Ada Agama Selain Islam


Suatu ketika seorang guru bertanya setengah mengeluh. Ia sudah berusaha menjadi guru yang baik dan senantiasa melindungi aqidah anaknya agar tak terkotori oleh hal-hal yang merusak. Kepada murid-murid­nya –sebagaimana kepada anaknya sendiri—ia selalu menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Kebetulan ia menjadi kepala sekolah, sehingga “idealismenya” bisa diwujud­kan lebih leluasa. Setiap kali ada hari libur keagamaan non Islam, sekolah tetap masuk dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh menginformasi­kan kepada murid dengan satu ungkapan: “hari libur nasional”. Apa pun liburnya!

 

Sungguh, sebuah usaha yang serius!

 

Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non muslim. Begitu tahu anak itu bukan muslim, anaknya segera bertindak agresif. Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut sehingga anak rekannya menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya yang seperti itu.

 

Tetapi ini belum seberapa. Ada peristiwa lain yang lebih memilukan. Saya tidak tahu apa yang selama ini ia ajarkan kepada murid-muridnya di sekolah. Tapi suatu hari salah seorang muridnya mengalami peristiwa “mencengangkan”. Ia berjumpa seorang non muslim, yang akhlaknya yang sangat baik. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga menimbulkan kesan mendalam bahwa ada agama selain Islam dan agama itu baik karena orangnya sangat baik.

 

Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Semangat saja tidak cukup. Mendidik tanpa semangat memang membuat ucapan-ucapan kita kering tanpa makna. Tetapi keinginan besar menjaga aqidah anak tanpa memahami bagaimana seharusnya melakukan tarbiyah, jus­tru bisa membahayakan. Alih-alih menumbuhkan kecintaan pada agama, justru membuat a­nak terperangah ketika mendapati pengalaman yang berbeda. Beruntung kalau anak mengkomunikasikan, kita bisa meluruskan segera. Kalau tidak? Kekeliruan berpikir itu bisa terbawa ke masa-masa berikutnya hingga ia dewasa.Na’udzubillahi min dzaalik.

 

 

Hanya Islam yang Allah Ridhai

 

Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak bangga dengan agamanya sehingga ia akan belajar meyakini dengan sungguh-sungguh? Tunjukkan kepadanya kesempurnaan aga­ma ini. Yakinkan kepada mereka bahwa inilah agama yang paling benar melalui pembukti­an yang cerdas. Sesudah melakukan pembuktian, kita ajarkan kepada mereka untuk percaya pada yang ghaib dan menggerakkan jiwa mereka untuk berbuat baik. Hanya dengan meya­kini bahwa agamanya yang benar, mereka akan belajar bertoleransi secara tepat terhadap pe­meluk agama lain. Tentang ini, silakan baca kembali kolom parenting bertajuk Ajarkan Jihad Sejak Dini yang saya tulis di buku Positive Parenting.

 

Ajarkan dengan penuh percaya diri firman Allah Ta’ala yang terakhir dalam urusan ‘aqidah:

 

حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير الله به والمنخنقة والموقوذة والمتردية والنطيحة وما أكل السبع إلا ما ذكيتم وما ذبح على النصب وأن تستقسموا بالأزلام ذلكم فسق اليوم يئس الذين كفروا من دينكم فلا تخشوهم واخشون اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا فمن اضطر في مخمصة غير متجانف لإثم فإن الله غفور رحيم

 

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembe­lih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharam­kan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telahKusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telahKu-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa senga­ja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maa’idah, 5: 3).

 

Melalui penjelasan yang terang dan mantap, anak mengetahui bahwa agama di dunia ini banyak jumlahnya, tetapi hanya satu yang Allah Ta’ala ridhai. Baik orangtua maupun guru perlu menunjukkan kepada anak sejarah agama-agama sehingga anak bisa memahami meng­apa hanya Islam yang layak diyakini dan tidak ada keraguan di dalamnya. Jika anak tidak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka dapat mengalami kebingungan mengapa hanya Islam yang Allah ridhai. Pada gilirannya, ini bisa menggiring anak-anak untuk secara pelahan menganggap semua agama benar. Apalagi jika orangtua atau guru salah menerjemahkan. Beberapa kali saya mendengar penjelasan yang mengatakan Islam sebagai agama yang paling diridhai Allah. Maksudnya baik, ingin menunjukkan bahwa Islam yang paling sempurna, tetapi berbahaya bagi persepsi dan pemahaman anak. Jika Islam yang paling diridhai Allah, maka ada agama lain yang diridhai dengan tingkat keridhaan yang berbeda-beda. Ini efek yang bisa muncul pada persepsi anak.

 

Kita perlu memperlihatkan pluralitas pada anak bahwa memang banyak agama di dunia ini, sehingga kita bisa menunjukkan betapa sempurnanya Islam. Mereka menerima pluralitas (kemajemukan) agama dan bersikap secara tepat sebagaimana tuntunan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi bukan pluralisme yang memandang semua agama sama.

 

 

Berislam dengan Bangga

 

Setelah anak meyakini bahwa Islam agama yang sempurna dan satu-satunya yang diridhai oleh Allah‘Azza wa Jalla, kita perlu menguatkan mereka dengan beberapa hal. Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi muslim di dada mereka. Semenjak awal kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang muslim, sehingga mereka memi­liki kebanggaan yang besar terhadap agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan penuh percaya diri, “Isyhadu bi anna muslimun. Saksikanlah bahwa aku seorang muslim!”

 

Mereka berani menunjukkan keislamannya dengan penuh rasa bangga. Tidak takut dicela. Tidak khawatir direndahkan.

 

Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitasnya sebagai muslim, baik yang bersifat fisik, mental dan cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam; bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, tetapi untuk menemukan apa yang sudah pada generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan sekarang nyaris tak kita temukan pada sosok kaum muslimin di zaman ini.

 

Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al-wala’ wal bara’ sehingga memperkuat per­caya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi hanya karena berpapasan dengan orang-orang kafir yang sedang berjalan dari arah lain. Kita tidak bersikap arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita, sehingga tidak menyingkir karena gemetar.

 

Sikap ini sangat perlu kita tumbuhkan agar kelak mereka sanggup bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan lembut terhadap orang-orang yang beriman. Ingatlah ketika Allah Ta’ala berfirman:

 

يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لآئم ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله واسع عليم

 

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun men­cintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maa’idah, 5: 54).

 

Nah.

 

 

Berislam dengan Ihsan

 

Jika percaya diri sudah tumbuh, kita ajarkan kepada mereka sikap ihsan. Kita tunjukkan kepada anak-anak itu bagaimana seorang mukmin dapat dilihat dari kemuliaan akhlak dan lembutnya sikap. Ada saat untuk tegas, ada saat untuk bersikap menyejukkan. Bukan un­tuk menyenangkan hati orang-orang kafir dikarenakan hati yang lemah dan diri yang tak ber­daya, tetapi karena memuliakan tuntunan Allah dan rasul-Nya. Bukankah Rasulullah shalla­Llahu ‘alaihi wa sallam berdiri menghormat ketika jenazah orang kafir diantar ke tanah peku­buran? Bukankah Shalahuddin Al-Ayyubi, salah seorang panglima yang disegani dalam se­jarah Islam, memperlakukan musuh-musuhnya dengan baik dan penuh kasih-sayang ketika musuh sudah tidak berdaya?

 

Pada saatnya, kita ajarkan kepada mereka untuk menghormati hak-hak tetangga, muslim maupun kafir. Kita tunjukkan kepada mereka hak-hak tetangga beserta prioritasnya, mana yang harus didahulukan. Ada tetangga yang dekat pintunya dengan rumah kita, ada pula yang jauh; ada tetangga yang masih memiliki hubungan keluarga, ada pula yang orang lain sama sekali; serta ada tetangga muslim, ada pula yang kafir. Masing-masing memiliki hak yang berbeda-beda.

 

 

Dorongan untuk Berdakwah

 

Ada anak yang menjadi sumber pengaruh, ada yang lebih sering terpengaruh. Anak-anak yang mengarahkan teman-temannya dan menjadi inspirasi bagi dalam berbuat, baik negatif maupun positif, ditandai dengan karakter yang kuat dan menonjol. Umumnya anak-anak yang menjadi sumber pengaruh lebih sedikit jumlahnya. Mereka biasanya bersikap proaktif dalam berpendapat, selalu berusaha meyakinkan temannya, berbicara dengan mantap serta memiliki percaya diri yang tinggi.

 

Agar anak-anak itu memiliki percaya diri yang lebih kuat lagi sebagai seorang muslim, kita perlu tanamkan dorongan untuk menyampaikan kebenaran serta mengajak orang lain pada kebenaran. Ini sangat penting untuk menjaga anak dari kebingungan terhadap masalah keimanan dan syari’at. Tidak jarang anak mempertanyakan, bahkan mengenai sesama muslim yang tidak melaksanakan sebagai syari’at Islam. Misalnya mengapa ada yang tidak pakai jilbab.

 

Melalui dorongan agar mereka menjadi penyampai kebenaran, insya-Allah kebingung­an itu hilang dan berubah menjadi kemantapan serta percaya diri yang tinggi. Pada diri me­reka ada semacam perasaan bahwa ada tugas untuk mengingatkan dan menyelamatkan. Ini sangat berpengaruh terhadap citra dirinya kelak, dan pada gilirannya mempengaruhi konsep diri, penerimaan diri, percaya diri dan orientasi hidup.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s