Ayanqushul Islamu Wa Ana Hayyun


Ayanqushul Islamu Wa Ana Hayyun

Ayanqushul Islamu Wa Ana Hayyun

Oleh: Ust. Ibnu Jarir, Lc

Segala puji hanya bagiMu ya Allah, yang memiliki segala kekuatan yang tidak pernah kantuk dan tidak akan pernah tidur, yang meniupkan ruh dan daya hidup pada seluruh makhluq Mu, yang menganugerahkan hamsah dan militansi serta daya juang kepada siapapun yang Engkau kehendaki.

Saudaraku…wahn (lemahnya ruhiah dan ruhaniah kita akibat pengaruh besar keduniaan) telah melelahkan tapak-tapak kaki kita dalam menaiki tangga kemuliaan, memperkecil nyali kita di hadapan kemunkaran dan kemaksiatan, merenggangkan kerekatan hangatnya ruh persaudaraan, bahkan meredupkan pancaran cahaya hubbus syahadah yang menjadi cita-cita setiap pejuang.

Saudara….dho’f (lemahnya fisik kita akibat kuatnya pergumulan kita dengan materi) menempatkan kita pada derajat dholimun linafsih, banyak berbuat aniaya diri, membangun kokohnya akhirat kita hanya dengan mengandalkan sisa-sisa dari dunia kita, berkeinginan menyelesaikan tugas-tugas besar dengan mengandalkan sisa-sisa waktu kita, merindukan ridho Allah hanya dengan mujahadah yang sekedarnya.

Saudaraku….bila ini adalah haliyah kita, akankah pertolongan Allah dapat kita raih? Akankah kemenangan dah futuh yang dijanjikan Allah dapat kita petik? Alangkah pekatnya wajah kita di sisi Allah kelak, dan alangkah hinanya diri kita di sisiNya. Ya Allah ampuni hamba-hambaMu yang lemah ini…karuniakan pada kami panasnya iman yang mampu membangun hamasah kami untuk mampu bermujahadah dengan penuh kesabaran.

Saudaraku…..merenunglah kita dengan segala keinsafan diri…tataplah wajah-wajah kita, cermatilah diri kita dan amati dengan seksama segala cela kita di hadapan cermin penyadaran rabbani berikut ini:
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak lemah (moralitasnya) dengan apa yang dialaminya dengan jihad di jalan Allah, dan tidak lemah (fisiknya) dan tidak pula terbersit sedikitpun rasa pesimis yang mendorongnya untuk menyerah, Allah mencintai orang-orang yang sabar. Tak ada yang mereka ucapkan selain permohonan mereka: “Ya Robbana ampunilah dosa-dosa kami dan sikap kami yang melampaui batas dalam segala urusan kami, kokohkanlah ya Allah pendirian kami, dan karuniakan ya Allah pertolonganMu pada kami dalam menghadapi orang-orang kafir” (QS. 3: 146-147)

Saudara….inilah sosok hamba qurani untuk kita bercermin kepadanya, dengan kekuatan robbani ia tampil di tengah kelesuan semangat, ia kumandangkan gelora hamasah ayanqushul islamu wa ana hayyun (akankah da’wah Islam ini melemah sedangkan saya masih hidup?). Semoga ridho Allah senantiasa tercurah kepada sahabat Abu Bakar.

Saudaraku…..di mana kita…..?

Tawadhu dan Keberkahan Dakwah


Tawadhu dan Keberkahan Dakwah

salim segaf2

1. Mari kita berharap keberkahan Allah pada dakwah ini. Keberkahan itu datangnya dari keyakinan kita kepada Allah, bahwa semua kekuasaan/kemenangan/kekalahan itu terjadi atas kehendak Allah. Kita tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa konspirasi musuh menyebabkan kekalahan kita. Mau konspirasi apapun kalau Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Mari kita melihat amal ini dengan pendekatan dakwah

2. Evaluasi kita : kita tergiring secara tidak sadar menjadikan politik sebagai panglima. Lalu dakwah dan kaderisasi kita lupakan. Tolonglah slogan OBAH KABEH MUNDAK AKEH itu jangan dimaknai AKEH kursi dan suaranya. Tapi akeh dan mundak keberkahannya. dan itu dengan tetap menjadikan dakwah sebagai misi utama kita. Kursi itu bukan tujuan kita. Kalau kita pantas menerimanya Allah akan berikan. Saya membayangkan andai seluruh anggota dewan kita di indonesia ini di sebar merata ke desa desa yang ada di seluruh negeri. Lalu berdakwah, membina masyarakat dan kita punya kemampuan untuk itu. Insya allah keberkahan akan turun dengan cara itu. Tidak ada urusannya dapat kursi atau tidak.

3. Evaluasi kita : kita sering membuat target target yang sebenarnya tau itu diluar kemampuan kita. Lalu kita terjebak dengan cara cara yang jauh dari keberkahan untuk memaksakan mencapai target itu. Mengumpulkan dana dana syubhat. Bergantung pada konglomerat anu. konglomerat itu. Proyek ini itu.dst. Sekian suara harganya sekian M. Lalu dimana nilai keberkahan dakwah ini? begitu juga dengan perilaku politik kita yang kadang menyalahi sunnatullah. Begadang sampai hampir pagi menjaga suara. Toh tetap jebol juga. Apakah kita ini lebih sibuk dari Rasulullah? beliau selalu tertib dalam hal tidur dan bangun pagi. Di malam hari beliau serahkan dakwah di tangan Allah. Beliau tidur dan qiyamullail. Sesekali bolehlah begadang. Tapi kalau menjadi politic style kita itu sudah salah.

4. Allah hanya ingin kita ini bekerja semaksimal kemampuan kita. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Tidak perlu memaksakan pola pola dan cara cara yang diluar kemampuan kita. Jokowi itu sebenarnya contoh dari Allah, bahwa ketika Allah berkehendak, dengan dana pencitraan orang bisa mendapatkan kekuasaan dan Allah juga yang berkuasa menjatuhkannya. Jadi, mari kita semakin tawadhu’ dihadapan Allah. Semakin kita tawadhu’ dan merasa butuh pertolongan-Nya, maka pertolongan akan mendekat. Jangan terlalu ngoyo menampakkaan bahwa kita ini punya kekuatan. Semakin kita berpikir kita punya kekuatan, lalu melupakan Allah, maka justru pertolongan semakin menjauh. (dalam konteks ini, Ust salim menyebut stagnannya suara PKS dari PEMILU ke PEMILU)

5. Itulah sebabnya para ulama mengajari kita doa : Allahummarzuqnaa ma’rifatan yas habuha bil adabi. Ya Allah beri kami ma’rifat kepadamu, yang diiringi dengan adab terhadap-Mu. Kita mengenal Allah tapi kita tidak punya adab dan sopan santun terhadap-Nya. Lalu kita merasa sudah punya kekuatan.dan mulai melupakan-Nya. Ini namanya kita tidak beradab dan sopan santun terhadap Allah.

6. Jangan juga gara gara jabatan politik lantas life style dan perilaku kita berubah. Terbiasa dilayani. Kesenggol dikit marah marah dimana mana seolah ingin menunjukkan kita ini kuat. Kita lupa berapa ton nikmat Allah yang sudah kita makan melalui mulut kita. Mari jadi orang yang biasa biasa saja. dan mengingat bahwa semua ini pemberian Allah yang tidak akan kekal.

7. Pada akhirnya mari memperbanyak dzikrullah. Imam ali berkata :: inna lillahi fil ardhi aaniyatun wa huwa al qolbu. Sesungguhnya Allah itu memiliki tempat di bumi, yaitu dalam hati kita. kita ini standar nya ma’tsurot sughro. Itupun masih suka nanya : ada yang lebih sughro lagi nggak tadz? insya Allah dengan dzikir yang banyak itu keberkahan akan turun.

Wallahu Al musta’aan. (mujahidullah)

Source : pksabadijaya.org

Renungan untuk kita semua


Hadiah untuk saudaraku, Idwan Agus Tuharea dan renungan untuk kita semua.

 

Sejarah silam…silih berganti….

Mengalir deras tiada penghalang
Bersama cahaya penyuluh
Muhammad rasul pilihan

Zaman berzaman silih berganti
Kini din mu ditinggal sepi
Tiada pembela tiada pengganti
Dahaga tiada terperi

Wahai pemuda dan juga pemudi
Sambutlah lambaian din mu yg suci
Tidakkah kalian simpati
Kekasih ditinggal sendiri

Wahai pemuda dan juga pemudi…
Telah lama din mu menanti…
Kembalilah….
Kembalilahh…
Menyambut…seruan din yang suci…

****

Nasyid yang selalu membuat mata berkaca2….
Ikhwah fillah….

Satu ayat yang harus selalu jadi semangat kita disaat berjuang dan pengingat di saat lemah…

Ayat yang selalu didengungkan oleh para murobbi pada binaannya dahulu….

Ayat yang disampaikan oleh al ustadz al kariem Hilmi Aminuddin di masjid komplek DPR saat bada menyolatkan jundiyyah fid da’wah, ustadzah Yoyoh Yusroh (Allahu yarham)…
Yang menderaikan air mata yang hadir….

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya),
(Al Ahzab: 23)

Kata “Rijal” yang jika di dampingi kata “muanasnya” akan bermakna laki2.

Namun jika tidak (berdiri sendiri), akan bermakna “orang2 yang punya kapasitas di atas rata2″. Begitulah kata tafsirnya.

Ya, diantara orang2 beriman itu ada orang2 yg punya kapasitas di atas rata2 yg benar janjinya pada Allah. Janjinya sebagai hamba,
Janjinya sebagai mukmin,
dan janjinya sebagai da’i dan jundi…

Diantara mereka ada para sahabat (radhiallahu ‘anhuma), tabi’in, mujahidin, asy syahid HAB, SQ, ….., ustadzuna Rahmat Abdullah, Ahmad Madani, Bijak, Yoyoh Yusroh, dan juga engkau saudaraku Idwan Agus Tuharea, yang telah mendahului kita. Menggadaikan jiwanya untuk memenuhi janjinya pada Rabbnya….

Namun, “waminhum man yantadzir, wamaa baddalu tabdiila”….
Diantaranya ada yang masih menunggu2.
Bukan menunggu mati, tapi menanti kehidupan sesungguhnya saat perjumpaan dengan Allahu Rabbul ‘Alamin.
Menanti dengan amal2 terbaiknya.
Menanti dengan harta2 terbaiknya.
Menanti dengan amal2 utamanya.
Menanti dengan ketaatan terpatuhnya.
Menanti dengan perjuangan terhebatnya.
Menanti dengan segala upaya menjaga dan membuktikan kebenaran janjinya pada Khaliqnya.

Menanti dengan menjadi hamba maka dia tunduk dan patuh.
Menanti dengan menjadi mukmin maka dia taat.
Menanti dengan menjadi da’i maka dia sibuk dalam dakwah.
Menanti dengan menjadi jundi maka dia berjuang bersama dalam barisan yang rapat dan kokoh….

“Maa baddalu tabdiila”
Tidak pernah berubah bahkan berpikir untuk merubah janjinya pun tidak….

Adakah kita termasuk “Man yantadzir. Wamaa baddalu tabdiila”
Adakah kita, yaa ikhwatal iiman fiid da’wah?

Uhibbukum fillah…
Arsal

Nasihat Terakhir Ustad Asfuri Bahri


Nasihat Terakhir Ustad Asfuri Bahri

Dari Ust. Asfuri Bahri utk kita semua…Semoga Allah selalu merahmati beliau

:: Mulailah Perjalanan Ini ::

Sumayyah…
Yasir…
Mush’ab…
Anas bin Nadhir…
Hamzah bin Abdul Muthallib…
Abdullah bin Jahsy…
Sa’ad bin Robi’…
Amar bin Jamuh…

Mereka semua belum sempat menyaksikan kejayaan Islam..

Mereka belum menyaksikan ekspansi Umar dan kemenangan Khalid…

Mereka juga belum mengalami zaman Rib’i bin Amir yang meninggikan agamanya di hadapan Rustum, panglima Persia.

Mereka juga tidak menyaksikan Harun Arrasyid saat ia berkata, “Wahai awan, turunkan hujan dimanapun yang kau mau, panennya pasti akan sampai kepadaku.”

Mereka telah memulai perjalanan dan mati di permulaannya serta belum sampai di penghujungnya. Juga tidak mengalami panen dari apa yang telah mereka mulai. Dan Allah telah ridha kepada mereka.

Jangan bertanya tentang ujung perjalanan…

Yang penting anda menjadi hamba sejati untuk Rabb Subhanahu wa Ta’ala, benar dan jujur. Komitmen manjalani perintah-Nya dan Mujahid di jalan-Nya….

Mengerahkan segenap waktu, upaya, potensi, harta, dan pikiran anda demi memenangkan Islam dan kaum Muslimin.

Tidak masalah bagimu setelah itu, apakah anda mati di permulaan atau di pertengahannya…

Lalu anda termasuk yang disinggung Allah dengan firman-Nya

{مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا}

“Diantara orang-orang beriman ada para ‘lelaki’ yang membenarkan apa yang mereka janjikan kepada-Nya. Diantara mereka ada yang telah menemui ajalnya dan diantara mereka ada yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah janji mereka sama sekali.”

Yang penting kita berjalan di jalan yang diridhai Allah dan selalu memohon kiranya Allah menerima amal anda. Tujuannya adalah meninggal dalam keadaan iman, takwa, jihad, dan dakwah. Bukan untuk memetik hasil dan buahnya…

Allah pasti menjaga agama-Nya dan memenangkan para wali-Nya pada setiap zaman dan tempat dengan cara yang ditentukan-Nya…

Mari kita perbaiki dan perbarui niat ini pada setiap perbuatan, setiap saat, bahkan setiap detik…

*Kita tidak tahu kapan akan berlalu tinggalkan dunia fana ini…*

*Dari Ustadz Asfuri Bahri*

Pondasi Kemenangan adalah Dakwah dan Tarbiyah


Pondasi Kemenangan adalah Dakwah dan Tarbiyah

 

PONDASI KEMENANGAN ADALAH DAKWAH DAN TARBIYAH
(Taujih Habibana Dr Salim Segaf Al-Jufri)

Setelah empat kali kita mengikuti pemilu, kita bisa melihat bagaimana dampak politik terhadap pribadi kita. Politik sungguh sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari sehingga hal-hal yang berhubungan dengan da’awi terjadi stagnasi bahkan penurunan.

Politik adalah sarana dan upaya kita untuk memenangkan dakwah kita. Tapi pondasi untuk meraih kemenangan itu adalah tarbiyah dan dakwah.

Kita harus mensyukuri capaian yang telah kita raih. Kita mentargetkan membangun 20 sampai 25 lantai sehingga kita akan masuk 3 besar. Namun Allah baru memberikan kita 7 lantai. Ini harus kita syukuri, karena 7 lantai ini adalah 7 lantai yang kokoh. Lebih baik kita diberi 7 lantai yang kokoh daripada diberi 25 lantai yang rapuh, yang justru itu membahayakan. Menang tapi justru membuat kita terpecah belah dan saling berebut satu sama lain. Tidak ada keberkahan di dalamnya.

Rasulullah mengingatkan, “Sungguh bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tapi yang aku khawatirkan adalah manakala dibukakan pintu dunia ini seluas-luasnya kepada kalian.”

Ikhwah fillah, soliditas kita adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar2. Oleh karena itu, dakwah dan tarbiyah harus menjadi panglima dalam kita bergerak dan berpolitik. Keimanan harus menjadi pondasi, karena dengan iman itulah Allah akan membukakan pintu hidayah kepada orang2 yang kita dakwahi.

Kita lihat Asiyah, istri Firaun. Wanita yang hidup ditengah istana kezaliman Firaun, namun dia menjadi beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun. Siapakah yang memberikan hidayah kepada istri Firaun tersebut?

Itulah cara-cara Allah memberikan hidayah, melalui cara-cara yang penuh keimanan. Kita ingin membangun perpolitikan yang dibangun dengan keimanan, kejujuran dan amanah.

Kita tidak mengharamkan posisi, jabatan dan kekuasaan. Tapi semua itu untuk membangun negeri dan menegakkan kebenaran. Bukan untuk yang lain.

Firaun memiliki seorang masithoh (tukang sisir) yang tugasnya khusus menyisir rambut anak Firaun. Pada suatu ketika masithoh sedang menyisir rambut seorang anak Firaun, sisir yang digunakan terjatuh dan dia mengambilnya dengan membaca Bismillah. Hal ini lalu dilaporkan kepada Firaun. Lalu apa yang dilakukan oleh Firaun? Dia lalu menyiapkan panci besar berisi minyak yang dididihkan dan memasukkan anak2 masithoh tersebut satu persatu, agar masithoh mengakui Firaun sebagai tuhannya. Namun sampai seluruh anak2nya dimasukkan ke minyak mendidih itu, masithoh tetap teguh dengan keyakinannya. Dan pada akhirnya, setelah seluruh anak2nya selesai, masithoh pun juga dimasukkan ke dalam minyak mendidih tersebut. Dan ketika Rasulullah isra mi’raj, beliau mencium aroma yang sangat wangi, dan Jibril menjelaskan itu adalah wangi masithoh dan anak2nya yang teguh dengan kecintaannya kepada Allah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita tetap teguh dengan keyakinan kita saat lemah maupun saat berkuasa?
Kalau kita rapat sampai jam 1 atau jam 2 malam, apakah kita lebih hebat dari Rasulullah? Kapan kita bermunajat kepada Allah, padahal saat2 itu adalah saat2 Rasulullah bermunajat kepada Allah?

Kita ingin membangun Indonesia yang kokoh, yg solid dan sejahtera. Tapi saat ini Indonesia jauh tertinggal, termasuk dari korea yg kemerdekaannya berbeda 2 hari dari Indonesia. Tapi Indonesia di sana lebih dikenal sbg negara pengirim pembantu RT.

Maka kita harus membangun negeri ini dengan kebersamaan kita dalam keimanan. Tidak ada yang lebih hebat dari Allah. Kita membangun negeri ini utk mendapatkan kecintaan Allah, bukan untuk kepentingan nafsu pribadi. Untuk ikhlas seperti itu memang tidak mudah, tapi jika sudah menjadi kebiasaan, dia mudah saja dan tidak menganggap itu sbg keikhlasan. Itulah seorang mukhlasin, yg iblis pun tidak mampu menggodanya.

Partai ini panglimanya adalah dakwah, panglimanya adalah dzikrullah dan shalawat kepada nabi, panglimanya adalah ibadah kepada Allah. Lakukan dengan itqon dan ihsan. Jazakumullah khoir, terima kasih sudah membantu partai ini. Ucapan seperti ini memberi dampak yg sangat luar biasa dan menjauhkan kita dari keangkuhan.

Darimana kita tahu bahwa seseorang atau partai itu mendapatkan cahaya Allah? Itu terlihat dari hati-hati mereka yg selalu berdzikir kepada Allah. Semoga partai ini mencintai dan dicintai Allah, dan memperoleh kemenangan di dunia dan akhirat. Aamiin.

Hubungan Batin antara Murabbi dan Mutarabbi


Hubungan Batin antara Murabbi dan Mutarabbi

 

Oleh :

Musyaffa Ahmad Rahim

 

Seorang murabbi yang sukses, ia akan mampu menciptakan hubungan yang sangat kuat dengan sang mutarabbi, bahkan sampai ke tingkat hubungan batin, yang:

– Tidak perlu lagi mempergunakan bahasa perintah atau larangan.
– Bahkan tidak perlu lagi mempergunakan bahasa isyarat dan bahasa tangan
– Bahkan berbagai urusan sering terjalin melalui mimpi.

Contoh Kasus (1):

Dalam sebuah halaqah, dan selagi sang murabbi asyik mengisi dan mengelola halaqah, ada seorang mutarabbinya yang sering berdiri dan meninggalkan tempat halaqah.
Adakalanya ia mengambil air untuk sang murabbi, terkadang air hangat, terkadang air dingin, terkadang teh manis, terkadang juice dan sebagainya.

Terkadang ia berdiri dan pergi untuk mengambil pulpen, atau spidol, atau penghapus dan sebagainya.

Terkadang ia maju ke depan untuk menghapus atau untuk urusan lainnya.
Semua ini dilakukan oleh sang mutarabbi persis seperti yang dikehendaki oleh murabbinya, tanpa kata, dan bahkan tanpa isyarat.

Contoh Kasus (2):

Sering sekali seorang mutarabbi bermimpi mendapati sang murabbinya sedang sakit, maka ia pun pergi ke sana.
Terkadang membawakan obat untuknya.
Terkadang ia membawakan makanan khas untuknya.
Terkadang sekedar untuk menjenguk saja.

Contoh Kasus (3):

Pernah seorang murabbi, karena profesinya sebagai seorang ahli tehnik sipil, bermimpi bertemu dengan seorang mursyid.

Dalam mimpinya dia dipesan untuk mendesign rumah khusus beliau, padahal sang mursyid telah memiliki rumah.

Sang mutarabbi mencoba menta’wilkan mimpinya, dan dugaannya bahwa sang mutarabbi diminta untuk mempersiapkan kuburan untuk sang mursyid.

Pagi harinya, sekretaris pribadi mursyid mendatangi sang mutarabbi dan menyampaikan salam dari mursyid agar sang mutarabbi memperbaiki lokasi kuburan para mursyid.

Sudah ada 4 kuburan murysid di lokasi sana. Maka sang mutarabbi pun segera memperbaiki kawasan kuburan para mursyid itu; memperbaiki jalanannya dan membersihkan lokasinya.

Selesai sang mutarabbi mengurus kuburan para mursyid itu, ia pun mendapatkan berita bahwa mursyid yang ditemuinya dalam mimpi meninggal dunia, menyusul 4 mursyid sebelumnya dan sang mursyid itu pun di kuburkan di lokasi yang baru-baru ini ia urus dan ia perbaiki.

 

( Musyafa Ahmad Rahim )

Etika Debat dalam Islam


Etika Debat dalam Islam

 

Debat dalam bahasa Arab disebut jadal. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Ghazali member definisi jadal sebagai keinginan untuk saling mengalahkan dan menjatuhkan seseorang dengan menyebutkan kekurangannya. Dengan demikian, tidak jarang debat memunculkan banyak sisi negatif. Misalnya saja, menumbuhkan emosi orang tertentu, lantaran tidak menerima kritik orang lain terhadap dirinya. Dan yang lebih parah, bila forum debat sudah menjadi arena debat kusir yang tak jelas ujung pangkalnya, sehingga semakin jauh dari kebenaran. Itu sebabnya, debat sering dikaitkan dengan salah satu sebab penyimpangan. Banyak umat terdahulu yang tersesat setelah mereka mendapat petunjuk, lantaran perdebatan mereka tentang kebenaran. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Tidaklah sekelompok kaum menjadi sesat kembali setelah memperoleh petunjuk, kecuali mereka melakukan jadal.” Selanjutnya beliau membacakan surat az Zukhruf yang artinya “Mereka tidak member perumpamaan itu padamu melainkan dengan maksud membantah saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (HR Ahmad dan Turmudzi, hadits hasan shohih).

Karenanya, Rasulullah SAW melarang umatnya untuk terlibat dalam perdebatan. “Saya adalah pemimpin rumah di bawah naungan surge, bagi orang yang meninggalkan debat sekalipun dalam posisi yang benar…” (HR Abu Dawud, dan dicantumkan dalam silsilah hadits shohih oleh Nashiruddin al Abani I/47).

Namun, tidak semua jadal bernilai negative. Jadal pernah disebutkan dalam al Quran sebagai salah satu media dakwah yang cukup efektif. Allah SWT berfirman, “Serulah (mereka) ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik serta bantahlah(jadal) mereka dengan bantahan yang lebih baik.” (QS. An Nahl: 125). Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Janganlah kalian membantah ahlul kitab kecuali dengan bantahan yang lebih baik…” (QS. Al Ankabut: 46).

Islam telah menggariskan sejumlah rambu yang dapat memelihara perdebatan agar tidak keluar dari jalur yang benar.

Pertama, dengan memelihara etika Islam dalam memberi nasehat. Beberapa etika Islam dalam hal ini, misalnya memberi nasehat harus dilakukan dengan rahasia dan tidak di depan orang banyak, menggunakan cara yang sesuai dan waktu yang tepat, harus didorongan dengan niat untuk membenarkan dan mengubah ke arah yang lebih baik, ikhlas karena Allah, menyandarkan semua kemampuan kepada kehendak Allah, dan sebagainya. Bila adab-adab ini dilanggar, maka pemberian nasehat justru berakibat pada timbulnya sikap bangga terhadap dosa atau kesalahan pada diri orang yang dinasehati. Orang tersebut bahkan berupaya untuk terus mengungkapkan bantahan dan perdebatan, agar bebas dari kesalahan, dan cenderung tidak mau menerima nasehat.

Kedua, melenyapkan ambisi selalu ingin menang dan tak mau kalah. Ambisi seperti ini akan menjadikan seseorang tidak mempan dengan segala kritik. Inilah diantara hikmah firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (QS. An Nisa:135).

Ketiga, membentengi diri dengan al Quran dan sunah sebelum mendalami pengetahuan tentang teknik perdebatan. Ilmu tentnag teknik perdebatan dan diskusi, antara lain ilmu mantiq dan filsafat. Mendalami teknik perdebatan dan diskusi memang bisa mendorong seseorang terjerumus dalam perdebatan yang negative. Apalagi, bila hal itu dilakukan sebelum ia memiliki basic moral yang baik terhadap al Quran dan sunah. Itu sebabnya, sebagian ulama melarang mempelajari ilmu filsafat dan mantiq. Di antara mereka ada yang membolehkannya, yaitu Saifuddin al Amidi. Beliau mengemukakan alasan bahwa manusia memiliki potensi akal sebagai anugerah Allah. Potensi itu dapat digunakan sebagai neraca pertimbangan berbagai masalah, membedakan antara yang haq dan yang bathil, yang bermanfaat dan berbahaya.

Di antara ulama yang melarang adalah al Hafizh Abu Amr Ma’ruf Ibnu Sholah. Menurutnya pelarangan disebabkan ilmu-ilmu tersebut akhirnya akan mengantarkan seseorang pada sikap ragu dan bahkan boleh jadi sampai pada tingkat pengingkaran terhadap kebenaran yang sudah ada.

Selain mereka, ada pula diantara ulama yang bersikap mutawasshith (pertengahan). Seorang Muslim dibolehkan mempelajari ilmu filsafat dan matiq dengan catatan telah memiliki benteng al Quran dan sunah. Dan dilarang bagi mereka yang tidak memiliki kriteria tersebut. Pendapat seperti ini dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah.

Keempat, menghindari sikap ujub dan takabur. Karena sikap inilah yang menyebabkan orang terjerumus dalam debat kusir. Orang yang menderita ujub dan takabur, cenderung menempuh cara untuk menarik perhatian orang. Miraa’ atau jadal merupakan salah satu cara yang ditempuh. Cara inilah yang pernah dilakukan oleh iblis tatkala menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Ketika Allah SWT berfirman, “Apa yang menghalangimu untuk sujud kepada yang Aku ciptakan, apakah engkau takabur atau merasa lebih tinggi?” (QS. Shaad: 75).

Saat itulah iblis menjawabnya dengan konteks kalimat yang menjurus kepada jadal atau perdebatan. Kata iblis, “Saya lebih baik daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api sedang Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Shaad: 76).

Inilah salah satu hikmah di balik firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Ghafiir: 56).

Kelima, mengisi hati dengan ma’rifatullah dan taqwa. Hati yang senyap dari ma’rifatullah dan taqwa adalah hati yang kosong dari kesadaran atau rasamuroqobatullah (pantauan Allah). Kondisi hati tersebut (hati yang kosong) akan menyebabkan masuknya ambisi dunia serta was-was setan yang selalu merongrong agar melakukan kejahatan. Dari sinilah, seseorang disibukkan dengan pekerjaan sia-sia, salah satu diantaranya adalah debat. Karenanya Allah SWT menyeru kepada hambanya agar memerangi kekosongan hati dengan melakukan variasi ibadah, sehingga hati tidak bosan atau jenuh dan mendorong seseorang terjerat dalam perdebatan yang sia-sia. Allah berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7-8).

Al Hafizh Ibnu Katsir memberi komentar terhadap dua ayat tersebut sesuai atsar para salah; “Bila engkau selesai mengerjakan kesibukan urusan dunia, dan engkau telah putuskan ikatan-ikatannya, maka sungguh-sungguh dan giatlah melakukan ibadah dengan pikiran yang kosong.” Seperti ungkapan mujahid rahimahullah dalam ayat ini: “Bila engkau selesai mengerjakan urusan dunia, maka berdirilah melakukan sholat dan bersungguh-sungguh kepada Tuhanmu.”

( mh )