Kekuatan Do’a


Dua orang laki-laki bersaudara . Mereka sudah yatim piatu sejak remaja. Mereka hidup rukun , dan sama-sama tekun belajar agama. Mereka berusaha mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Sang kakak berdagang, sedangkan sang adik mewarisi tanah ladang orang tuanya dengan bertani.

Untuk datang ke tempat sang guru, mereka acap kali harus berjalan kaki yang jaraknya cukup jauh dari rumah peninggalan orangtua mereka. Melewati daratan yang luas dan menyusuri hutan belukar.

Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki yang berlimpah agar bisa membeli seekor kuda sehingga dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, usaha dagangnya maju pesat sehingga keuntungannya berlipat-lipat. Maka dia pun bisa membeli seekor kuda.

Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.


Kemudian berturut-turut sang kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, perdagangan yang makin untung, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

Sementara itu, sang adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, terus bertani, dan tetap tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji ke rumah guru mereka

Suatu saat sang kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat bahwa adiknya daya hafalnya tidak sebagus dirinya, sehingga selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a.

Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, ” Dik, sesungguh ketidakmampuan kita menghapal quran, hadits dan bacaan doa. bisa jadi karena hati kita kurang bersih.. “

Sang adik mengangguk, hatinya terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.


Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:

Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan-Mu. Ampunilah aku dan kakakku, kabulkanlah segala do’a kakakku. Jadikan kakakku selalu dalam lindungan dan cinta-Mu. Bersihkanlah hatiku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat.”

Sang kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya. Dia telah salah menilai adiknya. Tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya. Bahkan adiknya tersebut selama bertahun-tahun dengan ikhlas terus berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan dirinya, dan itu baru dia ketahui sekarang. Hatinya bagai tersayat-sayat oleh sembilu.

ikhwati fiillah, kekayaan, kemiskinan, kebaikan, keburukan dan setiap musibah yang menimpa manusia merupakan ujian dari Allah swt. yang diberikan kepada hamba-Nya. Itu bukan ukuran kemuliaan atau kehinaan seseorang. Janganlah bangga karena kekayaan dan janganlah putus asa karena kemiskinan. Dan selalu yakinlah oleh kekuatan doa. Bahwa doa-doa yang dilakukan di sudut-sudut sepi itu, bisa jadi itulah yang menjadi jalan bagi turunnya kemudahan-kemudahan hidup kita selama ini.

Inilah juga barangkali yang mengilhami Imam Hasan Al Bana dalam merangkai doa rabithah yang terkenal itu. Beliau menyarankan agar kita membayangkan satu per satu wajah saudara-saudara kita, dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang. Agar kekuatan doa yang kita panjatkan semakin dahsyat, sehingga mampu menggetarkan singgasana Allah. Maka doa mana lagi yang tidak akan Allah kabulkan?

Alhamdulillah Allah memberi kita kesempatan berjumpa dengan bulan yang penuh berkah ini. Mari kita perbanyak doa-doa di hari-hari yang mustajab ini. Melalui doa itulah salah satu interaksi langsung kita dengan Allah. Bahkan Allah sendiri yang menantang kita untuk meminta kepada-Nya, “ud’uni astajib lakum” berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan. Jangan sia-siakan kesempatan berharga ini.

Allahu a’lam bish-shawab.

Ustad Masker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s