ajaran-ajarannya, menghapus kebodohan, mengembalikan manusia kepada agama dan pengamalannya.

هـ- وَلِأَنَّهَا مِنَ الطُّرُقِ فِيْ إِقَامَةِ حُجَّةِ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ وَالْإِعْذَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ

  • Berdakwah merupakan cara menegakkan hujjah Allah SWT kepada para hamba-Nya, dan merupakan bentuk pembelaan di hadapan Allah SWT

و- وَلِأَنَّهَا مِنْ وَسَائِلِ نُصْرَةِ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ وَتَلَاحُمِ الصَّفِّ بَيْنَهُمْ.

  • Bahwa berdakwah merupakan satu sarana untuk menolong kaum muslimin dari para musuhnya, juga merupakan satu cara untuk merapatkan barisan kaum muslimin

2 – مِمَّا يُعِيْنُ عَلَى النَّشَاطِ الدَّعَوِيِّ وُضُوْحُ الْهَدَفِ مِنْهَا، وَتَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ:

  1. Diantara membantu seorang da’i untuk aktif dalam berdakwah adalah adanya tujuan yang jelas.

Ada dua bentuk tujuan:

أ- اَلْهَدَفُ الْعَامُّ: تَحْقِيْقُ رِضَا اللهِ تَعَالَى، وَهَذَا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَجْعَلَ الدَّاعِيَةَ لَا يَهْدَأُ أَبَدًا حَتَّى يَتِمَّ هَذَا الْأَمْرُ أَوْ تَحْقِيْقُ الْعُبُوْدِيَّةِ للهِ تَعَالَى

  • Tujuan umum, yaitu mewujudkan ridha Allah SWT, atau mewujudkan penghambaan kepada-Nya.

Tujuan ini, jika sungguh-sungguh dilaksanakan, akan membuat seorang aktifis dakwah tidak akan pernah diam sebelum terwujudnya tujuan ini.

ب- اَلْهَدَفُ الْخَاصُّ “اَلْجُزْئِيُّ”: وَهُوَ الْهَدَفُ الْقَرِيْبُ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ دَعَوِيٍّ مَهْمَا كَبُرَ أَوْ صَغُرَ، وَبَذْلُ الْجُهْدِ الْكَافِيِّ لِتَحْقِيْقِ الْوُصُوْلِ إِلَيْهِ

  • Tujuan khusus atau juz’iy, yaitu tujuan jangka pendek dari setiap kerja dakwah, betapapun besar atau kecilnya ia.

Tujuan ini menuntut seorang aktifis dakwah untuk mengerahkan jerih payah yang memadai demi upaya pencapaian dan perwujudannya.

3 – وَضْعُ الْبَرَامِجِ اَلْمُتَنَوِّعَةِ لِلدُّعَاةِ مِنْ قِبَلِ قِيَادَاتِ الدَّعْوَةِ، وَالْمُنَاقَشَةُ الْمُسْتَفِيْضَةِ حَوْلَ جَوَانِبِ الْخَلَلِ وَالْقُصُوْرِ فِيْهَا، وَمُوَاكَبَةُ الْعَصْرِ وَإِعْطَاءُ جَوَانِبَ إِبْدَاعِيَّةٍ مُتَجَدِّدَةٍ حَتَّى لَا نَقَعَ فِيْ قِلَّةِ التَّكَالِيْفِ، وَالَّتِيْ تَدْعُوْ إِلَى الرُّكُوْنِ وَالدَّعَةِ

  1. Perlunya qiyadah menyiapkan berbagai macam program untuk para aktifis dakwah, melakukan berbagai diskusi yang luas dan mendalam untuk melihat berbagai celah dan kelemahan, dan untuk mengikuti berbagai perkembangan zaman, memunculkan berbagai kreasi dan inovasi yang selalu terupdate, agar para aktifis dakwah tidak kekurangan tugas, kekurangan yang dapat membuat mereka bersantai.

4 – لَا تَنْتَظِرِ النَّتَائِجِ: قَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَيْكَ أَلاَّ يَزَّكَّى} [عبس: 7]، وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ البَلاغُ المُبِينُ} [النور: 54]، وَعَلَيْنَا بَذْلُ كُلِّ الْأَسْبَابِ اَلْمُؤَدِّيَةِ إِلَى الثِّمَارِ الْمَرْجُوَّةِ، فَإِنْ حَصَلَتْ فَلْنَحْمَدِ اللهَ، وَإِنْ تَأَخَّرَتْ أَوْ تَخَلَّفَتْ فَالْأَسْبَابُ يَعْلَمُهَا اللهُ، وَلَسْنَا مُحَاسَبِيْنَ عَلَى ذَلِكَ، وَلَا لَوْمَ عَلَيْنَا

  1. Jangan menunggu hasil. Allah SWT berfirman: Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman) (QS. Abasa: 7). Juga berfirman: Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas (QS. An-Nur: 54).

Untuk itu, para aktifis dakwah berkewajiban untuk mengupayakan berbagai sebab yang dapat mengantarkan kepada hasil yang diharapkan. Jika berhasil, Alhamdulillah, dan jika ada kelambatan, atau meleset, maka, sebab dan rahasianya ada di sisi Allah SWT, dan para aktifis dakwah itu tidaklah dihisab atas hal itu dan tidak dicela.

5- فَتْحُ مَجَالَاتِ النَّصِيْحَةِ بَيْنَ الْعَامِلِيْنَ فِيْ حَقْلِ الدَّعْوَةِ لِتَنْشِيْطِ الْكُسَالَى، وَإِعَانَةِ الْعَامِلِيْنَ، وَعَدَمِ الاِرْتِكَازِ عَلَى شَخْصِيَّاتٍ مُعَيَّنَةٍ، فَإِنَّ هَذَا يَتَنَافَى مَعَ التَّجْدِيْدِ فِيْ قِيَادَاتِ الدَّعْوَةِ

  1. Membuka ruang nasihat untuk sesama aktifis dakwah demi menggiatkan kembali mereka yang terkena penyakit malas, menolong dan membantu yang masih aktif serta tidak bertumpu kepada figure-figur tertentu, sebab, figuritas itu bertolak belakang dengan kemestian pembaharuan dalam kepemimpinan dakwah

6- اَلتَّوْبَةُ وَالاِسْتِغْفَارُ مِمَّا يُعِيْنُ الْمَرْءَ عَلَى تَحَمُّلِ مَشَاقِّ الدَّعْوَةِ وَمُمَارَسَةِ الدَّعْوَةِ بِاسْتِمْرَارٍ، فَإِنَّ هَذَا مِمَّا يُقَوِّي الْإِيْمَانَ وَيَزِيْدُهُ؛ لِهَذَا اِعْتَبَرَ عُلَمَاءُ الْإِسْلَامِ أَنَّ الدَّعْوَةَ مِنَ الْقُرُبَاتِ الَّتِيْ تُقَدَّمُ عَلَى الْعِبَادَاتِ الْقَاصِرَةِ كَنَوَافِلِ الصَّلَاةِ، مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا أَهَمُّ مِنْهَا، وَأَنَّهَا مِمَّا تَزِيْدُ الْإِيْمَانَ، ثُمَّ عَلَى الدَّاعِيَةِ أَنْ يَنْظُرَ لِجَوَانِبِ الْقُصُوْرِ عِنْدَهُ مِمَّا يُضْعِفُ إِيْمَانَهُ، فَيَهْتَمُّ بِإِصْلَاحِهِ حَتَّى لَا يَعُوْدَ عَلَى دَعْوَتِهِ بِالْكَسَلِ وَالتَّوَانِيْ

  1. Taubat dan istighfar sangat membantu seorang da’i untuk memikul beban dan kesulitan dakwah dan membuatnya kontinyu dalam menjalani aktifitas dakwah. Sebab keduanya memperkokoh keimanan dan menambahnya. Oleh karena inilah, para ulama Islam memandang bahwa berdakwah merupakan satu bentuk ibadah yang lebih didahulukan daripada ibadah-ibadah personal semisal shalat sunnat. Pandangan mereka ini menandakan bahwa berdakwah lebih penting daripada ibadah personal, dan bahwasanya berdakwah itu menambah keimanan. Lalu, seorang aktifis dakwah hendaklah memandang sisi-sisi kekurangan yang membuat keimanannya melemah, lalu memberi perhatian untuk memperbaikinya, agar tidak memberi dampak negative kepada dakwahnya yang berupa malas dan ogah-ogahan.

7- اَلتَّوَازُنُ بَيْنَ مَطَالِبِ الدَّاعِيَةِ الشَّخْصِيَّةِ وَدَعْوَتِهِ، فَلَا يَخْلِطُ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ، وَيَجْعَلُ لِكُلٍّ وَقْتَهَ الْمُنَاسِبَ، وَعَلَيْهِ أَنْ لَا يَتَطَلَّعَ إِلَى مَا لَدَى أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ تَرَفٍ وَسَعَةٍ فِي الرِّزْقِ. قَالَ تَعَالَى: {وَلاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى} [طه: 131]. رَوَى الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : »اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدِرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ«.

  1. Tawazun antara kebutuhan pribadi dan tuntutan dakwah, tidak mencampur adukkan urusan keduanya, dan menetapkan waktu yang tepat untuk masing-masing urusan. Untuk itu, janganlah seorang aktifis dakwah mengincar dunia dengan segala gemerlapnya yang dimiliki oleh ahli dunia. Allah SWT berfirman: Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal (QS. Thaha: 131).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abi Hurairah (RA): lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kamu, dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kamu, sebab, yang demikian ini lebih layak untuk tidak memandang remeh nikmat Allah SWT yang diberikan kepadamu.

8- فِي الْقِيَادَاتِ وَفِيْ أَقْسَامِهَا لَا بُدَّ مِنْ إِيْجَادِ جِهَةٍ، عَمَلُهَا مُتَابَعَةُ مَنَاشِطِ الدَّعْوَةِ وَإِيْجَادِ مَيَادِيْنَ أُخْرَى لِلاِنْطِلَاقِ بِهَا، وَعَدَمِ الاِكْتِفَاءِ بِالْمَنَاشِطِ الْحَالِيَةِ، حَتَّى نَفْتَحَ مَجَالَاتٍ رَحْبَةً لِكَسْبِ الْمَدْعُوِّيْنَ، وَلِإِبْعَادِ النُّفُوْسِ عَنِ الْمَلَلِ وَالسَّآمَةِ

  1. Pada jajaran qiyadah dan bidang-bidang yang ada, perlu ada satu bagian yang kerjanya melakukan:
  • Mutabaah terhadap berbagai aktifitas dakwah.
  • Memunculkan kegiatan-kegiatan dan inovasi baru, serta tidak mengkungkung diri dengan kegiatan-kegiatan yang selama ini sudah ada, demi terbukanya lahan baru nan luas untuk merekrut mad’u-mad’u baru, dan untuk menghindari munculnya kejenuhan dan kebosanan.

9- لَا بُدَّ مِنْ إِيْجَادِ مَحَاضِنَ عَلْمِيَّةٍ لِتَكْوِيْنِ أَعْدَادٍ كَافِيَةٍ وَمُؤَهَّلَةٍ لِلدَّعْوَةِ، وَلَا يُوْضَعُ أَيُّ دَاعِيَةٍ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ كَفَاءَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى تَحَمُّلِ الْمَسْئُوْلِيَّةِ

  1. Mesti ada mahadhin (lembaga-lembaga, atau wadah-wadah) ilmiah untuk membentuk sejumlah aktifis dakwah yang memenuhi sisi kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan tantangan dan peluang dakwah ke depan, dan jangan sampai terjadi penempatan seorang aktifis dakwah pada suatu pos kecuali setelah diketahui kafaah dan kemampuannya dalam memikul beban tanggung jawab dakwah.

10- عَلَيْنَا تَفَهُّمَ أَوْجُهِ الاِخْتِلَافِ، وَمَا الَّذِيْ يَسُوْغُ مِنْهُ وَمَا الَّذِيْ لَا يَسُوْغُ، وَالتَّعَامُلِ مَعَهُ بِحَسَبِ النُّصُوْصِ الشَّرْعِيَّةِ، وَلَا نَجْعَلِ الاِخْتِلَافَ وَسِيْلَةً مِنْ وَسَائِلِ التَّثْبِيْطِ وَالْكَسَلِ فِي الدَّعْوَةِ؛ لِأَنَّهُ طَارِئٌ، وَالدَّعْوَةُ أَصْلٌ وَفَرِيْضَةٌ

  1. Kita perlu memahami berbagai sisi perbedaan, memahami mana perbedaan yang dibenarkan dan mana yang tidak dibenarkan, lalu berinteraksi dengan berbagai perbedaan itu sesuai dengan nash-nash syar’iy, dan janganlah kita menjadikan perbedaan itu sebagai sebab yang mengakibatkan terjadinya penggembosan dan kemalasan dalam berdakwah, sebab perbedaan itu bukanlah masalah pokok dan ia hanyalah hal yang bersifat temporary, sedangkan berdakwah itulah yang bersifat pokok dan merupakan kewajiban agama.

11- وَيَنْبَغِيْ أَنْ نَتَنَاصَحَ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَادَةِ الدَّعْوَةِ، وَذَلِكَ:

  1. Perlu ada keadaan saling menasehati antara aktifis dakwah dan para qiyadah dakwah,yang demikian ini demi:

– بِإِحْيَاءِ رُوْحِ الْمُتَابَعَةِ وَإِصْلَاحِ جَوَانِبِ الْقُصُوْرِ أَوَّلًا بِأَوَّلِ

  • Menghidupkan spirit mutabaah dan memperbaiki sisi-sisi kelemahan secara dini

– بِضَرُوْرَةِ رَفْعِ الْمَعْنَوِيَّاتِ لِلدُّعَاةِ الْفَاعِلِيْنَ وَمُحَاسَبَةِ الْمُقَصِّرِيْنَ، وَذَلِكَ بِإِحْيَاءِ مَبْدَأِ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ

  • Memenuhi tuntutan kemestian adanya upaya peningkatan ma’nawiyah aktifis dakwah yang aktif dan mengevaluasi mereka yang lemah, dan demi menghidupan prinsip reward and punishment.

– وَبِالنَّظَرِ إِلَى أَنْفُسِهِمْ وَجَعْلِهَا فِيْ مَحَلِّ الاِقْتِدَاءِ لِلدُّعَاةِ، فِي النَّشَاطِ وَالْجِدِّيَّةِ وَالتَّنَوُّعِ فِيْ وَسَائِلِ الدَّعْوَةِ

  • Membangun kesadaran para qiyadah untuk menjadikan dirinya sebagai objek yang diteladani oleh para aktifis dakwah dalam hal semangat, kesungguhan dan kemampuan membuat diversifikasi (keragaman) dalam berbagai sarana dakwah.

– بِإِحْيَاءِ الْجَوِّ التَّنَافُسِيِّ فِيْ حَقْلِ الدَّعْوَةِ، وَإِبْرَازِ الْأَعْمَالِ النَّاجِحَةِ وَالْمُثْمِرَةِ، حَتَّى يَلْتَفِتَ إِلَيْهَا الدُّعَاةُ

  • Menghidupankan nuansa kompetisi positif di lapangan dakwah dan menonjolkan kerja-kerja sukses nan produktif, supaya menjadi titik perhatian para aktifis dakwah.

– إِحْيَاءُ رُوْحِ الْإِخْلَاصِ لله تَعَالَى وَاسْتِشْعَارُهُ بِشَكْلٍ دَائِمٍ يَقْضِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْأَمْرَاضِ، وَمِنْهَا الْكَسَلُ، فَذَلِكَ الْمُخْلِصُ لَا يَحْرِصُ عَلَى ثَنَاءِ النَّاسِ عَلَى جُهُوْدِهِ، كَمَا أَنَّ الْإِسَاءَةَ إِلَيْهِ لَا تُثَبِّطُ هِمَّتَهُ فِي الْعَمَلِ وَالنَّشَاطِ، كَمَا أَنَّهُ إِذَا فَرَّطَ الآخَرُوْنَ تَرَاهُ بَاقِيًا عَلَى جُهُوْدِهِ وَبِهِمَّةٍ عَالِيَةٍ؛ لِأَنَّهُ لَا يَرْجُو الْأَجْرَ إِلَّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

  • Menghidupkan jiwa ikhlash karena Allah SWT dan bahwasanya mencita rasakan ikhlas secara terus menerus dapat mengikis habis banyak penyakit dakwah, yang diantaranya adalah malas dalam berdakwah. Sebab, seseorang yang ikhlas, ia tidaklah berambisi untuk mendapatkan pujian manusia atas jerih payahnya, sebagaimana sikap dan tindakan buruk yang menimpanya tidaklah akan menggembosi semangatnya dalam kerja dan menjalani berbagai aktifitas. Ikhlas juga yang menjadikan seorang aktifis dakwah tetap mengerahkan seluruh potensinya dengan semangat tinggi meskipun yang lainnya sudah tampak olehnya sebagai orang-orang yang melemah. Yang demikian ini karena ia tidak mengharap upah dan imbalan apapun kecuali dari Allah SWT.

 

Tidak Perlu Ayah (jika hanya) untuk Cari Nafkah…


 

Maaf, mungkin agak terdengar sombong jika kalimat ini terlontar dari mulut seorang isteri, atau bahkan seorang anak. Karena sesungguhnya, salah satu tugas seorang lelaki adalah menafkahi keluarganya, baik sebagai suami, sebagai Ayah maupun sebagai anak kepada orang tuanya yang sudah sepuh.

Namun faktanya, tak sedikit para lelaki yang menggadaikan kehormatannya lantaran tak menjalankan perannya mencari nafkah. Ini bukan soal besar kecil hasil yang didapat, tetapi soal menjalankan perannya dalam keluarga.

Tak sedikit pula yang perannya mencari nafkah justru tergantikan oleh isteri atau bahkan anaknya. Setidaknya kalaupun bukan tergantikan, ya sedikit tergeser lah. Coba lihat, banyaknya perempuan yang justru “terpaksa” bekerja lantaran peran suaminya dirasa kurang, dalam bahasa yang lebih lugas, uang belanja suami tak mencukupi. Maaf, saya tak bicara soal perempuan yang bekerja karena memang mereka senang dan bagian dari aktualisasi diri. Untuk yang satu ini, saya cukup menghargai.

Kenapa tiba-tiba saya mengangkat tema yang sangat sensitif ini?

Sabar. Bukan tema ini yang saya akan bahas, tetapi tentang peran Ayah yang sebenarnya bukan hanya soal nafkah. Karena kalau cuma soal nafkah, sorry bung, kini peran itu juga banyak dilakukan oleh perempuan (isteri atau ibunya anak-anak), dan bahkan oleh anak-anak. Lihat saja anak jalanan, orang tuanya ada, malah leyeh leyeh di bawah pohon sementara anaknya ngamen di lampu merah dengan resiko tertabrak, atau pelecehan.

Ini sebenarnya gara-gara saya tak sengaja mendengar sebuah percakapan sepasang suami isteri. “Ayah sudah lelah mencari nafkah, urusan sekolah anak-anak itu urusan ibu…” kata si Ayah ke ibunya anak-anak.

Di kesempatan lain, juga pernah dengar seperti ini, “Bu, tolong hargai Ayah, setiap Ayah pulang rumah selalu berantakan. Kamu ngapain aja sih? Ayah capek kerja seharian, sampai rumah lihat rumah berantakan begini…” tanpa peduli lagi pada kenyataan bahwa setiap jam rumah dirapihkan, dan hanya butuh waktu lima menit akan kembali berantakan oleh ulah anak-anak.

Terus? Kalau sudah mencari nafkah, Ayah nggak perlu direpotkan sama urusan pendidikan anak? Belajarnya anak, antar ke sekolah, rapat orang tua murid dan urusan lainnya.

Kalau sudah mencari nafkah, Ayah jadi haram pegang sapu? Bersih bersih rumah, bantu isterinya yang sejak bangun pagi sampai tengah malam sibuk dengan urusan rumah yang (memang) nggak ada habisnya?

Sederhananya, memangnya fungsi Ayah cuma cari nafkah?

Seringkali sosok Ayah ada di rumah, tetapi hanya fisiknya yang hadir, tidak jiwanya, tidak perannya.

Anak bertanya soal pelajaran, lalu dengan enteng berkata, “Tanya ibu sana, Ayah capek…” padahal sedang main gadget.

Sosok Ayah harus hadir secara utuh di rumah, bagi isterinya, bagi anak-anaknya, bagi keluarganya. Keluarga perlu warna seorang Ayah, karena peran Ayah sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin, bukan cuma sebagai pencari nafkah.

Sosok Ayah perlu hadir untuk memberi rasa aman, nyaman, ketenangan dan percaya diri seluruh anggota keluarga. Jangan sampai justru ada Ayah malah bikin nggak nyaman, hati-hati. “Tenang, ada Ayah…” kalimat ini suatu waktu mungkin keluar dari mulut bocah-bocah karena lelaki itu memang benar-benar bisa diandalkan. Tangguh.

Kehadiran Ayah sejatinya dirindukan, oleh isteri maupun anak-anaknya. Jangan abaikan pesan singkat dari anak misalnya, “Ayah jam berapa pulang?” Ada rindu tersirat dari kalimat itu.

Dua tiga hari Ayah tak pulang karena tugas kantor, suasana rumah jadi terasa sepi, isteri dan anak-anak merasa kurang aman dan nyaman. Jika masih seperti ini, tersenyumlah. Artinya sosok Ayah masih sangat dibutuhkan sebagai pelindung, pengayom dan pemberi rasa aman.

Hadirnya sosok Ayah juga menjadi contoh baik bagi anak lelaki, menjadi contekan bagi anak perempuan kelak mencari pasangan. Pernah kah anak perempuan Anda berkata, “Aku ingin punya suami kelak seperti Ayah” … Ah, indahnya kalimat itu terdengar.

Hadirnya seorang Ayah secara utuh, bukan soal seberapa banyak waktu yang dipunyai di tengah kesibukan bekerja. Sebab, nyatanya masih banyak Ayah yang bisa tetap “hadir” di keluarganya meski waktunya tak banyak. Ini soal peran, bukan soal waktu. Ini tentang kesadaran, bukan tentang seberapa sejahteranya sebuah keluarga. Peran ini, tak bicara soal pangkat, status sosial, apalagi soal besar kecilnya gaji sang Ayah.

Satu lagi, lelaki yang dipanggil Ayah ini pun bukan sosok yang bikin suasana rumah jadi tegang, serius melulu, kaku, apalagi angker. Anak-anak nggak hanya butuh Ayah sebagai orang tua, tetapi juga butuh sahabat bercerita, teman bermain, lawan berkelakar, atau “pacar” yang bisa digandeng ke tempat hiburan misalnya.

Ah terlalu panjang rasanya bahas peran Ayah. Bukan kapasitas saya juga bahas parenting disini, belum apa-apa, saya cuma seorang Ayah yang terus belajar untuk menjadi Ayah yang lebih baik.

Agar semoga sosok ini selalu dirindukan, ada dan tiadanya nanti. Tak tergantikan di hati seluruh anggota keluarga, sampai kapanpun, kapanpun.

Eh iya, nafkah dari Ayah tetap perlu kok. Ya kan bu? @bayugawtama

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================