Biar Dramatisasi Jadi Manis


Akhir Sejarah Cinta kita

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita tidur saling memunggungi
Tapi jiwa berpeluk-peluk
Senyum mendekap senyum

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Raga tak lagi saling membutuhkan
Hanya jiwa kita sudah lekat menyatu
Rindu mengelus rindu

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita hanya mengisi waktu dengan cerita
Mengenang dan hanya itu
Yang kita punya

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita mengenang masa depan kebersamaan
Ke mana cinta kan berakhir
Di saat tak ada akhir.

Puisi yang terlalu seadanya memang tak memberi rasa apa-apa. Puisi perlu greget. Perlu hentakan. Begitu juga ungkapan cinta. Cinta hanya bekerja jika ia membara. Dan baranya meletup-letup lewat kata.

Qur’an tidak mengingkari itu. Virus penyakit yang disebut Qur’an sebenarnya terletak pada kadar kebohongan yang menyertai dramatisasi itu. Begitu juga ungkapan rasa cinta yang terlalu berlebihan sering mengandung kebohongan. Bisa karena tidak berakar di hati. Bisa juga karena tidak mengandung kebenaran. Atau mengandung kebenaran, tapi tidak berakar pada hati. Yang benar tapi tidak ada di hati adalah kebohongan. Yang tidak benar tapi ada di hati adalah kesalahan.

Yang terakhir ini misalnya lagu berikut ini :
Semua yang ada padamu
Oh membuat diriku tiada berdaya
Hanyalah untukmu
Hanyalah bagimu
Seluruh hidup dan cintaku

Ungkapan itu mungkin berakar di hati. Tapi mengandung makna pengabdian dan penyerahan diri yang total kepada sang kekasih. Dan itu yidak boleh terjadi dalam cinta jiwa atau cinta sesame manusia. Itu hanya untuk Allah SWT.

Di sinilah letak tantangan bagi para pecinta; bagaimana menemukan ungkapan yang benar dan tepat bagi bara cinta yang meletup-letup dalam bara jiwa? Yang pertama tentu saja menemukan persoalan dasarnya; apakah memang ada bara dalam jiwa? Ini jelas sangat mendasar untuk memastikan bahwa “tidak ada dusta kita”.

Yang kedua adalah menemukan kata yang benar dan tepat. Benar pada maknanya, tapi tepat melukiskan suasana jiwa. Ini membutuhkan penghayatan yang dalam, keakraban dengan diri sendiri yang kental, cita rasa keindahan dan kekayaan bahasa.

Melukis bara cinta dalam jiwa memang membutuhkan kata yang kuat agar baranya nyata dalam pandangan sang kekasih. Tapi tidak harus menakar dengan objektif, seberapa panas bara yang hendak kita lukis. Ini untuk memastikan bahwa kata tidak melampaui panasnya bara, atau kata tidak melukis semua panas bara secara utuh.

Akhirnya memang, kejujuran dan kebenaran adalah kata kunci di balik semua dramatisasi cinta yang manis. Hanya itu. Jika tidak, pasti akan ada kesalahan dalam bahasa cinta kita. Tidak mudah memang, tapi begitulah cinta, selalu punya syaratnya sendiri.

Anis Mata, Majalah Tabawi

Advertisements

One thought on “Biar Dramatisasi Jadi Manis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s