Jangan Insilakh


Dulu sewaktu kami kuliah di Jakarta, saya mempunyai seorang sahabat yang dia menjadi marbot di sebuah masjid kampus. Kami sangat akrab satu dengan yang lain. Hingga hari ini bila kami bertemu bahkan kami saling berpelukan layaknya saudara yang lama tidak bertemu. Dulu kami sering mengikuti kajian Islam yang diasuh Ustadz-ustadz kami tercinta, seperti Ust. Sudarman Lc, Ust. Musyaffa Lc dll, dan kadang-kadang setiap menjelang Sholat Jum’at kami saling membantu membersihkan masjid bersama-sama.

Sewaktu PK milad pertama kami pernah “nggandul” bis menuju senayan bersama rombongan. Wah senangnya bisa bertemu qiyadah-qiyadah kami secara langsung. Kadang kami ikut demo Kammi ke bunderan HI, dubes australia dll.
Singkat cerita, atas takdir Allah kami bekerja di tempat yang berbeda. Dia di Surabaya dan saya di kota Jawa Timur lainnya. Kudengar berbagai aktivitasnya dalam dakwah ini yang sangat mengagumkan. Mulai dari jadi relawan tsunami Aceh, banjir Jember, dll.

Pada suatu saat ada berita yang membuatku lemas dan hampir tak percaya. Melaui seorang temanku dari sebuah email, dia memberitahukan bahwa sahabatku telah keluar dari jalan dakwah ini.

Dia bergabung dengan kelompok yang bahkan melecehkan dan mem”bid’ah”kan dakwah kami. Ternyata dia merasa tidak pas dengan cara-cara kami atau tidak pas dengan personal-personal dakwah ini. Sempat kami berdiskusi lama tentang ajakan kembali kedakwah ini…tapi ternyata sulit…terakhir aku berdo’a…dimanapun kamu berada asal berkontribusi dalam Islam bukan sebagai musuh para da’i lain yang beda harokah.

Itulah sahabatku, pentingnya kedewasaan dalam berharokah. Kadang kita merasa senior dalam berdakwah sehingga merasa harus mendapat tempat strategis atau jabatan tertentu dalam dakwah ini atau merasa harusnya mendapat teman liqo’ yang setara. Kadang kita merasa kita lebih pandai dari Murobbi/Murobbiyah kita sehingga timbul rasa “lebih” dari diri kita. Atau kadang kita tidak cocok dengan cara atau perilaku sebagian kader dakwah, sehingga kita mengambil keputusan bahwa dakwah ini salah dan kita keluar dari dakwah ini.

Sahabat…
Pengikut yang bertaqwa adalah mereka yang tidak menjadi lemah karena bencana, ujian, ketidakberuntungan yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh Allah dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar.
Kita kembalikan apa tujuan kita bergabung dalam dakwah ini. Apakah tujuan kita dunia ataukah kita hanya ingin menjadi penolong-penolong agama Allah.

Sahabat…

“Berjamaah itu rahmat, Firqah (perpecahan) itu azab.” demikian sabda Rasulullah. Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Barangsiapa yang menghendaki tengahnya surga, hendaklah ia melazimi jamaah.”

Janganlah kita insilakh/lepasnya seorang dai dari ikatan dakwah

Jauhnya seseorang dari berjamaah membuatnya mudah didekati syaitan. Rasul bersabda: “Setan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (H.R. Ahmad)

Semoga Allah selalu menetapkan diri kita dalam Jama’ah ini dan bersabar di dalamnya.

2 thoughts on “Jangan Insilakh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s