Ketika Melewati Jalan Mendaki


Tulisan sebelumnya Perjalanan Beraroma Semerbak

Mengkaji Yang Tersirat Dari Yang Tersurat

Jalan da’wah mengajarkan bahwa di saat kami merasakan kegersangan ,kegelisahan, dan sebagainya dalam interaksi kami bersama saudara-saudara di jalan ini,kami harus melihat pada kondisi diri kami sendiri. Artinya sikap pertama yang kami ambil dalam situasi itu adlah mengevaluasi niat,bercermin pada perbuatan perilaku kami selama ini di jalan da’wah. Sikap seperti ini kami ambil dari kisah nabiyullah musa as ketika bertemu dengan rajulun shalih pada surat al kahfi ayat 65-82. Dan begitulah jalan da’wah ini mengajarkan bahwa sebaik-baik kamimelihat kepada diri kami terlebih dahulu,melakukan prasangka baik kepada orang lain ,sampai jelas suatu kebenaran itu benar dan kesalahan itu salah.426225_10150577293683757_771041692_n

Antara Objektivitas Dan Sakralisme

Tidak mungkin sebuah jama’ah da’wah atau kelompok manapun yang bersih sma sekali dari anasir tidak baik atau rusak.meskipun kondisi itu juga bukan gejala umum melainkan kasuistik sekali. Tapi yang penting kami mengetahui bahwa realitas negatif ini memang tidak mustahil keberadaannya dalam tubuh jama’ah da’wah. Kami harus yakin bahwa tabiat jaln da’wah akan selalu menolak anasir yang buruk dan melanggengkan anasir yang baik. Jalan ini memiliki tabiat melenyapkan karat dan kotorannya sebagaimana firman Allah swt pada surat Ar Ra’d ayat 17.

Tidak Boleh Ada Bias Orientasi Di Jalan Ini

Di jalan ini kami belajar bahwa permasalahan kekuasaan hanya ada pada dua masalah yakni pertama proses mencapainya dan kedua penggunaan atau pengelolaannya. Yang dimaksud dengan proses mencapai kekuasaan adalah kekuasaan tidak boleh diperoleh dengan permintaan individu dan bukan datang dari keinginan pribadi,tapi harus datang dari orang lain yang mengharapkan perannya dalam kekuasaan. Dan yang kami maksud dengan pengelolaan kekuasaan itu adalah bagaimana seorang politisi atau birokrat menggunakan kedudukan dan kekuasaannya sesuai dengan fiqih siyasah syar’iyah,fiqih muwazanah, dan lain-lain.

Kesalahan Adalah Risiko Sebuah Aktifitas

Salah besar jika ada yang menilai bahwa kelompok penyeru da’wah di jalan ini tidak boleh melakukan kekeliruan. Sedangkan kekeliruan di jalan ini pun jelas terjadi. Dan inilah yang kami alami sepanjang perjalanan ini. Pertama kami pasti dapat menemukan kesalahan atau aib saudara kami. Kedua bahwa kesalahan dan kekurangan yang dilakukan saudara-saudara kami di jalan in adalah resiko dari mereka yang terus bergerak dan melakukan banyak aktifitas.

Memelihara Dominasi Kebaikan Saudara

Ketika ada informasi miring yang kami terima terkait dengan saudara-saudara kami maupun institusi da’wah kami, pada saat itu kamiharus mempunyai tawaqqu’at (daya antisipasif) dan manna’ah (daya imunitas) yang memadai. Tawaqqu’at adalah semacam kewaspadaan menanggapi satu persoalan. Sedangkan sikap manna’ah adalah kemampuan kami menyaring dan memfilter diri dari sikap yang akan menghancurkan perjuangan kami.

Hikmah Beharga Dari Kesalahan

Ada banyak hikmah yang kami dapatkan perjalanan da’wah ini saat kami harus menyikapi kekliruan yang dilakukan saudara-saudara kami. Hikmah pertama,kami menyadari bahwa kekeliruan yang dilakukan saudara kami tidak boleh kami sebarluaskan. Hikmah kedua,kekurangan dan kesalahan saudara kami ,jika benar dilkukan olehnya,maka kami harus lebih bersikap untuk bercermin dari kesalahan itu agar kami tidak ikut mengulanginya. Hikmah ketiga , tak ada yang istimewa dan sempurna dalm kehidupan ini. Semua manusia melewati fase pembentukan karakter dan pemikiran yang tidak sama. Hikmah keempat kesalahan membuat kami lebih tawadhu’. Hikmah kelima,ternyata diantara kami yang sibuk dengan cela dan cacat saudara di jalan ini,umumnya dilatarbelakangi karena kesenjangan aktifitas yang bersangkutan dengan da’wah ini.

Mundur Dakwah, Mungkinkah?

Para juru da’wah tidak mengenal kata berhenti dari da’wah. Singkatnya kondisi apapun tidak akan menyebabkan kami dan para jura da’wah ‘uzlah atau pergi meninggalkan jalan ini. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meninggalkan da’wah: pertama,uzlah atau mengisolasi diri dari masyarakat yang dilakukan para anbiya. Kedua boleh jadi menghindar dari tugas da’wah yang dilakukan orang-orang shalih terdahulu adalah upaya penyelamatan aqidah dari ragam kekacauan. Ketiga,mungkin juga mundur dari da’wah yang mereka lakukan itu membawa agama dan da’wah ri lingkungan tandus ke lingkungan subur. Keempat uzlah dilakukan sebagai langkah yang dianggap lebih baik daripada pencampuran atau interaksi yang menyulitkan pembedaan al haq dan al bathil. Kelima jika harus dilakukan langkah mubdur dari da’wah seorang da’i harus bisa menjelaskan latar belakang kemundurannya kepada masyarakat.

Nasihat Sebagai Tiang Penyangga

Keliru pula yang menganggap bahwa menyampaikan nasihat akan lebih membuka peluang perpecahan dan ketidaknyamanan dalam jalan ini. Bahkan imam al mawardi di dalam adabu ad duniya wa ad din menyebutkan tidak ada kat berlebihan dalam menasihati dan melarang dari yang buruk diantara sesama saudara. Demikianlah keterpeliharaan kami justru ditopang oleh nasihat.

Dari Buku : Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami

One thought on “Ketika Melewati Jalan Mendaki

  1. Pingback: Kesejukan Yang Meringankan Langkah | Secarik Motivasi Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s