Tag Archive | tidak akan

MALAS BERDAKWAH


MALAS BERDAKWAH

بسم الله الرحمن الرحيم

اَلْكَسَلُ اَلدَّعَوِيُّ

Malas Berdakwah

الشيخ: مراد بن أحمد القدسي

Syekh Murad bin Ahmad al-Qudsi

السلام عليكم ورحمة الله

مِنَ الْمَعْلُوْمِ أَنَّ الدَّعْوَةَ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ،

Telah diketahui bahwa berdakwah dalam arti mengajak manusia kepada Allah SWT termasuk amal ibadah yang sangat agung,

لِمَا ثَبَتَ فِيْ فَضْلِهَا مِنَ الْفَضَائِلِ وَالْأُجُوْرِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنَ النَّفْعِ لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ تَقْلِيْلِ الشُّرُوْرِ وَالْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ بَيَانِ فَسَادِ الْمُفْسِدِيْنَ وَتَبْيِيْنِ حَقَائِقِهِمْ لِلنَّاسِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ تَعْلِيْمِ النَّاسِ أُمُوْرَ الدِّيْنِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ إِقَامَةِ الْحُجَّةِ وَالْأَعْذَارِ إِلَى اللهِ.

Yang demikian ini karena:

  1. Banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaan dan pahala yang besar dalam berdakwah.
  2. Dakwah juga memberi banyak manfaat bagi kaum muslimin.
  3. Dakwah juga berfungsi meminimalisir keburukan dan kerusakan di muka bumi.
  4. Juga berfungsi untuk menjelaskan kerusakan pihak-pihak yang merusak dan menjelaskan berbagai fakta kepada manusia.
  5. Juga berguna untuk memberi pengajaran berbagai urusan agama kepada manusia.
  6. Dan tentunya, berdakwah merupakan satu bentuk penegakan hujjah dan alasan kepada Allah SWT.

وَفِيْ وَاقِعِنَا الْيَوْمَ نُشَاهِدُ ضَعْفًا وَتَوَانِيَ فِي الدَّعْوَةِ، وَعَدَمَ ابْتِكَارٍ فِيْ وَسَائِلِهَا، وَعَدَمَ مُمَارَسَةِ الدَّعْوَةِ بِشَكْلٍ دَائِمٍ وَمُسْتَمِرٍّ وَفَاعِلِيَّةٍ.

Sayangnya, menyaksikan kenyataan sekarang ini, kita menyaksikan adanya kelemahan dan sikap ogah-agahan dalam berdakwah, tiadanya kreatifitas, dan aktifitas dakwah yang terhenti dan atau tidak lagi efektif.

فَكَانَ الْحَدِيْثُ عَنْ هَذَا الْمَوْضُوْعِ “اَلْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ” وَفِيْهِ مَبَاحِثُ:

مَفْهُوْمُهُ

مَظَاهِرُ الْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ

أَسْبَابُهُ

آثَارُهُ

عِلَاجُهُ

Untuk inilah makalah ini hendak berbicara tentang kemalasan dalam berdakwah yang mencakup:

  1. Pengertian malas dalam berdakwah.
  2. Gejala dan tanda-tanda malas dalam berdakwah.
  3. Sebab-sebab malas dalam berdakwah.
  4. Dampak dan pengaruh malas dalam berdakwah.
  5. Terapi terhadap penyakit malas dalam berdakwah.
(1) مَفْهُوْمُهُ:

هُوَ ضَعْفُ الاِنْدِفَاعِ الذَّاتِيِّ وَالْجَمَاعِيِّ فِيْ مَجَالِ الْأَنْشِطَةِ الدَّعَوِيَّةِ الْمُخْتَلِفَةِ.

Pertama: Pengertian Malas dalam Berdakwah

Melemahnya motivasi baik bersifat personal maupun kolektif di berbagai bidang aktifitas dakwah.

(2) مَظَاهِرُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Kedua: Gejala dan Tanda-Tanda Malas Berdakwah

– اَلتَّأَخُّرُ عَنْ أَدَاءِ الْمُهِمَّةِ الْمُنَاطَةِ بِنَا

  1. Terlambat dalam mengerjakan tugas dakwah yang diberikan kepadanya

– عَدَمُ الْحِرْصِ عَلَى الدَّعْوَةِ أَوِ النَّدَمُ عَلَى فَوَاتِهَا

  1. Hilangnya semangat berdakwah, atau tidak adanya penyesalan atas hilangnya peluang dakwah

– عَدَمُ الْجِدِّيَّةِ وْالْفَاعِلِيَّةِ فِي الْمَنَاشِطِ الدَّعَوِيَّةِ

  1. Tidak bersungguh-sungguh dan tidak aktif dalam berbagai aktifitas dakwah

– اِخْتِلَاقُ الْأَعْذَارِ فِيْ حَالِ الْمُحَاسَبَةِ

  1. Membuat-buat alasan saat dievaluasi

– اَلتَّفَاعُلُ مَعَ الْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْأَنْشِطَةِ اَلْمَطْلُوْبَةِ

  1. Berinteraksi dengan batas minimal terhadap aktifitas yang diminta

– إِهْمَالُ الْأَنْشِطَةِ إِلَّا عِنْدَ اللَّوْمِ

  1. Mengabaikan berbagai aktifitas kecuali saat dicela

– فِي الْأَنْشِطَةِ الَّتِيْ لَا يَعْرِفُهَا الدَّاعِيَةُ لَا يَحْرِصُ بِالسُّؤَالِ عَنْهَا

  1. Terkait berbagai kegiatan yang tidak dikenal, tidak ada semangat untuk sekedar menanyakannya

– عَدَمُ الْحِرْصِ فِي التَّغْيِيْرِ إِلَى الْأَفْضَلِ فِي الْأَنْشِطَةِ غَيْرِ الْمُثْمِرَةِ وَالاِكْتِفَاءِ بِالْقَدِيْمِ الْعَتِيْقِ

  1. Tidak ada semangat untuk melakukan perubahan kepada yang lebih baik, padahal aktifitas yang dilakukan terbukti tidak produktif, dan berpuas diri dengan yang lama yang tidak produktif itu

– تَثْبِيْطُ الْآخَرِيْنَ عَنِ التَّفَاعُلِ مَعَ الْأَنْشِطَةِ.

  1. Menggembosi yang lain agar mereka tidak interaktif terhadap berbagai aktifitas dakwah

(3) أَسْبَابُ الْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ:

Ketiga: Sebab-Sebab Malas dalam Berdakwah

– اَلضَّعْفُ فِيْ مَعْرِفَةِ فَضَائِلِ الدَّعْوَةِ وَاسْتِشْعَارِ أَهَمِّيَّتِهَا

  1. Melemahnya pengetahuan terhadap keutamaan dan urgensi berdakwah

– غِيَابُ الْأَهْدَافِ الدَّعَوِيَّةِ أَوْ عَدَمُ الْوُضُوْحِ فِيْهَا

  1. Sirnanya tujuan-tujuan dakwah atau minimal ketidak jelasan tujuan-tujuan dakwah

– قِلَّةُ التَّكَالِيْفِ الْمُنَاطَةِ بِالدُّعَاةِ، فَيَجْعَلُهُ يَنْشَغِلُ بِالْمُبَاحَاتِ، مِمَّا يَجْعَلُهُ يَأْلَفُ هَذَا الْوَضْعَ، وَيُشْغِلُهُ عَنِ التَّحَرُّكِ فِيْ أُمُوْرِ الدَّعْوَةِ

  1. Minimnya tugas yang dibebankan kepada para aktifis dakwah, sehingga mereka tersibukkan oleh hal-hal mubah, lalu mereka menjadi terbiasa dengan keadaan ini, selanjutnya mereka lupa untuk bergerak dalam berbagai urusan dakwah

– حُدُوْثُ بَعْضِ النَّتَائِجِ السَّلْبِيَّةِ بَعْدَ أَدَاءِ الْأَعْمَالِ الدَّعَوِيَّةِ تُسَبِّبُ لِلْبَعْضِ إِحْبَاطًا أَوْ عُزُوْفًا عَنِ الْعَمَلِ

  1. Terjadinya hasil-hasil negative dari kerja-kerja dakwah, sehingga menyebabkan sebagian aktifis putus asa, atau ogah-ogahan untuk bekerja lagi

– قِلَّةُ الْمُشَارَكَةِ مِنَ الْكَثِيْرِ مِنَ الدُّعَاةِ، مِمَّا يُشْعِرُ النَّاشِطَ مِنْهُمْ بِثِقَلِ التَّكَالِيْفِ الَّتِيْ يَتَحَمَّلُهَا وَحْدَهُ، مِمَّا يَحْدُوْ بِهِ كَرَدِّ فِعْلٍ لِعَدَمِ التَّفَاعُلِ مِثْلَهُ وَمِثْلَ الْآخَرِيْنَ

  1. Sedikitnya partisipasi aktifis dakwah lainnya, sehingga yang masih aktif merasa keberatan beban, dan sebagai reaksinya, iapun mengikuti yang lain.

– تَعَجُّلُ قَطْفِ الثِّمَارِ يَجْعَلُ الْكَثِيْرَ – وَكَرَدَّةِ فِعْلٍ – يُفَضِّلُوْنَ الاِبْتِعَادَ عَنِ الْمُشَارَكَةِ وَالْعَمَلِ الْجَادِّ

  1. Terburu-buru untuk memetik hasil kerja dakwah, dan sebagai reaksinya, banyak yang memilih untuk menjauh dari partisipasi dakwah dan kerja-kerja serius

– ضَعْفُ الْجَانِبِ الْإِيْمَانِيِّ وَالْقَنَاعَاتِ فِي الدَّعْوَةِ، وَجَعْلُهَا كَأَنَّهَا وَظِيْفَةٌ تُؤَدَّى وَيَتَقَاضَى عَلَيْهَا مُكَافَأَةً أَوْ رَاتِبًا

  1. Melemahnya sisi keimanan dan qana’ah da’awiyah, serta menjadikan dakwah seakan-akan profesi yang menghasilkan uang

– اَلاِنْشِغَالُ بِالدُّنْيَا وَالْإِغْرَاقُ فِيْهَا عَلَى حِسَابِ الدَّعْوَةِ

  1. Tersibukkan oleh urusan dunia dan tenggelam di dalamnya dengan mengabaikan dakwah

– اَلْمَلَلُ مِنَ الرُّوْتِيْنِ اَلْمُتَكَرِّرِ وَعَدَمِ التَّجْدِيْدِ فِي الْمَنَاشِطِ، وَالنَّفْسُ بِطَبْعِهَا تُحِبُّ التَّجْدِيْدَ

  1. Bosan terhadap rutinitas dan tiadanya pembaharuan dalam berbagai aktifitas dakwah, padahal, jiwa manusia menyukai hal-hal baru

– اَلتَّأَثُّرُ بِالْكُسَالَى وَالْمُثَبِّطِيْنَ فِي الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى

  1. Terpengaruh oleh meraka yang malas dan oleh pihak-pihak yang menggembosi dalam berdakwah

– تَسَنُّمُ الْبَعْضِ قَافِلَةَ الدَّعْوَةِ قَبْلَ النُّضُوْجِ وَتَكْوِيْنِ الْقُدُرَاتِ الْكَافِيَةِ فِي النَّفْسِ لِتَحَمُّلِ أَعْبَاءِ الدَّعْوَةِ

  1. Ada yang “naik pangkat” dalam kafilah dakwah sebelum matang dan sebelum terbentuk berbagai kemampuannya untuk memikul berbagai beban dakwah

– اَلاِخْتِلَافُ وَالتَّفَرُّقُ وَكَثْرَةُ وِجْهَاتِ النَّظَرِ، مِمَّا قَدْ يُسَبِّبُ الاِبْتِعَادَ عَنِ الْعَمَلِ خَوْفًا مِنَ الزَّلَلِ، وَخَوْفًا مِنَ التَّصْنِيْفِ أَوِ الاِتِّهَامِ

  1. Adanya perbedaan, perpecahan dan berbagai sudut pandang, hal yang menyebabkan seorang aktifis dakwah menjauhi kerja dakwah karena takut salah, takut di-tashnif (dikelompokkan) atau takut terkena tuduhan

مِنَ الْأَسْبَابِ مِنْ قَادَةِ الدَّعْوَةِ

Sebab Malas Berdakwah Akibat dari Pimpinan

– ضَعْفُ الْمُتَابَعَةِ مِنْ قِبَلِ الْمَسْئُوْلِيْنَ، مِمَّا يَجْعَلُ الْأَفْرَادَ يَشْعُرُوْنَ بِعَدَمِ أَهَمِّيَّتِهِمْ أَوْ عَدَمِ تَنَبُّهِهِمْ عَلَى الْقُصُوْرِ أَوَّلًا بِأَوَّلٍ

  1. Lemahnya mutabaah para pimpinan, hal yang menjadikan setiap aktifis merasa dirinya tidak penting, atau tidak menyadari adanya kelemahan

– عَدَمُ التَّقْدِيْرِ وَالتَّشْجِيْعِ يَجْعَلُ الْبَعْضَ يَشْعُرُ بِأَنَّهُ سَوَاءٌ عَمِلَ أَوْ لَمْ يَعْمَلْ، فَالْأَمْرُ سِيَانِ

  1. Tidak adanya penghargaan dan motivasi, hal yang menyebabkan sebagian aktifis dakwah merasa bahwa antara dia bekerja dan tidak bekerja sama saja

– اَلتَّصَرُّفُ الْخَاطِئُ فِيْ إِعْدَادِ الْمَنَاشِطِ وَأَسَالِيْبِ تَفْعِيْلِهَا مِنْ قِبَلِ الْقَادَةِ، مِمَّا يَجْعَلُ الدُّعَاةَ لَا يَنْظُرُوْنَ إِلَى قُدْوَةٍ أَمَامَهُمْ يَقْتَدُوْنَ بِهِ.

  1. Adanya perilaku yang salah dari pimpinan dalam mempersiapkan berbagai aktifitas dan cara-cara efektifitasnya, hal yang menjadikan para aktifis dakwah tidak melihat adanya sosok teladan di hadapan mereka

(4) آثَارُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Keempat: Dampak dan Pengaruh Malas Berdakwah

– اَلتَّأَخُّرُ فِيْ إِنْجَازِ الْمُهِمَّاتِ الدَّعَوِيَّةِ، مِمَّا يَحْتَاجُ إِلَى جُهْدٍ أَكْبَرَ وَفِيْ وَقْتٍ أَطْوَلَ

  1. Keterlambatan dalam menyelesaikan berbagai tugas dakwah, sehingga memerlukan tambahan tenaga yang lebih besar dan waktu yang lebih lama

– اِخْتِلَاقُ الْأَعْذَارِ عِنْدَ الْمُحَاسَبَةِ مِمَّا يُؤَنِّبُ ضَمِيْرَ الدَّاعِيَةِ مُسْتَقْبَلًا

  1. Membuat-buat alasan saat dievaluasi, hal yang membuat nurani seorang aktifis dakwah terasa tergores di masa depan

– تَوَقُّفُ الدَّعْوَةِ عِنْدَ حَدٍّ مُعَيَّنٍ مِنَ الْوَسَائِلِ وَعَدَمُ ابْتِكَارِ وَسَائِلَ جَدِيْدَةٍ بِسَبَبِ أَنَّ الْوَسَائِلَ الْقَدِيْمَةَ لَمْ تُنَفَّذْ بَعْدُ

  1. Dakwah hanya terpaku pada sarana tertentu dan tidak ada inovasi memunculkan sarana dakwah baru, dengan alasan, sarana yang lama saja belum terlaksana

– سَعَةُ الْهُوَّةِ بَيْنَ الدُّعَاةِ وَبَيْنَ الْجِهَةِ الْمَسْئُوْلَةِ عَنْهُمْ بِسَبَبِ الْمُتَابَعَةِ وَالتَّقْوِيْمِ، مِمَّا يَفْتَحُ الْمَجَالَ لِلتَّرَاشُقِ بِالْكَلِمَاتِ اللَّامَسْئُوْلَةِ

  1. Adanya gap yang terlalu jauh antara aktifis dakwah dengan pimpinanya dikarenakan faktor mutabaah dan evaluasi, hal yang membuka celah untuk saling menyerang dengan tanpa tanggung jawab

– تَأَخُّرُ تَحْقِيْقِ النَّتَائِجِ الْمَرْجُوَّةِ مِنَ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى

  1. Terlambatnya perealisasian hasil yang diharapkan dari aktifitas berdakwah

– تَسَلُّطُ أَعْدَاءِ الدَّعْوَةِ عَلَى الدَّعْوَةِ وَالدُّعَاةِ، فَمَنْ لَا يُهَاجِمُ لَا بُدَّ أَنْ يُهَاجَمُ.

  1. Hegemoni musuh-musuh dakwah terhadap dakwah dan para aktifitsnya, sebab “siapa yang tidak menyerang pasti diserang”.

(5) عِلَاجُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Kelima: Terapi terhadap Kemalasan Berdakwah

1 – مِمَّا يَجْعَلُ الدَّاعِيَةَ يَتَفَاعَلُ مَعَ دَعْوَتِهِ: مَعْرِفَةُ مَا لَهُ مِنْ أَجْرٍ إِذَا قَامَ بِهَا، أَوِ التَّعَرُّفُ عَلَى أَهَمِّيَّةِ الدَّعْوَةِ.

وَأُجُوْرُ الدَّعْوَةِ تَكْمُنُ فِي الْآتِيْ:

  • Diantara hal-hal yang menjadikan seorang da’i aktif dalam berdakwah adalah mengetahui pahala yang akan didapatnya, atau mengetahui urgensi berdakwah.

Pahala-pahala berdakwah dapat dijelaskan sebagai berikut:

– أَنَّهَا مِنْ هَدْيِ الرَّسُوْلِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَتْبَاعِهِ، قَالَ تَعَالَى: {قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي} [يوسف: 108]

  • Bahwasanya dakwah itu adalah jalan hidayah para rasul dan para pengikutnya. Allah SWT berfirman: Katakanlah (wahai Muhammad): inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin (QS. Yusuf: 108).

– أَنَّ فَاعِلَهَا مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ قَوْلًا، قَالَ تَعَالَى: {وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ المُسْلِمِينَ} [فصلت:33].

  • Bahwasanya pelaku dakwah adalah orang yang paling baik perkataannya. Allah SWT berfirman: Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikandan berkata: Sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri) (QS. Fushshilat: 33).

– رَوَى التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ أُمَامَةَ: »إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوْتَ، لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ«. وَتَسَاءَلَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَنْ سَبَبِ دُعَاءِ هَؤُلَاءِ وَمِنْهُمُ النَّمْلَةُ وَالْحُوْتُ؟ فَأَجَابُوْا: قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ: “أَنَّ نَفْعَ الْعِلْمِ يَعُمُّ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْحُوْتَ، فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ عُرِفُوْا بِالْعِلْمِ وَمَا يَحِلُّ وَيَحْرُمُ، وَأَوْصُوْا بِالْإِحْسَانِ إِلَى كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِلَى الْمَذْبُوْحِ وَالْحُوْتِ، فَأَلْهَمَ اللهُ تَعَالَى اْلكُلَّ اَلاِسْتِغْفَارَ لَهُمْ؛ جَزَاءً لِحُسْنِ صَنِيْعِهِمْ”.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abu Umamah (RA): Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat, dan seluruh penghuni langit dan bumi, termasuk semut di dalam lubangnya, dan termasuk ikan di lautan, sungguh mereka mengucapkan shalawat kepada orang yang mengajatkan kebaikan kepada manusia.

Para ulama bertanya tentang sebab yang melatar belakangi do’a mereka, termasuk do’a semut dan ikan di lautan?

Ibnu Qudamah berkata: bahwasanya manfaat ilmu itu meliputi apa saja, termasuk ikan di lautan, sebab para ulama dikenal sebagai orang yang berilmu yang mengetahui apa yang halal dan apa yang haram. Merekalah yang selalu berpesan agar berbuat baik kepada segala sesuatu, termasuk kepada binatang yang disembelih dan kepada ikan, oleh karena itu, Allah SWT mengilhamkan kepada semuanya agar mereka beristighfar untuk para ulama’, sebagai balasan atas perbuatan mereka yang sangat baik.

رَوَى مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : »مَنْ دَعَا إِلَى الْهُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ«. رَوَى الْبُخَارِيْ مِنْ حَدِيْثِ سَهْلٍ: قَالَ الرَّسُوْلُ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِعَلِيٍّ: »لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ«.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah (RA): Siapa yang mengajak kepada jalan hidayah, maka untuknya pahala seperti yang didapat oleh orang-orang yang mengikutinya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Sahl, Rasulullah SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (RA): Sungguh, Allah SWT memberikan hidayah kepada satu orang disebabkan olehmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.

وَأَمَّا أَهَمِّيَّةُ الدَّعْوَةِ فَتَكْمُنُ فِي الْآتِيْ:

Adapun urgensi berdakwah, dapat dijelaskan sebagai berikut:

أ- أَنَّ فِيْهَا تَثْبِيْتَ الدَّاعِيَةِ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ وَمَا يُحَصِّلُهُ مِنْ أُجُوْرٍ عَظِيْمَةٍ مِنَ الدَّعْوَةِ.

  • Bahwa berdakwah itu memberikan tatsbit (keteguhan) kepada sang da’i untuk tetap berada di atas jalan yang lurus disamping pahala besar yang didapatkannya.

ب- لِأَنَّهَا الطَّرِيْقُ الْأَمْثَلُ فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ

  • Bahwa dakwah merupakan cara paling ideal dalam penegakan amar ma’ruf nahi munkar.

جـ- وَلِأَنَّهَا أَعْظَمُ طَرِيْقٍ لِبَيَانِ مُخَطَّطَاتِ الْأَعْدَاءِ دَاخِلِيًّا وَخَارِجِيًّا حَوْلَ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

  • bahwa berdakwah itu merupakan cara paling agung untuk menjelaskan konspirasi musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, baik musuh dari dalam maupun dari luar

د- وَلِأَنَّ فِيْهَا بَيَانَ الشَّرِيْعَةِ لِلنَّاسِ وَأَحْكَامِهَا، وَرَفْعَ الْجَهْلِ عَنْهُمْ، وَرُجُوْعَ النَّاسِ إِلَى الدِّيْنِ وَالْعَمَلِ بِهِ

  • Bahwa dengan berdakwah seorang da’i dapat menjelaskan tentang syari’at Islam dan ajaran-ajarannya, menghapus kebodohan, mengembalikan manusia kepada agama dan pengamalannya.

هـ- وَلِأَنَّهَا مِنَ الطُّرُقِ فِيْ إِقَامَةِ حُجَّةِ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ وَالْإِعْذَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ

  • Berdakwah merupakan cara menegakkan hujjah Allah SWT kepada para hamba-Nya, dan merupakan bentuk pembelaan di hadapan Allah SWT

و- وَلِأَنَّهَا مِنْ وَسَائِلِ نُصْرَةِ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ وَتَلَاحُمِ الصَّفِّ بَيْنَهُمْ.

  • Bahwa berdakwah merupakan satu sarana untuk menolong kaum muslimin dari para musuhnya, juga merupakan satu cara untuk merapatkan barisan kaum muslimin

2 – مِمَّا يُعِيْنُ عَلَى النَّشَاطِ الدَّعَوِيِّ وُضُوْحُ الْهَدَفِ مِنْهَا، وَتَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ:

  1. Diantara membantu seorang da’i untuk aktif dalam berdakwah adalah adanya tujuan yang jelas.

Ada dua bentuk tujuan:

أ- اَلْهَدَفُ الْعَامُّ: تَحْقِيْقُ رِضَا اللهِ تَعَالَى، وَهَذَا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَجْعَلَ الدَّاعِيَةَ لَا يَهْدَأُ أَبَدًا حَتَّى يَتِمَّ هَذَا الْأَمْرُ أَوْ تَحْقِيْقُ الْعُبُوْدِيَّةِ للهِ تَعَالَى

  • Tujuan umum, yaitu mewujudkan ridha Allah SWT, atau mewujudkan penghambaan kepada-Nya.

Tujuan ini, jika sungguh-sungguh dilaksanakan, akan membuat seorang aktifis dakwah tidak akan pernah diam sebelum terwujudnya tujuan ini.

ب- اَلْهَدَفُ الْخَاصُّ “اَلْجُزْئِيُّ”: وَهُوَ الْهَدَفُ الْقَرِيْبُ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ دَعَوِيٍّ مَهْمَا كَبُرَ أَوْ صَغُرَ، وَبَذْلُ الْجُهْدِ الْكَافِيِّ لِتَحْقِيْقِ الْوُصُوْلِ إِلَيْهِ

  • Tujuan khusus atau juz’iy, yaitu tujuan jangka pendek dari setiap kerja dakwah, betapapun besar atau kecilnya ia.

Tujuan ini menuntut seorang aktifis dakwah untuk mengerahkan jerih payah yang memadai demi upaya pencapaian dan perwujudannya.

3 – وَضْعُ الْبَرَامِجِ اَلْمُتَنَوِّعَةِ لِلدُّعَاةِ مِنْ قِبَلِ قِيَادَاتِ الدَّعْوَةِ، وَالْمُنَاقَشَةُ الْمُسْتَفِيْضَةِ حَوْلَ جَوَانِبِ الْخَلَلِ وَالْقُصُوْرِ فِيْهَا، وَمُوَاكَبَةُ الْعَصْرِ وَإِعْطَاءُ جَوَانِبَ إِبْدَاعِيَّةٍ مُتَجَدِّدَةٍ حَتَّى لَا نَقَعَ فِيْ قِلَّةِ التَّكَالِيْفِ، وَالَّتِيْ تَدْعُوْ إِلَى الرُّكُوْنِ وَالدَّعَةِ

  1. Perlunya qiyadah menyiapkan berbagai macam program untuk para aktifis dakwah, melakukan berbagai diskusi yang luas dan mendalam untuk melihat berbagai celah dan kelemahan, dan untuk mengikuti berbagai perkembangan zaman, memunculkan berbagai kreasi dan inovasi yang selalu terupdate, agar para aktifis dakwah tidak kekurangan tugas, kekurangan yang dapat membuat mereka bersantai.

4 – لَا تَنْتَظِرِ النَّتَائِجِ: قَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَيْكَ أَلاَّ يَزَّكَّى} [عبس: 7]، وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ البَلاغُ المُبِينُ} [النور: 54]، وَعَلَيْنَا بَذْلُ كُلِّ الْأَسْبَابِ اَلْمُؤَدِّيَةِ إِلَى الثِّمَارِ الْمَرْجُوَّةِ، فَإِنْ حَصَلَتْ فَلْنَحْمَدِ اللهَ، وَإِنْ تَأَخَّرَتْ أَوْ تَخَلَّفَتْ فَالْأَسْبَابُ يَعْلَمُهَا اللهُ، وَلَسْنَا مُحَاسَبِيْنَ عَلَى ذَلِكَ، وَلَا لَوْمَ عَلَيْنَا

  1. Jangan menunggu hasil. Allah SWT berfirman: Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman) (QS. Abasa: 7). Juga berfirman: Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas (QS. An-Nur: 54).

Untuk itu, para aktifis dakwah berkewajiban untuk mengupayakan berbagai sebab yang dapat mengantarkan kepada hasil yang diharapkan. Jika berhasil, Alhamdulillah, dan jika ada kelambatan, atau meleset, maka, sebab dan rahasianya ada di sisi Allah SWT, dan para aktifis dakwah itu tidaklah dihisab atas hal itu dan tidak dicela.

5- فَتْحُ مَجَالَاتِ النَّصِيْحَةِ بَيْنَ الْعَامِلِيْنَ فِيْ حَقْلِ الدَّعْوَةِ لِتَنْشِيْطِ الْكُسَالَى، وَإِعَانَةِ الْعَامِلِيْنَ، وَعَدَمِ الاِرْتِكَازِ عَلَى شَخْصِيَّاتٍ مُعَيَّنَةٍ، فَإِنَّ هَذَا يَتَنَافَى مَعَ التَّجْدِيْدِ فِيْ قِيَادَاتِ الدَّعْوَةِ

  1. Membuka ruang nasihat untuk sesama aktifis dakwah demi menggiatkan kembali mereka yang terkena penyakit malas, menolong dan membantu yang masih aktif serta tidak bertumpu kepada figure-figur tertentu, sebab, figuritas itu bertolak belakang dengan kemestian pembaharuan dalam kepemimpinan dakwah

6- اَلتَّوْبَةُ وَالاِسْتِغْفَارُ مِمَّا يُعِيْنُ الْمَرْءَ عَلَى تَحَمُّلِ مَشَاقِّ الدَّعْوَةِ وَمُمَارَسَةِ الدَّعْوَةِ بِاسْتِمْرَارٍ، فَإِنَّ هَذَا مِمَّا يُقَوِّي الْإِيْمَانَ وَيَزِيْدُهُ؛ لِهَذَا اِعْتَبَرَ عُلَمَاءُ الْإِسْلَامِ أَنَّ الدَّعْوَةَ مِنَ الْقُرُبَاتِ الَّتِيْ تُقَدَّمُ عَلَى الْعِبَادَاتِ الْقَاصِرَةِ كَنَوَافِلِ الصَّلَاةِ، مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا أَهَمُّ مِنْهَا، وَأَنَّهَا مِمَّا تَزِيْدُ الْإِيْمَانَ، ثُمَّ عَلَى الدَّاعِيَةِ أَنْ يَنْظُرَ لِجَوَانِبِ الْقُصُوْرِ عِنْدَهُ مِمَّا يُضْعِفُ إِيْمَانَهُ، فَيَهْتَمُّ بِإِصْلَاحِهِ حَتَّى لَا يَعُوْدَ عَلَى دَعْوَتِهِ بِالْكَسَلِ وَالتَّوَانِيْ

  1. Taubat dan istighfar sangat membantu seorang da’i untuk memikul beban dan kesulitan dakwah dan membuatnya kontinyu dalam menjalani aktifitas dakwah. Sebab keduanya memperkokoh keimanan dan menambahnya. Oleh karena inilah, para ulama Islam memandang bahwa berdakwah merupakan satu bentuk ibadah yang lebih didahulukan daripada ibadah-ibadah personal semisal shalat sunnat. Pandangan mereka ini menandakan bahwa berdakwah lebih penting daripada ibadah personal, dan bahwasanya berdakwah itu menambah keimanan. Lalu, seorang aktifis dakwah hendaklah memandang sisi-sisi kekurangan yang membuat keimanannya melemah, lalu memberi perhatian untuk memperbaikinya, agar tidak memberi dampak negative kepada dakwahnya yang berupa malas dan ogah-ogahan.

7- اَلتَّوَازُنُ بَيْنَ مَطَالِبِ الدَّاعِيَةِ الشَّخْصِيَّةِ وَدَعْوَتِهِ، فَلَا يَخْلِطُ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ، وَيَجْعَلُ لِكُلٍّ وَقْتَهَ الْمُنَاسِبَ، وَعَلَيْهِ أَنْ لَا يَتَطَلَّعَ إِلَى مَا لَدَى أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ تَرَفٍ وَسَعَةٍ فِي الرِّزْقِ. قَالَ تَعَالَى: {وَلاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى} [طه: 131]. رَوَى الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : »اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدِرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ«.

  1. Tawazun antara kebutuhan pribadi dan tuntutan dakwah, tidak mencampur adukkan urusan keduanya, dan menetapkan waktu yang tepat untuk masing-masing urusan. Untuk itu, janganlah seorang aktifis dakwah mengincar dunia dengan segala gemerlapnya yang dimiliki oleh ahli dunia. Allah SWT berfirman: Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal (QS. Thaha: 131).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abi Hurairah (RA): lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kamu, dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kamu, sebab, yang demikian ini lebih layak untuk tidak memandang remeh nikmat Allah SWT yang diberikan kepadamu.

8- فِي الْقِيَادَاتِ وَفِيْ أَقْسَامِهَا لَا بُدَّ مِنْ إِيْجَادِ جِهَةٍ، عَمَلُهَا مُتَابَعَةُ مَنَاشِطِ الدَّعْوَةِ وَإِيْجَادِ مَيَادِيْنَ أُخْرَى لِلاِنْطِلَاقِ بِهَا، وَعَدَمِ الاِكْتِفَاءِ بِالْمَنَاشِطِ الْحَالِيَةِ، حَتَّى نَفْتَحَ مَجَالَاتٍ رَحْبَةً لِكَسْبِ الْمَدْعُوِّيْنَ، وَلِإِبْعَادِ النُّفُوْسِ عَنِ الْمَلَلِ وَالسَّآمَةِ

  1. Pada jajaran qiyadah dan bidang-bidang yang ada, perlu ada satu bagian yang kerjanya melakukan:
  • Mutabaah terhadap berbagai aktifitas dakwah.
  • Memunculkan kegiatan-kegiatan dan inovasi baru, serta tidak mengkungkung diri dengan kegiatan-kegiatan yang selama ini sudah ada, demi terbukanya lahan baru nan luas untuk merekrut mad’u-mad’u baru, dan untuk menghindari munculnya kejenuhan dan kebosanan.

9- لَا بُدَّ مِنْ إِيْجَادِ مَحَاضِنَ عَلْمِيَّةٍ لِتَكْوِيْنِ أَعْدَادٍ كَافِيَةٍ وَمُؤَهَّلَةٍ لِلدَّعْوَةِ، وَلَا يُوْضَعُ أَيُّ دَاعِيَةٍ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ كَفَاءَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى تَحَمُّلِ الْمَسْئُوْلِيَّةِ

  1. Mesti ada mahadhin (lembaga-lembaga, atau wadah-wadah) ilmiah untuk membentuk sejumlah aktifis dakwah yang memenuhi sisi kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan tantangan dan peluang dakwah ke depan, dan jangan sampai terjadi penempatan seorang aktifis dakwah pada suatu pos kecuali setelah diketahui kafaah dan kemampuannya dalam memikul beban tanggung jawab dakwah.

10- عَلَيْنَا تَفَهُّمَ أَوْجُهِ الاِخْتِلَافِ، وَمَا الَّذِيْ يَسُوْغُ مِنْهُ وَمَا الَّذِيْ لَا يَسُوْغُ، وَالتَّعَامُلِ مَعَهُ بِحَسَبِ النُّصُوْصِ الشَّرْعِيَّةِ، وَلَا نَجْعَلِ الاِخْتِلَافَ وَسِيْلَةً مِنْ وَسَائِلِ التَّثْبِيْطِ وَالْكَسَلِ فِي الدَّعْوَةِ؛ لِأَنَّهُ طَارِئٌ، وَالدَّعْوَةُ أَصْلٌ وَفَرِيْضَةٌ

  1. Kita perlu memahami berbagai sisi perbedaan, memahami mana perbedaan yang dibenarkan dan mana yang tidak dibenarkan, lalu berinteraksi dengan berbagai perbedaan itu sesuai dengan nash-nash syar’iy, dan janganlah kita menjadikan perbedaan itu sebagai sebab yang mengakibatkan terjadinya penggembosan dan kemalasan dalam berdakwah, sebab perbedaan itu bukanlah masalah pokok dan ia hanyalah hal yang bersifat temporary, sedangkan berdakwah itulah yang bersifat pokok dan merupakan kewajiban agama.

11- وَيَنْبَغِيْ أَنْ نَتَنَاصَحَ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَادَةِ الدَّعْوَةِ، وَذَلِكَ:

  1. Perlu ada keadaan saling menasehati antara aktifis dakwah dan para qiyadah dakwah,yang demikian ini demi:

– بِإِحْيَاءِ رُوْحِ الْمُتَابَعَةِ وَإِصْلَاحِ جَوَانِبِ الْقُصُوْرِ أَوَّلًا بِأَوَّلِ

  • Menghidupkan spirit mutabaah dan memperbaiki sisi-sisi kelemahan secara dini

– بِضَرُوْرَةِ رَفْعِ الْمَعْنَوِيَّاتِ لِلدُّعَاةِ الْفَاعِلِيْنَ وَمُحَاسَبَةِ الْمُقَصِّرِيْنَ، وَذَلِكَ بِإِحْيَاءِ مَبْدَأِ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ

  • Memenuhi tuntutan kemestian adanya upaya peningkatan ma’nawiyah aktifis dakwah yang aktif dan mengevaluasi mereka yang lemah, dan demi menghidupan prinsip reward and punishment.

– وَبِالنَّظَرِ إِلَى أَنْفُسِهِمْ وَجَعْلِهَا فِيْ مَحَلِّ الاِقْتِدَاءِ لِلدُّعَاةِ، فِي النَّشَاطِ وَالْجِدِّيَّةِ وَالتَّنَوُّعِ فِيْ وَسَائِلِ الدَّعْوَةِ

  • Membangun kesadaran para qiyadah untuk menjadikan dirinya sebagai objek yang diteladani oleh para aktifis dakwah dalam hal semangat, kesungguhan dan kemampuan membuat diversifikasi (keragaman) dalam berbagai sarana dakwah.

– بِإِحْيَاءِ الْجَوِّ التَّنَافُسِيِّ فِيْ حَقْلِ الدَّعْوَةِ، وَإِبْرَازِ الْأَعْمَالِ النَّاجِحَةِ وَالْمُثْمِرَةِ، حَتَّى يَلْتَفِتَ إِلَيْهَا الدُّعَاةُ

  • Menghidupankan nuansa kompetisi positif di lapangan dakwah dan menonjolkan kerja-kerja sukses nan produktif, supaya menjadi titik perhatian para aktifis dakwah.

– إِحْيَاءُ رُوْحِ الْإِخْلَاصِ لله تَعَالَى وَاسْتِشْعَارُهُ بِشَكْلٍ دَائِمٍ يَقْضِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْأَمْرَاضِ، وَمِنْهَا الْكَسَلُ، فَذَلِكَ الْمُخْلِصُ لَا يَحْرِصُ عَلَى ثَنَاءِ النَّاسِ عَلَى جُهُوْدِهِ، كَمَا أَنَّ الْإِسَاءَةَ إِلَيْهِ لَا تُثَبِّطُ هِمَّتَهُ فِي الْعَمَلِ وَالنَّشَاطِ، كَمَا أَنَّهُ إِذَا فَرَّطَ الآخَرُوْنَ تَرَاهُ بَاقِيًا عَلَى جُهُوْدِهِ وَبِهِمَّةٍ عَالِيَةٍ؛ لِأَنَّهُ لَا يَرْجُو الْأَجْرَ إِلَّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

  • Menghidupkan jiwa ikhlash karena Allah SWT dan bahwasanya mencita rasakan ikhlas secara terus menerus dapat mengikis habis banyak penyakit dakwah, yang diantaranya adalah malas dalam berdakwah. Sebab, seseorang yang ikhlas, ia tidaklah berambisi untuk mendapatkan pujian manusia atas jerih payahnya, sebagaimana sikap dan tindakan buruk yang menimpanya tidaklah akan menggembosi semangatnya dalam kerja dan menjalani berbagai aktifitas. Ikhlas juga yang menjadikan seorang aktifis dakwah tetap mengerahkan seluruh potensinya dengan semangat tinggi meskipun yang lainnya sudah tampak olehnya sebagai orang-orang yang melemah. Yang demikian ini karena ia tidak mengharap upah dan imbalan apapun kecuali dari Allah SWT.

 

Tidak Perlu Ayah (jika hanya) untuk Cari Nafkah…


 

Maaf, mungkin agak terdengar sombong jika kalimat ini terlontar dari mulut seorang isteri, atau bahkan seorang anak. Karena sesungguhnya, salah satu tugas seorang lelaki adalah menafkahi keluarganya, baik sebagai suami, sebagai Ayah maupun sebagai anak kepada orang tuanya yang sudah sepuh.

Namun faktanya, tak sedikit para lelaki yang menggadaikan kehormatannya lantaran tak menjalankan perannya mencari nafkah. Ini bukan soal besar kecil hasil yang didapat, tetapi soal menjalankan perannya dalam keluarga.

Tak sedikit pula yang perannya mencari nafkah justru tergantikan oleh isteri atau bahkan anaknya. Setidaknya kalaupun bukan tergantikan, ya sedikit tergeser lah. Coba lihat, banyaknya perempuan yang justru “terpaksa” bekerja lantaran peran suaminya dirasa kurang, dalam bahasa yang lebih lugas, uang belanja suami tak mencukupi. Maaf, saya tak bicara soal perempuan yang bekerja karena memang mereka senang dan bagian dari aktualisasi diri. Untuk yang satu ini, saya cukup menghargai.

Kenapa tiba-tiba saya mengangkat tema yang sangat sensitif ini?

Sabar. Bukan tema ini yang saya akan bahas, tetapi tentang peran Ayah yang sebenarnya bukan hanya soal nafkah. Karena kalau cuma soal nafkah, sorry bung, kini peran itu juga banyak dilakukan oleh perempuan (isteri atau ibunya anak-anak), dan bahkan oleh anak-anak. Lihat saja anak jalanan, orang tuanya ada, malah leyeh leyeh di bawah pohon sementara anaknya ngamen di lampu merah dengan resiko tertabrak, atau pelecehan.

Ini sebenarnya gara-gara saya tak sengaja mendengar sebuah percakapan sepasang suami isteri. “Ayah sudah lelah mencari nafkah, urusan sekolah anak-anak itu urusan ibu…” kata si Ayah ke ibunya anak-anak.

Di kesempatan lain, juga pernah dengar seperti ini, “Bu, tolong hargai Ayah, setiap Ayah pulang rumah selalu berantakan. Kamu ngapain aja sih? Ayah capek kerja seharian, sampai rumah lihat rumah berantakan begini…” tanpa peduli lagi pada kenyataan bahwa setiap jam rumah dirapihkan, dan hanya butuh waktu lima menit akan kembali berantakan oleh ulah anak-anak.

Terus? Kalau sudah mencari nafkah, Ayah nggak perlu direpotkan sama urusan pendidikan anak? Belajarnya anak, antar ke sekolah, rapat orang tua murid dan urusan lainnya.

Kalau sudah mencari nafkah, Ayah jadi haram pegang sapu? Bersih bersih rumah, bantu isterinya yang sejak bangun pagi sampai tengah malam sibuk dengan urusan rumah yang (memang) nggak ada habisnya?

Sederhananya, memangnya fungsi Ayah cuma cari nafkah?

Seringkali sosok Ayah ada di rumah, tetapi hanya fisiknya yang hadir, tidak jiwanya, tidak perannya.

Anak bertanya soal pelajaran, lalu dengan enteng berkata, “Tanya ibu sana, Ayah capek…” padahal sedang main gadget.

Sosok Ayah harus hadir secara utuh di rumah, bagi isterinya, bagi anak-anaknya, bagi keluarganya. Keluarga perlu warna seorang Ayah, karena peran Ayah sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin, bukan cuma sebagai pencari nafkah.

Sosok Ayah perlu hadir untuk memberi rasa aman, nyaman, ketenangan dan percaya diri seluruh anggota keluarga. Jangan sampai justru ada Ayah malah bikin nggak nyaman, hati-hati. “Tenang, ada Ayah…” kalimat ini suatu waktu mungkin keluar dari mulut bocah-bocah karena lelaki itu memang benar-benar bisa diandalkan. Tangguh.

Kehadiran Ayah sejatinya dirindukan, oleh isteri maupun anak-anaknya. Jangan abaikan pesan singkat dari anak misalnya, “Ayah jam berapa pulang?” Ada rindu tersirat dari kalimat itu.

Dua tiga hari Ayah tak pulang karena tugas kantor, suasana rumah jadi terasa sepi, isteri dan anak-anak merasa kurang aman dan nyaman. Jika masih seperti ini, tersenyumlah. Artinya sosok Ayah masih sangat dibutuhkan sebagai pelindung, pengayom dan pemberi rasa aman.

Hadirnya sosok Ayah juga menjadi contoh baik bagi anak lelaki, menjadi contekan bagi anak perempuan kelak mencari pasangan. Pernah kah anak perempuan Anda berkata, “Aku ingin punya suami kelak seperti Ayah” … Ah, indahnya kalimat itu terdengar.

Hadirnya seorang Ayah secara utuh, bukan soal seberapa banyak waktu yang dipunyai di tengah kesibukan bekerja. Sebab, nyatanya masih banyak Ayah yang bisa tetap “hadir” di keluarganya meski waktunya tak banyak. Ini soal peran, bukan soal waktu. Ini tentang kesadaran, bukan tentang seberapa sejahteranya sebuah keluarga. Peran ini, tak bicara soal pangkat, status sosial, apalagi soal besar kecilnya gaji sang Ayah.

Satu lagi, lelaki yang dipanggil Ayah ini pun bukan sosok yang bikin suasana rumah jadi tegang, serius melulu, kaku, apalagi angker. Anak-anak nggak hanya butuh Ayah sebagai orang tua, tetapi juga butuh sahabat bercerita, teman bermain, lawan berkelakar, atau “pacar” yang bisa digandeng ke tempat hiburan misalnya.

Ah terlalu panjang rasanya bahas peran Ayah. Bukan kapasitas saya juga bahas parenting disini, belum apa-apa, saya cuma seorang Ayah yang terus belajar untuk menjadi Ayah yang lebih baik.

Agar semoga sosok ini selalu dirindukan, ada dan tiadanya nanti. Tak tergantikan di hati seluruh anggota keluarga, sampai kapanpun, kapanpun.

Eh iya, nafkah dari Ayah tetap perlu kok. Ya kan bu? @bayugawtama

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Kedewasaan


Alwi Alatas

 

Perbedaan utama antara anak-anak dan orang dewasa adalah dalam hal kemandirian. Kemandirian ‎adalah sebagian dari kekuatan. Seorang anak masih berada dalam keadaan lemah dan belum mampu ‎untuk berdiri sendiri. Karena itu ia diasuh dan dibimbing oleh orang tuanya. Saat menjadi pemuda dan ‎dewasa, secara gradual ia masuk dalam fase kekuatan yang memungkinkan dirinya untuk mandiri dan ‎akhirnya tidak lagi bergantung pada orang tuanya. Ini merupakan siklus yang alami pada setiap ‎manusia. ‎

Seperti telah disebutkan pada artikel yang lain sebelum ini, al-Qur’an membagi siklus hidup manusia ‎dalam tiga bagian. Begitu pula yang disebut pada ayat berikut ini:‎

‎“… kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak (thiflan), kemudian (kamu dibiarkan hidup) ‎supaya kamu sampai kepada masa dewasa (tablughu asyuddakum), kemudian (dibiarkan kamu ‎hidup lagi) sampai tua (syuyukhan) ….” (QS 40: 67)‎

Ayat tersebut menggunakan terma “tablughu asyuddakum” untuk fase dewasa. Istilah ini digunakan ‎beberapa kali dalam al-Qur’an, di antaranya terkait penjagaan terhadap anak-anak yatim. Saat ‎menjelaskan tentang istilah ini pada ayat yang lain (QS 6: 152), Imam al-Thabari menjelaskan di dalam ‎Tafsir-nya bahwa kata asyudda merupakan jamak dari kata syaddun dan maknanya adalah kekuatan ‎‎(quwwah). Ia juga menafsirkan “tablughu asyuddakum” sebagai tercapainya puncak kekuatan pada ‎usia muda. Sebagian mufassir menakwilkan kata-kata ini sebagai terjadinya ihtilam atau mimpi basah ‎‎(Tafsir al-Thabari, vol. 12, hlm. 222-223). Dengan kata lain, usia muda atau usia dewasa menghadirkan ‎ke dalam dirinya puncak kekuatan, dan bersamaan dengan itu juga kemampuan untuk mandiri.‎

Masalahnya, mandiri dalam hal apa, sehingga dapat dikatakan seseorang itu sudah dewasa?‎

 

ayah-dan-anakdilapangan

Setelah direnungi secara mendalam, setidaknya ada empat aspek kemandirian yang menjadi pokok ‎perbedaan antara anak-anak dengan orang dewasa, yaitu adanya identitas diri, tujuan hidup atau visi, ‎kemampuan mengambil keputusan, serta rasa tanggung jawab. Seorang anak belum memiliki ‎kemandirian dalam keempat hal tersebut, sementara seorang yang dewasa (seharusnya) sudah ‎memilikinya. ‎

Identitas diri seorang anak masih ikut dengan orang tuanya, tujuan hidupnya masih berubah-ubah, ia ‎belum mampu untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan secara dewasa, dan belum mampu ‎untuk memikul tanggung jawab. Namun seiring dengan tumbuhnya si anak mencapai usia baligh dan ‎menjadi seorang pemuda, ia mulai memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mandiri dalam keempat ‎aspek tersebut. Berbeda dengan anak-anak, seorang yang dewasa sudah memiliki identitasnya sendiri, ‎mantap dengan tujuan hidup dan cita-citanya, mampu membuat keputusan secara dewasa, serta ‎mampu dan mau memikul tanggung jawab. ‎

Karena itu menjadi tugas orang tua dan para pendidik untuk membimbing anak-anak agar memahami ‎hal ini serta membantu mereka agar mampu mandiri dalam keempat aspek ini saat umurnya mencapai ‎usia dewasa, yaitu saat ia baligh atau berusia 15 tahun. Jika tidak demikian, maka ia akan tumbuh ‎menjadi seorang yang kekanak-kanakan, walaupun ia sudah mencapai fase usia dewasa dan sudah ‎memiliki potensi kekuatan dan kemandirian. Bukan hanya menjadi seorang yang kekanak-kanakan, ‎bahkan ia bisa memberontak dari orang tuanya, karena sudah terdorong untuk memiliki identitas ‎sendiri. Ia akan mudah terpengaruh oleh teman-temannya karena masih sangat labil dalam tujuan ‎hidupnya. Ia juga mungkin mengambil keputusan-keputusan yang buruk dan fatal serta menjadi ‎sangat tidak bertanggung jawab dalam hidupnya. ‎

Orang tua perlu membimbing serta melatih anak-anaknya untuk mencapai aspek-aspek kemandirian ‎ini. Kalau tidak, orang tua akan mengalami banyak kesulitan dan kesusahan saat anak tumbuh menjadi ‎remaja. Bukannya menjadi seorang berkarakter dewasa, anak tersebut akan menjadi seorang remaja ‎yang labil dan sulit diatur. Akhirnya ia menjadi seperti yang disebutkan Raja Ali Haji di dalam Gurindam ‎Dua Belas pasal ke-7:‎

Apabila anak tidak dilatih, ‎
Jika besar bapanya letih.‎

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

Kami akan membahas secara lebih detail masing-masing aspek-aspek kedewasaan dalam tulisan yang ‎lain. Namun pada artikel ini akan diberikan contoh dari sebuah kisah yang indah.‎

Kedewasaan Ismail

Nabi Ismail ‘alaihis salam tumbuh besar di kota Makkah. Ketika ia menjadi seorang pemuda, ayahnya ‎Ibrahim ‘alaihis salam menerima perintah untuk menyembelih anaknya itu. Ismail bersedia ‎menjalankannya, tetapi kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba. ‎

Jika kita merujuk pada Alkitab – dalam bagian yang dibahas ini kita boleh meriwayatkannya tanpa ‎membenarkan atau menolaknya – disebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendapatkan anak Ismail saat ia ‎berusia 86 tahun (Kejadian 16: 16) dan mendapatkan anak Ishak saat ia berumur 100 tahun (Kejadian ‎‎21: 5). Jadi ada selisih 14 tahun di antara keduanya. Orang-orang Nasrani meyakini bahwa Ishak yang ‎rencananya akan disembelih dan dikorbankan, tetapi kaum Muslimin meyakini bahwa Ismail-lah yang ‎akan dikorbankan. Menariknya, saat membahas tentang perintah penyembelihan terhadap Ishak, ‎Alkitab (Kejadian 22: 2) menyebutnya sebagai “anakmu yang tunggal itu”, sementara kita mengetahui ‎bahwa penyebutan itu hanya mungkin berlaku atas Ismail selama adiknya Ishak belum lahir, yaitu saat ‎Ismail berumur kurang dari 14 tahun. Tampaknya yang dimaksud oleh Alkitab terkait perintah ‎penyembelihan anak sebenarnya adalah Ismail yang ketika itu masih berusia remaja.‎

Al-Qur’an memiliki kisah tersendiri tentang penyembelihan ini, yang walaupun tidak menyebutkan ‎secara jelas nama Ismail tetapi para mufassir menjelaskan bahwa Ismail-lah yang dimaksudkan oleh ‎ayat tersebut. Ayat ini mengandung kisah kedewasaan yang indah.‎

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim ‎berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka ‎fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan ‎kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS 37: 102)‎

Ibn Katsir menyebutkan pendapat Ibn Abbas, Mujahid, dan beberapa yang lainnya bahwa kata-kata ‎‎“tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim” (falamma balagha ‎ma’ahu sa’ya) bermakna ketika ia menjadi seorang pemuda dan mampu bekerja sebagaimana ‎ayahnya. Pada masa lalu kemampuan ini dicapai pada usia belasan tahun, tak lama setelah masa baligh ‎‎– sekarang pun sebenarnya potensi itu bisa dicapai oleh seseorang pada usia yang kurang lebih sama. ‎Di dalam Tafsir al-Khazin (vol. 4, hlm. 22) ada disebutkan pendapat bahwa usia Ismail ketika itu adalah ‎‎13 tahun. Ada pula yang mengatakan 7 tahun, tapi tampaknya usia ini terlalu dini untuk dijadikan ‎acuan. Tafsir al-Qurthubi juga menyebutkan adanya pendapat bahwa Ismail ketika itu berusia 13 ‎tahun.* ‎

Di dalam ayat tersebut, nabi Ibrahim mendapat sebuah mimpi yang merupakan perintah dari Rabb-‎nya. Mimpi ini juga melibatkan Ismail. Ini adalah salah satu aspek kedewasaan: mimpi, visi, atau tujuan, ‎atau dalam konteks ini sesuatu yang belum terjadi dan akan diwujudkan pada waktu-waktu ‎berikutnya. Mimpi ini datang dari Allah dan harus dijalankan oleh Ibrahim dan Ismail. Mimpi itu ‎memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Ini adalah sebuah mimpi yang gila bagi ‎orang-orang yang tidak percaya pada kehidupan akhirat. Tidak ada orang yang memiliki mimpi atau visi ‎menyembelih anak sendiri dan tidak ada orang yang bermimpi (berkeinginan) untuk disembelih hingga ‎mati. Tetapi bagi seorang mukmin, tujuan sejati dan tertinggi adalah agar bisa sampai kepada Allah ‎dalam keadaan diridhai. Mimpi Ibrahim, walaupun berat untuk dilaksanakan, adalah jalan yang ‎membawa kepada tujuan tertinggi tadi.‎

Di samping mimpi, perintah ini juga berkenaan dengan tanggung jawab. Ini merupakan aspek ‎kedewasaan yang kedua. Baik Ibrahim maupun Ismail diminta untuk merealisasikan sebuah tanggung ‎jawab yang sangat berat. Tanggung jawab itu menyiratkan adanya pengorbanan, dan pengorbanan itu ‎sendiri bertingkat-tingkat. Dalam kaitan ini, kedua insan mulia ini diserahi satu beban tanggung jawab ‎terbesar yang mungkin dipikul oleh seseorang, yaitu mengakhiri hidup sendiri dan kehilangan belahan ‎jiwa. Rasanya tidak ada tanggung jawab yang lebih berat daripada itu.‎

Perintah itu untuk dilaksanakan, bukan untuk didiskusikan. Namun Ibrahim tidak langsung menarik ‎anaknya untuk disembelih. Ia menyampaikan mimpinya itu kepada sang anak dan memberi ‎kesempatan kepadanya untuk menyampaikan pendapat serta mengambil keputusan. Ini adalah aspek ‎kedewasaan yang ketiga, yaitu pengambilan keputusan secara dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa ‎Ibrahim menganggap Ismail sebagai pria dewasa, walaupun usianya ketika itu masih sangat belia. ‎Karena hanya orang yang dianggap dewasa yang biasanya diminta dan didengar pendapatnya. ‎

Sikap Ismail berikutnya sangat mengagumkan. Ia tidak menolak mimpi ayahnya. Sebaliknya ia ‎menerima mimpi tersebut, yang berarti ia mengambil mimpi itu sebagai bagian dari mimpinya sendiri. ‎Pada saat yang sama Ismail menerima beban tanggung jawab tersebut dan mempersilahkan ayahnya ‎untuk menjalankan tugasnya. Ismail dipersilahkan untuk memilih pendapatnya, dan inilah pilihan yang ‎ia buat. Ia tidak dipaksa oleh ayahnya untuk menerima keputusan secara sepihak, dan inilah keputusan ‎yang diambilnya. Ia memilih dan membuat keputusan secara dewasa, yaitu berdasarkan pilihan baik-‎buruk, bukan suka-tak suka. Tak ada yang suka dikorbankan dan disembelih, tetapi karena hal itu ‎dilakukan dalam rangka ketaatan pada Allah dan karenanya itu merupakan hal yang baik, maka Ismail ‎memilihnya.‎

Ismail kemudian menutup kata-katanya dengan menyatakan siapa dirinya. “Insya Allah kamu akan ‎mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Ini adalah aspek keempat dan terakhir dari ‎kedewasaan dalam pembahasan kita, yaitu identitas diri. Ismail menjadikan kesabaran sebagai ‎identitas dirinya dan ini menjelaskan mengapa ia sanggup mengambil tanggung jawab yang sangat ‎berat. Karena ia mengerti apa artinya menjadi orang yang sabar dan ia kelihatannya juga sudah melatih ‎dirinya menjadi seorang penyabar. Ia tidak merasa gamang atau ragu dengan status dan jati dirinya dan ‎karena itu ia mampu mengambil keputusan dengan penuh keyakinan. Pada akhirnya, semua itu akan ‎menghantarkannya kepada tujuannya yang paling tinggi, yaitu berjumpa dengan Tuhan-nya dalam ‎keadaan yang diridhai.‎

Kita mengetahui bahwa akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor domba. Ibrahim dan Ismail ‎lulus dalam ujian tersebut. Kisah mereka dikenang di dalam ibadah qurban yang dijalankan oleh kaum ‎Muslimin setiap tahun. Sebagian orang mengatakan bahwa di dalam Iedul Qurban sebenarnya kita ‎sedang ‘menyembelih’ sifat cinta dunia di dalam hati kita. Mungkin saat menyembelih hewan qurban ‎di hari Iedul Adha, kita juga bisa memaknai bahwa pada saat itu kita sedang menyembelih sifat ‎kekanak-kanakan di dalam diri kita sendiri dan selepasnya kita harus tampil sebagai seorang yang ‎benar-benar dewasa, karena sifat kedewasaan tidak selalu berkaitan dengan usia tertentu. ‎

Adapun bagi anak-anak kita, masa ‘penyembelihan’ terbesar di dalam hidup mereka terjadi di antara ‎masa-masa baligh dan usia 15 tahun. Saat mereka lulus dalam ujian tersebut, mereka akan muncul ‎sebagai manusia yang dewasa dan matang pada waktunya. Mereka akan muncul sebagai pemuda yang ‎mandiri dalam visi, identitas diri, tanggung jawab, serta pengambilan keputusan. Tapi jika tidak, maka ‎boleh jadi umur mereka atau bahkan hidup mereka sendiri yang akan tersembelih dan terkorbankan.‎

Jakarta,‎
‎9 Muharram 1438/ 10 Oktober 2016‎

‎* Saya berterima kasih kepada Muhammad Ghazi Alaydrus dan Muhammad Ardiansyah atas ‎bantuannya mencarikan rujukan di beberapa tafsir terkait ayat ini.‎

http://inpasonline.com/…/prinsip-dasar-pendidikan-kedewasa…/

 

 

=============================

GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://tokopedia.com/griyahilfaaz

==============================

Resume Kajian Menjadi Ibu Yang Dirindukan


Resume Kajian Menjadi Ibu Yang Dirindukan
===================================

Oleh Ust. Bendri Jaisyurrahman

1. Memiliki energi yang positif

Penting bagi seorang ibu utk mengelola emosinya terutama ketika hamil. Pada saat hamil keadaan emosi ibu mempengaruhi emosi anak. Dalam surat Maryam ayat 26 dijelaskan bahwa hak ibu hamil adalah makan, minum dan bersenang senang. Disinilah pentingnya utk mengembirakan ibu hamil supaya anak yg dilahirkan bisa memiliki emosi yang positif.
Jika ibu memiliki energi yg negatif bisa disalurkan melalui black box atau ibu bisa menyalurkannya melalui menulis. Menulis bisa menjadi terapi untuk menyalurkan energi ibu yg negatif.

2. Belajar memprioritaskan anak dalam berbagai hal

Dalam Q.S Al Isra ayat 22 atau 26 (belum dicek ayatnya) dikatakan bahwa berikan hak kepada kerabat terdekat dalam hal ini suami, anak. Jangan sampai kepada orang lain kita murah senyum tapi kepada anak sebaliknya. Ada hak anak dalam diri kita yaitu: Senyum, sabar, sentuhan dan kata cinta.

3. Management waktu
Seorang ibu haruslah bisa memanagement waktu.

Sebagai seorang ibu, ada 4 hak ibu yaitu
* Me time: ibu berhak utk baca al quran tanpa diganggu anak, membaca buku, menonton tv, atau shalat tahajud tanpa di ganggu suami

* Couple time: setelah menikah usahakan ibu tetap punya waktu berduan dengan suami tanpa di ganggu anak

* Family time: ini bisa dgn nonton tv bareng, makan bareng, dsb

* Sosial time: ibu bisa berkumpul dengan teman-teman ibu untuk arisan, ikut kajian, atau reunian (tanpa mantan)

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

4. Ibu wajib hadir di 3 waktu anak
* Hadirlah disaat anak sedih
* Hadirlah disaat anak sakit
* Hadirlah disaat anak unjuk prestasi

5. Ibu harus punya skill yang membuat ibu dirindukan yaitu
* Memasak: tidak harus selalu enak karena ibu menikah bukan utk membuat rumah makan tapi berusahlah agar anak punya kenangan tentang kenikmatan masakan kita.
* Memijit : ketika memijit biasanya anak bisa bercerita dengan bebas
* Mendengar : Jadilah pendengar yang baik ketika anak bercerita.

Semoga bermanfaat buat ibu-ibu semua

Share kepada yang lain agar lebih bermanfaat

=============================

GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://tokopedia.com/griyahilfaaz

==============================

3 Waktu yang Tepat Untuk Memberikan Nasihat Pada Anak…


 

Memberikan nasihat kepada anak memang menjadi ujian sendiri bagi orang tua, apalagi jika anaknya sudah memasuki usia remaja. Berbeda dengan anak remaja zaman dulu yang cenderung lebih penurut kepada orang tua, remaja masa kini cenderung lebih kritis kepada orang tua. Ketika anak remaja memiliki dunia dan pergaulan sendiri, ketika anak remaja terhubung dengan berbagai pengetahuan melalui kemajuan teknologi seperti sosial media, dunia internet serta instant messengger membuat tak sedikit anak “merasa” lebih pintar dan hebat dari pada orang tuanya.

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena ia bukan hidup dizamanmu” begitulah pesan Ali bin abi thalib radhiyallahu anha’ untuk kita semua pada orang tua. Maka mau atau tidak kita mesti mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan zaman anak kita. Kita mesti terus belajar mengupgrade diri, meningkatkan kapasitas keilmuan kita.

Selain mengikuti perkembangan zamannya, ada hal penting yang mesti kita ketahui dalam mendidik anak yaitu kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan nasihat tersebut pada anak kita. Terkadang nasihat tidak sampai dan mengena pada anak kita hanya karena disebabkan oleh waktu yang tidak tepat dalam memberikan nasihat.

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

 

Pada bagian ini kita akan mengupas 3 waktu yang tepat untuk memberikan nasihat kepada anak kita.

1. Ketika dalam perjalanan

Mungkin kita semua sudah sangat familiar dengan kisah perjalanan lukmanul hakim dan anaknya bersama seekor keledai. Yang pada intinya dalam perjanalan tersebut lukmanul hakim ingin menyampaikan suatu pesan pada anaknya agar tidak mudah terpengaruh dengan “apa kata” orang. Mengapa nasihatnya disampaikan dalam perjalanan?, karena ternyata menyampaikan nasihat dalam perjalanan kepada anak lebih mudah diingat dan diresapi oleh sang anak.

Kedekatan emosional, inilah yang terjadi antara orang tua dan anak ketika melakukan sebuah perjalanan. Dalam buku yang berjudul “ayah” karya bapak irfan hamka putra dari seorang ulama kenamaan buya hamka menyampaikan semasa hidup buya hamka juga sangat sering membawa anaknya melakukan perjalanan secara bergantian.

Sebuah perjalanan akan menjadi kenangan tersendiri bagi anak ketika telah beranjak dewasa nanti, apalagi jika sebuah perjalanannya dilakukan berdua. Tentu ini tidak hanya bermanfaat untuk menyampaikan nasihat namun juga membangun ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhuma ia berkata :

“Rasulullah saw pada suatu hari memboncengku dibelakang beliau. Kemudian beliau menyampaikan suatu rahasia kepadaku yang tidak pernah aku ungkapkan kepada seorangpun. Rasulullah SAW paling suka memakai penutup ketika beliau buang air adalah dengan gundukan tanah atau gerumbul pohon kurma”

Itulah kisah Rasulullah SAW yang menyampaikan suatu rahasia kepada seorang anak ditengah perjalanan agar mengingatnya.

2. Ketika makan

Makan bersama, mungkin adalah suatu hal yang langka terjadi dimasa kini. Apalagi jika ayah, ibu dan anak memiliki kesibukan sendiri serta pulang pada waktu yang berbeda. Yang kerap terjadi adalah makan sendiri-sendiri, ayah makan sendiri sembari nonton televisi, ibu makan sendiri, kakak dan adik juga makan sendiri ditempat yang berbeda.

Padahal meja makan adalah salah satu madrasah terbaik dalam rumah kita, Rasulullah SAW makan bersama anak-anak. Beliau memperhatikan anak-anak makan, mencermati kesalahan kemudian beliau memberikan pengarahan meluruskan anak-anaknya.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah ra, ia berkata :

“Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rasulullah SAW. Tanganku bergerak kesana kemari di nampan makanan. Rasulullah SAW bersabda padaku, “Hai anak kecil, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada di hadapanmu.”

3. Ketika anak sakit.

Waktu ke tiga yang juga sangat baik memberikan nasihat pada anak adalah ketika anak sakit. Kelembutan hati, itulah salah satu keutamaan dari orang sakit, orang yang sedang sakit lebih mudah merasa hatinya, apakah itu merasakan syukur atas nikmat-nikmat yang Allah SWT karuniakan, merasakan berbagai dosa dan kesalahan yang dilakukan.

Rasulullah memberikan contoh dan teladan kepada kita disaat beliau menjenguk anak orang yahudi yahudi yang sedang sakit dan mengajaknya masuk islam, kunci ini merupakan jalan kebaikan bagi anak tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam hadist berikut.

“Seorang anak muda Yahudi yang menjadi pembantu Nabi sakit, lalu Nabi menjenguknya, kemudian beliau bersabda : Masuk Islamlah!” anak muda itupun masuk Islam.(Shahih al-Bukhari 6757)

Itulah 3 momen berharga bagi kita para orang tua jika kita dapat memanfaatkannya dengan tepat. Waktu-waktu diatas tidak hanya tepat untuk memberikan nasihat kepada anak. Namun juga akan menjadi suatu kenangan berharga yang tentu akan mempererat buhul ikatan cinta antara anak dan kita sebagai orang tuanya. Semoga kita bisa membersamai anak-anak kita disaat-saat yang berharga itu.

Share kepada yang lain agar lebih bermanfaat

=============================

GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://tokopedia.com/griyahilfaaz

==============================

TARBIYAH JINSIYAH (SEX EDUCATION)


TARBIYAH JINSIYAH (SEX EDUCATION)
*Ustadzah Herlini Amran, MA

Islam adalah agama yang sesuai dengan fithrah manusia. Islam memberikan panduan dalam setiap prilaku & perbuatan, ada yang bersifat petunjuk (preventif), kuratif ataupun yang bersifat rehabilitatif.
Islam memandang persoalan perilaku manusia adalah integralistik, bukan saja merupakan tanggung jawab suatu disiplin ilmu tertentu atau dalil tertentu, melainkan suatu proses rekayasa sosial yang lebih luas.

Tarbiyah Jinsiyah menurut konsep Islam adalah upaya mendidik nafsu syahwat agar sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga ia menjadi nafsu yang dirahmati Allah, dengan tujuan terbentuknya sakinah, mawaddah wa rahmah dalam sebuah rumah tangga yang mampu mendidik keturunannya untuk mentaati perintah Allah swt, sehingga manusia terbebas dari perbuatan zina.

Tarbiyah Jinsiyah menurut Islam merupakan bagian dari pendidikan akhlak, yang didasari dengan keimanan. Dengan iman yang mantap, seseorang akan rela melakukan segala perintah Allah dan RasulNya serta menghentikan segala larangannya.

Tarbiyah Jinsiyah & Sex education versi Barat

* Pendidikan seks pola Islam mengacu kepada pendidikan akhlak & adab yang berlandaskan kepada keimanan dan syariat/ aturan yang berasal dari Allah SWT.
* Sex Education versi Barat hanya mengajarkan “seksualitas yang sehat” meliputi: seks secara anatomis, fisiologis dan psikologis saja. Misal, cara mencegah kehamilan, tidak aborsi dsb.

Tarbiyah jinsiyah dimulai dari pendidikan dalam keluarga, sebelum keluarga itu menyerahkannya kepada para pendidik (sekolah umum) dan lingkungan. Dari orang tualah anak kita akan memahami dan memiliki wawasan apa yang disebut dengan syahwat.

Firman Allah SWT :”Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik ” (QS Ali Imran: 14)

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

 

Ada 15 Konsep Tarbiyah Jinsiyah yang harus diajarkan kepada anak kita..

1- Memperkenalkan konsep Aurat.

2- Memisahkan tempat tidur anak dan menjelaskan adab-adab kesopanan di rumah & diluar rumah.

3- Mendidik adab-adab isti’zan dalam rumah tangga. (QS An Nur:58)

4- Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan feminine pada anak perempuan.

5- Memperkenalkan konsep mahrom sekaligus adab pergaulan diantara mahrom dan non mahrom.

6- Mendidik agar selalu menjaga pandangan mata (ghoddul bashar).

7- Mengenalkan sanksi-sanksi
perzinahan dalam Islam.

8- Mendidik agar tidak melakukan
ikhtilath (campur baur/pergaulan
bebas) di antara laki-laki dan
perempuan.

9- Mendidik agar tidak melakukan
khalwat (berdua-duaan antara laki-laki
dan perempuan yang bukan mahrom).

10- Mendidik etika berhias sehingga
kaum muslimah tidak bertabarruj.

11- Mendidik konsep Thoharoh seperti
menjaga kebersihan mulut, alat
kelamin, cara wudhu, mandi dll.

12- Menjelaskan makna khitan, ihtilam dan
haid secara bijaksana.

13- Menjelaskan ayat-ayat al-Quran dan Hadis Nabi yang berhubungan dengan proses kejadian manusia, mulai dari nuthfah, alaqah, mudhghah (Morulla, Blastrulla, Gastrulla. Lihat QS Al Hajj:5 dll tentang prosess kejadian manusia), sampai terlahirnya seorang bayi dengan maksud mendekatkan diri pada Allah.

14- Mengajarkan Puasa sunnah, dengan puasa itu akan mempersempit jalannya syaitan, dan lebih bisa dalam menahan gejolak nafsu syahwat.

15- Etika kehidupan bersuami istri
secara Islam baru boleh di ajarkan kepada
mereka yang benar-benar akan menikah.

Wallahua’lam bis showab

Narated and rewrite by @madrasatunnisa

Share kepada yang lain agar lebih bermanfaat

=============================

GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://tokopedia.com/griyahilfaaz

==============================

Masuk Surga Lewat Pasar


DOA MASUK PASAR, MALL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TEMPAT-TEMPAT KERAMAIAN LAINNYA…

“Barangsiapa masuk pasar, lalu membaca:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan dan meninggikan untuknya satu juta derajat serta membangunkan untuknya satu istana di surga.”

(HR. At-Tirmidzi 5/291, Al-Hakim 1/538, Ibnu Majah 2235 dan lainnya. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih Ibnu Majah 2/21 dan Shahih At-Tirmidzi 2/152, juga di ‘Shahih Al-Jami’ 1/1118)

Arti doa tersebut:
(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan, bagiNya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tanganNya semua kebaikan. Dan Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.)

Ini cara membacanya supaya jelas:

“Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahulhamdu, yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoiir, wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir.”

Keutamaannya besar dan dahsyat karena pasar, mall dan pusat-pusat keramaian biasanya melalaikan dan menjerumuskan, karena itu kalau kita ingat Allah dan berdzikir kepadaNya di tempat-tempat tersebut maka kita mendapat keutamaan yang besar dan dahsyat tersebut..

Ini link video singkat penjelasannya;

[Sumber Kitab “Mata Air Inspirasi” Karya Abdullah Hadrami]

AbdullahHadrami, [16.07.16 16:02]

Busana Muslim Branded Berkualitas


Hilfaaz Collections