Tag Archive | tsaqofah

Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat


“Mayoritas ulama fiqih menyatakan bahwa sunnahnya adalah bersedekap ketika shalat. Dalam satu riwayat dari Imam Malik itu, sunnahnya tidak bersedekap. Terkait dimana bersedekapnya, dalam Madzhab Hanafi dan satu riwayat dari Imam Ahmad dikatakan bahwa sedekapnya adalah dibawah pusar. Sedangkan dalam Madzhab Syafi’i dan satu riwayat dari Imam Malik bahwa sedekapnya adalah diatara dada dan pusar. Riwayat lain dari Imam Ahmad menyatakan bahwa, kita boleh memilih diantara keduanya” terang salah seorang ustadz.

“Ustadz, kenapa kita tidak shalat sebagaimana Nabi shalat saja?” tanya salah satu jamaah.

“Maksudnya?” Selidik sang ustadz.

“Saya membaca di salah satu buku sifat shalat Nabi, katanya Nabi itu kalo shalat meletakkan tangannya diatas dada, haditsnya shahih. Jadi kita mengikuti Nabi, tidak taklid kepada ulama, ustadz. Dam shalatnya bisa sama”

Memang salah satu tantangan menyampaikan fiqih lintas madzhab adalah dituduh taklid, plin-plan serta sering menyebabkan perpecahan ummat

Sifat Shalat Ulama itu Sifat Shalat Nabi

Pertanyaan seperti tadi sebenarnya punya konsekwensi cukup serius, itu sama artinya menuduh para ulama fiqih itu tidak mengikuti Nabi dalam shalatnya.

Dengan logika sederhana, sebenarnya siapakah yang lebih mengetahui sifat shalat Nabi dan para shahabatnya? Apakah Imam Abu Hanifah (w. 150 H), Imam Malik bin Anas (w. 179 H) yang mereka hidup masih di abad ke-2 Hijriyyah dan mendapatkan hadits Nabi dari mulut para muhaddits, atau ulama yang hidup sekarang yang mendapatkan hadits dari buku-buku?

Ini Adalah Masalah yang Luwes Menurut Para Ulama

Sebenarnya, masalah ini sudah dibahas oleh para ulama sejak dahulu. Mereka semua sepakat bahwa meletakkan tangan ketika shalat itu hukumnya sunnah, artinya shalat seseorang tetap sah walaupun tidak melakukan hal ini.

Justru salah satu kelemahan membaca cara shalat Nabi langsung dari hadits-hadits; sebagaimana buku sifat shalat Nabi adalah tidak adanya keterangan yang cukup gamblang ketika menjelaskan macam-macam perbuatan Nabi ketika shalat. Manakah yang termasuk rukun, mana wajib dan mana sunnah.

Ini berimbas pada kerancuan pemahaman sehingga menganggap shalat Nabi yang ada hanya seperti itu, tidak boleh dikurang ataupun ditambah. Tidak sesuai itu, artinya menyelisihi ‘sunnah’. Menyelisihi sunnah berarti shalatnya tidak sah.

Padahal sifat shalat yang telah ditulis oleh para ulama, itulah sifat shalat Nabi.

Terkait luwesnya dimana tangan diletakkan ketika shalat, Imam Abu Isa at-Tirmidzi (w. 279 H) menjelaskan:

ورأى بعضهم أن يضعهما فوق السرة، ورأى بعضهم: أن يضعهما تحت السرة، وكل ذلك واسع عندهم

Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) berkomentar: Ada sebagian ulama yang meletakkan diatas pusar, sebagian lain lagi dibawah pusar. Ini adalah masalah yang luas diantara mereka. (Muhammad bin Isa at-Tirmidzi w. 279 H, Sunan at-Tirmidzi, h. 2/ 32)

Hal itu sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) dari Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H):

وعنه أبو طالب سألت أحمد أين يضع يده إذا كان يصلي؟ قال: “على السرة أو أسفل وكل ذلك واسع عنده إن وضع فوق السرة أو عليها أو تحتها

Dari Abu Thalib dia bertanya kepada Imam Ahmad, dimanakah beliau meletakkan tangan ketika shalat? Beliau menjawab: Diatas pusar atau dibawahnya. Hal ini merupakan masalah yang luas, bisa dibawah pusar, pas dipusar atau diatasnya. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, Badai’ al-Fawaidh, h. 3/ 91).

Jadi, para ulama cukup luas dan luwes ketika membahas masalah ini. Sebuah masalah yang masih dimungkinkan untuk berbeda antara ijtihad satu ulama dengan ulama lainnya.

Pendapat Madzhab Empat

Pendapat yang muktamad dari madzhab empat malah tidak ada yang menyebutkan diatas dada. (Yahya bin Hubairah as-Syaibani w. 560 H, Ikhtilaf al-Aimmah al-Ulama’, h. 1/ 107). Berikut pendapat ulama dari masing-masing madzhab:

Pertama, Tidak Bersedekap: al-Malikiyyah

Ini memang pendapat yang masyhur dalam Madzhab Malikiyyah (Ibnu Abdil Barr w. 463 H, at-Tamhid, 20/ 76). Pendapat ini juga dipilih oleh Hasan al-Bashri, an-Nakhai, al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Juraij, Imam al-Baqir, an-Nashiriyyah. (Imam an-Nawawi w. 676 H, Syarah Shahih Muslim, h. 2/ 39).

Kedua, Dibawah Pusar: al-Hanafiyyah dan Riwayat dari Hanabilah

Pendapat ini dipilih juga oleh Abu Hurairah (Ibnu Quddamah al-Maqdisi w. 620 H, al-Mughni, h. 1/ 515), Anas bin Malik (Ibnu Hazm al-Andulusi w. 456 H, al-Muhalla, h. 4/ 113), Imam Ali bin Abi Thalib (Imam an-Nawawi w. 676 H, Syarah Shahih Muslim, h. 2/ 39), Sufyan at-Tsauri (as-Syaukani w. 1250 H, Nail al-Authar, h. 2/ 188), Ishaq bin Rahawaih (Ibnu Quddamah al-Maqdisi w. 620 H, al-Mughni, h. 1/ 515).

Pendapat ini juga termasuk salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal (Ibnu Quddamah al-Maqdisi w. 620 H, al-Mughni, h. 1/ 515),

Imam al-Kasani al-Hanafi (w. 587 H) menyebutkan:

وأما محل الوضع فما تحت السرة في حق الرجل والصدر في حق المرأة

Adapun tempat bersedekap, adalah dibawah pusar untuk laki-laki dan di dada untuk perempuan (Alauddin Abu Bakar al-Kasani al-Hanafi w. 587 H, Bada’i as-Shana’i, h. 1/ 201)

Pendapat yang masyhur dan dipilih oleh mayoritas Ulama Hanbali adalah meletakkan tangan dibawah pusar (Alauddin al-Mardawi al-Hanbali w. 885 H, al-Inshaf fi Ma’rifat ar-Rajihi min al-Khilaf, h. 2/ 46). Sebagaimana diungkapkan oleh al-Khiraqi (w. 334 H):

ثم يضع يده اليمنى على كوعه اليسرى ويجعلهما تحت سرته

Kemudian meletakkan tangan kanan diatas pergelangan tangan kiri, lalu meletakkannya dibawah pusar. (Umar bin Husain al-Khiraqi al-Hanbali w. 334 H, Mukhtshar al-Khiraqi, h. 22)

Ketiga, di Bawah Dada dan Diatas Pusar: as-Syafi’iyyah dan Riwayat dari Malikiyyah

Pendapat ini juga dipilih oleh Said bin Jubair, salah satu riwayat dari Imam Malik bin Anas (Abu Muhammad Abdul Wahab al-Baghdadi al-Maliki w. 422 H, al-Isyraf ala Nukat Masail al-Khilaf, h. 1/ 241), salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal (Ibnu Quddamah al-Maqdisi w. 620 H, al-Mughni, h. 1/ 515).

Imam al-Muzani as-Syafi’i (w. 264 H) menyebutkan:

ويرفع يديه إذا كبر حذو منكبيه ويأخذ كوعه الأيسر بكفه اليمنى ويجعلها تحت صدره

Dan mengangkat kedua tangan ketika takbir sampai sebatas pundak, lalu bersedekap dengan telapak tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri. Lalu meletakkannya dibawah dada. (Ismail bin Yahya al-Muzani w. 264 H, Mukhtashar al-Muzani, h. 107).

Sebagaimana Imam an-Nawawi (w. 676 H) menyebutkan bahwa meletakkan tangan diantara dada dan pusar adalah pendapat yang shahih dan mansush dalam Madzhab Syafi’i. (Yahya bin Syaraf an-Nawawi w. 676 H, al-Majmu’, h. 3/ 310).

Dalam Madzhab Maliki, ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Malik juga berpendapat seperti pendapat Madzhab as-Syafi’i. Sebagaimana Riwayat dari Ashab dari Imam Malik (Muhammad bin Yusuf al-Gharnathi al-Maliki w. 897 H, at-Taj wa al-Iklil, h. 2/ 240).

Hal ini diungkapkan oleh Imam Abdul Wahab al-Baghdadi al-Maliki (w. 422 H):

(فصل): وصفة وضع إحداهما على الأخرى أن تكون تحت صدره وفوق سرته

Meletakkan tangan ketika shalat adalah di bawah dada dan diatas pusar (Abu Muhammad Abdul Wahab al-Baghdadi al-Maliki w. 422 H, al-Isyraf ala Nukat Masail al-Khilaf, h. 1/ 241).

Meski ada riwayat juga yang menyebutkan bahwa makruh meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri ketika shalat fardhu, sunnahnya adalah irsal atau tidak bersedekap (Muhammad bin Ahmad Abu Abdillah al-Maliki w. 1299 H, Minah al-Jalil, h. 1/ 262) .

Disebutkan juga dalam kitab al-Mudawwanah:

قال: وقال مالك: في وضع اليمنى على اليسرى في الصلاة؟ قال: لا أعرف ذلك في الفريضة وكان يكرهه ولكن في النوافل إذا طال القيام فلا بأس بذلك يعين به نفسه

Imam Malik berkata: Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri saat shalat, ketika shalat fardhu maka makruh. Sedangkan jika shalatnya sunnah, maka tidak apa-apa (Malik bin Anas w. 179 H, al-Mudawwanah, h. 1/ 169)

Keempat, Boleh dibawah pusar atau diatasnya: Riwayat ketiga dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Pendapat ini dipilih juga oleh al-Auza’i, Atha’, Ibnu al-Mundzir (as-Syaukani w. 1250 H, Nail al-Authar, h. 2/ 188).

Imam Abu Daud as-Sajistani (w. 275 H) meriwayatkan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya al-Masa’il:

وسمعته، سئل عن وضعه، فقال: فوق السرة قليلا، وإن كان تحت السرة فلا بأس

Suatu ketika saya mendengar (Imam Ahmad bin Hanbal) ditanya dimakah tangan diletakkan saat shalat? Beliau menjawab: Diatas pusar sedikit. Kalaupun dibawahnya maka tidak apa-apa (Abu Daud Sulaiman as-Sajistani w. 275 H), Masa’il al-Imam Ahmad, h. 48)

Kelima, Diatas dada: Ulama kontemporer

Ini adalah pendapat dari as-Shan’ani (w. 1182 H) dalam kitabnya Subul as-Salam, h. 1/168, al-Mubarakfuri (w. 1352 H) dalam kitabnya Tuhfat al-Ahwadzi, h. 2/84, al-Adzim abadi (w. 1329 H) dalam kitabnya Aunul Ma’bud, h. 1/ 325, as-Syaukani (w. 1250 H) dalam kitabnya Nail al-Authar, h. 1/ 189, termasuk juga al-Albani (w. 1240 H) dalam kitabnya Sifat Shalat Nabi, h. 69.

Pendapat ini muncul dari ulama-ulama kontemporer. Meskipun ada yang menisbatkan pendapat ini kepada ulama salaf, tetapi kurang tepat penisbatan itu. Misalnya Imam al-Qurthubi (w. 671 H) menisbatkan pendapat ini kepada Shahabat Ali bin Abi Thalib (al-Qurthubi w. 671 H, Tafsir al-Qurthubi, h. 8/ 7311). Tetapi penisbatan ini tidak tepat. (Muhammad Syamsul Haq al-Adzimabadi w. 1329 H, at-Ta’liq al-Mughni, h. 1/ 285).

Sebagaimana Imam Ali bin Abu Bakar al-Marghinani al-Hanafi (w. 593 H) menisbatkan pendapat ini kepada Imam as-Syafi’i (w. 204 H) dalam kitabnya al-Hidayah fi Syarh Bidayat al-Mubtadi’, h. 1/ 47.

Penisbatan ini tidak tepat, karena pendapat Imam as-Syafi’i sebagaimana dinyatakan oleh ulama-ulama as-Syafi’iyyah tidak seperti itu (Lihat: Ismail bin Yahya al-Muzani w. 264 H, Mukhtashar al-Muzani, h. 107).

Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) menisbatkan pendapat ini kepada Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) dalam kitabnya Irwa’ al-Ghalil, h. 2/ 71. Penisbatan ini juga tidak tepat, karena menurut Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) justru yang lebih kuat secara dalil adalah meletakkan tangan dibawah pusar. (Ishaq bin Manshur al-Maruzi al-Kausaj w. 251 H, Masa’il al-Imam Ahmad wa Ishaq bin Rahawaih, h. 2/ 552).

Dalam masalah ini, bisa diambil sedikit gambaran bahwa malahan tak ada satupun ulama fiqih madzhab empat yang berpendapat meletakkan tangan diatas dada saat shalat.

Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa meletakkan tangan diatas dada bagi Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) saat shalat hukumnya makruh.

Madzhab Hanbali: Makruh Meletakkan Tangan di Dada

Imam Ibnu Muflih al-Hanbali (w. 763 H) menyebutkan:

ويكره وضعهما على صدره نص عليه مع أنه رواه أحمد

Makruh meletakkan kedua tangan diatas dada, ini adalah nash dari Imam Ahmad padahal beliau meriwayatkan hadits itu. (Muhammad bin Muflih al-Hanbali w. 763 H, al-Furu’, h. 2/ 169)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali (w. 751 H) menambahkan:

ويكره أن يجعلهما على الصدر، وذلك لما روى عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه نهي عن التكفير وهو وضع اليد على الصدر

Makruh meletakkan kedua tangan diatas dada, karena telah ada riwayat dari Nabi yang menyebutkan bahwa beliau mencegah takfir; yaitu meletakkan tangan diatas dada. ( Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali w. 751 H, Bada’i al-Fawaid, h. 3/ 91)

Hal senada juga dinyatakan oleh al-Buhuti al-Hanbali (w. 1051 H):

(ويكره) جعل يديه (على صدره) نص عليه، مع أنه رواه

Makruh meletakkan tangan diatas dada, sebagaimana nash dari Imam Ahmad bin Hanbal, padahal beliau meriwayatkan haditsnya. (Manshur bin Yunus al-Buhuti al-Hanbali w. 1051 H), Kassyaf al-Qina’, h. 1/ 334).

Ini adalah pendapat empat madzhab terkait dimanakah tangan diletakkan ketika shalat. Bagaimana dengan dalil-dalilnya? Selanjutnya di:

Hanif Luthfi, Lc

Diantara Fiqih Da’wah Ibnu Taimiyyah


Diantara Fiqih Da’wah Ibnu Taimiyyah | Panduan Da’wah di Masyarakat

Oleh Musyaffa AR

Pergaulan di tengah masyarakat memerlukan ilmu agama (al-fiqhu fid-din), baik terkait fiqhul ahkam, maupun fiqhud-da’wah.
Secara sederhana, yang dimaksud fiqih ahkam adalah pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah dan juga sumber-sumber mu’tabar lainnya, demi mendapatkan kejelasan tentang hukum sesuatu, adakah dia wajib, sunnat, mubah, makruh ataukah haram.
Sedangkan fiqih da’wah, secara gampang, maksudnya adalah mengambil pilihan-pilihan fiqih ahkam yang mana yang cocok untuk masyarakat yang dida’wahinya.
Sebagai contoh, seorang aktifis da’wah sering dibingungkan oleh pilihan yang mana yang tepat dalam hal, mengeraskan bacaan bismillah-nya Al-Fatihah atau membacanya secara pelan, saat dia “dipaksa” atau terpaksa, atau kejadian mesti menjadi imam shalat berjamaah.
Atau, manakah yang harus dipilih oleh seorang aktifis da’wah saat ia mengimami shalat shubuh, harus qunut-kah dia, ataukah ia tidak usah qunut. Hal yang sama juga bisa terjadi saat ia mengimami shalat witir berjama’ah di bulan Ramadhan.
Atau saat sang aktifis da’wah berhadapan dengan situasi dan kondisi semacam dua kondisi di atas.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah– (661 – 726 H = 1263 – 1328 M) telah membahas masalah seperti ini didalam Majmu’ Fatawa-nya (XXII/344) yang ringkasan (khulashah)-nya adalah sebagai berikut:

 

1. Dibenarkan bagi seseorang untuk ber-qunut atau tidak ber-qunut demi ta’liful qulub (mengambil hati jama’ah dan menjaga persatuan serta kesatuan kaum muslimin).

2. Dibenarkan juga ia mengambil pilihan yang berseberangan dengan kebiasaan masyarakat dan jama’ahnya, demi menegakkan dan mengajarkan as-sunnah (ajaran Rasulullah SAW). Namun, pilihan ini dibenarkan untuk dilakukan, jika:

a. Sang aktifis dakwah telah mengukur dan menimbang sikap yang mungkin muncul dari jama’ah dan masyarakatnya.

b. Sang aktifis telah melakukan tahyiah nafsiyah atau pengkondisian psikologis jama’ah dan masyarakatnya.

c. Sang aktifis telah lama membangun upaya ta’liful qulub terhadap jama’ah dan masyarakatnya.

d. Sang aktifis telah melakukan berbagai macam muqaddimat (pembukaan-pembukaan) yang dapat diterima oleh jama’ah dan masyarakatnya.

 

Fiqih da’wah seperti ini beliau dasarkan pada prinsip: al-mafdhul qad yashiru fadhilan limashlahatin rajihatin. Maksudnya, suatu amal yang menurut kajian disimpulkan sebagai amal yang tingkat keutamaannya lebih rendah (mafdhul), bisa berubah menjadi tingkat lebih tinggi (fadhil) karena adanya kemaslahatan yang menjadikannya unggul.
Kata beliau (Ibnu Taimiyyah): “Kalau sesuatu itu pada asalnya haram, bisa berubah menjadi wajib karena adanya mashlahat rajihah (pertimbangan kemaslahatan yang mengunggulkannya), atau karena alasan untuk menolak madharat yang lebih besar, apatah lagi kalau urusannya “hanyalah” urusan mafdhul dan fadhil, tentu perubahan dalam yang terakhir ini, jika ada mashlahat rajihah, lebih berhak untuk terjadi.
Hal ini mirip-mirip dengan perbandingan antara membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a di satu sisi, dengan shalat di sisi yang lain.
Jika dua bentuk ibadah ini diperbandingkan, secara umum, jelas shalat lebih afdhal daripada membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a.
Namun, saat seseorang sedang berada di masya’ir al-haram (Arafah, Muzdalifah, Mina, Shafa dan Marwa), maka berdo’a di tempat-tempat ini lebih afdhal daripada shalat dan membaca Al-Qur’an.
Juga, kalau harus memperbandingkan antara membaca Al-Qur’an dan membaca tasbih, secara umum, jelas, membaca Al-Qur’an lebih afdhal daripada bertasbih, namun, saat seseorang sedang ruku’ atau sujud, maka ia dilarang membaca Al-Qur’an.
Logika fiqih da’wah inilah yang mendasari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (164 – 241 H = 780 – 855 M) mengeluarkan fatwa kepada murid-muridnya agar saat mereka berada di Madinah al-Munawwarah, para muridnya, kalau mengimami shalat, agar tidak men-jahar-kan (melantangkan) bacaan bismillah, sebab, di zamannya, penduduk Madinah banyak yang mengikuti madzhab Maliki, di mana dalam madzhab Maliki, seorang Imam tidak membaca bismillah.

Contoh kasus lain yang disebut oleh Ibn Taimiyyah diantaranya:

1. Shalat qabliyah Jum’at

Ibnu Taimiyyah berkata (XXIV/194): “Jika seseorang berada di tengah suatu kaum yang melaksanakan shalat sunnat qabliyah Jum’at, jika ia adalah seseorang yang ditaati dan dituruti jika meninggalkannya, dan ia dapat memberi penjelasan kepada mereka tentang sunnah Rasulullah SAW yang sebenarnya tanpa mendapatkan pengingkaran dari mereka, bahkan justru mereka akan mengerti mana yang merupakan sunnah Rasulullah SAW, maka sebaiknya ia tidak melaksanakan shalat qabliyah Jum’at, namun, jika ia bukanlah seorang yang ditaati dan dituruti oleh mereka, dan ia berpandangan bahwa dengan melaksanakan shalat qabliyah Jum’at ia akan dapat men-ta’lif hati mereka kepada hal yang jauh lebih bermanfaat, atau dengan melaksanakan shalat qabliyah Jum’at itu ia dapat menghindari permusuhan dan keburukan-keburukan lainnya, sebab memang ia tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan kebenaran kepada mereka, atau agar mereka bisa dapat menerimanya, atau semacam itu, maka melakukan shalat qabliyah Jum’at baginya juga baik”.

2. Shalat Witir antara 2+1 dan 3 rakaat sekaligus

Ibnu Taimiyyah berkata: “Karena inilah para Imam; Ahmad dan lainnya, mengatakan bahwa sunnat hukumnya bagi seorang imam meninggalkan sesuatu yang afdhal menurutnya jika hal itu memberi dampak ta’liful qulub terhadap makmum. Contohnya adalah masalah shalat witir antara tiga rakaat langsung dengan dua rakaat salam lalu tambah satu rakaat. Jika menurut seorang Imam bahwa yang afdhal adalah 2 + 1, namun makmum menghendaki tiga rakaat langsung, jika sang imam ini tidak mampu melaksanakan yang afdhal menurut dirinya, maka hendaklah ia melaksanakan shalat witir tiga rakaat secara langsung”.

_____
*Bacaan sumber:

1. Tazahumul ahkam asy-syar’iyyah fid-da’wah ‘inda Syaikhil Islam Ibn Taimiyyah, tulisan Abu Bakar Al-Baghdadi, Majallah Al-Hikmah, (Leeds: Britain, tahun 1412 H), vol. VII, hal. 63 – 64.

2. Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah bitahqiq Abdirrahman bin Muhammad bin Qasim, (Madinah: KSA, 1416 H/1995M), vol. 22, hal. 344 – 345.

 

http://www.pkspiyungan.org/