𝗣𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗮𝗺𝗯𝘂𝗻𝗴 𝗦𝗮𝗻𝗮𝗱 𝗖𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮 𝗗𝘇𝗶𝗸𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗪𝗶𝗿𝗶𝗱


𝗣𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗮𝗺𝗯𝘂𝗻𝗴 𝗦𝗮𝗻𝗮𝗱 𝗖𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮 𝗗𝘇𝗶𝗸𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗪𝗶𝗿𝗶𝗱

Ibnu Abdillah Al-Katibiy

  ·

𝗣𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗮𝗺𝗯𝘂𝗻𝗴 𝗦𝗮𝗻𝗮𝗱 𝗖𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮 𝗗𝘇𝗶𝗸𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗪𝗶𝗿𝗶𝗱

Sering saya sampaikan di pelatihan-pelatihan bahwa ruqyah dan metodenya tidak diperlukan ijazah apalagi mengharuskannya. Karena ruqyah sifatnya umum dan ijtihadiyyah. Ijazah dalam pelatihan-pelatihan hanyalah mengikuti tradisi para guru kami, mengikuti tradisi ulama ahlus sunnah wal jama’ah ketika mendapatkan amalan dzikir, wirid dan semisalnya. Dan hal ini bukanlah bermakna wajib, jadi yang kami ijazahkan saat akhir pelatihan adalah dzikir, wirid, amalan yang telah diijazahkan kepada kami dari guru-guru kami. Sama halnya seperti ijazah pembacaan al-Quran, bukan berarti yang belum mendapatkan ijazahnya tidak boleh membaca al-Quran. Hak bagi setiap muslim untuk membaca al-Quran. Akan tetapi bagi pembaca al-Quran yang telah mendapatkan ijazahnya, maka ia telah mendapatkan keutamaan besar lainnya. Kamu akan membacanya dengan cara yang lebih sahih seperti yang telah dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, pata tabi’in dan para ulama setelahnya.

Mendapatkan ijazah dzikir, wirid atau amalan-amalan baik lainnya, maka kita telah mendapatkan sambungan atau sanad cahaya, sambungan keberkahan, sambungan madad, sambungan keluhurannya. Kekuatan doa tajribah dari shohibul ijazah atau mujiz yang begitu kuat mengalir secara estafet kepada orang yang diijazahkannya.

Alfaqir mendapatkan ijazah langsung doa ini saat Bersama beliau habib Taufiq Asseggaf di dalam kamar saat beliau tengah istirahat selesai taushiah di salah satu majlis haul. “ Nte baca ini di saat darurat saja untuk membakar jin, dia akan terbakar jadi debu, kalau tidak darurat, jangan dibaca :

لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ باِللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. ماَشاَءَ كاَنَ وماَلَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

Doa ini sangat saya hafal dan tidak asing ditelinga. Tetapi ketika telah mendapatkan ijazah langsung dari seorang guru mulia, guru pembimbing, keluar dari lisan yang senantiasa memuji Allah dan Rasul-Nya lahir dan batinnya, maka bacaan ini menjadi lebih berpower, bacaan ini menjadi lebih tinggi madad barokahnya. Cahaya bacaan ini menjadi luas dan bersinar kuat, karena tersalurkan dari lisan-lisan suci yang tetap mempertahankan madad nuraniyyahnya kepada murid yang diijazahkannya. Telah dibuktikan dalam beberapa kasus yang alot.

Habib Umar bin Hafidz mengatakan :

اذا تعلقتَ بواحد من العارفين وقويت رابطتك به, اذاتجلى عليه الحق وأفاض عليه شيأ من فيوضاته وجدك في قلبه فيحصل لك قسمك مما أفيض عليه بلا تعب

“ Jika kamu memiliki hubungan batin dengan seorang dari arif billah, dan hubungan batin itu kuat, maka jika Allah bertajalli di hati orang arif itu dan memberikan fuyudhat (anugerah)-Nya, lalu mendapati namamu di hatinya, maka kamu akan mendapatkan bagian itu tanpa kamu bersusah payah“. (Thayyibat al-Mawaid fi Syatta al-Fawaid juz 1 hal. 44)

Beliau habib Umar juga mengatakan :

وتحصيل ذالك انما يكون في الاصل بالتجالس في الله والارتباط بهذا النور عبر متلقيه جيلا بعد جيل وتلميذا عن شيخ الى النبي صلى الله عليه وسلم

“ maka sesungguhnya hanya bisa diperoleh dengan duduk khidmat (tajalus) karena Allah (dengan orang shalih) dan menyambung hati dengan cahaya ini secara generasi ke generasi dan tersambung guru ke guru sampai kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam “. (Al-Ittisaal : 91, habib Umar bin Hafidz)

Lebih jelas lagi beliau mengatakan :

مع صحة النسبة تصح الاحوال وتصح الاعمال وتصح الاقوال

“ Bersama kenisbatan yang benar (kepada para pemangku cahaya), maka segala keadaan, perbuatan dan ucapan juga akan benar “. (Ma’alim ad-Du’aah fi Thariq Habibillah : 150, Habib Umar bin Hafidz)

Leave a comment