Anak Baik


Zaim punya kaos putih biasa. Tulisannya yang luar biasa. ‘I’m good boy’. Aku suka warna putihnya dan aku lebih suka tulisannya. Dia juga punya kaos warna hitam produk Joger, hadiah dari bapak kawannya. Temanya juga tentang anak baik itu yang aku suka. Begini tulis Joger;

‘Ayah Kami Baik. Ibu Kami Baik. Om Kami Baik. Tante Kami Baik. Kakek Kami Baik. Nenek Kami Baik. Bahkan Tetangga Kami Juga Baik-Baik. Jadi Anda Tidak Perlu Heran Kalau Sampai Detik Ini Kami Masih Tetap Suka Dan Bangga Jadi Anak Baik-Baik.”

Menjadi bapak dari anak baik adalah cita citaku. Memiliki anak baik adalah lebih dari sekadar keinginan. Ia adalah cita cita. Keyakinan kepada Allah selalu membuatku bersemangat soal ini. Juga karena ada istri yang menyembuhkan luka luka di hati dalam urusan ini.

Tapi perjalanan cita cita itu tidak dalam medan yang landai. Ada fluktuasi selama ini yang luar biasa. Kadang lega dan kadang sempit bahkan seperti sendiri saja dalam perjalanan.

Ketika anak anak masih kecil, kami seperti memiliki banyak kawan untuk membentuk anak baik. Ada banyak kawan yang mengajari kejujuran, kesopanan, dan nilai nilai universal kebaikan lainnya. Bejibun. Sekolah TK yang mengajarkan akhlaq menjadi pilihan banyak orang. Sekolah Dasar yang mengajarkan dan menjanjikan mencetak anak baik juga diserbu banyak orang. Kami merasa memiliki banyak teman.

Sedikit setelah itu, kami mulai merasa sepi. Ada perubahan orientasi yang –meski halus- ditunjukkan oleh orang orang di sekitar kami. Kejujuran masih tapi tak boleh terlalu jujur. Berani masih diajarkan tetapi jangan terlalu berani. Sedikit sedikit membunglon mungkin pilihan yang ditawarkan para orang tua. Seperti ada pesan untuk menjadikan anak anak sebagai anak baik tapi jangan terlalu baik.

Runyamnya,, terlalu baik atau baik bahkan kurang baik menjadi sangat beragam penafsiran. Karena penafsiran pribadi itulah, kadang orang tua menahan upaya pembentukan pribadi sholih/sholihah itu. ‘Jangan ekstremlah! Biasa saja…’, biasanya demikian formulasi ‘nasehat’ yang diedarkan diantara para orang tua. Maka, lazim kita lihat, mantan anak TK/SD Islam berpenampilan lain di era remaja. Maka sangat mudah kita nikmati pemandangan para remaja mantan anak didik kita di TPA yang sangat jauh berbeda dibandingkan ketika mereka di usia anak anak.
Penafsiran yang sepotong sepotong, pembatasan upaya pribadi sholih, kesendirian di tengah hiruk pikuk dunia, kerapuhan konsep, dan ancaman eksternal adalah faktor-faktor yang dapat ditunjuk sebagai pelemah pembentukan anak sholih/sholihah. By Ekonov

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s