Wejangan ‘Cinta-Kerja-Harmoni’ Habibie di acara Diaspora Berlin 2013


Oleh: Tieneke Ayuningrum
Alhamdulillaah kemarin kami diberi kesempatan utk bertemu dengan Bapak Habibie di acara Diaspora BerliN 2013. Pesan2 dari beliau, saya coba utk rangkumkan dan share di sini.
“Wejangan Prof Habibie di acara Diaspora Berlin 2013”
Rangkuman ini sebenarnya adalah gabungan dari wejangan Prof Habibie yang disampaikan langsung pada acara Diaspora Berlin, 25 Mei 2013, dari Buku yang beliau tulis berjudul ‘Habibie & Ainun’ serta dari film tersebut yang juga ditayangkan kemarin, ditulis sesuai versi penulis.
Seperti kita ketahui bersama bahwa tanah air kita sangat kaya akan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Sangat ironis dimana negara yang kaya raya ini memiliki index kesejahteraan yang rendah. Selain itu kita juga tidak ingin bergantung kepada kekayaan alam yang dimiliki negara kita. Kita ingin negara ini sejahtera dari hasil pembangunan SDM nya.
Kita juga bukan negara pengemis. Suatu permasalahan tidak boleh dikaitkan dengan kurangnya dana. Ide dan kreativitas serta kerja adalah modal yang lebih dari segalanya dan itu harus kita buktikan. Demikian ‘Eyang‘ dan ‘Ayah‘ kita Prof Habibie mengatakan.
Beliau memotivasi kita semua bahwasanya kita semua adalah sama seperti beliau, artinya apa yang beliau telah raih, dapat kita raih pula. Bahkan seharusnya sebagai ‚anak‘ atau ‚cucu‘ kita lebih baik dari beliau, karena itu berarti sebagai ‘Eyang‘ beliau berhasil mewariskan nilai2 dan mendidik keturunannya. Sebuah motivasi yang sangat berharga bagi kita semua.
Kata-kata beliau sungguh sangat ‘merangkul’ semua kalangan dan beliau berpesan jangan sampai hal-hal yang berbau ‘SARA’ ditonjolkan sehingga menimbulkan permusuhan dan menghambat kemajuan yang ingin dicapai.
Beliau juga bercerita bahwa Helmut Schmidt (Bundeskanzler / kanselir ke 5 yang lahir di Hamburg, Heimat keduanya beliau :-)) yang cukup dekat dengan beliau, mengatakan bahwa seharusnya beliau tidak hanya berkutat dengan pesawat terbang, tapi juga dengan falsafat (maksudnya Herr Schmidt sangat tertarik berbincang-bincang dengan Herr Habibie, tertarik dengan falsafat yang beliau miliki). Tidak hanya Herr Schmidt, Margaret Thatcher juga pernah mengatakan hal yang sama.
Saat berbincang dengan Herr Schmidt, beliau ditanya: berapa lama hidup bersama Ibu Ainun, istri beliau?, dijawab: “48 tahun, 10 hari“. Herr Schmidt balik menjawab: “Kalau saya 58 tahun hidup bersama istri saya!“. Kemudian Habibie ditanya lagi: “Sejak kapan kenal dengan Ibu Ainun?“. Dijawab: “Sejak SMP“. Kemudian Herr Schmidt berkata lagi: “Kalau saya kenal istri saya sejak Kindergarten! (TK)“.
Penulis jadi ingin menyimpulkan sendiri, bahwa betapa kesuksesan itu tidak lepas dari keluarga. Bahwa kesuksesan keluarga itu diikuti oleh kesuksesan-kesuksesan berikutnya. Siapa yang bisa menghargai ‘teman hidup‘ yang telah dipilihkan Alloh kepadanya, maka ia telah diberi hikmah yang besar sebagai modal menapaki kesuksesan berikutnya.
Kemudian Pak Habibie menekannya juga bahwa keberhasilan yang beliau raih tidak lepas dari support dua wanita besar yang menemani beliau, yaitu Ibunda Habibie dan Istri beliau: Ibu Ainun.
Dari sekian kesuksesan yang beliau raih, tentu yang juga mengesankan adalah Award yang pernah beliau dapatkan dari Ikatan aeronautic sedunia yang didirikan oleh di Amerika pd thn 1944, sebelum perang dunia kedua. Setiap 50 tahun sekali, organisasi tersebut memberikan medali emas bagi orang yang terpilih berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Th 1994 Prof Habibie terpilih, padahal beliau tidak menduga sama sekali, dan saat di minta memberikan sambutan, beliau memulai dengan bismillah serta mengatakan pada kesempatan itu bahwa kemajuan teknologi bukan hanya menjadi hak orang kaya. Beliau membuktikan bahwa beliau yang berasal dari negara dunia ketiga berhasil meraihnya. Suatu motivasi lagi dari beliau yang sangat berharga untuk kita semua.
Beliau mendapatkan tiga buah pertanyaan saat itu (tapi yang penulis ingat hanya satu. Ketiga nya tercantum juga dalam buku beliau ‘Habibie & Ainun’. Pertanyaan pertama: Pada saat conggress Aeronautics yang pertama kali didirikan tahun 1944 pukul 10 pagi di USA, saat itu beliau sedang apa? Beliau menjawab : “saat itu yang bersamaan dengan pukul 8 malam saya sedang berada di dalam rumah panggung di Bugis di kampung halaman saya dekat dengan kali. Saya sedang mengaji sehabis solat Isya”.
Menjadi renungan tersendiri bagi penulis. Bahwa apakah kita sudah mendidik anak-anak kita cinta dengan Al Qur’an, sehingga mereka sudah pandai membaca Al Qur’an dan setelah mereka solat wajib, mereka membacanya?
Rasanya saat itu kami tidak ingin berhenti mendengarkan wejangan beliau. Namun karena waktu terbatas yang diberikan, beliau harus mengakhiri sambutannya. Beliau sempat mengatakan bahwa sebuah perusahaan itu bisa diibaratkan dengan manusia… saat lahir: didambakan, dido’akan, dibesarkan dengan sebuah harapan dan cita2 besar. Saat sakit: diobati. Dan saat meninggal : ditangisi, dan didoakan. Demikian pula halnya dengan perusahaan saat sakit: disembuhkan, saat bankrupt diobati. Tapi kalau ditutup itu namanya criminal.
Tentu saja kita semua bisa membayangkan, apabila Indonesia yang kaya SDA dan SDM tadi sudah bisa mandiri dari segi teknologi…? Dan saat itu kita sudah mencapainya. Namun yang terjadi??? Air mata ini tidak terasa menggenang di mata.
Sore hari, acara diapora Berlin 2013, menampilkan pemutaran Film Habibie dan Ainun. Di akhir pemutaran film tsb, beliau memberikan ‘bekal‘ kepada kita semua.
Saat menonton film tersebut kita bisa melihatnya sendiri bahwa beliau memulai semuanya dari Nol. Beliau datang ke rumah gadis ‘Ainun‘ dengan becak, sementara pemuda-pemuda lainnya dengan mobil. Kemudian Ainun beliau bawa ke jerman. Saat itu mau pulang ke appartment dari institut di musim Winter naik bus saja tidak jadi, karena uang di dompet tidak cukup. Berjalan kaki di atas salju dengan sepatu yang robek… (*nangis* )
Sepuluh tahun… sepuluh tahun sebelum beliau dipanggil pulang oleh President Suharto, beliau capai dengan SYNERGY. Ya beliau memesankan kepada kita untuk bersynergy: bersynergy dengan istri/pasangan. Apabila kita bisa bersynergy dengan pasangan. Maka satu tambah satu bisa menghasilkan 1 juta atau lebih. Sebaliknya bila kita tidak bisa bersynergy maka satu tambah satu bisa minus. Kemudian bersynergy dengan anak-anak dan keluarga kita, serta dengan pekerjaan kita, dengan masyarakat di sekeliling kita dan dengan lawan kita.
Beliau juga berpesan dan menekankan, bahwa semua itu (synergy) bisa dilakukan dengan CINTA. Kemudian Tanpa perlu beliau katakan, karena di film kita sudah lihat sendiri, pesan beliau juga adalah KERJA. Sejak kuliah, menghasilkan penemuan-penemuan, bekerja, kembali ke Indonesia mendirikan IPTN, dipilih menjadi Mentri, Wapres dan PRESIDENT, beliau sering tertidur di meja kerjanya karena Workoholic.
Demikian yang bisa penulis ringkaskan. Semoga pesan beliau bisa diamalkan oleh semua ‘anak‘ dan ‘cucu‘ beliau. Semoga semangat, cita-cita dan prestasi, filsafat, keberhasilan beliau bisa diwariskan kepada kami semua putra putri Indonesia. Semoga bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang mandiri dalam teknologi, sejahtera adil makmur dan religious.
Tambahan buat teman-teman yang berada di luar Indonesia dan suka mendapatkan perlakuan sinis (di underestimate), kita bisa lihat di film tersebut, bahwa Pak Habibie juga sering mendapatkannya sewaktu di jerman. ‘Kleine Asiate, du wirst nicht schaffen’ (org asia yg kecil, kamu tidak akan berhasil). Tapi beliau tidak berkecil hati, melainkan menjadikan hal itu sebagai ‘penyemangat’ dan akhirnya sukses.

Allahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s