Pagi Jual Pentol, Sore Ngajar Ngaji


Penghasilannya tidaklah seberapa. Nyaris hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Tapi, ia tidak ingin menyia-menyiakan hidupnya hanya untuk mencari materi.

Hati Suprianto menjerit lirih menyaksikan anak-anak kecil di sekitar rumahnya, Dusun Ngulaan, Desa Kayen, Bancar, Tuban, Jawa Timur yang jauh dari nuansa keagamaan. Bocah-bocah yang menggemaskan itu menghabiskan waktu hanya untuk bermain-main, khususnya pada sore hari. Tidak sedikit dari mereka yang belum bisa mengaji.

Kalaupun ada, mereka harus menempuh jarak kiloan meter menuju desa seberang. Sebab, di desanya, saat itu, tidak ditemukan kegiatan serupa.

Tak pelak, darah muda pria yang biasa disapa Supri ini terusik. Ia tak rela anak-anak usia dini itu tak bisa mengaji. Satu di antara petuah kiainya sewaktu mondok dulu terngiang-ngiang di benaknya, “Urip-uripno agomo (hidup-hidupkanlah agama -di manapun kamu berada).”

Nasehat itu pula yang menjadi spirit Supri, yang saat itu masih lajang, untuk bersegera mengajarkan al-Qur’an di kampungnya. “Hati ini terasa miris melihat mereka. Bagaimana ke depannya bila pada usia emas ini mereka sama sekali tidak mengenal al-Qur’an,” gugahnya.

Laki-laki kelahiran 1976 ini pun mulai bergerilya dengan mengajak anak-anak mengaji. Gayung bersambut, anak-anak menyambut ajakannya. Mereka sangat antusias belajar mengaji bersama guru muda ini.

Namun niat baik terkadang tak selalu mulus. Begitu pula dengan perjalanan Supri. Belum lama mengajar, tersebar isu bahwa ia merebut murid-murid ngaji di tempat lain. Usut punya usut, ternyata telah terjadi kecemburuan terhadap kiprah Supri oleh beberapa oknum masyarakat. Supri tak menggubris sedikit pun hal itu. Ia terus memantapkan langkahnya. “Wajar, namanya saja dakwah, pastilah ada onak dan duri,” jelasnya.

Lahan Baru

Tahun 2000, Supri menyunting seorang wanita dari Dusun Jombok, Desa Sembungin, Tuban. Karena harus bermukim di rumah sang istri, amanah sebagai guru ngaji di desanya ia serahkan ke salah satu keluarganya. Kondisi keagamaan Jombok tidak jauh berbeda dengan dusunnya. Bahkan, untuk menunaikan shalat Jumat harus menumpang ke dusun lain.

Selang beberapa lama bermukim di tempat baru, Supri diamanahi oleh seorang tokoh desa untuk mengajar ngaji. Tawaran tersebut disambut dengan lapang dada oleh putra pasangan Ami Joyo dan Sumarsih ini.

“Kita sempat menggunakan masjid sebagai tempat untuk mengaji. Tapi kemudian mendapat teguran karena dianggap mengotori masjid dan membuat kegaduhan,” terang Supri.

Supri tidak mau kalah dengan keadaan. Kondisi ini ia jadikan wasilah untuk mengajukan proposal kepada Allah SWT supaya diberikan kemudahan membangun rumah. “Saya meminta kepada Allah untuk diberikan rumah. Saya berazam, kelak rumah tersebut juga akan digunakan sebagai tempat mengaji anak-anak,” kenangnya.

Akhirnya, dengan doa dan ikhtiar yang tak pernah surut, Allah SWT mengijabah permohonan Supri. Ia mendirikan rumah joglo (rumah adat Jawa) di atas sepetak tanah. Rumah berdinding papan dan berlantaikan tanah itu kini ditempati Supri dan keluarga, serta tempat mengajarkan al-Qur’an.

Alhamdulillah, anak-anak yang mengaji terus membludak. Rumah Supri tidak mampu lagi menampungnya. Timbul asa untuk mendirikan Taman Pendidikan al-Qur`an (TPA). Namun, mimpi itu terbentur dengan dana. Meski demikian, keyakinan bahwa Allah SWT pasti akan menolong hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya terus terpatri.

Supri pun terus berdoa. Benar saja, tanpa disangka ada salah seorang warga yang mewakafkan tanahnya untuk dibangun TPA. Selanjutnya, tugas Supri adalah mencari biaya untuk pembangunan. Untuk itu, ia membuat proposal untuk pembangunan TPA.

Sayang, jerih payah itu belum membuahkan hasil. Menurut pengakuan ayah dari Latifatul Rahmah yang juga diamini oleh sang istri, tidak satu pun proposal yang mampu mendatangkan rupiah. Pernah Supri mencoba cara lain dengan meminjam uang ke seorang hartawan yang ia kenal, tapi hasilnya juga sama, nihil.

Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali berpasrah kepada Allah SWT. “Menggantungkan harapan kepada manusia hanya membuahkan kekecewaan. Maka, saya serahkan kepada Allah,” imbuhnya.

Dan sekali lagi, Allah SWT menunjukkan Kemahabesaran-Nya. Tak dinyana, ada saja orang datang memberikan sumbangan untuk pembangunan TPA-nya, tanpa harus diminta-minta. Di antara mereka ada yang langsung menyumbang uang tunai dan ada juga yang berupa material: semen, genting, pasir, dan lainnya.

Saat ini, meski belum selesai 100 persen, telah berdiri dua ruangan belajar TPA, yang diberi nama TPA Ar-Rahman.

“Intinya, menancapkan keyakinan dalam diri bahwa Allah senantiasa membantu hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya, itu sangat penting,” katanya.

Kini, banyak masyarakat yang akhirnya simpati kepada Supri. Hasilnya, tak sedikit dari mereka, terutama ibu-ibu minta belajar al-Qur’an. Bahkan, ada di antara mereka yang telah memasuki usia lanjut. Karena itu, Supri bersama istrinya membagi waktu mengajarnya menjadi tiga sesi. Ba’da ashar untuk anak-anak TPA, lalu diteruskan dengan ibu-ibu muda. Ba’da maghrib untuk para pemuda, sedangkan ba’da isya’ untuk ibu-ibu lanjut usia.

Kembali Digoyang

Sesibuk-sibuk apapun Supri dalam berdakwah, ia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga yang harus menafkahi keluarganya. Untuk itu, berjualan pentol (makanan seperti bakso yang terbuat dari tepung) menjadi pilihannya. Tak heran, jika ia mendapat julukkan ‘Pri pentol’. Supri tidak pernah gengsi dengan profesinya ini, meskipun ada yang menganggap akan merobohkan reputasinya sebagai guru ngaji. Baginya hal itu tidak masalah, yang penting halal.

Penghasilan dari jual pentol tidaklah banyak. Nyaris hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Adapun dari kegiatan mengajar al-Qur’an, ia sama sekali tidak mengambil bayaran.

Tak ayal, dari aspek inilah suami Lilik Astuti, saat ini sering ‘digoyang’. Tidak sedikit yang membujuknya berpindah haluan dengan iming-iming gaji yang lumayan.

Meski menggiurkan secara materi, laki-laki yang bercita-cita mengantarkan keluarganya sebagai huffadz (penghapal al-Qur’an) ini menepis itu semua. Ia lebih memilih terus melanjutkan apa yang telah dirintisnya, “Saya tidak ingin menyia-menyiakan hidup ini hanya untuk mencari materi,” katanya tegas.

Supri berprinsip, terus berupaya hidup bermanfaat. Soal rezeki, itu sudah ada yang mengatur.* Khairul Hibri/Suara Hidayatullah APRIL 2014

 

http://majalah.hidayatullah.com/

//


SavedURI :Show URL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s