Tag Archive | Usrah

Tawadhu dan Keberkahan Dakwah


Tawadhu dan Keberkahan Dakwah

salim segaf2

1. Mari kita berharap keberkahan Allah pada dakwah ini. Keberkahan itu datangnya dari keyakinan kita kepada Allah, bahwa semua kekuasaan/kemenangan/kekalahan itu terjadi atas kehendak Allah. Kita tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa konspirasi musuh menyebabkan kekalahan kita. Mau konspirasi apapun kalau Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Mari kita melihat amal ini dengan pendekatan dakwah

2. Evaluasi kita : kita tergiring secara tidak sadar menjadikan politik sebagai panglima. Lalu dakwah dan kaderisasi kita lupakan. Tolonglah slogan OBAH KABEH MUNDAK AKEH itu jangan dimaknai AKEH kursi dan suaranya. Tapi akeh dan mundak keberkahannya. dan itu dengan tetap menjadikan dakwah sebagai misi utama kita. Kursi itu bukan tujuan kita. Kalau kita pantas menerimanya Allah akan berikan. Saya membayangkan andai seluruh anggota dewan kita di indonesia ini di sebar merata ke desa desa yang ada di seluruh negeri. Lalu berdakwah, membina masyarakat dan kita punya kemampuan untuk itu. Insya allah keberkahan akan turun dengan cara itu. Tidak ada urusannya dapat kursi atau tidak.

3. Evaluasi kita : kita sering membuat target target yang sebenarnya tau itu diluar kemampuan kita. Lalu kita terjebak dengan cara cara yang jauh dari keberkahan untuk memaksakan mencapai target itu. Mengumpulkan dana dana syubhat. Bergantung pada konglomerat anu. konglomerat itu. Proyek ini itu.dst. Sekian suara harganya sekian M. Lalu dimana nilai keberkahan dakwah ini? begitu juga dengan perilaku politik kita yang kadang menyalahi sunnatullah. Begadang sampai hampir pagi menjaga suara. Toh tetap jebol juga. Apakah kita ini lebih sibuk dari Rasulullah? beliau selalu tertib dalam hal tidur dan bangun pagi. Di malam hari beliau serahkan dakwah di tangan Allah. Beliau tidur dan qiyamullail. Sesekali bolehlah begadang. Tapi kalau menjadi politic style kita itu sudah salah.

4. Allah hanya ingin kita ini bekerja semaksimal kemampuan kita. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Tidak perlu memaksakan pola pola dan cara cara yang diluar kemampuan kita. Jokowi itu sebenarnya contoh dari Allah, bahwa ketika Allah berkehendak, dengan dana pencitraan orang bisa mendapatkan kekuasaan dan Allah juga yang berkuasa menjatuhkannya. Jadi, mari kita semakin tawadhu’ dihadapan Allah. Semakin kita tawadhu’ dan merasa butuh pertolongan-Nya, maka pertolongan akan mendekat. Jangan terlalu ngoyo menampakkaan bahwa kita ini punya kekuatan. Semakin kita berpikir kita punya kekuatan, lalu melupakan Allah, maka justru pertolongan semakin menjauh. (dalam konteks ini, Ust salim menyebut stagnannya suara PKS dari PEMILU ke PEMILU)

5. Itulah sebabnya para ulama mengajari kita doa : Allahummarzuqnaa ma’rifatan yas habuha bil adabi. Ya Allah beri kami ma’rifat kepadamu, yang diiringi dengan adab terhadap-Mu. Kita mengenal Allah tapi kita tidak punya adab dan sopan santun terhadap-Nya. Lalu kita merasa sudah punya kekuatan.dan mulai melupakan-Nya. Ini namanya kita tidak beradab dan sopan santun terhadap Allah.

6. Jangan juga gara gara jabatan politik lantas life style dan perilaku kita berubah. Terbiasa dilayani. Kesenggol dikit marah marah dimana mana seolah ingin menunjukkan kita ini kuat. Kita lupa berapa ton nikmat Allah yang sudah kita makan melalui mulut kita. Mari jadi orang yang biasa biasa saja. dan mengingat bahwa semua ini pemberian Allah yang tidak akan kekal.

7. Pada akhirnya mari memperbanyak dzikrullah. Imam ali berkata :: inna lillahi fil ardhi aaniyatun wa huwa al qolbu. Sesungguhnya Allah itu memiliki tempat di bumi, yaitu dalam hati kita. kita ini standar nya ma’tsurot sughro. Itupun masih suka nanya : ada yang lebih sughro lagi nggak tadz? insya Allah dengan dzikir yang banyak itu keberkahan akan turun.

Wallahu Al musta’aan. (mujahidullah)

Source : pksabadijaya.org

Nasihat Terakhir Ustad Asfuri Bahri


Nasihat Terakhir Ustad Asfuri Bahri

Dari Ust. Asfuri Bahri utk kita semua…Semoga Allah selalu merahmati beliau

:: Mulailah Perjalanan Ini ::

Sumayyah…
Yasir…
Mush’ab…
Anas bin Nadhir…
Hamzah bin Abdul Muthallib…
Abdullah bin Jahsy…
Sa’ad bin Robi’…
Amar bin Jamuh…

Mereka semua belum sempat menyaksikan kejayaan Islam..

Mereka belum menyaksikan ekspansi Umar dan kemenangan Khalid…

Mereka juga belum mengalami zaman Rib’i bin Amir yang meninggikan agamanya di hadapan Rustum, panglima Persia.

Mereka juga tidak menyaksikan Harun Arrasyid saat ia berkata, “Wahai awan, turunkan hujan dimanapun yang kau mau, panennya pasti akan sampai kepadaku.”

Mereka telah memulai perjalanan dan mati di permulaannya serta belum sampai di penghujungnya. Juga tidak mengalami panen dari apa yang telah mereka mulai. Dan Allah telah ridha kepada mereka.

Jangan bertanya tentang ujung perjalanan…

Yang penting anda menjadi hamba sejati untuk Rabb Subhanahu wa Ta’ala, benar dan jujur. Komitmen manjalani perintah-Nya dan Mujahid di jalan-Nya….

Mengerahkan segenap waktu, upaya, potensi, harta, dan pikiran anda demi memenangkan Islam dan kaum Muslimin.

Tidak masalah bagimu setelah itu, apakah anda mati di permulaan atau di pertengahannya…

Lalu anda termasuk yang disinggung Allah dengan firman-Nya

{مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا}

“Diantara orang-orang beriman ada para ‘lelaki’ yang membenarkan apa yang mereka janjikan kepada-Nya. Diantara mereka ada yang telah menemui ajalnya dan diantara mereka ada yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah janji mereka sama sekali.”

Yang penting kita berjalan di jalan yang diridhai Allah dan selalu memohon kiranya Allah menerima amal anda. Tujuannya adalah meninggal dalam keadaan iman, takwa, jihad, dan dakwah. Bukan untuk memetik hasil dan buahnya…

Allah pasti menjaga agama-Nya dan memenangkan para wali-Nya pada setiap zaman dan tempat dengan cara yang ditentukan-Nya…

Mari kita perbaiki dan perbarui niat ini pada setiap perbuatan, setiap saat, bahkan setiap detik…

*Kita tidak tahu kapan akan berlalu tinggalkan dunia fana ini…*

*Dari Ustadz Asfuri Bahri*

Pondasi Kemenangan adalah Dakwah dan Tarbiyah


Pondasi Kemenangan adalah Dakwah dan Tarbiyah

 

PONDASI KEMENANGAN ADALAH DAKWAH DAN TARBIYAH
(Taujih Habibana Dr Salim Segaf Al-Jufri)

Setelah empat kali kita mengikuti pemilu, kita bisa melihat bagaimana dampak politik terhadap pribadi kita. Politik sungguh sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari sehingga hal-hal yang berhubungan dengan da’awi terjadi stagnasi bahkan penurunan.

Politik adalah sarana dan upaya kita untuk memenangkan dakwah kita. Tapi pondasi untuk meraih kemenangan itu adalah tarbiyah dan dakwah.

Kita harus mensyukuri capaian yang telah kita raih. Kita mentargetkan membangun 20 sampai 25 lantai sehingga kita akan masuk 3 besar. Namun Allah baru memberikan kita 7 lantai. Ini harus kita syukuri, karena 7 lantai ini adalah 7 lantai yang kokoh. Lebih baik kita diberi 7 lantai yang kokoh daripada diberi 25 lantai yang rapuh, yang justru itu membahayakan. Menang tapi justru membuat kita terpecah belah dan saling berebut satu sama lain. Tidak ada keberkahan di dalamnya.

Rasulullah mengingatkan, “Sungguh bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tapi yang aku khawatirkan adalah manakala dibukakan pintu dunia ini seluas-luasnya kepada kalian.”

Ikhwah fillah, soliditas kita adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar2. Oleh karena itu, dakwah dan tarbiyah harus menjadi panglima dalam kita bergerak dan berpolitik. Keimanan harus menjadi pondasi, karena dengan iman itulah Allah akan membukakan pintu hidayah kepada orang2 yang kita dakwahi.

Kita lihat Asiyah, istri Firaun. Wanita yang hidup ditengah istana kezaliman Firaun, namun dia menjadi beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun. Siapakah yang memberikan hidayah kepada istri Firaun tersebut?

Itulah cara-cara Allah memberikan hidayah, melalui cara-cara yang penuh keimanan. Kita ingin membangun perpolitikan yang dibangun dengan keimanan, kejujuran dan amanah.

Kita tidak mengharamkan posisi, jabatan dan kekuasaan. Tapi semua itu untuk membangun negeri dan menegakkan kebenaran. Bukan untuk yang lain.

Firaun memiliki seorang masithoh (tukang sisir) yang tugasnya khusus menyisir rambut anak Firaun. Pada suatu ketika masithoh sedang menyisir rambut seorang anak Firaun, sisir yang digunakan terjatuh dan dia mengambilnya dengan membaca Bismillah. Hal ini lalu dilaporkan kepada Firaun. Lalu apa yang dilakukan oleh Firaun? Dia lalu menyiapkan panci besar berisi minyak yang dididihkan dan memasukkan anak2 masithoh tersebut satu persatu, agar masithoh mengakui Firaun sebagai tuhannya. Namun sampai seluruh anak2nya dimasukkan ke minyak mendidih itu, masithoh tetap teguh dengan keyakinannya. Dan pada akhirnya, setelah seluruh anak2nya selesai, masithoh pun juga dimasukkan ke dalam minyak mendidih tersebut. Dan ketika Rasulullah isra mi’raj, beliau mencium aroma yang sangat wangi, dan Jibril menjelaskan itu adalah wangi masithoh dan anak2nya yang teguh dengan kecintaannya kepada Allah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita tetap teguh dengan keyakinan kita saat lemah maupun saat berkuasa?
Kalau kita rapat sampai jam 1 atau jam 2 malam, apakah kita lebih hebat dari Rasulullah? Kapan kita bermunajat kepada Allah, padahal saat2 itu adalah saat2 Rasulullah bermunajat kepada Allah?

Kita ingin membangun Indonesia yang kokoh, yg solid dan sejahtera. Tapi saat ini Indonesia jauh tertinggal, termasuk dari korea yg kemerdekaannya berbeda 2 hari dari Indonesia. Tapi Indonesia di sana lebih dikenal sbg negara pengirim pembantu RT.

Maka kita harus membangun negeri ini dengan kebersamaan kita dalam keimanan. Tidak ada yang lebih hebat dari Allah. Kita membangun negeri ini utk mendapatkan kecintaan Allah, bukan untuk kepentingan nafsu pribadi. Untuk ikhlas seperti itu memang tidak mudah, tapi jika sudah menjadi kebiasaan, dia mudah saja dan tidak menganggap itu sbg keikhlasan. Itulah seorang mukhlasin, yg iblis pun tidak mampu menggodanya.

Partai ini panglimanya adalah dakwah, panglimanya adalah dzikrullah dan shalawat kepada nabi, panglimanya adalah ibadah kepada Allah. Lakukan dengan itqon dan ihsan. Jazakumullah khoir, terima kasih sudah membantu partai ini. Ucapan seperti ini memberi dampak yg sangat luar biasa dan menjauhkan kita dari keangkuhan.

Darimana kita tahu bahwa seseorang atau partai itu mendapatkan cahaya Allah? Itu terlihat dari hati-hati mereka yg selalu berdzikir kepada Allah. Semoga partai ini mencintai dan dicintai Allah, dan memperoleh kemenangan di dunia dan akhirat. Aamiin.

Simat Kader PKS


Simat Kader PKS

Jika Anda kader PKS, maka mulailah berkaca diri. Setidaknya magut-magut di depan cermin untuk memperhatikan secara seksama apakah ciri-ciri dzahir kader PKS sudah ada pada diri Anda. Setidaknya ada 5 ciri dzahir kader PKS yang disampaikan oleh Ust. Qodar Slamet dari BPK DPP yang kemarin sempat memberikan taujihnya di BAPELKES Makassar:

Ciri pertama, Simple (sederhana).
Artinya, kader PKS dalam menjelaskan pemikirannya (fikrah), ide dan gagasannya selalu sederhana. Tidak jelimet dan rumit. Menjelaskan Islam dengan sederhana. Tidak perlu menggunakan filsafat dan logika yang panjang, berbelit-belit, bertele-tele, namun kabur makna. Simple! Menjelsakan platform dan tahapan perjuangannya juga dengan simple. Memahami politik juga dengan simple. Tidak dikabur-kaburkan apalagi membohongi. Bahkan sesuatu yang rumit untuk dicerna, diolah sedemikian rupa sehingga ketika dibawa ke tengah masyarakat semuanya menjadi simple. Oleh karena itu kader PKS yang sesungguhnya mudah bergaul dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tidak pandang status sosial, pekerjaan, pendidikan, ideologi, apalagi agama. Simple!
Lawan simple adalah rumit. Sesuatu yang sederhana selalu dibuat rumit. Sesuatu yang mudah selalu dibuat sulit. Islam dipahami dengan begitu rumit, hingga orang putus asa untuk mampu memahaminya. Bahasanya tinggi, tak terjangkau oleh orang biasa-biasa saja. Politik di pahami dengan sangat rumit. Apalagi integrasi politik dan dakwah, menjadi maha rumit, sangking rumitnya tak bisa dijelaskan kepada orang biasa-biasa. Bahkan mungkin, saking rumitnya hingga memang tak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia. Na’udzu billah…

Ciri kedua, Ash-Shalah.
Artinya, kader PKS senantiasa memperhatikan shalat. Bukan hanya kewajiban menjalankan atau tidak, tetapi memperhatikan seluruh unsur keutamaannya. Oleh karena itu kader PKS adalah mereka yang menjaga shalat berjamaahnya di Masjid, bukan di luar Masjid. Hanya udzur syar’i (hujan atau sakit) yang betul-betul mampu menghalangi kemauan kader PKS untuk meluncur ke Majid saat adzan telah dikumandangkan. Dan indikator utamanya adalah shalat Subuh. Sebab shalat Subuh inilah indikator keimanan atau kemunafikan seorang muslim menurut Rasulullah Saw.

Ciri ketiga, At-Tilawah (Tilawatil Qur’an).
Artinya, kader PKS senantiasa bersama Al-Qur’an dalam setiap jengkal hidupnya. Selalu ada mushaf menemani langkahnya. Dan pada setiap waktu yang senggang, tak peduli dimanapun, kader PKS selalu tilawah. Al-Qur’an begitu dicintainya, hingga ia ada di sakunya, di HP-nya, di Laptopnya, di PC-nya, bahkan di blognya. Subhanallah!
Demi Al-Qur’an, kader PKS meninggalkan perbuatan sia-sia, seperti: Bercengkrama ngolor-ngidul nda’ ada temanya (apalagi ngomongin ikhwan atawa akhwat ter keren sa’ jagad raya), kongkow-kongkow di sekretariat sambil ketawa-ketiwi sampai ashma, mainin FIFA 2009 sampe jam 3 subuh (nah siapa itu ya?), atau nonton film-film terbaru tiga kali sehari (kayak minum obat saja). Semua itu ditinggalkan demi kekasih tercinta, Al-Quranul Kariim…

Ciri keempat, Al-Jundiyah (militan).
Ciri militansi adalah “kami dengar, kami laksanakan” (sami’na wa atha’na), itulah ciri kader PKS. Militansi pertama adalah militnasi pada perintah Allah, yaitu bersegera melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, baik yang di dengarkan dari Al-Qur’an maupun dari hadits-hadits Nabi. Tidak terbiasa menunda-nunda melakukan kebaikan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab bagi kader PKS, hidup adalah hari ini, dan esok adalah sesuatu yang tidak pasti.
Militansi kedua adalah miltansi pada perintah qiyadah. Seberat apa pun atau sesepele apapun perintah itu. Entah itu perintah membuka medan da’wah baru di pulau antah berantah, atau hanya sekedar menjadi tukang sapu-sapu di markaz da’wah, semuanya dilaksanakan dalam ketaatan. Baik dalam lapang, maupun dalam sempit. Baik dikala senang, maupun dikala susah. Dalam keadaan apa pun, kader PKS senantiasa amanah dengan perintah yang telah diberikan padanya. Tak peduli qiyadahnya berusia sangat muda, yang pengalamnnya masih sebiji jagung, apalagi tergolong yunior dalam masa tarbiyah, jika dia adalah qiyadah, maka kader PKS siap melaksanakan amanahnya…

Ciri kelima, Al-Akhlaq.
Artinya salah satu cara mengenali kader PKS adalah pada akhlaknya. Mereka memiliki akhlak dan perangai yang unik, sopan, santun, murah senyum, rendah hati, suka menolong, berkata lembut, penyayang dan sebagainya. Kumpulan akhlakul karimah itu terpancar dari hati mereka yang bening oleh dzikir, pikiran mereka yang jernih oleh tarbiyah. Mereka tak rela melihat tetangga krelaparan. Merek tak tega melihat orang lain kesusahan. Mereka begitu hilm, dan air mata mereka mudah menetes oleh fenomena hidup yang beraneka warna.
Mereka begitu menghargai dan menghormati siapa saja, bahkan terhadap yang membencinya sekalipun. Dari mulut mereka senantiasa mengalir kata-kata yang menggugah, kalimat-kalimat penuh kasih sayang. Kader PKS anti kekerasan, sampai kapan pun. Tangan mereka begitu ringan untuk menolong siapa pun. Karena itu mereka mudah di temukan di setiap lokasi bencana. Mereka selalu berada di garis depan membantu mereka yang dirundung musibah. Dan mereka tidak suka hanya banyak bicara, mereka cinta pada kerja nyata.
Nah, bagi yang merasa kader PKS dan membaca tulisan ini. Marilah sejenak kita mengukur diri, sudahkah da’wah ini kita jiwai. Jika belum, masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Jangan sampai, da’wah yang begitu indah ini menjadi rusak hanya oleh karena tampilan zhahir kita tak pernah sejalan dengan pesan yang dakwah ini inginkan. Mari benahi diri Akhi, Ukhti, agar da’wah ini merambah ke dalam hati dan jiwa-jiwa ummat yang sedang mencari jati diri.
Dan tulisan ini, ku tulis untuk diriku sendiri, untuk jadi cemeti, agar hari-hari esok aku bisa lebih baik lagi, Amin…

Copas 😉 dari Group IHIMA

 Al Amal


Al Amal (serial Untukmu kader Dakwah – 3)

 

 Al Amal

Yang kami inginkan dari al-amal adalah :

Buah dari ilmu dan ikhlas seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an Karim: “Dan katakanlah : “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat amal kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui  akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian amalkan” (QS At Taubah :105)

Adapun urut-urutan amalnya adalah :

  1. Mengoreksi dan memperbaiki diri
  2. Membentuk dan membina keluarga muslim
  3. Memberi petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah
  4. Membebaskan tanah air dari penguasa asing
  5. Memperbaiki pemerintahan
  6. Mengembalikan kepemimpinan dunia kepada ummat Islam
  7. Menjadi soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah Islamiyah ke seluruh penjuru dunia

Banyak orang merasa telah beramal, tetapi tak ada buah apapun yang ia petik dari amalnya, baik itu perubahan fisik, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan ketrampilan beramal. Bahkan tak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi mengira beramal baik. Karenanya Al-Qur’an selalu mengaitkan amal dengan keshalihan, jadilah amal shalih. Kata shalih tidak sekedar bermakna baik, karena untuk makna ini sudah tersedia istilah-istilah khusus, seperti hasan, khair, ma’ruf, birr(kebaikan) dan lain-lain. Sedangkan shalih adalah suatu pengertian tentang harmoni dan tanasuknya (keserasian) suatu beramal dengan sasaran, tuntunan, tuntutan dan daya dukung.amal disebut shalih bila pelakunya mengisi ruang dan waktu yang seharusnya diisi.

Seorang pendusta atau pengikar agama tidak selalu mengambil bentuk penghujat arogan terhadap agama itu. Ia dapat tampil sebagai pengamal yang dermawan atau bahkan pelaku shalat yang khusyu. Namun pada saat yang bersamaan Allah menyebut pendusta agama, karena ia menghardik si yatim dan tidak menganjurkan orang untuk member makan si miskin (QS 107:2-3) Allah telah mengajarkan kita bagaimana bersikap benar, bahkan kepada tetangga yang Yahudi atau Nasrani. Dakwah adalah kerja yang amat mulia, karenanya harus dilakukan dengan memenuhi dua syarat utama yaitu Al Ikhlas was shawab

Ikhlas karena dilakukan semata-mata untuk dan karena Allah. Shawab (benar) karena dilakukan berlandaskan sunnah Rasulullah Saw. Mungkin seseorang menampakkan dirinya berdakwah ke jalan Allah, tetapi ia telah berdakwah ke jalan dirinya, demikian catatan dan komentar syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid dan Al Allamah Abdullah bin Alawi al Haddad dalam Ad Da’watut Taammah.

Betapa banyak amal menjadi berlipat ganda nilainya oleh niat yang baik dan itu tak akan terjadi bila pelakunya tak punya ilmu tentang hal tersebut. Dan demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang beramal tanpa melandasinya dengan ilmu, maka bahayanya akan lebih banyak daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat jadinya anna (kelelahan) dan niat tanpa ikhlasnya jadinya habaa (debu-kesia-siaan) dan ikhlas tanpa tahqiq (realisasi) jadinya ghutsaa (buih)

Kita tak punya kekuatan apapun untuk melarang orang bekerja dalam lingkup amal Islami. Bahkan mereka yang menjalaninya dengan cara yang kita nilai merugikan perjuangan. Ya pada saatnya kita mendapat penyikapan salah dari masyarakat sebagai reaksi salah atas aksi salah yang dilakukan para aktivis Islami.Qadliyah (Problema) kaum Khawarij dan berbagai gerakan lainya menunjukan fenomena para pengamal, dari ikhlas minus fiqh, sampai yang oportunis dan pemafaat jargon.

Alkisah disuatu masa, seorang alim menyelamatkan seekor beruan yang terhimpit sebatang besar. Sebagai tanda terimakasihnya atas jasa sang syaikh, ia berikrar untuk menjadi pengawal yang setia. Dan memang ia buktikan itu. Suatu hari sang tuan tertidur kelelahan. Sesuai ikrarnya beruang menjaga tuannya dengan setia, agar tak mendapat bahaya atau gangguan. Yang menjengkelkannya yaitu lalat-lalat yang hinggap-pergi di wajah syaikh, membuat tidurnya tak nyaman. Ia angkat batu besar dan dihantamkannya ke seekor lalat yang hinggap didahi tuannya. Pecah kepalanya dan entah kemana larinya sang lalat jahanam itu.

Hama-hama Amal

Sebagaimana tumbuhan, amalpun terancam hama. Riya (beramal untuk dilihat), ujub (kagum diri), sum’ah (beramal untuk popular/didengar), mann(membangkit-bangkit pemberian) adalah hama yang akan memusnahkan amal. Seseorang aktivis yang berkorban dengan semua yang dimilikinya harus mengimunisasi amalnya agar disaat hari perjumpaan kelak tak kecewa karena amalnya menjadi haba-an mantsura (debu yang berterbangan)

mereka membangkit-bangkitkan kepadamu keislaman mereka (sebagai jasa). Katakanlah: janganlah kalian bangkit-bangkit keislaman kalian kepadaku, bahkan sesungguhnya Allah-lah yang telah member karunia besar kepadamu karena Ia telah membimbing kalian untuk beriman, jika kalian adalah orang-orang yang benar.” (qs 49:17)

Tidak serta merta rasa beban berat dalam beramal berubah menjadi kesukaan. Kata kuncinya terletak pada: pemaksaan, pembiasaan dan (akhirnya menjadi) irama hidup. Junaid albaghdadi mengatakan :”selama 40 tahun kusembah Allah, ditahun ke-40 itulah baru kutemukan lezatnya.”

Pelipatgandaan kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan para sahabat tidak dapat dikejar generasi manapun. Bayangkan, hanya dalam dua decade saja telah perubahan yang sangat mendasar pada pola sikap, pandangan hidup dan tradisi bangsa Arab dan bangsa-bangsa muslim lainnya. Kerja besar taghyir (perubahan) ini sukses seperti ungkapan Sayyid Quthb dalam maalim fit Thariq berkat komitmen mereka yang (1) menuntut ilmu bukan sekedar untuk mengoleksi ilmu, (2) putus dari jahiliyah kemarin dan menghayati hidup baru dalam Islam, tanpa keinginan sedikitpun untuk kembali ke kancah jahiliyah dan (3) bersiap siaga menunggu komandi Al –Qur’an seperti prajurit siap siaga menunggu aba-aba komandan.

Kerja Untuk Perubahan Masyarakat

Kecenderungan sufi murung, sudah Nampak sejak zaman Rasulullah Saw, namun selalu mendapat koreksi dari beliau. Suatu masa dalam suatu perjalanan pasukan kecil beliau, seorang mujahid terpesona oleh keindahan wahah (oase) ditengah padang pasir dengan rumpunan kurma, sebongkah lahan produktif dan sumber air yang cukup untuk seumur hidup.

Oh alangkah nikmatnya bila aku tinggal disni beribadah ke Madinah, sehingga aku bebas dari gangguan masyarakat atau mengganggu mereka. Rasulullah Saw segera mengoreksi: “Janganlah lakukan itu, karena kedudukan kalian dijalan Allah sehari saja, menandingi 70 tahun tinggal dan beribadah disini.”

Bahkan Imam Ali bin Abi Thalib ra mengecam para pengikutnya yang loyo dalam memperjuangkan kebenaran dan dan pendirian yang mereka yakini:

Oh alangkah mencengangkan keberanian

Mereka dalam melihat kebatilan

Dan lesu kalian dalam memperjuangkan hak

Oh ajaib nian ketika kalian jadi sasaran tembak

Kalian diserang dan tak balas menyerang

Allah ditentang dan kalian tenang

Hari ini ribuan surat kabar, radio dan televise dunia bekerja sama diberbagai kawasan untuk menyebar fasad (kerusakan). Menyedihkan nasib si miskin, yang mampu beli TV, tetapi tidak bisa makan. Hati mereka dibunuh sebelum jasad mereka dihancurkan senjata pamungkas. Kemana ribuan kader yang hanya menggerutu tanpa berbuat apapun kecuali gerutu? Apakah masyarakat depat berubah dengan gunjingan dari mimbar masjid? Hari ini rumah ummat kebakaran, tidakkah setiap orang patut memberi bantuan memadamkan api walaupun dengan segelas air; dengan pulsa perangko dan kertas surat yang dikirim kepada pedagang kerusakan dan menegaskan pengingkaran terhadap ulah mereka dengan siaran dan penerbitanfasad, sebelum mereka mengirim darah dan nyawa mereka kesana ketika usaha santun tak lagi membawa hasil?

Banyak usaha dilakukan. Sebagian menyentuh kulit tanpa isi. Sebagian memaksakan pekerjaan berpuluh tahun dalam waktu sekejap mata. Sebagian membangun symbol-simbol tanpa peduli subtansi dan tujuan untuk apa wahyu diturunkan. Mereka yang senantiasa tadabur Al Qur’an akan melihat keajaiban ungkapan. Ketika Allah mengisahkan kedunguan Ahli Kitab yang bangga dengan status zahir mereka, ia menyebutkan: “Mereka mengatakan, tak akan masuk syurga kecuali (yang berstatus) Yahudi atau Nasrani. Itulah angan-angan mereka”. Dan ketika Ia mengisahkan sikap keberagaman kaum beriman, disebut prestasi mereka: “Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah seraya berbuat Ihsan, maka baginya ganjarannya disisi Tuhannya dan tiada ketakuatan atas mereka, tiada pula mereka akan bersedih”. (QS Al Baqarah:111-112)

Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jama’ah berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah, namun saying mereka tidak meneladani keutamaan mereka. “Barang siapa lambat amalnya tidak akan cepat karena nasabnya” (HR Muslim)

Apa yang harus dikerjakan ?

Hanya pada saat kekikiran dituruti, hawa nafsu ditaati dan setiap orang kagum hanya kepada dirinya sendiri, maka ummat ini boleh mulai mendaftar koleksi orang-orang khassahnya dan meninggalkan awam yang tenggelam. Orang beramal dihari itu seperti 50 kali kerja kamu hari ini (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i)

Sebagai kerja dakwah memang kata, tetapi dapat dituding sebagai Cuma omong, seperti halnya penyiar dan reporter yang mengisi daftar profesi kerjanya dengan ngomong. Namun perlu dibedakan mana dakwah yang mencukupkan diri dan puas dengan member informasi seram kepada khalayak, atau meninabobokkan khalayak dengan mimpi-mimpi indah atau mengingatkan bahaya seraya member jalan keluar. Mampukah mereka tampil sebagai problem solver, ataukah cukup menjadi problem speaker, lalu peluang terbesarnya hanya jadi problem maker. Dan hari banyak juga orang kayak arena jadi problem trader.

 

AL JIHAD 


Al Jihad (serial Untukmu kader Dakwah -4 )

AL JIHAD

Yang kami maksud dengan Al Jihad adalah :

Suatu kewajiban yang masanya membentang (tak akan berhenti) sampai hari kiamat dan apa yang dikandung dari sabda Rasulullah Saw: “Barang siapa yang mati, sedangkan ia tidak berjuang atau minimal punya niat untuk berjuang, maka ia mati dalam keadaaan mati jahiliyah”

Adapun urutan yang paling bawah dari jihad adalah ingkar hati, dan yang paling tinggi adalah perang mengangkat senjata dijalan Allah. Sedangkan ditengah-tengah itu adalah jihad lisan, pena, tangan, berkata benar dihadapan penguasa tirani.

Dakwah tak akan hidup dan berkembang kecuali dengan jihad. Karena kedudukan dakwah yang begitu tinggi dan bentangannya yang luas  maka jihad merupakan jalan satu-satunya untuk menghantarkannya. Juga betapa besar pengorbanan dalam mengkokohkan dakwah itu dan apa yang akan diperoleh para pengemban dari pahala yang besar disisi Allah SWT. Firman Allah Ta’ala: “Dan berjihadlah dijalan Allah dengan sebenar-benarnya Jihad”. (QS. Al Hajj:78)

Dengan demikian anda sebagai aktivis dakwah tahu akan hakikat doktrin “Jihad adalah jalan kami”

___________________

Dari sedikit orang tahu, Said Hawwa rahimahullah adalah salah seorang yang mampu memberi tahu, bahwa pengertian fardhu kifayah yang harus dipahami secara benar, akurat dan sehat. Mengqiyaskan fardhu kifayah pada jihad dengan fardhu kifayah pada pengurusan jenazah, jelas tak dapat ditoleransi lagi. Walaupun salah kaprah ini telah menahun. Kifayah harus dikembalikan ke makna asli dan syar’i yaitu kadar  kecukupan. Bila tak cukup jumlah rakyat  Palestina, Ambon, Poso, Kashmir, Darsussalam Aceh, Chechnya, dan lainnya, memperjuangkan dirinya, maka batas cukup harus tagih dari kawasan dalam radius berikutnya, sampai benar-benar jumlah itu memadai alias kifayah.

Sedikit orang tahu bahwa dalam suatu hadits Rasulullah Saw menyebut dien itu adalah Jihad. “Bila kalian mulai tranksaksi dengan system ‘inah (tranksaksi menjurus/mengandung unsure riba), kalian memegangi ekor sapi, puas dengan bersibuk diladang dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang takkan dicabut-Nya sampai (kecuali jika) kalian kembali kepada agama kalian.”

Dan lebih sedikit yang ingat bahwa jihad adalah jalan paling tepat dan terhormat  untuk money laundry, saat uang sekotor dan sepanas apapun berubah menjadi Ghanimah. Dan Ghanimah hanya terjadi lewat aksi jihad qital. Menarik ungkapan Allah tentang balasan orang-orang yang mentaari Allah dan Rasul-Nya, khususnya dalam pilihan Jihad. Ia akan mendapat maghfirah keridhaan Allah dan rezeki yang mulia. (QS. Al Anfal: 4)

Maka sesungguhnya rezeki yang paling mulia , yaitu Jihad (Afdhalul Arzaq ta’ti min afdhalil a’maal). Ada air untuk mensucikan hadts dan Janabah. ada debu untuk menggantikannya. Ada tanah campuran air untuk membersihkan dosa-dosa kolektif, darah mukmin akan mensucikannya kepada seorang pendosa yang sepenuh hati bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosanya, maka bagaimana orang yang bertaubat dengan mengorbankan nyawa dan darahnya, syahid dijalan-Nya?` Ia lebih berhak atas ampunan tersebut. Semoga Allah merahmati Abdullah Ibnu Mubarak dan Fudhail bin Iyadh. Hari-hari Ibnu Mubarak dalam setahun terbagi tiga: ta’lim, haji dan jihad. Suatu hari seperti kebiasannya setiap tahun berhaji dan membawa rombongan haji dengan biayanya sendiri, tiba-tiba ia membatalkan perjalanan haji karena ada perintah jihad. Dari jabhah (front) ia sempat bersurat kepada sahabatnya, Fudhail bin Iyadh, mantan gangster kejam yang bertaubat dan ‘abid (ahli ibadah).

jika kau lihat kami, wahai abid di Haramain

Kau tahu dalam ibadah kau Cuma bermain

Siapa yang membasahi pipinya dengan air mata

Leher kami dengan darah kami membasah

Atau melelahkan kudanya dalam sia-sia

Kuda-kuda kami telah lelah dipagi buta

Bau setanggi bagi kalian

Dan setanggi kami bau percikan

Kaki kuda dan debu-debu yang lebih wangi

Dengan suka hati, Fudhail menghadiahi pembawa surat itu sebuah Hadits yang ia riwayatkan sendiri tentang ketinggian derajat syahid yang tak tertebus kecuali seseorang dapat shalat (malam) seumur hidupnya tanpa tidur  dan berpuasa (sunnah) seumur hidupnya tanpa berbuka.

Tak ada yang menyamai-apalagi melebihi keutamaan iman kepada Allah dan hari akhir serta jihad di jalan-Nya, sekalipun oleh posisi terhormat siqayah (penjamu jama’ah haji di Masjid Haram) dan Imarah (memakmurkan) masjid Haram, seperti yang dibangga-banggakan sebagian kalangan Quraisy. Allah telah menetapkan mereka itu la yastawun (tidak sama) (QS. At Taubah : 19)

Mungkin orang yang dihatinya tak terdapat jihad memerangi kebathilan dan kekufuran, dapat berjihad secara terbuka, dengan lisan maupun dengan tangannya? Sebagian masyarakat di dunia Islam berada dalam tuntutan kondisi jihad lisan. Sementara lainnya sudah dalam kondisi jihad tangan (qital). Yang pertama dapat dilihat dalam unjuk rasa, tulisan-tulisan, orasi dan pengumpulan dana solidaritas dunia Islam (Palestina, Bosnia, Chechnya, Kosovo, Poso, Ambon, Maluku Utara, dan lainnya). Termasuk sikap belia Melayu  yang bergabung dalam  ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) lebih dari 20 Tahun lalu, mengharamkan minuman ringan asal Amerika yang sudah merambah sampai ke desa-desa dan dikenal luas. Karena 1  % harga setiap kalengnya akan mengalir ke Tel Aviv dan pada saatnya menjadi peluru-peluru yang ganas dan tak bersahabat, bahkan terhadap bayi berumur 2 bulan sekalipun.

Hal yang sama Nampak pada fatwa-fatwa Dr. Qardhawi dan sebelumnya, pada doktrin ekonomi ummat Imam al Banna. Jauh beberapa abad sebelum ini Syaikh Izzudin bin Abdus Salam telah mengeluarkan fatwa yang tegas tentang jual beli tanah dan senjata kepada musuh ummat.

Kalau ada hadiah bagi kelompok ilmiah remaja, mestinya anak-anak Palestina tak patut dilewatkan. Betapa berjasanya para remaja itu kepada para borju Arab, lantara dengan cerdas mampu menjadikan kaleng Coca-cola dan Pepsi yang mungkin tak pernah mereka nikmati, sebagai kifarat dosa para peminum Arab atau dunia beradab lainnya, dengan mengisinya menjadi “coctai”. Dan hari-hari Palestina pun menghangat dengan pesta baru dan Molotov Coctail yang pasti tak sedahsyat TNT, tapi mampu menyulut ledakan semangat dunia tertindas untuk tegar menantang kepongahan imperialis modern.

Kerusakan di tubuh bangsa-bangsa bermula dari busuk dikepalanya, Posisi penentu arah dan perjalanan bangsa tak mungkin dibiarkan ditangan para penipu, perampok dan tengkulak. Penyelamatannya demi mayoritas tak berdaya dan mengembalikan hak kepada empunya adalah bagian bagian dari hak. Seseorang mungkin merasa telah berdakwah, padahal ia hanya sampai pada perbincangan dan pergunjingan masalah yang sudah diketahui umum. Ia baru jadi simpul emosi bersama dan penyuara keresahan masyarakat terbuang.

Sedikit yang sadar uang Rp. 1.000,- yang tak laku untuk semangkuk bakso atau es teller, tetap berguna untuk membeli beberapa lembar kertas surat dan perangko atau pulsa yang ditunjukan kepada stasiun kemaksiatan, kebohongan dan kesombongan baik di TV, radio, Majalah dan surat kabar.

Bila setiap hari dialog di media cetak dan elektronik direspon para belia yang bergairah dan redaksi menerima 1000 atau 2000 pucuk surat serta teguran telepon, dakwah ini menjadi subur dengan kader-kader yang tanggap, sigap dan tidak telmi. Para belia cepat berubah dari khalayak dungu yang emosional menjadi kader yang efisien dan efektif. Banyak orang yang tak malu telanjang didepan umum, memasarkan ajaran busuk. Banyak orang mati dalam tabrakan, tawuran bodoh yang sia-sia, mati tua, mati dalam maksiat dan narkoba. Siapa yang siap mati dengan cita rasa seni kematian yang tinggi: syahid di Jalan-Nya? Tanpa rasa sakit kecuali seperti satu kali sengatan (HR. Tirmidzi, Nasa’i , Ibn Majah & Ibn Hibban) dan sesudah itu hanya gerbang surga yang membentang?.

 At Tadhhiyah (pengorbanan)


At Tadhhiyah (serial Untukmu kader Dakwah -5 )

Yang kami maksud dengan At Tadhhiyah (pengorbanan) adalah :

Pengorbanan jiwa raga, harta dan waktu serta segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan. Dan tidak ada kata jihad didunia tanpa adanya rasa pengorbanan. Anda jangan merasa bahwa pengorbanan Anda akan hilang begitu saja demi meniti jalan fikrah kami ini. Tapi itu tak lain adalah sebuah ganjaran yang melimpah dan pahala  yang besar, barang siapa yang tak mau berkorban dengan kami maka ia berdosa. Karena AllahTa’ala telah menegaskan hal itu dalam banyak ayat Al Qur’an. Dengan memahami ini maka  anda akan memahami doktrin “Mati dijalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi”

___________________________________________________

Ajruki’ala qadri nashabiki”

(ganjaranmu tergantung kadar lelahmu)

  1. Muslim dari Aisyah, ra

Kemauan Berkurban dan Sikap Jujur

Kemauan yang jujur akan terwujud dalam aplikasi yang berani menantang bahaya dan segala hambatan, seperti akar yang sehat menembus tanah yang keras dan bebatuan. Ketika kaum beriman dihadang berulang kali, yang muncul adalah keberanian dan keledzatan merespon tantangan. Dua kali berhasil dengan gemilang memukul mundur serangan kuffar Quraisy di Bandar dan Uhud dalam rentang waktu yang amat singkat . ternyata masih disusul dengan serangan sekutu yang tak seimbang (gabungan)  Yahudi, Quraisy, Gathafan dan Munafiqun). Mungkin kekuatan lain sudah shock, tetapi alih-alih dari itu semua, mereka serentak mengungkapkan sikap yang sama dan padu “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-nya dan benarlah Allah dan Rasul-Nya”  (QS Al Ahzab: 22)

Tidak seperti hewan yang digemukkan dengan memberikan makanan, ternyata iman dan amal shalih digemukkan dengan pengurbanan. Semakin sedikit tubuh mendapat respon bagi kenikmatan syahwatnya maka semakin besar ruh berkurban.

Manusia semacam Bal’am adalah sejenisnya makhluk yang tak henti-hentinya mengikuti tarikan grafitasi syahwat dan mulutnya selalu berliur oleh selera dunia. Berapapun ia diberi tetaplah ia menjulur, bagaikan anjing (QS. Al Araf: 175). Ia akan rela mengurbankan kehormatannya sebagai orang berilmu demi dunia yang tak pernah memuaskan dahaga. Pasanglah jam dan perhiasan mahal ditangan seharga 1 Miliar, lalu lemparkan sepotong tulang dengan sedikit saja daging dan lihatlah apakah anjing itu tetap tertegun melihat kilauan perhiasan yang sangat mahal ataukah akan berlari mengejar tulang? Ah jangankan perbandingan miliar dengan tulang betulan, bayang-bayang tulang yang dilihatnya dipermukaan telaga membuatnya terjerumus oleh baying-bayang tulang dimulut anjing lainnya yang tak lebih dari baying-bayang dirinya.

Jadi Orang Besar dengan Resiko Besar

Ibnu Abbas radhiyanllahu’anhu diminta waktunya sejenak oleh seorang untuk suatu urusan kecil. Datanglah kepadaku dengan urusan besar, urusan kecil berikan buat yang lain. Mengapa nabi Ibrahim selalu meminta lisan shidq dikalangan generasi berikutnya? Mengapa nabi Ismail dan Abu Bakar digelari si jujur? Apa jadinya bila nabi Ibrahim gagal meninggalkan Ummu Ismail dan Ismail alaihissalam di lembah tak bertanaman disisi rumah-nya yang dihormati (QS Ibrahim:37)? Apa jadinya bila Ismailalaihissalam yang beranjak remaja memanfaatkan kemanusiaan bapaknnya agar tak terjadi pengurbanan besar itu (QS Shaad : 102)? Jelas mereka akan menjadi orang yang tak pernah punya peran diatas panggung sejarah, Karena sejarah tak pernah mau mengabadikan orang-orang biasa yang perjalanannya datar tanpa tantangan. Kadang orang merasa ada dinamika dalam sejarah dan ia menontonnya tanpa berpikir ia sendiri mampu menjadi actor sejarah. Inilah thufailiyat (sifat kekanak-kanakan) yang betapapun usia fisik telah jauh diambang tua, namun fikiran pemiliknya tertinggal dimasa lalu yang lugu, mentah dan kekanak-kanakan.

Belakangan datang generasi yang tak merasakannya telah berkurban dizaman awal Islam, saat Muhajirin dan Anshar bahu membahu membangun masyarakat Madinah dan tidak menjadikan Islam sebagai wacana teoritik belaka. Mereka tak merasakan makan daun perdu padang pasir yang membuat luka kerongkongan dan remah mereka sama dengan kotorang kambing dan unta. Mereka tak merasakan blockade tiga tahun di Syi’b Abi Thalib, pergi meninggalkan tanah air atau disita harta dan dibunuhi keluarga mereka.

  Suatu hari datanglah Mush’ab bin Umair ke majelis Rasulullah SAW dengan pakaian bertambal, Beliau menangis mengenang masa-masa Mush’ab dimanjakan orang tuanya dalam jahiliyah. Beliau ingatkan para sahabat: “Bagaimana kamu, bila kelak pagi kamu berpakaian kebesaran dan petang mengganti dengan pakaian kebesaran lainnya, piring-piring makanan datang silih berganti dan kamu mulai memasang penutup dinding seperti Ka’bah dibalut sitar (kelambu)”.

Para sahabat bertanya : “Bukankah saat itu kami jadi lebih  baik, karena dapat sepenuh waktu beribadah dan tercukupi kebutuhan pokok?”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, kamu hari ini lebih baik daripada hari itu”

Pengurbanan dan Tabiat Dakwah

Ia adalah langkah kembali yang benar dan jalan menghindari eksploitasi pengurbanan manusia bagi kepentingan Fira’unisme, Hamanisme, Qarunisme dan Bal’amisme. Dan target ini sesungguhnya target da’wah itu sendiri, yaitu pembebasan. Ia perlindungan sejati bagi hamba-hamba tak berdaya, yang selama ini meniti bukit kurban mereka yang salah dengan lelah, membawa sen demi sen yang mereka peroleh dengan keringat dan darah, bagi monster periba yang kejam dan mati rasa, pemilik modal yang arogan dan sais kereta kebendaan yang ringkih, tua dan berat, dihela keledai-keledai protelar dengan jasad yang semakin kurus, dimangsa para kamerad elite yang tak bermalu, memimpin dengan fanatisme, dendam dan dusta.

Pengurbanan rakyat bodoh yang terus dibodohi oleh para pemimpin berbaju paderi dan kiai, yang memanfaatkan kultus individu dan keyakinan lugu mereka tentang kewalian dan adi kodrati, padahal sang pemimpin lebih dekat kepada ateisme daripada monoteisme, bahkan daripada politeisme sekalipun. Pengurbanan menjadi shalih bila dapat menghantarkan atau mempersembahkan supermasi tertinggi ditangan Allah dan termuliakannya  darah dan nyawa, kehidupan dan kematian hamba, karena tertutup sudah semua jalan bagi berjayanya para penipu, pemeras dan kalangan memperdayakan mayoritas mengambang.

Sesungguhnya pada generasi sebelum kamu, ada yang disisir dengan sisir besi yang menancap kebawah tulang, daging atau sarafnya. Semua itu tak mengalihkan mereka dari agama. Sungguh Allah akan sempurnakan urusan ini, sampai seseorang dapat pergi sendirian dari Shan’a ke Hadharamaut tanpa takut kepada siapapun kecuali Allah” (Al Buthy, Fiqh Sirah 106)

Hanya Untuk-Nya

Dalil yang paling terang bahwa misi tak membuka peluang bagi pengurbanan individu untuk kepentingan figur, adalah melimpahkannya teks-teks larangan kultus, sampai celaan yang sangat bagi seseorang yang senang orang lain berdiri menyambut kedatangnnya. Ketika Imam Ali bin Abi Thalib berkunjung ke suatu tempat, rakyat datang dengan sikap merunduk-runduk.”Alangkah ruginya kelelahan yang berunjung siksaan dan alangkah keberuntungan sikap ringan yang berbuah aman dari neraka” demikian nasihatnya.

Seseorang dapat menikmati kekaguman masyarakat terhadap kuantitas ibadah ritualnya dan ia menikmati ketentraman beribadah sambil melupakan tugas jihad lisan mencegah kemunkaran di masyarakat , penaka burung unta yang merasa telah aman karena berhasil menyembunyikan kepalanya ke dalam gundukan pasir, namun ia tak pernah aman akan tuntutan Allah. Suatu hari Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk menumpahkan adzab kepada penduduk suatu negeri. “ya Rabb, disana ada seorang shalih” lapor malaikat dan Allah sungguh telah tahu hal itu. “Justru mulailah dari dia, karena tak pernah wajahnya memerah karena-Ku (ketersinggungan karena kehormatan Allah dihinakan)” (HR Ahmad)

Mahar perjuangan yang mahal, tidak hanya menjadi tiket menuju kemenangan generasi ta’sis (perintis), tetapi juga bagi generasi sesudahnya. Dan mereka harus membayar dengan pengurbanan yang sama bentuk, format dan gaya yang berbeda. Bagi generasi yang tak terdesak oleh jihad qital (tempur) selalu terbuka pengurbanan dengan berbagai jalan: pengurbanan waktu, perasaan, harta, kesenangan diri, dan lain sebagainya.

Mukmin sejati takkan bergembira karena tertinggal dari kesertaan berkurban, betapapun udzur memberi mereka rukhshah (keringanan), namun “Mereka berpaling dengan mata yang basah menangis, karena mereka tak menemukan biaya (untuk biaya anggkutan perang).” (QS At Taubah: 92).