Ri’ayah dan Tausi’ah dalam Tarbiyyah


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٧٧

“Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS. Al Hajj : 77)

Dalam agenda tarbiyyah kita, ada 2 agenda besar yang harus selalu dilaksanakan dan dievaluasi, yakni :

1. Riayah (Memelihara)
2. Tausi’ah (Memperluas)

Sebagaimana bunyi surah Al-Hajj : 77 di atas, fungsi riayah tidak hanya berhenti pada penikmatan pribadi (irka ‘u, wasjudu, wa’ budu), tetapi berimplikasi pada aktivitas tausi’ah (waf ‘alul khoyro).

Ada beberapa catatan penting berkenaan dengan agenda Riayah Tarbawiyah kita :

1. Riayah Ma’nawiyah

Indikasi sederhana keberhasilan riayah ma’nawi ada pada 4 aktivitas, yakni :
– Sholat, fardhu maupun sunnah. Rasulullah selalu mengingatkan tentang hal ini. Bahkan perbedaan muslim kafir terletak pada aktivitas sholat. Rasulullah saw pun menindikasikan bibit-bibit kemunafikan dengan indikator sholat Isya dan Shubuh berjama’ah. Sejauh mana semangat kita, upaya kita untuk selalu berjama’ah. Sejauh mana kita berupaya berada di shoff terdepan.

– Tilawah, yang haqqo tilawatihi, ada hasil dari tilawah yang mampu yattabi’una ma ahsanah. Jadi bukan sekedar berapa kali khatam, berapa banyak tilawah, berapa lembar perhari, tetapi juga implikasinya pada keseharian kita, rasa rindu kita kepada aktivitas tilawah.

– Dzikir. Fadzkurullaha dzikron katsiron. Imam syahid dalam Majmu’atur Rasail menjadikan dzikir sebagai kelaziman. Wadzhifah adalah sesuatu yang mesti dilakukan. Kader dalam keadaan futur minimal mempertahankan wadzhifah shughra. Dan jika kita perhatikan, dzikir Rasulullah sangat banyak, istighfar bisa lebih dari 100 kali perhari.

– Shoum. Seberapa semangatkan kita menunaikan shoum, fardhu maupun sunnah. Berapa kali kita minimal shoum dalam satu bulan? Ini perlu menjadi perhatian kita. karena tidak satupun dari para penghulu dakwah ini baik dari generasi sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in maupun mutaakhkhirin yang menyepelekan aktivitas shoum. Sekalipun dalam keadaan dipenjara dan disiksa sebagaimana dalam kisah-kisah para da’I Ikhwan di Mesir.

Keempat hal ini akan memberi implikasi kuat terhadap stabilitas ma’nawi. Semakin baik kuantitas dan kualitas keempat hal tersebut, maka stabilitas maknawinya akan semakin terpelihara.

2. Riayah Ukhowiyah

Memelihara sisi persaudaraan. Benang yang menguatkan kita dengan ikhwan yang lain harus selalu dijalin. Tidak boleh putus. Imam Syahid Hasan al Banna selalu mengingatkan agar kita membaca do’a robithoh agar ukhuwah bukan hanya basa-basi. Tarbiyah harus mampu mendeteksi kekuatan ukhowiyah kita. Halaqoh-halaqoh harus menjadi ladang persemaian tumbuhnya rasa saling mencintai, mahabbah, diantara ikhwah. Memupuk dan memeliharanya menjadi tanggungjawab bersama, bukan hanya tanggungjawab murobbi atau mas’ul. Ta’aruf bukan hanya sekedar tahu nama, alamat, tahu anak istri saudara kita, tetapi lebih mendalam bahkan sampai mengetahui karakter dari saudaranya. Kita perhatikan bagaimana Rasulullah menjadikan aktivitas “ta akhi” sebagai salah satu program awal ketika beliau baru tiba di madinah saat hijrah. Ini menunjukkan bahwa riayah ukhowiyah bukan sesuatu yang basa basi, tetapi ia harus menghunjam kedalam sanubari kita. Sejauh mana kita mengenal, memperhatikan dan menopang saudara kita.

3. Riayah Hamasah

Semangat untuk terus melanjutkan dan menegakkan dakwah harus terus terpelihara. Semangat yang tegar, diatas dinamika emosional. Sesuai sunnatullah semangat bisa luntur seiring panjangnya perjalanan waktu. Oleh karenanya Rasulullah saw mengingatkan riayah hamasah itu dengan keistiqomahan yang kuat sekalipun berhadapan dengan berbagai kondisi. Pencapaian-pencapaian dakwah tidak boleh memasung langkah para da’inya. Bahwa disepanjang perjalanan akan selalu ada oase-oase yang menarik perhatian, tetapi kita tidak boleh berhenti selamanya kecuali sejenak untuk mengumpulkan bekal melanjutkan perjalanan dakwah yang ujungnya kita belum tahu.

4. Riayah Fikriyah

Agar fikroh kita tidak tahawwur, melenceng, bergeser, agar fikroh kita mustaqbalah, visioner, maka riayah perlu dilakukan. Islam ajarkan kita untuk lihat cara pandang ke depan dan punya patokan.
Nabi Yusuf ketika bermimpi di mengatakan,
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَباً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ ﴿٤

“Ya abati inni roaytu….” (QS. Yusuf 4)

Apa yang dialami Nabi Yusuf as berbeda dengan apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrohim berkata, “Inni aro fil manam (mimpi).

Apa yang dialami oleh Nabi Yusuf bukan mimpi, tetapi sebuah visi besar.

Rasulullah sebelum menaklukkan dunia, jauh-jauh hari sudah menyampaikan nubuwah pada saat perang Ahzab, yakni saat menggali parit, ketika beliau memecahkan sebongkah batu besar dan mengatakan bahwa Persia, Romawi dan dunia di timur dan barat akan takluk, padahal saat itu kondisi kaum muslimim sangat sulit. Jangankan harapan untuk menang untuk buang air saja sangat sulit karena harus terus bersiaga. Jangankan untuk menguasai dunia, untuk makan saja mereka harus berhemat. Kita juga tentu ingat bagaimana Sulthon Muhammad al Fatih dari Turki Utsmani memiliki visi besar untuk menjadi pemimpin terbaik karena nubuwah Rasulullah tentang penaklukan Konstantinopel. Oleh karenanya, fikroh masa depan kita, bukan hanya sekedar angan-angan tetapi dia adalah dhowabith untuk membentuk peradaban masa depan

Dan beberapa catatan penting berkenaan dengan agenda Tausi’ah adalah :

1. Kader. Semakin banyak orang bergabung dg jama’ah ini. Dan mereka adalah aset termahal. Tidak boleh ada missing link dan harus tetap tersedia sepanjang masa. Oleh karenanya tarbiyyah harus selalu diseriusi. Apalagi tarbiyyah bagi anak dan keluarga kader.

2. Kewilayahan. Semakin meluasnya wilayah yang kita kelola, semakin membutuhkan perhatian kita. Kita tidak akan sanggup mengelola wilayah, jika penyebaran kader tidak merata. Boleh jadi pertumbuhan kader pesat, namun terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu. Tentunya ini akan berdampak pada lemahnya pengelolaan wilayah. Harus ada upaya-upaya penyebaran dan penumbuhan kader agar tidak ada wilayah yang kosong dari kader.

3. Ekspansi lini sektor dakwah. Lini sektor dakwah seimbang ekspansinya, harus bisa menjadi pemasok kebutuhan dakwah. Dakwah tidak hanya butuh murobbi, tidak hanya perlu muwajjih, tetapi juga butuh politisi, pekerja social, para professional, para birokrat, juga militer. Saat memperluas lini sektor dakwah inilah kita juga harus memperluas lapang dada dan toleransi kita. Sepanjang pengalaman dakwah kita, politik al baro’ sangat tidak menguntungkan bagi penetrasi dakwah. Ia justru menumbuhkan front-front per
tempuran baru. Padahal dengan semakin meluas dan melebarnya front pertempuran, sulit bagi kita untuk mengalahkan lawan. Dalam siroh, kita melihat bagaimana Rasulullah saw sama sekali tidak memperluas front pertarungan. Beliau fokus kepada kaum musyrikin Quraysy, sampai akhirnya Mekkah jatuh. Barulah setelah itu dibuka front baru dengan Persia, setelah itu dengan Romawi. Karenanya kita harus memfokuskan pertarungan ini. Sebagai contoh, para da’i di Turki saat konstitusi Turki melarang penampakan simat Islami, harus bias mensikapi dengan baik agar dakwah tidak menghdapi banyak pukulan di banyak front. Itulah kenapa kemudian mereka membuat parpol yg sama sekali tidak diembel-embeli dg Islam, tetapi para aktivisnya sangat islami. Itulah kenapa mereka menggunakan produk dan prinsip-prinsip sekuler untuk menghantam sekularisasi, untuk “mengakali” aturan yang sekuler. Itulah mengapa mereka memperbolehkan para mahasiswi memakai wig untuk menutup jilbabnya di areal sekolah/universitas. Sehingga tokoh tokoh mereka dapat diterima oleh berbagai kalangan lintas agama. Ada satu sisi positif Gus Dur yang mungkin perlu kita pelajari dan kita tiru, yakni penerimaan berbagai kalangan terhadap beliau, terlepas dari agenda-agenda tersembunyi mereka, namun kenyataannya dari kalangan elit sampai rakyat jelata dengan berbagai latar belakang keyakinan dan etnis bias menerima beliau. Kita pun punya Dr HNW yang sebenarnya berpotensi untuk bias diterima berbagai kalangan.
Inilah agenda dakwah kita agar kita punya ru’yah mustaqbaliyah tentang dakwah ini.

Sekian….

Taujih Ustadz Ibnu Umar di sebuah Forum…

3 thoughts on “Ri’ayah dan Tausi’ah dalam Tarbiyyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s