“Pilih Mana: Kepala atau Ekor?”


 coho_head_tail
Saya mempunyai seorang teman sekampus. Saya mengenalkan sebagai mahasiswa yang begitu berambisius dan bercita tinggi. Dan ia tidak main-main dalam bercita-cita. Sekarang ia sedang membangun tangga-tangga dalam kehidupan mudanya. Anak muda ini begitu mengagumkan dengan ambisinya. Bisa menjadi contoh dan spirit penyemangat bagi yang mimpinya rendah.

Teman saya ini, dikenal sebagai calon pemimpin. Ia sendiri yang mendeklarasikan mimpinya, ‘Insya Allah, suatu saat ana akan jadi ulama di tengah umat ini, kawan.’ Dan kami tentu mengamininya. Semoga ia menjadi ulama umat ini, di tanah air ini. Sekali lagi, ia tidak bermain-main dalam bermimpi. Seminar, kajian, rapat dan berbagai hal ia hadiri demi membangun tangga-tangga itu. Bahkan pernah ia menghadap ke orang-orang MUI dan bertanya langsung, “Bagaimana caranya agar saya bisa menjadi ulama seperti Anda!?”

Dalam perkara ini, penulis bukanlah apa-apanya. Perlu juga kau ingat, bahwa tiap manusia punya kecondongan tiapnya. Punya pula karakter tersendiri. Kecondongan positif dan maju lah yang terpuji. Hanya, jalan dan cara menujunya pun berbeda-beda. Dia berumur setingkat di bawah saya namun ambisinya bertingkat-tingkat di atas saya. Dan bukan berarti segala yang ia lakukan dan ambisikan saya setujui. Namun, ambillah pelajaran dan semangat dari tuturan cerita ini.

Di lain kata, ada sebuah cerita tentang sebuah family di tanah Sunda. Tak perlu saya beritahu namanya. Jadikan pelajaran saja. Sebuah keluarga yang hidup di desa. Bapaknya adalah orang yang sangat ditokohkan di desa tersebut. Bukan karena ilmunya, namun karena dia adalah orang pertama di desa yang berpetualang ke Jakarta dan merekrut banyak orang desanya untuk mencari penghasilan di ibukota negara. Ia dan istrinya memiliki beberapa anak lelaki dan satu perempuan.

Kehidupan mereka di era 90-an begitu mewah. Uang dipunya, proyek-proyek dikuasai dan itulah dunia. Mereka lalu berpindah ke Jakarta. Karena enaknya, sepasang orang tua itu tidak mendidik anak-anaknya agar bekerja keras, mandiri atau giat belajar. Tapi, cukup memanjakannya. Jadilah anak-anaknya tak terdidik dan malas belajar. Sementara ibunya bergelimang perhiasan. Baju-baju mewah terkoleksi. Perhiasan berat-berat yang sangat mahal harganya.

Lalu, suaminya meninggal suatu ketika. Yaitu ketika mereka sudah kembali hidup di kampung. Berduyun-duyun manusia dari desa-desa mengunjungi rumah itu. Ia adalah orang nomor satu di sana. Istrinya pun dihormati karenanya. Namun, sepeninggal sang bapak, ekonomi mulai morat-marit. Anak-anak yang sudah membesar mulai menunjukkan ketidakterdidikannya. Jadilah mereka anak-anak pembangkak dan penodong orang tuanya. Pekerjaan mereka adalah kuli. Dan sekarang pun mereka tidak bekerja. Salah satu dari mereka menjadi preman kampung yang tidak jelas hidup mau kemana diarahkan. Yang tersiksa sekarang adalah ibu mereka. Yang tersiksa sekarang adalah ibu mereka. Ya, yang tersiksa sekarang adalah ibu mereka. Menyesal di hari-hari senja. Baru mengerti sekarang. Ibu mereka pun bertaubat dan menyerahkan perkara pada Allah. Entah apa kemudian yang terjadi.

Lalu, sekarang tanyakan pada dirimu:

“Mau jadi apa? Kepala atau ekor?”

Jika kau ingin menjadi kepala, maka majulah dan jangan mundur.
Jika kau ingin menjadi kepala, belajarlah bagaimana menjadinya, apa tantangannya, tekun berlatih dan fahami resiko menjadinya.

Sementara, jika kau hanya ingin menjadi ekor, tidak perlu kau pelajari apapun. Tak perlu kau ertikan tantangannya. Tak perlu kau tekun melatih kemampuanmu. Tak perlu kau memahami resiko menjadi ekor selamanya.

Namun, suatu saat hari akan menceritakan padamu siapa yang bergembira, dan siapa yang menyesal. Bukankah menyesal di ujung hayat tetap menyakitkan?

Manusia yang ingin menjadi pemimpin, trend setter, pemrakarsa, kreator, dan apapun yang terdepan, pasti dalam perjalanan akan disambangi tawa-tawa. Sebagaimana kau berjalan di sebuah jalan yang lurus. Kau melihat di tiap tepi jalanan pepohonan dan tetumbuhan. Mereka bergoyang-goyang seperti mengejekmu. Mereka bergesekan dan bersuara seolah mencelamu dalam bisik-bisik. Jika kau ladeni mereka, jika kau tebas mereka satu persatu, tujuan tak tersampaikan. Yang ada, kau adalah keletihan yang konyol.

Jika ingin menjadi ekor saja, jangan banyak berfikir. Begitulah ekor adanya, ketika terkena cipratan kotoran, tetap setia menjadi ekor…tanpa perlu berfikir.

Gunakan apa yang terberi padamu dan kembangkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s