Tag Archive | transportation

Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)


Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)

Keimanan yang kokoh menjadi perisai bagi setiap kader dakwah. Dan hal ini hendaknya menjadi sebuah kelaziman. Sehingga keimanan itu betul-betul bak perisai kuat untuk menahan lajunya serangan musuh yang senantiasa datang silih berganti. Perisai ini wajib selalu berada di tangan aktivis dakwah. Ia tak boleh lepas sekejappun apalagi hilang tak berketentuan arah. Keimanan yang diumpamakan perisai itu berawal dari kekuatan tauhid yang tertanam dalam sanubarinya. Tauhid yang kuat dan bersih dari berbagai penyimpangannya. Ia diasaskan dari kalimat yang baik (kalimatun thayyibah) yang terikat dalam jiwanya. Kalimat yang baik dari kekuatan tauhid ini lantaran persaksian dan komitmen loyalitasnya pada Sang Maha Perkasa. Hingga kalimat itu, Allah SWT umpamakan seperti pohon yang baik.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ . تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (Ibrahim: 24 – 25).

Pohon ini tiada duanya di muka bumi ini. Ia tumbuh subur dan berkembang pesat dan mampu melawan serangan hama dan penyakit. Sehingga ia menghasilkan buah yang tak pernah henti. Malah menumbuhkan pohon-pohon lainnya. Itulah pohon keimanan.

Disebut Syajaratul Iman (Pohon Keimanan) lantaran keimanan yang kokoh laksana sebuah pohon yang selalu memberikan manfaat yang amat banyak;

– Buahnya dapat dikonsumsi oleh setiap makhluk yang menginginkannya.

– Dahannya dapat menjadi sarang serta tempat bertengger burung-burung.

– Daunnya yang lebat menjadi tempat berteduh musafir yang lewat.

– Akarnya menyimpan persediaan air untuk bumi yang tandus.

Inilah pohon keimanan yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Beliau mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah SWT. menyerupakan pohon iman yang bersemi dalam hati dengan pohon yang baik. Akarnya menghunjam ke bumi dengan kokoh dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan buah setiap musim. Jika engkau renungkan perumpamaan ini tentulah engkau menjumpainya cocok dengan pohon iman yang telah mengakar kokoh ke dalam dan di dalam hatinya. Sedang cabangnya berupa amal-amal shalih yang menjulang ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan hasilnya berupa amal shalih di setiap saat menurut kadar kekokohannya di dalam hati. Kecintaan, keikhlasan dalam beramal, pengetahuan tentang hakikat serta penjagaan hati terhadap hak-haknya’.

Diantara para ulama penafsir Qur’an mereka berpandangan bahwa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits riwayat Ibnu Umar RA. Dalam kitab shahih. Ar Rabi’ Ibnu Anas mengatakan bahwa orang mukmin itu pokok amalnya menghunjam ke bumi sedang buah amalnya menuju langit lantaran keikhlasannya dalam beramal.

Ibnul Qayyim mengatakan, ‘Tidak ada perbedaan diantara ke dua pendapat itu karena makna yang dimaksud tamsil ini adalah sosok orang mukmin sejati. Sedang pohon kurma adalah sebagai gambaran yang menyerupainya dan dari diri orang mukminlah sebagai sosok yang diserupakannya’. Pohon-pohon keimanan ini tumbuh dan berkembang bahkan menumbuhkan pohon lainnya.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam kitabnya Ar Raqa’iq menggambarkan bahwa pohon-pohon itu bak laksana kumpulan tanaman taman nan indah. Setiap orang yang melihat pasti ingin berteduh didalamnya. Setiap melihat buah mesti tangan ingin menjamahnya. Pokoknya taman itu amat menarik hati. Pohon-pohon yang tumbuh di taman nan menawan itu adalah:

1. Syajaratut Tha’ah (Pohon Ketaatan)

Dari tempat kamu berteduh di bawah pohon iman itu kamu dapat mencium aroma wewangian bunga yang semerbak di dekatnya. Itu bersumber dari sebuah pohon yang disebut syajaratut tha’ah, yakni pohon ketaatan. Ia menjadi saksi terhadap keridhaan Allah saat dilimpahkan di hari turunnya ayat berikut:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (Al-Fath:18)

Orang yang berteduh di masa sekarang akan senantiasa mendapatkan ketenangan hati dan tidak mudah goyah karena faktor terhalangnya mendapatkan sesuatu atau tertinggal olehnya. Ia tetap tabah menunggu kemenangan yang akan diraihnya. Ia juga berada dalam arus gerakan Islam untuk selalu menunaikan tugas-tugas dan tanggung jawabnya. Ia setia dengan beban yang terpikul di pundaknya. Dengan sikap itu ia mampu meruntuhkan mercusuar kesesatan. Sedang ia telah menyatakan janji setia kepada Islam untuk mati sebagai tebusannya. Pohon ketaatan ini bersumber pada akar pengabdian yang utuh pada Sang Maha Pencipta. Sudah semestinya pohon ketaatan itu tumbuh subur di hati kader dakwah.

2. Syajaratut Tirhab (Pohon Penyambutan)

Pohon ini dinamakan pohon penyambutan. Ini untuk menyambut mereka-mereka yang sedang berjuang untuk mempertaruhkan hidupnya agar meraih kemuliaan di sisi Rabbnya. Jika Allah memilih untuk menimpakan musibah kepadamu sebagai jalan untuk meraih anugerah keridhaan-Nya. Dan kamupun mengalami cobaan berat hingga memaksamu berlindung di bawah syajaratut Tirhab, pohon penyambutan. Ini dilakukan untuk mencari ketenangan di bawah naungannya seraya menggerakkan pokoknya agar melimpahkan sebahagian dari berkahnya kepadamu. Dan engkau melakukan sikap sebagaimana yang dilakukan ibunda Maryam AS. Ketika bumi terasa sempit olehnya. Maka terdengarlah suara yang menyeru kepadanya:

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا . فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Maryam: 25 – 26).

Maka engkau mendapat makan dari buahnya yang telah masak dengan rasa puas tanpa berlebihan. Di sana engkau beroleh minuman yang segar dari sungai kecil yang mengalir di hadapanmu dengan mencidukkan kedua tanganmu kepadanya tanpa harus bersusah payah. Pohon ini berdiri pada pokoknya yakni kecintaan untuk menghariba kepada Rabbul Izzati. Dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan akan perjumpaannya. Bagi seorang kader dakwah mendekatkan diri untuk menghamba kepada Allah SWT menjadi keharusan. Agar ia senantiasa dalam kondisinya yang prima. Tidak lapar dan tidak pula kehausan. Ia dapat memenuhi hak dan kebutuhan hidupnya dalam memperjuangkan ajaran-Nya.

3. Syajaratul Wafa’ (Pohon Kesetiaan)

Kesetiaan adalah tanda kecintaan. Dan kecintaan merupakan prasyarat dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan kecintaannya. Nabi Muhammad SAW. mempunyai tanaman sendiri sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits, bahwa banyak pohon yang menyaksikan beberapa peristiwa dari perjalanan hidupnya yang mulia. Sebagai isyarat yang menunjukkan adanya hubungan ini. Terkadang sebagai gambaran untuk menyadarkan orang yang lalai. Diantaranya adalah syajaratul wafa’, pohon kesetiaan. Sebagai tanda adanya komunikasi di antara ruh-ruh yang selalu ingat. Pohon ini dapat mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada yang berhak menerimanya serta mengakui kebaikan yang diberikannya.

Ia adalah batang pohon kurma yang merintih saat ditingalkan. Jabir bin Abdullah RA. meriwayatkan, ‘Dahulu ada sebatang pohon kurma yang digunakan oleh Nabi SAW. untuk pijakan tempat berdirinya. Setelah dibuatkan mimbar untuk Nabi, kami mendengar dari batang kurma itu suara rintihan seperti rintihan unta yang sedang hamil besar. Hingga Nabi saw turun dari mimbarnya lalu meletakkan tangannya pada batang itu barulah batang pohon itu diam’. Batang pohon itu mengeluarkan suara rintihan seperti rintihan unta betina hamil besar. Peristiwa ini merupakan salah satu mukjizat Nabi SAW. Sebatang pohon yang diberikan penghormatan kepadanya lalu ia membalasnya. Manakala ditinggalkan ia merasa sedih sehingga kesedihannya itu melahirkan suara rintihan. Sekarang tiada seorangpun diantara kita melainkan di rumahnya terdapat kitab hadits. Seakan-akan Nabi saw berdiri di hadapannya mengajarkan urusan agama dan mengajarinya hukum-hukum syariat Islam. Maka sudah selayaknya bagi manusia seperti kita berterima kasih dan membalasinya dengan ketaatan dan kesetiaan pada ajaran yang dibawanya. Kita telah mendapatkan pelajaran yang amat bagus dari sebatang pohon kurma. Maka kita sebenarnya yang amat patut melakukan hal itu dan menterjemahkannya dalam sikap kita terhadap dakwah dan ajaran ini. Sepatutnya kita pun para kader dakwah merintih karena tidak dapat berbuat banyak untuk memberikan kontribusi pada dakwah ini sebagaimana orang-orang yang disebutkan Allah SWT. dalam kitab-Nya Allah berfirman:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. (At-Tauabh:92).

4. Syajaratut Tsabat (Pohon Keteguhan)

Keteguhan menjadi hal yang amat urgen dalam mengemban amanah mulia. Karena godaan dan rintangan akan selalu datang silih berganti. Karena itu bagi aktivis dakwah ia amat memerlukan pohon keteguhan. Engkau dapat berlindung dibawahnya di hari manusia berpecah belah karena kecenderungannya yang berbeda-beda. Engkau mencari selamat dengan meninggalkan semua golongan yang berpecah belah itu. ‘Sekalipun engkau harus menggigit akar pohon (yakni berpegang teguh pada prinsip meskipun hidup menderita)’.

Oleh karena itu berlindunglah pada pohon keteguhan ini untuk mengeraskan gigitannya. Seandainya engkau bayangkan keadaan yang sebenarnya tentulah hatimu menjadi ragu dan bergetar penuh kecemasan. Antara perasaan takut bila pegangannya mengendur lalu terbawa arus dan harapan untuk tetap bertahan demi mencapai keselamatan.

Akan tetapi sari pati cairan yang dikeluarkan oleh pohon itu membuat kamu segar karena mendapat minuman darinya. Sedang manusia saat itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Tenggorokanmu basah lagi sejuk, sehingga menambah keras gigitanmu terhadapnya, seakan-akan kamu menghisap keteguhan dan kekokohan darinya bagaikan bayi lapar yang sedang menyusu. Pohon keteguhan ini juga menjadi alat Bantu untuk menghadapi cobaan dan ujian komitmen dari berbagai rayuan dunia yang memikat. Dari pohon itu kader dakwah tidak akan goyah karena daya tarik material duniawi yang fana. Ia tidak seperti orang-orang yang lalai dari kesetiaannya karena tergoda oleh ikan-ikan yang bermunculan pada saat mereka harus menunaikan komitmen itu.

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik”. (Al-A’raf:163).

5. Syajaratul Unsi (Pohon Penghibur)

Pohon ini menjadi penghiburmu di saat kamu sendirian dan kelembabannya meringankan (membasahi) keringnya kesalahanmu. Pohon ini ditanam oleh Nabi saw, saat beliau melalui dua kuburan yang sedang diazab. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Nabi SAW. ‘Beliau mengambil sebatang pelepah kurma yang masih basah. Dan membelahnya menjadi dua bagian lalu menancapkan kepada masing-masing dari kedua kuburan itu satu bagian. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau lakukan itu?’. Rasulullah SAW. menjawab, ‘Mudah-mudahan azab diringankan dari keduanya selama kedua pelepah ini belum mengering’.

Buraidah Al Aslami RA. memahami hal ini sebagai tuntutan yang dianjurkan. Oleh karena itu ia berwasiat agar ditancapkan di atas kuburannya nanti dua batang pelepah kurma. Orang-orang pun mengikuti jejaknya dalam hal ini. Ada kalanya kita tidak dapat terlepas dari dosa-dosa kecil yang mencemari keikhlasan amal kita atau dari keterpaksaan mengejar sisa-sisa yang ada di tangan ahli dunia dari harta yang memperdayakannya. Yang biasa dibarengi dengan begadang yang merusak kesehatan dan dirundung oleh kegelisahan yang membuat diri kita tidak dapat tidur. Sehingga tubuh ini menjadi lemah untuk persiapan kerja di pagi hari. Barang kali dengan meluangkan waktu sejenak untuk berteduh di bawah pohon ini agar dapat meringankan beban hidupmu. Tentu hiburan bagi aktivis dakwah bukanlah dengan lantunan nasyid-nasyid dengan iringan bunyi musiknya atau juga bukan dengan tontonan yang melalaikannya. Akan tetapi hiburannya melalui dengan mengenang sejarah kehidupan umat terdahulu yang diabadikan kebaikannya serta mengingat akan janji balasan yang akan diberikan Allah SWT. pada orang-orang yang beriman. Sehingga dapat menggambarkan kenangan indah di hatinya akan kehidupan orang-orang yang telah berada di negeri cahaya yang penuh berkah.

6. Syajaratul Mufashalah (Pohon Pemisahan)

Pohon pemisahan ini menjadi saksi tentang sempurnanya akan kebersihan sarana yang digunakan oleh seorang muslim dalam mencapai tujuannya yang bersih. Demikian itu terjadi ketika ada seorang musyrik yang ingin bergabung memberikan bala bantuan kepada pasukan kaum muslimin dalam perjalanannya menuju medan perang Badar. Orang musyrik itu memberikan bala bantuan atas dasar fanatisme golongan untuk membela kaumnya. Ketika pasukan kaum muslimin sampai di sebuah pohon besar yang menjadi rambu jalan sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah RA. Lalu orang musyrik itu hendak bergabung. Maka Nabi menoleh kepadanya dan mengatakan, ‘Kembalilah kamu, aku tidak meminta bantuan dari orang musyrik’.

Maka ketetapan ini terus berlaku sebagai prinsip yang tidak pernah ada pengecualiannya. Kecuali hanya dalam kejadian-kejadian yang terbatas dan langka. Oleh karena itu prinsip ini tetap menjadi pijakan dalam amal dakwah kita agar tidak mengemis meminta-minta balas bantuan dari orang yang memusuhi dakwah. Apalagi potensi yang dimiliki umat masih melimpah ruah untuk didayagunakan.

7. Syajaratul Istighfar (Pohon Meminta Ampunan)

Pohon istighfar berupa pohon anggur yang banyak buahnya. Apabila ada seorang tamu yang mampir ke rumah pemiliknya maka ia akan memetik setangkai buah itu lalu disodorkan kepadanya untuk mencicipinya. Setelah itu tentu seseorang yang bertandang itu akan merasakan kepuasan yang teramat sangat. Kemudian pada hari yang lain. Isteri pemilik kebun anggur itu mengatakan kepada suaminya. ‘Cara seperti itu tidak etis kepada tamu, sebaiknya engkau ikut memakan separuh jamuanmu guna menyenangkan hatinya dan sekaligus sebagai pernghormatan padanya’. Suaminnya menjawab, besok aku akan lakukan hal itu. Keesokan harinya, setelah tamunya memakan separuh hidangan yang disajikan kepadanya. Lalu lelaki pemilik kebun itu ikut serta memakannya. Tatkala ia mencicipinya terasa anggur itu masam dan tidak enak untuk dimakannya. Ia pun meludahkannya dan mengernyitkan kedua alisnya keheranan atas kesabaran tamunya yang mau merasakan buah seperti itu. Namun tamu itupun menjawabnya. ‘Sesungguhnya aku telah memakan buah ini dari tanganmu sebelumnya selama beberapa hari dengan rasa manis tetapi sekarang ini aku tidak suka memperlihatkan kepadamu rasa tidak enak pada buah ini sehingga membuatmu menyesali pemberianmu yang lalu’.

Apa yang disebutkan di atas ini bukanlah kisah ngawur melainkan sebagai tamsil perumpamaan yyang dibuat untuk para dai yang mengusung dakwah ini. Karena itu dengarkanlah baik-baik. Hal ini merupakan ungkapan kisah yang dijabarkan kepadamu untuk mendekatkan kepahamanmu kepadanya agar mudah kamu cerna.

Tidak seorangpun di antara orang-orang yang ada disekitarmu yang terpelihara dari kesalahan dan benar selalu adanya. Oleh karena itu jika ada saudaramu yang berbuat kekeliruan maka janganlah kekeliruannya itu mendorongmu untuk mendiamkannya tidak mau bergaul lagi dengannya. Tidak sabar terhadapnya atau mendiskriditkannya. Bahkan jangan pula kamu mencelanya melainkan bersabarlah kepadanya. Dan tahanlah emosimu. Dan kamu harus memaafkannya dalam hatimu karena mengingat kebaikannya yang terdahulu dan perilakunya yang baik dan penghormatannya kepadamu. Karena barangkali dia dapat membantumu untuk bertaubat atau menolongmu saat kamu belajar sebagai pelayan pendamping atau teman begadangmu atau dia mengajarkan kepadamu suatu bidang pengetahuan yang diajarkan Allah kepadanya dan hal-hal baru yang belum kamu ketahui.

8. Syajaratuz Zuhud (Pohon Zuhud)

Jika engkau telah beroleh faedah dan menebarkan keadilan maka sudah saatnya bagimu untuk membaringkan diri di bawah sebuah pohon yang ramping lagi banyak buahnya dan bunganya. Keindahannya memukau pandangan orang yang melihatnya dan membuat orang yang menikmati keindahannya berdecak kagum karena selera penanamnya begitu tinggi.

Itulah pohon zuhud. Yaitu pohon yang bersemi di dalam hati. Jenisnya lain dari yang lain. Belum pernah ada seorang pun yang menanam hal yang semisal itu sehingga terlihat sangat indah. Penanamannya menggambarkan pohon itu bagai syair berikut:

Zuhud telah menanamkan pohon dalam kalbuku

Sesudah membersihkannya dari bebatuan dengan susah payah

Dia menyiraminya sesudah menancapkannya ke bumi dengan air mata yang dialirkan

Manakala di melihat burung-burung perusak tanaman terbang mengelilingi pagarnya

Dia mengusirnya

Aku tidur di bawah naungan yang rindang dengan hati yang senang

Dan mengusir semua yang mengganggunya

Kemudian aku berjanji setia kepada Tuhanku

Seperti itulah Bai’atur Ridwan dilakukan di bawah pohon untuk memberikan janji setia. Rasakanlah kamu menjadi salah seorang diantara mereka yang melakukan hal itu. Dan kamu bersama di tengah-tengah mereka. Dirimu dipenuhi oleh semangat bai’at janji setia sampai mati di jalan Allah SWT. demi membela ajaran ini tegak di muka bumi.

9. Syajaratul Hilm (Pohon Penyantun)

Imam Hasan Al Banna telah memahami seni menanam pohon keimanan ini. Karena itu ia menanamkan kepada kita pohon Kesantunan. Beliau menggambarkannya sebagai berikut: ‘Jadilah kamu seperti pohon yang berbuah. Manusia melemparinya dengan batu sedang ia melempari mereka dengan buahnya’.

Sesungguhnya ia telah memberikan gambaran yang baik dan masukan yang berfaedah. Karena sesungguhnya kebanyakan manusia cepat cenderung kepada kejahilan sehingga mendorong mereka untuk mendustakan para da’i dan menyakiti mereka dengan cara batil. Seandainya seorang da’i bersikap jahil seperti orang jahil itu dan membalas keburukan dengan keburukan semisal, niscaya akan lenyap dan pudarlah nilai-nilai kebajikan itu. Sebenarnya sikap yang harus diambil seorang da’i adalah berlapang dada, mengharapkan pahala Allah dan memohon ampunan bagi kaum yang tidak mengerti itu.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid menandaskan bahwa pohon keimanan itu mesti diberi pupuk dan disiraminya disetiap waktu. Dirawatnya dengan baik agar tidak dimakan hewan yang mendatanginya atau dihinggapi hama penyakit. Ia pun perlu diselamatkan dari tangan jahil manusia yang sering usil untuk memetik buahnya sebelum masanya. Ia perlu penjaganan yang ekstra agar pohon-pohon itu memberikan buahnya bagi dakwah ini. Itulah Tsamaratud Da’wah (Buah Dakwah). Yakni kader-kader dakwah yang militan yang menyediakan dirinya untuk melayani dakwah ini dan berkhidmat terus demi tegaknya ajaran ini. Bila pertumbuhan kader ini terus tumbuh dari berbagai segmen dan usia secara seimbang maka dakwah ini akan mengalami tingkat produktifitas yang amat tinggi. Intajiyatud Da’wah (Produktivitas Dakwah). Dengan begitu mewujudkan misi utama dakwah ini untuk mencapai perubahan nilai dan norma akan semakin terrealisir.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya:107).

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan peranglah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al-Anfal:39).

Usrah & Dakwah oleh Al-Imam Hassan Al-Banna


Usrah & Dakwah oleh Al-Imam Hassan Al-Banna

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

LANDASAN

الَّذِینَ یُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَیَخْشَوْنَهُ وَلَا یَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا
“Orang-orang yang menyampaikan risalah Tuhannya (Allah) dan takut hanya kepadanya tidak kepada lainnya, cukuplah Allah sebagai Pengira segala Amal dan makhluknya.”
( Al-Ahzab:39)

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُم مِّن
جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِیرٌ لَّكُم بَيْنَ یَدَيْ عَذَابٍ شَدِیدٍ
Katakanlah ! Hanya sebuah wasiatku kepadamu, yalah, kamu akan menghadap kepada Allah berdua-dua dan sendiri sendiri. Kemudian renungkanlah dalam-dalam. Tidak ada sifat gila pada sahabat kamu itu (Muhammad). ía hanyalah seorang pembawa peringatan buat kamu di hadapan adzab yang pedih.

Katakanlah!
قُلْ مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَهُوَ عَلَى آُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Upah yang kuharapkan dari kamu adalah buat kamu. Balasan jasa buatku terserah kepada Allah, kerana ia menyaksikan segala sesuatu.

Katakanlah!

( قُلْ إِنَّ رَبِّي یَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَّامُ الْغُيُوبِ ( 48
Sesungguhnya Tuhanku yang Maha mengetahui perkara ghaib mewahyukan kebenaran kepadaku.

Katakanlah!

( قُلْ جَاء الْحَقُّ وَمَا یُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا یُعِيدُ ( 49
Telah datang kebenaran, dan kebathilan tidak bisa memulai sesuatu buat mengalahkan kebenaran dan tidak bisa mengembalikannya.

Katakanlah!

( قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَیْتُ فَبِمَا یُوحِي إِلَيَّ رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِیبٌ ( 50
Jika aku sesat, maka kesesatan itu buat diriku sendiri, dan jika aku terpimpin, maka itulah wahyu dan Tuhanku, sesungguhnya Ia Maha Mendengar yang dekat.
( Saba’: 46-50 )

ENAM PEGANGAN

1. Agama hanya akan dapat dirasakan oleh orang yang menegakkan ia dalam dirinya.

2. Bahagia dan sa’adah hanya akan dirasakan oleh orang yang membela keyakinan, kebenaran dan keadilan.

3. Kemenangan dan kejayaan hakiki hanya akan diberikan kepada para pejuang yang rela berkorban, kuat menahan penderitaan dan kepapaan.

4. Kesabaran dan ketahanan berjuang hanya akan diberikan kepada Mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah s.w.t.

5. Teguhlah dengan keyakinan dan perjuangan, kerana makna dan erti hidup terletak pada keyakinan dan perjuangan.

6. Belajarlah menfana’kan diri guna kepentingan Cita-Cita dan Agama.

Inilah perutusanku kepada saudara-saudara para Mujahidin di dalam “Ikhwan Muslimin” yang
beriman kepada kemuliaan Dakwah mereka, beriman kepada kesucian Fikrah (Falsafah Hidup) mereka, dan sungguh-sungguh berazam untuk sehidup dan semati dengan Dakwah serta Fikrah mereka; kepada hanya saudara-saudara tertentu inilah sahaja saya tujukan kata-kata yang ringkas ini iaitu kata-kata yang berupa arahan-arahan yang mesti ditunaikan, bukan mata pelajaran yang dihafal di bibir mulut.

Oleh itu marilah segera ke arah “bekerja” wahai saudara-saudara Sadiqun, dan segala amalan kamu itu akan diperlihatkan oleh Allah swt, RasulNya, dan oleh orang-orang Mukminin, dan kamu sekalian akan dikembalikan kelak kepada Tuhan yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi dan yang nyata lalu diterangkannya kepada kamu apa-apa yang telah kamu “Kerjakan”.
Sebenarnya; “Inilah jalanku, jalan yang lurus, maka hendaklah kamu mengikutinya dan janganlah kamu mengikut jalan-jalan yang lain kelak kamu akan terpesong dari jalan Allah swt; itulah amanat yang diwasiatkannya kepada kamu mudah-mudahan kamu terpelihara.”

Adapun selain daripada para “Mujahidin” tadi, maka untuk mereka sudahpun ada berbagai-bagai pelajaran, ceramah, kitab, rencana tulisan, tanda lambang, Jabatan, dan masing-masing dengan kesanggupannya, maka berlumba-lumbalah ke arah kebajikan sedang Allah menjanjikan kebaikan kepada setiap orang daripada kita.

DARIHAL “USRAH” Hassan al-Banna

1. Sesungguhnya Islam memandang sangat mustahak untuk membentuk ikatan-ikatan perpaduan penganut-penganutnya. Ikatan-ikatan ini dinamakan “Usrah” atau “Keluarga” Dengan terbentuknya apa yang dinamakan “Usrah” atau “Keluarga” seperti itu akan dapatlah dipimpin penganut-penganut Islam tadi ke arah contoh tauladan yang tinggi, dan dapatlah pula diperkuatkan ikatan-ikatan yang ada pada mereka, bahkan akan dapatlah dipertinggikan mutu “Ukhuwah” atau “Persaudaraan” di antara sesama mereka; iaitu dengan jalan membawa contoh tauladan dan persaudaraan itu dari peringkat bualan dan pandangan teori kepada peringkat perbuatan dan amalan.

Oleh itu, saudara sendiri juga hendaklah turut memandang berat serta bersedia untuk menjadi batu-bata yang sihat lagi berguna kepada bangunan keluarga binaan yang mulia ini; iaitu “Usrah Islamiah” atau “Keluarga Islam”.

2. Rukun ikatan “Usrah” ini tiga perkara yang mana hendaklah saudara memelihara serta
mengambil berat untuk bersungguh-sungguh menjayakannya supaya ikatan “usrah” tersebut tidaklah semata-mata menjadi suatu beban yang tidak mempunyai sebarang erti. Tiga rukun tersebut ialah:

(1) Ta’aruf [berkenalan]
(2) Tafahum [bersefahaman] dan
(3) Takaful [berseimbangan]

3. Erti Berkenalan: “Berkenalan” di antara satu sama lain ialah rukun yang pertama bagi pengertian “Usrah”. Oleh itu “ta’aruf” saudara-saudara hendaklah berkenal-kenalan serta berkasih-sayang dengan semangat cinta kepada Agama Allah, dan hendaklah saudara-saudara menyedari serta memahami hakikat “ukhuwwah” (persaudaraan) sejati di antara sesama saudara-saudara sendiri. Saudara-saudara hendaklah berusaha bersungguh-sungguh supaya jangan ada apa pun juga yang boleh mengerohkan perhubungan “ukhuwwah” itu. Ini boleh saudara-saudara lakukan dengan jalan sentiasa menjunjung titah perintah Allah swt dan hadith-hadith RasulNya saw, bahkan dengan jalan menjadikan firman-firman dan hadith-hadith itu perkara-perkara yang wajib diutamakan ke atas perkara-perkara yang lainnya.

4. Firman Tuhan:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
ertinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara”.
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا
ertinya: “(Dan berpeganglah dengan tali Allah swt semuanya dan janganlah kamu berpecah-belah)”.

5. Hadith Nabi:

المؤمن للمؤمن كالبنيان یشد بعضه بعضا
ertinya: “(Orang mukmin bagi orang mukmin itu laksana bangunan yang sebahagiannya memperkuatkan sebahagian
yang lain)”.
المسلم أخ المسلم لا یظلمه ولا يسلمه
ertinya: “(Orang muslim ialah saudara bagi muslim yang lain; ia tidak menzaliminya dan tidak juga membiarkannya dizalimi)”.
مثل الؤمنين قي توادّهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد
ertinya: “(Perbandingan orang-orang mukmin dalam kasih sayang mereka, dalam perasaan belas kasihan mereka, dan dalam rasa simpati mereka adalah laksana badan yang satu)”.

6. Malangnya ! Perintah-perintah Tuhan dan arahan-arahan RasulNya itu dalam zaman kebelakangan ini, selepas angkatan pertama dan zaman perkembangan Islam dahulu telah berubah menjadi hanya cakap-cakap kosong di kalangan orang-orang Islam sendiri dan ianya tidak lebih dari angan-angan sahaja. Tetapi, walaubagaimanapun apabila angkatan kita “Ikhwan Muslimin” muncul maka baharulah saudara-saudara sempat membuktikan erti hakikat “Ta’aa-ruf” atau “Berkenalan” tadi secara amalan, malah saudara-saudara ikhwan kita mencuba berkali-kali melaksanakan dasar “ta’aaruf” itu dikalangan masyarakat kita; saudara-saudara juga membuktikan keazaman yang kuat untuk menyatukan semula umat kita dengan berpandu
kepada semangat cinta kepada Allah swt dalam “Ukhuwah Islamiah”. Oleh itu, saya mengambil peluang mengucapkan tahniah sekiranya benar saudara-saudara sudah berazam begitu, malah saya berharap begitulah hendaknya yang saudara-saudara azamkan dan Allah jualah yang akan memberi taufiknya kepada saudar- saudara sekalian.

7. Bersefahaman: Rukun yang kedua bagi “Peraturan”, atau susunan “Usrah”, ini ialah “Ta-faa-hum” atau “Bersefahaman”. Oleh itu, saudara-saudara hendaklah selama-lamanya berpegang dengan “Kebenaran”; iaitu dengan jalan mengerjakan apa-apa yang diperintah Allah dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya dan saudara-saudara juga hendaklah memeriksa diri sendiri dengan sehalus-halusnya sama ada saudara-saudara benar-benar taat kepada perintah Allah swt atau pun terlibat ke dalam kederhakaan. Setelah memeriksa diri sendiri, saudara-saudara hendaklah pula nasihat menasihati di antara satu sama lain apabila kelihatan sesuatu yang “cacat” berlaku.

8. Dalam soal nasihat menasihati ini hendaklah saudara yang diberi nasihat itu bersedia serta sanggup menerima nasihat dan saudaranya tadi dengan sukacita dan gembira dan mengucapkan terimakasih di atas nasihatnya itu.
Saudara yang memberi nasihat itu pula janganlah berubah hati terhadap saudaranya yang “tersilap” tadi walau pun perubahan perasaan hati itu sejarak sehelai rambut sekalipun.

9. Nasihat-nasihat hendaklah diberi dengan cara yang baik dengan tidak memandang rendah terhadap saudara yang dinasihatinya itu. Orang yang memberi nasihat janganlah menganggap dirinya lebih mulia bahkan ia hendaklah memberi nasihat dengan cara tidak melahirkan terang-terangan akan kesilapan saudaranya itu kira-kira selama sebulan dengan tidak pun menceritakan segala kecacatan yang telah pun diperhatinya kepada “Ketuanya” (Ketua Usrah). Dia hendaklah menceritakan hal itu kepada “Ketua Usrah” jika ia rasa tidak berdaya memperbaikinya. Dalam apa hal sekalipun, iaitu janganlah sekali-kali merasai tawar
hati terhadap saudaranya yang “silap” tadi malah hendaklah ia tetap memberi kasih sayang terus menerus kepadanya sehinggalah Allah swt melakukan apa-apa perubahan yang dikehendakinya.

10. Dalam semua hal seperti yang dibentangkan tadi, saudara yang diberikan nasihat pula janganlah menunjukkan kedegilan dan sikap keras kepalanya malah ia janganlah berubah hati walau sejarak rambut sekali pun terhadap saudaranya yang memberi nasihat tadi; hendaklah difaham bahawa martabat “kasih sayang” kerana Allah itu adalah setinggi-tinggi martabat bagi pengertian “kasih sayang” di kalangan umat manusia, manakala “nasihat” itu pula adalah satu-satunya dasar yang amat penting di dalam Agama Islam.
Rasul bersabda- (ad dii-nun na-sii-hah) ertinya: (Agama itu adalah nasihat).

Oleh itu, perhatikanlah dalam-dalam, mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada kamu — perhatikanlah dalam-dalam akan pengajaran yang mulia di dalam hadith Rasul saw tadi, mudah-mudahan Allah selamatkan saudara-saudara di antara sesama sendiri, dan semoga Allah perkokohkan susunan saudara-saudara dengan berkat ta’at saudara-saudara kepadaNya; dan semoga Allah swt elakkan kita dan saudara-saudara semua daripada tipu-daya syaitan.

11. Berseimbangan: “Berseimbangan” atau (taka ful) ialah dasar memelihara nasib sesama sendiri supaya jangan ada orang yang terbiar atau terlantar; oleh itu saudara-saudara hendaklah mengamalkan dasar “takaful” ini dengan cara yang bersungguh-sunggul untuk bersama-sama menolong memikul bebanan sesama sendiri. Dasar “Berseimbangan” atau “takaful” ini merupakan tunjang iman dan intisari “ukhuwah” sejati. Untuk mengamalkan rukun “Berseimbangan” ini, saudara- saudara hendaklah sentiasa bertanya khabar sesama sendiri, ziarah menziarah, dan berganti ganti membuat kebajikan dengan jalan segera menolong di antara satu sama lain sedaya upaya. Perhatikan sabda Rasul saw:
لان یمشي احدكم في حاجة اخيه خيرله من ان یعتكف في مسجدي هذا شهرا
Ertinya: (Kalau seseorang dari kamu itu berjalan kerana hendak menolong saudaranya adalah lebih baik baginya daripada ia ber ‘iktikaf sebulan di masjidku ini).

Dalam suatu sabdanya yang lain, Rasul saw bersabda yang ertinya: (Barang siapa memberi kesukaan kepada keluarga sesebuah rumah orang muslim nescaya tidak lain yang dibalas Allah melainkan dengan syurga).

Mudah-mudahan Allah padukan saudara-saudara sekalian dengan pertolongannya sendiri; kerana Allah itulah sebaik-baik Pengawal dan sebaik-baik Pembantu.

12. Wahai Saudara-saudara Ikhwan:
Jika saudara-saudara faham maksud di dalam “kewajipan-kewajipan” di hadapan saudara saudara, dan di dalam “kerja-kerja” saudara-saudara, jika saudara-saudara mengerjakannya maka di situlah terletaknya segala sesuatu yang boleh menjayakan rukun-rukun “Ber-Usrah” tadi. Oleh itu, saudara-saudara hendaklah sentiasa menyemak tugas-tugas yang bercorak “tugas tolong-menolong” dan tiap-tiap ahli “ikhwan” hendaklah memeriksa dirinya sendiri untuk melaksanakan “kewajipan-kewajipan” tersebut.

13. Selain dan itu, hendaklah tiap-tiap “ikhwan” itu benar-benar menghadiri pertemuan-pertemuan yang telah dijadualkan walau bagaimana uzur sekalipun, kemudian hendaklah ia segera menunaikan kewajipannya untuk “Tabung Usrah” atau (Sun-duu-qul-Usrah) iaitu cawangan “Usrah” yang ia sendiri menjadi ahlinya sehingga dengan demikian hendaknya janganlah sampai ada ahli yang tidak menunaikannya.

Sebenarnya, apabila saudara dapat menunaikan kewajipan-kewajipan yang bersifat perseorangan, kemasyarakatan, dan kewangan seperti yang tertera tadi maka tidak syak lagi rukun-rukun “Usrah” kita ini akan terlaksana dengan jayanya. Akan tetapi, sebaliknya jika saudara-saudara mencuaikannya maka segala rukun dan peraturan tersebut sudah tentu akan beransur-ansur mundur dan akhirnya terus mati; dan dengan matinya “Peraturan Usrah” yang baik ini akan rugilah gerakan “Dakwah” kita ini serugi-ruginya. Perlu ditegaskan bahawa gerakan “Dakwah” kita ini amatlah dikehendaki dan menjadi tempat harapan bagi umat Islam seluruhnya.

14. Banyak juga di antara saudara-saudara “Ikhwan” kita bertanya: “Apakah yang hendak dibuat di dalam pertemuan-pertemuan kita tiap-tiap minggu selaku sebuah “Usrah” menurut susunan dan peraturan ini?”

Perkara ini mudah sahaja; kerana alangkah banyaknya kewajipan kita sedangkan masa kita terlalu sedikit; oleh itu pertemuan-pertemuan mingguan kita hendaklah dipenuhkan dengan perkara-perkara yang berikut:

15. Perkara (1): Membentangkan Kesulitan:
Tiap-tiap seorang “ikhwan” hendaklah membentangkan kesulitan-kesulitannya, kemudian saudara saudara yang lain turut mengambil berat untuk tolong mengatasi kesulitan-kesulitan itu; dan ini hendaklah dilakukan di dalam suasana “ukhuwah” yang sejati dan dengan niat yang sebenar-benar ikhlas kerana Allah. Dengan demikian dapatlah diperkuatkan lagi asas “saling percaya mempercayai” seperti mana juga dapat diperkukuhkan tali hubungan “ukhuwah”. Rasul saw bersabda:
المؤمن مرآة اخيه
Ertinya: (Orang mu’min itu cermin bagi saudaranya).

Dengan demikian kita berharap semoga tercapailah sedikit sebanyak hikmat yang tersaji di dalam hadith Rasul saw yang berbunyi:
مثل المومنين قي توادّهم وتراحمهم وتعاطقهم كمثل الجسد الواحد. اذا اشتكى منه
عضو تداعي له سائرالجسد بالسهروالحمي
Ertinya: (Perbandingan orang-orang mukmin dalam erti kata kasih sayang mereka, dalam ertikata belas kasihan mereka sesama mereka, dan dalam erti kata timbang rasa simpati mereka adalah laksana badan yang satu; iaitu apabila mana-mana anggota mengadukan hal maka turut menanggunglah seluruh badan dengan berjaga malam dan merasai demam).

16. Perkara (2): Bermuzakarah:
Hendaklah saudara bermuzakarah iaitu bertukar tukar fikiran mengenai urusan-urusan Islam; hendaklah menatap risalah-risalah arahan dan taklimat yang diedarkan oleh Pucuk Pimpinan kepada seluruh cawangan “Usrah”. Dalam satu-satu pertemuan “Usrah” janganlah ada sebarang pertengkaran atau bertikam lidah atau sikap menengking herdik kerana semuanya adalah dikira “haram” menurut Undang undang Usrah. Muzakarah hendaklah merupakan penerangan dan penjelasan dengan tidak melanggar batas-batas sopan santun yang sempurna dan dengan cara harga-menghargai fikiran yang datang semua pihak yang mengambil bahagian di dalam muzakarah itu. Apabila hendak ditutup satu-satu perbincangan, atau hendak dibuat keputusan mengenai apa-apa cadangan, atau hendak penjelasan lanjut mengenai cadangan yang sedang ditimbangkan itu, maka perkara itu hendaklah diserahkan kepada “Ketua Usrah” supaya beliau sempat terlebih dahulu mengemukakannya kepada “Pucuk Pimpinan”. Jangan dibuat
keputusan mengenai sesuatu perkara dengan cara terburu-buru. Tuhan mencela umat-umat manusia yang bersikap terburu-buru dengan firmanNya:
واذاجاءوهم امرمن الأمن اوالخوف اذاعوابه
Ertinya: (Dan apabila datang kepada mereka sesuatu perkara mengenai keamanan atau ketakutan maka mereka pun terus mencanangkannya).

Setelah Tuhan mencela mereka yang berperangai begitu maka Tuhan tunjukkan pula apa-apa yang semestinya dilakukan apabila tersua dengan suasana seperti itu.
Tuhan berfirman:
ولوردوه الي الرسول والي أولي الامرمنهم لعلمه الذین یستنبطونه منهم
Ertinya: (Kalaulah mereka kembalikannya kepada Rasul dan kepada Pihak Berkuasa dan antara mereka sendirii nescaya orang-orang yang menimbangnya itu menge tahui hakikatnya).

17. Perkara (3): Kajian Buku:
Hendaklah saudara-saudara mengadakan suatu kajian yang berfaedah mengenai sesebuah kitab yang bermutu. Apabila sudah membuat kajian begitu, maka hendaklah saudara-saudara angkatan Ikhwan beraleh pula untuk menjayakan erti “Ukhuwah” hatta dalam perkara-tunjuk “muka manis” sekalipun; dan alangkah banyaknya perkara-perkara yang berfaedah seperti itu yang mana tentulah tidak termuat oleh terlalu banyaknya di dalam kitab-kitab dan buku-buku. Perkara-perkara ini tentulah tidak dapat disedia sekali gus di dalam “Taklimat-Takimat” dalam perkara perkara seperti ini; iaitu seperti menziarah orang sakit; menolong orang-orang yang berhajat walaupun dengan hanya sekadar kata-kata yang baik; mencari dan bertanyakan hal tentang saudara-saudara yang tidak kelihatan bersama-sama kumpulan; dan menanggong bebanan saudara-saudara yang terputus rezeki. Semuanya itu dapat menambahkan lagi tali
“Ukhuwah” dan dapat melipatgandakan perasaan kasih sayang di dalam hati masing-masing.

18. Rencana Tambahan:
Untuk mengukuhkan ikatan persaudaraan di antara saudara-saudara “Ikhwan Muslimin”, maka mereka sendiri hendaklah memandang mustahak perkara-perkara yang berikut: –

(1) Mengadakan perkelahan yang bercorak kebudayaan untuk melawat ke tempat-tempat yang ber sejarah, gudang-gudang perusahaan, dan sebagainya.

(2) Mengadakan perkelah-kelahan riadzah pada tiap tiap bulan.

(3) Mengadakan perkelah-kelahan berdayong sampan.

(4) Mengadakan perkelah-kelahan ke bukit-bukit, ke padang-padang pasir dan ke ladang-ladang.

(5) Mengadakan bermacam-macam perkelahan dengan mengguna basikal.

(6) Berpuasa seminggu sekali atau dua minggu sekali.

(7) Sembahyang Subuh berjama’ah di masjid Sekurang-kurangnya seminggu sekali.

(8) Berikhtiar seboleh-bolehnya bermalam beramai ramai seminggu sekali atau dua minggu sekali.

KEWAJIPAN ANGKATAN IKHWAN

19. Pertama: Untuk Badan Saudara:-

(1) Hendaklah saudara segera berjumpa doktor untuk diperiksa kesihatan umum saudara. Jika didapati ada apa-apa penyakit maka hendaklah saudara segera berubat. Selain dan itu hendaklah saudara sentiasa mengambil berat tentang punca-punca kekuatan badan saudara dan cara-cara bagaimana memeliharanya dan segi kesihatan. Di samping itu hendaklah saudara menjauhkan diri daripada sebab-sebab yang boleh melemahkan kesihatan badan saudara.

(2) Hendaklah saudara menjaga kebersihan di dalam semua hal — iaitu samada dalam rumahtangga, pakaian, makan minum, tubuh badan, maupun tempat bekerja dengan sebersih-bersihnya; kerana Islam itu diasaskan di atas dasar “Kebersihan”.

(3) Hendaklah saudara tidak meminum kopi atau teh berlebih-lebihan dan apa-apa jua minuman penyegar seperti itu; malah seboleh-bolehnya cubalah jangan sama sekali menghisap rokok.

(4) Hendaklah saudara mengamalkan apa-apa jenis riadah badan walaupun dengan cara hanya sekadar berjalan-jalan kaki sahaja; dan hendaklah saudara menjadi ahli di dalam mana-mana “Pasukan Pengembara” jika umur saudara menasabah dengannya.

(5) Hendaklah saudara menjauhkan diri sama sekali daripada arak, minuman-minuman keras yang memabukkan, dan minuman-minuman yang boleh melemahkan kesihatan badan atau apa jua minuman yang merbahaya seperti itu.

20. Yang Kedua: Untuk Akal Saudara:-

(6) Hendaklah saudara dapat membaca dan menulis dengan baik. Hendaklah saudara belajar membaca dan menulis jika saudara belum dapat berbuat demikian. Hendaklah saudara sentiasa bermutala’ah dapat berbuat demikian. Hendaklah saudara sentiasa membaca akhbar-akhbar dan majalah-majalah. Hendaklah juga saudara mempunyai sebuah kutub-khanah khas untuk saudara sendiri walaupun kecil supaya saudara berpeluang mendalamkan ilmu pengetahuan dan kepandaian yang sudah ada pada diri saudara jika saudara adalah termasuk ke dalam mana-mana golongan iktisas dalam satu-satu bidang pengetahuan.
Saudara hendaklah juga memiliki pengalaman berkenaan urusan-urusan Ugama Islam kira-kira
membolehkan saudara menggambarkan hakikatnya dan menimbang samada cucuk atau tidak satu-satu perkara itu dengan tujuan-tujuan Dakwah’ kita.

(7) Hendaklah saudara dapat membaca Quran dengan betul: dan juga hendaklah saudara dapat mendengar serta memikirkan ertinya. Juga saudara dikehendaki mempelajari “Sirah” atau Perjalanan Rasulullah dan sejarah angkatan “As-sala-fus Saa-lih” atau yang sangat “mustahak” (essential) mengenai asas-asas “Aqidah asas-asas bagimana hukum-hukum itu bercabang, dan juga rahsia-rahsia Syari’at Tuhan.

21. Ketiga: Untuk Budi Pekerti Saudara:-

(8) Hendaklah saudara sentiasa di dalam keadaan segar mekar dan cergas, berperasaan halus, mudah berkesan sama ada terhadap sesuatu yang baik maupun terhadap sesuatu yang buruk; sama ada terhadap perkataan-perkataan maupun terhadap perbuatan.

(9) Hendaklah saudara sentiasa bercakap benar dan jangan sekali-kali berdusta; hendaklah saudara kuat kemahuan; dan janganlah teragak-agak di dalam sesuatu perkara, yang benar dan hendaklah saudara sanggup menyimpan rahsia; berani mengaku kesilapan sendiri. sanggup menyedari dan mengawas diri sendiri ketika marah.

(10) Hendaklah saudara bersikap berani; sanggup memikul bebanan; dan semulia-mulia keberanian itu ialah berani berterang-terang dengan perkara yang benar dan hendaklah saudara sanggup menyimpan rahsia; berani mengaku kesilapan sendiri, sanggup menyedari dan mengawal diri sendiri ketika marah.

(11) Hendaklah saudara bersikap gagah dengan cara sentiasa bersungguh di dalam sesuatu perkara. Kegagahan sikap seperti itu tidaklah pula sampai menghalang saudara dan bergurau dengan yang benar dan ketawa dengan senyum dan dengan tidak mengada-ngada.

(12) Hendaklah saudara menjauhkan diri daripada rakan-rakan yang jahat dan daripada kawan yang rosak seperti mana saudara juga hendaklah menjauhkan diri daripada tempat maksiat dan dosa.

22. Keempat: Untuk Saku Saudara:-

(13) Hendaklah saudara membuat apa juga kerja yang halal yang boleh mendatangkan rezeki sekalipun kalau saudara sudah kaya-raya; dan juga hendaklah saudara memilih kerja yang bersungguh dan mencubakannya seberapa daya upaya walaupun kerja itu sukar; bahkan hendaklah saudara bertekun sehingga berjaya di dalam satu-satu kerja.

(14) Janganlah saudara terlalu sibuk mencari kerja di pejabat-pejabat Kerajaan. akan tetapi janganlah pula saudara menolaknya jika peluang mendatang: dan janganlah lepaskan kerja yang sudah saudara dapat kecuali jika kerja itu henar-benar berlawanan dengan tugas-tugas Gerakan Dakwah kita.

(15) Hendaklah saudara sentiasa berjaga-jaga supaya dapat menunai tugas saudara dengan cukup amanah tentang kelicinan dan ketertihan pekerjaan itu; dengan sekali-kali tidak menipu; bahkah hendaklah saudara menunaikan kewajipan itu dengan tepat pada waktunya dan tepat pada masa janjinya.

(16) Hendaklah saudara menjauhkan diri dari permainanjudi walaupun apa jua pun coraknya, dan walau apapun jua tujuan yang ada di sebaliknya. Hendaklah juga saudara menjauhkan diri daripada cara-cara penghasilan haram walaupun di sebaliknya itu terdapat keuntungan yang segera.

(17) Hendaklah saudara menjauhkan diri daripada amalan riba di dalam apa jua mu’amalah jual-beli, malah hendaklah saudara membersihkan diri sama sekali dan sebarang aliran riba itu.

(18) Hendaklah saudara menyimpan sebahagian daripada wang saudara untuk masa kecemasan walaupun simpan itu sedikit sahaja, dan janganlah sekali-kali saudara-saudara terjerumus ke dalam perbelanjaan-perbelanjaan yang tidak mustahak.

(19) Hendaklah saudara memerangi tempat-tempat permainan kotor; jangan menghampirinya, dan hendaklah saudara menjauhkan diri daripada cara hidup bermewah-mewah, berlebih-lebihan dan membazir.

(20) Hendaklah saudara mengguna harta umum umat Islam itu kepada jalan-jalan yang menggalakkan perusahaan dan pembangunan ekonomi Islam. Hendaklah saudara berjaga-jaga supaya jangan sampai keciciran wang itu walau sekupang sekalipun ke tangan pihak yang bukan Islam walau dalam apa jua keadaan sekalipun. Hendaklah saudara jangan memakai melainkan barang-barang buatan tanah air saudara sendiri.

23.Yang Kelima: Untuk Orang Lain:-

(21) Hendaklah saudara berlaku adil dan benar dalam menjalankan sesuatu hukum walauapa pun jua perkaranya. Janganlah saudara lupakan kebaikan orang lain sebab saudara marah; dan sebaliknya pula, janganlah saudara memejam mata daripada kejahatan kejahatan mereka — itu sebab saudara sayang. Budi baik orang lain hendaklah dikenang walaupun ketika dalam keadaan permusuhan. Hendaklah saudara bercakap benar walaupun terhadap diri sendiri atau terhadap orang yang paling hampir dengan saudara sekalipun cakapan yang benar itu pahit maung akibatnya.

(22) Hendaklah saudara cergas dan terlatih dalam membuat perkara-perkara kebajikan am. Kecerdasan ini dapat diukur dengan perasaan gembira saudara ketika saudara dapat memberi khidmat kepada orang lain untuk mencapai maksud ini hendaklah saudara menziarahi orang-orang sakit, menolong orang-orang yang berhajat, menanggung bebanan orang-orang yang lemah dan melapangkan dada orang-orang yang ditimpa kemalangan atau bencana walaupun hanya sekadar dengan cakap-cakap yang “melegakan hati”. Tegasnya, hendaklah saudara segera melakukan kebajikan walau apajua pun coraknya.

(23) Hendaklah saudara bersifat belas-kasihan dan bertolak-ansur. Dalam hal ini hendaklah saudara memaaf dan mengampun kesilapan-kesilapan orang lain. Belas kasihan ini bukan sahaja terhadap sesama manusia akan tetapi juga terhadap makhluk haiwan. Hendaklah saudara bermu’amalah dengan orang lain secara yang baik; sentiasalah berkelakuan baik terhadap orang ramai dan hendaklah saudara memelihara sopan santun secana Islam dalam pengaulan sehari-hari — iaitu dengan cara menaruh perasaan belas kasihan kepada yang kecil dan menghormati yang tua, melapangkan tempat ketika di dalam mana-mana majlis
perhimpunan ramai. Janganlah saudara mengintai-ngintai atau mengumpat-ngumpat; jangan menceroboh bahkan hendaklah saudara terlebih dahulu meminta izin ketika hendak masuk ke satu-satu tempat dan begitu juga ketika hendak keluar dan sesuatu tempat.

(24) Hendaklah saudara meminta hak saudara dengan cara yang baik dan hendaklah menunai hak orang lain dengan sepenuhnya dengan tidak payah dituntut dan dengan tidak lengah-lengah lagi.

24. Yang Keenam: Untuk Gerakan Dakwah Saudara:-

(25) Hendaklah saudara melepaskan diri daripada berhubung dengan sebarang badan atau kumpulan yang tidak memberi faedah kepada pergerakan Dakwah kita terutama jika saudara disuruh berhubung dengan badan-badan atau kumpulan-kumpulan seperti itu.

(26) Hendaklah saudara sedaya upaya berusaha menghidupkan adat-adat yang bercorak Islam dan sebaliknya memerangi adat-adat dagang dalam semua lapangan hidup. Di antara adat-adat ini ialah cara-cara memberi hormat, bertutur bahasa, bahasa itu sendiri, sejarah, pakaian dan masa-masa bekerja (office hours).

(27) Hendaklah saudara tidak menonjolkan diri (iaitu memulau) apa jua mahkamah “bukan Islam”; iaitu dengan jalan saudara tidak berhakimkan kepadanya kecuali jika terpaksa; begitu juga saudara janganlah pergi ke kelab-kelab yang bukan Islam, akhbar-akhbar, kumpulan kumpulan, sekolah-sekolah dan badan-badan serta perbadanan-perbadanan yang menentang ideology Islam. Pemulauan ini hendaklah saudara lakukan dengan cara yang bersungguh-sungguh.

(28) Hendaklah saudara kenal siapa dia anggota anggota “Cawangan” yang saudara sendiri berada di dalamnya; saudara hendaklah kenal mereka itu tiap-tiap seorangnya dengan kenalan yang penuh dan di samping itu saudara pula hendaklah memperkenalkan diri saudara kepada mereka dengan sejelas-jelasnya sambil menunjukkan bahawa saudara benar-benar merasai kasih sayang, penghargaan, sanggup bertolong-tolongan; dan saudara hendaklah membuktikan bahawa saudara mengutamakan kepentingan mereka ke atas kepentingan diri saudara sendiri. Saudara janganlah tidak menghadiri majlis mereka itu kecuali dengan sebab-sebab yang sangat memaksa dan tidak dapat dielakkan sama sekali. Tegasnya, saudara hendaklah
membuktikan di dalam mu’amalah sehari-hari bahawa saudara betiar-benar mengutamakn mereka ke atas diri saudara sendiri dan menunjukkan kasih sayang saudara kepada mereka sepanjang masa.

(29) Hendaklah saudara menyumbangkan sedikit dan harta punya saudara untuk pergerakan Dakwah kita ini, dan janganlah lupa mengeluarkan zakat yang wajib. Seboleh-bolehnya hendaklah saudara menguntukkan sedikit dan harta punya saudara itu untuk menolong pengemis-pengemis dan orang-orang yang terputus rezeki walaupun pendapatan saudara sendiri amat kecil.

(30) Hendaklah saudara bekerja untuk menyiarkan seruan Dakwah Ideology kita ini pada segenap telok dan rantau; dan juga hendaklah saudara corakkan rumah tangga, keluarga dan sesiapa jua yang berhubung dengan saudara dengan corak keislaman. Hendaklah saudara memberitahu suasana yang mengelilingi diri saudara kepada Pucuk Pimpinan. Dan hendaklah saudara sentiasa berhubung rapat dengan Pucuk Pimpinan dan segi jiwa dan amalan malah saudara hendaklah terlebih dahulu meminta persetujuan mereka dalam setiap langkah yang penting di samping menganggap diri saudara sendiri sebagai seorang askar yang sentiasa di dalam keadaan “siap sedia” dan hanya menunggu perintah untuk bertindak.

25. Yang Ketujuh: Untuk Tuhan Saudara:-

(31) Hendaldah saudara jangan terputus dan mengawasi Allah tabaraka wa-ta’ala. Sentiasalah berniat ikhlas kerana Allah dalam sebarang pekerjaan. Saudara hendaklah sentiasa beringat-ingat serta bersedia untuk ke Akhirat; iaitu dengan jalan beramal dengan ibadat-ibadat yang Sunnah untuk menghampirkan diri kepada Allah; hendaklah saudara membanyakkan zikrullah dalam semua hal serta berdoa dengan doa-doa yang ma’thur yang pernah diamalkan oleh Rasulullãh dalam setiap keadaan.

(32) Hendaklah saudara mengamalkan wirid -wirid yang khas bagi Ikhwan Muslimin dan janganlah saudara mengecualikannya melainkan sebab satu-satu keadaan yang cemas dan memaksa.

(33) Hendaklah saudara memelihara kebersihan samada tentang perkara-perkara yang nyata maupun perkara perkara ma’anawi; dan seboleh-bolehnya hendak saudara sentiada berada di dalam keadaan berwudhu.

(34) Hendaklah saudara tahu sembahyang dengan betul dan menunaikannya pada waktu-waktunya yang ditentukan, dan seboleh-bolehnya hendaklah saudara selalu ke majlis dan berjama’ah di sana.

(35) Hendaklah saudara berpuada pada bulan Ramadan dengan baiknya.

(36) Hendaldah saudara menunai fardu Haji jika mampu; akan tetapi jika belum mampu, maka hendaklah saudara bekerja untuknya dari sekarang lagi.

(37) Hendaklah saudara sentiasa membaharui taubat dan isti’ghfar meminta ampun kepada Tuhan. Saudara hendaklah menjauhkan diri daripada segala dosa — bukan sahaja dosa-dosa besar tetapi juga hatta dosa-dosa kecil pun hendakdah saudara jauhinya.
Hendaklah saudara menjaga masa kerana masa itu adalah umur saudara; oleh itu hendaklah saudara menjauhkan diri daripada perkara-perkara subahat iaitu perkara-perkara yang samar-samar hukumnya supaya dengan menjauhkan diri danipadanya saudara tidak terjatuh ke dalam perkara-perkara yang haram.

(38) Hendaklah saudara melawan diri sendiri dengan sehebat-hebatnya supaya mudah saudara memimpin diri sendiri. Kawalilah mata dan perasaan hati sendiri, dan kuasailah desakan-desakan kemahuan semulajadi di dalam diri saudara dan halakanlah semuanya itu kepada perkara-perkara yang halal lagi baik. Elakkan diri daripada apa jua perkara yang haram walau apapun jua coraknya.

26. Dan Untuk Semuanya Tadi:-

(39) Hendaklah saudara sentiasa berada di dalam keadaan niat berjihad dan untuknya sedaya upaya.

(40) Sebelum tidur hendakiah saudara menguntukkan masa selama satu jam untuk menyoal diri sendiri tentang sejauh.mana dan sebanyak mana saudara menunaikan kewajipan ini? Jika saudara dapati jawapannya baik maka bersyukurlah kepada Allah; akan tetapi jika saudara dapati kekurangan maka pintalah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepadaNya, malah hendaklah saudara pinta pertolongan daripadaNya kerana Allah itu sebaik-baik Pengawal dan sebaik-baik Pembantu.

SEPULUH WASIAT

Bacalah — Renungilah — Kemudian Terus Beramal

(1) Apabila saudara mendengar azan, maka bangunlah sembahyang serta-merta walau bagaimana keadaan sekalipun.

(2) Bacalah al-Quran, atau tatapilah buku-buku, atau pergilah mendengar perkara-perkara yang baik ataupun amalkanlah zikrullah, dan janganlah sama sekali saudara membuang masa walau sedikit pun dalam perkara yang tidak berfaedah.

(3) Berusahalah seberapa daya upaya untuk bertutur dalam Bahasa Arab yang betul; kerana Bahasa Arab yang betul (itu adalah satu-satunya syiar Islam).

(4) Janganlah banyak bertengkar dalam apa-apa perkara sekalipun kerana pertengkaran kosong itu tidak memberi sebarang apa pun jua kebaikan.

(5) Janganlah banyak ketawa kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu sentiasa tenang lagi tenteram.

(6) Janganlah bergurau kerana umat yang sedang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh sungguh dalam setiap perkara.

(7) Janganlah saudara bercakap lebih nyaring daripada kadar yang dikehendaki oleh para pendengar kerana percakapan yang nyaring begitu adalah suatu resmi yang sia-sia malah menyakiti hati orang.

(8) Jauhilah daripada mengumpat-ngumpat peribadi orang, mengecam pertubuhan-pertubuhan, dan janganlah bercakap melainkan apa-apa yang boleh memberi kebajikan.

(9) Berkenal-kenalanlah dengan tiap-tiap saudara Ikhwan Muslimin yang saudara bertemu dengannya sekalipun ia tidak meminta saudara berkenalan; kerana asas gerakan Dakwah kita ialah berkasih sayang dan berkenal-kenalan.

(10) Kewajipan-kewajipan kita lebih banyak daripada masa yang ada pada kita; oleh itu tolonglah saudaramu sendiri tentang cara-cara bagaimana hendak mengguna masa dengan berfaedah dan jika saudara mempunyai tugas sendiri maka ringkaskanlah pelaksanaannya.

PESAN TERAKHIR

Wahai MUJAHID DAKWAH!

Puluhan tahun lamanya, pendengaran, pergaulan, ketekunan, kegiatan berjuang, kerana jerih payah dan pembantingan tulang yang tiada hentinya, engkau telah kaya dengan pengalaman.
Engkau sekarang telah jadi.
Engkau telah memiliki pengertian dan ukuran, engkau telah turut menentukan jarum sejarah seperti orang lain.
Engkau telah sampai pula ke batas sejarah, kini dan nanti.
Engkau telah memenuhi hidupmu dengan tekun dan sungguh, ikut memikul yang berat menjinjing yang ringan, membawa batubata untuk membangun gedung Ummat ini.
Engkau tebus semua itu dengan cucuran keringat dan airmata, kesengsaraan dan penderitaan.
Kawan hidupmu yang menyertaimu dalam segala suka dan duka, telah tak ada lagi.
Ia tak sempat menghantarmu sampai ke batas perhentian. Tengah jalan dia pulang, dan engkau
ditingga]kannya di daerah kesepian. Di atas kuburnya telah tumbuh rumput, daunnya subur menghijau. Bunga suci aku lihat tumbuh pula di atas pusara sepi itu.
Tangan siapa gerangan yang menanamnya, aku tak tahu.
Biarkan dia tumbuh menjadi. Akan tiba juga masanya bunga suci itu mekar-mengumtum.
Eva dan Sofia akan memetik dia kelak, akan mempersunting dia penghias sanggulnya.
Sudikah engkau menulis nisan-kenangan di atas kuburnya, sebagai tanda pembalas jasa, kerana dialah tolan penolong engkau di medan bakti?

Wahai MUBALIGH ISLAM!

Tanganmu telah ikut menulis sejarah.
Sejarah perjuangan Umat, sejarah menegakkan Cita dan Agama,
Benang yang engkau sumbangkan telah memperindah sulaman tarik dari Umat ini.
Engkau kini telah menemui bentukmu, sesuai dengan bakat dan kudratmu.
Engkau tidak lagi anak kemarin, tetapi anak kini dan akan pulang lagi meninggalkan bengkalai ini. Sebagai seroang Jurubicara Umat Islam, engkau telah mempunyai ukuran dan alat penilai; sampai di mana kita dan hendak ke mana lagi.
Pengalaman yang engkau perolehi dan perjalanan yang jauh, akan berguna
dan bermakna dalam mencari kemungkinan bagi langsungnya prijuangan Cita ke depan.
Keyakinan yang engkau miliki, jalan panjang yang engkau tempuh selarut selama ini, getir yang engkau derita, segala itu dapat engkau pakai untuk merumuskan bagaimana lagi perjuangan Umat Islam ke depan — setelah ini.
Paparkanlah semua itu kepada generasi muda yang akan mengganti engkau!
Ambillah kesimpulan dan kekeliruan dan kegagalan masa lampau.

Belajar dari masa lalu, terutama belajar dari kekeliruan dan kegagalan yang engkau alami sendiri, dan teman seiringmu juga.
Bukankah kerap engkau benar dalam pendirian tapi salah dalam perhitungan?
Benar dalam prinsip tapi keliru dalam cara? Kejujuran dalam perjuangan memesankan, agar kita mengakui terus terang kekeliruan dan kelemahan diri.
Yang demikian itu penting untuk menyusun paduan masa
datang, mengendalikan kehidupan Cita dan Agama.
Dalam kekeliruan, kita dapat mengambil makna dan guna.
Kita keliru kerana kita telah berbuat. Ruh-intiqadi yang engkau miliki, janganlah pula engkau pakai untuk melenyapkan segala harga dan nilai, dan angkatan lama yang telah berbuat itu. Mereka adalah anak dan zamannya, dan telah memenuhi tugasnya pula.
Cahaya dan pelita lilin yang lemah serta lembut itu perlu juga dihargai, kerana ia teiah berjasa memecahkan sudut-sudut yang gelap.

Wahai si JURU DAKWAH!

Kini engkau telah sampai ke tonggak sejarah.
Di atas pendakian sunyi tidak kesibukan, terletak
pesenggarahan lama, patilasan orang lalu setiap waktu.
Dan tempat itu hidup kenangan lama.
Masa lalu penuh keharuan dan kenangan.
Duri dan derita, dera dan kepapaan, keringat dan airmata.
Tapi ia indah dalam kenangan dan lukisan kalbu. Engkau pandanglah masa depan dengan Basyirah, dengan horizon yang tajam.
Memanjang jauh ke muka, sampai ke kaki langit.
Tahukah engkau, bahawa engkau hanyalah sebuah mata dan rantai sejarah yang panjang itu? Telah lalu beberapa kafilah dan kehidupan yang sayup, dan mereka telah berbuat sesuai dengan zamannya. Sungai airmata dan titisan darah sepanjang jalan yang membentang dan pangkal hingga ke hujung yang tidak kelihatan, adalah kalimat yang memberitakan, bahawa angkatan silam telah mengembangkan sayap kegiatan mereka dengan segala kesungguhan dan kepenuhan. Romantik dan heroik zaman silam masih menggemakan gentasuara di tengah sahara kekinian, meninggalkan pesan kehidupan yang penuh dan menyeiuruh kepada angkatan kemudian.
Daftar para Syuhada’ itu telah panjang, dan dalam perut bumi telah memutih tulang sebagai saksi kepada yang hidup, bahawa mereka telah datang dan telah pulang tidak sia-sia.
Dan celah-celah kuburnya kedengaran jua suara halus memuat amanat perjuangan kepada generasi kita yang masih hidup.
Dan lihatlah pula kafilah hidup yang sudah mendesak juga ke batas perhentian.
Masa kini rupanya “lah laruik sandjo” bagi mereka, dan waktu pamitan tak lama lagi.

Wahai si TUKANG SERU!

Entah berapa lagi banyak umur engkau yang masih tinggal, kita tak tahu.
Tahukah engkau, pekerjaan besar ini tidak akan selesai di tangan engkau?
Sejarah berjalan terus, lampau dan datang, kini dan nanti.
Tahukah engkau, bahawa dibelakang kalimat sejarah itu belum ada titik?
Masa yang akan datang penuh rahsia, tersimpan dalam kandungan ghaib, misteria gelap bagi kita. Masa silam dapat engkau baca dalam halaman sejarah; masa yang akan datang masih gelap tak ada yang tahu?
Tahukah engkau, kumandang zaman datang dapat juga kita ketahui dan puncak zaman sekarang?
Dalam kekinian mengandung juga roman zaman yang akan tiba.
Engkau kini berada di antara dua ufuk yang bertentangan, dua kutub yang tidak serupa. Engkau kini berada antara idealisme dan realisme dunia.
Idealisma yang engkau miiki dan realisme dunia yang engkau hadapi.
Antara kedua kutub itu engkau tetap dalam lensa sorotan.
Lensa sorotan sejarah yang berjalan terus dan sentiasa.
Sanggupkah engkau lalu di tengah-tengah dua kutub yang bertentangan ini?
Masih kuatkah kaki engkau berjalan di antara dua dunia yang saling bertentangan itu?

Wahai MUSAFIR yang sedang lalu!

Jalan ini masih panjang, rantau masih jauh!
Dengan Al-Quran di tangan kanan dan kain kafan di tangan kiri, teruskanlah perjalanan ini.
Berjalan dan melihat ke muka, menggunakan sisa umur yang masih ada.
Entah bila akan sampai ke tempat perhentian, engkau tak tahu, — aku pun tidak.
Di tengah laut lepas dan luas, pencalang ramping itu telah jauh ke tengah.
Awan menyerang kiri dan kanan, gelombang mengganas dan badai menghempas.
Pencalang ramping itu naik turun mengikut amukan air. Jurumudi mendapat ujian.
Berpirau melawan arus, pesan seorang pemimpin, dijadikan pedoman dalam hati.
Kemudi dan pimpinan bertanggungjawab atas keselamatan pelayaran ini.
Kini kita telah jauh berada di tengah. Pelabuhan tempat bertolak tiada kelihatan lagi, sedang ranah-tanah tapi belum jua tampak.

Wahai MUJAHID ISLAM!

Akhirnya pelayaran ini sampai juga ke pantai, berkat jurumudi yang piawai memegang pimpinan. Engkau dan Umat ini kini harus berjalan kaki, menggunakan tenaga diri sendiri.
Tak ada tolan penolong selain Dia semata, yang melindungi kita dan awal mula sampai hari ini.
Jalan masih panjang, rantau Cita masih jauh. Ufuk-ufuk baru kelihatan juga, tambah dijelang tambah jauh rasanya.
Kafilah itu lalu dan berjalan terus, menempuh laut sahara tiada bertepi.
Sunnah perjalanan alam membawa kata pasti: setelah malam kelam ngeri ini fajar pagi yang indah akan menyingsing.
Di atas asap yang tebal, terbentang langit cerah yang biru.
Gelap dan gelita alam, lapisan kabus tebal dan berat. Di halaman langit tak ada bintang.
Berfikirlah sejenak dan melihatlah ke atas ada sebutir terang mengirim sinar ke bumi.
Sebuah bintang itu jadilah, kerana ada pedoman bagi kafilah di tengah sahara luas.
Pelaut yang arif selalu mendapat alamat dan sebutir terang di halaman langit.

Wahai UMAT RISALAH!

Dengarlah suara Bilal bergema dari ufuk ke ufuk!
Dengarlah seruan azan bersahut-sahutan dari Menara ke Menara!
Renunglah suara Takbir berkumandang di mana-mana, memanggil Umat ini dengan kalimat sakti: Hayya ‘alas Solah! Hayya ‘ala! Falah! Marilah Sembahyang, marilah Menang!
Engkau pandanglah Umat Jama’ah itu berdiri bersaf-saf di belakang seorang Imam, Ruku’ dan Sujud bersama-sama. “Suatu pandangan dari udara atas dunia Islam pada saat sembahyang, akan memberikan pemandangan dan sejumlah lingkaran konsentrasi yang terdiri daripada kaum Muslimin, dengan jari-jarinya yang bertitik-pusat di Ka’bah di Mekah, dan yang terus mengambil tempat yang lebih luas, dan Sierra Leone sampai ke Kanton dan Toboisk sampai Tanjung Pengharapan”, — demikian Philip K. Hitti melukiskan kaum Muslimin
di kala menyembah Tuhannya. (1)

Engkau lihatlah mereka di dalam Masjid yang sudah tua tidak terurus, surau yang hampir roboh kerana tekanan masa, dengan sepi di tengah sawah; dengan pakaian yang compang-camping dan tenaga lemah, masih berdiri menegakkan Solat. Kaum Muslimin itu masih tetap melakukan ‘ibadah kepada Tuhannya, memanjatkan doa ke hadrat Ilahi semoga segera datang tangkisan ghaib dan udara menolong kaum yang lemah ini.
Wahai Tuhanku, kalau adalah di antara Umat ini yang berhak menerima Ridha dan
Ma’unahMu, — kalau adalah di antara Umat ini yang berhak menerima bantuanMu, mereka itulah dia! Merekalah yang berhak menerima gemilang sayang Mu dan arahan Rahim Mu: menegakkan yang lemah, mengangkat kaum yang tertindas!

Wahai UMAT DAKWAH!

Amanat perjuangan itu kini jatuh ke tangan kaum yang lemah Dhu’afa dan Fuqara; tenaga lemah dan dana tak ada. Di tangan kaum yang lemah itu tersimpan kekuatan Umat ini. Rahsia kejayaan dan kemenangan, bulat seluruhnya dalam genggaman mereka.
Innama tunsyaruna wa turzaquna bidlu ‘afaikum! (Hadis).
Kamu akan mendapat kemenangan hanya dengan bantuan kaum yang lemah di antara kamu.
Bimbinglah tangan Umat ini kembali, bawa mereka ke jalan yang benar!
Jangan dibiarkan Umat ini ditelan kesepian; jangan dibiarkan Umat ini ditakuti oleh hantu-kesangsian, tanpa pimpinan.
Hidupkan terus api idealisme dan kembangkan sentiasa optimisma dan enthousiasme. Sinarkan apatismedan fatalisme, lenyapkan defaitisme, menyerah kepada keadaan atau menjadi budak dan kenyataan!
Denyutkan kembali jantung Umat ini!
Wajarkan kembali aliran darah Tauhid mereka!
Tuhan telah menjanjikan kurnia dan bantuan kepada kaum yang lemah, kaum yang tertindas di bumi.
( إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ یَهْدِي مَن یَشَاء وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِینَ ( 56
“Dan Kami hendak menumpahkan budi atas mereka yang ditindas di bumi, dan Kami hendak menjadikan mereka Pemimpin, dan Kami hendak menjadikan mereka mewarisi bumi. Dan Kami hendak meneguhkan kekuasaan untuk mereka di bumi.”
Al Qashash: 516.

Wahai UMAT PILIHAN !

Kamu adalah kaum Muslimin, nama pilihan dan panggilan kehormatan yang diberikan Tuhan dan dahulu sampai hari ini.
Kamu bukanlah golongan “mustaslimin” kaum yang menyerah — kalah kepada kenyataan.
Sebagai Umat yang berIman, hadapi kenyataan hidup ini dengan kesedaran dan keinsafan, kewaspadaan dan keperwiraan.
Hadapilah kenyataan di bumi dengan ketenangan jiwa dan keyakinan hidup!
Hanya dengan ketenangan jiwa dan keyakinan hidup, hanya dengan Sakinah dan Muthamainah itulah kamu bermakna dan berguna hidup di tengah-tengah manusia di dunia.
Hanya dengan ‘Aqidah yang kuat dan qa’idah yang jelas, kamu dapat menempuh kehidupan ini.
Hanya dengan Wijhah hidup yang tegak dan khitah perjuangan yang cerah serta terang, kamu dapat membawa Umat ini ke tepi ufuk ke Ridhaan Ilahi. Tegakkan ‘Aqidah Islamiah dalam dada Umat, subur kan “Ibadah!”

Susun Umat ini dalam pola Jama’ah menurut tauladan Sunnah, akhini Firqah!
Jama’ah adalah kekuatan dan kesatuan; Firqah adalah kelemahan, remuk dan kehancuran.
Hamparkan kembali tikar Ukhwah Islamiah dan Ukhwah Imaniyah di kalangan Umat Islam ini, tanamkan Mahabbah dan Marhamah!

Wahai ANGKATAN KINI!

Tak lama lagi engkau akan kembali pulang, memberi laporan kepada Tuhan, mempertanggungjawabkan segala amal, jasa dan karyamu di dunia. Tinggalkan bengkalai ini kepada generasi muda yang akan datang mengganti.
Hidupkan dinamik dan militansi muda Islam, yang akan menggantikan kamu setelah kamu tak ada, yang akan meneruskan pekerjaan yang belum selesai ini. Janganlah kamu hendak hidup seperti pohon beringin besar, yang ingin hidup sepanjang abad, dan tidak memberi kesempatan kepada tunas-tunas baru tumbuh dan menguntum di sekeliling.
Risalah dan Amanah ini tidak akan selesai di tangan engkau sendiri.
Susun dan sediakan Tenaga Baru, yang berbakat dan berkarekter, yang akan melanjutkan perjuangan ini dengan segala keyakinan dan keperwiraan.
Tahukah engkau, salah satu sebab dan kelemahan Umat Islam ialah tiadanya atau kurangnya kader yang berwatak, kader pemikir dan pejuang yang sanggup menggantikan angkatan lama? Tulang dan tenagamu yang sudah semakin lemah, jatah umurmu telah semakin kurang memesankan kepadamu supaya mencari ganti di hari kini. Patah tumbuh hilang berganti; jangan ada “vacuum” pimpinan atau fatrah pedoman kelak terjadi di kalangan Umat Islam.

Wahai ANGKATAN BARU!

Siapkanlah dirimu untuk menggantikan angkatan tua, mereka akan pulang tak lama lagi. Janganlah engkau menjadi pemuda kecapi suling, yang bersenandung meratapi tepian yang sudah runtuh, mengenangkan masa silam yang telah pergi jauh.
Janganlah engkau membuat kekeliruan lagi seperti pernah dilakukan oleh angkatan yang engkau gantikan.
Teruskan perjalanan ini dengan tenaga dan kakimu sendiri.
Dada bumi cukup luas untuk menerima kehadiranmu.
Penuhilah segenap udara in i dengan kegiatan dan ketekunan, sungguh dan penuh.
Hadapilah tugas mahaberat ini dengan jiwa besar, dengan daya juang api semangat yang nyalanya kuat dan keras.
Pupuklah Ruhul-Jihad, semangat revolusioner, radikal dan progressif dalam jiwamu, dan bertindaklah sebagai laki-laki dengan perhitungan yang nyata dan pertimbangan yang matang.
Perkayalah dirimu dengan meneladan kepada masa silam, di mana ada yang rebah dan ada yang bangun, ada yang jatuh dan terus berdiri lagi.
Kamu tidak boleh menjadi “plagiator” dan angkatan lama, dan tidak boleh pula menepuk dada serta menidakkan segala harga dan nilai, jasa dan karya dan angkatan lama.
Mereka kaya dengan pengalaman, engkau kaya dengan cita-cita.
Padukanlah pengalaman angkatan lama dengan nyala citamu!

Sejarah ini telah lama berjalan bergerak dan berkembang.
Kamu hanyalah tenaga penyambung menyelesaikan bengkalai yang belum selesai.
Meneruskan pekerjaan besar, sundut bersundut, dan keturunan yang satu kepada keturunan yang lain, angkatan kemudian angkatan.
Kafilah hidup ini adalah ibarat gelombang di lautan; menghempas yang satu, menyusul yang lain; memecah yang pertama datang yang kedua.
Sedarilah posisi dan fungsimu dalam sejarah, dan lakukanlah tugas suci ini dengan pengertian, keyakinan dan kesabaran!

Insafilah kedaulatanmu sebagai Pemuda Angkatan Baru, yang hendak menggantikan manusia tua angkatan lama.
Tidaklah sama dan serupa antara kedua angkatan zaman itu, kerana sejarah berjalan sentiasa menurut hukum dinamika dan hukum dialektika.

Wahai UMAT QURAN!

‘Aqidah dan Wijhah hidupmu menyuruh engkau tampil ke depan, mengkutbahkan, “Suara Langit” di bumi.
Isilah fungsimu dengan kegiatan dan kesungguhan; jalankan Amanat ini dengan segala kepenuhan an ketekunan.
Dunia dan Kemanusiaan menunggu pimpinan dan bimbinganmu. Bumi menantikan “Cahaya Langit” yang mampu menyapu kegelapan.
Jaga dan peliharalah jangan sampai “jambatan” ini runtuh, agar hubungan Bumi dengan Langit tidak patah atau terputus.

(1) Qum, Fa anzir !
Bangkit dan berdirilah, susun barisan dan kekuatan. Barisan dan kesatuan Umat.
Canangkan seruan dan ancaman.
Seruan kebenaran dan ancaman kebinasaan jika menolak atau menentang kebenaran.
Gemakan sentiasa Kalam Ilahi, kumandangkan selalu suara dan seruan kebenaran.
Sampai peringatan ini ke kuping segala Insan!
Gempitakan kepada dunia dan kepada manusia ajaran agama Tauhid, ajaran Cita dan Cinta.

(2) Warabbaka fakabbir !
Besarkan Tuhanmu, di atas segala! Tiada kebenaran yang menyamai KebesaranNya.
Tiada kekuasaan yang menyamai KekuasaanNya.
Tiada urusan atau kepentingan yang lebih dan urusan dan kepentingan menjalankan perintahNya.
Kecil semuanya di hadapan Allahu Akbar.
Fana, lenyap dan binasa segala dalam ke BaqaanNya.
Tiada ketakutan selain dan lazab, siksaNya yang akan menimpa.
Tiada harapan selain dan ke RidhaanNya belaka.
Tiada kesulitan apabila ruh telah bersambung dengan Maha Kebesaran dan Maha Kekuasaan Tuhan yang Tunggal itu.

(3) Wathiabaka fathahhir !
Bersihkanlah dirimu, lahir dan batinmu! Hanya dengan kesucian ruh jua Amanah dan Risalah ini dapat engkau jalankan.
Risalah dan Amanah ini adalah suci. Dia tidak boleh dipegang oleh tangan yang kotor, jiwa yang berlumur dosa dan noda.
Hanyalah dengan kesucian ruh engkau dapat memikul tugas dan beban berat ini.
Sucikanlah dirimu, lahir dan batin, baru engkau ajar manusai menempuh tugas dan beban berat ini. Thahirum muthahir suci dan mensucikan, itulah peribadi Mukmin yang sejati.
Tangan yang berlumur darah maksiat tidak mungkin akan berbuat khairat kepada dunia dan manusia. Jiwa yang kotor dan penuh dosa tidak mungkin akan memberikan isi dan erti dunia dan manusia.

(4) Warrujza fahjur !
Jauhilah maksiat, singkiri mungkarat!
Dosa itu akan menodai dirimu, akan menghitamkan wajah riwayatmu.
Engkau tidak akan sanggup menghadap, jika mukamu tebal dan hitam dengan dosa dan maksiat. Namamu akan cemar dihadapan Rabbi, kalau laranganNya tidak engkau singkiri dan jauhi. Bersihkanlah keluargamu, jiran dan tetanggamu, masyarakat bangsamu dan maksiat dan mungkarat dan dosa dan noda.
Bangsa dan Negaramu akan karam-tenggelam dalam lembab kehancuran dan kebinasaan, jikalau maksiat dan mungkarat telah menjadi pakaiannya.
Makruf yang harus tegak dan mungkar yang harus roboh, adalah program perjuanganmu. A1-Haq yang mesti dimenangi dan bathil yang harus dibinasakan, adalah acara dan jihadmu.

(5) Wala tamnun tastakthir !
Janganlah engkau memberi kerana harapkan balasan yang banyak!
Jalankan tugas ini tanpa mengharapran balasan dan ganjaran dan manusia ramai.
Menjalankan tugas adalah berbakti dan mengabdi, tidak mengharapkan balasan dan pujian, keuntungan benda dan material.
Kekayaan manusia tidak cukup untuk “membalas” jasamu yang tidak ternilai itu. Bukankah tanpa engkau, masyarakat ini akan kering dan ketiadaan Iman, kepercayaan dan, pegangan?
Bukankah tanpa engkau, masyarakat ini lenyap ditelan kesepian, tiada suluh dan pelita? Bukankah tanpa engkau, hidup ini akan kerdil; hidup kehampaan dan segala kehampaan, kerana tiada Iman dan Agama?
Kalau tidak adalah “penyuluh-penyuluh” baru datang ke dunia seperti engkau, alam ini seluruhnya akan tenggelam dalam kegelapan, kesepian dan kehampaan.
Jalankan tugas ini kerana hanya mengharapkan ke Ridhaan Tuhanmu jua.

(6) Walirabbika fasybir !
Kerana Tuhanmu, hendaklah engkau sabar! Lakukanlah tugas dan kewajipan ini dengan segala
kesabaran dan ketahanan. Sabar menerima musyibah yang menimpa, ujian dan percubaan yang datang silih berganti. Sabar menahan dan mengendalikan diri, menunggu pohon yang engkau tanam itu berpucuk dan berbuah. Tidak putus asa dan hilang harapan atau kecewa melihat hasil yang ada kerana tidak seimbang dengan kegiatan dan pengorbanan yang diberikan. Hanya Ummat yang sabar yang akan mendapat kejayaan sejati dan kemenangan hakiki. Hanya Ummat yang sabar yang akan sampai kepada tujuan.

Haza dzikrun!

Inilah enam peringatan dan enam arahan!
Untuk Mujahid Dakwah. Syahibud Dakwah, si Tukang Seru.
Bukankah tanpa engkau, masyarakat ini lenyap ditelan kesepian, tiada suluh dan pelita? Bukankah tanpa engkau, hidup ini akan kerdil; hidup kehampaan dan segala kehampaan, kerana tiada Iman dan Agama?
Kalau tidak adalah “penyuluh-penyuluh” baru datang kedunia seperti engkau, alam ini seluruhnya akan
tenggelam dalam kegelapan, kesepian dan kehampaan.
Jalankan tugas ini kerana hanya mengharapkan ke Ridhaan Tuhanmu jua.

SYIKWA DAN JAWABI

SYIKWA

1.Dunia gelap dan gulita
Yang kuasa hanya patung dan berhala
Buatan tangan sipenyembah itu
Daripada kayu dan batu
Filsafat Yunani tak berpengaruh lagi
Hukum Rumawi telah bangkrup dan rugi
Hikmat benua Cina telah padam lena;
Tetapi bahu Muslimin kuat
Telah membungkar ilhad, dan seluruh jagat Telah memancarkan sinar baru, Tauhid dan Ijtihad

2. Diwaktu itu
Ya Ilahil kebun kebun didalam alam telah kehilangan nyanyi
Dan kembang tidak lagi menyebarkan harumnya
Kalau ada angin menderu, hanyalah pancaroba
Kalau suara terdengar hanyalah suara dan guruh tuhur;
Sampai datang utusan Tuhan dinegeri Mekah itu
Dia adalah ummi – telah mengajar isi bumi
Akan arti kehidupan langit
Dia telah menunjukkan kepada isi alam
Apa artinya fana’ dalam menuju yang baqa
Maka kamilah yang harum dalam kebun itu
Kami hapuskan tanda kegelapan malam
Dengan sinar cahaya subuh Sehingga Iman kami telah laksana kegilaan dan
orang yang asyik Kami hadapi seluruh kemanusiaan, Ya Tuhan dengan Nur
Dalam saat yang singkat, selonjak bola melayang Untuk mengenal Kebenaran, Cahaya dan Keindahan Dunia dikala itu telah penuh oleh bangsa-bangsa dan kerajaan Saljuki, Turani dan Cina Ada kerajaan Bani Sasan.
Ada peninggalan Ruma dan Yunan Maka kami kibarkan bendera Tauhid
Kami kumpulkan segala anak manusia dan turunannya demi turunan
Dalam satu kekeluargaan; Percaya akan diKau, mentauhidkan Engkau
Kami perbaiki yang rosak, kami tegakkan yang condong
Kami pun berjuang didarat dan dilaut Menggetar suara azan kami ditempat-tempat menyembah diEropah Berbekas sujud kening kami dipasir Sahara Afrika Kami tidak takut pada Kaisar, atau kekuasaan adikara, Atau kemarahan raja-raja, Kami pendengarkan kepada alam, seluruhnya
Kalimat Tauhid
3. Tak ada lagi kekayaan kami yang tinggal, Ya Rabbi
Kecuali satu, iaitu kemiskinan
Tak ada lagi kekuatan kami yang tinggal, Ya Rabbi
Kecuali satu, iaitu kelemahan; padahal
Jika Muslim tak ada lagi didunia
Dunia itu sendiri pun akan hilang hancur
Kami memohon Baqa didunia ini
Kerana ingin Fana, dalam cinta akan diKau
4. Kesetiaan Siddiq, keadilan Umar, musyaf Othman Taqwa Ali, kejujuran Salman
Keindahan suara Bilal didalam azan Semuanya masih tetap kami simpan, dihati yang am
Didalam keteguhan Iman dan penyerahan bulat bulat
Bangunkanlah Ya Rabbi kami kembali
Dengan itu suara genta yang pertama kali
Telah Engkau bangunkan Agama ini mulanya di puncak Faran
Maka terangilah hati siasyik ini dengan hembusan Iman
Bakar habis cintakan dunia
Dengan cetusan api cinta Mu

JAWABI SYIKWA

1.Telah kami hamparkan tikar kurnia
Tapi, siapakah yang datang bertanya?
Telah kami rentangkan jalan raya kemuliaan
Tapi, siapakah yang terlengkup untuk melaluinya
Sungguh cahayanya telah kami pancarkan dan Fitrat
Tetapi permata tidak menyambut sari cahaya dirinya
Seakan akan sejemput tanah ini, tidak terjadi Dari tanah Insaniah yang pertama di tempa…..
2. Benarkah kamu telah bersedia dizaman baru
Menjadi Abid Allah tentera Muhammad. Dan menjadi permata berlian menyinar cahaya dan
Agama ini?
Mana boleh, pelupuk mata mu telah berat
Buat menyambut cahaya subuh dengan takbir
salatmu dan rintihan hidup mu.
Seakan-akan perangaimu telah turut tidur dengan
pelupukmu
Apakah bedanya terang siang dengan gelap malam
Bagi orang yang tidur mendengkur ditengahhari?
Bukanlah Ramadhan tidak mengikut kemerdekaanmu
Tidak memutar belitkan kebudayaanmu.Wahai umat bercakap terus teranglah, inikah yang namanya setia Kepada sejarahmu yang lampau dari agamamu? Ujudnya suatu kaum adalah kerana ujud agamanya Agama pada suatu umat adalah tulang Punggung tempat ia berdaulat.
Kalau agamanya telah pergi Agamalah yang telah menyusun jadi satu barisan Kalau tak ada sandar menyandar, di antara bintang dan bintan.g
Tidaklah terbentang suasana indah di langit Maka bulan pun taklah akan sanggup memancar kan keindahan sinar
3. Lihatlah Mesjid Allah, yang meramaikannya hanyalah orang-orang miskin. Mereka hanya yang puasa, mereka yang sembahyang. Merekalah yang abid, merekalah yang berzikir Merekalah yang menutup malumu sekalian di hadapan mata dunia
Adapun yang kaya mabuk dalam kelalaian dan menolak seruan
Adalah suatu hal yang menghairankan Bahawa agama itu yang masih suci, masih teguh binaanya
Kerana nafas orang yang kafir Kekuatan semangat tak ada lagi dalam susunan katamu yang telah basi
Ajaran yang telah diberikan tidak lagi menarik hati
Kalaulah tidak ruh Bilal yang masih ada didalamnya
Azan itu sendiri pun telah kehilangan keindahannya
Mesjid mu telah mati kerana kekurangan saf-saf
Mihrab dikerut lawah kerana kematian Iman
Mimbarmu berlumut dan menimbulkan jemu
Khatib dihantarkan kesana dengan pedang dan pada kayu
Tetapi rumahmu? Rumahmu penuh dengan alat kebanggaan
Dengan pangkat dan gelar-gelar,
Tun tan sri, dato’ dan lain-lain
Aku tak berjumpa Muslim didalamnya
4. Aku harapkan pemuda inilah yang akan sanggup!
membangunkan zaman yang baharu memperbaru kekuatan Iman menyalakan pelita hidayat menyebarkan ajaran Khatimul Anbiya
Mencapkkan ditengah medan pokok ajaran Ibrahim api ini akan hidup kembali dan akan membakar janganlah mengeluh jua, hai orang yang mengadu janganlah putus asa, melihat lengang kebunmu cahaya pagi telah terhampar bersih dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu kumbang dan lebah telah mulai mendengung mengedar
dan Syuhada, telah mengelegak dimulut kuntum tak kah kau lihat langit, alangkah jernih tak kau lihat ufuk, burhan telah menyatakan diri hari yang baru telah pasti datang
dan syamsu akan datang dengan cahaya gemilang. Dan pandang pulalah kebumi
tidakkah engkau lihat satu kaum memetik buah dan yang lain menghapus tangan
memang banyak pohon kurma yang telah masanya berbuah
tetapi benih-benih yang baru bergerak di pelipis bumi, memecahkan
sendiri tempurungnya, melonjakkan tunas hendak melihat
cahaya dibumi, asal dianya sentiasa disiram dan disiram dengan ajaran asli Islam, dia akan tumbuh dan suburnya dan dunia mendapat nafas baru.
5. Khalaifafuladli akan diserahkan kembali ketanganmu
Bersedialah dan sekarang Tegaklah, untuk menetapkan ENGKAU ADA Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali
Engkau minyak athar itu, meskipun tersimpan dalam kuntum yang akan mekar.
Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu
Hembuskan panas napasmu diatas kebun ini
Agar harum-haruman narwastu meliputi segala
Dan janganlah dipilih hidup bagai nyanyian ombak hanya berbunyi ketika terhempas dipantai
Tetapi jadilah kamu air bah, mengubah dunia dengan amalmu
Kipaskan sayapmu di seluruh ufuk
Sinarilah zaman dengan nur imanmu Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu
Patrikan segala dengan nama Muhammad.

Dan tarikan nafas: IQBAL

Pesan Terakhir (Sajak oleh Syed Qutb)

Sahabat…
Andainya kematianku kau tangisi
Pusaraku kau sirami dengan air matamu
Maka di atas tulang belulangku yang dah luluh
Nyalakanlah obor untuk umat ini
Dan
Lanjutkanlah gerak merebut kemenangan

Sahabat,
Kematianku hanyalah suatu perjalanan
Memenuhi panggilan kekasih yang merindu
Taman-taman indah di syurga Tuhan
Terhampar menanti
Burung-burungnya berpesta menyambutku
Dan berbahagialah hidupku di sana

Sahabat,
Puaka kegelapan pastikan lebur
Fajarkan menyingsing
Dan alam ini kan disinari cahaya lagi
Relakanlah rohku terbang mendapatkan rindunya
Jangan gentar berkelana ke alam abadi
Di sana cahaya fajar memancar.

Sayyid Qutub-1966

BAGAIMANA MENANAMKAN HIMMAH YANG TINGGI/HIMMAH ‘ALIYAH


BAGAIMANA MENANAMKAN HIMMAH YANG TINGGI/HIMMAH ‘ALIYAH

Oleh : Sheikh Hasan Al-Bugisy
(Terjemahan)

Rasulullah s.a.w bersabda : ”Nama yang tepat bagi seorang muslim adalah Hammam dan Harist dan nama yang paling Allah cintai adalah Abdullah dan Abdurrahman “.
Al Hammam adalah niat yang kuat, sedangkan “Al Harits” adalah sosok dari hasil Himmah atau hammam iaitu bekerja untuk mendapatkan obsesi/keinginan tersebut. Jadi setiap manusia punya keinginan, namun tidak semua manusia memiliki keinginan “Himmah yang kuat”.

A.DEFINISI HIMMAH

Himmah tidak boleh dilihat secara dhohir kerana Himmah adalah masalah yang lahir dari hati dan akal fikiran manusia, bukan masalah amal. Dari segi bahasa Himmah bererti “An Niyyah“ (niat), “Iradah” (kehendak), “Al ‘azimah” (tekad). Dalam makna ini terdapat tiga kata yang berbeza iaitu berupa niat yang sifatnya biasa, kemudian iradah atau kehendak yang kuat lalu dilanjutkan dengan tekad untuk melaksanakan kehendak tersebut.

Allah SWT berfirman : “ Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda dari tuhannya ( QS. Yusuf : 24)

Dalam ayat ini boleh diertikan bahawa belum ada tindakan atau amal, tapi masih berupa Himmah, niat. Dalam ayat tersebut terdapat kata “wahamma biha” yang ertinya keinginan terhadapnya (wanita tersebut). Bukankah Nabi Yusuf a.s adalah seorang nabi, bagaimana mungkin dia memiliki Himmah kepada wanita tersebut ? Dalam kaedah bahasa Arab ada istilah “takdim wa takhir” (kalimat didahulukan dan diakhirkan). Jadi menurut kaedah ini bererti seandainya Nabi Yusuf a.s tidak mendapatkan petunjuk dari Allah SWT, pasti Nabi Yusuf a.s. juga berkeinginan terhadap wanita tersebut. Maka pada hakikatnya bahawa Nabi Yusuf a.s. tidak berkeinginan terhadap wanita tersebut kerana sebelumnya beliau telah mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.

Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesunggunya Allah telah menetapkan kebaikan-kebaiakan dan kejahatan-kejahatan kemudian menjelaskannya, maka barang siapa yang bermaksud berbuat kebaikan lalu belum sempat mengerjakannya, Allah mencatat di sisiNya sebagai satu kebaikan sempurna. Dan jika dia bermaksud berbuat kebaikan lalu dia mengerjakannya, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan dan akan dilipat gandakan sampai tujuh ratus lebih, hingga dilipatgandakan yang banyak sekali. Dan jika dia bermaksud berbuat kejahatan, tetapi dia tidak mengerjakannya, Allah mencatat baginya disisiNya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika bermaksud berbuat kejahatan dan melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kejahatan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah s.a.w. menjelaskan bahawa Himmah ada 2 iaitu :
1. Himmatul ‘Aliyah (Obsesi yang kuat)
2. Himmatud Daniyah (Obsesi yang rendah)

Sesungguhnya Allah SWT mencintai perkara-perkara yang mulia dan membenci perkara-perkara yang rendah atau hina. Allah SWT mencintai perkara yang tinggi / mulia baik dalam amal, agama, da’wah di jalan Allah SWT.. Allah SWT membenci perkara-perkara rendah, tidak bernilai dan hina, baik berupa perkara-perkara yang haram maupun yang harus.

B.‘ULUWWUL HIMMAH (OBSESI YANG TINGGI)

Seseorang dikatakan memiliki ‘uluwwul Himmah atau Obsesi yang tinggi iaitu ketika seseorang telah menganggap remeh segala perkara-perkara di bawah cita-citanya. Misalnya seorang Da’i yang bercita-cita untuk menyebarkan agama Allah SWT. Dia dikatakan memiliki Himmah yang tinggi, ketika dia telah menganggap remeh perkara-perkara selainnya, ketika dia tidak memperduli apapun tentangan dan pengorbanan yang harus dibayar mahal untuk memenuhi tujuan tersebut.

Diceritakan dalam riwayat da’wah Rasulullah s.a.w. ketika orang – orang Quraish mendatangi paman Rasulullah s.a.w, iaitu Abu Thalib dan memintanya supaya memujuk Rasulullah s.a.w. agar menghentikan da’wahnya. Setelah Abu Thalib menyampaikan perihal tersebut. Rasulullah s.a.w. berkata : “Wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan da’wah ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga aku binasa”. Kisah Rasulullah s.a.w. ini menunjukkan tingginya Himmah Rasulullah s.a.w. dalam memperjuangkan agama Allah ini. Baginda telah menganggap remeh semua perkara-perkara yang menghambat da’wah Islamiyah.

C. ‘DUNUWWUL HIMMAH (OBSESI YANG RENDAH)

Iaitu ketika jiwa lemah terhadap tingkatan perkara-perkara yang tinggi atau mulia dan lebih memilih redho pada perkara-perkara yang rendah. Jadi orang yang memiliki obsesi rendah ini adalah orang lemah, rendah yang tidak mau mencari masalah dan sayangnya majoriti kaum muslimin sekarang berada dalam tingkatan ini.

Diriwayatkan tentang panglima perang di masa pemerintahan seorang Gabenur Basrah yang bernama Al-Hajjaj. Al-Hajjaj memerintah panglimanya untuk memerangi orang-orang Khawarij yang jumlahnya lebih kurang 200 orang sedangkan panglima ini memiliki pasukan lebih kurang 1000 orang. Sungguh pertempuran yang tidak seimbang. Namun orang Khawarij terkenal sebagai orang-orang yang memiliki keberanian dan kejujuran. Orang Khawarij adalah orang yang tidak mudah putus asa dalam mewujudkan keinginannya. Hingga akhirnya dalam pertempuran itu ternyata pasukan Khawarij memenangi peperangan tersebut. Setelah peperangan selesai, dengan membawa kekalahan panglima kembali menghadap gabenor Al-Hajjaj. Al-Hajjaj bingung mengapa pasukan Khawarij yang jumlahnya sedikit mampu mengalahkan pasukan yang jumlahnya lebih banyak ? Ternyata panglima perangnya adalah orang yang memiliki Himmah rendah, yang lebih baik pulang dalam keadaan hidup, walaupun harus dicaci maki gabenor daripada mati walaupun terkenal dan terhormat. Dalam kisah ini menunjukkan lemahnya Himmah yang dimiliki oleh panglima perang ini. Dia lebih memilih hidup dalam kehinaan daripada mati dalam kemuliaan.

MANUSIA DAN HIMMAH

Setiap manusia secara umum memiliki keinginan atau Himmah, namun tiap-tiap seseorang memiliki tingkatan Himmah yang berbeza-beza sehingga dalam hidup terdapat perbezaan-perbezaan tingkatan amal.
Firman Allah SWT: “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeza-berbeza” (QS. Al Lail : 4)

Berdasarkan ayat ini, amalan manusia dibedakan dalam 2 hal iaitu :
1. ‘Imma lillah yaitu amal yang dikerjakan semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT
2. ‘Imma lighairihi yaitu amalan yang dikerjakan bukan karena Allah SWT.. Amalan seperti ini adalah amalan yang dilakukan oleh orang yang memiliki obsesi rendah.
‘Immalillah adalah amalan yang dimiliki oleh orang memiliki obsesi tinggi yang mengejar kemuliaan. Dan ini hanya dilakukan oleh orang yang memiliki iman yang teguh dan kuat mencari kemuliaan disisi Allah SWT.. Dalam ayat berikutnya Allah memberi jaminan kemudahan baginya.

Allah SWT berfirman :”Adapun orang yang memberikan hartanya (dijalan Allah) dan bertaqwa. Dan membenarkan adanya pahala yang baik (syurga), maka Kami kelak akan menyediakan baginya jalan yang mudah”. (QS. Al Lail : 5-7)

Adapun untuk orang-orang yang memiliki Himmah rendah, yang mengerjakan amalan bukan kerana Allah SWT, tapi kerana nafsu dan keinginan dunia maka Allah memberikan ancaman padanya.

Allah SWT berfirman : “Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyediakan baginya jalan yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa”. (QS. Al Lail : 8 – 11)

Itulah balasan bagi orang yang berpaling dari jalan Allah SWT yang melakukan amalan bukan kerana Allah SWT.. Dan apabila dia diberikan kemudahan oleh Allah SWT sesuai sunnatullah, namun dengan mudahnya berakhir dengan azab, kesengsaraan dan kebinasaan di sisi Allah SWT.

D. PEMBAHAGIAN MANUSIA MENURUT ULAMA

Dilihat dari kadar obsesi atau Himmah-nya, Ulama membahagi kelompok manusia dalam 4 keadaan:

1. ‘Adzhimul Himmah iaitu orang yang memiliki cita-cita yang sangat besar. Yang memiliki al- Kifayah (kapasiti), mempunyai kesempatan, kemampuan untuk mencapai cita-cita lalu berusaha untuk mendapatkannya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata : “Aku dahulu bercita-cita untuk mendapatkan kedudukan gabenor di Madinah, dan kini aku telah mendapatkannya. Kemudian aku berkeinginan untuk mendapatkan kedudukan sebagai Khalifah kaum muslimin di Madinah dan akupun telah mendapatkannya. Kini aku telah dapatkan semuanya, maka cita-citaku adalah untuk mendapatkan Syurga Allah SWT. kerana tidak ada kedudukan yang lebih tinggi setelahnya”.

Ibnu Mubarak ditanya : “Siapakah orang yang paling zuhud ? Beliau menjawab :
“Orang yang paling zuhud adalah Umar bin Abdul Aziz, kerana dia telah didatangi dunia, namun dia menolaknya.”

Inilah kisah Umar bin Abdul Aziz, beliau adalah contoh orang yang memiliki Himmah aliyah. Beliau adalah orang yang memiliki kredibiliti kerana keilmuannya, punya kesempatan kerana dia adalah keturunan Muawiyah.

2. Shoghirul Himmah iaitu orang yang memiliki kifayah, kemampuan dan kesempatan tetapi lebih memilih melakukan hal-hal yang remeh atau rendah.

Diriwayatkan tentang seorang khalifah selepas pemerintahan Muawiyah. Dia didatangi oleh petugas pos, dan berkata : “Wahai Amirul Mu’minin! Sesungguhnya kota di sana sedang diserang oleh musuh“. Mendengar laporan petugas pos ini khalifah tidak menanggapinya. Malah dia berucap “Da’ni wa sa’di”(memangnya aku fikirkan).
Konon ceritanya khalifah ini suka memelihara burung merpati. Ketika petugas pos melapor, khalifah sedang kehilangan 1 ekor burung merpatinya. Sehingga dia menganggap bahawa burungnya lebih berharga daripada keadaan rakyatnya. Kisah ini menunjukkan tentang keadaan orang yang memiliki kemampuan, kedudukan dan kesempatan baik, namun dia memilih melakukan hal yang rendah.

3. Orang yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan obsesi tinggi, tetapi berlagak memiliki kemampuan besar.

Datanglah seseorang menghadap Imam Ahmad lalu berkata: ”Wahai Imam Ahmad, ada seseorang yang sedang kemasukan jin”. Mendengar laporan orang ini Imam Ahmad menjawab : “Kembalilah, sampaikan kepada Jin bahawa Imam Ahmad menyuruhnya keluar”. Lalu orang ini kembali dan menemui orang yang kemasukan jin yang dia maksudkan. Sesampainya di sana dia berkata kepada jin bahawa Imam Ahmad menyuruhnya keluar. Mendengar perkataan orang ini, jin inipun akhirnya keluar. Lalu setelah Imam Ahmad meninggal, jin inipun datang lagi dan merasuki seseorang lagi. Kemudian kerana Imam Ahmad sudah meninggal, orangpun mendatangi orang yang dulu menemui Imam Ahmad dahulu dan dikatakan padanya kalau ada orang kerasutan jin. Mendengar penyampaian ini orang yang dulu menghadap Imam Ahmad menganggap kalau dulu Imam Ahmad mengusir jin hanya dengan menyuruh orang saja, maka diapun berbuat serupa. Dia menyuruh orang tersebut : “Kembalilah, katakan pada jin bahawa aku menyuruhnya keluar. Lalu pulanglah orang ini dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Namun setelah perintah itu dilakukan jin tersebut tidak juga keluar. Kemudian dia bertanya kepada jin. “Kenapa dulu ketika Imam Ahmad menyuruhmu keluar engkau langsung keluar, sedangkan sekarang ketika aku suruh engkau tidak mau keluar” Jin menjawab :” dulu aku takut kepada Imam Ahmad kerana ketakwaannya”.

4. Al bashiiru binafsihi iaitu orang yang tau diri, yang tidak memiliki kemampuan tinggi dan tidak menempatkan dirinya untuk melakukan hal yang besar.

E. BEBERAPA FENOMENA ORANG YANG PUNYA HIMMAH RENDAH

1. Berkaitan tentang keupayaan seorang muslim menuntut ilmu. Ketika dia tidak mau mempelajari hal-hal yang wajib dilakukan oleh muslim. Misalnya mempelajari tentang rukun-rukun sholat dan lain-lain.

2. Ketika orang menuntut ilmu bukan untuk mendapatkan manfaat dari ilmu, atau menuntut ilmu bukan untuk dida’wahkan tetapi hanya untuk mendapatkan ijazah ataupun pekerjaan semata.

3. Ketika orang menuntut ilmu supaya nampak hebat dalam berdebat, pandangan orang tertuju padanya.

4. Ketika seseorang yang baru menuntut ilmu dan baru mendapatkan hidayah, begitu mudah memberikan tahzir atau cap buruk pada ulama atau orang yang lebih berilmu di atasnya. Kerana sepatutnya seseorang apabila semakin berilmu semakin takut pada Allah.

5. Ketika seorang da’i yang berda’wah di jalan Allah SWT, kemudian mendapatkan tentangan berda’wah, dia berhenti. Kerana sepatutnya seorang da’i ketika mendapatkan da’wah harus tegas. Ketika agama memintanya meninggalkan kepentingan peribadinya dia bersedia.

6. Ketika kita takut kepada manusia iaitu :

. Takut jangan sampai orang lain tergolong menjadi musuh Islam, ketika kita berda’wah kita dicap sebagai orang yang fundamentalis, ekstrim atau bentuk kata-kata teroris lainnya. Padahal ucapan/cap/opini public yang diwara-warakan buruk tentang Islam adalah hal yang sengaja dilakukan oleh mereka agar kaum muslimin lemah.
• Berputus asa ketika dalam berda’wah tidak disambut baik oleh orang. Putus asa kerana orang menjauhi perjuangannya. Padahal semestinya kita sedar bahawa prinsip dasar kita dalam berda’wah adalah hanya menyampaikan agama Allah SWT, adapun orang mau menerima atau tidak adalah hak Allah SWT
Allahu A’lam

PENYEBAB TINGGI DAN RENDAHNYA HIMMAH

Iaitu perkara yang apabila seseorang meninggalkan atau menjauhi hal-hal yang menyebabkan rendahnya Himmah dan semangat itu dia akan mendapatkan pertolongan Allah SWT untuk tetap dalam himman yang aliyah.

1. Tabiat Manusia

Kerana Allah SWT telah menciptakan manusia sesuai dengan tabiatnya masing-masing oleh kerana itu hendaknya seseorang memahami tabiatnya dan memilih tempat-tempat yang tepat sesuai dengan tabiat yang dia miliki untuk mengembangkan potensi diri yang ada padanya, misalnya ada orang yang diberikan kemampuan untuk berfikir, maka hendaknya ia berusaha dalam meningkatkan semangatnya tersebut seperti mengurus pejabat, menulis, mengeluarkan idea-idea yang baik, kemudian menggambarkan tujuan-tujuan, menyusun program-program kerja dan lain-lain. Ada orang yang diberikan kemampuan untuk senang bergerak ke sana ke mari, kalau urusan di medan dialah yang sesuai, maka orang seperti ini mencari kerja-kerja yang memenuhi tabiatnya tersebut.

Rasulullah s.a.w. ketika melihat potensi-potensi para sahabat sesuai dengan tabiat yang mereka miliki, maka beliau memberikan semangat dan menempatkan para sahabat sesuai dengan potensinya.

Contohnya Abu Hurairah R.a diberi gelar atau disebutkan wadah dari ilmu, kerana Rasulullah s.a.w. melihat beliau kuat hafalannya dan sangat mudah menimba ilmu dan menerima hadist dari Rasulullah s.a.w. sehingga dikenali sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist.

Khalid Bin Walid r.a, misalnya, beliau ini bukan termasuk sahabat yang banyak menghafal dan bukan pula setaraf sahabat yang banyak meriwayatkan hadist dan penuntut ilmu, akan tetapi Rasulullah s.a.w, melihat beliau ini tangkas di medan peperangan dan mimilki kemampuan dalam berperang, sehinga Rasullullah s.a.w, demikian pula sahabat seperti Abu Bakar r.a, dan khalifah setelahnya mengangkat beliau sebagai panglima perang untuk melawan orang-orang kafir, bahkan beliau diberi gelar sebagai saif min suyufillah (pedang dari pedang-pedang Allah).

Demikian dengan yang lain, adapun Ali bin Abi Thalib r.a, dan Muadz bin Jabal r.a, mereka ini adalah orang-orang yang faham tentang halal haram dan faham dalam masalah qoda’/hukum-hukum maka sahabat tersebut terkenal dengan hukum-hukumnya tersebut kerana orang-orang yang bergelut dalam masalah ini seperti qodi atau hakim harus memiliki ketajaman dalam mempraktikkan daripada nash-nash yang ada tersebut. Sehingga Rasulullah s.a.w, betul-betul dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki para sahabat Maka hendaknya kita melihat tabiat masing-masing sehingga kita dapat memilih tugas yang sesuai dengan potensi yang dimiliki, supaya Himmah kita tetap terjaga.

2. Bagaimana bapak dan ibu mentarbiyah anak-anaknya di rumah

Rasulullah s.a.w, bersabda yang ertinya : “Tidaklah lahir seorang anak kecuali dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”

Jika kita melihat hadist tersebut, ini dalam perkara-perkara agama di mana orang tua sangat berpegaruh dalam pembinaan Himmah anak-anaknya. kalau orang tua senantiasa mengajarkan perkara-perkara yang tinggi, perkara yang memiliki keutamaan yang besar baik, maka insya Allah SWT anak akan terbentuk seperti didikan orangtuanya.

Tetapi sebaliknya jika orang tua senangtiasa mengajarkan hal-hal yang hina dan kurang bermamfaat maka anak tersebut akan terbentuk menjadi seperti itu pula. Banyak contoh di kalangan para sahabat, sebagai contoh Zubai ibnu Awwam r.a, di mana sahabat ini dijamin masuk syurga oleh Rasulullah s.a.w, . Beliau ini senantiasa mengajarkan anaknya berperang sampai dalam satu kondisi beliau sampaikan kepada anaknya bahwa siapa yang paling duluan masuk dalam pasukan musuh dan paling cepat kembali. Ini salah satu contoh sahabat yang membina anaknya dengan menanamkan Himmah Aliyah sehingga tidak heran kalau Ibnu Zubair menjadi seorang khalifah, karena sejak awal terlatih seperti itu contoh lain adalah kisah pada perang badar, ada dua anak kecil di antar para sahabat bertanya manakah yang bernama Abu Jahal, lalu berkata kami akan mencari Abu Jahal dan berusaha membunuhnya, dia yang mati atau kami yang terbunuh padahal mereka masih anak-anak, lalu mereka berhasil membunuhnya.

Ini karena mereka telah tertarbiyah sejak kecil. Kerana itu seorang penyair mangatakan “ibu itu adalah madrasah atau tempat belajar yang pertama”. Kalau ibu dipersiapkan dengan baik, maka akan lahir generasi yang baik.

Dalam situasi kita sekarang ini banyak orang tua tidak memperhatikan anaknya, membiarkan anaknya banyak bermain, mendengarkan musik, bergelut dengan urusan-urusan hina yang tidak bermanfaat, atau orang tua tidak memilihkan bagi mereka teman-teman yang baik dan tidak memerintahkan anaknya mengerjakan sholat sehingga mereka membesar dalam keadaan seperti itu. Oleh kerana itu, agar Himmah itu tetap ada maka hendaknya orang tua mentarbiyah anaknya di rumahnya.

3. Masyarakat yang baik

Apabila masyarakat itu adalah masyarakat yang solehah di dalamnya senantiasa dibina akhlak yang mulia maka darinya akan lahir orang yang baik pula. Juga sebaliknya apabila masyarakat memiliki biah (suasana)yang buruk, hidup dalam suasana yang kurang baik, maka akan hidup individu-individu yang buruk pula.

Contohnya Rasulullah s.a.w, menceritakan kepada para sahabat kisah seorang daripada Bani Israil yang telah membunuh 99 orang yang ingin bertaubat, mencari orang yang paling alim di dunia ini lalu ia ditunjukkan kepada orang yang ahli ibadah, lalu ahli ibadah tersebut menghukumi dengan perasaannya dan mengatakan tidak ada taubat lagi bagimu, maka dibunuh pula ahli ibadah tersebut sampai korbannya genap 100, dia tidak puas dengan jawaban ahli ibdah tersebut dan keinginannya masih kuat untuk bertaubat maka dia mendatangi alim yang lain dan bertanya apakah taubat saya masih diterima, saya telah membunuh 100 orang. Alim tersebut berkata apa yang menghalangi kamu untuk bertaubat, Allah SWT akan menerima taubatmu. Kemudian dia disuruh pindah dari kampungnya yang rosak ke kampung yang baik, lalu berangkatlah orang tersebut dan di tengah perjalanan dia meninggal, maka dengan rahmat Allah SWT iapun dicatat sebagai penghuni syurga.

Dari kisah ini dapat kita mengambil pelajaran bahawa biah ini dapat memproses orang tersebut, maka tanggungjawab kita bagi pejuang-pejuang dakwah untuk mengajak orang ikut dalam majlis-majlis ilmu, dan berlepas diri dari akhlak jahiliyah dan perkara-perkara yang buruk.

4. Dengan adanya para murabbi dan guru boleh diteladani

Yang mereka itu mampu menjadi qudwah bagi yang lain. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah s.a.w.

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab:21)

Dari ayat ini menunujukkan pentingnya keberadaan murabbi di tengah-tengah muridnya/mutarabbi sebagai orang yang memberikan contoh. Apabila mutarabbi betul-betul menimba ilmu dengan akhlak dari murabbi tersebut, maka akan terbentuk peribadi yang soleh. Bagaimana seorang murabbi betul-betul dapat memberikan contoh perbuatan sesuai dengan apa yang disampaikan. Sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah s.a.w, kepada sahabatnya sehingga beliau mendapat pujian sebagai seorang yang berakhlak mulia.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radiallahu anha, tatkala ditanya tentang bagaimana akhlaknya Rasulullah S.a.w, beliau menjawab : “Akhlak Rasulullah adalah al-Quran”. Sahabat dahulu adalah bagaikan Al Qur’an yang berjalan, sebab teori-teori yang ada dalam al Qur’an telah dipraktikkan oleh sahabat di setiap sudut hidupnya sampai Islam dimenangkan. Inilah pelajaran bagi murabbi untuk mempraktikkan teori-teori yang telah disampaikan kepada mutarabbinya.

Contoh lain ketika Rasululah s.a.w, berbicara tentang jihad, maka beliau adalah orang yang paling depan dalam peperangan, dan sangat berani. Suatu ketika di Madinah orang-orang mendengar sesuatu yang menakutkan, dan orang – orang sembunyi mencari di mana dan suara apa itu. Namun ternyata Rasulullah s.a.w, telah pulang dari tempat tersebut dengan kudanya tanpa pelana dan mengatakan bahawa tidak ada apa-apa bahaya. Ini menunjukkan keberanian Rosulullah s.a.w, beliau bukanlah seorang pengecut.

5. Tasyji’ atau Pembakar Semangat

Kebanyakan orang memiliki semangat tinggi namun kurang diarahkan pada perkara yang bagus.

Suatu ketika Ibnu Masud r.a, tatkala melewati seorang yang bernyanyi dengan suaranya yang indah, maka Ibnu Mas’ud r.a, berkata alangkah indahnya suaramu dan lebih bagus lagi seandainya engkau membaca al-Quran lalu pemuda ini kerana tertasyji’ oleh kata-kata Ibnu Mas’ud dia mulai membaca Al Qur’an dan akhirnya dia menjadi orang yang bersuara indah dalam membaca Al Qur’an. Lalu dia bertanya siapakah orang ini ? maka dijawab dia adalah Ibnu Mas’ud sahabat Rasulullah s.a.w.

Imam Syafi’i adalah seorang yang menguasai syair-syair, yang beliau kuasai dari para pakar-pakarnya. Suatu ketika, seseorang mendengar Imam Syafi’i sedang melantunkan syair-syair. Orang itu berkata : “Masakan engkau dari keturunan Quraish, hanya boleh menghafal syair-syair saja. Tidakkah engkau memulai menghafal Al Qur’an dan hadist-hadist Rasulullah s.a.w.” Mendengar kata-kata orang ini, Imam Syafi’i tertasyji’ untuk belajar kepada Imam Malik sampai beliau menjadi ulama besar, bahkan menjadi salah satu mahzab terbesar.

Dari riwayat ini boleh diambil contoh bahawa tasyji’ atau penyemangat itu bukan hanya dari orang-orang seperti Ibnu Mas’ud r.a, atau semisalnya tetapi boleh saja berasal dari orang-orang umum bahkan orang yang bermaksiat.

Adalah imam Ahmad, yang terkena fitnah tentang Al-Qur’an yang dianggap makhluk. Tatkala masuk di penjara bersama seorang peminum khamar tetapi peminum itu memberi semangat kepada Imam Ahmad, ertinya semangat itu boleh kita ambil dari manapun , apa kata orang tesebut: “Yaa Imam, saya ini masuk penjara kerana bermaksiat maka saya dicambuk tapi saya tetap sabar menahan siksaan, sedangkan anda wahai imam dipenjara dan disiksa kerana mempertahankan kebenaran, tentunya anda harus lebih kuat dari saya”. Sehingga Imam Ahmad berkata: “Perkataan itulah yang menjadikan saya semakin kuat untuk bertahan siksaan tersebut.”

6. Iman kepada Allah SWT

Setiap kali bertambah iman seseorang maka semakin bertambah Himmah seseorang. Iman ini akan mengajak kepada akhlak yang baik. Rasulullah s.a.w, bersabda : “Sesungguhnya aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia”

Allah SWT berfirman : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Ankabut:69)

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahawa Dia bersama orang-orang yang berbuat ihsan. Dan ihsan ini adalah kedudukan tertinggi dalam urutan agama ini, Islam, Iman dan Ihsan. Sebagaimana dalan hadist Jibril, ihsan iaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, meskipun engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Allah melihatmu. Maka ini adalah tingkatan yang tertinggi..
Maka barang siapa yang telah menyempurnakan keislamannya memenuhi keimanannya dengan sekuat tenaga maka hal ini adalah perkara yang sangat penting menyebabkan seseorang untuk mendapatkan Himmah ‘aliyah.

7. Membaca Sejarah Orang-Orang Yang Telah Berhasil Kerjayanya

Membaca sirah atau sejarah orang-orang besar yang telah berhasil dalam kerjayanya, samada dia seorang muslim ataupun non-muslim. Jika dia seorang muslim, tentunya dari para ulama-ulama yang telah berhasil. Dan sebenarnya perkara keberhasilan itu bukanlah suatu yang sulit, kerana perkara itu adalah perkara yang manusiawi, yang semua orang mampu meraihnya. Sehingga ini adalah persoalan mudah dan tidak dianggap sebagai persoalan yang tidak mungkin.

Kemudian dari kisah-kisah tersebut, kita juga boleh mempelajari uslub-uslub atau bagaimana tatacara mereka memperoleh keberhasilan tersebut, dan tidak memiliki Himmah yang rendah.

AL-QURAN MENURUT IMAM AL-BANNA


AL-QURAN MENURUT IMAM AL-BANNA

Kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad saw, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.Wahai Ikhwan yang terhormat, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan daripada Allah, yang baik dan diberkati:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Sebelum kita memasuki kajian tentang kitab Allah swt. saya ingin mengingatkan wahai Ikhwan, bahawa ketika menyampaikan kajian-kajian ini, kita tidak semata-mata bertujuan untuk memperoleh pemahaman dan melakukan analisis ilmiah. Tujuan kita adalah membimbing rohani dan akal untuk memahami makna-makna umum yang disentuh dalam Kitabullah. Dari sini kita dapat memiliki alat untuk memahami Al-Qur’anul Karim, ketika kita membacanya. Dengan demikian, kita telah melaksanakan sunah tadabbur, tadzakkur, dan mengambil pelajaran sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Allah swt.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Sesungguhnya Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran itu?” (Al-Qamar: 32)

iوَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِر

“Ini sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkatan, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan orang-orang yang mempunyai fikiran mengambil pelajaran.” (Shaad:29)

Ikhwanku yang tercinta….

Kajian-kajian tentang ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim yang hendak saya sampaikan ini, tidak saya maksudkan menghimpun secara lengkap dan luas aspek-aspek ilmiah dalam tema yang sedang kita bahas, tetapi saya sekadar ingin mengarahkan rohani, hati dan fikiran kepada maksud-maksud luhur yang dikehendaki oleh Kitab Allah swt, Al-Qur’anul Karim ketika mengemukakan suatu pengertian. Justeru itu wahai Akhi, maka di depan Anda dan di depan para pembahas yang lain terbuka pintu yang lebar untuk mengadakan kajian dan analisa. Silakan mengkaji sekehendak Anda dan mempelajari sedetail-detailnya.

Sungguh saya percaya, Ikhwan tercinta, saat-saat ketika kita berbahagia dengan perjumpaan kita semacam ini, tidak memberikan kesempatan yang leluasa kepada kita untuk mengadakan analisis ilmiah yang menghuraikan tema pembahasan dari segala sudut. Ikhwanku, satu-satunya tujuan kita dari kajian-kajian ini adalah agar kita dapat merenungkan isi kitab Allah swt. Ia ibarat lautan yang kaya dengan mutiara. Dari sudut mana pun Anda mendatanginya, Anda akan memperoleh kebaikan yang melimpah ruah. Kerana itu, perbahasan kita berkisar pada tujuan-tujuan yang bersifat global dan umum, yang dikemukakan oleh ayat-ayat Al-Qur’anul Karim.

Ikhwan sekalian….

Marilah kita tolong-menolong untuk menyingkapnya. Alhamdulillah, tujuan-tujuan tersebut cukup jelas dan terang. Harapan kita, semoga masing-masing dari kita memperoleh kunci pemahaman kitab Allah, untuk memahami ayat-ayatnya. Dengan demikian, ia dapat menggunakan kunci tersebut untuk berinteraksi langsung dengannya setiap kali ia memperoleh waktu luang dan setiap kali ia ingin menambah cahaya, faedah dan manfaat yang ditimbanya dari Kitab ini.

Saya tidak mendakwa bahawa kajian-kajian ini merupakan puncak segala kajian, kerana setiap kali manusia melakukan penjelajahan fikiran dan pandangan mereka terhadap kitab Allah swt. nescaya ia akan mendapati makna-maknanya, ibarat gelombang laut yang tak pernah habis dan tidak bertepi. Kerana Al-Qur’an adalah firman Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.

Pesan saya kepada anda sekalian, wahai Ikhwan, hendaklah kalian menjalin hubungan dengan Al-Qur’an setiap saat, supaya kalian mampu mendapatkan ilmu baru setiap kali berhubungan dengannya.

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan kami mengurus diri kami sendiri walau sekejap pun, atau lebih cepat dari itu, wahai Sebaik-baik Dzat Yang Mengabulkan!

Hasan Al-Banna

JANTUNG HATI SI DOKTOR JANTUNG


JANTUNG HATI SI DOKTOR JANTUNG

Saya merasakan bahawa salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada kita adalah apabila kita dikurniakan sahabat yang baik. Apabila kita melihat atau bersahabat dengannya maka kita akan semakin dekat dengan Allah swt.

Saya mengenali T semasa menuntut di sebuat pusat matrikulasi dan kami sedang ‘pulun’ agar berjaya mendapatkan tempat di tempat di fakulti perubatan. Tidak mudah, hanya 70 daripada keseluruhan 700+ matrikulasi perubatan pada tahun itu akan diterima masuk ke fakulti perubatan di universiti tempatan ini.

Kami berdua mempunyai latarbelakang anak kampung dan bukan daripada keluarga yang berada. Saya agak aktif berpersatuan tetapi T agak ‘low profile’ orangnya. namun beliau jelas berpotensi kerana rajin berusaha dan tidak suka bersembang kosong mahu pun ‘lepak tarbawi’.

Ditakdirkan Allah, T terlebih awal dipilih untuk melanjutkan pelajaran di sebuah universiti terkemuka di Australia. Kesedihan perpisahan ini saya lupakan setelah saya ditakdirkan pula untuk belajar di Ireland pada 1986 dulu.

Entah kenapa, kami terpisah tanpa berkomunikasi selama lebih daripada 26 tahun.

Sebaik sahaja menamatkan pengajian kepakaran di UK pada tahun 2000, saya mencari beliau di sebuah hospital universiti tempatan kerana saya dikhabarkan bahawa beliau adalah seorang doktor pakar jantung di hospital tersebut.

Kesedihan memang terasa apabila diberitahu bahawa beliau baru sahaja meletakkan jawatannya untuk berpindah ke utara Malaysia. Namun beberapa petugas dan para pesakit yang saya temui di hospital tersebut sempat menceritakan kepada saya betapa Dr T adalah seorang doktor pakar jantung yang sangat baik. Beliau konsisten dalam memberikan perkhidmatan yang terbaik kepada semua pesakitnya samada siang atau malam. Apatah lagi apabila diberitahu oleh bapa mertua saya bahawa beliau sendiri pernah dirawat oleh Dr T ketika dimasukkan ke unit CCU di hospital tersebut.

Dr T sentiasa berpesan kepada petugas perubatan yang lain agar memberitahu segala perkembangan pesakitnya samada siang atau malam, miski pun ketika beliau sedang dalam percutian. Dalam erti kata lain bagi Dr T, para pesakitnya adalah ‘jantung-hati’nya.

Pencarian tersebut hanya berakhir apabila baru-baru ini saya menerima sebuah mesej inbox (fB) daripada Dr T setelah kami berpisah selama 26 tahun. Kami hanya bertemu kembali di alam maya setelah beliau terbaca beberapa artikel mengenai isu Palestin yang saya kongsikan di alam siber.

Baru saya tahu bahawa beliau kini bertugas sebagai pakar perunding kardiologi (jantung) di salah sebuah hospital pakar di utara. Ketika sibuk merawat para pesakitnya, beliau mencuri peluang membalas mesej yang saya utarakan. Saya dapati beliau ‘tidak berubah’ dan terus hebat serta merendah diri seperti dahulu miski pun telah menjadi seorang yang berjaya di dalam profesionnya.

Di akhir perbualan, beliau memohon nombor akaun Aman Palestin Bhd untuk beliau berikan sedikit sumbangan kemanusiaan. Dr T mengakhirkan perbualannya dengan sebuah mesej pendek, ‘saya baru bank-in RM 10,000 sebentar tadi untuk meringankan bebanan para pesakit di Gaza’.

Saya amat bersyukur kerana dapat kembali menyambung persahabatan dengannya. Saya bersaksi bahawa Dr T adalah seorang doktor yang menjiwai kerjayanya dengan menjadikan para pesakit sebagai ‘jantung-hati’nya demi mencari keredhaan Allah swt.

Saya doakan agar Dr T istiqamah di jalan kebaikan sehingga ke akhir hayatnya dan diberatkan mizan kebaikan untuknya di akhirat kelak.

Amin Ya Rabb…..

Oleh: Dr Zainur Rashid Zainuddin 

Sumber: Peduli Ummah