Renungan Pendidikan #41 


Harry Santosa

Renungan Pendidikan #41 

Hampir semua keluarga muda yang bekerja dan mencari nafkah di kota kota besar dengan anak satu atau lebih, umumnya mengalami hal yang sama, yaitu mereka harus bekerja setiap hari, berangkat pagi pagi buta dan pulang setelah ba’da Isya. 

Berangkat ketika anak anak belum bangun dan pulang ketika anak anak sudah tertidur. 

Kalaupun sempat mengajak anak anak ke masjid untuk sholat shubuh, namun fikiran dan konsentrasi sudah separuhnya ada di pekerjaan atau persiapan bekerja. Belum lagi bayangan akan kesuntukan kemacetan yang akan dilalui, menambah fikiran dan mengurangi kehangatan bersama anak anak.

Kalaupun sempat bersenda gurau atau belajar bersama anak anak ketika malam, namun fikiran dan tenaganya sudah sisa dan hampir padam. Belum lagi jika ada hal hal yang buruk dari tempat kerja yang dibawa pulang dan ditimpakan pada anak anaknya.

Kita semua tahulah, mengapa para pencari nafkah keluarga muda ini harus berangkat pagi pagi buta dan pulang larut malam? Mereka umumnya menghindari kemacetan yang sudah tidak masuk akal. Menghindari stress yang harus dihadapi setiap hari.

Kemacetan kota kota besar sudah tidak masuk akal, ini akibat sistem modern termasuk persekolahannya yang memang berorientasi kota besar, walhasil jarang ada anak kota yang mau ke desa dan semua anak desa pasti ke kota. Urbanisasi membludak, harga tanah meroket, kemacetan menggila.

Jadi sesungguhnya ini fakta dan kenyataan yang “tidak bisa dibenarkan” apabila orang bekerja pulang pergi setiap hari namun jauh dari tempat tinggalnya. 

Umumnya para keluarga muda ini tinggal jauh di pinggiran kota dengan kantor ada di tengah kota. Mengapa begitu? Perumahan yang sanggup mereka “cicil” memang hanya ada di daerah pinggir jauh dari kota bahkan masuk ke luar wilayah kota besar.

Rumah dan tanah di pinggir kota sudah di luar jangkauan pendapatan mereka. Dalam sistem sosial yang ada, gaji mereka umumnya sudah dipatok sistem dan tak mungkin membeli “lebih” kecuali karena sesuatu hal, misalnya warisan dstnya. 

Jangankan gaji bahkan kesehatan dan pensiun juga sudah ditakar dan diformulasikan oleh sistem. Mohon maaf, ini sungguh mirip peternakan manusia daripada peradaban manusia.

Mungkin hanya kurang dari 1 % keluarga muda yang mampu membeli rumah di tengah kota, sisanya sudah pasti di pinggir jauh atau bahkan di luar kota.

Jadi polanya adalah jika dahulu buyutnya urban ke kota besar, lalu kakeknya mampu tinggal di tengah kota, lalu bapaknya sanggup di pinggir kota, kini dirinya hanya mampu tinggal di pinggir jauh atau bahkan luar kota. 

Maka bisa dibayangkan dimana anak anak mereka nanti tinggal? Pasti tinggal lebih jauh lagi dari kota.

Masalahnya kemudian bukan hanya itu, tetapi aspek pendidikan anak anaknya yang terbengkalai. Pilihannya sudah jelas, menyerahkan sepenuhnya kembali anak anak mereka pada sistem yang dulu mereka kenyam, yaitu sistem persekolahan. Taken for granted! Bagi mereka, no choice!

Walau banyak yang menyadari bahwa tanggungjawab mendidik tetap ada di pundak orangtua, namun pada prakteknya anak anak mereka dianggap sudah menjalani pendidikannya apabila sudah “disekolahkan”. Rumah tangga yang sunyi dari mendidik anak anaknya jelas berpeluang bubar.

Maka kemudian, anak anak mereka yang masuk sistem persekolahan akan mengulangi dan menjalani sistem persekolahan sama seperti kedua orangtua nya dahulu. Siklus berulang, masalah berulang.
Yaitu terancam kehilangan potensi fitrah bakatnya, karena dicetak sesuai maunya sistem. 
Yaitu terancam kehilangan potensi fitrah belajarnya, karena belajar untuk lulus ujian dan bekerja.
Yaitu terancam kehilangan potensi fitrah keimanannya, karena akhlak diukur dari sekedar status dan jumlah pengetahuan.
Yaitu terancam kehilangan fitrah perkembangannya alias lambat dewasa dan mandiri karena pembocahan berlangsung panjang.

Dengan proses yang sama ujungnya ya tentu produk yang sama. Anak anak mereka akan kuliah, berebut lowongan, bekerja di kota, menikah….. lalu mencicil rumah dan tinggal kembali di pinggiran jauh yang lebih jauh lagi dari ayah ibunya. 

Dengan alasan yang sama maka anak anaknyapun akan kembali masuk ke dalam sistem persekolahan. Begitu seterusnya siklus ini diulang. Apakah kita ingin melanjutkan hal yang kita alami pada anak anak kita? Lalu bagaimana memutus rantai dan siklus peternakan peradaban ini? 

Solusinya adalah bukan menyalahkan sistem, namun jangan biarkan diperbudak sistem. 
Mari bersama mulailah membangun pendidikan berbasis keluarga dan komunitas secara berjamaah. Buatlah pusat pusat belajar berjamaah di lingkungan perumahan dan kampung. 

Rancang program bersama dan saling menitipkan anak secara kolektif. Pastikan fitrah2 anak anak kita tidak tergerus sistem. Undang dan hadirkan pakar ke komunitas kita agar menjadi maestro anak anak kita. 

Setelah pendidikan berbasis komunitas, maka bergeraklah ke pemberdayaan berbasis komunitas. Buatlah bisnis kolektif bersama sehingga tidak semua orangtua meninggalkan rumahnya lalu bisa mencari nafkah dari rumah secara berjamaah. Bila setelahnya bisa kembali ke desa dan memakmurkannya lebih bagus.

Ingatlah bahwa semua akan mudah dan indah bila berjamaah. Bukankah kita diminta berjamaah dalam kebaikan termasuk pendidikan? 

Jangan sampai lahir dari rumah-rumah kita sarjana yang skripsinya adalah karya satu2nya dan terakhir sepanjang hidupnya lalu melayang2 di ibukota menjajakan ijasah. 
Jangan sampai lahir dari rumah rumah kita pemuda yang paham agama namun sibuk ke bursa kerja, minim karya dan inovasi. Jangan sampai lahir dari rumah rumah kita pemuda yang berbakat namun tak bermanfaat dan tak berakhlak.
Jangan sampai lahir dari rumah rumah kita pemuda yang baligh namun tidak dewasa dan mandiri.
Jika demikian mereka akan kembali menjadi budak budak peradaban.

Mari kita putus rantai penjajahan peradaban ini dengan menguatkan peran komunitas dan jamaah dalam pendidikan dan pemberdayaan. 

Semoga peradaban masa depan adalah peradaban cemerlang dari dan untuk anak anak kita. Tentu dimulai dari rumah dan komunitas yang menumbuhkan fitrah2 mereka sampai kepada peran peradabannya.

Salam Pendidikan Peradaban 
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎PendidikanBerbasisFitrah‬ dan akhlak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s