Bila Kita sudah Tua Nanti……


Romadhon beberapa tahun kemarin lumayan berkesan bagiku. Betapa tidak, lebaran kemarin merupakan iktikaf pertama yang benar-benar tinggal di masjid. Walaupun target kegiatan ibadahnya masih banyak yang tidak tercapai setidaknya ada nuansa baru di Romadhon kemarin. Pada romadhon kemarin, seperti biasa para teman-teman Tarbiyah mengadakan iktikaf bersama. Nah selama iktikaf alhamdulillah aku mendapat kenangan menarik. Salah satu peserta iktikaf ada orang yang sudah cukup tua, mungkin seumuran ayahku. Tapi masyaallah, dia sungguh semangat baca dan menghafalkan al qur’an. Aku sendiri jadi malu sendiri karena sering bawa buku untuk menutup muka alias tidur hehhehe.

Romadhon kemarin aku juga sempat ikut dauroh bersama teman salafy. Walaupun aku mengikutinya tidak sampai selesai tetapi aku mendapat banyak manfaat di situ. Para peserta dauroh ada seorang yang mungkin seumuran kakekku. Tetapi, tiap ada sesi tanya jawab dia selalu ambil bagian. Bahkan bila ada hadits mengatakan nama si fulan, beliaupun bertanya siapa nama sebenarnya nama si fulan itu. (Kami-pun tersenyum geli mendengarnya, dikarenakan semangatnya untuk bertanya)

Pernah juga, aku mengikuti khuruj bersama teman-teman JT (kejadiannya sekitar tahun 90-an). Rombonganku terdiri dari berbagai daerah bahkan luar jawa walaupun kebanyakan adalah mahasiswa UNS. Ada salah satu dari rombonganku yang sudah tua sekali. Mungkin umurnya sekitar 70-an. Tapi sungguh semangat untuk dakwahnya sangat tinggi. Tiap pembagian tugas beliau selalu bersemangat. Bahkan untuk urusan perempuan (belanja dan memasak) beliau lakoni. Mungkin itulah yang membuat kami bersemangat selama khuruj.

Begitu juga mantan kepala kantorku yang sudah pensiun beberapa tahun kemarin. Beliau sangat dinamis. Bayangkan untuk bapak seumuran 55 tahun dia masih aktif bekerja dan berolahraga. Bicaranya-pun tegas walaupun tidak keras. Tiap hari ada saja yang dikerjakan (bahkan hari libur kadang dia masuk). Entah sekedar merubah posisi tempat kerjanya, mengecek berkas, tennis lapangan dan tennis meja (bawahannya bahkan hampir semua dikalahkannya). Bahkan sebelum pensiun dia buat sebuat buku tentang kesehatan di masa tua dan berencana menjadi pengajar di salah satu universitas di Jawa Barat.

Saya jadi ingat kisah tentang orang tua, yang masih menanam pohon kurma padahal dia sendiri sudah bau tanah. Ketika ditanya, itu untuk keturunannya.

Mungkinkah kita bila tua masih produktif baik dunia dan akhirat.

Apakah kita nanti kita bila kita tua bukannya malah merepotkan anak cucu kita….?

7 thoughts on “Bila Kita sudah Tua Nanti……

  1. jazakallah khair….meski bisa di fahami mengapa orang tua lebih bersemangat ibadah adalah karena ‘waktunya’ semakin hampir….tapi generasi muda yang memiliki energi lebih juga tidak bisa mengabaikan ibadah kan..?? Untuk muhasabah bagi kita semua..

  2. mujitrisno said: Mungkinkah kita bila tua masih produktif baik dunia dan akhirat.

    Mungkin saja, tergantung pada kita dan keadaan kita.— Merepotkan anak-cucu?.Hadduh … kalau bisa jangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s