Archives

[RIP] Rest in Peace


โš ๏ธ[RIP] Rest in Peace๐Ÿ’”

โžก๏ธ Pertama: Mengucapkan RIP (Rest in Peace) atau โ€œBeristirahatlah dalam Damaiโ€ untuk orang yang meninggal dunia adalah kebiasaan orang-orang kafir maka tidak boleh bagi seorang muslim. Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุดูŽุจูŽู‘ู‡ ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ููŽู‡ููˆูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’

๐ŸŒด โ€œBarangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka.โ€ [HR. Abu Daud dari Ibnu โ€˜Umar radhiyallahuโ€™anhuma, Al-Irwaโ€™: 1269]

โžก๏ธ Kedua: Ucapan tersebut tidak berdasarkan dalil Al-Qurโ€™an dan As-Sunnah, dan tidak pula bermakna doโ€™a. Adapun yang disyariโ€™atkan adalah mengucapkan istirjaโ€™ (innaa lillahi wa innaa ilaihi roojiโ€™un) dan mendoโ€™akan agar si mayit mendapatkan ampunan, dengan doโ€™a-doโ€™a yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam, seperti doโ€™a Nabi shallallahuโ€™alaihi wa sallam untuk Abu Salamah radhiyallahuโ€™anhu, sahabat beliau yang meninggal dunia,

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ุฃูŽุจูู‰ ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงุฑู’ููŽุนู’ ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุชูŽู‡ู ููู‰ ุงู„ู’ู…ูŽู‡ู’ุฏููŠูู‘ูŠู† ูˆูŽุงุฎู’ู„ููู’ู‡ู ููู‰ ุนูŽู‚ูุจูู‡ู ููู‰ ุงู„ู’ุบูŽุงุจูุฑููŠู†ูŽ ูˆูŽุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ูŽู‡ู ูŠูŽุง ุฑูŽุจูŽู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงูู’ุณูŽุญู’ ู„ูŽู‡ู ููู‰ ู‚ูŽุจู’ุฑูู‡ู ูˆูŽู†ูŽูˆูู‘ุฑู’ ู„ูŽู‡ู ูููŠู‡ู

๐ŸŒด โ€œYa Allah ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya di tengah orang-orang yang mendapatkan hidayah, gantikanlah sepeninggalnya untuk orang-orang yang ia tinggalkan, ampunilah kami dan dia wahai Rabbal โ€˜aalamiin, luaskanlah kuburannya dan terangilah dia padanya.โ€ [HR. Muslim dari Ummu Salamah radhiyallahuโ€™anha]

โžก๏ธ Ketiga: Ucapan tersebut mengandung kebatilan, karena kita tidak tahu kondisi orang yang mati itu, apakah ia dalam keadaan mendapatkan nikmat ataukah azab kubur. Demikian pula setelah hari kebangkitannya, kita tidak tahu apakah ia termasuk penghuni surga atau neraka. Ini jika yang meninggalkan dalam keadaan muslim, kita tidak bisa mengklaim ia pasti beristirahat dengan tenang, sebab hanya Allah taโ€™ala yang mengetahuinya, kewajiban kita hanyalah mendoโ€™akannya. Akan tetapi seorang muslim itu, kalaupun ia mendapatkan azab kubur dan neraka maka azabnya tidaklah kekal seperti orang-orang kafir.

โžก๏ธ Keempat: Jika si mayit itu mati dalam keadaan kafir maka orang-orang kafir adalah penghuni neraka, bagaimana bisa dikatakan: Beristirahatlah dalam damaiโ€ฆ?!

โœ… Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman,

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ูููŠ ู†ูŽุงุฑู ุฌูŽู‡ูŽู†ูŽู‘ู…ูŽ ุฎูŽุงู„ูุฏููŠู†ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู’ ุดูŽุฑูู‘ ุงู„ู’ุจูŽุฑููŠูŽู‘ุฉู

๐ŸŒด โ€œSesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (Hindu, Budha dan lain-lain) akan masuk neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.โ€ [Al-Bayyinah: 6]

โœ… Allah Subhanahu wa Taโ€™ala juga berfirman,

ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูุดู’ุฑููƒู’ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุญูŽุฑูŽู‘ู…ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ูˆูŽู…ูŽุฃู’ูˆูŽุงู‡ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู ูˆูŽู…ูŽุง ู„ูู„ุธูŽู‘ุงู„ูู…ููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู

๐ŸŒด โ€œSesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.โ€ [Al-Maidah: 72]

โœ… Allah jalla wa โ€˜ala juga berfirman,

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุบู’ููุฑู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุดู’ุฑูŽูƒูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽูŠูŽุบู’ููุฑู ู…ูŽุง ุฏููˆู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู

๐ŸŒด โ€œSesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.โ€ [An-Nisaโ€™: 48, 116]

โžก๏ธ Kelima: Demikian pula tidak disyariโ€™atkan untuk mengucapkan bagi mayyit dengan ucapan, โ€œAlmarhumโ€ (yang dirahmati), karena kita tidak dapat memastikan hal tersebut, yang disyariโ€™atkan bagi kita adalah mendoakan seorang mukmin agar dirahmati, adapun orang kafir yang mati maka haram untuk didoakan rahmat dan ampunan. Disebutkan dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

ุงู„ู…ุดุฑูˆุน ุฃู† ูŠู‚ุงู„ ููŠ ุญู‚ ุงู„ู…ูŠุช ุงู„ู…ุณู„ู…: ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ุŒ ู„ุง ุงู„ู…ุฑุญูˆู…

๐ŸŒด โ€œDisyariโ€™atkan untuk dikatakan bagi mayyit yang muslim adalah, โ€œRahimahullahโ€ (semoga Allah merahmatinya), bukan โ€œAlmarhumโ€ (yang dirahmati).โ€ [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/141 no. 4335]

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ุŒ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ“ฒ Gabung Channel Telegram Ta’awun Dakwah: https://telegram.me/taawundakwah

๐ŸŒ Sumber: http://sofyanruray.info/ri

Advertisements

๐Ÿ”ฅDUA JENIS HUTANGโšก๏ธ


๐Ÿ”ฅDUA JENIS HUTANGโšก๏ธ

โžก๏ธRasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda,

ุงู„ุฏู‘ูŽูŠู’ู†ู ุฏูŽูŠู’ู†ูŽุงู†ู ููŽู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูŽู†ู’ูˆููŠ ู‚ูŽุถูŽุงุกูŽู‡ู ููŽุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ููŠู‘ูู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ูˆููŠ ู‚ูŽุถูŽุงุกูŽู‡ู ููŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุคู’ุฎูŽุฐู ู…ูู†ู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุฆูุฐู ุฏููŠู†ูŽุงุฑูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฏูุฑู’ู‡ูŽู…ูŒ

๐Ÿ‘‰โ€œHutang itu ada dua bentuk, barangsiapa yang mati dalam keadaan berniat melunasi hutangnya maka aku adalah walinya, dan barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak berniat melunasinya maka itulah yang akan diambil kebaikan-kebaikannya pada hari kiamat, yang ketika itu tidak bermanfaat lagi dinar dan dirham.โ€ [HR. Ath-Thabrani dari Ibnu Umar radhiyallahuโ€™anhuma, Shahihul Jaamiโ€™: 3418]

 

Pusat Busana Muslim Branded Berkualitas

 

๐Ÿ“‹#Beberapa_Pelajaran:

1) Bahaya perbuatan zalim, orang yang berbuat zalim di dunia maka di akhirat kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi, atau sebaliknya apabila kebaikan-kebaikannya tidak mencukupi untuk membayar kezalimannya maka dosa-dosa mereka ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilempar ke neraka, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

ุฃูŽุชูŽุฏู’ุฑููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุณู ู‚ูŽุงู„ููˆุง ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุณู ูููŠู†ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฏูุฑู’ู‡ูŽู…ูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽ ู…ูŽุชูŽุงุนูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุณูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูู…ูŽู‘ุชูู‰ ูŠูŽุฃู’ุชูู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุจูุตูŽู„ุงูŽุฉู ูˆูŽุตููŠูŽุงู…ู ูˆูŽุฒูŽูƒูŽุงุฉู ูˆูŽูŠูŽุฃู’ุชูู‰ ู‚ูŽุฏู’ ุดูŽุชูŽู…ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽู‚ูŽุฐูŽููŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุฃูŽูƒูŽู„ูŽ ู…ูŽุงู„ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุณูŽููŽูƒูŽ ุฏูŽู…ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุถูŽุฑูŽุจูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ููŽูŠูุนู’ุทูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูู†ู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูู†ู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ููŽู†ููŠูŽุชู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูู‡ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ู’ุถูŽู‰ ู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูุฎูุฐูŽ ู…ูู†ู’ ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุงู‡ูู…ู’ ููŽุทูุฑูุญูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุซูู…ูŽู‘ ุทูุฑูุญูŽ ููู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู

๐Ÿ‘‰โ€œTahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?โ€ Sahabat menjawab, โ€œOrang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak memiliki dinar dan hartaโ€. Maka Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda,

๐Ÿ‘‰โ€œSesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah seseorang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, zakat, namun dia pernah mencaci fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan dan memukul fulan. Maka diambil kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah ia zalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilempar ke neraka.โ€ [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahuโ€™anhu]

2) Termasuk perbuatan zalim yang besar adalah menunda-nunda pembayaran hutang dalam keadaan mampu membayar dan sudah jatuh tempo, apalagi yang tidak berniat bayar sama sekali.

3) Keadilan Allah subhanahu wa taโ€™ala dalam hadits ini jelas terlihat dari dua sisi:

โœ… Pertama: Semua kezaliman kepada hamba-hamba-Nya akan dibalas pada hari kiamat.

โœ… Kedua: Orang yang berhutang dan berniat bayar namun belum mampu untuk membayar sampai ia meninggal dunia maka tidak digolongkan sebagai orang yang zalim.

4) Harta yang dimiliki seseorang di dunia tidak sedikit pun dapat menyelamatkannya dari azab Allah taโ€™ala di akhirat kelak karena kezaliman yang ia lakukan di dunia.

5) Peringatan bagi ahli waris untuk segera membayar hutang mayyit apabila ia meninggalkan harta, dan kewajiban ini harus mereka tunaikan sebelum membagi harta warisannya.

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

 

๐Ÿ’พ๐ŸŒSumber: http://sofyanruray.info/dua-jenis-hutang/

Doa Mendengar Adzan yang Shahih dan Lima Tambahan Lafaz yang Dhaโ€™if


Doa Mendengar Adzan yang Shahih dan Lima Tambahan Lafaz yang Dhaโ€™if๐Ÿ“ก

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู…ู

1. Doโ€™a mendengar adzan:

ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญููŠู†ูŽ ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ุงู„ู†ูู‘ุฏูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฑูŽุจูŽู‘ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุฏูŽู‘ุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ุชูŽู‘ุงู…ูŽู‘ุฉ ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ู„ุงูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุงุฆูู…ูŽุฉู ุขุชู ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู‹ุง ุงู„ู’ูˆูŽุณููŠู„ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููŽุถููŠู„ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงุจู’ุนูŽุซู’ู‡ู ู…ูŽู‚ูŽุงู…ู‹ุง ู…ูŽุญู’ู…ููˆุฏู‹ุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูˆูŽุนูŽุฏู’ุชูŽู‡ู ุญูŽู„ูŽู‘ุชู’ ู„ูŽู‡ู ุดูŽููŽุงุนูŽุชููŠ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู

๐ŸŒด โ€œDari Jabir bin Abdillah radhiyallahuโ€™anhuma, bahwa Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang membaca doโ€™a ketika mendengar adzan:

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฑูŽุจูŽู‘ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุฏูŽู‘ุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ุชูŽู‘ุงู…ูŽู‘ุฉ ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ู„ุงูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุงุฆูู…ูŽุฉู ุขุชู ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู‹ุง ุงู„ู’ูˆูŽุณููŠู„ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููŽุถููŠู„ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงุจู’ุนูŽุซู’ู‡ู ู…ูŽู‚ูŽุงู…ู‹ุง ู…ูŽุญู’ู…ููˆุฏู‹ุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูˆูŽุนูŽุฏู’ุชูŽู‡ู

โœ… โ€œAllahumma Robba haadzihid daโ€™watit taammati wash-sholaatill qooimah, Aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilah, wabโ€™atshu maqoomam mahmuuda-nillladzi waโ€™adtahu.โ€

๐ŸŒด โ€œYa Allah Pemilik seruan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, anugerahkanlah kepada Nabi Muhammad; wasilah (kedudukan yang tinggi di surga) dan keutamaan (melebihi seluruh makhluk), dan bangkitkanlah beliau dalam kedudukan terpuji (memberi syafaโ€™at) yang telah Engkau janjikan.โ€

Pusat Busana Muslim Branded Berkualitas

GRIYA HILFAAZ

โœ… Maka ia (yang membacanya) berhak mendapatkan syafaโ€™atku pada hari kiamat.โ€ [HR. Al-Bukhari]

2. Disunnahkan menjawab adzan dan membaca shalawat sebelum membaca doโ€™a di atas, berdasarkan hadits berikut:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุนูŽุงุตู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุณูŽู…ูุนูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจูู‰ูŽู‘ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูŠูŽู‚ููˆู„ู : ุฅูุฐูŽุง ุณูŽู…ูุนู’ุชูู…ู ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐูู‘ู†ูŽ ููŽู‚ููˆู„ููˆุง ู…ูุซู’ู„ูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุซูู…ูŽู‘ ุตูŽู„ูู‘ูˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ูŽู‘ ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ูŽู‘ ุตูŽู„ุงูŽุฉู‹ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูู‡ูŽุง ุนูŽุดู’ุฑู‹ุง ุซูู…ูŽู‘ ุณูŽู„ููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู„ูู‰ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุณููŠู„ูŽุฉ ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉูŒ ููู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู ู„ุงูŽ ุชูŽู†ู’ุจูŽุบูู‰ ุฅูู„ุงูŽู‘ ู„ูุนูŽุจู’ุฏู ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุฌููˆ ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽูƒููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ู‡ููˆูŽ ููŽู…ูŽู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ูŽ ู„ูู‰ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุณููŠู„ูŽุฉ ุญูŽู„ูŽู‘ุชู’ ู„ูŽู‡ู ุงู„ุดูŽู‘ููŽุงุนูŽุฉู

๐ŸŒด โ€œDari Abdullah bin Amr bin Al-โ€˜Ash radhiyallahuโ€™anhuma bahwasannya beliau pernah mendengar Nabi shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda: Jika kalian mendengarkan adzan maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muโ€™adzin, kemudian bershalawatlah atasku, karena sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat atasku satu kali maka Allah taโ€™ala akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah untukku kepada Allah, karena sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan (yang tinggi) di surga, yang tidak patut diberikan kecuali kepada seorang hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba tersebut. Barangsiapa yang memohon wasilah untukku maka ia berhak mendapatkan syafaโ€™atku.โ€ [HR. Muslim]

3. Tentang keumuman sabda Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam,

ุฅูุฐูŽุง ุณูŽู…ูุนู’ุชูู…ู ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐูู‘ู†ูŽ ููŽู‚ููˆู„ููˆุง ู…ูุซู’ู„ูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู

๐ŸŒด โ€œJika kalian mendengarkan adzan maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muโ€™adzin.โ€ [HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-โ€˜Ash radhiyallahuโ€™anhuma]

โœ… Keumuman hadits ini mencakup:

โ€ข Perintah menjawab adzan dan iqomah, karena iqomah juga dinamakan adzan (lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 5/78 no. 19327, 6/92-93 no. 2801)

โ€ข Dalam menjawab azan hendaklah dijawab sesuai yang diucapkan oleh muโ€™adzin, termasuk menjawab, โ€œAsh-Sholaatu khairun minan naumโ€, hendaklah dijawab seperti itu berdasarkan keumuman dalil tersebut.

โ€ข Kecuali lafaz hayโ€™alataani (hayya โ€˜alas sholaah dan hayya โ€˜alal falaah) maka dijawab masing-masing dengan: Laa haula wa laa quwwata illa billaah, sebagaimana dalam hadits Umar bin Khattab radhiyallahuโ€™anhu yang diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullah.

โ€ข Keumuman hadits tersebut juga mencakup jawaban terhadap, โ€œQod qoomatis sholaahโ€, maka dijawab dengan ucapan yang semisal.

โ€ข Adapun jawaban dengan lafaz, โ€œAqoomaha wa adaamahaโ€, tidak disyariโ€™atkan karena haditsnya dhaโ€™if (lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 5/78 no. 19327, 6/92-93 no. 2801)

4. Tidak ada hadits shohih yang menerangkan adanya lafaz khusus untuk doa setelah iqomah, selain shalawat sebagaimana dalam hadits Abdullah bin โ€˜Amr radhiyallahuโ€™anhuma dan doa adzan sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahuโ€™anhuma di atas (lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 6/93 no. 2801).

5. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah memperingatkan lima lafaz doโ€™a ketika mendengar adzan yang dhaโ€™if:

โžก๏ธ Pertama: Tambahan dalam riwayat Al-Baihaqi:

[ุฅู†ูƒ ู„ุง ุชุฎู„ู ุงู„ู…ูŠุนุงุฏ]

Innaka laa tukhliful miiโ€™aad. Tambahan yang dhaโ€™if ini juga disebutkan dalam kitab Hisnul Muslim.

โžก๏ธ Kedua: Juga tambahan dalam riwayat Al-Baihaqi:

[ุงู„ู„ู‡ู… ุฅู†ู‰ ุฃุณุฃู„ูƒ ุจุญู‚ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฏุนูˆุฉ]

Allahumma inni as-aluka bi haqqi haadzihid daโ€™wah.

โžก๏ธ Ketiga: Tambahan pada salah satu cetakan kitab Syarhul Maโ€™ani:

[ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ]

Sayyidina Muhammad.

โžก๏ธ Keempat: Tambahan dalam riwayat Ibnus Suni:

[ูˆุงู„ุฏุฑุฌุฉ ุงู„ุฑููŠุนุฉ]

Wad-darojatar rofiโ€™ah.

โžก๏ธ Kelima: Tambahan dalam riwayat Ar-Rafiโ€™i pada Al-Muharror:

[ูŠุง ุฃุฑุญู… ุงู„ุฑุงุญู…ูŠ]

Yaa Arhaamar Raahimin.

โ›”๏ธ Kelima lafaz doโ€™a ini adalah tambahan-tambahan yang berasal dari hadits-hadits dhaโ€™if sehingga tidak boleh diamalkan (ihat Al-Irwaโ€™, 1/260-261).

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ“ฅ Tanya: Afwan. Mengucapkan sholawat itu setiap lafadz adzan atau hanya sebelum membaca doa setelah adzan?

๐Ÿ“ค Jawab: Sholawat dibaca setelah adzan selesai, kemudian setelah itu membaca doa mendengar adzan (lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/89-90/2801).

๐Ÿ“ฒ

๐ŸŒ Sumber: http://sofyanruray.info/doa-mendengar-azan-yang-shahih-dan-lima-tambahan-lafaz-yang-dhaif/

Masuk Surga Lewat Pasar


DOA MASUK PASAR, MALL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TEMPAT-TEMPAT KERAMAIAN LAINNYAโ€ฆ

โ€œBarangsiapa masuk pasar, lalu membaca:

ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู€ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ุงูŽ ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒู ูˆูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ูŠูุญู’ูŠููŠู’ ูˆูŽูŠูู…ููŠู’ุชู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุญูŽูŠู‘ูŒ ู„ุงูŽ ูŠูŽู…ููˆู’ุชูุŒ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏููŠู’ุฑู.

Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan dan meninggikan untuknya satu juta derajat serta membangunkan untuknya satu istana di surga.โ€

(HR. At-Tirmidzi 5/291, Al-Hakim 1/538, Ibnu Majah 2235 dan lainnya. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih Ibnu Majah 2/21 dan Shahih At-Tirmidzi 2/152, juga di ‘Shahih Al-Jami’ 1/1118)

Arti doa tersebut:
(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan, bagiNya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tanganNya semua kebaikan. Dan Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.)

Ini cara membacanya supaya jelas:

โ€œLaa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahulhamdu, yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoiir, wa huwa โ€˜ala kulli syaiโ€™in qodiir.โ€

Keutamaannya besar dan dahsyat karena pasar, mall dan pusat-pusat keramaian biasanya melalaikan dan menjerumuskan, karena itu kalau kita ingat Allah dan berdzikir kepadaNya di tempat-tempat tersebut maka kita mendapat keutamaan yang besar dan dahsyat tersebut..

Ini link video singkat penjelasannya;

[Sumber Kitab “Mata Air Inspirasi” Karya Abdullah Hadrami]

AbdullahHadrami, [16.07.16 16:02]

Busana Muslim Branded Berkualitas


Hilfaaz Collections

TATA CARA PUASA ENAM HARI BULAN SYAWWAL


Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan masyruโ€™ (disyariโ€™atkan). Pendapat yang menyatakan bidโ€™ah atau haditsnya lemah, merupakan pendapat bathil [Majmuโ€™ Fatawa, Abdul โ€˜Aziz bin Abdillah bin Baz, 15/389]. Imam Abu Hanifah, Syafiโ€™i dan Ahmad menyatakan istihbab pelaksanaannya [Taudhihul Ahkam, 3/533].

Adapun Imam Malik, beliau rahimahullah menilainya makruh. Agar, orang tidak memandangnya wajib. Lantaran kedekatan jaraknya dengan Ramadhan. Namun, alasan ini sangat lemah, bertentangan dengan Sunnah shahihah.

Alasan yang diketengahan ini tidak tepat, jika dihadapkan pada pengkajian dan penelitian dalil, yang akan menyimpulkan pendapat tersebut lemah. Alasan terbaik untuk mendudukkan yang menjadi penyebab sehingga beliau berpendapat demikian, yaitu apa yang dikatakan oleh Abu โ€˜Amr Ibnu โ€˜Abdil Barr, seorang ulama yang tergolong muhaqqiq (peneliti) dalam madzhab Malikiyah dan pensyarah kitab Muwatha.

Abu โ€˜Amr Ibnu โ€˜Abdil Barr berkata,โ€Sesungguhnya hadits ini belum sampai kepada Malik. Andai telah sampai, niscaya beliau akan berpendapat dengannya.โ€ Beliau mengatakan dalam Iqnaโ€™, disunnahkan berpuasa enam hari di bulan Syawal, meskipun dilaksanakan dengan terpisah-pisah. Keutamaan tidak akan tetap diraih bila berpuasa di selain bulan Syawal.

Seseorang yang berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah berpuasa Ramadhan, seolah-olah ia berpuasa setahun penuh. Penjelasannya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Bulan Ramadhan laksana sepuluh bulan. Sementara enam hari bagai dua bulan. Maka hitungannya menjadi setahun penuh. Sehingga dapat diraih pahala ibadah setahun penuh tanpa kesulitan, sebagai kemurahan dari Allah dan kenikmatan bagi para hambaNya.

Dari Tsauban Radhiyallahu โ€˜anhu, Rasulullah bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุตูŽุงู…ูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ููŽุดูŽู‡ู’ุฑูŒ ุจูุนูŽุดูŽุฑูŽุฉู ุฃูŽุดู’ู‡ูุฑู ูˆูŽุตููŠูŽุงู…ู ุณูุชู‘ูŽุฉู ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ููŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุชูŽู…ูŽุงู…ู ุตููŠูŽุงู…ู ุงู„ุณู‘ูŽู†ูŽุฉู

โ€œBarangsiapa berpuasa Ramadhan, satu bulan seperti sepuluh bulan dan berpuasa enam hari setelah hari Idul Fitri, maka itu merupakan kesempurnaan puasa setahun penuhโ€.[Hadits shahih, riwayat Ahmad, 5/280; an Nasaa-i, 2860; dan Ibnu Majah, 1715. Lihat pula Shahih Fiqhis Sunnah, 2/134].

BILAMANA PELAKSANAANNYA?
Syaikh Abdul Aziz bin Baz, di dalam Majmuโ€™ Fatawa wal Maqalat Mutanawwiโ€™ah (15\391) menyatakan, puasa enam hari di bulan Syawal memiliki dasar dari Rasulullah. Pelaksanaannya, boleh dengan berurutan ataupun terpisah-pisah. Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menyebutkan pelaksanaannya secara mutlak, dan tidak menyebutkan caranya dilakukan dengan berurutan atau terpisah. Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallamโ€ :

ู…ูŽู†ู’ ุตูŽุงู…ูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุชู’ุจูŽุนูŽู‡ู ุณูุชู‘ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุดูŽูˆู‘ูŽุงู„ู ูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูŽุตููŠูŽุงู…ู ุงู„ุฏู‘ูŽู‡ู’ุฑู

โ€œBarangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahunโ€ [HR Muslim].

Beliau rahimahullah juga berpendapat, seluruh bulan Syawwal merupakan waktu untuk puasa enam hari. Terdapat riwayat dari Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya enam hari dari bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahun [ash Shiyam, bab Istihbabish-Shaumi Sittati Ayyam min Syawwal, 1164].

Hari pelaksanaannya tidak tertentu dalam bulan Syawwal. Seorang mu`min boleh memilih kapan saja mau melakukannya, (baik) di awal bulan, pertengahan bulan atau di akhir bulan. Jika mau, (boleh) melakukannya secara terpisah atau beriringan. Jadi, perkara ini fleksibel, alhamdulillah. Jika menyegerakan dan melakukannya secara berurutan di awal bulan, maka itu afdhal. Sebab menunjukkan bersegera melakukan kebaikan [Majmuโ€™ Fatawa wal Maqalat Mutanawwiโ€™ah, 15\390].

Tausiyah Bimbingan Islam, [04.07.16 07:26]
Para ulama menganjurkan (istihbab) pelaksanaan puasa enam hari dikerjakan setelah langsung hari โ€˜Idhul Fitri. Tujuannya, sebagai cerminan menyegerakan dalam melaksanakan kebaikan. Ini untuk menunjukkan bukti kecintaan kepada Allah, sebagai bukti tidak ada kebosanan beribadah (berpuasa) pada dirinya, untuk menghindari faktor-faktor yang bisa menghalanginya berpuasa, jika ditunda-tunda.

Syaikh โ€˜Abdul Qadir bin Syaibah al Hamd menjelaskan : โ€œDalam hadits ini (yaitu hadits tentang puasa enam hari pada bulan Syawwal), tidak ada nash yang menyebutkan pelaksanaannya secara berurutan ataupun terpisah-pisah. Begitu pula, tidak ada nash yang menyatakan pelaksanaannya langsung setelah hari raya โ€˜Idul Fithri. Berdasarkan hal ini, siapa saja yang melakukan puasa tersebut setelah hari Raya โ€˜Idul Fithri secara langsung atau sebelum akhir Syawal, baik melaksanakan dengan beriringan atau terpisah-pisah, maka diharapkan ia mendapatkan apa yang dijanjikan Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Sebab, itu semua menunjukkan ia telah berpuasa enam hari pada bulan Syawwal setelah puasa bulan Ramadhan. Apalagi, terdapat kata sambung berbentuk tsumma, yang menunjukkan arti tarakhi (bisa dengan ditunda)โ€ [Fiqhul Islam, 3/232].

Demikian penjelasan singkat mengenai cara berpuasa enam hari pada bulan Syawwal setelah puasa bulan Ramadhan. Mudah-mudahan dapat memotivasi diri kita, untuk selalu mencintai sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, yang tidak lain akan mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala. Wallahu aโ€™lam bish-shawab.

BAGAIMANA JIKA MASIH MENANGGUNG PUASA RAMADHAN?
Para ulama berselisih pendapat dalam masalah, apakah boleh mendahulukan puasa sunnah (termasuk puasa enam hari di bulan Syawwal) sebelum melakukan puasa qadha Ramadhan.

Imam Abu Hanifah, Imam asy Syafiโ€™i dan Imam Ahmad, berpendapat bolehnya melakukan itu. Mereka mengqiyaskannya dengan shalat thathawuโ€™ sebelum pelaksanaan shalat fardhu.

Adapun pendapat yang masyhur dalam madzhab Ahmad, diharamkannya mengerjakan puasa sunnah dan tidak sah, selama masih mempunyai tanggungan puasa wajib.

Syaikh Bin Baz rahimahullah menetapkan, berdasarkan aturan syariโ€™at (masyruโ€™) mendahulukan puasa qadha Ramadhan terlebih dahulu, ketimbang puasa enam hari dan puasa sunnah lainnya. Hal ini merujuk sabda Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam :

ู…ูŽู†ู’ ุตูŽุงู…ูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุชู’ุจูŽุนูŽู‡ู ุณูุชู‘ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุดูŽูˆู‘ูŽุงู„ู ูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูŽุตููŠูŽุงู…ู ุงู„ุฏู‘ูŽู‡ู’ุฑู

โ€œBarangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahunโ€.

Barangsiapa mengutamakan puasa enam hari daripada berpuasa qadha, berarti belum mengiringkannya dengan puasa Ramadhan. Ia hanya mengiringkannya dengan sebagian puasa di bulan Ramadhan. Mengqadha puasa hukumnya wajib. Sedangkan puasa enam hari hukumnya sunnah. Perkara yang wajib lebih utama untuk diperhatikan terlebih dahulu [Fiqhul Islam, 3/232].

Pendapat ini pun beliau tegaskan, saat ada seorang wanita yang mengalami nifas pada bulan Ramadhan dan mempunyai tekad yang kuat untuk berpuasa pada bulan Syawwal. Beliau tetap berpendapat, menurut aturan syariโ€™at, hendaknya Anda memulai dengan puasa qadha terlebih dahulu. Sebab, dalam hadits, Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjelaskan puasa enam hari (Syawwal) usai melakukan puasa Ramadhan. Jadi perkara wajib lebih diutamakan daripada perkara sunnah [Fiqhul Islam, 3/232].

Sementara itu Abu Malik, penulis kitab Shahih Fiqhis Sunnah berpendapat, masih memungkinkan bolehnya melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal, meskipun masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan. Dasar argumentasi yang digunakan, yaitu kandungan hadits Tsauban di atas yang bersifat mutlak [Shahih Fiqhis Sunnah, 2/134].

Wallahu aโ€™lam.

๐ŸŒ Sumber Artikel : https://almanhaj.or.id/2835-tata-cara-puasa-enam-hari-bulan-syawwal.html
โ€”——————————โ€”
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun X/1427/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]

Antara Doa dan Zikir


Antara Doa dan Zikir

Oleh: Al-Ustadz Idral Harits

Di dalam al-Qurโ€™an, Allah Subhanahu Wa Taโ€™ala memerintah kita agar banyak berzikir. Namun, apakah benar Allah Subhanahu Wa Taโ€™ala tidak pernah memberikan perintah kepada kita untuk banyak berdoa? Apakah antara doa dan zikir itu tidak ada hubungan sama sekali? Kalau ada, bagaimanakah kedudukan doa di hadapan zikir ini?

Allah Subhanahu Wa Taโ€™ala berfirman,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฐููƒู’ุฑู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง

โ€œHai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.โ€ (al-Ahzab: 41)

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Busr radhiyallahu โ€˜anhu,

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฅูู†ู‘ูŽ ุดูŽุฑูŽุงุฆูุนูŽ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุซูุฑูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽุŒ ููŽุฃูŽุฎู’ุจูุฑู’ู†ููŠ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ุฃูŽุชูŽุดูŽุจู‘ูŽุซู ุจูู‡ู. ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ุงูŽ ูŠูŽุฒูŽุงู„ู ู„ูุณูŽุงู†ููƒูŽ ุฑูŽุทู’ุจู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‡ู

โ€œSeorang laki-laki berkata, โ€˜Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam ini sangat banyak (sehingga menyulitkan saya), maka terangkanlah kepada saya sesuatu agar saya berpegang padanya.โ€™

Kata beliau, โ€˜Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikrullahโ€™.โ€[1]

Makna โ€œhendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikrullahโ€ ialah terus-menerus dalam keadaan berzikir.

Dalam hadits ini, dengan tegas Rasul shallallahu โ€˜alaihi wasallam membimbing sahabat tersebut untuk selalu dalam keadaan berzikir. Artinya, dia hendaknya sering-sering berzikir, bukan berdoa. Benarkah demikian?

Seandainya kita mau memahami agama ini melalui bimbingan al-Qurโ€™an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf (pendahulu) kita yang saleh, akan menjadi jelaslah ke arah mana kita menuju dan di jalan apa kita sedang melangkah. Dari mereka yang mengerti bahasa yang digunakan oleh syariat inilah kita merujuk berbagai persoalan agama yang kita hadapi. Termasuk masalah ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, pada hakikatnya doa itu sendiri adalah zikir yang ditujukan kepada al-madโ€™u (yang diseru, yaitu Allah l). Artinya, dalam sebuah doa yang dipanjatkan tersirat adanya permintaan tentang sesuatu sekaligus puji-pujian kepada Allah Subhanahu Wa Taโ€™ala dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Dengan demikian, doa adalah zikir itu sendiri berikut tambahannya. Begitu pula sebaliknya, zikir dinamakan doa karena mengandung permintaan (yaitu meminta keridhaan Allah dan pahala-Nya, โ€“ed.).[2]
Tiga Tingkatan Zikir

Zikir mempunyai tiga tingkatan, yaitu:

1.ย ย ย ย ย  Zikir yang bersifat lahiriah, yaitu yang terucap oleh lisan semata.

2.ย ย ย ย ย  Zikir yang diucapkan oleh lisan dan sejalan dengan yang di dalam kalbu, bukan sekadar ucapan lisan. Sebagai contoh ialah ucapan-ucapan sanjungan atau pujian dan doa.

3.ย ย ย ย ย  Zikir yang dilakukan oleh kalbu saja (muraqabah).

Dalam bentuk sanjungan, misalnya subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallahu, wallahu akbar.

Dalam bentuk doa, misalnya,

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุธูŽู„ูŽู…ู’ู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุชูŽุฑู’ุญูŽู…ู’ู†ูŽุง ู„ูŽู†ูŽูƒููˆู†ูŽู†ู‘ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุงุณูุฑููŠู†ูŽ

โ€œWahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberikan rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.โ€ (alโ€“Aโ€™raf: 23)

Contoh zikir dalam bentuk pengawasan adalah ucapan orang yang berzikir, โ€œAllah selalu menyertaiku. Dia melihat dan menyaksikankuโ€ dan sebagainya, yang digunakan untuk menghadirkan kebersamaan Allah.

Oleh sebab itu, zikir-zikir nabawi meliputi tiga hal tersebut. Zikir-zikir yang beliau ajarkan mengandung sanjungan atau pujian kepada Allah, doa, dan secara tegas menunjukkan adab dan kebersamaan dengan Allah.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda,

ูˆูŽุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ุงู„ุฏู‘ูุนูŽุงุกู ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‡ู

โ€œSeutama-utama doa adalah (ucapan) alhamdulillah.โ€[3]

Dalam hadits ini Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam menjelaskan bahwa ucapan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) adalah doa, padahal kalimat ini murni sebagai pujian. Mengapa demikian? Sebab, kata al-hamdu mengandung cinta (mahabbah) sekaligus pujian, sedangkan cinta adalah jenis permintaan paling tinggi yang ditujukan kepada alโ€“mahbub (sosok yang dicintai).

Oleh sebab itu, orang yang sedang memuji berarti meminta (suatu kebutuhannya) kepada pihak yang dicintainya. Dengan demikian, dialah yang lebih berhak dikatakan sebagai daโ€™i (orang yang berdoa) daripada saโ€™il (yang meminta) dan thalib (yang menuntut) sesuatu dari Rabb-nya.

Melalui uraian ini, kita mengetahui bahwa inti kalimat alhamdu atau pujian itu mengandung sebuah permintaan yang paling utama. Itulah doa yang sejati dan paling berhak dikatakan sebagai doa daripada permintaan-permintaan lain yang ada di bawahnya.

Masing-masing dari istilah doa dan zikir mempunyai makna yang juga dimiliki oleh yang lain, bahkan masuk ke dalam pengertiannya. Dengan kata lain, istilah doa mengandung pengertian yang terdapat pada kata zikir, bahkan termasuk zikir itu sendiri, begitu pula sebaliknya.

Wallahu aโ€™lam.

[1] HR. at-Tirmidzi, โ€œKitab ad-Daโ€™awatโ€; beliau menyatakannya hasan.

[2] Diringkas dari Badaiโ€™ul Fawaid (hlm. 347โ€”348).

[3] HR. at-Tirmidzi, dari Jabir bin Abdillah, โ€œKitab ad-Daโ€™awatโ€; beliau menyatakannya hasan.

Mazhab Cuma Pendapat Manusia, Buang Saja


Mazhab Cuma Pendapat Manusia, Buang Saja Cukup Quran dan Sunnah

 

Pertanyaan :
Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Mohon izin bertanya terkait dengan mazhab-mazhab, ustadz. Sebenarnya mazhab itu apa sih? Dan mengapa kita harus bermazhab, bukankah sudah cukup kita berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah? Bukankah mazhab itu hanya pendapat dan perkataan manusia yang bisa benar dan bisa salah. Kenapa harus dipegang dan dirujuk?

Mohon maaf kalau redaksi saya agak kurang baik dalam bertanya. Sebelumnya terima kasih atas penjelasan ustadz.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebelum kita bahas pertanyaan ini lebih lanjut, ada baiknya kita sepakati terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan istilah ‘mazhab’ dan istilah ‘bermazhab’. Sebab jangan-jangan kita tidak sepakat tentang pengertiannya, tetapi sudah terlanjur perang opini.

A. Mazhab Adalah Penjelasan Paling Sah Atas Isi Al-Quran dan As-Sunnah

Yang kita sepakati dari istilah mazhab adalah penjelasan yang asli, otentik, baku dan ilmiyah tentang kandungan hukum Allah yang tertuang di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ternyata Al-Quran dan As-Sunnah yang kita warisi dari Rasulullah SAW itu masih harus dijelaskan dulu sebelum kita laksanakan.

Kenapa harus ada penjelasan? Bukankah Al-Quran dan hadits itu sendiri sudah merupakan penjelasan buat orang yang bertaqwa?

Pertanyaan agak-agak lugu tapi polos ini mungkin sering kita dengar dari mulut saudara-saudara kita yang sedang belajar ilmu agama. Tidak apa-apa, namanya saja masih belajar. Wajarlah kalau pertanyaannya agak polos.

Jawabannya adalah bahwa orang-orang terbaik dari generasi terbaik saja masih bermazhab dan tidak sok tahu menafsir-nafsirkan ayat-ayat Allah SWT dengan akal pikiran dan nalar mereka sendiri. Mereka masih tetap bertanya tentang Al-Quran, As-Sunnah dan hukum-hukum syariah kepada Rasulullah SAW.

1. Shahabat Masih Harus Minta Penjelasan Al-Quran dari Rasulullah SAW

Pertanyaannya, mereke orang sekelas shahabat itu masih harus bertanya tentang Al-Quran, padahal mereka mengalami turunnya Al-Quran. Dan bahkan Al-Quran turun dalam bahasa mereka, yaitu bahasa Arab?

a. Kendala Bahasa dan Istilah

Memang benar ayat-ayat Al-Quran turun dalam bahasa Arab yang khas di masa Nabi SAW. Namun yang harus diketahui dengan kualitas level bahasa yang teramat tinggi sastranya. Sehingga terkadang tidak semua shahabat mampu memahami kata per kata, kalimat per kalimat serta redaksi-redaksi di ayat Al-Quran itu sendiri.

Seringkali mereka harus bertanya lagi kepada Rasulullah SAW tentang apa maksud suatu ayat. Jadi Al-Quran itu tidak otomatis jelas dan mudah dipahami, bahkan oleh merekea yang selevel para shahabat sekalipun. Tetap saja mereka masih harus mendapatkan penjelasan dulu dari Rasulullah SAW.

Bayangkan kalau sekelas shahabat saja masih harus bertanya tentang isi Al-Quran dan kandungan hukumnya, bagaimana mungkin orang di masa kini 15 abad setelah turunnya Al-Quran, tidak paham bahasa Arab, tidak tahu asal muasal turunnya ayat, tidak tahu jeluntrungannya, tiba-tiba mereka berhak untuk menafsirkan sendiri? Lalu bikin fatwa aneh-aneh sambil melarang orang bertanya kepada sumber rujukan aslinya, yaitu para shahabat?
Sungguh aneh dan tidak masuk akal, bukan?

b. Nasikh Wal Mansukh

Syariat Islam di dalam Al-Quran tidak turun sekaligus, tetapi berproses. Berproses disini bukan sekedar ayat turun satu persatu, tetapi lebih dari itu, kadang ada proses perubahan hukum seiring dengan semakin banyaknya turun ayat.

Hukum yang sudah ditetapkan pada satu ayat bisa saja diangulir dan diubah menjadi hukum yang lain oleh ayat yang turun kemudian. Keharaman yang dibawa oleh suatu ayat bisa diubah menjadi kehalalan oleh turunnya ayat berikutnya. Sebaliknya, kehalalan yang didasarkan pada satu ayat, kemudian diharamkan oleh ayat yang turun kemudian.

Banyak sekali orang awam di masa kini yang sama sekali tidak tahu adanya ayat yang dinasakh atau dibatalkan hukumnya. Dengan segala keluguannya mereka mengirasa semua ayat itu berlaku hukumnya sama rata. Mereka tentu harus bertanya dulu kepada sumber rujukan utama yaitu para shahabat. Tidak boleh asal main keluarkan fatwa dan hukum seenaknya.

c. Tidak Semua Shahabat Merupakan Ahli Hukum

Satu hal lagi yang harus dicatat juga bahwa tidak semua shahabat itu ahli dalam hukum agama, meskipun mereka hidup bersama Rasulullah SAW. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitab I’lamul Muwaqqi’in (ุฅุนู„ุงู… ุงู„ู…ูˆู‚ุนูŠู†) memperkirakan hanya sekitar 130-an orang saja dari para shahabat yang punya kapasitas dalam mengistimbath hukum.

Padahal kita tahu bahwa jumlah shahabat itu mencapai angka 124 ribu orang. Dibandingkan yang ahli dalam istimbath hukum, ternyata jauh lebih banyak mereka yang bukan ahlinya.

Oleh karena itu tidak bisa kita pungkiri bahwa sesungguhnya para shahabat itu meski bisa bahasa Arab, mengalami proses turunnya Al-Quran, bahkan menjadi tokoh langsung di dalam ayat yang diturunkan, namun tetap tetap saja mereka harus bertanya kepada Rasulullah SAW atau kepada shahabat senior yang sudah berlevel ahli istimbath hukum. Maksudnya tetap harus bertanya kepada ahlinya tentang isi kandungan hukum di dalam Al-Quran. Dan proses bertanya itu yang kita sebut bermazhab.

Mereka yang hidup bersama Rasulullah SAW saja masih harus bermazhab, bagaimana mungkin orang di zaman sekarang merasa sudah pintar dan mereka berhak menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran seenaknya? Apakah mereka merasaย  lebih pintar dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat?

2. Para Shahabat Mendapat Legalisasi Dari Rasulullah SAW Untuk Berfatwa

Menarik untuk dicermati, para sebagian shahabat yang memang telah mendapatkan pendididukan khusus untuk menjadi ahli istimbath hukum ini kemudian mendapatkan legalitas dari Rasulullah SAW. Tentu tidak semua mereka mendapatkannya, melainkan hanya yang sudah mencapai derajat ilmunya. Rasulullah SAW bersabda :

ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุณูู†ู‘ูŽุชููŠ ูˆูŽุณูู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ุฎูู„ูŽููŽุงุกู ุงู„ู…ูŽู‡ู’ุฏููŠู‘ููŠู†ูŽ ุงู„ุฑูŽุงุดูุฏููŠู†ูŽ ุชูŽู…ูŽุณู‘ูŽูƒููˆุง ุจูู‡ูŽุง ูˆูŽุนูŽุถู‘ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุจูุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽุงุฌูุฐู

Wajiblah atas kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah para penggantiku yang lurus. Pegang erat sunnah itu dan gigitlah dengan geraham. (HR. Ahmad)

Dengan hadits ini maka para shahabat ahli istimbath hukum itu telah menjadi juru fatwa resmi yang telah menandatangani ‘kontrak’ sebagai wakil Allah di muka bumi. Jabatannya tentu bukan sebagai pembawa wahyu tetapi sebagai juru tafsir resmi dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Siapa saja yang mencoba menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran ataupun sunnah Rasulullah SAW semata-mata hanya lewat akalnya sendiri, maka sudah dipastikan sesat, keliru dan tidak bisa diterima.

Anehnya di zaman sekarang bisa-bisanya ada orang yang tidak mengerti Al-Quran dan As-Sunnah, tetapi malahย  mengaku-ngaku sebagai ahli fatwa, lalu bikin fatwa seenaknya. Lucunya sampai bilang begini :

“Tinggalkan semua perkataan manusia dan cukup Al-Quran dan As-Sunnah saja yang kita pegang. Tidak usah merujuk kepada shahabat, tabi’in atau fuqaha, karena mereka manusia dan sangat mungkin mengalami kesalahan”.

Ungkapan ini kelihatannya benar, tetapi sekaligus juga banyak pesan menyesatkan tersirat di dalamnya. Di antarnya kesesatannya adalah sebagai berikut :

a. Sama Saja Mendustai Kenabian Muhammad SAW

Dengan mencoret peran para shahabat, tabi’in dan para fuqaha, otomatis kita menutup penjelasan, ilmu dan pesan-pesan penting dari Rasulullah SAW yang dititipkan kepada mereka. Dan itu berarti sama saja kita mendustakan kenabian Muhammad SAW.

b. Bikin Agama Baru Mendompleng Agama Islam

Bila kita perpegang pada Al-Quran dan Sunnah, lalu kita tafsiri sendiri semua isi kandungannya, seenak kita dan sesuai dengan selera kita sendiri, maka sesungguhnya kita telah menciptakan agama baru.

Agama itu sama sekali bukan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, tetapi kita cuma mendompleng saja, sementara isi dan ajarannya 100% buatan akal kita sendiri.

3. Para Shahabat Boleh Berbeda Pendapat

Dan yang sangat menarik adalah meski sudah sah menjadi juru tafsir resmi Al-Quran dan As-Sunnah oleh Rasulullah SAW, namun para shahabat ahli istimbath hukum tetap diberi ‘kebebasan’ untuk saling berbeda pendapat.

Dan sudah pasti bahwa perbedaan pendapat di tengah para shahabat tentu tidak datang dari hawa nafsu pribadi, atau kepentingan kelompok tertentu, atau motivasi uang, jabatan, kekayaan, popularitas dan hal-hal rendah lainnya. Tentu saja mereka suci dari semua tuduhan itu.

Sebab Allah SWT menjamin bahwa mereka itu mendapat ridha dari Allah SWT dan dalam hadits yang shahih mereka 100% dipastikan masuk surga.

ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŒ ููŠู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉ : ุฃูŽุจููˆ ุจูŽูƒู’ุฑ ููŠู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุนูู…ูŽุฑ ููŠู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุนูุซู’ู…ูŽุงู† ููŠู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุนูŽู„ููŠู‘ูŒ ููŠู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุทูŽู„ู’ุญูŽุฉ ููŠู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูŽูˆุงู„ุฒู‘ูุจูŽูŠู’ุฑ ููŠู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู† ุจู†ู ุนูŽูˆู’ูู ููŠู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุณูŽุนููŠุฏู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ููŠู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุจููˆ ุนูุจูŽูŠู’ุฏูŽุฉ ุจู’ู†ู ุงู„ุฌูŽุฑู‘ูŽุงุญู ููŠู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู – ูˆูŽุณูŽูƒูŽุชูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ุนูŽุงุดูู€ุฑู ุŒ ู‚ูŽุงู„ููˆุง : ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‡ููˆูŽ ุงู„ุนูŽุงุดูุฑ ุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ” ุณูŽุนููŠุฏู ุจู’ู†ู ุฒูŽูŠู’ุฏู ” โ€“ ูŠุนู†ูŠ ู†ูุณู‡

Dari Said bin Zaid bahwa Rasulullah SAW bersabda,โ€Ada sepuluh orang di dalam surga : Abu Bakar di dalam surga, Umar di dalam surga, Utsman di dalam surga, Ali di dalam surga, Thalhah di dalam surga, Az-Zubair di dalam surga, Abdurrahman bin Auf di dalam surga, Said bin Malik di dalam surga, Abu Ubaidah Ibnul Jarrah di dalam surga, kemudian Said terdiam. Orang-orang bertanya,โ€Siapa yang kesepuluh?โ€. Said menjawab,โ€Said bin Zaidโ€- yaitu dirinya sendiri. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

4. Boleh Memilih Mazhab Shahabat Yang Mana Saja

Ketika para shahabat yang sudah menjadi derajat ahli istimbath hukum ini punya pendapat yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka para shahabat yang lain boleh memilih pendapat yang mana saja dari mereka. Rasulullah SAW telah bersabda :

ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจููŠ ุจูู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูุฌููˆู…ู ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ููŽุฃูŽูŠู‘ูู…ูŽุง ุฃูŽุฎูŽุฐู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ู ุงู‡ู’ุชูŽุฏูŽูŠู’ุชูู…ู’ ูˆูŽุงุฎู’ุชูู„ุงูŽูู ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจููŠ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉูŒ

Para shahabatku bagaikan gemintang di langit. Pendapat siapapun yang kamu ambil tetap dapat petunjuk. Perbedaan pendapat mereka jadi rahmat bagi kamu. (HR. Al-Baihaqi)

Dalam kenyataannya ada mazhab Abu Bakar, mazhab Umar, mazhab Ustman, mazhab Ali, mazhab Ibnu Abbas, mazhab Ibnu Umar, mazhab Ibnu Mas’ud, mazhab Aisyah, mazhab Ummu Salamah dan lainnya. Mereka bisa saja berbeda pendapatnya, namun semuanya berada di dalam wilayah kebenaran dan petunjuk dari Rasulullah SAW.

Maka kepada pendapat, fatwa serta mazhab para shahabat itulah kita wajib berpegang-teguh. Sebab pada hakikatnya kita sedang kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah dengan cara yang benar. Bukan dengan penafsiran hawa nafsu atau selera masing-masing.

Seratusan tahun sepeninggal para shahabat, Umar bin Abdul Aziz menyatakan sangat bahagia ketika mengetahui dahulu para shahabat ternyata berbeda pendapat.

Saya kurang suka kalau para shahabat tidak berbeda pendapat. Bila hanya satu pendapat, pastilah orang merasakan kesempitan. (Umar bin Abdul Aziz)

B. Mazhab Empat Adalah Titisan Mazhab Para Shahabat

Sampai disini mungkin ada yang menyatakan keheranan, yang ditanya apakah kita harus bermazhab, maksudnya adalah empat mazhab yaitu Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah. Kenapa penjelasannya malah menerangkan mazhab-mazhab para shahabat?

Lalu apa hubungannya antara mazhab-mazhab para shahabat itu dengan empat mazhab yang kita kenal saat ini?

Bukankah kalau begitu yang harus kita ikuti adalah mazhab-mazhab para shahabat dan bukan mazhab empat yang bukan dari kalangan shahabat?

Jawabannya sederhana saja, yaitu benar bahwa kita memang harus ikut kepada mazhab para shahabat. Asalkan kita hidup di masa para shahabat. Sayangnya kita hidup di 15 abad kemudian, dimana sudah tidak ada lagi para shahabat hidup di tengah-tengah kita.

Kita butuh sumber informasi yang valid dan benar-benar bisa dipercaya untuk bisa kontak dengan fatwa-fatwa para shahabat. Masalahnya, dimana kita bisa menemukan sumber-sumber fatwa para shahabat yang valid dan terjamin kemurniannya?

Jawabannya ada para murid-murid dari para shahabat itu. Ya, murid-murid para shahabat adalah generasi yang paling amanah dan berkualitas dalam menjaga amanah fatwa dan ilmu dari para shahabat.

1. Generasi Fuqaha di masa Tabi’in

Kalau mau tahu fatwa para shahabat, maka rujukannya ada di tangan murid-murid mereka, yaitu generasi tabi’in. Mereka tersebat di tujuh penjuru peradaban Islam, karena para shahabat yang menjadi guru mereka memang tinggal berpencar-pencar, baik di Madinah, Mekkah, Kufah, Bashrah, Syam, Mesir dan Yaman.

  • ย Madinah : Shahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khattab dan Zaid bin Tsabit melahirkan tujuh ulama ahli fiqih dari kota Madinah, di antaranya Said bin Al-Musayyib, Urwah bin Az-Zubair, Qasim bin Muhammad, Kharijah bin Zaid, Abu Bakr bin Abdullah bin Utbah bin Masud, Sulaiman bin Yasar, Ubaid bin Abdillah, Nafiโ€™ Maula Abdullah bin Umar.
  • Mekkah : Shabat Ibnu Al-Abbas dan Abdullah bin Az-Zubair di Mekkah melahirkan Mujahid, Athaโ€™ bin Abi Rabah, Thawus bin Kisan dan lainnya.
  • Kufah : Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Masโ€™ud di Kufah melahirkan โ€™Alqamah, Al-Aswan, Masruq, Syuraih, Asy-Syaโ€™biy, An-Nakhaโ€™i dan Said bin Jubair.
  • Bashrah : Anas bin Malik dan Abu Musa Al-Asyโ€™ari melahirkan Al-Hasan Al-Bashri dan Muhammad Ibnu Sirin.
  • Syam : Muadz bin Jabal, Ubadah dan Abu Ad-Dardaโ€™ di Syam melahirkan Abu Idris Al-Khaulani, Makhul Ad-Dimasyqi, Umar bin Abdul Aziz, Rajaโ€™ bin Haywah dan Abdurrahman Al-Auzaโ€™i.
  • Mesir : Shahabat Amr bin Al-Ash dan puteranya Abdullah bin Amr bin Al-Ash melahirkan Yazid bin Hubaib. Yazid adalah orang yang nantinya menjadi guru bagi Al-Laits bin Saad, ulama besar Mesir di masanya.
  • Yaman : Shabat Musa Al-Asy’ari dan Muadz bin Jabal di Yaman melahirkan Mathraf bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf.

2. Generasi Berikutnya

Di awal abad II hingga pertengahan abad IV hijriyah yang merupakan fase keemasan bagi itjihad fiqih, muncul 13 mujtahid yang mazhabnya dibukukan dan diikuti pendapatnya. Mereka adalah :

  • Sufyan bin Uyainah di Mekah
  • Malik bin Anas di Madinah
  • Hasan Al Basri di Basrah
  • Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauriy (161 H) di Kufah
  • Al Auzai (157 H) di Syam
  • Asy-Syafiโ€™i dan Al-Laits bin Saโ€™d di Mesir
  • Ishaq bin Rahawaih di Naisabur
  • Abu Tsaur, Ahmad bin Hanbal, Daud Adz-Dzhahiri dan Ibnu Jarir At Thabary, keempatnya di Baghdad

Yang kita sepakati tentang istilah mazhab adalah kumpulan hasil ijtihad dari para shahabat, tabi’in, atba’uttabi’in, dan generasi salafus-shalih, dimana kapasitas mereka adalah ahli dalam menghistimbath ayat-ayat Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW.

Tidak usah ditanyakan lagi apakah mereka mengerti hadits atau tidak, justru mereka adalah peletak dasar ilmu naqdul hadits (kritik hadits), yang hasilnya adalah metodologi baku dalam menshahihkan atau mendhaifkan suatu hadits. Di dalam kepala para ahli istimbath hukum itu, minimal ada lebih dari setengah juga hadits yang dihafal matan dan sanadnya.

Para hali istimbath hukum ini punya ratusan murid, dimana muridnya itu sudah menjadi guru dari ribuan murid lagi, dan murid dan murid itu sudah menjadi guru dari ratusan ribu murid. Dan murid dari murid dari murid dari murid itu sudah jadi guru dari jutaan murid lagi, yang mana semuanya juga sudah jadi guru besar dalam ilmu istimbath hukum.

Kapasitas ke-guru-an mereka itu bukan hanya gelar yang diberikan seenaknya, tetapi dibuktikan dengan jutaan jilid karya ilmiyah fatwa ilmu fiqih dalam segala aspek kehidupan. Karya-karya itu adalah bukti otentik ketinggian ilmu mereka, yang masih bisa kita baca hari ini.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA


Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA