Agar Anak Tak Menyukai Televisi


Sudah terlalu bosan kita mendengar keluhan banyak orangtua tentang tayangan-tayangan televisi. Sudah terlalu sering pula kritik terhadap tayangan televisi dilontarkan. Entah berapa kajian dan penelitian yang kerap mengangkat dampak negatif televisi terhadap perilaku anak. Kita menyadari, tidak semua acara televisi tidak bermanfaat. Namun, maukah kita jujur dengan apa yang dilihat, diperhatikan, dan direnungkan dari televisi bahwa televisi memang ada manfaatnya, tetapi mudaratnya jauh lebih banyak dan lebih dahsyat?.

Jadi, rasanya tidak ada lagi alasan untuk tidak mengendalikan anak anak dari televisi. Bagaimana caranya? Setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, meniadakan televisi di rumah. Kedua, menyediakan televisi dengan teknik PENGENDALIAN.

Mana yang tepat? Bagi saya dua alternatif ini adalah pilihan yang lebih baik. Setidaknya, dibandingkan dengan membiarkan anak sebebas-bebasnya menonton televisi tanpa batas. Televisi berpotensi menjadi racun yang diundang oleh orangtua ke dalam rumah. Tak berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa upaya orangtua sedari kecil membina anaknya dengan agama, mengaji, hingga memilih sekolah terbaik bisa berantakan gara-gara televisi.

Memang, ada kemungkinan anak akan “menjelajah” rumah tetangga jika televisi ditiadakan di rumahnya. Namun, alasan ini sebenarnya menjadi alasan yang tak perlu dikhawatirkan karena toh selama apa pun mereka tinggal di rumah tetangga, pada akhirnya mereka akan bosan dan memilih untuk pulang ke rumah.

Meniadakan sama sekali televisi di zaman sekarang memang seperti sebuah keanehan. Namun, sebenarnya ini dapat dilakukan jika konteks keluarga, yaitu ayah, ibu, dan seluruh anak dipersiapkan dan dikondisikan. Mengganti jam televisi di rumah dengan kegiatan-kegiatan bersama antara orangtua dan anak dapat menjadi alternatif pengganti yang mengasyikkan.

1. Anggota Keluarga Baru.

Ada satu anggota keluarga tambahan dalam masyarakat modern, yaitu televisi. Dengan kehadirannya, kebersamaan antara anggota keluarga, terutama antara orangtua dan anak semakin berkurang. Orangtua dan anak mungkin menonton televisi secara bersama-sama, tetapi pada dasarnya mereka ini hadir secara jiwa bersama-sama. Mereka terkonsentrasi untuk menyelami isi acara televisi dan tidak menyelami perasaan masing-masing anggota keluarga.

Alasan “ketinggalan informasi” juga dapat dinafikan dalam keluarga yang sudah dipersiapkan dengan ketiadaan televisi ini. Bagi mereka, membaca koran setiap hari pun tidak akan pernah habis. Ribuan, bahkan jutaan informasi bisa hadir setiap hari.

Bagaimanakah mendapatkan hiburan untuk anak jika tidak ada televisi di rumah? Seorang ayah berkata bahwa bercanda dan bermain dengan anak adalah hiburan yang tak pernah membosankan. Hal ini pun akan menguntungkan semua pihak anak dan orangtua sendiri. Anak terstimulasi dan orangtua pun mendapat senyuman dan bisa tertawa bersama. Refreshing, bukan? Subhanallah, saya tersentuh dengan ikhtiar ini.

Sementara itu, menghadirkan sarana hiburan digital lainnya bernama VCD/DVD player atau komputer khusus anak di rumah juga merupakan upaya yang patut diapresiasi. Meskipun sama-sama produk elektronik, tetapi player semacam ini lebih bisa dikendalikan.

sekali lagi, meniadakan televisi dapat menjadi alternatif lebih baik daripada membebaskan anak-anak tanpa batasan tontonan televisi. Namun, tetap saja program meniadakan televisi di rumah ini akan berlangsung efektif jika orangtua proaktif mengelola kegiatan-kegiatan alternatif di rumah dan mempersiapkan mental seluruh anggota keluarga.

Jika Anda menganggap meniadakan televisi sebagai hal yang mustahil alias uthopia,alternatif lain adalah menghadirkan televisi dengan PENGENDALIAN. Metode pengendalian dapat ditempuh dengan beberapa tahapan dan upaya. Insya Allah, jika upaya ini dilakukan dengan penuh kesungguhan dan, konsistensi perlahan-lahan anak-anak bisa tak menyukai televisi dan mereka merasa tidak dipaksa jauh dari televisi.

2. Buat Anak Suka Membaca.

Ada banyak bukti anak yang suka membaca tidak menyukai televisi. Jika pun ada yang suka membaca dan suka nonton televisi, sebenarnya jika diamati lebih mendalam, kesukaan membacanya sekadar kesukaan insidental yang tak begitu mengakar. Anak-anak yang hanya membaca buku sepekan sekali jelas tidaklah dapat disebut sebagai anak yang suka membaca karena ketika seorang anak suka membaca, sungguh dia akan tidak betah jika tiga hari saja tidak membaca buku.

Membuat anak suka membaca insya Allah pekerjaan yang tak terlalu sulit. Tak perlu kursus dan tak perlu jadi orangtua hebat. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan; kemauan untuk menyediakan waktu 15 menit sebelum tidur untuk menginstalkan program-program positif ke dalam otak anak. Bacakan buku sejak dia bayi, buku bergambar penuh warna yang akan merangsang jutaan sel sarafnya bekerja.

3. Buatlah Jam Boleh Nonton Televisi.

Ingat, jangan pernah membaliknya dengan strategi JAM TAK BOLEH NONTON TELEVISI. Sebagian orangtua terjebak dengan cara ini. Biasanya, orangtua membatasi jam menonton televisi antara Maghrib dan Isya. Tak heran jika anak mengasumsikan semua waktu di selain jam tersebut mereka boleh menonton televisi dengan bebas.

Madonnayang seksi itu ternyata juga membatasi anaknya dari televisi. Apa lagi seharusnya sebagian kita yang “mengerti” dan mengagungkan budi pekerti. Mengapa Madonna yang selebriti dunia saja membatasi anaknya dari televisi? Tiada lain dan tiada bukan, pasti alasannya karena kesadaran akan dampak negatif yang dahsyat dari televisi.

Berapa lama waktu JAM BOLEH nonton televisi? Terserah Anda, bergantung kajian dan kesepakatan Anda dengan anak juga dapat mengajukan “proposal” kepada orangtua disertai dengan argumen-argumennya. “Proposal” itu berisi kesepakatan “jam televisi” bagi mereka. Tentu saja, dengan pertimbangan keamanan acara yang akan di,tonton.

Jika Anda bertanya mengenai jam aman setiap hari menonton televisi, saya akan menjawab, maksimal hanya dua jam. Akan lebih baik jika hanya satu jam. Namun, dengan dua jam setidaknya anak dapat menonton 2 jenis tayangan yang mereka sukai. Boleh berturut-turut, misalnya 2 jam di sore hari setelah pulang bermain atau terputus satu jam setelah pulang sekolah dan satu jam di sore hari. Anda harus memastikan jam yang dipilih anak adalah jam acara televisi yang aman untuk mereka. Namun, saya mengingatkan JANGAN PERNAH DURASI MENONTON TV ANAK melebihi DURASI Anda BERSAMA Anak. Bersama anak, lho ya, bukan sekadar di dekat anak.

Jika anak menawar, merajuk, merengek, dan menangis saat televisi harus dimatikan, istiqamahlah. Berpegang teguhlah jangan pernah tergoda dengan tangisan anak sehingga Anda melanggar aturan sendiri. Ini bisa berbahaya karena anak akhirnya dapat menganggap orangtuanya hanya bicara pepesan kosong dan tidak bisa dipercaya: membuat aturan tetapi bisa diruntuhkan.

4. Simpan televisi di tempat yang tak nyaman.

Bagaimana tak betah berlama-lama di depan televisi jika televisinya saja sudah mahal, suaranya menggelegar pula. Tempat duduknya? Wah, sofa empuk modern minimalis yang sangat nyaman. Lengkap dengan makanan kecil!

Coba kita balik dengan alternatif-alternatif ini: simpan televisi di komputer dengan memakai tv tuner atau simpan televisi di bawah tangga atau simpan di dekat kompor atau simpan di dekat meja yang sempit. Bercanda? Tidak, dijamin cara Ini akan sangat tokcer. Insya Allah anak Anda tidak akan betah berlama-lama menonton televisi.

5. Bantu anak membuat kegiatan mandiri saat Anda tengah sibuk.

Sebagian orangtua mengalami kesulitan saat menjalani kesibukan urusan rumah tangga dan mengurus anak. Akhirnya, televisi lagi-lagi menjadi jalan untuk mengalihkan perhatian agar tidak menganggu kegiatan orangtua.

Untuk sebagian besar anak, bahkan orang dewasa sekalipun, tidak melakukan kegiatan sama sekali dan hanya menunggu, tentu saja adalah hal yang membosankan. Tak heran jika kerewelan menjadi hal yang tak terhindarkan. Bagi anak-anak di atas usia 7 tahun, mereka dapat saja secara mandiri melakukan kegiatan yang mereka senangi, tetapi anak di bawah usia tersebut, masih dirasa sulit untuk menemukan kegiatan yang sesuai dengan usia mereka. Insya Allah, orangtua dapat menciptakan 1001 jenis kegiatan mandiri agar mereka tidak asyik berada di depan televisi. Saya hanya meyebutkan beberapa contoh saja, saya yakin Anda dapat menemukan ribuan kegiatan lainnya.

• Mewarnai mainan anak
• Menggambar atau membuat tato di kaki.
• Menggunting daun
• Menempel gambar
• Main beras atau pasir
• Menyusun bangunan dari buku-buku/casing CD/kaset
• Menggulung-gulung kertas
• Same Action (program aksi mirip: ibu memasak beneran anak masak mainan, ibu nyuci piring benaran, anak nyuci piring mainan).
• Menyimpan 20 barang tersembunyi dan anak mencarinya jika ketemu ibu beri hadiah spesial.
• water game (pake mangkok, sendok, sedotan)
6. Sediakan waktu bersama anak.
Saat bersama anak, Anda tidak hanya berada di dekat anak. Tak sedikit orangtua merasa “aman” karena telah me nyediakan waktu di dekat anak dengan menjadi ibu ruma tangga. Maaf, jangan salah kaprah, saya selalu mengatakan kepada ribuan orangtua yang mengikuti program saya: Jangan bangga dulu, Anda memilih menjadi ibu rumah tangga seolah-olah telah menyediakan waktu 24 jam untuk anak, tetapi tidak satu jam pun ternyata bersama anak.

Bersama anak itu artinya Anda tidak bertiga dengan koran, tidak berempat dengan televisi, tidak berlima dengan masakan, tidak bertujuh dengan cucian. Saat bersama anak, Anda benar hadir bersama anak, bicara dengan anak, dan bukan sekadar bicara pada anak. Kadang menjadi “peserta”, kadang menjadi “panitia” dari acara yang Anda selenggarakan anak di rumah. Kadang tertawa bersama, sesekali boleh menangis mengenang cerita.

Karena hanya berada di dekat anak, orangtua yang lebih banyak BICARA KEPADA ANAK daripada BICARA DENGAN ANAK dan sebagian orangtua akhirnya mengalami kelelahan mental yang luar biasa: CAPEK DEH… Oleh karena itu, tak sedikit ibu rumah tangga yang terlihat kelelahan dan stres. Bukankah anak itu anugerah? Bukankah saat memilih berinteraksi lebih dengan sumber anugerah, Anda seharusnya salah satu orang yang paling bahagia?

Menjadi orangtua terbaik bukan berarti kita harus menyediakan waktu 24 jam hidup kita hanya untuk urusan anak. Semakin dewasa, anak-anak kita pun tidak membutuhkan bersama orangtua selama-lamanya. Mereka pun butuh waktu dengan teman-temannya seperti kita juga berhak melakukan kegiatan-kegiatan sendiri tanpa anak. Anda hanya diminta menyediakan waktu bersama anak. Jika Anda menyediakannya, sungguh saat anak mendekati, orangtua akan merasakan kesejukan, ketenangan, keriangan dan anak-anak benar menjadi cahaya mata {qurrotu ‘aini) dan bukan penganggu orangtua.
Bagi saya, satu jam sehari. Bagi para ayah dan ibu yang bekerja, 2-4 jam sehari sudah cukup. Inilah yang hilang dari sebagian anak zaman sekarang. Tidak sedikit anak menjadi “yatim piatu” saat orangtuanya masih lengkap. Mereka bertemu setiap hari dengan orangtua, tetapi sebagian ‘say hello’ semata. Sebagaian orangtua bertemu dengan anak-anaknya bahkan bersama dengan anak di depan televisi. Sebagian mereka menangis. Ya, menagis, tetapi bukan menangis karena menyelami isi hati anak-anaknya sendiri, tetapi menangis karena isi acara televisi.

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

One thought on “Agar Anak Tak Menyukai Televisi

  1. Pingback: [Kliping] Pembatasan Televisi di Rumah | Leila's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s