Nasihat-nasihat “Sesat” Saat Curhat


Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi dan komunikasi manusia modern sangat luas dan bebas. Bukan hanya bertemu secara langsung, namun dengan leluasa bisa terhubung 24 jam sehari semalam dengan semua orang melalui teknologi. Persahabatan tentu banyak memberikan kebaikan dan nilai positif bagi manusia, karena pada dasarnya kita selalu saling membutuhkan satu dengan yang lain. Salah satu manfaat sahabat adalah sebagai teman curhat dan meminta nasehat.

Namun tidak jarang, persahabatan memberikan dampak negatif, terutama ketika menemukan sahabat yang sering menyampaikan nasehat nekat dan sesat. Di saat seseorang curhat, bukannya mendapatkan nasehat yang positif dan konstruktif, justru mendapat inspirasi dan motivasi untuk melakukan perbuatan jahat. Apalagi ketika terkait persoalan rumah tangga, salah-salah mendengar nasehat bisa jadi akan menimbulkan keputusan yang salah dan tidak tepat.

Kadang seorang suami menceritakan masalah keluarga kepada teman kerjanya, atau seorang istri curhat tentang problem keluarga kepada teman dekatnya. Pada kondisi teman curhat adalah orang yeng tepat, maka akan bisa memberikan nasehat yang juga tepat dan bermanfaat. Namun apabila curhat kepada orang yang salah, bisa memberikan nasehat yang salah dan menyesatkan. Belum lagi ketika teman curhat ini memiliki kepentingan dan keinginan pribadi tertentu, akan membuat semakin memberikan nasehat yang sangat subyektif.

Nasehat Nekat dan Sesat dari Sahabat

Ada sangat banyak contoh nasehat yang justru mengarahkan kepada kondisi yang lebih buruk dan lebih parah dari masalah semula. Di ruang konseling kami sering mendapat cerita dari para klien, bahwa mereka mendapat nasehat dari teman-temannya untuk melakukan tindakan tertentu. Sayangnya nasehat itu tidak mengajak mereka kepada kebaikan dan keutuhan rumah, justru sebaliknya. Berikut beberapa bentuk nasehat sesat yang didapatkan saat curhat kepada sahabat yang tidak tepat.

Kamu bodoh mau dibodohi pasangan kamu

“Bodoh benar kamu ini mau dibodohi pasangan kamu…..”

“Jangan mau dibodohi pasangan kamu…”

“Kamu ini benar-benar bodoh di hadapan pasangan kamu….”

Ungkapan-ungkapan seperti ini dari sahabat saat curhat, memberikan sugesti yang kuat, seakan-akan dirinya tengah dibodohi oleh pasangan. Seorang istri merasa dirinya tengah ditipu dan dibodohi oleh pasangan, sehingga ia bertekad tidak akan memaafkan kesalahan suami. Ia percaya perkataan sahabat-sahabatnya yang konsisten menyebut dirinya bodoh, maka ia pun merasa bodoh jika memaafkan suami. Padahal memaafkan adalah ciri orang bertaqwa, bukan ciri orang bodoh.

Seorang suami merasa benar-benar bodoh setelah mendengar nasehat dari sahabat, maka ia menjadi berpikiran sempit dan berniat menghajar sang istri yang telah membuat kesalahan. Di saat ia masih menimbang-nimbang apa yang akan dilakukan terhadap kesalahan istri, mendadak menjadi kalap setelah mendapat ‘pencerahan’ dari sahabat yang menyebutkan dirinya adalah suami bodoh. Hal ini membuat dirinya tidak berpikir panjang untuk mengambil keputusan, karena tidak ingin disebut bodoh dan tidak ingin menjadi bodoh.

Semestinya, suami atau istri yang tengah curhat didinginkan hatinya, ditampung kesedihannya, dihibur dengan kebijaksanaan. Bukannya dipanas-panasi dengan pernyataan kebodohan semacam itu. Satu hal yang harus dipahami adalah, dalam setiap konflik suami istri, selalu ada versi dari kedua belah pihak. Saat menerima curhat dari satu pihak, itu belum cukup untuk digunakan memahami apalagi mengambil kesimpulan dari masalah yang sesungguhnya sedang terjadi. Maka ungkapan yang membodohkan itu menjadi nasehat yang bisa menyesatkan bagi mereka yang mendengar dan mempercayainya.

Balas saja dengan selingkuh

“Suami kamu sudah selingkuh, jangan diam saja, balas dengan selingkuh…”

“Kamu laki-laki, kalau istri kamu bisa selingkuh, kamu pun bisa selingkuh…”

“Kamu biarkan saja dia selingkuh? Balas saja dengan selingkuh, biar dia kapok…”

Nasehat dari sahabat saat curhat, kadang menyemangati seorang laki-laki atau perempuan untuk melakukan balas dendam dengan melakukan kesalahan yang sama dilakukan pasangan. Misalnya ketika seorang suami selingkuh, maka istrinya berhak membalas dengan selingkuh. Jika seorang istri selingkuh, maka suaminya berhak membalas dengan selingkuh pula. Ini tentu sebuah nasehat yang sesat, karena menyuruh orang baik-baik melakukan penyimpangan dengan alasan balas dendam.

Semestinya suami atau istri dinasehati agar introspeksi diri, lalu mengajak pasangannya untuk bertaubat, membuat komitmen bagi perbaikan hubungan mereka di masa sekarang dan yang akan datang. Bukannya dikompori untuk melakukan balas dedam, disemangati untuk selingkuh, karena ini akan semakin membuat rusak keluarga yang tengah ada masalah, ditambah lagi menambah orang yang berbuat salah. Semula yang salah satu orang, lalu pasangannya dikompori melakukan kesalahan, jadilah semua menjadi sama-sama salah.

Nasehat untuk melakukan balas dendam seperti itu jelas-jelas sesat dan menyesatkan. Ajaran agama menyuruh kita untuk mudah memaafkan, sedangkan bagi pihak yang melakukan kesalahan hendaknya dibimbing untuk bertaubat. Jika balas dendam dilakukan oleh istri dengan alasan suaminya selingkuh, nanti suami akan membalas lagi dengan selingkuh berikutnya dengan alasan selingkuh yang dilakukan istrinya lebih parah dibanding yang dia lakukan pertama. Lalu istrinya akan membalas lagi dengan selingkuh lagi dengan alasan karena suaminya sudah selingkuh dua kali, maka iapun harus selingkuh dua kali. Kondisi seperti ini tidak ada selesainya jika dituruti, dan akan menyebabkan kerusakan moral dalam keluarga. Mereka menjadi keluarga rusak dan bejat karena mengikuti nasehat sesat.

Ngapain kamu masih mau bertahan?

“Aku heran, diperlakukan seperti itu oleh suami kamu, kok kamu masih mau bertahan hidup dengannya…”

“Ngapain kamu pertahankan istri seperti itu? Tinggalkan saja…”

“Untuk apa hidup berumah tangga dengan orang seperti itu? Tidak ada lagi gunanya…”

Dalam pandangan agama, pernikahan adalah ikatan sakral (mitsaqan ghalizha) yang harus dijaga keutuhannya. Tidak boleh diceraiberaikan ikatan itu dengan semena-mena tanpa alasan yang bisa diterima oleh pandangan agama. Oleh karena itu, mengompori suami untuk meninggalkan atau menelantarkan istri adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Sebagaimana memanas-manasi istri untuk lepas dan meninggalkan suami adalah tindakan yang tidak tepat dan tidak benar. Apalagi situasinya hanya sepihak, curhat hanya mendengarkan masalah dari satu versi saja, ini membuat pandangan yang tidak adil dan tidak berimbang.

Semestinya, dalam situasi konflik, yang harus dinasehatkan adalah agar suami dan istri saling mendekat, untuk mencari solusi secara dewasa dan bijaksana. Suami dan istri yang tengah menghadapi konflik diajak dan dinasehati untuk bisa bersabar menghadapi situasi sulit itu dan tetap mempertahankan keutuhan hidup berumah tangga. Nasehat yang mengajak untuk saling menjauh, meninggalkan, menelantarkan pasangan, bertentangan dengan nilai kesakralan sebuah ikatan pernikahan. Bertahan demi keutuhan keluarga, adalah sebuah pilihan dewasa, sambil mencari solusi terbaik atas masalah yang mereka hadapi.

Memilih untuk pergi dari pasangan karena marah, jengkel dan bermasalah, adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab dan tidak dewasa. Itu seperti keputusan anak kecil yang lari dari rumah setelah dimarahi ibunya. Sebagai orang dewasa, semua masalah harus diselesaikan dengan dewasa pula. Jika marah, jengkel dan kecewa, bicarakan baik-baik dengan pasangan. Cari solusi bersama pasangan, tetaplah bertahan walau kadang suasana tidak seperti yang diharapkan. Jika merasakan hal yang tidak menyenangkan dalam pernikahan ingatlah bahwa tujuan menikah bukan hanya untuk bersenang-senang. Maka tetaplah bertahan, sambil mencari jalan keluar dari permasalahan.

Tinggalkan saja dia, masih banyak laki-laki/perempuan lainnya

“Cari suami lagi saja, masih banyak kok laki-laki baik yang mau sama kamu…”

“Cari cewek sana, sangat mudah bagi kamu untuk mendapatkan istri baru…”

“Kayak gak ada orang lain saja, banyak tuh orang-orang yang suka sama kamu…”

Nasehat yang mengarahkan suami untuk mencari istri lain dengan meninggalkan istri yang ada, adalah provokasi yang membahayakan. Demikian pula nasehat yang mengajak istri untuk mencari suami lain dengan meninggalkan suami yang ada, adalah provokasi yang semakin merusak kebahagiaan hidup berumah tangga. Semestinya, di saat konflik suami dan istri dinasehati agar mencari solusi yang bisa manyatukan dan mengembalikan keharmonisan keluarga. Bukan dinasehati agar secepatnya mencari suami atau istri baru padahal masalah dengan pasangan belum menemukan titik penyelesaian.

Nasehat seperti itu potensial menimbulkan masalah baru. Masalah pokok dengan pasangan belum terselesaikan, namun sudah ditambah dengan masalah lagi karena suami mulai mencari istri baru, atau si istri mulai mencari suami baru. Bisa jadi kenyataannya memang seperti yang dikatakan para sahabat yang memberi nasehat tersebut, bahwa suami masih memiliki banyak fans yang akan mudah dijadikan istri; dan bahwa istri masih memiliki banyak pemuja yang akan mudah menjadikan dirinya sebagai istri. Namun nasehat itu tidak bisa diterima, karena semestinya suami dan istri dinasehati untuk berpikir keras mencari solusi demi bisa mengembalikan keutuhan keluarga.

Ketika banyak sahabat yang mengompori seorang suami untuk mencari istri baru, dirinya merasa mendapat legitimasi untuk melakukan nasehat itu. Akhirnya ia mulai berulah dengan aktif mencari gebetan yang nanti bisa dijadikan istri apabila sudah bercerai dengan istri yang sekarang. Demikian pula ketika banyak sahabat memanas-manasi seorang istri untuk mencari suami baru, dirinya bisa merasa mendapatkan legitimasi untuk mulai berdekat-dekat dengan laki-laki yang diharapkan akan menjadi suami barunya kelak ketika sudah resmi berpisah dari suami yang sekarang. Tindakan ini membuat semakin parahnya permasalahan, bukan menyelesaikan dan mendamaikan, justri menceraiberaikan.

Sesekali waktu carilah kesenangan di luar rumah

“Ada banyak kesenangan di luar rumahmu, sesekali carilah kesenangan…. Itu adalah hak kamu….”

“Kamu berhak bahagia… Jika suami kamu tidak bisa membahagiakan kamu, masih banyak kok kebahagiaan lain di luar rumah kamu…”

“Kalau istri kamu tidak bisa membahagiakan kamu, cari saja kebahagiaan dari perempuan lain di luar rumahmu….”

Nasehat semacam itu sangat jauh dari nilai kebaikan. Suami dan istri semestinya mencari kesenangan dan kebahagiaan bersama pasangan, bukan bersama orang lain yang tidak halal baginya. Memang benar ada banyak orang bisa dengan mudah diajak bersenang-senang, namun itu sama sekali tidak menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi dalam keluarga mereka. Justru akan semakin membuat masalah semakin meluas dan melebar, tidak ada batasnya. Kesenangan yang didapatkan dengan cara tidak halal, adalah kesenangan semu yang justru akan menghantarkan keluarga dalam kehancuran.

Ketika suami dikompori untuk mencari kesenangan lain di luar rumah, mungkin dirinya akan termotivasi untuk melampiaskan hasrat yang selama ini terpendam kepada perempuan lain yang tidak halal baginya. Bahkan mungkin akan ‘jajan’ dengan perempuan penghibur yang bekerja demi bayaran. Demikian pula ketika istri dikompori untuk mencari kesenangan lain di luar rumah, mungkin dia akan termotivasi untuk melakukan selingkuh dengan laki-laki lain sebagai pelampiasan hasratnya. Seakan-akan ini hanya untuk pelampiasan hasrat yang sudah lama tidak tersalurkan kepada pasangan karena sedang ada permasalahan.

Suami atau istri terdorong mencari penyaluran hasrat sesaat tanpa ikatan, karena hanya untuk mencari kesenangan dan pelampiasan. Seakan-akan ini adalah tindakan yang wajar dengan alasan “aku kan berhak bahagia”. Padahal tindakan seperti itu jelas menyimpang dan rusak, dampaknya akan semakin memperparah persoalan hidup berumah tangga. Nasehat yang mendorong munculnya tindakan seperti itu jelas sesat, maka jangan dipercaya dan jangan diikuti.

Cari Sahabat yang Tepat

Nah berbagai contoh nasehat dari sahabat yang didapatkan ketika sedang curhat tersebut, benar-benar bisa membawa kepada mudharat. Tidak memberikan manfaat untuk menjaga kebaikan dan keharmonisan keluarga, justru memprovokasi untuk mengambil sikap serta tindakan yang membahayakan. Hal ini semestinya disaring dan difilter dengan cermat oleh suami dan istri yang tengah menghadapi masalah, agar tidak mudah menerima nasehat sesat dan nekat dari sahabat-sahabat yang menjadi tempat curhat.

Pilih sahabat yang salih dan salihah, yang mengajak kepada kebaikan dan menjaga martabat. Jangan memilih sahabat yang mengajak melakukan perbuatan maksiat. Semua nasehat yang mengarahkan kepada perbuatan bejat, adalah nasehat sesat yang tidak boleh digunakan dalam mengambil keputusan. Keluarga adalah pondasi yang sangat berharga dalam kehidupan manusia, maka jangan menjadikannya sebagai bahan permainan dan bahan percobaan. Keluarga harus dijaga dengan segenap cinta, dirawat dengan segenap tenaga, diarahkan dengan segenap daya, agar tetap harmonis, bahagia dan memberikan ketenteraman dalam kehidupan.

Ada sangat banyak konselor, psikolog atau ulama terpercaya tempat curhat yang bermartabat. Yang bisa memberikan nasehat yang tepat dan membimbing suami serta istri menuju kebaikan dunia maupun akhirat. Jangan dengarkan nasehat sesat yang justru akan membawa kepada maksiat dan laknat.

Di dalam Citilink QG108, Jakarta — Yogyakarta 22 Agustus 2017

Cahyadi Takariawan

Penulis Buku Wonderful Family Series

Penulis Buku Serial “Wonderful Family”, Peraih Penghargaan “Kompasianer Favorit 2014”; Konsultan di “Rumah Keluarga Indonesia” (RKI) dan “Jogja Family Center” (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s