Ayah Sang Pemimpin


ust fauzil adhimOleh Ida S Widayanti*

Di sebuah supermarket, seorang suami terdiam melihat istrinya sedang memarahi anaknya. Si anak yang berusia sekitar lima tahun itu ingin membeli sebuah mainan, namun ibunya melarangnya. Anak itu lalu menangis. Si ibu menyuruh anaknya menghentikan tangisannya, namun tangisan si anak semakin keras. Akhirnya, si ibu memukuli anaknya. Tangisan anak itu semakin menjadi-jadi. Si ibu semakin tak sabar sehingga pukulannya semakin keras dan bertubi-tubi. Melihat keadaan itu, suaminya pergi menjauh.

Seorang ibu yang membawa anak remaja lelakinya melihat kejadian tersebut. Ibu itu kaget dan ingin sekali berbicara kepada ibu yang memukuli anaknya itu. Namun, karena melihat ekspresi si ibu yang masih marah, ia mengurungkan niatnya. Sebab, ketika seseorang sedang marah tentu tidak bisa diajak bicara baik-baik. Akhirnya, ia mendekati bapak yang sudah menjauh dari ibu dan anaknya itu.

“Maaf Pak, apakah Bapak ayah dari anak itu?” Si bapak mengangguk dengan ekspresi wajah sedih bercampur malu.
“Mengapa Bapak membiarkan anaknya dipukuli oleh istri Bapak? Mengapa membiarkan anak yang masih lemah dizalimi? Allah menitipkan anak pada kita untuk dididik dengan baik. Tentu Allah tidak ridha kalau titipannya dianiaya. Pak, kita akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Anak itu diam tak membalas karena ia masih lemah. Suatu saat dia sudah besar akan membalasnya. Dia menyimpan rasa dendam. Anak itu peniru. Kelak dia akan meniru yang dilakukan ayah-ibunya terhadap anak dan keluarganya juga. Bagaimana perasaan Bapak kalau hal itu terjadi?” Bapak tersebut terdiam mendengarkan si ibu yang sulit membendung kata-katanya.

Tak lama kemudian Bapak itu mendekati anaknya. Ia membawa anaknya pergi dengan menaiki sepeda motor. Anak remaja laki-laki itu menyaksikan semua kejadian tersebut.

Lalu ibunya memberi penjelasan bahwa seorang ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Ia seharusnya yang mengendalikan dan mendidik keluarganya. Perbuatan si ibu tadi tidak boleh dibiarkan.

Hilfaaz Collections

Hilfaaz Collections


Hari itu, si anak remaja laki-laki itu belajar dua hal. Pertama, tentang bagaimana seharusnya peran seorang ayah. Kedua, bagaimana jika melihat kemungkaran atau ketidakaadilan di depan mata tidak boleh membiarkannya.

Di dalam masyarakat kita sering melihat seorang ayah yang begitu lemah tidak berdaya dalam memimpin keluarganya. Hal itu sering dijadikan anekdot. Maka munculah istilah “Ikatan suami takut istri”, bahkan sampai dijadikan serial sinetron. Sehingga hal itu pun berdampak dalam mendidik anak. Ayah tak mengambil peran dalam mendidik anak. Ibulah yang mengambil alih seluruh kepemimpinan pendidikan anaknya.

Memang dalam pelaksanaannya seringkali ibulah yang lebih banyak berperan. Namun, tetap yang menjadi komandannya adalah ayah. Ayah turut mengkonsep, melaksanakan dan mengontrol pelaksanannya.

Bayi manusia dikandung selama sembilan bulan. Sebuah waktu yang cukup lama. Selama itu, bukan hanya ibu yang bersiap menjalani peran sebagai ibu, namun juga ayah. Ayah harus belajar banyak bukan karena banyak melaksanakannya, namun karena ayahlah yang memimpin dan mengendalikannya. Ketika ada kekeliruan istri dalam mendidik anak, maka suami seharusnya bertindak meluruskannya. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua.* Penulis Buku Mendidik Karakter dengan Karakter. SUARA HIDAYATULLAH PEBRUARI 2014

//


SavedURI :Show URLShow URLSavedURI :

//


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s